Wahdah Islamiyah Jakarta Tegaskan Komitmen Dakwah Qur’an

Ketua DPW WI Jakarata dan Depok Ustadz. Ilham Jaya saat menyampaikan arahan pada MPP DPW WI Jakarta, Ahad (12/08/2018)

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.c0m,-  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta (Wahdah Jakarta) menggelar Musyawarah Pengurus Pleno (MPP) pada Ahad (12/08/2018) di Agroedutainment Toko Trubus Cimanggis Depok.

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan,  Wahdah Jakarta dan Depok bertekad akan menjadikan dakwah Al-Quran sebagai inti dari aktifitas-aktifitas Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok.

“Kegiatan dan program dakwah yang dijalankan Wahdah di DKI Jakarta dan sekitarnya Wahdah Islamiyah Jakarta memformulasikan tema-tema Qurani baik secara konten dan perwajahan dakwah Islam sebagai brand utama dakwah Wahdah Islamiyah di Jakarta dan sekitarnya”, terang Ustadz Ilham.

“Kita harapkan bahwasanya tema-tema Quran ini menjadi unggulan dalam program kerja di lembaga perjuangan ini”, pungkas mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Saat ini Wahdah Jakarta mengelola beberapa kegiatan dan program Dakwah Qur’an seperti Rumah Tahfidz, Markaz Qur’an, DIROSA (bimbingan baca Al-Qur’an untuk orang dewasa), tahfidz Week end, bimbingan terjemah Qur’an, pesantren tahfidz, serta pelatihan guru dan pengajar Qur’an.

Ustadz Ilham berharap program dan gerakan ini memberikan manfaat yang besar terhadap umat di Indonesia secara umum, terkhusus bagi warga Jakarta sebagai pusat Ibukota, dan umat Islam secara umum.

MPP ini diikuti oleh perwakilan pengurus wahdah dan Muslimah Wahdah tingkat Daerah di Jakarta dan Depok (DPD WI Jakarta Timur, DPD WI Jakarta Selatan, DPD WI Jakarta Pusat, DPD WI Jakarta Utara, dan DPD WI Depok. [sym]

Keutamaan Penghafal Al-Qur’an (1)

Keutamaan Penghafal Al-Qur’an (1)

Al-Qur’an adalah kitab suci Allah yang mulia. Diturunkan oleh yang Maha Mulia Allah Ta’ala  kepada manusia termulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat paling mulia (Malaikat Jibril) di tempat paling mulia (Makkah) dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan.

Kemuliaan Al-Quran  berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk kemuliaan bagi orang yang menghafalnya. Banyak keistimewaan dan keutamaan yang Allah janjikan bagi para penghafal Al-Qur’an. Tulisan ini akan menjelaskan beberapa keutamaan penghafal Al-Qur’an sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau.

  1. Kedudukan Yang Tingggi di Surga

Ketika orang-orang beriman masuk surga, para penghafal Al-Qur’an berada pada posisi yang lebih mulia dan lebih tinggi. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” يقال لصاحب القرآن : اقرأ وارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرأ بها “

Dikatakan kepada pemilik [bacaan/hafalan] Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta bacalah secara tartil. Sebagaimana anda membaca tartil di dunia. Karena kedudukanmu di ayat terakhir yang anda baca.” (HR. Ahmad, 2/192, Abu Daud (1646) Tirmidzi, (2914) dan berkomentar: Hadits ini Hasan Shahih).

Hadits ini menunjukan keutamaan penghafal Al-Qur’an, karena yang dimaksud bacaan disini adalah mengahafalkan.

  1. Diberi Perhiasan Berupa Mahkota dan Gelang Kemuliaan

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda:

يجيء القرآن يوم القيامة فيقول : يا رب حلِّه ، فيلبس تاج الكرامة ثم يقول : يا رب زِدْه ، فيلبس حلة الكرامة ، ثم يقول : يا رب ارض عنه فيرضى عنه ، فيقال له: اقرأ وارق وتزاد بكل آية حسنة ” . رواه الترمذي ( 2915 ) وقال : هذا حديث حسن صحيح ، وقال الألباني في ” صحيح الترمذي ” برقم ( 2328 )  .

“Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Tuhan, hiasilah dia. Maka dia dipakaikan mahkota kemulaan (Tajul karamah) kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, tambahkanlah dia. Maka dia dipakaikan gelang kemuliaan (Hullatul karamah). Kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, ridhoilah dia, maka (Allah) meridhoinya. Dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Ditambah setiap ayat suatu kebaikan.” (HR. Tirmizi, (2915) dan Daruquthni dalam Al-‘Ilal  (10/157) Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini Hasan Shoheh. Syekh Al-Albani mengatakan di hadits ini hasan).

  1. Bersama Para Malaikat yang Mulia

Para penghafal Al-Qur’an akan bersama dengan para Malaikat yang mulia. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران. رواه البخاري (4653) و مسلم (79

Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya, maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.’ (HR. Bukhari, 4653 dan Muslim, 798.

