Manfaat dan Keutamaan Membaca Al-Qur’an (2)

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Pada tulisannya sebelumnya telah disebutkan empat keutamaan membaca Al-Qur’an, yakni;

Memperoleh Pahala yang Sempurnaan, Syafa’at bagi pembaca Al-Qur’an, Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al-Qur’an,  dan mengangkat derajat di Syurga. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan keutamaan berikutnya.

5. Belajar dan Mengajarkan Al Qur’an Merupakan  Amalan Terbaik

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ . رواه البخاري

Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata :

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menggabungkan dalam dirinya dua perkara yaitu mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya, dia menyempurnakan dirinya dan orang lain, berati dia telah mengumpulkan dua manfa’at yaitu manfa’at yang pendek (kecil) dan manfa’at yang banyak, oleh karena inilah dia lebih utama” (Lihat Fathul Bari 4:76)

  1. Empat Keutamaan bagi kaum yang bekumpul untuk membaca Al Qur’an

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَـيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيـَـتَدَارَسُونَهُ بَـيْـنَـهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَـيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَـتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ . روا مسلم

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling belajar diantara mereka, kecuali Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat dan Allah menye butnyebut mereka pada (malaikat) yang didekatNya” (HR. Muslim)

Maka berbahagilah ahlul Qur’an dengan karunia yang agung dan kedudukan yang tinggi ini, maka sungguh sangat mengherankan orang yang masih bermalas-malasan bahkan berpaling dari majelis Al Qur’an.

  1. Membaca Al-Qur’an adalah perhiasan Ahlul Iman

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَّةِ رِيحُـهَا طَـيِّبٌ وَطَعْمُـهَا طَـيِّبٌ وَمَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُـهَا حُلْوٌ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَـثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُـهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ الْحَـنْظَلَةِ لَـيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ . رواه البخاري و مسلم

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an berati ia telah menghilangkan salah satu sifat esensinya yaitu baik pada zhahirnya. Ini merupakan kekurangan bagi pribadi seorang muslim, yang seharusnya mampu membaca Al Qur’an, menghafalkannya dan mentadabburinya tapi justru melalaikannya

  1. Membaca Al Qur’an tidak sebanding dengan Harta benda dunia

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْـنَا : نَعَمْ ، قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ رواه مسلم

Apakah salah seorang diantara kalian senang bila pulang kepada keluarganya dengan mendapatkan tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk ?” Kamipun berkata : “Ya” Beliau bersabda: “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang diantara kalian dalam shalatnya itu lebih baik dari tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk” (HR. Muslim)

Harta yang paling dicintai orang Arab pada waktu itu adalah unta khalifat, apabila unta khalifat yang besar lagi gemuk memiliki nilai kekayaan yang besar yang diperebutkan manusia, maka sesungguhnya belajar atau membaca satu ayat dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik disisi Allah dari pada unta tersebut.

Bersegera membaca Al-Qur’an lebih banyak manfa’atnya dari pada berdesak-desakan memperebutkan harta kekayaan dunia yang akan sirna tidak meninggalkan bekas. Adapun bacaan Al-Qur’an maka pahalanya tersimpan untukmu.

  1. Orang yang Mahir Membaca A- Qur’an Bersama Para Malaikat

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيـَـتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَـيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ  رواه مسلم

Orang yang mahir Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya dengan mengalami kesulitan melakukan hal itu maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)

Setelah anda ketahui wahai saudaraku muslim pahala besar dan kedudukan yang dicapai orang yang membaca Al-Qur’an maka tidak ada kewajiban bagi anda kecuali menyingsingkan lengan untuk bersungguh-sungguh, banyak membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya serta menjaga kontinuitas amal itu. –Wallahu Musta’an–  (Abu Ubaidillah).

Sumber: wahdah.or.id

 

Keutamaan Membaca Al-Qur’an (1)

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Allah  Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang  banyak bagi mereka yang membaca Al-Qur’an,

Al-Qur’an diturunkan untuk suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. Adapun pada saat ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja.

