Bolehkah Tidak Memberi Maaf Pada Orang Lain

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, Ustadz, saya punya masalah dengan teman beberapa waktu lalu. Saya sangat kecewa dan marah kepadanya. Berkali-kali dia datang minta maaf tapi tidak saya ladeni. Apakah sikap saya ini benar?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam.

Perbuatan yang saudara(i) lakukan ini tidak pantas dan tidak dibolehkan oleh syariat. Karena ciri seorang Muslim itu adalah lapang dada dan saling memberi maaf.

Kita boleh marah dan mendiamkan jika saudara muslim kita berlaku tidak adil atau menzalimi kita. Akan tetapi, hal itu hanya diizinkan selama tiga hari. Lebih dari itu, maka hukumnya tidak boleh.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seseorang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسلِمٍ أَن يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ، فَيَعْرِضُ هَذَاوَيَعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ”. متفق عليه.

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari, saling bertemu lalu yang satu berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, dalam riwayat lain sikap tidak memaafkan kesalahan sesama Muslim sementara yang bersalah sudah berusaha minta maaf, diancam amalnya akan ditangguhkan (tidak diterima) hingga bersedia memberi maaf dan berdamai.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا اترْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai”. (HR.Muslim).

Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook  Ustadz Rappung Samuddin,Lc, MA

Meraih Kemuliaan dengan Sifat Jujur

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri dengan akhlaqul karimah, dan sangat mewanti-wanti dari akhlaq yang tercela. Rasulullah –shallahu alaihi wasallam– bersabda;

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seseorang dapat mencapai derajat [hamba] yang banyak berpuasa dan shalat dengan akhlaq yang mulia.[HR. Ahmad].

Bahkan dalam Islam akhlaqul karimah merupakan salah satu cermin dari kesempurnaan iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Hadits diatas menunjukkan bahwa akhlaq yang mulia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman, barang siapa yang berkomitmen dengan akhlaq yang mulia dalam berinteraksi maka hal tersebut menunjukan kesempurnaan imannya, dan barang siapa yang berinterkasi dengan akhlaq yang buruk, maka hal tersebut menunjukkan kelemahan imannya.

Keutamaan Akhlaq Jujur

Diantara akhlaq mulia yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah ash-shidqu, yang dimaksud dengan kalimat ini adalah sifat jujur, makna lainnya adalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan realita dan kenyataan tanpa ada penambahan dan pengurangan, atau antonim [lawan kata] dari alkadzib atau sifat dusta.

Puncak Akhlaq Mulia

Kejujuran merupakan puncak akhlaq yang mulia, dan tidaklah seseorang berhias dengannya kecuali dia akan beruntung di dunia dan di akhirat, dan sifat ini merupakan jalan yang dititi oleh orang-orang sholeh dari kalangan para Nabi dan Rasul, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَبِيّاً

Ceritakanlah (wahai Muhammad) kisah Ibrahim dalam kitab (alqur’an) sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan juga seorang nabi.[Maryam 41].

Sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jujur merupakan salah satu sifat utama Nabi Muhammad –shallallhu alaihi wa sallam– yang sangat menonjol sehingga masyhurlah dari beliau julukan al-Amin [yang dipercaya], Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق

“Rasulullah mengatakan kepada kami –sedangkan beliau adalah orang yang jujur dan dipercaya-.[HR. Bukhari&Muslim].

Allah Menyuruh Untuk Jujur

Diantara keutamaan lain dari sifat ini adalah Allah memerintahkan memerintahkan kepada sifat ini. Allah Ta’ala berfirman:

يا أيها الذين أمنوا أتقوا الله وكونوا مع الصادقين

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar [jujur]. [Qs. At-Taubah 119].

Jujur Mmbawa Kepada Kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقاً وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً

Sesungguhnya sifat jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan memasukkan ke surga, dan sesungguhnya sesorang berusaha untuk bersifat jujur sampai menjadi orang yang jujur, sesungguhnya sifat dusta membawa kepada perbuatan keji, dan perbuatan keji memasukkan [seseorang] ke neraka, dan seseorang berusaha untuk berdusta sampai menjadi pendusta.[HR. Bukhari&Muslim].

