Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Al-malik (raja) artinya allh swt. Berkuasa atas segala suatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu, Al-malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi baliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya
Allah swt. Berfirman

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”  (Al-Hasyr: 23).

 

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۖ لَاإِلَٰهَ إِلَّاهُوَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenermya; tidak ada tuhan (yang Berhak disembah) selain Dia. Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.” (Al-Mukminun: 116).

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّمَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّمَ نْتَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau hendaki. Di tangan Engkau Maha Kuasa atas segala kebaikan Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran: 26)

Dan Rasulullah saw. Bersabda “Di hari kiamat kelak Allah swt. Akan mencengkram bumi, kemudian melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Saat itu Dia berkata “Akulah Raja, di manakah orang-orang yang mengaku dirinya raja?”

Setelah mengetahui makna nama Allah subhanahu wata’ala  Al-Malik ini;

  • Tidak selayaknya kita merendahkan diri kita di depan salah satu makhluk-Nya,
  • Kita juga seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan Allah swt. Lebih terjaga daripada apa yang ada di tangan kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memiliki segala sesuatu,
  • Hendaknya kita merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala Dan tidak merasa butuk kepada yang lain,
  • Hendaknya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita sejatinya adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala, kapan saja dan dengan cara bagaimanapun Dia bisa mengambilnya kembali. Dari satu kita tidak perlu merasa khawatir, tapi hendaknya berdoa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.,

سبحان ذي الجبروت والملكوت والكبرياء والعظمة

Mahasuci Allah swt. Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, keangkuhan, dan keagungan.”

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 15-17

Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka! Begini Caranya

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, begitu bunyi perintah Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6. Melalui ayat ini  Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ini penting menjadi perhatian setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. “Setiap jiwa akan merasakan kematian, maka bangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung”. (terj. Qs. Ali-Imran ayat 185).
Lalu, dengan apa dan bagaimana seorang menjaga diri dan keluarganya dari Api Neraka? Berikut penjelasannya.

1. Bekali Keluarga dengan Ilmu
Ilmu merupakan perkara yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Ia merupakan poros dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kebaikan dan dapat membedakannya dengan keburukan. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Allah. Dengan ilmu seorang mengetahui tujuan hidup dan keberadaanya di dunia yang fana ini. Dengan ilmu juga seseorang mengelola dan menjalani hidupnya di dunia ini dengan benar, sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menemupuh jalan untuk mencari ilmu, maka dengan itu Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (terj. HR. Muslim). Dimudahkan masuk surga mengandung makna dijauhkan dari neraka.

Dalam Islam mencari ilmu hukumnya wajib, sebagaimana diterangkan oleh banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya sebuah hadits yang diriwatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mencari ilmu hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap Muslim” .
Oleh karena itu dalam ajaran Islam kewajiban seorang kepala keluarga dalam rangkan membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling tidak seorang Muslim belajar Ilmu fardhu ‘ain dan mengajarkannya kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya, yakni anak dan istrinya.

2. Didik Mereka Menjadi Pribadi Yang Beradab
Seorang Ilmuwan Melayu Syed Naquib al-Attas mengatakan, Sebab utama berbagai masalah dunia Islam saat ini adalah problem ilmu dan ketiadaan adab (the loss of adab). Oleh karena itu beliau menurut beliau, solusi mendasar bagi persoalan ummat Islam saat ini adalah pendidikan berbasis adab. Beliau menyebutnya dengan istilah ta’dib.
Ini penting mejadi perhatian, mengingat pendidikan formal saat ini telah kehilangan ruh adab. Berbagai kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak muda dan pelajar merupakan salah bukti, lembaga pendidikan formal hampir gagal menanmkan adab kepada para peserta didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan berbasis adab yang bermula dari pendidikan keluarga. Karena memang pada asalnya tanggung jawab utama dan pertama pendidikan (ta’lim dan ta’dib) terhadap anak adalah pada orang tua.

Tentu saja yang dimaksud dengan adab di sini bukan sekadar sopan santun dan tata krama terhadap sesam manusia. Tetapi adab yang mencakup adab kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama manusia seperti adab kepada orang tua, guru, kawan, dan sebagainya. Karena pada hakekatnya makna adab dalam bahasa Islam adalah memberikan kepada yang berhak haknya. Memuliakan yang harus dimuliakan dan tidak memuliakan yang tidak pantas dimuliakan.