“Diantara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian, diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang begitu banyak bagi mereka yang membaca Al-Qur’an, diantaranya:

  1. Memperoleh Pahala yang Sempurnaan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنـــْفَقُوا مِمَّـا رَزَقْـنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَ نِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُـوَفّـِـيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيـَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . فاطر : 29-30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)

 Qatadah berkata:

“Mutharrif rahimahullah apabila membaca ayat ini beliau berkata : “ini ayat para qari’” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III: 554)

  1.  Syafa’at bagi pembaca Al Qur’an

Dari Abu Umamah, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يـَأْتِي يَوْمَ الْقِـيَامَةِ شَفِيعًا ِلأَصْحَابِهِ . رواه مسلم

Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al qur’an itu akan datang di hari kiamat untuk mmeberi syafa’at bagi yang membacanya” (HR. Muslim)

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

الصّـِيَامُ وَالْقُرْآنُ يـَشْفَعَانِ لِلْـعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصّـِيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّــهَوَاتِ بِالـنَّــهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيـــَــقُولُ الْقُرْآنُ مَــنَــعْتُهُ الـنَّــوْمَ بِاللَّـيْلِ فَشَــفِّعْنِي فِيهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ رواه أحمد

Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, Nabu bersabda :”Maka keduanya memberikan syafa’at” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an Al Karim terutama di bulan Ramadhan, karena bulan ini merupakan bulan Al Qur’an. Para ulama As salaf Ash Shalih bila menghadapi bulan Ramadhan mereka menyambutnya dengan membaca Al Qur’an lebih banyak dari bulan lainnya. Mereka menyibukkan diri dengan tadarrus Al-Qur’an, mempelajarinya, mengajarkannya dan qiyamul lail dengan membaca ayat-ayatnya agar mereka beruntung mendapat syafa’at dari puasa dan Al-Qur’an yang mereka baca serta agar mendapatkan ridha dan syurganya dari Ar Rahman.

  1. Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Qur’an

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ . رواه الترمذي

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan ” الم “Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HHR. Tirmidzi)

  1. Mengangkat derajat di Syurga

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam  bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَـنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Dikatakan kepada Ahli Al Qur’an : “Bacalah dan keraskanlah dan bacalah (dengan tartil) sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kau baca” (HHR. Tirmidzi)

Bersambung.

Sumber: Wahdah.or.id

 

Qawaid Quraniyyah [01]: Bertutur Katalah yang Baik Kepada Manusia

Qawaid Quraniyah

Qawaa’id Qur’aniyyah adalah hukum-hukum universal (menyeluruh-red) yang bersifat pasti yang diambil dari nash – nash Al Qur’an. Sedangkan Qaidah adalah prinsip yang diatasnya berdiri beberapa masalah dan cabang – cabangnya yang berarti mencakup beberapa tema.

Sisi kemukjizatan Al Qur’an bak lautan tak bertepi,termasuk sisi kemukjizatan yang terkandung dalam Al Qur’an adalah makna agung dibalik kalimat-kalimatnya yang tersimpan petunjuk – petunjuk ilmiah,  keimanan dan pendidikan yang membentuk suatu rumusan kaidah – kaidah dalam al Qur’an.

Ciri utama keistimewaan kaidah -kaidah Al Qur’an adalah cakupannya yang menyeluruh dan maknanya yang luas yang tidak hanya menyoroti suatu tema tertentu saja, tetapi mencakup semua tema dalam kehidupan manusia.   Qawaidul Qur’aniyyah merupakan kumpulan tema – tema alQur’an mengenai kehidupan.

Bertutur Kata Yang Baik 

Qawaid Quraniyyah

Qawaid Quraniyyah [01]: Bertutur Katalah yang Baik Kepada Manusia

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا (البقرة:٨٣

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia” (QS.al Baqarah :83)

Manusia adalah mahluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi dengan sesamanya. Interaksi yang intens dalam kehidupan sehari-hari beimplikasi pada seringnya bergaul dengan banyak orang yang memilki sifat, dan pemahaman yang beragam. Sehingga nyaris tak tak dapat dihindari mendengar perkataan yang baik atau selainnya, melihat sesuatu yang memancing reaksi perasaan, dan sebagainya. Oleh  karena itu kaidah ini merupakan rambu-rambu dalam bertutur kata dan interaksi verbal.

Kaidah ini disebutkan berulang kali dalam banyak ayat  al-Qur’an, baik secara tersurat maupun tersirat. Memberi rambu – rambu interaksi dengan sesama yaitu menggunakan ungkapan – ungkapan yang baik.

Dalam kehidupan sehari – hari kita akan selalu berinteraksi dengan berbagai kalangan. Baik dengan sesama muslim maupun   dengan non muslim, dengan yang lebih tua maupun yang lebih muda atau sebaya, dengan orang – orang yang baik ataupun yang jahat, dengan orang – orang terdekat (suami, isteri, orang tua dan anak – anak) dan juga dengan orang – orang yang yang berada dalam tanggungan kita (pembantu,  karyawan dsb). Dalam  interaksi ini kita membutuhkan “tutur kata yang baik”.

Menurut para ulama,  tutur kata yang baik mencakup cara penyampaiannya yang baik dan kontennya yang baik pula.