  1. Didahulukan dalam Kepemimpinan Jika Mampu Mengembannya

Dari Amir bin Wailah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di ‘Usfan. Dimana dahulu Umar telah mengangkatnya di Mekkah. Maka beliau mengatakan, “Siapa yang anda angkat untuk penduduk wadi (Mekkah)?”Ibnu Abza”, jawabnya. (Umar) bertanya lagi, “Siapa itu Ibnu Abza”? Dijawab, “Salah seorang budak diantara kami”. Umar berkata, “Apakah anda angkat untuk mereka seorang budak? Amir mengatakan; “Beliau adalah pembaca (penghafal) Kitabullah Azza Wajalla dan pandai dalam bidang ilmu Faraidh (ilmu waris). Maka Umar mengatakan, “Sesungguhnya Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini suatu kaum dan merendahkan kaum lainnya.” (HR. Muslim, 817). [sym].

Tutup Rapat Pintu Zina, Permudah Pernikahan (Tafsir Surat An-Nur:32)

pernikahan

Nikah sbagai pintu rezki

Tutup Rapat Pintu Zina, Permudah Pernikahan

(Tafsir Surat An-Nur:32)

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  ﴿٣٢

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang shaleh  yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. An-Nur:32).

Pengantar

Tema inti dari surat An-Nur adalah persoalan menjaga kehormatan (iffah) pribadi, keluarga, dan masyarakat Muslim. Oleh karena itu kita dapati dalam surat ini peraturan dan perintah yang wajib dijalanan dalam masyarakat Islam sebagai upaya membentengi masyarakat Islam dari merebaknya perbuatan keji yang merusak harga diri dan kehormatan.

Surat An-Nur diawali dengan pengabaran bahwa, surat ini diturunkan dan diwajibkan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya untuk dijalankan. Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan tentang hukuman perbuatan zina. Tujuan penegakan hukuman itu adalah dalam rangka melindungi masyarakat Muslim dari perbuatan keji. Sebab zina dapat menghilangkan kemuliaan dan kehormatan pribadi, keluarga, dan masyarakat Muslim.

Akan  tetapi sebagai  Agama yang utuh dan komprehensif  dalam membangun masyarakat yang bersih dari kekejian Islam tidak berpijak pada penegakan hukuman dan sanksi saja. Sebelum semua itu Islam berpijak pada wiqayah (preventif). Sebab Islam tidak memerangi dan menghalangi dorongan dan gejolak manusiawai yang merupakan fitrah bawaan setiap manusia sejak lahir. Tetapi Islam menata dan mengaturnya agar gejolak dan kecenderungan tersebut tersalur melalui cara yang bersih dan terhormat serta bebas dari penyakit sosial.

Dalam konteks pendidikan Islam konsep yang dominan pada aspek ini adalah mempersempit ruang gerak dan peluang berbuat dosa serta menututp rapat berbagai pintu fitnah dan rangsangan negatif, lalu kemudian mempermudah jalan mencapai solusi melalui cara yang sehat dan terhormat. Selain itu Islam juga menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi pemuasan hasrat alamiah  tersebut dengan cara yang bersi secara syar’i.

Diantara tindakan prventif tersebut adalah mempermudah pernikahan bagi orang fakir dan shaleh yang layak menikah baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana diterangkan dalam ayat 32 Surat An-Nur;

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang shaleh  yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. An-Nur:32).

Kewajiban Menikahkan

 “Ini adalah perintah untuk menikahkan”, jelas  Ibn Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan frasa wa ankihul ayama pada ayat 32 surat An-Nur diatas. Tepatnya perintah kepada para wali dan tuan untuk menikahkan para jejaka, janda, maupun gadis yang berada dalam tanggung jawab mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. “Maka wajib bagi kerabat dan wali anak yatim untuk menikahkan mereka  yang layak  menikah”, lanjut Syekh As Sa’di.

Bahkan sebagian Ahli Tafsir seperti Buya Hamka dan Abu Bakar Jabir al-Jazairi memandang bahwa perintah untuk menikahkan para pemuda[i], duda, maupun janda yang disebutkan dalam ayat di atas tidak terbatas kepada para orang tua dan wali. Tetapi perintah kepada hakim (pemerintah), bahkan kaum Muslimin secara umum.

Buya Hamka rahimahullah mengatakan, “Apabila kita renungkan ayat ini baik-baik, jelaslah bahwa soal mengawinkan yang belum beristri  atau bersuami bukanlah lagi semata-mata urusan pribadi dari yang bersangkutan , atau urusan “rumah tangga” dari orang tua kedua orang yang bersangkutan saja, tetapi menjadi urusan pula dari jama’ah islamiyah, jelasnya masyarakat Islam yang mengelilingi orang itu”. (Tafsir Al-Azhar, 18/216).

