Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

 

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. (Syaikh Al-Barrak).

Generasi awal umat Islam sebenarnya adalah orang-orang yang sangat penakut. Saking penakutnya bahkan ada yang mengambil setan dan jin sebagai temannya. Lalu setelah mereka membaca Al-Qur’an. Maka mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dari yang penakut mereka menjadi pemberani. Dari titik nadir mereka menjadi pahlawan.

Generasi awal umat ini ketika belum mempelajari Al-Quran, mereka semua kotor, jorok dan sangat jauh dari kebersihan, bahkan ada yang memakan bangkai. Maka Al-Qur’an mengajarkan kepada mereka mana yang bisa dikonsumsi mana yang tidak bisa dikonsumsi. Al-Quran mengajarkan kepada mereka bagaimana bersuci dan membuat manusia menjadi lebih beradab dan hidup lebih layak.

Islam dan Al-Quran mengajarkan kebersihan. Lihatlah bagaimana Islam mengajarkan manusia mencuci wajah tangan dan kakinya dengan berwudhu. Perumpamaan sholat yang lima waktu itu diibaratkan seperti orang yang di depan rumahnya terdapat sungai yang mengalir. Apakah menurut kalian mungkin, bahwa orang yang ada sungai di depan rumah nya tersebut itu kotor? Jawabannya tidak mungkin.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu. Dan Al-Qur’an itu lengkap. Ketika seseorang lahir sampai dia meninggal semuanya diatur di dalam Al-Qur’an. Apa saja petunjuk tentang kehidupan dan apa yang harus dilakukan dalam hidup semua lengkap aturannya dalam Al-Qur’an. Karena itu setiap bayi yang lahir ke dunia, dikumandangkan adzan baginya, dan demikian juga halnya ketika manusia mati. Semua ada aturannya dalam Al-Qu’ran.

Al-Qur’an ada banyak ilmu-ilmu di dalamnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala melarang riba, semua itu untuk kebaikan manusia sendiri. Al-Qur’an menjelaskan semuanya yang dibutuhkan manusia. Dari mulai bagaimana cara ia mendapatkan harta, bagaimana ia harus mempergunakannya, bagaimana ia harus mengelolanya dan bagaimana ia harus menginfakkannya, semua jelas diatur di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia. Bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Dunia hanyalah jembatan untuk menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat untuk beribadah. Dunia hanyalah tempat untuk menyembah Allah subhanhu wa ta’ala. Bukan untuk bermewah-mewahan bukan untuk bersenang-senang bukan untuk bermain-main. Sesungguhnya tempat kembali kita adalah akhirat. Di sanalah kita hidup kekal dan abadi.

Al-Qur’an mengatur segala sesuatunya tentang kehidupan manusia. Yang besar yang kecil, yang tua yang muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak kecil pun sudah diatur dalam Al-Qur’an. Juga mengatur bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat. Juga mengatur hak para Nabi dan Rasul.

Bagaimana dengan wanita? Dalam Al-Qur’an wanita juga punya hak. Dan Al-Qur’an menjelaskan tentang hak-haknya. Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan kepada wanita untuk berhijab. Wanita harus berpakaian yang syar’i, sehingga identitas nya dapat dikenal. Wanita dalam Al-Qur’an adalah seorang putri yang suci yang terjaga dan dilindungi. Padahal jauh sebelum adanya Al-Qur’an wanita sangat dihinakan.

Al-Qur’an telah menjadikan generasi awal dari umatnya menjadi pahlawan-pahlawan besar. Al-Qur’an menjadi an manusia dari titik nol menjadi pahlawan besar. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan tentang orang-orang yang cacat, orang-orang yang buta. Dan ini tidak ada disebutkan dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebutkan segala sesuatunya. Pertanian bahkan perindustrian. Contohnya tentang buah zaitun. Maka Al-Qur’an mengajak manusia untuk aktif dan beraktifitas. Untuk tidak malas. Dan mau bekerja keras. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk malas.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu bahkan dalam bidang kesehatan. Contohnya perintah untuk makan dengan tidak berlebih-lebihan. Ini menyangkut dengan ilmu kesehatan, bahwa segala sesuatu yang berlebih2an tidak baik bagi tubuh manusia.