Penyampaian yang baik harus dengan halus dan beradab,  bukan dengan suara keras dan membentak – bentak.

Sedangkan konten yang baik haruslah berisi hal – hal yang positif. Karena tutur kata yang baik harus positif,  dan setiap tutur kata yang positif harus disampaikan dengan cara yang baik.

Kita akan menemukan beberapa ayat yang merupakan penerapan praktis kaidah (bertutur kata yang baik) ini, diantaranya:

1.Cara berinteraksi dengan kedua orang tua tidak boleh membentak – bentak tapi harus bertutur kata yang santun kepada mereka.

وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan janganlah engkau membentak keduanya,  dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS.al Isra’ :23)

2.Bersikap santun dengan peminta – minta dan orang yang membutuhkan ;

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya (QS.Adh Dhuha:10)

Menurut sebagian ulama ayat ini berlaku umum yang mencakup orang yng meminta berupa uang atau ilmu,  jangnlah mengusirnya tetapi berilah sedikit saja atau tolaklah dengan tutur kata yang baik.

  1. Kepada orang jahil

Sebagaimana pujian Allah terhadap “Ibad Ar-Rahman (hamba – hamba yang baik)

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang – orang bodoh menyapa mereka (dengan kata – kata yang menghina)mereka mengucapkan salam (kata – kata keselamatan) .(QS.al-Furqan:63)

Menurut Ibnu Jarir at Thabari, ” jika orang – orang yang tidak mengenal Allah itu menyapa para hamba Allah yang baik dengan kata – kata yang tidak disukai,  maka mereka menjawabnya dengan perkataan yang mulia dan tutur kata yang baik.

Mereka bertutur kata yang baik bukan karena lemah atau kalah, melainkan mereka dalam posisi kuat dan menang. Mereka tidak mau membuang – buang waktu dan energi dengan hal – hal yang tidak patut,  karena orang – orang mulia seperti mereka hanya menyibukkan dirinya pada hal – hal yang mulia dan lebih penting.

Namun sayang,  fenomena yang terjadi didalam kehidupan umat al Quran sendiri adalah tidak efektifnya kaidah ini.

  • Kaidah ini meluap begitu saja saat berinteraksi dengan orang tua.
  • Tidak berlakunya kaidah ini diantara pasangan suami isteri
  • Mandegnya kaidah ini saat bersama anak – anak.
  • Hilangnya kaidah ini saat bersama pembantu dan karyawan.

Justru banyak misionaris yang menggunakan kaidah ini  untuk menarik simpati orang – orang miskin agar memeluk agama mereka. Bukankah  umat Islam  yang lebih berhak mengamalkan kaidah ini untuk menarik seluruh manusia  kepada agama yang diridhai Allah?

Surat al Isra’ memperingatkan kita akan suatu bahaya karena tidak mempraktekan kaidah ini dalam keseharian kita. Allah berfirman:

ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُم

“….sungguh setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan diantara mereka….”(QS. al Isra’:53)

Jadi orang yang diuji mendengar omongan yang menyakitkannya maka dia harus berusaha sabar menerimanya,  mengimbangi tindakan bodoh dengan kebijaksanaan,  dan membalas perkataan yang menyakitkan dengan tutur kata yang menyejukkan.

Sumber :  “50 Kaidah Kehidupan dalam Al-Qur’an” karya DR.Umar Bin Abdullah Al-Muqbil *

Forjim dan Pesantren Cendekia Gelar Pelatihan Jurnalistik Dakwah OMOJ

kegiatan OMOJ (One Masjid One Journalist)

Salah satu foto kegiatan OMOJ (One Masjid One Journalist) yang dilakukan oleh Forjim.

DEPOK—Pesantren Cendekia Amanah Cilodong, Depok, Jawa Barat pimpinan KH Cholil Nafis bekerjasama dengan Forum Jurnalis Muslim (Forjim) akan menggelar pelatihan video jurnalistik dakwah One Masjid One Journalist (OMOJ). Acara ini rencana digelar pertengahan Nopember 2018 di Masjid Pesantren Cendekia Amanah dan akan mengundang remaja dan pemuda masjid se kota Depok.

Kyai Cholil Nafis menyambut baik kerjasama program ini. Kyai Cholil mengatakan ia bekerjasama program dengan Forjim bukan kali pertama. “Saya sudah kenal lama dengan Forjim. Belum lama, Komisi Dakwah MUI yang saya pimpin juga pernah kerjasama dengan Forjim gelar diskusi soal dakwah di medsos,” ungkap Kyai Cholil yang juga Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ketika menerima kunjungan pengurus Forjim di Pesantren Cendekia Amanah, Sabtu (6/10/2018) siang.