3. Ajak Keluarga Melakukan Ketaatan

Upaya selanjutnya dalam rangka melindungi diri dan keluarga dari apai neraka adalah senantiasa melakukan ketaan kepada Allah dan meninggalkan maksiat dan menyuruh mereka untuk melakukan hal itu. Karena makna, “jagalah dirimu dari api neraka” adalah “lakukan ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maskiat kepada-Nya”, kata Ibnu Abbas dan “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah”, kata Muqatil dan ad-Dhahak.

Ketaatan pertama yang harus menjadi perhatian seorang Muslim dan mendidik keluarganya adalah tauhid dan shalat. Sebab tauhid merupakan kebaikan yang paling baik. Karena kebaikan dan ibadah yang dikerjakan seorang hamba harus tegak di atas tauhid. Tauhid merupakan kunci syuga dan jalan keselamatan dari neraka. Bahkan tauhid merupakan tujuan hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu seluruh nabi dan Rasul diutus oleh Allah untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah Ta’ala.

Sedangkan shalat merupakan tiang agama dan rukun Islam yang kedua. Ia juga merupakan pembeda antara Muslim dan Kafir atau Musyrik. Imam Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan, “Jagalahah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, mengatakan, Termasuk bagian dari makna ayat ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan anak kalian melakukan shalat bila telah berusia, dan bila telah berusia sepuluh tahun maka pukullah jika enggan melakukan shalat”. (Terj. HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy).

Ayat dan hadits ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anaknya mendirikan shalat. Dalam ayat lain Allah juga menegaskan, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya”. (terj. Qs. Thaha:132). Para Nabi dan Rasul Allah (termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan orang-orang shaleh terdahulu telah mengamalkan ayat ini dengan bersungguh-sungguh dalam menyuruh keluarga mereka melakukan shalat (Lih. Qs. Maryam: 55, Luqman:17).

4. Larang Keluargamu Melakukan Maksiat

Selain ilmu, adab, dan perintah melakukan ketaatan, upaya melindungi dan membentengi diri dari api neraka hendaknya dilakukan pula dengan melarang mereka dari berbuat maksiat. Hal ini juga merupakan bagian dari makna “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, sebagaimana dikatakan oleh Muqatil dan Ad-Dhahak.

Maksiat pertama yang harus dihindarkan dari keluarga kita adalah syirik. Sebab syirik merupakan dosa yang akan menyebabkan pelakukan kekal dalam neraka. Orang yang melakukan kesyirikan dan meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa syirik, maka dosanya tidak diampuni (Qs.4:48) dan ia kekal dalam neraka, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang yang berbua syirik maka Allah haramkan bagina surga dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada bagi orang-oranag dzalim itu penolong sedikitpun”. (terj. Qs. Al-Maidah:72).

Saking besarnya bahaya dosa sirik ini Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam memohon secara khusus kepada Allah agar diri dan anak keturunannya dihindarkan dari kesyirikan. “Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata, wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkan aku serta anak keturunanku dari menyembah berhala”. (terj. Qs. Ibrahim:35).

Selanjutnya maksiat yang harus dijauhkan oleh seorang Muslim dari keluarganya adalah dosa-dosa besar seperti riba, zina, khamr, judi, sihir, dan sebagainya. Lalu kemudian dosa-dosa kecil dan perilaku tercela lainnya. Dan hendaknya seorang Muslim tidak meremehkan perbuatan dosa, sekecil apapun dosa tersebut. Karena setiap dosa mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus dan disertai sikap meremehkannya akan menjelma akan menjadi besar siksanya di sisi Allah.