Al-Qur’an juga mengajarkan ilmu falak(astronomi) tentang gugusan bintang, langit dan bumi. Allah mendirikan langit tanpa penyanggah tanpa tiang. Seumpamanya orang yang membuat bangunan, tidak pernah ada yang bisa mendirikannya tanpa tiang. Ini lah bukti kebesaran Nya bukti ke Esaan-Nya.

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. Semoga kita semua yang ada disini bisa mempelajari dan mengambil kebaikan darinya. Amin. [Ringkasan kajian dengan tema “From zero to hero with Al-Qur’an” bersama Syeikh Prof. DR. Muhammad Sholih Al Barack Hafidhahullah (Guru Besar Tafsir Al Quran di KSA), Rabu, 17 Januari 2018].

Allah Pelindung Orang Beriman

 

 

Allah Pelindung Orang Beriman, gambar: wahdahmakassar.or. id

Allah Pelindung Orang Beriman

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” [Surat Al-Baqarah 257].

Makna dan maksud Waliy pada frasa Allahu waliyyulLadzina Amanu di atas adalah penolong dan pembantu, pecinta, pemberi hidayah, sebagaimana dikatkan oleh Imam Al-Baghawi (1/273). Jadi maksud Allah sebagai Waliy bagi orang beriman adalah;
– Allah akan selalu menolong dan membantu orang-orang beriman,
– Allah mencintai orang beriman,
– Allah membimbing dan meneguhkan orang beriman di atas hidayah dan petujuk-Nya
– Allah memenuhi dan mengurusi keperluan orang-orang beriman

Kesemua karunia di atas sesungguhnya merupakan balasan dari janji Allah kepada para Waliy-Nya dah hamba-hambaNya yang beriman, sebagaimana dalam Hadits Qudsi tentang keistimewaan wali-wali Allah, “Dan jika hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah tambahan (nawafil/nafilah), maka Aku pasti mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, (Akulah) penglihatannya yang dengannya dia melihat, (Akulah) tangannya yang dengannya dia memegang, dan (Akulah) kakinya yang dengannya dia berjalan, Jika dia meminta Aku kabulkan dan jika dia memohon perlindungan Aku pasti melinunginya”. (HR. Bukhari).

Itulah hakikat dan makna Allah sebagai waliy bagi orang beriman, sebagaimana sebaliknya orang beriman merupakan wali Allah. Sebagaimana firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Qs. Yunus:62-63).

Minadz Dzulumati Ilan Nur
“Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”; Maknanya dari gelapnya kekufuran dan kejahilan menuju cahaya iman dan ilmu. Ibnu Katsir mengatakan, “Dia mengeluarkan hamba-hambaNya yang beriman dari gelapnya kekufuran keraguan menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah, dan bersinar terang”.

Semakna dengan Imam Ibnu Katsir, Syekh As-Sa’di mengatakan, “Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, maksiat, dan kebodohan menuju cahaya iman, ketaatan, dan ilmu. Sehingga balasan bagi mereka adalah keselamatan bagi mereka dari gelapnya kuburan, hari kebangkitan, dan kiamat”.

Jalan Kebenaran dan Keselamatan Hanya Satu
Pada Frasa “minadzulumat ilan Nur”, kata dzulumat disebutkan dengan bentuk jamak (plural/jama’), sedangkan kata Nur disebutkan dengan bentuk tunggal (singular/mufrad). Hal ini mengisyaratkan bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Sebaliknya kekufuran itu beragam dan semuanya bathil. Hal ini semakna dengan firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 153;

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Qs.Al-An’am:153).

