Asmaul Husna [27]: As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

As-Sami artinya Allah subhanahu wa ta’ala mendengar. Maksudnya  mendengar sesuatu yang rahasia dan suara yang disembunyikan.

As-Sami’ adalah yang pendengaran-Nya melingkupi segala sesuatu yang bersifat dapat didengar. Baginya tidaklah berbeda antara suara yang keras, pelan, diucapkan, dan tidak diucapkan.

Karena  itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa, dan memaklumi kesalahan hamba-hambaNya ketika mereka mengakuinya.

Maha  suci Allah yang mendengar doa dalam satu kesempatan. Maha suci Allah yang mengabulkan beberapa doa dalam satu kesempatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Ya Tuhan kami Terimalah dari kami amalan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqrah: 127).

Dan  Allah maha mendengar lagi maha melihat”.  (An-Nisa: 134).

“Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha melihat”. (Al-Isra: 1).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan melihat”. (Sumber: Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustofa Warbah).

10 TAHUN AQL, UBN BERI PESAN DAMAI LEWAT TEMA “PEACE IS POWER”

 

UBN mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim.

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center menggelar Milad Akbar pada selasa (11/9/ 2018) yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H, di Balai Kartini, Kuningan Jakarta Selatan me.

Ada pesan penting yang disampaikan mengambil tema “PEACE IS POWER”. Menurut pendiri AQL, Ustadz Bactiar Nasir (UBN), tema ini diambil untuk memberi tahu publik bahwa Islam adalah agama yang damai dan bukan agama teroris, seperti yang dituduhkan semenjak peristiwa Nine Eleven, 11 September 2001 lalu.

“Walaupun World Of Terrorist sudah dihentikan oleh pemerintahan Obama pada 21 April 2013, namun propaganda kebencian yang diedarkan oleh Donald Trump belakangan ini dengan isu-isu baru tentang Islam adalah sebuah fitnah besar bagi umat Muslim di kalangan masyarakat,” ujar UBN dalam Press Conference sebelum acara dimulai.

Oleh sebab itu UBN membuat milad akbar ini dengan bertajuk kedamaian, agar isu-isu yang beredar di kalangan masyarakat tersebut bisa dinetralisir hingga dihentikan. “Kami ingin mengingatkan Donald Trump bahwa terorisme yang dilekatkan kepada Islam adalah sebuah kesalahan yang besar,” imbuhnya.

Melalui acara tersebut, Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini, yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim. “Karena sejatinya umat muslim adalah umat yang menjaga perdamaian, dan bukan umat yang berprilaku keras”, jelasnya.

AQL Islamic Center yang berpusat di Tebet Utara Jakarta Selatan ini didirikan pada 1 Muharram 1429 H yang bertepatan dengan 29 Desember 2008 dengan visi besar membangun peradaban dengan Al-Quran. Visi ini didorong kesadaran pendiri AQL Islamic Center, bahwa rahmat Allah terbesar bagi umat manusia itu adalah Alquran.
(Rep: Fry/Ed:sym).

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Maha Mengetahui)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)

Al-‘Alim artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum dan sesudah sesuatu itu ada. Tidak  ada sesuatupun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari penglihatan Allah. Segala sesuatu baik yang dekat maupun yang jauh dapat dilihatNya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

Katakanlah Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua Kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan dialah Maha Pemberi Keputusan lagi maha mengetahui”. (Qs. Saba: 26).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Pencipta lagi maha mengetahui”. (Qs. Al-Hijr: 86).

Maha Suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi maha bijaksana”. (Qs.Al-Baqarah:32).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mengucapkan setiap pagi dan petang Dengan nama Allah yang karenanya yang karena namanya tidak ada sesuatupun yang membahayakan baik di bumi dan di langit dan Allah Maha Mengetahui mendengar dan maha mengetahui sebanyak 3 kali maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan nya”.

Kadang-kadang ada juga hambaNya yang mempunyai sifat mengetahui. Orang  seperti itu dinamakan Alim, dan dalam bentuk jamak disebut ulama. Namun  sungguh jauh perbedaan antara ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ilmu hambaNya. Ilmu  seorang makhluk sangat terbatas. Sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala melingkupi segala sesuatu dan tidak ada batasnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu”. (Qs. Fushilat: 54).

Letak perbedaan yang lain adalah karena ilmu manusia sangat tergantung dengan sarana, prasarana, penelitian dan lain sebagainya. Semua  itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan pada ilmu tersebut sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala bersifat tetap dan tidak akan berubah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (Qs. Maryam:64).