Menurut beliau hal ini sejalan dengan tema utama surat An-Nur yang secara eksplisit dinyatakan pada awal surat bahwa peraturan yang tertera di dalamnya  hendak membentuk suatu masyarakat Islam yang gemah ripah, adil, dan makmur, loh jinawi.  Sehingga pada ayat ini ada peraturan yang amat penting dalam masyarakat Islam, yaitu menikahkan laki-laki yang tidak beristri, perempuan yang tidak bersuami, baik masih bujangan dan gadis maupun sudah duda dan janda, hendaklah segera dicarikan jodohnya.

Segerakan dan Mudahkan

Perintah untuk menikahkan dalam ayat ini juga menyiratkan pesan lain, yakni anjuran untuk menyegerakan dan memudahkan pernikahan, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Mutawalli Asy Saya’rawi. “Segerelah menikahkan mereka, mudahkan urusan mereka dalam masalah ini, dan janganlah kalian persulit mahar pernikahan agar kalian dapat menjaga kehormatan anak-anak kalian”,  jelas Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi.

Selanjutnya Syekh Asy-Sya’rawi mengutip satu  hadits yang terkenal, “Jika kalian didatangi oleh laki-laki yang kalian ridhai Agama dan Akhlaqnya (untuk melamar putri kalian) maka nikahkanlah”, (terj. HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi, bukan aib seorang ayah memudahkan urusan pernikahan putrinya. Bahkan lebih dari itu, bukan aib sama sekali bila seorang ayah menawarkan putrinya kepada pemuda yang shaleh, bertakwa dan layak menikah. Sebagaimana Sya’aib ‘alaihis salam menawarkan putrinya kepada Nabi Musa ‘alaihi ssalam, Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini”, (terj. Qs. Al-Qashash:27).

Hal ini menunjukkan bahwa jika seorang ayah yang memiliki anak gadis telah menemukan pemuda yang sekufu (setara) dengan putrinya dalam hal Agama, hendaknya ia tidak ragu menikahkannya  dengan pemuda tersebut demi menjaga kehormatan anak gadisnya.

Orang Shaleh Lebih Berhak Untuk Dinikahkan

Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shalihin dalam frasa ‘Washalihin min ‘ibadikum wa imaikum”, adalah orang yang baik Agamanya (Shalahud Din). Secara spesifik makna shaleh dalam urusan pernikahan adalah bukan pendosa, bukan pula pezina. Maka  tuan atau walinya diperintahkan untuk menikahkannya sebagai balasan atas kebaikan dan keshalehannya serta motifasi untuk terus menjaga dan meningkatkan keshalehannya, karena orang yang rusak akibat zina terlarang untuk dinikahkan (dengan orang baik-baik). Sehingga hal ini memperkuat apa yang ditegaskan pada awal surat bahwa pezina laki-laki dan perempuan haram dinikahkan hingga keduanya bertaubat. (As-Sa’diy).

Makna  ‘’shalihin” sebagai orang shaleh dalam artian  baik Agamanya juga dikuatkan oleh Syekh Ash-Sabuni, “Dalam ayat ini tersirat tentang nilai ketakwan dan kesalehan pada diri manusia, Sebab manusia tidak dimuliakan karena harta dan kedudukannya, Tetapi dimuliakan karena Agama dan kesalehannya”. (Rawa’i al-Bayan, 2/170)

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanati para wali anak perempuan, “Jika kalian didatangi oleh (laki-laki) yang kalian ridhai Agama dan akhlaqanya, maka nikahkalah”. Maksudnya nikahkan dengan putri kalian. Jangan kalian tolak karena alasan miskin, misalnya. Sebab jika ia miskin maka insya Allah Agama dan akhlaqnya akan menjadi sebab datangnya rezki dan karunia Allah.

Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya dan dimintai masukan oleh orang tua yang hendak menikahkan putrinya. “Nikahkanlah ia dengan laki-laki yang kamu jamin Agamanya”, jawab al-Hasan. “Jika ia mencintai putrimu niscaya dia memuliakannya, (sebaliknya) jika dia membenci putrimu maka takkan mendzaliminya”.

Yang Miskin Akan Diberi Kecukupan Oleh Allah

Kemiskinan dan kefakiran kadang menjadi alasan para pemuda menunda pernikahan. Atau orang tua malu melamarkan putranya karena alasan kefaikaran. Atau orang tua/wali anak perempuan menolak lamaran calon suami yang miskin. Mereka khawatir kemiskinan calon suami akan menular pada keluarga besar mereka dan menurun pada anak cucu mereka. Perasaan hati yang seperti ini ditolak oleh bagian kedua dari ayat tersebut, “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya”.

