Asmaul Husna [10]: Al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Keagungan)

Asmaul Husna [10] Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir artinya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang memiliki kesombongan dan kebesaran. Kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala pun diatas segalanya.

Dengan nama ini, maka kebesaran hanya milik-Nya. Seluruh ciptaan-Nya tunduk patuh terhadap kekuasaan dan keagungan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ

Yang artinya: “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan.” (Al-Hasyr: 23)

Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,Kesombongan adalah pakaian atas-Ku dan kebesaran adalah pakaian bawah-Ku. Barangsiapa mengambil salah satu dari dua hal ini, maka akan Aku lemparkan ke dalam neraka.”

Karena itu, kesombongan Allah subhanahu wa ta’ala adalah tidak terbatas, dan kebesaran-Nya juga tidak ada batasnya.
Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa dalam kebesaran dan memiliki kerajaan-Nya; Maha Esa dalam memiliki keagungan dan kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٣٦﴾ وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٣٧

Yang artinya: “Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nya lah keagungan dilangit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jatsiyah: 36-37)

Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang berlaku sombong, dan mengancam mereka dengan neraka Jahanam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (An-Nahl: 23)

وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٧﴾ يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٨﴾

Yang artinya: “Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (Al-Jatsiyah: 7-8)

Dengan mempelajari nama ‘Al-Mutakabbir’, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1. Kita hendaknya bersikap tawadhu’ terhadap orang lain, walaupun kedudukan kita tinggi, dan perkataan kita biasa ditaati.
2. Kita hendaknya selalu membersihkan hati kita dari sifat takabbur. Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang bersifat dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini.

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna; Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Al – Jabbar berarti berkuasa untuk memaksakan keinginan-Nya kepada hamba-Nya, berkuasa untuk memerintah dan melarang, sehingga hamba-hamba-Nya hanya bisa berkata sami’na wa atha’na saja.

Al– Jabbar juga berarti yang kuat dan tahan, sehingga tidak ada yang bisa berbuat buruk dan membahayakan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ 

Dia-Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhhak disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa.” (Al-Hasyr:23)

Nama Al-Jabbar  mempunyai tiga makna; Kuasa Kekuatan, Kuasa Kasih Sayang, dan Kuasa Ketinggian.

Kuasa Kekuatan, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala penguasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengalahkan mereka semua dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Kuasa Kasih Sayang, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyayangi orang lemah, memperbaiki keadaannya dengan cara memberi mereka kekayaan dan kekuatan.

Sedangkan Kuasa Ketinggian, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahatinggi diatas seluruh ciptaan-Nya, tidak ada makhluk yang bisa mencapai-Nya.
Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdoa, “Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki Kekuasaa, Kerajaan, Keangkuhan, dan Keagungan.”

Dari memahami makna-makna diatas, dapat diambil pelajaran bahwa;
a. Sudah selayaknya seorang mukmin meminta pertolongan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Baik dalam menguatkan yang lemah, ataupun dalam mengalahkan seorang yang dzalim.

b. Seorang mukmin hendaknya selalu menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena kehendak-Nya pasti terlaksana, dalam hal apapun dan kepada siapapun.

Asmaul Husna [8] Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

Asmaul Husna [8]: Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

AL Muhaimin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengawasi dan menyaksikan seluruh makhluk-Nya, berkuasa atas diri mereka dengan penuh perhatian dan kekuasaan, memberi mereka rezeki dan kehidupan.

Dengan nama ini, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui seluruh perbuatan kita, baik itu yang kita tampakkan ataupun kita sembunyikan, di siang hari ataupun malam hari. Tidak ada sesuatupun dilangit dan di bumi yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Bahkan gerakan mata yang cepat dan lintasan niat dalam hati, dapat diketahui-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

الْمُهَيْمِنُ مُؤْمِنُ ا لسَّلَامُ ا لْقُدُّوسُ ا الْمَلِكُ هُوَ لَّا إِلَٰهَ لَا ي الَّذِ اللَّهُ هُوَ

Dia Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selainDia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara.” (Al Hasyr ; 23)

شُهُودًا عَلَيْكُمْ كُنَّا إِلَّا عَمَلٍ مِنْ تَعْمَلُونَ وَلَا

Dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.” (Yunus:61)

Kekuasaan dan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat sempurna. Dengan kesempurnaan itu, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar segala suara yang disamarkan dan dibisikkan; mendengar rasa syukur dan keluh kesah; hingga akhirnya menolak bahaya dan musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang melimpahkan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat yang amat banyak.

