Harta Tak Dibawa Mati

Harta Tak Dibawa Mati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Qs. Luqman:33)

Tafsir dan Penjelasan

Allah Subahanu wa ta’ala memperingatkan manusia terhadap hari berbangkit dan memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan khawatir menghadapi hari kiamat, karena pada hari itu:

{لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ}

seorang bapak tidak dapat menolong anaknya. (Luqman: 33)

Yakni seandainya seorang bapak hendak menebus anaknya dengan dirinya, pastilah permintaan tebusannya itu ditolak. Demikian pula halnya seandainya seorang anak bermaksud menebus bapaknya dengan dirinya, tidak diterima pula.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menasihati mereka melalui firman-Nya:

{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا}

maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Luqman: 33)

Maksudnya, jangan sekali-kali membuat dirimu terlena kerena hidup tenang di dunia hingga melupakan negeri akhirat.

{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}

dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Luqman: 33)

Jangan pula kamu biarkan setan memperdayakanmu. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah; karena sesungguhnya setan itu selalu memperdayakan manusia, menjanjikan dan memberikan angan-angan kepadanya. Padahal tiada sesuatu pun dari apa yang dijanjikan setan itu terpenuhi, bahkan sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

{يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 120)

Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan bahwa Uzair alaihis salam pernah berkata, “Ketika aku menyaksikan musibah yang menimpa kaumku, maka kesedihanku makin berat, kesusahanku bertambah banyak, dan tidak dapat tidur. Maka aku memohon kepada Tuhanku dengan merendahkan diri kepada-Nya, mengerjakan salat dan puasa, dan selama kujalani hal itu tiada henti-hentinya aku menangis. Tiba-tiba datanglah malaikat kepadaku, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apakah arwah orang-orang yang siddiqin (beriman) dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada arwah orang-orang yang zalim, atau para bapak dapatkah memberi syafaat kepada anak-anak mereka?’ Malaikat itu menjawab,

‘Sesungguhnya hari kiamat adalah hari keputusan peradilan dan kekuasaan yang maha menang, tiada kemurahan padanya dan tiada seorang pun yang dapat berbicara kecuali dengan seizin Tuhan Yang Maha Pemurah. Seorang bapak tidak dapat dihukum karena dosa anaknya, begitu pula seorang anak tidak dapat dihukum karena dosa orang tuanya, dan seseorang tidak dapat dihukum karena dosa yang dilakukan saudaranya, dan seorang budak tidak dapat dihukum karena dosa majikannya. Tiada seorang pun yang diperhatikannya melainkan hanya dirinya sendiri, tiada seorang pun yang bersedih hati karena kesedihan orang lain, dan tiada seorang pun yang merasa kasihan kepada orang lain. Masing-masing orang di hari kiamat hanya kasihan kepada dirinya sendiri. Tiada seseorang pun yang dihukum karena kesalahan orang lain; setiap orang disibukkan oleh kesusahannya sendiri, menangis karena kesalahannya sendiri, dan ia hanya memikul dosanya sendiri, dan tidak dibebankan kepada seseorang dosa orang lain, ia hanya menanggung dosanya sendiri’.” Riwayat Ibnu Abu Hatim.

(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir)

Buka Pelatihan Pengelolaan Rumah Tahfizh Sesulsel, Ini Harapan Sudirman Sulaiman

Pelatihan Pengelolaan Rumah tahfizh se-Sulsel digelar di Golden Hotel Makassar, Selasa (27/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Biro Kesejahteraan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (sulsel)  menggelar Pelatihan Pengelolaan Rumah Tahfizh se-Sulawesi Selatan di Golden Hotel Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/11/2018).

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Sudirman Sulaiman yang membuka acara pelatihan menaruh harapan besar, dengan program satu desa satu rumah tahfizh, para penghafal bisa mentransformasi pemahaman fundamental keislaman umat yang kebanyakan berislam karena keturunan.

“Agama Islam diturunkan dengan sempurna, di sana ada standar aturan yang harus diimplementasikan, beragama harus sesuai sop (tuntunan), sehingga masyarakat harus dibuat cerdas beragama,” tuturnya.

Wagub juga berharap program satu desa satu rumah tahfizh dapat men-counter sejak dini proses pencucian otak anak melalui tayangan televisi dan tontonan online yang begitu masif yang menurutnya sangat berbahaya.