Hadits ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan sifat jujur, bahwa sifat ini merupakan salah satu amalan yang dapat membawa seseorang melaksanakan kebaikan-kebaikan dengan mudah, dan ini sesuai dengan ucapan sebagian ulama kita:

جزاء الحسنة حسنات التي بعدها وجزاء السيئة سيئات التي بعدها

Ganjaran bagi [pelaku] kebaikan adalah [mudahnya baginya] melaksanakan kebaikan setelahnya, dan ganjaran bagi [pelaku] keburukan adalah [mudahnya bagi] melaksanakan keburukan setelahnya.[syarh kitabut tauhid karya Abdullah alghaniman].

Rumah di Surga Bagi Orang Jujur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan rumah di tengah surga bagi orang yang jujur dan menjauhi dusta. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُق

Saya menjamin rumah di dalam surge bagi yang meninggalkan debat meskipun [dia] dalam keadaan benar, dan [menjamin] rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan sifat dusta meskipun dalam keadaan bergurau, dan [menjamin] rumah di surga yang tertinggi bagi yang memperbaiki akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Jujur Membawa Kepada Keberuntungan

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أربع من كن فيه فقد ربح‏:‏ الصدق والحياء وحسن الخلق والشكر‏

“Empat sifat bila berkumpul pada seseorang maka dia akan beruntung: sifat jujur, sifat malu, [berhias dengan] akhlaq yang mulia, dan sifat syukur.

Penulis : Ustad. Lukman Hakim, Lc, MA
Artikel : wahdah.or.id

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Yahya bin Akhtsam menceritakan,  suatu hari ia menginap di rumah Ma’mun rahimahullah. Suatu saat ia haus di tengah malam. Ia pun bangun mencari air dan minum.  Lalu,  Ma’mun melihatnya dan berkata, “Wahai Yahya,  ada apa denganmu, mengapa engkau belum tidur?” Yahya menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin,  demi Allah,  aku sangat haus sekali.” Lalu Ma’mun berkata padanya,  “Kembalilah ke tempat istirahatmu.”

Setelah itu,  Ma’mun pun bangun dan pergi ke dapur dan mengambil tempayan air,  lalu datang kepada Yahya bin Akhtsam dan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin. Kenapa tidak pelayan Anda saja yang mengambilkan?”  Ma’mun menjawab,  “Mereka tidur,”  Yahya pun berkata, “Sebenarnya saya tadi sudah bangun dan minum”, lalun Ma’mun berkata,  “Teramat buruk seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayannya”.

Lalu Ma’mun berkata kepada Yahya,  “Wahai Yahya”,  Yahya menjawab, “Labbaika ya Amiral Mu’minin”,

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?” kata Ma’mun.  Yahya pun mengiyakan,  dan Ma’mun melanjutkan,  “Ririwayatkan padaku Ar-Rashid,  dari Al-Mahdi,  dari Al-Manshur,  dari bapaknya bahwa Ibnu Abbas berkata,  “Dikabarkan padaku oleh Jabir bin Abdillah ia berkata,  bahwasanya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سيد القوم خادمهم

Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka“.

(Al Muntadhim,  10/26, Hayatus Salaf bainal Qaul Wal Amal:326).

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Keutamaan Akhlaq

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Akhlaq yang mulia memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadis hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pertama; Tujuan Diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Ahmad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

 “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan AkhlaqYang Mulia”.

Hadits  ini menunjukkan kedudukan akhlak yang sangat penting di dalam agama Islam. Al Fairuz Abadi rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Ingatlah bahwa sesungguhnya agama keseluruhannya adalah akhlak”.

Oleh karena itu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam disifati dalam al-Qur’an sebagai manusia yang memiliki akhlaq yang luhur. Beliau dipuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena akhlaknya yang agung, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Qalam ayat 4;

Sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas akhlaq yang luhur” (Qs. Muhammad: 4).

Kedua, Allah Mencintai Akhlaq yang Luhur

Sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,

” إن الله كريم يحب الكرم ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها “

 “Sesungguhnya Allah itu maha mulia dan mencintai kemuliaan serta mencintai ketinggian akhlak dan membenci akhlak yang rendah”. (HR. Hakim dan Abu Nuaim dengan sanad yang sohih).

Hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak dari sisi yang lain yaitu dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketiga, Akhlak  Merupakan Barometer Iman

Artinya  keimanan seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya yang baik atau buruk. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mensifati orang yang memiliki akhlak mulia sebagai orang beriman yang paling sempurna imannya.  Beliau mengatakan;

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا)) رواه الترمذي وأحمد))

 “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka”.  (HR.Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad yang Hasan).

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dengan sanad yang Hasan pula, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أفضل المؤمنين أحسنهم خلقا

Orang  beriman yang paling afdhol adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka”.  (HR. Hakim dengan sanad Hasan).

Keempat, Manusia Terbaik

Orang  Terbaik Adalah yang Terbaik akhlaknya atau manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 

“Yang  terbaik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Jaminan  Surga Tertinggi Bagi yang Baik Akhlaknya

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقًّا، وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحًا، وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)) رواه أبو داود والطبراني والبهقي وحسنه الألباني))

Saya memberikan jaminan berupa rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya”. (HR. Abu Daud, Thabrani, dan Baihaqi serta dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Keenam, Akhlaq yang Baik Termasuk yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke dalam Surga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga. Beliau mengatakan;

تقوى الله وحسن الخلق،)) رواه الترمذي وأحمد وابن حبان وحسنه الألباني.

Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban  dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Mengapa takwa dan akhlak yang baik dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid bahwa taqwa kepada Allah menjaga hubungan baik seorang hamba dengan Tuhannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan akhlak yang baik menjaga hubungan baik seorang hamba dengan sesama manusia.

Ketujuh, Manusa  Paling Dicintai Allah Adalah Yang Terbaik Akhlaknya

Akhlak yang baik merupakan Sebab utama untuk dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana  sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Thabroni dengan sanad  yang shohih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أحب عباد الله إلى الله أحسنهم خلقًا)) رواه الحاكم والطبراني وقال الهيثمي رجاله رجال الصحيح))

“Hamba  Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terbaik akhlaknya”. (HR. Hakim dan Thabrani).

Kedelapan, Dicintai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan menempati posisi paling dekat dengan Beliau di akhirat kelak

Akhlak yang baik merupakan sebab untuk dicintai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mendapatkan tempat atau posisi dekat dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di surga di hari kiamat kelak. Beliau pernah bersabda;

إنَّ من أحبكم إليَّ وأقربكم مني مجلسًا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقًا)) رواه الترمذي وحسنه الألباني))

 “Sesungguhnya sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempatnya dengan aku pada hari kiamat nanti adalah yang terbaik akhlaknya diantara Kalian”. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Kesembilan, Paling  Berat Bobotnya dalam Timbangan Kebaikan Seorang Hamba

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

ما من شيء في الميزان أثقل من حسن الخلق)) رواه الترمذي وابن حبان وصححه الألباني))

Tidak ada sesuatu apapun yang paling berat bobotnya dalam timbangan seorang hamba dibandingkan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Sepuluh, Setara  dengan Pahala Shalat Malam dan Puasa

Orang yang memiliki akhlak yang baik dapat meraih atau mencapai kedudukan seperti orang yang rajin salat Lail dan puasa sunnah pada siang hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إن المؤمنَ لَيُدركُ بحُسن الخُلق درجةَ الصائمِ القائم)). رواه أبو داود وأحمد وصححه الألباني))

 “Sesungguhnya seseorang dapat sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik seseorang dapat mencapai kedudukan orang yang rajin sholat lail dan puasa sunnah”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim serta dishahihkan Syekh Al-Albani).

Beberapa  poin dan hadis di atas menunjukkan tingginya dan organnya kedudukan Akhlak Yang Mulia di dalam Islam sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memohon kepada Allah subhanahu wa taala dalam doanya untuk dikaruniai akhlak yang baik serta serta dipalingkan dari akhlak yang buruk. Beliau mengatakan;

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku Ya Allah Tunjukilah aku kepada amalan yang baik dan Akhlak Yang Mulia karena tidak ada yang tunjuki kepada Akhlak Yang Mulia melainkan engkau dan tidak ada yang dapat memalingkan dari akhlak yang buruk melainkan Engkau”. (HR Hakim).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniai kita akhlak yang baik dan memalingkan kita dari akhlak yang buruk Wallahu a’lam.  [sym].