KH Cholil Nafis, pimpinan Pesantren Cendekia Amanah Cilodong, Depok, Jawa Barat saat memberikan sambutan pembukaan pelatihan video jurnalistik dakwah One Masjid One Journalist (OMOJ) di pesantren.

Menurut Kyai Cholil, saat ini saat ini umat manusia tidak bisa menghindari dampak kecanggihan teknologi informasi. Kecanggihan teknologi ini bisa digunakan untuk menyebar konten negatif, bisa juga untuk menyebar konten positif.

“Teknologi informasi ini bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan atau konten dakwah. Pelatihan ini diharapkan membangun kesadaran generasi muda Islam untuk berdakwah melalui media video,” ujar Kyai Cholil.

Sementara itu, Sekretaris Umum Forjim Ibnu Syafaat mengungkapkan program jurnalistik dakwah One Masjid One Journalist ini merupakan upaya Forjim membangun kesadaran literasi generasi muda. “Saat ini konten hoax begitu massif tersebar di tengah masyarakat. Untuk menangkal hoax, generasi muda perlu dibangun kesadaran literasi. Ini merupakan salah satu tanggung jawab jurnalis muslim. Pelatihan jurnalistik dakwah ini memberikan pembelajaran agar generasi muda selalu melakukan verifikasi atau tabayun terhadap informasi yang diterima,” ungkap Syafaat.

Dikatakan Syafaat, pelatihan ini sudah berlangsung di beberapa kota di Indonesia. “Pelatihan One Masjid One Journalist merupakan program unggulan Forjim. Sudah ada lima angkatan dari pelatihan ini. Pelatihan sudah kami gelar di beberapa kota seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Lombok Timur, dan Bogor,” jelas Syafaat.

Kemudian dalam waktu dekat, pelatihan jurnalistik dakwah rencananya digelar di Tasikmalaya, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, dan Batam. [fry]

Musibah di Atas Musibah (Khutbah Jum’at)


Oleh : Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc. MA

إن الحمد لله نحمده ، و نستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .وأ شهد أ ن محمداً عبدُه و رسولُه
يَاأَيها الذين آ مَنُوا اتقُوا اللهَ حَق تُقَا ته ولاتموتن إلا وأنتم مُسلمُون
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أ يها الذين آ منوا اتقوا الله وقولوا قَو لاً سَديداً يُصلح لَكُم أَ عما لكم وَ يَغفر لَكُم ذُ نُو بَكُم وَ مَن يُطع الله وَ رَسُولَهُ فَقَد فَازَ فَوزاً عَظيماً

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وآله وسلم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Kaum muslimin rahimakumullah!
apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di beberapa tempat di Indonesia hari ini sungguh sangat memilukan

Belum lagi kering air mata kita dengan apa yang terjadi di Lombok kita pun dikejutkan dengan gempa bumi berikut tsunami yang meluluhlantakkan kota Palu.

Tidak ada kata yang patut untuk kita ucapkan atas semua ini kecuali innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya.

Kekuasaan Allah tidak terbatas, yang meliputi segala apa yang ada di alam raya ini, dan itu terbukti dengan apa yang terjadi berupa musibah yang datang beruntun dan berturut-turut ini.

Betapa kecil dan tidak berdaya nya manusia dihadapan kemahakuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita ini ibarat sebutir debu di Padang Sahara atau Setetes Air di tujuh lautan benua.

Semua doa kita panjatkan untuk para korban , semoga yang wafat mendapatkan syahid di sisi Allah , dan yang terluka segera disembuhkanNya,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِيْقُوَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Para syuhada itu ada lima golongan: yang terkena tha’un , mabthun ( sakit perut) ,tenggelam, terkena reruntuhan, dan yang syahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.” ( HR.Al Bukhari & Muslim)

Kitapun berharap agar kondisi segera pulih dengan keimanan yang bertambah serta ketakwaan yang semakin mantap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dibutuhkan kontribusi kita semua moril dan materil sebagai wujud persaudaraan dan keimanan,, untuk menghadapi musibah yang sangat besar ini.

Namun ……
Jamaah Jum’at
Yang dimuliakan Allah

Tahukah kita akan musibah yang lebih besar daripada itu semua ?

Lebih besar daripada gempa bumi yang meluluhlantakkan kota

Lebih besar daripada banjir tsunami yang menyapu rata.

lebih dahsyat dari angin puyuh yang menerbangkan semua yang ada

Allah subhanahu Allah berfirman :

ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Surat An-Nur, Ayat 63)

Menyelisihi Jalan Kebenaran jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelisihi syariat Islam, menyelisihi petunjuk nabi, menyelisihi Al Quran , itulah semua yang mengundang bencana.