Seperti pada ayat 257 Surat Al-baqarah, dalam ayat di atas jalan lurus yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan jalan yang Allah larang untuk diikuti disebutkan dalam bentuk jamak (plural). Sebab jalan jalan kebenaran itu hanya satu.

Wali Orang Kafir Adalah Thaghut
Adapun orang kafir maka pelindung adalah Thaghut dan Setan yang menghiasi kekafiran dalam pandangan mereka, sehingga mereka keluar dari cahaya iman dan ilmu menuju gelapnya kekufuran dan kejahilan. Jalan kekafiran disebut dan disifati sebagai kegelapan karena jalannya penuh dengan iltibas (ketidakjelasan).

Balasan untuk mereka adalah neraka dan kekal di dalamnya.
Semoga Allah meneguhkan iman di hati-hati kita dan menunjuki kita ke jalan iman, ilmu, dan ketaatan. [sym].

Mulia dengan Al-Qur’an (Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan)

Mulia dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 77-80;

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Kemuliaan Al-Quran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian waktu dan tempat diturunkannya serta kemuliaan Nabi pembawa Al-Qur’an dan ummatnya yang mengemban Al-Qur’an. Selanjutnya dalam tulisan ini akan diuraikan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemuliaan Malaikat yang membawanya kepada Nabi dan kemuliaan orang-orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Selamat membaca.

6. Al-Qur’an Dibawa Oleh Malaikat Termulia

Malaikat yang menjadi pembawa wahyu Al Qur’an adalah Malaikat Jibril yang merupakan sebaik-baik malaikat dan terpercaya. Sbagaimana dijlaskan dalam surat At-Takwir ayat 19;

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)’’. (Qs. At-Takwir:19).

Allah juga memuji malaikat Jibril yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyifatinya sebagai Malaikat terpercaya untuk menurunkan wahyu Ilahi. Sebagaimana dalam beberapa ayat diantaranya;

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواوَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“.Qs. An-Nahl:102)

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢﴾ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ﴿١٩٣﴾ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ﴿١٩٤

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,(Qs. Asy-Syu’ara:192-194).

7. Al-Qur’an Pada Generasi Terbaik

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang padanya Al Qur’an turun (Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَيَلُونَهُمْ

Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, dan kemudian yang setelahnya.” (HR. Muslim).

8. Manusia Terbaik adalah yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR. Al Bukhari).

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (43) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌلَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az-Zukhruf : 43-44).

Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

  إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَاالْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

 Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an, dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an. (HR. Muslim).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

أن جماع أمراض القلب هي أمراض الشبهات والشهوات والقرآن شفاءللنوعين

 “Unsur penyakit hati terkumpul pada dua hal, yaitu syubhat dan syahwat, dan keduanya diobati dengan Al Qur’an.” (Ighatsatul Lahafan, Juz.1/44).

Sebagaimana diterangkan dalam Surat Yunus ayat  57 dan Surat Al Isra’ayat 82;

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ قَدْجَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِوَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Qs. Yunus:57).

Penjelasan singkat ayat di atas dapat dibaca pada Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَاهُوَشِفَاءٌ وَرَحْمَةٌلِّلْ مُؤْمِنِينَ ۙ وَلَايَزِيدُالظَّالِمِينَ إِلَّاخَسَارًا ﴿٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian’’. (Qs. Al-Isra:82).

Anda Juga Ingin MULIA ?

Bagi yang menghendaki kemuliaan hendaknya mengambil bagian dari Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari dan atau mengajarkannya. Jadikan belajar dan mengajar Alquran sebagai agenda hidup sepanjang hayat. Luangkan waktu mninimal satu dua jam sepekan untuk ngaji qur’an. Tingkatkan kemampuan membaca Alquran! dan teruslah bertumbuh secara ilmiah dan ruhiah bersama Alquran. [sym]

Wahdah Jakarta Akan Kedatangan Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur'an

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur’an

Jakarta – Satu keistimewaan tersendiri pada tahun 2018 ini bagi Wahdah Jakarta, atau lebih lengkapnya, DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta. Dimana pertengahan Januari akan kedatangan seorang Ulama Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia.

