Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya tuhanku maha lembut terhadap apa yang dia khendaki. Sesungguhnya dialah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana” (QS. Yusuf : 100)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿ ١٠٣

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia tidak dapat melihat segala penglihatan itu dan dialah yang maha halus lagi maha mengetahui” (Al-An’am : 103)

Al-lathif artinya Allah Subahanu wa Ta’ala sangat baik dan lembut perbuatannya. Atau yang mengethaui kemaslahatan-kemaslahatan bagi manusia, karena manusia kadang sulit mengetahui hal yang mengandung maslahat baginya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala  mewujudkan kemaslahatan itu dengan cara yang lembut tanpa kekasaran.

Nama ini juga bisa bermakna yang berlaku sangat baik dan lembut kempda hambanya tanpa mereka ketahui , dan menyediankan segala kebutuhan hamba-hambanya tanpa mereka rasakan.

Dalam kehidupan dunia, perlakuakn lembut Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dinikmatisemua makhluknya. Mereka diciptakan dari ketiadaan,  kemudian ditentukan rezeki dan perbuatan mereka.

Sedangkan dalam kehidupan akhirat , Allah Subhanahu Wa ta’ala pengkuhususan orang-orang beriman dengan perlakualan lembutnya. Maha suci Allah yang mahamulia.

Dengan menyebut nama Al-Lathif, kita dituntut untuk bersikap lembut dan sayang kepada hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam kelembutan yang paling nampak adalah kelembutan dalam berbicara. (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

 Asmaul Husna (30):  Al-‘Adlu (Yang Maha Adil)

 Asmaul Husna (30):  Al-‘Adlu (Yang Maha Adil)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil”. (Qs.Al-An’am:115).

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan”. (Qs. An-Nahl: 90).

Al-‘adlu artinya Allah subhanahu wa ta’ala hanya melakukan sesuatu yang pantas dan sudah seharusnya dilakukan. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi dengan kebenaran, tidak condong, sehingga berlaku zalim kepada hambaNya.

Allah subhanahu Wa Ta’ala memberi hambaNya sebagian dari kandungan nama al-‘adlu ini. Yaitu  ketika menciptakan, menyempurnakan, dan membentuk manusia dalam bentuk yang paling baik. Kemudian memerintahkannya untuk merenungi penciptaan dirinya dan penciptaan langit dan bumi supaya mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar telah menciptakan manusia dengan keadilan dan kebenaran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴿ ٢١

Dan juga pada dirimu sendiri maka Apakah kamu tiada memperhatikan”. (Qs. Adz-Dzariat: 21).

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿ ١٠١

“Katakanlah; perhatikanlah apa yang ada dilangit dan dibumi tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Qs. Yunus: 101).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda setiap kali seorang hamba dirundung sebuah masalah dan kesedihan kemudian dia berdoa;

اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك ، أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي و نور صدري وجلاء حزني وذهاب همّي وغمّي

“Ya Allah Sesungguhnya aku adalah hambaMu anak hambaMu cucu hambaMu umbul-umbul ku ada ditanganmu keputusanmu berlaku pada ketetapan-mu adil padaku aku memohon dengan semua asmamu yang engkau bubuhkan kepada satu atau engkau turunkan dalam kitab MU atau yang Kau ajarkan kepada orang hambaMu Apa yang kau simpan sendiri pada pengetahuan Ghaib Mu ya Allah jadikanlah Alquran penyejuk hatiku cahaya dadaku menghilang kesedihanku dan pengusir duka dan nestapa”.

Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan menghilangkan masalah dan kesedihan yaitu diganti dengan rasa bahagia.

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan kita sebuah doa;

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه اللهم إني أعوذ بك من الظلم والظلمات, الله إني أسألك العدل في الغضب والرضا

Ya Allah tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai sebuah kebenaran kemudian karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai sebuah kebatilan kemudian karuniakan kepada kami kemampuan untuk meninggalkannya Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dan kegelapan Ya Allah berikan aku keadilan dalam kondisi marah dan tidak marah”.

(Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna 29 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا

maka patutkah aku mencari Hakim selain daripada Allah”. (Qs. Al-An’am: 114)

Allah juga berfirman;

لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan baginya lah segala penentuan dan hanya kepadamu lah kamu dikembalikan”. (Qs.  Al- Qashash: 77).

Rasulullah shallallahu Allah u Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah yang menetapkan”.

Al-Hakam artinya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sesuatu sangat rapi dan kuat. Tetapi juga bisa diartikan Hakim yang memutuskan sebuah perkara yang terjadi di antara hamba-hamba-nya baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu Al Hakam juga berarti yang mempunyai hak membuat hukum dan syariat,  sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Allah yang mengetahui apakah seorang hamba berhak mendapatkan balasan baik ataupun balasan buruk. Hanya  Allah subhanahu wa ta’ala yang berhak membuat dan menetapkan hukum dan tidak ada seorang hamba yang bisa menyanggahnya.

Dengan  menghayati nama Al Hakam ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran;

  1. Terdorong untuk menjadikan hukum Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sumber memutuskan segala masalah itu hal kecil ataupun Besar.
  2. Merasa yakin bahwa segala yang kita terima adalah baik untuk kita dan akan membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat walaupun keadaan awalnya terlihat sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan.