Saat kita diuji dengan bencana alam gempa bumi ,tsunami dan lain sebagainya lantas kemudian kita kembali kepada Allah menjadikannya sebagai pemicu untuk bertaubat kepada Allah sebagai jalan untuk taat dan kembali meniti jalan kesolehan maka sungguh musibah itu akan membuka lembaran-lembaran kebaikan bagi kehidupan kita.

Namun jika kekuasaan Allah yang mutlak itu telah ditunjukkannya dalam bentuk musibah yang datang silih berganti lantas kemudian kita tidak mengambil pelajaran ,kita tidak kembali kepada jalannya, kita tidak bertaubat, bahkan justru semakin sombong ,semakin ponggah dengan kesyirikan dan kemaksiatan ,maka azab Allah yang paling besar akan menimpa kita berupa kesesatan, berupa kekufuran, berupa jauhnya dan semakin jauh nya kita dari jalan Allah inilah musibah di atas musibah .
Musibah terbesar saat Allah jauhkan kita dariNya.
Wallahu l Musta’an

Bumi Langit dan seluruh semesta sejatinya adalah makhluk yang taat kepada Allah , maka Tidak sepantasnya manusia saat diberikan Wahyu oleh Allah untuk hidup di atas bimbingan Wahyu itu lantas kemudian menjauhkan diri dan bahkan menistakan wahyu Allah dan lebih memilih jalan yang dia buat sendiri, aturan yang dia ,karang sendiri, jalan hidup yang mereka rekayasa sendiri . Itulah yang justru akan menjadikan manusia itu terjatuh ke dalam lembah kebinasaan

Allah ta’ala berfirman

ومن اعرض عن ذكري فان له معيشه ضنكا ونحشره يوم القيامه اعمى

Barangsiapa yang berpaling dari peringatanku maka Sungguh aku akan berikan baginya kehidupan yang sempit dan kami bangkit kan dia di hari akhirat dalam keadaan buta

Para orang shaleh yang terdahulu saat mereka mendapatkan musibah , maka takutnya kepada Allah semakin bertambah dan itu mengantarnya lebih dekat kepada Allah.

Manusia sejatinya adalah hamba Allah yang ditugaskan beribadah kepada Allah dengan sebenarnya benarnya, saat kedurhakaan terjadi maka musibah itu akan menerpa semuanya, yang shaleh maupun yg salah , yg bermaksiat maupun yang taat.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan takutlah atas siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (Surat Al-Anfal, Ayat 25)

Disinilah pentingnya kita memahami arti dakwah , amar Ma’ruf nahi mungkar,, tegaknya dakwah , amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah jaring pengaman ilahiah atas adzab dan kemurkaanNya…
Semoga kita semua mendapatkan Ibrahim dan pelajaran

اقول قولي هذا و استغفره انه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله وحده الصلاه و السلام على من لا نبي بعده وعلى اله واصحابه ومن سار على نهجه الى يوم الدين اما بعد

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

musibah ini sejatinya adalah musibah kita semua, Saat sebagian saudara kita meregang nyawa, bahkan ribuan mayat terhampar di hadapan kita, sementara sebagian yang lainnya masih berada di tenda-tenda pengungsian, bahkan mungkin masih ada di tempat-tempat yang belum terjangkau dengan bantuan yang berarti.

Inilah saatnya kita mengukir kebaikan dalam keimanan kita, Inilah saatnya kita membuktikan persaudaraan kita, Mari kita hadirkan secercah senyum pada anak-anak kita yang ada di Palu di Lombok dan di berbagai belahan nusantara yang saat ini sedang menangis pilu didera bencana tanah ini.
Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam,

 

: ” مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الأعضاء بالحمى والسهر ” متفق عليه .

Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” Muttafaq Alaihi

Selain itu kita berharap bahwa apa yang kita berikan dijalan Allah dengan membantu saudara-saudara kita yang menderita itu Semoga menjadi asbab kita terhindar dari musibah dan berbagai Prahara.

Ingatlah kita bahwa negeri ini adalah karunia Allah yang sangat luar biasa kita dimanja dengan berbagai kekayaan alam, namun hendaknya kita mengingat pula bahwa tak ada sejengkal pun negeri ini dan seluruh bumi ini kecuali milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala olehnya itu tak pantaslah kita menginjakkan kaki di atas bumi milik Allah untuk melakukan kemaksiatan apalagi dengan kemusyrikan dan kekufuran.

Akhirnya marilah kita menundukkan jiwa dan raga kita kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Seraya bermunajat memohon ampunan nya memohon kasih sayangnya memohon rahmat nya.