“Pikiran anak yang sudah tercuci oleh tayangan dan tontonan yang tidak bagus, seperti komputer yang sudah terinstal, susah nanti merubahnya karena sudah terprogram dengan perintah yang tidak bagus,” tegasnya.

Di hadapan peserta pelatihan, suami dari Naoemi Octarina ini bercerita pengalaman pertama pindah dari Jakarta ke Makassar.

“Anak pertama saya sejak usia 3 bulan dalam kandungan sering diputarkan murattal surah-surah pilihan, pada saat masuk usia sekolah Alhamdulillah mulai menghafal di sekolah Islam, sekolahnya di Jakarta tidak pernah diajarkan nyanyian.

Pada saat pindah ke Makassar, di sekolah barunya disuruh bernyanyi, karena tidak biasa bernyanyi, anak saya meminta kepada gurunya agar disuruh menghafal saja.

“Sampai di rumah anak saya protes: Abi, saya kasih waktu 2 hari kalau di sekolah masih disuruh menyanyi, saya mau kembali ke Jakarta saja,” ceritanya disambut tawa oleh pimpinan pondok dan rumah tahfizh yang menjadi peserta pelatihan.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Sudirman Sulaiman mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama serius berupaya memperbaiki keadaan. Sehingga, pada akhirnya lahirlah generasi-generasi yang memiliki prinsip. Menurutnya, banyak orang yang pintar tetapi semakin cerdas mengakal-akali keadaan.

“Mohon saya dibantu dan didoakan, karena saya Sudirman bukan superman. Saya mungkin hanya bisa memperbaiki satu, mudah-mudahan dari generasi penghafal Al-Qur’an akan lahir pemimpin yang lebih baik yang bisa memperbaiki keadaan bangsa dan negara kita,” tutupnya dengan suara yang hampir tak terdengar menahan haru, sambil menyeka air mata. (Irfan/Sym).

Sumber: Hidayatullah.com

Lima Kiat Agar Iman Selalu Fit, Jangan Remehkan Kiat Ke-3

Iman adalah sumber kekuatan seorang Muslim. Kalau iman kuat maka seorang Muslim akan kuat. Sebaliknya jika iman lemah maka ia pun akan lemah. Karena itu merawat iman adalah agenda harian seorang Muslim. Seorang Muslim tidak melewatkan hari-harinya kecuali di sana ada aktifitas merawat iman.

Pembaca budiman,

Berikut ini beberapa kiat bagaimana agar iman kita selalu fit

Pertama, Selalu Menyimak al-Qur’an

Al-Qur’an adalah penerang kegelapan bahkan obat bagi semua penyakit. Dengan menyimak bacaannya iman akan kuat dan selalu dalam keadaan fit. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau menyimak al-Qur’an dan membacanya berulang kali, tatkala beliau sedang shalat malam. Sehingga pada suatu malam ketika shalat, beliau pernah mengulang-ulang satu ayat saja, dan tidak beralih dari ayat tersebut sampai masuk waktu fajar. Yaitu firman Allah:

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi maha Bijaksana”.  (terj. Qs. Al-Maidah: 188)

Para shahabat beliau juga seperti itu. Mereka membaca, menyimak dan merenungkan bacaan al-Qur’an sampai mereka menangis tersedu-sedu. Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam kitab tafsirnya, bahwa Abu Bakar as-Shiddiq adalah orang yang lembut, belas kasih dan hatinya mudah tersentuh jika mengimami jamaah shalat. Bisa dipastikan khalifah Rasulullah ini menangis bila ia berdiri menjadi imam. Begitu pula Umar bin Khatthab. Bahkan shahabat yang bergelar al-Faruq ini pernah sakit beberapa waktu lamanya karena firman Allah, “Sesungguhnya adzab Rabbmu pasti terjadi, tak seorang pun yang dapat menolaknya” .

Kedua, Merenungkan Keagungan Allah ‘Azza waJalla

Banyak ayat dalam al-Qur’an begitu juga hadits-hadit Rasululah tentang keagungan Allah. Jika seorang muslim memperhatikan nas-nas tersebut, maka tentu hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk dan khusyu’ pada Dzat yang Maha Agung.