(Syarh Singkat  Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [28]: Al-Bashir (Yang Maha Melihat)

 

“Al-Bashir  (Yang Maha Melihat) artinya Allah Ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi”.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [٤٢:١١

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (Qs.Asyura:11).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman;

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Al-Isra: 1).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، إنما تدعون سميعاً بصيراً قريباً

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan maha melihat serta dekat”.

Al-Bashir  (yang Maha Melihat) artinya Allah subhanahu wa ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa melihat yang  ada di atas bumi melihat yang ada di siang hari ataupun di malam hari. [sym].

Asmaul Husna [27]: As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

As-Sami artinya Allah subhanahu wa ta’ala mendengar. Maksudnya  mendengar sesuatu yang rahasia dan suara yang disembunyikan.

As-Sami’ adalah yang pendengaran-Nya melingkupi segala sesuatu yang bersifat dapat didengar. Baginya tidaklah berbeda antara suara yang keras, pelan, diucapkan, dan tidak diucapkan.

Karena  itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa, dan memaklumi kesalahan hamba-hambaNya ketika mereka mengakuinya.

Maha  suci Allah yang mendengar doa dalam satu kesempatan. Maha suci Allah yang mengabulkan beberapa doa dalam satu kesempatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Ya Tuhan kami Terimalah dari kami amalan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqarah: 127).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan melihat”. (Sumber: Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustofa Warbah).

10 TAHUN AQL, UBN BERI PESAN DAMAI LEWAT TEMA “PEACE IS POWER”

 

UBN mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim.

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center menggelar Milad Akbar pada selasa (11/9/ 2018) yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H, di Balai Kartini, Kuningan Jakarta Selatan me.

Ada pesan penting yang disampaikan mengambil tema “PEACE IS POWER”. Menurut pendiri AQL, Ustadz Bactiar Nasir (UBN), tema ini diambil untuk memberi tahu publik bahwa Islam adalah agama yang damai dan bukan agama teroris, seperti yang dituduhkan semenjak peristiwa Nine Eleven, 11 September 2001 lalu.

“Walaupun World Of Terrorist sudah dihentikan oleh pemerintahan Obama pada 21 April 2013, namun propaganda kebencian yang diedarkan oleh Donald Trump belakangan ini dengan isu-isu baru tentang Islam adalah sebuah fitnah besar bagi umat Muslim di kalangan masyarakat,” ujar UBN dalam Press Conference sebelum acara dimulai.

Oleh sebab itu UBN membuat milad akbar ini dengan bertajuk kedamaian, agar isu-isu yang beredar di kalangan masyarakat tersebut bisa dinetralisir hingga dihentikan. “Kami ingin mengingatkan Donald Trump bahwa terorisme yang dilekatkan kepada Islam adalah sebuah kesalahan yang besar,” imbuhnya.

Melalui acara tersebut, Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini mengajak masyarakat Indonesia agar tidak gampang percaya pada isu-isu yang beredar belakangan ini, yang berakibat rusaknya nama baik umat muslim. “Karena sejatinya umat muslim adalah umat yang menjaga perdamaian, dan bukan umat yang berprilaku keras”, jelasnya.

AQL Islamic Center yang berpusat di Tebet Utara Jakarta Selatan ini didirikan pada 1 Muharram 1429 H yang bertepatan dengan 29 Desember 2008 dengan visi besar membangun peradaban dengan Al-Quran. Visi ini didorong kesadaran pendiri AQL Islamic Center, bahwa rahmat Allah terbesar bagi umat manusia itu adalah Alquran.
(Rep: Fry/Ed:sym).

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Maha Mengetahui)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)

Al-‘Alim artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum dan sesudah sesuatu itu ada. Tidak  ada sesuatupun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari penglihatan Allah. Segala sesuatu baik yang dekat maupun yang jauh dapat dilihatNya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

Katakanlah Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua Kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan dialah Maha Pemberi Keputusan lagi maha mengetahui”. (Qs. Saba: 26).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Pencipta lagi maha mengetahui”. (Qs. Al-Hijr: 86).

Maha Suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi maha bijaksana”. (Qs.Al-Baqarah:32).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mengucapkan setiap pagi dan petang Dengan nama Allah yang karenanya yang karena namanya tidak ada sesuatupun yang membahayakan baik di bumi dan di langit dan Allah Maha Mengetahui mendengar dan maha mengetahui sebanyak 3 kali maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan nya”.

Kadang-kadang ada juga hambaNya yang mempunyai sifat mengetahui. Orang  seperti itu dinamakan Alim, dan dalam bentuk jamak disebut ulama. Namun  sungguh jauh perbedaan antara ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ilmu hambaNya. Ilmu  seorang makhluk sangat terbatas. Sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala melingkupi segala sesuatu dan tidak ada batasnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu”. (Qs. Fushilat: 54).

Letak perbedaan yang lain adalah karena ilmu manusia sangat tergantung dengan sarana, prasarana, penelitian dan lain sebagainya. Semua  itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan pada ilmu tersebut sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala bersifat tetap dan tidak akan berubah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (Qs. Maryam:64).

Kemudian  semua ilmu yang kita miliki tidak lain adalah pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. (Qs. Al-Baqarah: 255).

 “Dan juga Karena Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepada mu apa yang belum kamu ketahui”. (Qs. an-Nisa: 113).

 Agar  manusia yang berilmu tidak merasa bangga dengan ilmunya sehingga membuatnya sombong. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan mereka bahwa;

Dan di atas tiap-tiap Orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”. (Qs.Yusuf:76).