Penghayatan kita terhadap nama ini akan membuat kita merasa malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  dengan  sebenar-benarnya. Kita mearasa selalu diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala disetiap tempat dan waktu. Maka dengan itu, kita tidak akan berbuat maksiat. Syiar kita setiap saaat adalah “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat dan mengawasiku, bagaimana mungkin aku mendurhakai-Nya.”

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Asmaul Husna Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Kemanan), Gambar:Tadabburdaily.com

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Al- Mukmin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat yang menjadi tempat pelarian dan perlindungan orang-orang yang merasa ketakutan, sehingga kemudian mereka mendapat keamanan. Karena sesungguhnya keamanan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dia-lah Allah Yang Tiada Tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan.’’ ( Qs. Al- Hasyr:23 )

Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah yang menjadi asal kata aman, Amanah,dan Mukmin Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman :

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). ‘’ ( Qs. Al- Baqarah: 283).

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Qs. Al-Baqarah:221 )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang dirasakan tidak membahayakan orang lain dalam nyawa dan harta mereka.’’

Dari namanya, seorang mukmin seharusnya merasakan sebuah keamanan dalam nyawa dan harta mereka;bisa memegang amanah, jujur, dan sama sekali tidak bohong. Nama ini sangat baik untuk dijadikan sebagai Dzikir orang yang sedang merasa ketakutan, karena dengan menyebutkannya sepenuh hati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan memberinya rasa aman dari segala marabahaya. [sym]

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah.

Asmaul Husna [5] Al-Quddus (Yang Maha Suci)

Asmaul Husna [5]: Al-Quddus (Yang Maha Suci). Gambar: Tadabburdaily.com.

Asmaul Husna [5]: Al-Quddus (Maha Suci)

Al-Quddus artinya Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala sesuatu yang bersifat kurang dan cacat. Sebaliknya, Al-Quddus adalah sebuah nama yang mengandung segala sifat kesempurnaan, yang terpuji dengan segala kebaikan dan keutamaan.

Nama ini berasal dari bahasa Arab. Al-Qudsu, yang berarti kesucian. Oleh karena itu, Masjidil Aqsha dinamakan Al-Baitul Muqaddas yang berarti masjid yang dibersihkan dari segala macam dosa.

Malaikat Jibril Alaihis Salam juga dinamakan Ruhul Qudus, karena beliau sangat suci dan bersih dari kesalahan, terutama saat menyampaikan wahyu kepada para Rasul .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (Qs. Al-Hasyr:23)

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Jumu’ah: 1)

Setiap sujud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

سبوح قدوس ربّ الملائكة والروح

“Maha Suci Allah, Rabb para malaikat dan ruh.”

Yang dimaksud dengan ‘Subbuhun’ dan ‘Quddusun’ dalam doa tersebut adalah Dzat yang dibersihkan dan disucikan.

Dengan mengetahui dan merenungkan nama Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini, hendaknya kita selalu menyucikan diri kita dari segala keburukan, selalu menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan baik, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang membuat kita terhina. [sym].
(Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 18-19.

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Al-malik (raja) artinya allh swt. Berkuasa atas segala suatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu, Al-malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi baliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya
Allah swt. Berfirman

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”  (Al-Hasyr: 23).

 

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۖ لَاإِلَٰهَ إِلَّاهُوَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenermya; tidak ada tuhan (yang Berhak disembah) selain Dia. Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.” (Al-Mukminun: 116).