Ketika Nabi Musa meminta pada Allah agar ia bisa melihatNya. Ia berkata kepada Musa melalui firmanNya:

Kamu sekali-kali tidak akan bisa melihatku, tapi lihatlah gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya maka kamu dapat melihatku. Tatkala Allah menampakkan dirinya pada gunung tersebut maka hancurlah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan.” (Terj. Qs. Al-A’raf: 143)

Saat menafsirkan hadits ini Rasulullah bersabda, sambil memberi isyarat dengan tangan beliau dan berkata, “Seperti ini” sambil meletakkan ujung ibu jarinya pada sendi jari kelingkingnya yang atas lalu beliau berkata, “lalu gunung itu pun tenggelam”. Maksudnya, gunung itu tidak tampak lagi kecuali seukuran yang diisyaratkan oleh beliau.

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya lalu berfirman, Aku adalah raja, mana raja-raja bumi ” (HR. Bukhari).

Nash-nash Al-Qur’an dan hadits tentang masalah ini sangat banyak. Tujuannya membangkitkan perasaaan agung akan kekuasaan Allah dan dengan itu hati menjadi lembut. Jika hati lembut maka ia mudah menerima hidayah dari Allah. Dengan itu pula ia peka dengan berbagaio kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu ia bersemangat melakukan ketaatan dan sedih dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan.

Ketiga, Mempelajar Ilmu Syar’i

Kiat yang tidak kalah pentingnya adalah ngaji, atau belajar ilmu Agama atau Ilmu Syar’i. Ilmu syar’i diinginkan di sini adalah ilmu yang membangkitkan rasa takut pada Allah dan menambah bobot iman sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu” (Qs. Faathir: 28).

Dalam kaitannya dengan iman ini, orang yang mengetahui tidak bisa disamakan dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana mungkin orang yang mengetahui perkara-perkara syari’at, makna syahadat disamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahuinya? Bagaimana mungkin menyamakan orang yang mengetahui kejadian sesudah mati, alam barzakh, padang mahsyar, siksa neraka, nikmat surga, hikmah di balik syari’at, hal-hal yang halal dan haram, dipersamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahui semua itu?

Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs.az-Zumar: 9).

Dengan demikian jelas ilmu syar’i di antara hal yang dapat menambah dan menguatkan iman. Betapa tidak dengan inilah  seorang Muslim diantar mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan. Dari sinilah lahir rasa takut, harap dan cinta pada Allah.

Keempat, Menggiatkan Berbagai Bentuk Ibadah

Di antara rahmat Allah pada kita semua adalah Dia mensyari’atkan pada kita berbagai macam ibadah. Di antaranya ada ibadah fisik seperti shalat, ada ibadah lisan seperti dzikirdan do’a, apa ibadah hati seperti tawakkal, redha, khauf, dan raja’ bahkan ada ibadah yang memadukan ketiga-tiganya seperti ibadah haji. Ditinjau dari sifatnya ada ibadah yang wajib, sunnah dan anjuran. Yang wajib pun dibagi lagi dalam beberapa jenis; wajib kifayah dan wajib ’aini.

Begitupun yang sunnah. Shalat misalnya, ada yang rawatib sebanyak dua belas rakaat sebelum dan sesudah shalat fardhu. Ada yang lebih sedikit bobotnya seperti empat rakaat sebelum Ashar dan dua rakaat sebelum shubuh. Ada juga shalat yang lebih tinggi bobotnya dari itu yaitu shalat lail. Dari ragam pelaksanaannya, ada yang dikerjakan dengan dua-dua rakaat atau empat-empat rakaat setelah itu ditutup dengan witir; satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat dengan satu tasyahud.

Dengan begitu, setiap orang bisa melihat kondisinya. Jika kondisi iman lagi fit maka ia bisa mengerjakan banyak macam ibadah beserta berbagai ragam pelaksanaannya. Jika ia merasa dirinya lagi futur (letih dan tidak semangat) maka ia bisa memilih jenis ibadah yang ringan. Ini semua ada hikmah Allah di balik semua itu agar kita senantiasa dalam kondisi ibadah dan ibadah itu sesederhana bagaimana pun pasti akan memberi pengaruh pada iman.

Kelima, Banyak Mengingat Mati

Kematian adalah pintu perpindahan alam yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Setiap kita tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan nasibnya di alam yang baru itu. Di sana ada huru hara, ada fitnah, ada pertanyaan yang dihadapkan kepada setiap kita. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda, ”Perbanyaklah mengingat penghalau kelezatan, yaitu kematian”.(HSR. Tirmidzi)

Mengingat mati bisa mendorong seseorang menghindari berbagai kedurhakaan. Tidaklah seseorang mengingat mati melainkan akan membuat hatinya semakin lapang. Begitu pula dengan mengingat mati hati seseorang akan menjadi lembut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan kita untuk berziarah kuburan setelah sebelumnya beliau melarangnya. Beliau bersabada,

 ”Dulu saya melarang kalian ziarah kuburan, adapun sekarang ziarahilah karena itu bisa melembutkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan akhirat… ”(HR. Hakim).