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala,

Betapa banyak saudara-saudara semuslim kita yang mengambil fans-fans selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik karena pengaruh dari televisi, media sosial yang memunculkan banyak model maupun lainnya yang membuat saudara kita tertarik padanya.  Hail ini juga diperparah lagi dengan kurangnya orang tua mengajarkan anak untuk mengidolakan Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam serta kurangnya pengetahuan yang menyeluruh tentang karakteristik Nabi mulai dari fisik, sifat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau.

Di sekolah-sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun. Ketika ditanya siapakah idola mereka, maka kebanyakan yang menjawab mulai dari Messi, Ronaldo, Artis korea dan banyak lagi orang-orang kafir lainnya.  Tidak sadarkah mereka, bahwa semua yang ada pada orang yang difavoritkan itu juga ada semua di dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau jauh lebih baik lagi. Tidakkah mereka sadar  yang ketika di akhir hayat beliau yang dipikirkan hanyalah kita sebagai umatnya. Lebih dari itu bahkan kita dianggap saudara oleh beliau Alaihi Shollatu Wassalam yang membuat iri para sahabat Radhiallahu Anhum.

Saudaraku  yang berbahagia,

Masih inginkah engkau mengambil teladan lain selain Rasulullah ?

Tidak inginkah kalian semua dikumpulkan bersama Rasullah dan para orang sholeh. Jika kalian benar ingin bertemu dengan Rasullullah Alaihi Sholatu Wasssalam dan para sahabat Rodhiallahu Anhum Ajmain maka cintailah mereka dan contohlah bagaimana kehidupan mereka di dalam kehidupanmu. Cukuplah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam suri tauladan terbaik bagi seorang muslim.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. (HR. Bukhori )

[jundi/aha]

Dahsyatnya Bismillah

Dahsyatnya Bismillah

Bismillah (Dengan menyebut nama Allah)

 

Bismillah sebuah kata yang tak asing bagi telinga seorang muslim. Sebuah kata yang ringkas namun begitu agung di sisi Allah Azza Wajala. Bismillah sebuah kata yang menyatakan peneguhan, sekaligus menjadi bukti nyata dari kesungguhan kita.

Dengan mengawali semua aktivitas dengan mengucap bismillah, berarti kita sudah menyadari bahwa semua aktivitas kita tidak luput dari pengawasan Allah Ta’ala. Kesungguhan untuk melibatkan Allah dari awal ikhtiar. Bismillah berarti atas nama Allah, tidak untuk selain-Nya. Ini artinya menjadi titik awal tawakal, berserah diri sedari awal, dan meyakini bahwa ada kekuasaan yang lebih besar dari kuasa kita sebagai manusia biasa.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah yang melindungi dan terus memberikan pengawasan. Bila nantinya kita melenceng, Allah akan mengetuk hati kita agar mau kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Saat kita mengucap bismillah, itu seumpama kita sedang memasang alarm (pengingat). Bila ada yang tidak beres dengan proses (action, ikhtiar) kita, alarm itu akan berbunyi dan segera mengingatkan kita. Pada tingkatan inilah, kedekatan kita dengan Allah benar-benar di uji. Sebab hanya hati yang tulus – ikhlas dan dekat dengan Allah yang bisa peka merasakan peringatan dan teguran dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Q.S. Al-baqarah: 186)

Bismillah adalah Doa, tidak lain dan tidak bukan ialah doa kelancaran. Kita meyakini bahwa dengan mengucapkan bismillah akan menjadikan jalan yang sukar menjadi mudah, urusan yang sulit menjadi gampang, doa dijauhkan dari gangguan setan dan gangguan orang jahat. Kita pun menjadi bersemangat (positive thinking) untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, terus berjuang, dan tidak mudah menyerah.
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

[jundi/aha]

Kajian Hadits “Ittaqillaha haitsu ma Kunta” (Bertakwalah Kepada Allah! Kapan dan di Manapun Engkau Berada)

 

Kajian Hadits Ittaqillah Haitsu Ma Kunta

Kajian Hadits “Ittaqillaha haitsu ma Kunta” Bertakwalah Kepada Allah! Kapan dan di Manapun Engkau Berada

Bersama:

Syaikh Umar bin Salim Al-Mazmumi hafizahullah (Imam, Khatib dan Guru Qur’an di Jeddah Saudi Arabia).