Kemudian  semua ilmu yang kita miliki tidak lain adalah pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. (Qs. Al-Baqarah: 255).

 “Dan juga Karena Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepada mu apa yang belum kamu ketahui”. (Qs. an-Nisa: 113).

 Agar  manusia yang berilmu tidak merasa bangga dengan ilmunya sehingga membuatnya sombong. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan mereka bahwa;

Dan di atas tiap-tiap Orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”. (Qs.Yusuf:76).

Asmaul Husna; Al-Fattah (Maha Pembuka Rahmat)

Asmaul Husna Al-Fattah (Maha Pembuka Rahmat)

 Al-Fattah berasal dari kata al-fathu, yang berarti menghakimi. Oleh Karena itu, Al-fattah berarti yang menghakimi, Karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang menghakimi di antara makhluk-makhluk-Nya. Dialah yang memisahkan antara yang benar dan yang salah. Halal dan haram Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan, sehingga yang benar bisa dimenangkan, dan yang salah bisa dikalahkan.

Al-Fattah juga berarti yang membuka pintu rezeki dan rahmat untuk hamba-hamba-Nya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala juga mempermudah jalan-jalan yang sulit, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui” (saba’ : 26)

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya,”( Fathir: 2)

Mengingat bahwa pintu kebaikan kadang dibuka oleh manusia pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, maka untuk membedakan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pembuka rahmat yang paling baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya,”( Al-A’raf: 89).

(Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm. 50-51). [sym/wahdahjakarta.com].

Asmaul Husna; Ar-Razaq (Maha Pemberi Rezeki)

 

 

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Qs. Az-Zariyat:58)

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainlah Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tampat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata.” (Qs. Hud:6)

Setiap mkahluk yang ada di atas bumi telah Allah subhanahu wa ta’ala tentukan rezekinya. Rezeki itu akan datang kepadanya kapan dan dengan cara yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki itu ada dua macam. Pertama adalah rezeki unik anggota tubuh, seperti, makanan, minuman, dan pakaian. Dan kedua adalah rezeki untuk ruh, seperti ilmu pengetahuan dan ilham dari Allah subhanau wa ta’ala.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Malaikat Jibril pernah menyampaikan kepadaku bahwa seorang manusia tidak akan mati sampai dia benar-benar mendapatkan semua rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan perbaikilah caramu dalam mencari rezeki. Ambilah sesuatu yang halal, dan tinggalkanlah sesuatu yang haram. Jangan sampai karena rezeki lambat datang, akhirnya engkau mencarinya dengan sebuah kemaksiatan, karena sesungguhnya semua ada di sisi Allah subhanau wa ta’ala hanya bisa didapatkan dengan sebuah ketaatan.”. (Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm. 48-49). [sym].

Asmaul Husna: Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Asmaul Husna Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Asmaul Husna Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Al- Wahhab artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hamba-Nya karunia yang banyak sekali. Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa meminta balasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahikanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangjua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi” (Qs. Shad:35)

أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ

Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi” (Qs. Shad:9)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 

“(Mereka berdoa); “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karunikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran:8)

Allah subhanahu wa ta’ala lah yang telah mengkaruniakan kita kecukupan, kesehatan, kekuatan, dan kehidupan. Dia pula yang mengkaruniakan kita kebahagiaan, keberhasilan, dan jalan-jalan mendapatkan rezeki, dan keturunan baik laki-laki maupun perempuan. (Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm. 46-47). [sym].

Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Asmaul Husna; Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Asmaul Husna; Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Al- Qahhar artinya Allah subhanahu wa ta’ala   memiliki kekuasaan penuh dalam mengungguli dan memaksa orang-orang yang kuat dan berkuasa.
Sesuai nama ini, berarti segala hal yang diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala. pada diri makhluk-Nya pasti akan terjadi. Baik mereka mau atau tidak, senang atau benci. Karena segala sesuatu yang ada, baik makhluk hidup atau mati semuanya berada di bawah kendali Allah subhanahu wa ta’ala.

Kendali Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya bermacammacam bentuknya. Hal itu karena tidak terbatasnya kekuasaan, kebijaksanaan, dan ilmu Allah swt. Bisa saja berbentuk membuat diri lemah, sakit, bahkan mati. Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan ” (Qs. Az-Zumar: 4)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku. hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.” (Qs. Shad: 65)

Dengan memahami dan menghayati nama Al-Qahhar, kita terdorong untuk selalu memaksa dan menguasai jiwa kita, sehingga jiwa kita tidak jahat dan melampaui batas-batas agama. Hal ini merupakan awal perjalanan menuju keselamatan kita dari marabahaya. [sym].