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّمَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّمَ نْتَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau hendaki. Di tangan Engkau Maha Kuasa atas segala kebaikan Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran: 26)

Dan Rasulullah saw. Bersabda “Di hari kiamat kelak Allah swt. Akan mencengkram bumi, kemudian melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Saat itu Dia berkata “Akulah Raja, di manakah orang-orang yang mengaku dirinya raja?”

Setelah mengetahui makna nama Allah subhanahu wata’ala  Al-Malik ini;

  • Tidak selayaknya kita merendahkan diri kita di depan salah satu makhluk-Nya,
  • Kita juga seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan Allah swt. Lebih terjaga daripada apa yang ada di tangan kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memiliki segala sesuatu,
  • Hendaknya kita merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala Dan tidak merasa butuk kepada yang lain,
  • Hendaknya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita sejatinya adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala, kapan saja dan dengan cara bagaimanapun Dia bisa mengambilnya kembali. Dari satu kita tidak perlu merasa khawatir, tapi hendaknya berdoa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.,

سبحان ذي الجبروت والملكوت والكبرياء والعظمة

Mahasuci Allah swt. Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, keangkuhan, dan keagungan.”

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 15-17

Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqh Asmaul Husna)

Izinkan Aku Mengenal-Mu

Kajian Fiqh Asmaul Husna

Majelis Ilmu Muslimah Wahdah DKI Jakarta

Majelis Ilmu Muslimah Spectakuler Awal Tahun

Menghadirkan Pembahasan;

“Izinkan Aku Mengenal-Mu”,

Yang akan mengulas Fiqh Asmaul Husna

Bersama:

  1. Ustadzah Maha Humaymid Al-Mazmumy (Da’iyah dari Jeddah Saudi Arabia)

  2. Ustadzah Asiyah, Lc (Da’iyah Muslimah Wahdah)

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018
Waktu              : 15.30-17.30 WIB
Tempat            : Pesantren Al-Hijaz,Komp.RM Lesehan Pondok Laras, Jln. Komjen M. Jassin (eks. Jln. Akses UI), No. 2E, Kelapa Dua Depok

Pelaksana:

Muslimah Wahdah Wilayah DKI Jakarta

Pesantren Al-Hijaz Al-Khairiyyah Depok

Asmaul Husna [3]: Ar-Rahim (Maha Penyayang)

Asmaul Husna; Ar Rahim

Ar-Rahim (Maha Penyayang)  berasal dari kata “rahmah”, yaitu rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang merupakan sifat wajib bagi Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rahmah ini hanya akan diberikan pada kaum muslimin saja baik di dunia dan akhirat .
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-An’am: 54).

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ﴿٤٣﴾ تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (Qs. Al Ahzab: 43-44)

Nama Ar-Rahim disebutkan bersama nama Ar Rahman dalam 4 ayat dalam Al Qur’an.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang “ (Qs. Al Fatihah:2-3).

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ ﴿١٦٣

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Baqarah: 163)

حم ﴿١﴾ تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٢

Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(Qs. Fushilat: 1-2).

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.“ (Al Hasyr: 22).

Kedua nama ini, Ar-Rahman dan Ar-Rahim juga disebutkan bersama nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebanyak 114 kali dalam beberapa surat.

Walaupun kasih sayang (rahmat) aalah sebuah sifat yang juga diletakkan Allah dalam setiap hati hamba-Nya yang beriman, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala. juga mengingatkan bahwa Dialah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia lebih penyayang dari diri mereka sendiri. Hal ini supaya manusia selalu berusaha untuk menyayangi sesama hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٨٣

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang“. (Qs. Al-Anbiya: 83).

وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ ﴿١١٨

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik“. (Qs. Al-Mukminun: 118)

Dmikian juga nama Ar-Rahim disebutkan bersamaan dengan nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lain seperti At-Tawwab, Al-Aziz, Al-Ghafur, Ar-Ra’uf, Al-Wadud, Ar-Rabb, dan Al-Barru.