Beliau adalah Prof. DR. Muhammad Shalih Albarrak hafizhahullah, yang juga merupakan salah satu murid senior dari Ulama Besar Abad ini yaitu Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Rencananya Syaikh Albarrak akan mengisi Tabligh Akbar Pemuda di Masjid Istiqlal, Jakarta pada tanggal 17 Januari 2018 pkl 18.00-20.30 WIB dengan tema “From Zero To Hero With Alqur’an“.

Acara yang disponsori oleh LAZIS Wahdah ini juga akan menghadirkan Ustadz Zaitun Rasmin (Wakil Sekjen MUI) dan Insya Allah akan hadir Bapak Sandiaga Salahuddin Uno, M.B.A., yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kegiatan Tabligh Akbar Syaikh Albarrak diselenggarakan atas kerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda seperti : Rohis DKI, JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia), ARMI (Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal) dan LDK Albashirah.

Syaikh Albarrak yang baru berkunjung dua kali ke Indonesia ini, rencananya akan melakukan melanjutkan safari dakwah ke Bandung pada 20 Januari 2018 dan ke Pangandaran pada 22 Januari 2018.

“Syeikh Prof. DR Muh. Sholeh Al Barrak hafizhahullah adalah ulama tafsir yang masyaAllah sangat mutamakkin, beliau pernah mengajar kami dan beberapa asatidzah di kelas di Jamiah Islamiyah. Kalo Syeikh Utsaimin ke Medinah atau ke kampus maka beliau yang mendampinginya karena beliau termasuk murid Syeikh Utsaimin yang tersenior”, kata Ustadz Yusran Ansar, seorang alumni Universitas Islam Madinah.

“Ikhwah di Jakarta dan sekitarnya jangan sia-siakan istifadah dgn mengikuti acara tersebut”, lanjut Ust M Yusran Anshar, PhD., yang juga merupakan Rektor Sekolah Tinggi Bahasa Arab Wahdah Islamiyah.

Karena itu, diharapkan kepada setiap Kaum Muslimin agar bersegera bisa menghadiri acara Tabligh Akbar di atas dan dapat mengajak keluarga yang lain.

Bagi anda yang tidak sempat menghadiri dan ingin mendukung acara tersebut dan dakwah Alqur’an dapat menyalurkan donasinya melalui Bank Syariah Mandiri (451) 497 900 900 9 an LAZIS Wahdah Sedekah. Kode transfer 300. Contoh Rp 100.300,-. Informasi dan komfirmasi 08119787900 (call/wa/sms).(ayd).

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Masya Allah! Sesunguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersama para penghafal Al Qur’an. Dia senantiasa mengulurkan bantuan dan pertolongan-Nya kepada mereka. Oleh sebab itu, anda akan mendapati mereka sebagai orang-orang kuat.

Pembaca yang budiman, jika anda membaca kisah kisah para sahabat, maka anda merasa takjub. Benar! Pada awalnya mereka menemukan sesuatu untuk demikian, tetapi meskipun demikian mereka adalah orang orang yang keras terhadap orang orang kafir dan saling menyayangi diantara sesama muslim.

Dengan segala keterbatasan yang ada,mereka sanggup melangkah orang orang Quraisy, kemudian mengalahkan seluruh kabilah kabilah (suku) kaum Musyrikin. Setelah itu, mereka memusatkan perhatian kepada Kisra (kekaisaran Persia) dan Kaisar (kekaisaran Romawi) hingga benar benar menghancurkan dan melenyapkan keduanya. Dengan apakah?. Dengan Al Qur’an yang mulia.

Janganlah anda mengira bahwa kekuatan terletak pada besarnya badan dan kebesaran nama. Sekali kali tidak. Sesungguhnya, kekuatan itu adalah kekuatan hati, maka barangsiapa yang merasa ragu, hendaklah ia mendalami sirah Rasulullah dan kehidupan para sahabatnya.