Ini adalah janji berupa kekayan dan kecukupan  bagi orang yang telah menikah, sehingga janganlah memandang kepada problem kefakiran, baik kefakiran pelamar ataupun yang dilamar, karena mereka akan merasa cukup dengan karunia Allah yang Maha kaya dan maha luas karunia-Nya. (Tafsir Al-Munir, 9/568).

Oleh karena itu tidak selayaknya kemiskinan menjadi momok menakutkan dan alasan tidak menikah, atau menolak lamaran pria baik-baik dan shaleh. Sebab orang shaleh yang hendak menjaga kehormatannya mendapatkan jaminan pertolongan dari Allah, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tiga orang yang berhak ditolong oleh Allah, (pertama) Mujahid fi Sabilillah, (kedua) Orang yang menikah dengan maksud menjaga kehormatan, dan (ketiga) mukatab (budak yang berusaha menebus dirinya pada tuannya)”. (terj. HR. Nasai).

Oleh karena itu Abu bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menafsirkan perintah Allah pada awal ayat 32 surat An-Nur ini dengan janji Allah pada bagian berikutnya.  “Taatilah Allah dengan melakukan perintah-Nya untuk menikah, niscaya Dia akan penuhi janji-Nya kepada kalian berupa kekayaan dan kecukupan”, kata Khalifah pertama ini sebagaimana dikutip oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya. Beliau juga mengutip perkataan Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Carilah kecukupan dan kekayaan  dengan menikah”.

Oleh sebab itu seorang Muslim seharusnya menyegerakan nikah ketika telah sampai pada fase hidup layak dan butuh nikah, dan tidak menjadikan kefakiran serta keterbatasan ekonomi sebagai alasan menunda nikah. Karena menikah dapat  mengundang pertolongan Allah berupa kekayaan dan kecukupan. Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya heran terhadap orang fakir yang tidak mencari kecukupan dengan menikah, padahal firman Allah Ta’ala, “Jika mereka miskin Allah akan mencukupi mereka”. [sym, Pakansari, 26/03/2017, 10.19]

Kiat Praktis  Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada Bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur'an Pada bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada bulan Ramadhan

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam.  Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Wahdahjakarta.com| Ramadhan adalan bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala– dalam surat Al-Baqarah ayat 185;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

 “Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185).

Oleh karena itu salah satu amalan yang dianjurkan  pada bulan Qur’an ini adalah membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Orang-orang shaleh terdahulu menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai amal yang paling mereka prioritaskan pada bulan Ramadhan setelah shiyam (puasa) dan qiyam (shalat tarawih). Mereka mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali. Ada yang khatam setiap tujuh hari , setiap lima hari, setiap tiga hari, bahkan setiap hari.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam. Sementara Al-Aswad setiap dua hari sekali mengkhatamkan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Hal ini (mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan) juga telah menjadi tradisi orang-orang shaleh sepanjang zaman, sampai hari ini.

Sepintas mengkhatamkan Al-Qur’an berkali kali merupakan sesuatu yang berat. Namun jika ada kemauan dan tekad yang kuat serta pengaturan jadwal dan manajemen waktu yang rapi hal itu bukan sesuatu yang berat. Misalnya jika ingin mengkatamkan tiga kali selama Ramadhan berarti setiap sepuluh hari. Untuk mencapai target tersebut, maka setiap hari membaca tiga juz. Untuk memudahkan dan terasa lebih ringan maka target diturunkan kepada setiap waktu shalat. Misalmnya setiap waktu shalat (sebelum dan setelahnya) membaca 6 lembar atau 12 halaman.

Berikut ini contoh sederhana pengaturan waktu setiap hari yang disertai rincian target setiap waktu shalat.

Untuk satu kali khatam

  1. Shalat Subuh 2 lembar
  2. Shalat Zhuhur 2 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 2 lembar
  4. Shalat Maghrib 2 lembar
  5. Shalat ‘Isya 2 lembar

Untuk dua kali khatam

  1. Shalat Subuh 4 lembar
  2. Shalat Zhuhur 4 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 4 lembar
  4. Shalat Maghrib 4 lembar
  5. Shalat ‘Isya 4 lembar

✔ Untuk tiga kali khatam 

  1. Shalat Subuh 6 lembar
  2. Shalat Zhuhur 6 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 6 lembar
  4. Shalat Maghrib 6 lembar
  5. Shalat ‘Isya 6 lembar

Selama mencoba, semoga meraih predikat sebagai Ahlul Qur’an.  [sym].

Meriahnya Wisuda Santri LP3Q Wahdah Islamiyah Gowa di Makassar

Wisuda Santri LP3Q Wahdah Islamiyah Gowa di Makassar

Wisuda Santri LP3Q Wahdah Islamiyah Gowa di Makassar

Makassar 29/04/2018 – Lembaga Pembinaan & Pengembangan Pendidikan al-Qur’an Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah Kabupaten Gowa telah sukses mewisuda 530 santri dari 50 TK-TPA binaannya se-kabupaten Gowa pada hari ke-13 bulan Sya’ban tahun 1439 H yang bertepatan dengan hari ahad terakhir di bulan April tahun ini.

