Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala,

Betapa banyak saudara-saudara semuslim kita yang mengambil fans-fans selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik karena pengaruh dari televisi, media sosial yang memunculkan banyak model maupun lainnya yang membuat saudara kita tertarik padanya.  Hail ini juga diperparah lagi dengan kurangnya orang tua mengajarkan anak untuk mengidolakan Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam serta kurangnya pengetahuan yang menyeluruh tentang karakteristik Nabi mulai dari fisik, sifat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau.

Di sekolah-sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun. Ketika ditanya siapakah idola mereka, maka kebanyakan yang menjawab mulai dari Messi, Ronaldo, Artis korea dan banyak lagi orang-orang kafir lainnya.  Tidak sadarkah mereka, bahwa semua yang ada pada orang yang difavoritkan itu juga ada semua di dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau jauh lebih baik lagi. Tidakkah mereka sadar  yang ketika di akhir hayat beliau yang dipikirkan hanyalah kita sebagai umatnya. Lebih dari itu bahkan kita dianggap saudara oleh beliau Alaihi Shollatu Wassalam yang membuat iri para sahabat Radhiallahu Anhum.

Saudaraku  yang berbahagia,

Masih inginkah engkau mengambil teladan lain selain Rasulullah ?

Tidak inginkah kalian semua dikumpulkan bersama Rasullah dan para orang sholeh. Jika kalian benar ingin bertemu dengan Rasullullah Alaihi Sholatu Wasssalam dan para sahabat Rodhiallahu Anhum Ajmain maka cintailah mereka dan contohlah bagaimana kehidupan mereka di dalam kehidupanmu. Cukuplah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam suri tauladan terbaik bagi seorang muslim.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. (HR. Bukhori )

[jundi/aha]

Dahsyatnya Bismillah

Dahsyatnya Bismillah

Bismillah (Dengan menyebut nama Allah)

 

Bismillah sebuah kata yang tak asing bagi telinga seorang muslim. Sebuah kata yang ringkas namun begitu agung di sisi Allah Azza Wajala. Bismillah sebuah kata yang menyatakan peneguhan, sekaligus menjadi bukti nyata dari kesungguhan kita.

Dengan mengawali semua aktivitas dengan mengucap bismillah, berarti kita sudah menyadari bahwa semua aktivitas kita tidak luput dari pengawasan Allah Ta’ala. Kesungguhan untuk melibatkan Allah dari awal ikhtiar. Bismillah berarti atas nama Allah, tidak untuk selain-Nya. Ini artinya menjadi titik awal tawakal, berserah diri sedari awal, dan meyakini bahwa ada kekuasaan yang lebih besar dari kuasa kita sebagai manusia biasa.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah yang melindungi dan terus memberikan pengawasan. Bila nantinya kita melenceng, Allah akan mengetuk hati kita agar mau kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Saat kita mengucap bismillah, itu seumpama kita sedang memasang alarm (pengingat). Bila ada yang tidak beres dengan proses (action, ikhtiar) kita, alarm itu akan berbunyi dan segera mengingatkan kita. Pada tingkatan inilah, kedekatan kita dengan Allah benar-benar di uji. Sebab hanya hati yang tulus – ikhlas dan dekat dengan Allah yang bisa peka merasakan peringatan dan teguran dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Q.S. Al-baqarah: 186)

Bismillah adalah Doa, tidak lain dan tidak bukan ialah doa kelancaran. Kita meyakini bahwa dengan mengucapkan bismillah akan menjadikan jalan yang sukar menjadi mudah, urusan yang sulit menjadi gampang, doa dijauhkan dari gangguan setan dan gangguan orang jahat. Kita pun menjadi bersemangat (positive thinking) untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, terus berjuang, dan tidak mudah menyerah.
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

[jundi/aha]

Kajian Hadits “Ittaqillaha haitsu ma Kunta” (Bertakwalah Kepada Allah! Kapan dan di Manapun Engkau Berada)

 

Kajian Hadits Ittaqillah Haitsu Ma Kunta

Kajian Hadits “Ittaqillaha haitsu ma Kunta” Bertakwalah Kepada Allah! Kapan dan di Manapun Engkau Berada

Bersama:

Syaikh Umar bin Salim Al-Mazmumi hafizahullah (Imam, Khatib dan Guru Qur’an di Jeddah Saudi Arabia).

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018

Waktu              : Bakda Maghrib-Isya

Tempat            : Masjid Al-Hijaz, Komp. RM Lesehan Pondok Laras, Jl. Komjen Pol. M. Yassin (Akses UI) Kelapa Dua Depok.