Dalam ziarah kubur, seorang muslim hendaknya menghadirkan kesadaran, mengambil pejajaran dari orang yang telah terbujur kaku dalam liang lahad itu. Hendaknya ia mengamati keadaan si mayit yang telah meninggalkan teman-teman sejawatnya, keluarganya tercinta, harta benda yang ditumpuknya. Saat ini teman sejawat dan kelaurga tercinta tak satu pun yang dapat menolongnya. Harta yang banyak tidak berguna lagi, bahkan mungkin menjadi rebutan ahli waris. Tidak ada yang bisa menyelamatkan simayit kecuali dirinya sendiri.

Begitulah seterusnya, semua perenungan itu akan membawa seorang muslim pada tiga faidah; penyegaran taubat, kelembutan hati, dan semangat menjalankan ibadah.sedangkan mereka yang melupakan kematian ia akan menunda-nunda taubat, tidak pernah puas dengan dunia, dan malas ibadah.

Masih banyak lagi sarana yang bisa menambah kekuatan iman kita, namun lima hal ini mendesak untuk dilakukan. Semuanya agar iman agar iman selalu fit. Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber: wahdah.or.id

Kegiatan Dauroh Wahdah Jaktim Berjalan Lancar

(Jakarta) wahahjakarta. com—Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Jakarta Timur (Jaktim) berkerjasama dengan DKM Masjid Raya Universitas Borobudur mengadakan Daurah dengan tema ” Hati yang Dekat dengan Al Qur’an” di ruangan utama Masjid Raya Univ.Borobudur. Kegiatan yang mengusung konsep Mabit ini disponsori oleh LAZIS Wahdah berlangsung selama sehari semalam, Sabtu-Ahad (24-25/11/2018).

Ustadz Suharpin selaku panitia kegiatan ini mengaku bersyukur dengan terlaksananya kegiatan ini dengan lancar. “Alhamdulillah…berjalan dengan baik dan tertib”, tuturnya.

Pemateri yang mengisi kajian dalam kegiatan dauroh ini diisi oleh Azatidz DPD WI Jaktim di antaranya Ust.Fakhrizal Idris, Lc.M.A, Ust.Sarmin, SH, dan Ust.Suharpin. Ketiga pemateri tersebut saling bergantian menyampaikan materi dan nasehat-nasehat kepada peserta dauroh.

Peserta dauroh berjumlah 15 orang (ikhwan) berasal dari kalangan mahasiswa dan karyawan. Semua peserta mengaku terkesan dengan kegiatan ini karena jarang sekali ada ya ng mengadakan kegiatan Mabit ini di zaman ini.

“Kegiatan bermalam seperti ini dengan tema Al Qur’an sangatlah bagus dan bermanfaat buat kita, yang mana kegiatan-kegiatan seperti ini sangatlah jarang didapatkan apalagi setelah kegiatan ini akan ada followupnya. Jadi saya berharap semoga kita dimudahkan dalam belajar dan menuntut ilmu, tidak perlu malu duduk bersama teman-teman yang mungkin usianya lebih junior dari kita”, ucap salah seorang peserta dauroh, Ace Malik Ibrahim. (rsp).
————-

Dukung Dakwah Qur’an Untuk Palu dan Indonesia dengan menyalurkan donasi melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

🎁 Donasi 1000 Qur`an Palu & Indonesia : Mulai Rp.110.000,- (Paket Bersama Pendidikan dan Pembinaan).
Berlaku sampai dengan 11 Desember 2018

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#1000QuranForPalu
#1000QuranForIndonesia
#pedulinegeri
#melayanidanmemberdayakan

Torquato Cardili, Peroleh Hidayah Setelah Kaji Al-Qur’an

Torquato cardili

Salah satu di antara nama Al-Qur’an adalah al-Huda yang berarti “petunjuk”. Bagi Torquato Cardilli, nama tersebut menjadi bukti nyata atas hidayah Islam yang diperolehnya, dua dekade yang silam.