Ratusan orang memadati gedung Addaraen Jl Sultan Alauddin kota Makassar dengan penuh antusias didukung cuaca yang begitu sangat cerah.

Wisuda Santri LP3Q DPD WI Gowa yang ke XV ini dihadiri oleh Bapak Dinas Sosial Kabupaten Gowa mewakili Bupati Gowa. Dalam sambutannya, Bapak H. Syamsuddin Bidol, S.Sos., M.Si membacakan sambutan tertulis dari bapak Bupati Gowa.

Pemerintah Kabupaten Gowa mengapresiasi kegiatan seperti ini karena sejalan dengan misi pemerintah kabupaten dan perlu untuk terus dikembangkan.

Tidak hanya sambutan tertulis dari bapak Bupati Gowa, turut hadir pula bapak Kepala KUA Kecamatan Sombaopu, Bapak H. Tajuddin, S.Ag., M.Ag, mewakili Kementerian Agama Kabupaten Gowa.

Dalam sambutannya, Bapak H. Tajuddin menasehatkan kepada para wisudawan agar tetap mengaji meski ijazah munaqasyah telah didapatkan, karena mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an tidak mengenal usia dan masa.

Sambutan hangat nan penuh bangga juga datang dari Ketua LP3Q Wahdah Islamiyah Pusat, Ustadz H. Komari, S.Pd.

Demikian pula sambutan dari Ketua DPD Wahdah Islamiyah Kabupaten Gowa, Ustadz Andi Tajuddin SM, yang penuh harap akan dukungan dari para Tamu dan Hadirin peserta Wisuda Santri untuk bersinergi dalam menyebarkan kebaikan diinul islam di Kabupaten Gowa.

Bapak Kepala Dinas Sosial, Bapak Kepala KUA Kecamatan Sombaopu, Bapak Ketua LP3Q DPP Wahdah Islamiyah dan ketua DPD Wahdah Islamiyah turut mewisuda para santri sebagai puncak acara ini.

Suasana Wisuda Santri Wahdah Islamiyah Gowa

Suasana Wisuda Santri Wahdah Islamiyah Gowa

Wisuda Santri LP3Q Wahdah Islamiyah Gowa

Wisuda Santri LP3Q Wahdah Islamiyah Gowa

Renungan Tentang Al-Qur’an

Renungan Tentang Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan rahmat terbesar dari Allah kepada manusia (Qs. Yunus:57-58). Dan manusia paling beruntung memperoleh rahmat Allah adalah mereka yang dimudahkan oleh Allah mempelajari, menghapal, mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur’an. Singkatnya semua kesibukan manusia yang berkaitan dengan Al-Qur’an merupakan rahmat Allah.

Dua  hari terakhir berseliweran di WhatsApp Group (WAG) sebuah tulisan singkat berbahasa Arab tentang Rahmat Allah berupa kemudahan dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an.

****

 

Salah satu rahmat terbesar adalah Allah mengajarkanmu Al-Qur’an. Allah berfirman:

الرَّحْمَن عَلَّمَ الْقُرْآنَ

“ Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah). Yang telah mengajarkan Al-Qur’an”. (QS. Ar Rahmaan: 1-2)

Anda tidak akan pernah dapat mempelajari Al-Qur’an kecuali dengan rahmat dari Allah Jalla Jalaluhu.

 وَمَا كُنْتَ تَرجُوْ أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ (إِﻻَّ رَحْمَةً) مِنْ رَبِّكَ

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu”. (QS. Al Qashash: 86)

Allah ‘Azza wa Jalla merahmati (menyayangi) seorang hamba lalu mengajarkannya Al-Qur’an;

 

Lalu mereka bertemu dengan) seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. (Terj. QS. Al Kahfi: 65)

Kau tidak akan diberikan taufik untuk kekuatan hafalanmu kecuali dengan rahmat dari Tuhanmu

وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِيْ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ ﻻَ تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيْلًا

Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terhadap Kami (QS. Al Israa’: 86)

(اِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ)

Kecuali karena rahmat dari Tuhanmu

اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَعَلِّمْنَا الْقُرْآنَ وَيَسِّرْهُ لَنَا يَارَحِيْمٌ

Ya Allah, kasihilah dan ajarkanlah kami Al-Qur’an serta mudahkanlah ia bagi kami wahai (Allah) Yang Maha Penyayang

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian sebagai para ahli Al-Qur’an dan orang istimewa-Nya.

[sym].

 

Hafalan Al-Qur’an Tingkatkan Kesehatan Mental

Hafalan Al-Qur’an Tingkatkan Kesehatan Mental

Sebuah kajian dan penelitian dilakukan. Temanya tentang tingkat kesehatan psikologis yang diperoleh seseorang dan kaitannya dengan tingkat hafalan al-Qurannya. Bagaimana hasilnya?