CP:0811 111 0984

Live  Fb:@WahdahIslamiyahJakarta 

Diselenggarakan Oleh:

Wahdah Islamiyah Jakarta dan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia

Didukung Oleh:

LAZIS Wahdah Jakarta

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

ghibah

Ghibah yang Dibolehkan, Emang Ada?

Setiap Muslim hendaknya menjaga dan memelihara lisannya dari perkataan dosa dan tercela. Karena setiap perkataan yang terucap akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya mengucapkan yang baik, atau (jika tidak) hendaknya ia diam” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara dosa lisan yang sangat buruk dan tercela adalah ghibah (menggunjing). Saking tercelanya, dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12. “Dan janganlah sebagian diantara kamu meng-ghibah-i (menggunjing) sebagian yang lain, sukakalah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian tidak suka”. (terj. Qs. Al-Hujurat: 12).
Ghibah artinya membicarakan orang lain ketika ia tidak ada dengan pembicaraan yang tidak ia sukai. Sebagaimana pengertian ghibah yang didefinisikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, “dzikruka akhaka bima yakrahu (kamu membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”. (terj. HR. Muslim).

Namun demikian ada pembicaraan tentang orang lain yang dibolehkan. Bahkan ulama menyebutnya sebagai ghibah yang dibolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkan masalah ini dalam satu Bab khusus (bab 265) dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin yang beliau beri judul, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah, Bab Ghibah yang Dibolehkan.
Ketahuilah bahwa, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang benar sesuai syariat, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ghibah, hal itu ada dalam enam perkara”, terang An-Nawawi mengawali Bab ke 265 dalam kitabnya tersebut.
Jadi ghibah yang boleh menurut An-Nawawi hanya (1) untuk maksud dan tujuan yang benar secara syar’i, dan (2) tujuan yang benar tersebut hanya dapat dicapai dengan membicarakan orang lain alias ghibah. Keenam Jenis ghibah tersebut adalah:

Pertama, Mengadukan Kezaliman
Bagi orang yang terzalimi boleh menyebutkan nama orang yang menzaliminya ketika mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada penguasa atau hakim dan atau lainnya yang berwenang, atau boleh melaporkan kepada orang yang mampu menengahi dengan orang yg menzaliminya. Misalnya ia berkata: “Si fulan telah menzalimi saya”.

Kedua; Dalam rangka Meminta Tolong untuk Menghilangkan Kemungkaran dan Mengembalikan Pelaku Maksiat ke Jalan yang Benar
Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan bisa menghilangkan kemungkaran tersebut: “Fulan telah berbuat (maksiat) demikian, maka hendaknya engkau mencegahnya”, atau kalimat yang semisal itu. Maksud dan tujuannya adalah mencari sarana atau perantara untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Jika ia tidak bermaksud seperti itu, maka hukumnya haram.
Artinya jika sekadar membicarakan bahwa si fulan berbuat maksiat ini dan itu tanpa ada sama sekali maksud dan tujuan untuk merubah kemunkaran yang dikerjakannya atau mengembalikannya ke jalan yang benar, maka hal itu termasuk ghibah yang diharamkan.

Ketiga; Meminta Fatwa
Misalnya seorang mustafti (peminta fatwa) mengatakan kepada mufti: Ayahku/saudaraku/ suamiku/fulan telah menzalimiku demikian. Apakah hal itu boleh baginya? Dan saya tidak memiliki jalan untuk terlepas dari orang ini dan mengambil hak saya serta melawan kezalimannya (kecuali dengan itu)?. Hal ini boleh kalau ada hajat.
Akan tetapi yang afdhal dan lebih hati-hati hendaknya ia mengatakan; “ Apa pendapat anda, tentang seorang atau seorang suami yang keadaannya demikian?” Maka jika sudah tercapai tujuannya tanpa menyebut nama individunya (itu lebih baik). Walaupun jika menyebut namanya itu boleh juga, sebagaimana dalam hadits Hindun radhiallahu’anha.