Ya Allah Yang Maha pengampun ampunilah kami karena tiada yang dapat memberi ampunan melainkan engkau
Ya Allah, yang maha pengasih engkau maha tahu dosa dan kemaksiatan yang telah kami ukirkan dalam jejak hitam perjalanan hidup kami, tak ada yang dapat menghapuskannya melainkan kasihmu melainkan ampunanmu yang tiada berbatas
Ya Allah Yang Maha Kuasa janganlah kau jadikan dosa segelintir orang di antara kami untuk Kau turunkan azab dan kemurkaan Mu atas kami

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang dapat belajar dari peringatan mu ini
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang bersegera menuju ampunan Mu menyambut berkah syariat Mu dan jadikanlah kami orang-orang yang kembali kepadamu dalam ketaatan dalam ketakwaan dalam keimanan

Ya Allah tolonglah kami , Angkatlah musibah ini dari kami dengan kekuasaanMu yang tiada berbatas.

اللهم ادفع عنا الغلاء والوباء والربا والزنا والزلازل والمحن وسوء الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا هذا خاصة وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين، اللهم أنت الله لا إله إلا أنت،
اللهم ارحم موتانا و اشف مرضانا و أعد الينا الحياة بالإيمان و التقى العفاف و الغنى
اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول بيننا وبين معصيتك ومن طاعتك ما تبلغنا به جنتك ومن اليقين ماتهون به علينا مصائب الدنيا اللهم متعنا باسماعنا وابصارنا وقواتنا ما احييتنا واجعله الوارث منا واجعل ثارنا من ظلمنا وانصرنا على من عادانا ولا تجعل مصيبتنا في ديننا ولا تجعل الدنيا اكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا تسلط علينا من لايخافك فينا ولا يرحمنا
سبحان ربك رب العزه عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

Manusia yang Dibenci Oleh Allah dalam Al-Qur’an

Manusia yang Dibenci  Oleh Allah dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Quran selain disebutkan tentang ciri dan sifat orang-orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, disebutkan pula ciri dan sifat manusia yang dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tulisan  ini akan menjelaskan 11 golongan manusia  yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Pertama, Al-Kafirun (Orang orang Kafir)

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali Imran ayat    32, Al- Baqarah ayat 276, dan Ar-Rum ayat 45,

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ [٢:٢٧٦

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ [٣:٣٢

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir“.

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ [٣٠:٤٥

Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.

 

Kedua, Al-Mu’tadun (Orang-orang yang Melampaui Batas)

Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 190 dan al-a’raf ayat 55, dan Al-Maidah ayat 87;

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٢:١٩٠

karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٧:٥٥

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٥:٨٧

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Maidah:87).

 

 Ketiga, Al-Mufsidun (Orang-orang yang berbuat kerusakan)

Sebagaimana  firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 64 dan Al-Qashash ayat 77;

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [٥:٦٤

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [٢٨:٧٧

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Keempat, Adz-Dzalimun (Orang-orang yang dzalim),

Sebagaimana  firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 57 dan 140 serta Asy-syura ayat 40;

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [٣:٥٧

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim”. (Qs. Ali Imran:57).

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [٣:١٤٠

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.(Qs. Ali Imran:140).

 

Kelima dan Keenam, Al-Mukhtalun Wal Mutakabbirun (Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri)

Sebagaimana  firman Allah Ta’ala  dalam surah An-Nisa ayat 36, Luqman ayat 18 dan An-Nahl ayat 23;

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا [٤:٣٦

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ [٣١:١٨

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

  إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ [١٦:٢٣

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

Ketujuh, Al-Khanun (Pengkhianat)

Sebagaimana  firman Allah subhanahu wa taala dalam surah Al-Anfal ayat 58 dan an-Nisa ayat 107;

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ [٨:٥٨

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا [٤:١٠٧

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

 

Kedelapan, Al-Mujahir Bis Suu ‘ (Orang-orang yang Menampakan Keburukan)

 Sebagaimana  firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah An-Nisa ayat 148;

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا [٤:١٤٨

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kesembilan, Al-Atsim (Orang yang Bergelimang Dosa)

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al- Baqarah ayat 276, dan An-Nisa ayat 107;

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ [٢:٢٧٦

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا [٤:١٠٧

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

Kesepuluh, Al-Musrifun (Para pemboros)

Sebagaimana  firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 141 dan Al-A’raf ayat 31;

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [٦:١٤١

dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-An’am: 141).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [٧:٣١

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Qs. Al-A’raf:31).

Kesebelas, Al-Farihun bil Ma’ashi (Orang yang Senang dan Bangga dengan Maksiat)

Sebagaimana dalam surat Al-Qashas ayat 76;

 إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ [٢٨:٧٦[

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“. (Qs. Al-Qashash:76).