5. Bimbing Keluarga Untuk Selalu Ingat Kepada Allah dan Berdzikir Kepada-Nya
Diantara makna ayat, “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, sebagaimana diatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan melakukan ketaatan kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan menyuruh mereka untuk berdzikir kepada Allah. Beliau menyebutkan dzikir, padahal dzikir merupakan bagian dari ketaatan terhadap perintah Allah (misal, Qs. Al-Baqarah:152, Qs. Al-Ahzab:41, Qs. Al-A’raf: 205, dsb). Hal ini untuk menekankan pentingnya ibadah dzikir dalam kehidupan seorang hamba. Sebab dzikir merupakan sebab memperoleh ampunan (maghfirah) dan pahala yang besar (Qs. 33:35), sumber dan kunci ketenangan hati (Qs. 13:28)

Dalam banyak haditsnya Rassulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan fadhilah (keutamaan) dan kedudukan dzikir. Diantaranya sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidziy dan Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dzikir merupakan sebaik-baik amalan, paling suci di sisi Allah, mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, dan lebih baik dari menginfakkan emas, dan perak, dan lebih baik dari bertemu dan berperang melawan musuh. Dalam hadits lain Nabi mempermisalkan orang berdzikir seperti orang hidup dan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati.

Selain itu ibadah dzikir juga memiliki banyak manfaat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan sampai enam puluh manfat dzikir dalam kaitabnya al-wabilus Shayyib. Oleh karena itu sepantasnya seorang Muslim khususnya kepala keluarga menganjurkan keluaganya; anak dan istrinya untuk memperbanyak dzikir kepada Allah. Hal ini termasuk salah satu langkah seorang menghindarkan keluarganya dari neraka. [sym]

syafa'at

Syarat Syafa’at

Secara umum syafa’at menurut al-Qur’an terbagi dua, yakni syafa’at mutsbatah dan syafa’at manfiyyah. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an atau diterima oleh Allah. Sedangkan syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang dinafikan ditolak. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang datang dari orang musyrik dan atau syafa’at untuk orang musyrik. Sedangkan syafa’at yang diterima adalah syafa’at dari dan atau untuk orang beriman dan bertauhid yang memenuhi syarat serta mendapat idzin ridha dari Allah.

Syafa’at yang ditetapkan oleh Al Qur’an dan diterima oleh Allah hanya bagi orang bertauhid dan beriman, yang memenuhi dua syarat yaitu;
1. Idzin Allah kepada syafi’i (pemberi syafa’at) untuk memberikan syafa’at, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat, diantaranya Surah Al-Baqarah ayat 255 dan Saba ayat 23;
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).
وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
Tiada bermafaat syafa’at di sisi-Nya kecuali bagi orang yang telah diidzinkan-Nya”. (terj. Qs. Saba:23).
Kedua ayat tersebut menafikan syafa’at yang tidak mendapat idzin dari Allah.
Yang berlaku dan berguna hanya syafa’tnya yang telah mendapat idzin dari Allah.

  1. Ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan penerima untuk menerima syafa’at, sebagaiamana firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 28;
    وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ ﴿٢٨﴾
    Dan mereka (Malaikat) tidak dapat memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai (Allah)”, (terj. Qs. Al-Anbiya:28).
    Kedua syarat di atas juga terrangkum secara bersamaan dalam satu ayat pada firman Allah, Surah an-Najm ayat 26 dan Thaha ayat 109;
    وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾

Dan berapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka tidak tidak berguna sedikitpun, kecuali seudah Allah mengidzinkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan diridhai-Nya”. (terj. Qs. An-Najm:26).
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا ﴿١٠٩﴾
Pada hari itu tidak bermanfa’at syafa’at kecuali dari orang yang diidzinkan oleh Ar Rahman dan Dia ridhai perkataanya”. (terj. Qs. Thaha: 109).

Kedua ayat di atas mengabarkan bahwa syafa’at hanya berlaku bila ada idzin dan ridha dari Allah. Yakni idzin kepada pemilik syafa’at dan ridha kepada pemberi dan penerima syafa’at. Maksudnya idzin dan ridha kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha-Nya kepada penerima syafa’at untuk menerima syafa’at. Ahli tauhid sekalipun tidak memiliki syafa’at , kecuali setelah mendapat idzin dan ridha dari Allah. Bahkan Malaikat sekalipun, sebagaimana dalam ayat di atas, syafa’at mereka tidak berlaku sama sekali kecuali dengan idzin dan ridha Allah. Jika Malaikat saja yang disifati oleh Allah sebagai hamba-hamba yang mulia (‘Abadun Mukramun) , tidak berguna syafa’at merea tanpa idzin dan ridha Allah, bagaimana dengan selain mereka. Oleh karena itu ahli Tauhid pun tidak memiliki syafa’at, kecuali setelah ada idzin dan ridha Allah, berdasarkan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 255, “Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).