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018

Waktu              : Bakda Maghrib-Isya

Tempat            : Masjid Al-Hijaz, Komp. RM Lesehan Pondok Laras, Jl. Komjen Pol. M. Yassin (Akses UI) Kelapa Dua Depok.

CP:0811 111 0984

Live  Fb:@WahdahIslamiyahJakarta 

Diselenggarakan Oleh:

Wahdah Islamiyah Jakarta dan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia

Didukung Oleh:

LAZIS Wahdah Jakarta

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

ghibah

Ghibah yang Dibolehkan, Emang Ada?

Setiap Muslim hendaknya menjaga dan memelihara lisannya dari perkataan dosa dan tercela. Karena setiap perkataan yang terucap akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya mengucapkan yang baik, atau (jika tidak) hendaknya ia diam” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara dosa lisan yang sangat buruk dan tercela adalah ghibah (menggunjing). Saking tercelanya, dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12. “Dan janganlah sebagian diantara kamu meng-ghibah-i (menggunjing) sebagian yang lain, sukakalah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian tidak suka”. (terj. Qs. Al-Hujurat: 12).
Ghibah artinya membicarakan orang lain ketika ia tidak ada dengan pembicaraan yang tidak ia sukai. Sebagaimana pengertian ghibah yang didefinisikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, “dzikruka akhaka bima yakrahu (kamu membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”. (terj. HR. Muslim).

Namun demikian ada pembicaraan tentang orang lain yang dibolehkan. Bahkan ulama menyebutnya sebagai ghibah yang dibolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkan masalah ini dalam satu Bab khusus (bab 265) dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin yang beliau beri judul, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah, Bab Ghibah yang Dibolehkan.
Ketahuilah bahwa, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang benar sesuai syariat, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ghibah, hal itu ada dalam enam perkara”, terang An-Nawawi mengawali Bab ke 265 dalam kitabnya tersebut.
Jadi ghibah yang boleh menurut An-Nawawi hanya (1) untuk maksud dan tujuan yang benar secara syar’i, dan (2) tujuan yang benar tersebut hanya dapat dicapai dengan membicarakan orang lain alias ghibah. Keenam Jenis ghibah tersebut adalah:

Pertama, Mengadukan Kezaliman
Bagi orang yang terzalimi boleh menyebutkan nama orang yang menzaliminya ketika mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada penguasa atau hakim dan atau lainnya yang berwenang, atau boleh melaporkan kepada orang yang mampu menengahi dengan orang yg menzaliminya. Misalnya ia berkata: “Si fulan telah menzalimi saya”.

Kedua; Dalam rangka Meminta Tolong untuk Menghilangkan Kemungkaran dan Mengembalikan Pelaku Maksiat ke Jalan yang Benar
Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan bisa menghilangkan kemungkaran tersebut: “Fulan telah berbuat (maksiat) demikian, maka hendaknya engkau mencegahnya”, atau kalimat yang semisal itu. Maksud dan tujuannya adalah mencari sarana atau perantara untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Jika ia tidak bermaksud seperti itu, maka hukumnya haram.
Artinya jika sekadar membicarakan bahwa si fulan berbuat maksiat ini dan itu tanpa ada sama sekali maksud dan tujuan untuk merubah kemunkaran yang dikerjakannya atau mengembalikannya ke jalan yang benar, maka hal itu termasuk ghibah yang diharamkan.

Ketiga; Meminta Fatwa
Misalnya seorang mustafti (peminta fatwa) mengatakan kepada mufti: Ayahku/saudaraku/ suamiku/fulan telah menzalimiku demikian. Apakah hal itu boleh baginya? Dan saya tidak memiliki jalan untuk terlepas dari orang ini dan mengambil hak saya serta melawan kezalimannya (kecuali dengan itu)?. Hal ini boleh kalau ada hajat.
Akan tetapi yang afdhal dan lebih hati-hati hendaknya ia mengatakan; “ Apa pendapat anda, tentang seorang atau seorang suami yang keadaannya demikian?” Maka jika sudah tercapai tujuannya tanpa menyebut nama individunya (itu lebih baik). Walaupun jika menyebut namanya itu boleh juga, sebagaimana dalam hadits Hindun radhiallahu’anha.