Keempat: Memperingatkan dan Menasehati Kaum Muslimin dari Suatu Keburukan
Hal ini dari beberapa sisi;
• Diantaranya: Jarh (kritikan) terhadap orang yang dikritik dari para rawi dan saksi yang layak dikritik. Yang demikian itu boleh berdasarkan ijma’ (konsensus) kaum muslimin, bahkan (menyebut nama orang yang dikritik) wajib untuk tujuan ini.
• Diantaranya juga: meminta pendapat (saran) ketika hendak menikah dengan seorang, atau kerja sama dengannya, menitipkan sesuatu, bermuamalah dan selain itu, atau berdialog dengannya. Wajib bagi orang yang dimintai saran untuk tidak menyembunyikan keadaan orang tersebut. Bahkan dia mesti menyebutkan kejelekkan-kejelekkan yang ada padanya dengan niat menasihati.
• Dan diantaranya : Jika melihat seorang pelajar yang bolak-balik menemui ahli bidah, atau orang fasiq untuk mengambil ilmu darinya, dan dikawatirkan pelajar tadi akan mengalami mudharat dengan itu. Maka wajib menasihatinya dan menjelaskan keadaannya (ahli bidah). Dengan syarat untuk tujuan menasihatinya.
Akan tetapi kadang terjadi kesalahan dalam hal ini. Terkadang yang mengkritik itu terbawa sifat hasad (dalam menjarh). Syaitan membuat pengkaburan dalam hal itu, digambarkan seolah-olah itu adalah nasihat. Maka berlaku cermatlah dalam mengkritik.
•Diantaranya: Orang yang mempunyai amanah tanggung jawab, tapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya: Baik karena memang ia tidak pantas untuk itu, ataupun karena ia adalah seorang fasiq atau teledor dan semisalnya. Maka wajib untuk menyebutkan (kekurangan orang itu) kepada pihak yang memiliki kewenangan umum untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan orang yang pantas. Atau mengabarkan hal itu agar ia ditindak sesuai keadaannya, tidak tertipu dengannya, dan berupaya untuk mendorongnya agar istiqamah atau membimbingnya.

Kelima Orang yang Menampakkan Kefasikan atau Kebid’ahannya

Boleh “menghibahi” orang yang secara terang-terangan menampakkan perbuatan fasik dan atau bid’ahnya. Semisal orang terang-terangan menampakkan minum khamer, merampok manusia, minta pajak dan pungutan uang secara zalim (pungli), melakukan perkara-perkara yang batil.
Maka boleh menyebutkan perbuatan buruk yang dia tampakkan. Namun diharamkan menyebutkan aib-aib selainnya (yang tidak dia tampakkan), kecuali disebutkan kejelekannya karena suatu sebab lain.

Keenam; Dalam Rangka Mengenalkan
Boleh menyebutkan suatu aib secara fisik untuk maksud dan tujuan mengenalkan. Hal ini berlaku bagi orang yang popular dengan gelar yang dikaitkan dengan ciri atau aib fisiknya.
Jika seseorang dikenal dengan gelar si Buta (A’masy), si Pincang (A’raj), si Tuli (asham), si Picek (a’ma), si Juling (ahwal) dan lain-lain, maka Boleh saja mengenalkan mereka dengan hal itu. Tapi diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghina atau merendahkan. Seandainya memungkinkan menyebutkannya dengan selain itu, tentu lebih utama.
Maka ini adalah enam sebab yang disebutkan para ulama dan kebanyakannya adalah perkara yang telah disepakati.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa ada ghibah yang dibolehkan karena hajat dan kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Namun perlu diperhatikan, hal ini hanya berlaku untuk keenam hal tersebut dengan maksud dan tujuan yang benar ssuai syariat. Jika bukan untuk maksu yang dibenarkan secara syar’i, maka pembicaraan tentang keenam hal tersebut termasuk ghibah yang diharamkan. [sym].
Sumber: Riyadhus Shalihin karya Abu Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi, Kitab Al-Umur Al-Manhiy ‘anha, Bab Ma Yubahu Min Al-Ghibah, Dar as-Salam Lin Nasyr Wat Tauzi’, hlm. 407-408.

Hak-hak Ukhuwah (Persaudaraan)

UZR ayat-ayat Ukhuwah

UZR ayat-ayat Ukhuwah

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ust. Muhammad Zaitun Rasmin
Surat Al Hujurat banyak mengajarkan kepada kita tentang persaudaraan. Allah ta’ala mengajarkan secara rinci bagaimana seharusnya kita ber-ukhuwwah. Surat ini adalah “Surat Ukhuwwah”.
Pada ayat 9 dan 10 (http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/ & http://wahdahjakarta.com/2017/11/20/berukhuwwah-bukan-berarti-tanpa-gesekan/ Allah menjelaskan tentang hakikat ukhuwah dan persaudaraan, lalu pada ayat berikutnya Allah memberikan panduan cara merawat ukhuwah, yakni dengan menunaikan hak-hak ukhuwah atau persaudaraan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُون
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS Al-Hujurat: 11)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)