syafa'at

syafa’at

berwasiat

Berwasiat Untuk Dikuburkan di Suatu Tempat, Tapi Ditolak Oleh Pengelola Pemakaman

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بع

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.
Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit. (sym)

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222

syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

Tulisan singkat ini akan membahas penjelasan seputar makna, dua kalimat syahadat. Sebab, kalimat syahadat penting untuk dipahami dan dimaknai. Sehingga tidak terucap di bibir saja, tapi merasuk ke hati lalu mengejawantah dalam amalan nyata.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad [47] ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

Ayat tersebut menyuruh untuk mengilmui La Iala Illallah sebelum yang lainnya. Bahkan Imam Bukhari menempatkan ayat tersebut dalam kitab Shahihnya dengan judul bab, “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Syahadat La Ilaha Illallah

Makna La Ilaha Illallah adalah i’tikad (keyakinan) dan ikrar (pengakuan) bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Yakni, keyakinan dan pengakuan yang pasti dan tegas bahwa tak ada satu pun yang berhak diibadahi secara sah melainkan Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Keyakinan dan pengakuan tersebut harus disertai komitmen (iltizam) pengamalan terhadap konsekwensi kalimat syahadat itu sendiri. Singkatnya, beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun adalah pemaknaan yang sebenarnya terhadap kalimat La Ilaha Illallah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19 diatas; “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”

Maksudnya, ketahuilah bahwa Dialah satu-satunya yang berhak terhadap ibadah. Tidak boleh beribadah kepada selain-Nya, karena hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, tiada Ilah selain-Nya, sehingga kita tidak pantas mengalamatkan ibadah kepada selain-Nya.

Tentu saja keyakinan terhadap La Ilaha Illallah tidak sempurna tanpa syahadat Muhammad Rasulullah. Karena keduanya merupakan dua kalimat yang satu paket Sebagai rukun Islam pertama. Keduanya merupakan persaksian yang tak terpisah. Oleh karena itu syahadat La Ilaha Illallahu dan Muhammad Rasulullah dikenal dengan sebutan Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Pengetahuan terhadap makna La Ilaha Illallah harus disertai pula dengan pengetahuan terhadap syahadat Muhammad Rasulullah.

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Makna syahadat Muhamad Rasulullah adalah meyakini sepenuh hati bahwa beliau adalah hamba dan Rasul (utusan) Allah. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan mentaati perintahnya, membenarkan kabar yang beliau sampaikan (tashdiquhu fiymaa akhbara), meninggalkan larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan (mengikuti) syariatnya.

Mentaati Rasul merupakan bukti ketaatan kepada Allah. Dalam banyak ayat al-Qur’an perintah taat kepada Allah digandengkan dengan perintah taat kepada Rasul, semisal dalam surah Ali Imran ayat 32, An-Nisa ayat 59:
“Katakanlah wahai Muhammad, taatilah Allah dan Rasul”. (terj.Qs. Ali Imran:32).
Pada ayat sebelumnya (Qs.3:31), Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi untuk menyampaikan bahwa, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikuti (taati) lah aku”. (terj. Qs. Ali Imran ayat 31).
Dalam surah An-Nisa ayat 59 AllahTa’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mentaati Allah, Rasul, dan ulil amri; “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian”. (terj. Qs. An-Nisa:59).
Dalam ayat lain Allah menyuruh kita untuk mengikuti apa yang didatangkan oleh Rasul, sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 7:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Dan apa yang didatangkan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (taatilah), dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr:7).
Adapaun tasdiquhu fiymaa akhbara mencakup pembenaran terhadap semua berita dan informasi yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, baik kabar tentang peristiwa masa lalu, informasi tentang kejadian pada yang akan datang dan hal-hal ghaib.

Kemudian tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariatnya. Sebab beliau diutus oleh Allah untuk membimbing manusia beribadah kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan syarat diterimanya amal, dimana suatu ibadah takkan diterima oleh Allah kecuali dengan memurnikan niat hanya karena Allah dan memurnikan ittiba (ikut contoh) kepada Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam. (sym).
Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/