“Saya benar-benar meyakini kebenaran Islam setelah membaca Al-Quran secara rutin,” ungkap mantan duta besar Italia untuk Arab Saudi itu, seperti dikutip laman I Found Islam.

Cardilli lahir di Provinsi L’Aquila, Italia, pada 24 November 1942. Pria yang fasih berbahasa Arab itu merupakan lulusan Universitas Naples di bidang linguistik dan kebudayaan timur.

Dia mengawali kariernya di Kementerian Luar Negeri Italia pada 1967. Selanjutnya, ditugaskan sebagai diplomat Italia untuk Sudan, Suriah, Irak, Libya, Albania, dan Tanzania.

Seperti mayoritas penduduk di negeri asalnya, Cardilli lahir dan dibesarkan sebagai pemeluk Katolik. Agama itu terus ia anut hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Namun, pada 15 November 2001 atau hanya berselang beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-59, Cardilli mengungkapkan keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai dubes Italia untuk Arab Saudi.

Cardilli secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melakukan penelitian tentang Islam selama bertahun-tahun. Yang lebih menarik lagi, keputusan itu ia buat bertepatan dengan malam 1 Ramadhan 1422 H. “Saya merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kaum Muslimin,” ucapnya.

Bisa dikatakan, keputusan Cardilli tersebut muncul pada waktu yang sensitif. Pasalnya, dua bulan sebelum itu, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menyebut peradaban Kristen Barat lebih unggul dari Islam.

Pernyataan semacam itu jelas-jelas menyakiti hati kaum Muslimin. Namun demikian, kabar beralihnya keyakinan Cardilli dari Katolik ke Islam ketika itu justru menjadi ‘tamparan’ bagi Berlusconi dan dunia Barat.

Dalam sebuah wawancara dengan Saudi Gazette, Cardilli mengatakan tujuan awalnya mempelajari bahasa Arab–ketika masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Naples–adalah supaya bisa bekerja di bisnis perminyakan Arab.

Namun, takdir malah mengantarkannya menjadi diplomat. Dan, tanpa disangka-sangka ilmu yang dipelajarinya di kampus dulu justru sangat membantunya dalam memahami Alquran dan ajaran Islam.

Cardilli mengaku, merasakan kesucian dan keagungan Alquran yang kerap dibacanya ketika masih memeluk agama Katolik. “Setelah membaca Alquran berkali-kali, saya menyadari bahwa Islam adalah agama yang benar dan lurus. Alquran sangat menakjubkan dan tak ada yang mampu meragukannya,” ungkap bapak dua anak itu lagi.

Sebelum menjadi Muslim, Cardilli diketahui kerap mengikuti kelas-kelas kajian Islam yang diselenggarakan oleh The Batha Center, sebuah lembaga yang berfokus pada program pembinaan calon mualaf. “Dia (Cardilli) sering mengikuti kelas kajian Alquran dan studi mengenai kebudayaan Islam,” ujar Direktur The Batha Center, Nouh bin Nasser, kepada kantor berita Prancis, AFP.  (Sumber: Republika.co.id)

Ustadz Taufan Djafri: Al-Qur’an Inspirator Peradaban

Ustadz Muhammad Taufan Djafri pada seminar “Al-Qur’an Menjawab, Sains Membuktikan”, di Makassar, Ahasd (25/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Al-Qur’an adalah inspirasi dalam melahirkan peradaban. Demikian dikatakan Ketua Departemen Kaderisasi Dewan Pimpinan Wahda Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Taufan Djafri saat berbicara sebagi nara sumber Seminar Al-Qur’an, “Al-Qur’an Menjawab, Sains Membuktikan” Kampus Politeknik ATI Makassar, Ahad (25/11)

Setiap peradaban memiliki bekal dalam perjalanannya dan peradaban Islam memiliki bekal terbaik yakni yakni Al-Qur’an. Peradaban Islam telah ada di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

“Peradaban yang lahir di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Tabi’in dan Asbaut Tabi’in. Peradaban Al-Qur’an dan Sunnah adalah landasan utamanya adalah aqidah”. Ungkapnya

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makassar (STIBA Makassar) ini melanjutkan bahwa Manusia, Islam dan Al-Qur’an adalah inspirator peradaban itu ada.