Semua itu aalah untuk menunjukkan bahwa hendaknya kita berdo’a dengan menyebutkan nama Ar-Rahim, dan menambahnya dengan nama yang sesuai dengan permintaan kita.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ﴿٢١٧

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (Qs. Asy-Syu’ara: 217)

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٤٩

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Hijr:49)

إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤٣

“…Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Qs. Al-Baqarah: 143)

Setelah mengetahui masud dan arti nama ini, seorang muslim hendaknya selalu membantu saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya; selalu berbuat baik dan menyayangi orang-orang fakir yang berada di sekitarnya sehingga mereka terangkat dari kefakiran. Karena mengangkat seseorang dari kefakiran sebenarnya bisa dilaukan dengan berbagai macam cara; dengan hartanya, kedudukannya, perantaraannya, dan juga dengan doanya. [sym].

Asmaul Husna [2]: Ar-Rahman (Maha Pemurah)

Ar Rahman (Maha Pemurah)

Ar-Rahman (Maha Pemurah) artinya Allah Ta’ala memiliki kasih sayang yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluq-Nya. Maksudnya, Allah Ta’ala menyangi seluruh makhluq-Nya dengan memberikan berbagai kenikmatan. Allah Ta’ala berfirman;

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”. (Qs. Thaha:5)

قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. (Qs. Al-Mulk:29).

الرَّحْمَٰنُ [٥٥:١] عَلَّمَ الْقُرْآنَ [٥٥:٢] خَلَقَ الْإِنسَانَ [٥٥:٣]عَلَّمَهُ الْبَيَانَ [٥٥:٤

(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia.
Mengajarnya pandai berbicara. (Qs. Ar-Rahman: 1-4).

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik). (Qs. Al-Isra:110)

Nama Ar-rahman sama dengan nama Allah, tidak ada satu mahkluk pun yang boleh memakai nama tersebut. Kemudian yang perlu di tekankan, rahmat Allah subahanahu wata’ala meliputi seluruh makhluk-Nya, orang shaleh maupun orang yang banyak bermaksiat. Mereka sama-sama mendapatkan rezki dari Allah subahanahu wa ta’ala, di sembuhkan dari penyakit, dan dihindarkan dari marabahaya. Namun di hari akhirat nanti, rahmat-Nya hanya diberikan khusus untuk orang-orang mukmin.

Rahmat adalah kedudukan yang sangat tinggi, oleh karna itu Allah subahanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa di utusnya Rasulullah sallallahu a’laihi wassallam ke dunia adalah untuk membawa rahmat. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Qs. Al-Anbiya:107).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (Qs. Ali Imran:159).

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sendiri juga bersabda, ”Orang orang yang mengasihi dan menyayangi akan dikasihi dan disayangi oleh Allah yang maha pengasih. Maka kasih sayangilah orang-orang di dunia, hingga engkau akan dikasih sayangi oleh yang di langit.”

Beliau juga bersabda, “Barang siapa tidak mau mengasihi, maka dia pun tidak akan dikasihi.”

Oleh karena itu, setelah mengetahui bahwa Allah subahanahu wa ta’ala. Mempunyai sifat pengasih, maka kita sebagai hamba Allah subahanahu wa ta’ala. Juga hendaknya mau mengasihi orang lain. Bentuk kasih sayang itu, misalnya jika ada orang yang lalai dari jalan yang benar, maka kita hendaknya menasihatinya dengan penuh kelembutan, bukan dengan cara yang kasar.

Kalau kita mempunyai sifat pengasih, kita juga akan mengasihi orang-orang yang berbuat maksiat, bukan maalah menghina dan menyepelekan mereka. Dalam pikirannya ada sebuah keyakinan bahwa semua kemaksiatan yang terjadi di dunia ini adalah malapetaka yang akan menimpanya pula. Karena itu, kemaksiatan sebisa mugkin harus dihilangkan, karena kita juga merasa kasihan kepada mereka yang mengerjakannya. [sym]

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah, hlm. 5-9).

Baca Juga:  Penjelasan Singkat Asmaul Husna [01]: ALLAH