Setelah menerangkan hakikat ukhuwwah di ayat 9 dan 10, berikutnya Allah jelaskan secara detail bagaimana cara merawat ukhuwwah di ayat 11 dam 12.
Berikutnya di ayat ke-13 Allah ingatkan lagi tentang pentingnya persaudaraan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Tidak boleh ada yang menyombongkan diri jika kita ingin membangun ukhuwwah. Yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa dan yang tahu seberapa besar kadar ketaqwaan kita hanyalah Allah.
Orang Islam manapun, tidak boleh ada yang merusak persatuan, apalagi jika sudah ada kepemimpinan umat. Merusak ukhuwwah ini pelakunya disebut ahlul baghyi, jamaknya bughaat atau pemberontak.
Bangunan ukhuwwah adalah unsur penting dalam agama kita. Jangan ada yang sembrono. Jangan ada tindakan perusakan atau pelemahan ukhuwwah ini, besar ataupun kecil.
Diantara upaya penguatan ukhuwwah adalah Allah perintahkan kita agar saling kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Wata’aawanuu alal birri wat taqwa.

Mimbar-mimbar Cahaya
Ukhuwwah ini termasuk amal shalih yang utama. Allah berikan balasan kelak di akhirat kedudukan yang sangat mulia, sampai-sampai banyak yang cemburu dari kalangan para Nabi dan Syuhada’.
Para penjaga ukhuwwah akan Allah tempatkan di atas mimbar-mimbar cahaya.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ
Artinya: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid menginginkannya”. (H.R Tirmidzi, hasan shahih).
Hendaknya kita turut menjaga ukhuwwah dan persatuan umat ini, mudah-mudahan kelak Allah berikan tinggikan kedudukan kita di atas mimbar-mimbar cahaya-Nya. Amin. [ibw/sym]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

Setiap Kebaikan Berpahala Sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia. Sebab sedekah merupakan burhan (bukti) iman seorang Muslim. Sedekah juga memiliki banyak keutamaan, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits-haditsnya.

Sedekah tidak selamanya dengan harta, karena pahala sedekah dapat diraih dengan melakukan kebaikan apapun. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

«كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ »

Setiap kebaikan adalah sedekah” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia dengan niat baik tergolong sedekah yang diganjar pahala oleh Allah Ta’ala. Artinya sedekah tidak terbatas pada apa yang dikeluarkan seseorang berupa harta, sehingga setiap yang mampu berbuat baik terhitung sebagai orang yang bersedekah, baik kaya maupun faqir.

Oleh karena itu dalam hal ini orang kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk meraup pahala sedekah, yakni dengan melakukan kebaikan walaupun kecil. Seperti tersenyum atau memasukkan perasaan riang dan suka cita ke dalam hati sesama. Sebab, “Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah”. Dalam hadits lain baginda Rasul juga mewanti-wanti untuk tidak meremehkan suatu kebaikan sama sekali. “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan sedikitpun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri”. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).

Tidak Dapat Membalas Kebaikan? Doakan!

Membalas Kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من استعاذكم بالله فأعيذوه، ومن سألكم بالله فأعطوه، ومن أتى إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا فادعواله)) أخرجه البيهقي ((
“Barangsiapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah maka lindungilah dia, barangsiapa meminta sesuatu kepadamu karena Allah maka penuhilah permintaannya, dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan tersebut, jika kamu tidak dapat membalas kebaikan tersebut maka do’akanlah dia”. (HR. al-Baihaqi, 4/199, Abu Daud, no. 1672, dan An-Nasai, no. 2566; dishahihkan Syekh al-Albani).

Pelajaran Hadits:
1. Siapa yang datang memohon perlindungan dan suaka dalam urusan tertentu wajib dilindungi selama ia berada di atas kebenaran. Demikian pula orang yang dimintai sesuatu atas nama Allah, jika mampu maka ia harus memberikan apa yang diminta.
2. Memohon perlindungan kepada makhluq dalam urusan yang dimampui dan disanggupi makhluq adalah boleh. Boleh pula meminta ketika membutuhkan.
3. Wajibnya membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, jika tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan maka hendaknya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya. [sym].
(Sumber: Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al Birr Wa as Shilah, hlm. 598, Karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).
Artikel:http://wahdah.or.id