“Al-Qur’an adalah inspirator dan motivator dalam melahirkan peradaban, tidak ada peradaban jika tidak ada manusia. Peradaban adalah hasil karya menusia berdasarkan hasil pemikirannya. Islam dan Al-Qur’an ada maka akan melahirkan peradaban”. Ucapnya dengan suara lantang

Peradaban Al-Qur’an akan merubah kehidupan manusia ketika telah masuk ke dalam hatinya dan manusia menyerahkan hidupnya untuk di atur oleh Al-Quran sebagai nafas peradaban.

“Hati ini adalah pemimpin peradaban dalam diri manusia terhadap akal dan pemikiran. Jika hati manusia rusak maka rusaklah manusia, jika manusia rusak maka rusaklah peradaban”. Ujarnya

Dai’ Wahdah Islamiyah ini juga  mengajak untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Islam, memperkuat ruhiyah.

“Manusia hidup dengan dua ruh, pertama ruh risalah, kedua ruh badan atau jasad. Jika manusia hanya hidup dengan ruh jasad maka peradaban itu tidak akan di raih. Nanti akan di capai jika Allah meniupkan kepadanya ruh risalah. Mari kembali kepada Al-Qur’an dan Islam. Ruh Iman, ruh risalah dan ruh Al-Qur’an peradaban penuh ada, akhlak dan moral”. Pungkasnya. (Muhammad Akbar/Sym).

STEI Tazkia Gelar Wisuda ke-14, Wisudawan Terbaik Hafidz Al-Qur’an

(Bogor) wahdahjakarta.com – Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI Tazkia) melaksanakan Wisuda ke-14. Wisuda untuk jenjang Diploma, Sarjana dan Pascasarjana ini digelar di gedung kampus Tazkia Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (21//11/2018).

Jumlah wisudawan sebanyak 325 orang, 138 orang dari Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, 89 orang Akuntansi Syariah, 29 orang Ekonomi Syariah, 18 orang Hukum Ekonomi Syariah, 16 orang Program Diploma sebanyak dan 44 orang dari Program Pascasarjana Ekonomi.

Tema wisuda kali ini adalah Islamic Economic for Indonesia: “Towards a Prosperous and Civilized Sociaty”.

Pembantu Ketua I Bidang Akademik Andang Heryahya berharap para wisudawan mampu berkontribusi yang terbaik untuk agama bangsa dan negara.

“Kami ingin memberikan konstribusi terbaik terhadap cita cita kemerdekaan Republik Indonesia dalam wewujudkan kecerdasan bangsa, keadilan dan kesejahteraan sosial. InsyaAllah ekonomi syariah salah satu bagian penting dalam wujudkannya,” ujarnya.

Andang mengungkapkan, pada wisuda kali ini semua civitas akademika bersyukur, bangga dan bangga dari 325 wisudawan telah meluluskan 24 wisudawan hafidz Al-Qur’an  30 Juz, 25, 10 dan 5 juz. “Dan, yang membuat terharu adalah sosok mahasiswa terbaik kami hapal 30 Juz,” begitu kata Pembantu Ketua I Bidang Akademik itu. (suaraislam.com)

SDIT Wihdatul Ummah Makassar Raih Juara Olimpiade Al-Qur’an Sesulawesi Selatan

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wihdatul Ummah Makassar yang dikelola oleh Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) kembali menorehkan prestasi membanggakan.

Dua murid sekolah yang berlokasi di Jl. Abdullah Dg. Sirua Kelurahan Masale Kecamatan Panakkukang Kota Makassar berhasil meraih juara pada even Olimpiade Al Qur’an II Se-Sulawesi Selatan yang diadakan oleh Sekolah Islam Al Fityan School Gowa.

Lomba ini diadakan mulai tanggal 16-17 November 2018 dan diikuti oleh siswa-siswa dari 112 sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/MA.

SDIT Wihdatul Ummah yang dinahkodai Ustadz Muhamad Arif Malik, S.Ag mengirimkan 9 orang murid dan mengikuti 3 kategori lomba yaitu Musabaqah Tartil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifdzhil Qur’an (MHQ) dan Cerdas Cermat Qur’an (CCQ).

SDIT Wihdatul Ummah meraih 2 gelar; Fadhlan Uwais, murid kelas 3 A3 meraih juara I MHQ juz 30 dan Syaimah binti Rahmat Abdul Rahman, murid kelas 5B1 meraih juara harapan 2 MHQ juz 29 dan 30.

Menurut guru pendamping, ustadz Umar Nurung, S.Pd.I , prestasi yang diraih oleh kedua murid ini sangat membanggakan karena ini kali pertama mereka mengikuti even ini dan dengan persiapan yang seadanya.