Ternyata menghafal al-Quran mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan tingkat kesehatan psikologi seseorang. Hal ini sangat kuat disimpulkan dari hasil kajian yang dilakukan DR. Shaleh Bin Ibrahim Ashani, seorang dosen di Universitas Imam Muhammad Ibn Saud Riyadh. Penelitian itu melibatkan dua kelompok, yakni kelompok siswa dan siwi Universitas Malik Abdul Aziz di Jeddah yang berjumlah 170 orang. Dan kelompok siwa-siswi Lembaga Kajian al-Quran Imam Syatibi yang berada di bawah koordinasi Organisasi Penghafal al-Quran di Jeddah yang muridnya juga berjumlah 170 orang.

Peneliti mengidentifikasi definisi kesehatan mental sebagai: Situasi kesesuaian psikologi seseorang melalui empat dimensi utama, yaitu dimensi religious atau spiritual, dimensi psikologis, sosial dan dimensi fisik. Peneliti menggunakan skala untuk mengukur kesehatan mental dari bahan kajian Solaiman Dawereay, yang terdiri dari 60 istilah tentang kesehatan mental sehingga menghasilkan koefisien stabilitas yang baik.

Study ini menemukan adanya hubungan positif antara tingginya tingkat hafalan al-Quran dan tingkat kesehatan mental. Siswa-siswi yang memiliki hafalan al-Quran lebih banyak ternyata memiliki tingkat kesehatan mental yang jauh lebih baik di banding selain mereka yang perbandingan yang sangat mencolok.

Ada lebih dari 70 studi yang dilakukan baik oleh kalangan Muslim maupun non Muslim, yang semuanya menekankan pentingnya agama dalam peningkatan tingkat stabilitas psikologis atau mental seseorang. Di Saudi Arabia juga pernah pernah dilakukan sejumlah penelitaian yang menghasilkan bahwa peran hafalan al-Quran sangat besar dalam pengembangan keterampilan siswa di sekolah dasar. Selain itu, dibuktikan juga dampak positif dari al-Quran pada prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa di universitas.

Hasil studi itu menyebutkan dengan jelas antara dimensi keagamaan siswa, utamanya hafalan al-Quran dan sejauh mana pengaruhnya dalam kesehatan mental mereka. selain itu, disebutkan juga tentang tingkat ketidakseimbangan mental siswa yang tidak disiplin dengan tuntunan agama, atau hanya memiliki hafalan yang minim terhadap al-Quran.

Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah agar para guru dan pendidik umumnya memperhatikan aspek hafalan al-Qur’an peserta didik. Ini disebabkan bukti bukti yang dihasilkan tentang adanya pengaruh positif yang sangat jelas bagi anak didik secara prestasi maupun kehidupan sosial mereka. Juga dikarenakan hafalan al-Quran menjadi sebab paling penting bagi stabilitas mental. Bahkan karena pengaruh positif yang terjadi dalam diri siswa oleh hafalan al-Qurannya, studi ini juga menghimbau para guru dan pendidik untuk meningkatkan hafalan anak didik melebihi target kurikulum yang ditetapkan pihak sekolah atau lebaga pendidikan.

Begitulah seseorang yang menghafal al-Quran karim sebagai kitabullah dan senantiasa mendengar bacaan ayat-ayat al-Quran, akan mengalami perubahan besar dalam kehidupannya. Hafalan al-Qur’an juga memiliki pengaruh terhdap kesehatan fisik, karena dalam sejumlah eksprimen disebutkan bahwa hafalan al-Quran mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia dan membantunya agar lebih telindung dari penyakit.

Beberapa manfaat menghafal al-Quran yang dihasilkan, baik oleh penelitian maupun pengalaman, yaitu:

  1. Pikiran akan terang
  2. Daya ingat yang semakin kuat
  3. Memiliki ketenangan dan stabilitas psikologis
  4. Memunculkan rasa gembira dan senang yang tak bisa dilukiskan.
  5. Menghilangkan rasa takut, cemas dan sedih.
  6.  Meningkatnya kemampuan berbahasa, khususnya bahasa Arab.
  7. Memiliki kemampuan hubungan sosial yang baik dan mudah menarik kepercayaan orang lain.
  8. Terhindar dari penyakit kronis yang umum dialami orang
  9. Lebih meningkatkan kemampuan memahami dan menguasai persoalan.
  10. Mempunyai mental yang lebih tenang dan stabil.

Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sebenarnya al-Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

Tulisan ini merupakan penjabaran keuntungan yang diperoleh di dunia. Sedangkan di akhirat akan ada keuntungan yang lebih banyak dan luar biasa yakni bertemu dengan Allah. Mendapatkan ridho-Nya dan dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat. (Sumber: Majalah Tarbawi) [sym].

