Do’a Tidur [1]: Tidur dan Bangun Tidur dengan Nama Allah

Do'a Tidur Bismika Allahumma Amutu wa ahya

Do’a Tidur [1]: Tidur dan Bangun Tidur dengan Nama Allah

Berikut ini adalah penjelasan hadist untuk doa dan dzikir menjelang tidur;

Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur beliau mengucapkan,

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ) رواه البخاري

Bismika Allahumma Amuutu wa Ahyaa; Ya Allah, dengan namamu aku mati dan hidup”. Jika bangun tidur beliau mengucapkan, “Alhaamdulillahi alladziy ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilihin Nusyur; Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nyalah tempat kembali”. (HR. Bukhari).

Kesimpulan dan Pelajaran:
1. Yang dimaksud dengan mati dan hidup dalam do’a ini adalah tidur dan bangun tidur. Dalam al-Qur’an tidur disebut sebagai kematian (kecil). Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 60 dan Az-Zumar ayat 42;

﴿ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ… ﴾ [الأنعام: 60

Dan dialah yang mematikan (menidurkan) kamu pada waktu malam dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudia Dia membangkitkan (membangunkan) kamu pada siang hari. . . “ (Qs. Al-An’am [6]:60).

﴿ اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ﴾ [الزمر: 42

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa orang yang belum mati ketika ia tidur”.

  1. Tidur dan bangun tidur merupakan salah satu tanda kemahabesaran Allah pada diri manusia bagi mereka yang merenungkan hakikat kematian dan kehidupan.

  2. Tidur dan bangun tidur dapat mengingatkan seorang hamba akan hakikat kematian dan kehidupan. Bahwa hidup dan mati manusia berada dalam kendali Allah Ta’ala. Dialah Dzat yang menghidupkan dan mematikan siapa siapa Dia kehendaki.

4. Tidur dan bangung tidur juga mengingatkan seorang hamba akan hari berbangkit pada hari kiamata kelak. Jika Allah kuasa menghidupkan (membangunkan)kembali setelah kematian kecil saat tidur, tentu Dia juga mampu dan kuasa membangkitkan manusia dari kuburan-kuburan mereka pada hari kiamat kelak.

5. Do’a ini juga memberi pesan, batas antara hidup dan mati sangat tipis. Jarak keduanya sangat dekat. Saat tertidur seseorang seakan benar-benar mati, tidak mengetahui apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Meskipun sebenarnya tidur hanya kematian kecil.

6. Oleh karena itu sebelum tidur kita memohon kepada Allah Dzat menggenggam kehidupan dan kematian untuk menghidupkan kita dengan baik dan jika tidur itu benar-benar menjadi kematian yang sesungguhnya, maka kita juga memohon kematian yang baik, yakni hidup dan mati di atas nama Allah. Demikian pula ketika terbangun, yang terucap dari lisan kita adalah pernytaan syukur atas kehidupan yang dikembalikan oleh Allah ke jasad kita. [sym].

Artikel:wahdah.or.id

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

media sosial

Adab Menggunakan Media Sosial

Adab Menggunakan Media Sosial
Oleh ustadz Ayyub Soebandi, Lc.

Tidak bisa dipungkiri pengaruh media sosial tidak bisa terlepaskan dari kehidupan di masa sekarang. Dukungan internet yang kencang, teknologi yang canggih dengan lahirnya smartphone dimana dengan satu genggaman kita bisa melakukan apa saja dan memperoleh informasi dengan mudahnya.

Begitu juga dengan dukungan aplikasi dan media sosial yang banyak bermunculan seperti BBM (Blackberry Massanger), WA (WhatsApp), Twitter, Path, Facebook, Instagram, Linkedin, Pinterest, Line dll. Kita dapat berhubungan dengan manusia dari belahan bumi manapun, dapat bersilaturahim dengan teman-teman lama, juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan tak jarang banyak yang menjalin keakraban di dunia nyata.