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Pertanyaan:

Apa hukumnya jika seseorang menghapal suatu surat namun cepat lupa. Apakah lebih baik dia merutinkan bacaan dengan melihat mushaf saja atau bagaimana?

Jawaban:

Orang yang sering lupa hendaknya memiliki wirid rutin berupa bacaan Istighfar yang dapat menghindarkannya dari sifat lupa. Karena Allah Ta’ala berfirman;

{واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربي لأقرب من هذا رشداً}،

Orang yang senantiasa memperbanyak istighfar akan ditolong oleh Allah dengan dikaruniai ingatan yang baik yang membantunya menyimpan apa yang telah dihafalkannya. Demikian pula  orang yang selalu shalat dengan membaca apa yang telah dihafalaknnya. Misalnya apa yang dihafalkannya pada siang hari dia baca pada shalat di malam hari, maka hafalannya akan tetap tinggal.

Demikian pula halnya dengan shalat fardhu, jika seseorang selalu membaca hafalan (baru) nya dalam shalat fardhu, maka hal itu akan menguatkan hafalannya.

Adapun bacaan melalui mushaf, jika sekadar membaca dan membolak-balik lembaran mushaf tanpa diserta tadabbur (perenungan) dan tafahhum (pemahaman), maka hal itu juga tidak akan membantu dalam menghafal. Yang membantu dan memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an adalah bacaan yang tenang dan perlahan-lahan, dimana seseorang memahami apa yang dibacanya. (Syekh Muhammad Hasan Dadew Asy-Syinqithi).

Kesan Peserta Terapi Qur’ani

(Depok) wahdahjakarta.com – Event Terapi Qurani yang sudah selesai pada Sabtu (10/11) mendapatkan kesan positif dari berbagai pihak. Ketua panitia acara ini, Ustadz Muhammad Kahar menilai acara ini berjalan seperti yang diharapkan.

“Acara terapi ruqyah dengan pembicara Syaikh Yunes Bin Sulaiman berasal dari Mekah berkebangsaan Yaman. Alhamdulillah banyak peserta yang datang kemudian sambutan DKM sangat mendukung acara itu”. ujarnya.

Peserta yang hadir mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek , santriwati sampai ibu-ibu bahkan peserta dari luar kota (Yogyakarta dan Solo) ikut menghadiri kegiatan tersebut.

Para satpol PP yang sedang bertugas ternyata meluangkan waktunya untuk mengikuti acara tersebut. Suara Syaikh Yunes yang bergema di masjid sampai tembus ke luar masjid telah menarik perhatian mereka untuk hadir di acara tersebut,

DKM Masjid Baitul Kamal Balai Kota Depok, Bapak Rojali sangat mendukung acara ini. “Mudah-mudahan bisa lanjut bersinergi lagi”, tuturnya.

Selanjutnya ada testimoni dari Bapak Abdullah, salah seorang jemaah Masjid Baitul Kamal, tempat diadakannya acara ini mengaku tertarik dengan acara ini. “Pagi-pagi setelah sholat shubuh, saya sempat membaca pemflet kemudian saya mengikuti acara ini dan saya ingin ikut lagi karena acara ini bagus dan menarik dan bisa memahami materi dengan baik”. Katanya.

Ketua panitia event yang pertama kali diadakan ini, Ustadz Muhammad Kahar berencana kedepannya akan diadakan event seperti ini di beberapa kota untuk memenuhi harapan dari peserta.

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan para peserta mendapatkan manfaat yang luar biasa dari materi yang disampaikan oleh Syaikh Yunes, sehingga mereka tau apa itu hakikat terapi qur’ani yang sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin khususnya dan pada umumnya umat manusia baik dalam kondisi sehat maupun kondisi sakit. Ujar pembina acara, Ustadz Yudi Wahyudi kepada Tim Lazis Wahdah Jakarta. Rabu (14/11). (rsp)
————

Mari bersama tebarkan kepedulian:
Donasi Dakwah Quran Untuk PALU dan Indonesia bisa disalurkan melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek.773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

Konfirmasi transfer WA/SMS ke 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

🌹 Atas partisipasi dan sedekahnya kami ucapkan “Syukran wa Jazakumullahu Khairan” dan semoga Allah melipat gandakan pahala sedekah kita.

💌 LAZIS WAHDAH
” Melayani dan Memberdayakan”

#spiritquran
#pedulipalu