Jangan Sok Tahu

Jangan sok tahu

Jadi Orang Jangan Sok Tahu , Sumber : http://www.wahdahmakassar.co.id

Jangan sok tahu , jangan mengatakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Karena semua yang terucap dan diperbuat akan dimintai pertanggung jawaban.

Allah Ta’ala berfirman;

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa`: 36).


Janganlah kamu katakan; ‘saya lihat’ padahal kamu tidak lihat, ‘saya dengar’ padahal kamu tidak dengar, ‘saya tahu’ padahal kamu tidak tahu, karena Allah akan menanyaimu tentang semua itu”, (Qatadah bin Di’amah As-Sadusi dalam Tafsir   Ibn Katsir (Tafsir Al-Qu’an al-‘Adziem)).

Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, tetapi pastikanlah kebenaran apa yang kamu katakan dan lakukan”. (Syekh As-Sa’di).

Jangan malu mengatakan ‘saya tidak tahu’ jika memang tidak tahu, karena itu lebih selamat daripada mengatakan sesuatu yang kita tidak punya ilmu dan pengetahuan tentangnya”. (Al-Faqir IlaLlah).

Mulia dengan Al-Qur’an (Bagian 3 dari Tiga Tulisan)

Mulia dengan Al-Qur’an

Bagi yang menghendaki kemuliaan hendaknya mengambil bagian dari Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari dan atau mengajarkannya. Jadikan belajar dan mengajar Al-Quran sebagai agenda hidup sepanjang hayat. Luangkan waktu mninimal satu dua jam sepekan untuk ngaji qur’an. Tingkatkan kemampuan membaca Alquran! dan teruslah bertumbuh secara ilmiah dan ruhiah bersama Alquran

 

***

Al-Quran merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 75-77;

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan bahwa Alquran adalah kitab suci dan mulia yang diturunkan dari Rasbb[ul] ‘alamin, Tuhan semesta alam. Dalam ayat ini juga Allah menyifati Alquran sebagai al-karim; bacaan yang mulia. Menurut Ibnu Jauzi bahwa,” al-karim adalah kata (maknanya) menyeluruh untuk segala sesuatu yang terpuji. Alquran disebut dengan sifat al-karim karena mengandung penjelasan, petunjuk, dan hikmah. Alquran diagungkan disisi Allah”. (Zadul Masir,VIII/151).

Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan tentang kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian tempat dan waktu diturunkan serta kemuliaan Al-Qur’an dari sisi diturunkan kepada Nabi terbaik dan ummat terbaik pula. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan uaraian kemuliaan Al-Qur’an dari kemuliaan Malaikat yang membawanya keuliaan manusia yang mengembanya.  Selamat membaca.

6. Al-Qur’an Dibawa Oleh Malaikat Termulia

Malaikat yang menjadi pembawa wahyu Al Qur’an adalah Malaikat Jibril yang merupakan sebaik-baik malaikat dan terpercaya. Sbagaimana dijlaskan dalam surat At-Takwir ayat 19;

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ﴿١٩

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)’’. (Qs. At-Takwir:19).

Allah juga memuji malaikat Jibril yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyifatinya sebagai Malaikat terpercaya untuk menurunkan wahyu Ilahi. Sebagaimana dalam beberapa ayat diantaranya;

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ﴿١٠٢

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“. (Qs. An-Nahl:102)

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢﴾ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ﴿١٩٣﴾ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ ﴿١٩٤

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (Qs. Asy-Syu’ara:192-194).

7. Al-Qur’an  Diturunkan Pada Generasi Terbaik

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang padanya Al Qur’an turun (Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).  Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, dan kemudian yang setelahnya.” (HR. Muslim).

8. Manusia Terbaik adalah yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR. Al Bukhari).

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (43) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az-Zukhruf : 43-44)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata;

أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Bahwa Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an, dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an. (HR. Muslim).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

أن جماع أمراض القلب هي أمراض الشبهات والشهوات والقرآن شفاء للنوعين

 “Unsur penyakit hati terkumpul pada dua hal, yaitu syubhat dan syahwat. Dan keduanya diobati dengan Al Qur’an.” (Ighatsatul Lahafan, Juz.1/44).

Dalilnya bisa dilihat di QS. Yunus: 57, Al Isra’: 82;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Yunus:57).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا ﴿٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian’’. (Qs. Al-Isra:82)

Anda Juga Ingin MULIA ?

Bagi yang menghendaki kemuliaan hendaknya mengambil bagian dari Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari dan atau mengajarkannya. Jadikan belajar dan mengajar Al-Quran sebagai agenda hidup sepanjang hayat. Luangkan waktu mninimal satu dua jam sepekan untuk ngaji qur’an. Tingkatkan kemampuan membaca Alquran! dan teruslah bertumbuh secara ilmiah dan ruhiah bersama Alquran. [sym].

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. (Syaikh Al-Barrak).