Memang pada hakikatnya sebagai mahluk sosial manusia tidak dilarang untuk bergaul dan Allahpun menjelaskan dalam Al Qur’an tentang hal ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)

Walaupun melakukan komunikasi di media sosial dan hanya memperlihatkan gambar, chattingan dan status, tapi tak selamanya menggambarkan si empunya akun dalam kesehariannya, hingga tak terlihat dengan jelas apakah si empunya sama persis dengan yang dia gambarkan di sosmed, tapi menjaga adab tetap harus dikedepankan. Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan di jejaring sosial :

Menjaga interaksi dengan lawan jenis.

Inilah ajaran Islam, yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, baik di dunia nyata ataupun di jejaring sosial. Para Sahabat radhiyallahu’anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus bertanya dibelakang hijab. Allah Ta’ala berfirman,

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

Chattingan bebas dengan lawan jenis adalah trik Iblis untuk menjerumuskan ke dalam hal-hal yang diharamkan. Maka hendaknya waspada dan tetap menjaga interaksi dengan lawan jenis. Jika interaksi langsung di dunia nyata sangat perlu dijaga, maka bagaimana lagi di dunia maya yang lebih bebas dan jauh dari pandangan manusia, yakinlah Allah maha Mengetahui dan maha Melihat perbuatan kita.

Cermat dalam mengkonsumsi dan menyebarkan berita.

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya); menyia-nyiakan harta; dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat. terutama berita yang terkait keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah.

Allah berfirman,

“Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi, prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana lagi ketika sengaja menyebarkan berita dusta atau hoax?

Maka sebelum menyebarkan berita, info, tulisan, gambar dll maka hendaknya memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Menjaga amanah ilmiah.
Ketika menukilkan sebuah tulisan, berita dll, hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan. Hal ini agar kita tidak termasuk orang-orang yang mendapat ancaman hadits,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang Al-Mutasyabbi’ (mengaku-ngaku memiliki dengan sesuatu yang tidak dimilikinya), maka ia seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR Bukhari, Muslim).

Berkata dengan baik atau diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Begitu juga dengan tulisan, hendaknya memikirkan terlebih dahulu sebelum menulis, jika bermanfaat maka silahkan menulis, jika tidak bermanfaat maka ditahan.

Gunakan bahasa yang baik dan sopan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Dan katakan (Sampaikan) kepada hamba-hamba-Ku, jika mereka mau berbicara (kalau dia mau posting, kalau dia mau comment, kalau dia mau menyampaikan sebuah artikel), dia harus gunakan bahasa yang terbaik.

Kata “ahsan” dalam ayat ini kalau pakai istilah bahasa Inggris yaitu superlatif bukan comparatif. Jadi bukan yang lebih baik tapi yang terbaik.

Jadi, kalau mau berbicara gunakanlah bahasa yang terbaik, kenapa?

Karena setan selalu mengadu domba dan sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata.

Maka, gunakanlah bahasa yang terbaik.

Apalagi di sosmed, karena ketika kita masuk ke grup WA atau di Facebook atau di Twitter atau kita mention sesuatu, kita tidak memberikan ekspresi, lalu tidak ada intonasi. Jadi secara umum tidak ada ekspresi dan tidak adanya intonasi maka rentan terjadi kesalahpahaman.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus
https://laziswahdah.com/blog/adab-menggunakan-media-sosial/

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Ied merupakan hari istimewa, sehingga sudah seyogyanya setiap Muslim menghadirinya dengan memperhatikan adab dan etika yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wa sallam. Tulisan singkat ini akan menguraikan secara sederhana beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika menghadiri shalat Idul Adha.

  1. Mandi sebelum keluar ke tempat shalat ied.

  2. Dianjurkan tidak makan terlebih dahulu, tetapi makan setelah kembali dari pelaksanaan shalat ‘ied, dan lebih dianjurkan jika makan daging hewan qurban.

  3. Dianjurkan bertakbir. Takbir pada hari Idul Adha dianjurkan mulai setelah shalat subuh pada 9 dzulhijjah, dan berakahir pada hari terakhir hari Tasyriq (sore hari 13 Dzulhijjah).

  4. Berhias dan mengenakan pakaian terbaik.

  5. Melalui jalur jalan yang berbeda saat berangkat ke tempat shalat dan kembali,

  6. Boleh saling menyampaikan tahniah (ucapan selamat), seperti mengatakan TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKU. (Sym).