Saudara tercinta, benarkah ingin menjadi kuat dan pemberani?. Jjika benar, berpegang teguhlah kepada Al Qur’an, taati dan hiduplah di bawah naungannya!

Baca Juga: Tujuh Faidah bagi Penghafal Al-Qur’an (1) : Allah Mencintai Para Penghafal Al-Qur’an

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Bagi anda para muslimah yang sedang bingung mengisi liburan akhir tahun kali ini ..
Yuks jangan sampai terlewatkan kesempatan berlibur penuh makna bersama Alquran
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Daftarkn diri anda segera dan dapatkan diskon 10% bagi 3 orang pendaftar pertama
ONLY MUSLIMAH
📶 Kuota Terbatas
📝 PERSYARATAN:
1. Muslimah usia 17-25, tahun
2. Mampu membaca Al Qur’an
4. Sehat jasmani & rohani
5. Tidak membawa anak kecil
🎯 TARGET :
3 JUZ 🎁 *FASILITAS
– Asrama – Makan 3x sehari – Pembimbingan hafalan dengan waktu yang intensif
– Mesin Cuci
📌 PENDAFTARAN :
1 – 15 Januari 2018
📩 Cara Daftar

  1. DAFTAR ONLINE
    Ketik NamaPeserta#Kampus#Alamat#
    Kirim ke 085331273578(SMS/WA)
    Ex: Maryam#UI#Cimanggis,Depok#
  2. DAFTAR LANGSUNG DI LOKASI

    📆 *MULAI PROGRAM*
    15-22 Januari 2018 🎀 INFAK PESERTA : Rp 300.000 ☎ *HUBUNGI* 085331273578 / 0217751254

📍LOKASI
RUMAH TAHFIDZ ASSAKINAH
jl. Fatimah bawah No 26 Rt 02 Rw 14 Kel.Kemiri Muka Kec. Beji Depok Jawa Barat
🏢Presented By
Rumah Tahfidz Assakinah
Yayasan Al Hijaz Al khaeriyah indonesia

Syakir Daulay Berbagi Tips dan Inspirasi di 3rd UI IBF 2017

Di hadapan pengunjung yang memadati gedung Balairung UI Syakir Daulay  berbagi tips sukses dan inspirasi. Syakir menyampaikan  cerita tentang masa kecilnya yang selalu mendengarkan Murattal.

(Depok-wahdahjakarta.com)- Lembaga Dakwah Kampus Pesona Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (LDK Salam UI)  mengadakan  UI Islamic Book Fair (UI IBF) di Balairung Kampus UI Depok. Rabu (27/12) pagi UI IBF 2017 dimulai denga acara Story Telling, lomba mewarnai. Acara  intinya adalah seminar yang menghadirkan Aktris sekaligus Hafidz Qur’an, Syakir Daulay.

Di hadapan pengunjung yang memadati gedung Balairung UI Syakir berbagi tips sukses dan inspirasi. Syakir menyampaikan  cerita tentang masa kecilnya yang selalu mendengarkan Murattal, baik ebelum tidur maupun makan.

“Saya jadi seperti ini karena dekat dengan Al-Qur’an, dekat dengan Allah dan Rasul-Nya”, katanya. “Orang yang dekat dengan Al-Qur’an itu akan dinaikkan derajatnya sama Allah”, imbuhnya sambil membacakan ayat Al-Qur’an.

“Sering saya sering mendengarkan Murattal yang selalu diputar setiap hari dirumah, dari sana saya tertarik untuk masuk ke pesantren yang ada di Jakarta “Daarul Qur’an”  milik ustadz Yusuf Mansur, yang sebelumnya pesantren itu tidak sebanyak sekarang, ya kurang lebih 50-an orang. Tapi sebelum ke Jakarta menuju ke Pesantren Milik ustadz Yusuf Mansur yang dimana usia saya ketika itu 9 tahun yang ditemani Abang saya berusia 12 tahun”, kisahnya penuh semangat.