Generasi awal umat Islam sebenarnya adalah orang-orang yang sangat penakut. Saking penakutnya bahkan ada yang mengambil setan dan jin sebagai temannya. Lalu setelah mereka membaca Al-Qur’an. Maka mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dari yang penakut mereka menjadi pemberani. Dari titik nadir mereka menjadi pahlawan.

Generasi awal umat ini ketika belum mempelajari Al-Quran, mereka semua kotor, jorok dan sangat jauh dari kebersihan, bahkan ada yang memakan bangkai. Maka Al-Qur’an mengajarkan kepada mereka mana yang bisa dikonsumsi mana yang tidak bisa dikonsumsi. Al-Quran mengajarkan kepada mereka bagaimana bersuci dan membuat manusia menjadi lebih beradab dan hidup lebih layak.

Islam dan Al-Quran mengajarkan kebersihan. Lihatlah bagaimana Islam mengajarkan manusia mencuci wajah tangan dan kakinya dengan berwudhu. Perumpamaan sholat yang lima waktu itu diibaratkan seperti orang yang di depan rumahnya terdapat sungai yang mengalir. Apakah menurut kalian mungkin, bahwa orang yang ada sungai di depan rumah nya tersebut itu kotor? Jawabannya tidak mungkin.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu. Dan Al-Qur’an itu lengkap. Ketika seseorang lahir sampai dia meninggal semuanya diatur di dalam Al-Qur’an. Apa saja petunjuk tentang kehidupan dan apa yang harus dilakukan dalam hidup semua lengkap aturannya dalam Al-Qur’an. Karena itu setiap bayi yang lahir ke dunia, dikumandangkan adzan baginya, dan demikian juga halnya ketika manusia mati. Semua ada aturannya dalam Al-Qu’ran.

Al-Qur’an ada banyak ilmu-ilmu di dalamnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala melarang riba, semua itu untuk kebaikan manusia sendiri. Al-Qur’an menjelaskan semuanya yang dibutuhkan manusia. Dari mulai bagaimana cara ia mendapatkan harta, bagaimana ia harus mempergunakannya, bagaimana ia harus mengelolanya dan bagaimana ia harus menginfakkannya, semua jelas diatur di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia. Bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Dunia hanyalah jembatan untuk menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat untuk beribadah. Dunia hanyalah tempat untuk menyembah Allah subhanhu wa ta’ala. Bukan untuk bermewah-mewahan bukan untuk bersenang-senang bukan untuk bermain-main. Sesungguhnya tempat kembali kita adalah akhirat. Di sanalah kita hidup kekal dan abadi.

Al-Qur’an mengatur segala sesuatunya tentang kehidupan manusia. Yang besar yang kecil, yang tua yang muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak kecil pun sudah diatur dalam Al-Qur’an. Juga mengatur bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat. Juga mengatur hak para Nabi dan Rasul.

Bagaimana dengan wanita? Dalam Al-Qur’an wanita juga punya hak. Dan Al-Qur’an menjelaskan tentang hak-haknya. Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan kepada wanita untuk berhijab. Wanita harus berpakaian yang syar’i, sehingga identitas nya dapat dikenal. Wanita dalam Al-Qur’an adalah seorang putri yang suci yang terjaga dan dilindungi. Padahal jauh sebelum adanya Al-Qur’an wanita sangat dihinakan.

Al-Qur’an telah menjadikan generasi awal dari umatnya menjadi pahlawan-pahlawan besar. Al-Qur’an menjadi an manusia dari titik nol menjadi pahlawan besar. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan tentang orang-orang yang cacat, orang-orang yang buta. Dan ini tidak ada disebutkan dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebutkan segala sesuatunya. Pertanian bahkan perindustrian. Contohnya tentang buah zaitun. Maka Al-Qur’an mengajak manusia untuk aktif dan beraktifitas. Untuk tidak malas. Dan mau bekerja keras. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk malas.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu bahkan dalam bidang kesehatan. Contohnya perintah untuk makan dengan tidak berlebih-lebihan. Ini menyangkut dengan ilmu kesehatan, bahwa segala sesuatu yang berlebih2an tidak baik bagi tubuh manusia.

Al-Qur’an juga mengajarkan ilmu falak(astronomi) tentang gugusan bintang, langit dan bumi. Allah mendirikan langit tanpa penyanggah tanpa tiang. Seumpamanya orang yang membuat bangunan, tidak pernah ada yang bisa mendirikannya tanpa tiang. Ini lah bukti kebesaran Nya bukti ke Esaan-Nya.

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. Semoga kita semua yang ada disini bisa mempelajari dan mengambil kebaikan darinya. Amin. [Ringkasan kajian dengan tema “From zero to hero with Al-Qur’an” bersama Syeikh Prof. DR. Muhammad Sholih Al Barack Hafidhahullah (Guru Besar Tafsir Al Quran di KSA), Rabu, 17 Januari 2018].