Semoga kita terhindari dari sifat-sifat buruk tersebut agar selamat dari murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Delapan Manusia yang Dicintai Allah dalam Al-Qur’an

 

Delapan Manusia yang Dicintai Allah dalam Al-Qur’an

Diantara sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Al-Mahabbah (cinta), yakni Allah mencintai hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa serta perbuatan dan amal shaleh yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Dalam ayat Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengabarkan tentang orang-orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tulisan ini menerangkan tentang delapan golongan manusia yang dicintai oleh Allah Ta’ala sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Pertama, Al-Muhsinun (Orang-orang yang Berbuat Baik)

Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik , sebagaimana diterangkan dalam lima ayat, yakni Surat Al-Baqarah ayat 196, Surat Ali Imran ayat 134 dan ayat 148, serta Surat Al-Maidah ayat 13 dan 93;

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [٢:١٩٥

dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. Al-Baqarah:195).

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [٣:١٣٤

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Qs. Ali Imran:134).

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [٣:١٤٨

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Qs. Ali Imran:148).

 

Kedua, At-Tawwabun (Orang-orang yang Bertaubat), sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 222;

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [٢:٢٢٢

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqarah:222).

 

Ketiga, Al-Mutathahhirun (Orang-orang yang Senantiasa Bersuci)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 222;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [٢:٢٢٢]

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqarah:222).

 

Kempat, Al-Muttaqun (Orang-orang Bertaqwa), Sebagaimana diterangkan dalam surat Ali Imran ayat 76 dan At-Taubah ayat 4 dan 7;

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ [٣:٧٦]

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran:76)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ [٩:٤]

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Qs. At-Taubah:4).

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ [٩:٧

“Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa’’. (Qs. At-Taubah:7).

 

Kelima, Ash-Shabirun (Orang-orang yang Bersabar), Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 146;

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ [٣:١٤٦

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Qs. Ali Imran:146).

Keenam, Al-Mutawakkilun (Orang-orang yang Bertawakkal), Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Imran ayat 159;

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣:١٥٩

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran:159).

 

Ketujuh, Al-Muqsithun (Orang-orang yang Bersikap dan Berbuat Adil), Sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 42, Al-Hujurat ayat 9, dan Al-Mumtahanah ayat 8;

وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [٥:٤٢

Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”. (Qs. Al-Maidah:42).

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [٤٩:٩

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Hujurat:49).

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [٦٠:٨

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Qs. Al-Mumtahanah:8).

Kedelapan, Orang-orang yang Berjuang di Jalan Allah dengan Rapi dan Teratur. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ash-Shaf ayat 4;

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ [٦١:٤[

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Qs. Ash-Shaf:4).

Jika ingin dicintai Allah Ta’ala hendaknya seseorang menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia yang disebutkan di atas, seperti Taqwa, Tawakkal, Sabar, Ihsan (senantiasa berbuat baik), selalu bertaubat (tawwab), senantiasa mensucirkan diri (tathhir), dan berjuang di jalan Allah secara tertib, teratur dan dalam barisan yang rapi. Ja’alanallahu wa iyyakum in ahbabihi Subhanhu. Amin. [sym].

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

10 TAHUN AQL, UBN BERI PESAN DAMAI LEWAT TEMA “PEACE IS POWER”

 

UBN mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim.

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center menggelar Milad Akbar pada selasa (11/9/ 2018) yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H, di Balai Kartini, Kuningan Jakarta Selatan me.

Ada pesan penting yang disampaikan mengambil tema “PEACE IS POWER”. Menurut pendiri AQL, Ustadz Bactiar Nasir (UBN), tema ini diambil untuk memberi tahu publik bahwa Islam adalah agama yang damai dan bukan agama teroris, seperti yang dituduhkan semenjak peristiwa Nine Eleven, 11 September 2001 lalu.

“Walaupun World Of Terrorist sudah dihentikan oleh pemerintahan Obama pada 21 April 2013, namun propaganda kebencian yang diedarkan oleh Donald Trump belakangan ini dengan isu-isu baru tentang Islam adalah sebuah fitnah besar bagi umat Muslim di kalangan masyarakat,” ujar UBN dalam Press Conference sebelum acara dimulai.

Oleh sebab itu UBN membuat milad akbar ini dengan bertajuk kedamaian, agar isu-isu yang beredar di kalangan masyarakat tersebut bisa dinetralisir hingga dihentikan. “Kami ingin mengingatkan Donald Trump bahwa terorisme yang dilekatkan kepada Islam adalah sebuah kesalahan yang besar,” imbuhnya.