“Sebelum ke Jakarta, Ayah saya itu minjamkan uang buat ongkos kesana bersama kakak, ketika sampai disana saya tidak tahu mau naik Bus dan nanti entah mau kemana. Saya dulu orangnya susah ya, tapi sekarang sudah di angkat derajatnya, dan bukan hanya saya tapi juga orang tua, berkat dari Al-Qur’an.

Selain menyampaikan keutamaan belajar Al-Qur’an, Syakir juga menyampaikan tentang Shadaqah.  “Saya bertanya kepada ustadz Yusuf Mansur “Bagaimana cara menjadi Kaya” , kenangnya ketika bertanya kepada ustadz Yusuf Mansur.  “Kalau mau menjadi kaya, yaa perbanyak Shadaqah, kalau tidak bisa 10jt yaa 100rb,dan kalau masih tidak bisa  ya minimal 10rb,sampai seterusnya”, lanjutnya menirukan suara dan jawaban Ustaz Yusuf . [Rep:Jundi/ed:Sym]

Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Wahdah Jakarta Utara Gelar Training Qur’an Muslim Jaman Now

 

Jakarta (wahdahjakarta.com)- Sabtu (26/11) Markaz Qur’an Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Jakarta Utara menggelar Training Qur’an. Training yang mengangkat Muslim Jaman Now ini menghadirkan dua narasumber ustaz Syamsuddin, M. Pd.I (Pimpinan Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Bogor) dan Ustaz Fakhrizal Idriz, Lc (Da’i Wahdah Islamiyah DKI Jakarta).

Dalam materinya Ustaz Syamsuddin menjelaskan tentang dampak dan akibat mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an. “Mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an merupakan perkara besar dan serius”, ujarnya. “Sebab Rasul pernah mengadukan kepada Allah perilaku kaum dan ummatnya yang meninggalkan Al-Qur’an, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 30”, terangnya.

Selanjutnya kandidat Doktor Universitas Ibn Khaldun Bogor ini menyebutkan beberapa contoh sikap mengabaikan Al-Qur’an. “Mengabaikan atau meninggalkan Al-Qur’an diantaranya dengan tidak mengimani, tidak mendengarkan, tidak membaca dan mempelajari, serta tidak mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur’an”, jelasnya.

Adapun dampak meninggalkan Al-Qur’an dapat mengakibatkan kesempitan hidup, terjatuh dalam kedzaliman dan kesesatan, serta mudah diperdaya oleh setan. “Pada level komunal, menjauhi dan mengabaikan Al-Qur’an merupakan sebab kehinaan suatu masyarakat serta kekalahan sebuah ummat dan bangsa”, imbuhnya.

Oleh karena itu sebagai solusinya setiap Muslim hendaknya kembali kepada Al-Qur’an dengan mempelajari dan mengajarkannya. “Kegiatan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an harus jadi prioritas dalam agenda hidup kita, sebab ia merupakan syarat menjadi manusia terbaik di sisi Allah”, tegasnya.


Sementara Ustaz Fakhrizal menjelaskan tentang salah satu fungsi Al-Qur’an sebagai obat dan penawar bagi penyakit syahwat dan syubhat yang menimpa jiwa manusia. “Sebagaimana tubuh manusia dapat timbul penyakit maka jiwa atau ruh manusia juga berpenyakit, dan penyakit jiwa ada dua, yakni syahwat atau hawa nafsu dan syubhat”, ujar alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah ini.

“Dan kedua penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan Al quran”, lanjutnya. “Syahwat disembuhkan dengan cara menyalurkannya sesuai syari’at yang termaktub dalam Al-Qur’an, dan syubhat disembuhkan dengan ilmu dan kebenaran yang terbukti ada dalam Al-Qur’an”, pungkasnya. [sym]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]