Keempat: Memperingatkan dan Menasehati Kaum Muslimin dari Suatu Keburukan
Hal ini dari beberapa sisi;
• Diantaranya: Jarh (kritikan) terhadap orang yang dikritik dari para rawi dan saksi yang layak dikritik. Yang demikian itu boleh berdasarkan ijma’ (konsensus) kaum muslimin, bahkan (menyebut nama orang yang dikritik) wajib untuk tujuan ini.
• Diantaranya juga: meminta pendapat (saran) ketika hendak menikah dengan seorang, atau kerja sama dengannya, menitipkan sesuatu, bermuamalah dan selain itu, atau berdialog dengannya. Wajib bagi orang yang dimintai saran untuk tidak menyembunyikan keadaan orang tersebut. Bahkan dia mesti menyebutkan kejelekkan-kejelekkan yang ada padanya dengan niat menasihati.
• Dan diantaranya : Jika melihat seorang pelajar yang bolak-balik menemui ahli bidah, atau orang fasiq untuk mengambil ilmu darinya, dan dikawatirkan pelajar tadi akan mengalami mudharat dengan itu. Maka wajib menasihatinya dan menjelaskan keadaannya (ahli bidah). Dengan syarat untuk tujuan menasihatinya.
Akan tetapi kadang terjadi kesalahan dalam hal ini. Terkadang yang mengkritik itu terbawa sifat hasad (dalam menjarh). Syaitan membuat pengkaburan dalam hal itu, digambarkan seolah-olah itu adalah nasihat. Maka berlaku cermatlah dalam mengkritik.
•Diantaranya: Orang yang mempunyai amanah tanggung jawab, tapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya: Baik karena memang ia tidak pantas untuk itu, ataupun karena ia adalah seorang fasiq atau teledor dan semisalnya. Maka wajib untuk menyebutkan (kekurangan orang itu) kepada pihak yang memiliki kewenangan umum untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan orang yang pantas. Atau mengabarkan hal itu agar ia ditindak sesuai keadaannya, tidak tertipu dengannya, dan berupaya untuk mendorongnya agar istiqamah atau membimbingnya.

Kelima Orang yang Menampakkan Kefasikan atau Kebid’ahannya

Boleh “menghibahi” orang yang secara terang-terangan menampakkan perbuatan fasik dan atau bid’ahnya. Semisal orang terang-terangan menampakkan minum khamer, merampok manusia, minta pajak dan pungutan uang secara zalim (pungli), melakukan perkara-perkara yang batil.
Maka boleh menyebutkan perbuatan buruk yang dia tampakkan. Namun diharamkan menyebutkan aib-aib selainnya (yang tidak dia tampakkan), kecuali disebutkan kejelekannya karena suatu sebab lain.

Keenam; Dalam Rangka Mengenalkan
Boleh menyebutkan suatu aib secara fisik untuk maksud dan tujuan mengenalkan. Hal ini berlaku bagi orang yang popular dengan gelar yang dikaitkan dengan ciri atau aib fisiknya.
Jika seseorang dikenal dengan gelar si Buta (A’masy), si Pincang (A’raj), si Tuli (asham), si Picek (a’ma), si Juling (ahwal) dan lain-lain, maka Boleh saja mengenalkan mereka dengan hal itu. Tapi diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghina atau merendahkan. Seandainya memungkinkan menyebutkannya dengan selain itu, tentu lebih utama.
Maka ini adalah enam sebab yang disebutkan para ulama dan kebanyakannya adalah perkara yang telah disepakati.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa ada ghibah yang dibolehkan karena hajat dan kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Namun perlu diperhatikan, hal ini hanya berlaku untuk keenam hal tersebut dengan maksud dan tujuan yang benar ssuai syariat. Jika bukan untuk maksu yang dibenarkan secara syar’i, maka pembicaraan tentang keenam hal tersebut termasuk ghibah yang diharamkan. [sym].
Sumber: Riyadhus Shalihin karya Abu Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi, Kitab Al-Umur Al-Manhiy ‘anha, Bab Ma Yubahu Min Al-Ghibah, Dar as-Salam Lin Nasyr Wat Tauzi’, hlm. 407-408.