Melalui acara tersebut, Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini, yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim. “Karena sejatinya umat muslim adalah umat yang menjaga perdamaian, dan bukan umat yang berprilaku keras”, jelasnya.

AQL Islamic Center yang berpusat di Tebet Utara Jakarta Selatan ini didirikan pada 1 Muharram 1429 H yang bertepatan dengan 29 Desember 2008 dengan visi besar membangun peradaban dengan Al-Quran. Visi ini didorong kesadaran pendiri AQL Islamic Center, bahwa rahmat Allah terbesar bagi umat manusia itu adalah Alquran.
(Rep: Fry/Ed:sym).

Syurga Tidaklah Semudah dan Semurah yang Kamu Sangka

 

Syurga Tidaklah Semudah dan Semurah yang Kamu Sangka

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ [٣:١٤٢

Apakah kamu menyangka  bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum dibuktikan Allah (siapa) orang-orang yang berjuang sungguh-sungguh diantara kamu dan (belum) dibuktikanNya pula orang-orang yang sabar”. (Qs. Ali Imran:142)

Pertanyaan seperti itu bermaksud sebagai bantahan.  Tegasnya  janganlah kamu menyangka, bahwa akan mudah saja kamu masuk syurga, sebelum Allah membuktikan, memperlihatkan dengan jelas siapa pejuang yang sungguh-sungguh, dan siapa yang sabar, siapa yang tahan, dan siapa yang tabah.  Syurga tidaklah semudah yang Kamu sangka. Dia  meminta kesungguh-sungguhan, semangat, antusias dan kesabaran. Sebab  Syurga itu meminta pengorbanan. Jihad, kesungguhan, kerja keras, itulah syarat pertama perjuangan. Syarat kedua ialah sabar, tahan menderita dan tabah.

Di dalam ayat ini dan ayat yang lain kalimat  Ya’ lamillah, yang menurut arti aslinya saja ialah sebelum Allah mengetahui atau di ayat lain supaya Allah mengetahui. Tetapi  oleh karena maksud dan arti sebenarnya kalimat itu di sini lebih dari itu telah kita artikan membuktikan. Sebab pada hakikatnya sebelum manusia tahu siapa yang lemah dan siapa yang kuat imannya Tuhan Allah sendiri telah tahu.  Ilmu  Allah Ta’ala tidaklah diikat  oleh suatu ruang ataupun suatu waktu. Tetapi manusia sendiri sebagai hamba Allah tidaklah senantiasa tahu sesuatu hal sebelum kejadian. Banyak  manusia, antaranya saja antara saudara sendiri, sebelum melapetaka menimpa diri kita merasa akan kuat. Tetapi setelah malapetaka itu datang barulah kita sadar dan mengetahui, bahwa kita lemah. Di situ Allah ta’ala membuktikan dengan qudrat-iradat Nya kepada kita, bahwa kita ini sesungguhnya lemah. Seorang  guru Islam yang banyak muridnya selalu memberi fatwa kepada murid-muridnya itu supaya berjuang sungguh-sungguh dan supaya sabar. Tiba-tiba  pada suatu waktu dia sendiri ditimpa malapetaka dia difitnah lalu ditahan polisi karena suatu tujuan yang sekali-kali tidak diperbuatnya. Maka suatu hari saya ketika salah seorang muridnya sempat menziarahinya dalam tahanan dia berkata: “Dahulu saya memberi fatwa kepada saudara-saudara supaya sabar ditimpa cobaan. Sekarang  diri saya sendiri lah yang saya beri  fatwa setiap hari supaya sabar! dan sekarang saya sudah dapat membuktikan kelemahan atau kekurangan saya.

Ayat ini membuktikan bahwasannya syurga yang begitu tinggi mulia dan mahal tidaklah dapat dibeli kalau hanya dengan mulut. Orang yang berbudi tinggi dan berpikiran cerdas jika masuk ke dalam tokoh besar malu akan menawar barang yang mahal. Mulutnya  tidak akan terbuka kalau dia sendiri tahu bahwa dompet uangnya kosong atau tidak seimbang isinya dengan nilai barang yang ditawar.

Seperti guru yang kita terangkan tadi, pada waktu aman tidak ada cobaan banyak yang berani bersuara lantang, berfatwa menyuruh orang berjuang, menyuruh orang sabar. Mudah Semua orang berkata demikian, sebelum mereka menyaksikan sendiri betapa payahnya berjuang dan pahitnya sabar. [sym/wahdahjakarta.com].

Sumber: Tafsir Al-Azhar Karya Prof. DR. Haji AbdulMalik AbdulKarim Amrullah (Hamka)