Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Berpisah dengan siangnya yang begitu indah dan malamnya yang begitu harum semerbak.

Kita berpisah dengan bulan Qur’an, bulan ketakwaan, kesabaran, Jihad, magfirah dan bulan pembebasan dari api neraka. Maka faedah apa yang sudah kita raih dari sekian banyak buah-buah Ramadhan yang begitu agung dan naungan-Nya yang begitu luas?

Apakah dalam jiwa kita telah terwujud ketakwaan sehingga kita keluar dari madrasah Ramadhan dengan predikat taqwa? Dan apakah kita senantiasa sabar dalam ketaatan dan menjauhi ma’siat? Apakah kita telah mentarbiyah (mendidik) jiwa kita untuk melakukan berbagai bentuk jihad? Apakah kita telah berjihad melawan hawa nafsu dan mampu mengalahkannya ? Ataukah kita berhasil dikalahkan oleh kebiasaan-kebiasaan dan prilaku-prilaku buruk? Apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk meraih rahmat, Magfirah-Nya dan pembebasan-Nya dari api neraka? Apakah….Apakah….Apakah…? Begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti hati seorang muslim sejati yang senantiasa mengoreksi dirinya dan menjawabnya dengan jujur dan terus terang.

Ramadhan adalah madrasah imaniyah dan tempat persinggahan ruh untuk mempersiapkan bekal di sisa-sisa kehidupan kita di dunia. Maka kapan lagi seseorang akan mengambil bimbingan, pelajaran dan manfaat, untuk merubah kehidupannya jika ia tidak melakukannya pada bulan suci ini.

Bulan Ramadhan merupakan madrasah (sekolahan) untuk mengadakan perubahan amalan, perilaku, kebiasaan dan akhlaq yang bertentangan dengan syariat Allah Azza Wa Jalla. Allah  berfirman :

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 92)

Saudara(i) ku yang tercinta …..

Jika anda termasuk orang-orang yang mampu meraih faedah-faedah Ramadhan dan berhasil mewujudkan ketakwaan pada diri anda, berpuasa dengan benar, mengerjakan qiyamullail dengan khusyu’ serta bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu maka hal tersebut patut disyukuri dan hendaknya anda memohon kepada Allah Azza Wa Jalla agar sikap tersebut konsisten sampai kembalinya ruh kehadirat-Nya.

 Maka hati-hatilah dan jangan sekali-kali termasuk orang-orang yang dimaksud dalam surat An Nahl ayat 92, Allah  Azza Wa Jalla berfirman :

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal

Apakah anda telah melihat seorang wanita yang memintal benang untuk dibuat selembar baju kemudian ketika ia senang melihat baju tersebut ia menguraikan kembali pintalan-pintalan tersebut tanpa sebab!

Maka apa komentar orang-orang terhadap perbuatan tersebut ?

Seperti inilah halnya seseorang yang kembali ke jalan kemaksiatan, kefasikan, kesesatan, kegelapan dan melepaskan ketaatannya kepada Allah serta tidak lagi beramal sholeh setelah selesainya Ramadhan setelah ia merasakan nikmatnya letaatan dan ketakwaan, nikmatnya berdo’a kepada-Nya ia kembali pada pahitnya dan sengsaranya kemaksiatan dan kegelapan !!

Syekh Shalih Fauzan berkata,

Sesungguhnya kebanyakan dari manusia waktu-waktunya berlalu dengan sia-sia sesudah ied dengan begadang, tarian-tarian daerah, bermain yang melalaikan, sehingga mungkin saja mereka meninggalkan shalat-shalat pada waktunya atau shalat berjama’ah, seakan-akan mereka dengan perbuatan itu ingin menghapuskan pengaruh Ramadhan pada jiwa-jiwa mereka jika mempunyai pengaruh, lalu memperbarui kehidupannya bersama syaithan yang jarang bermuamalah dengannya pada bulan Ramadhan

Maka alangkah nistanya sekelompok manusia yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan.

Imam Wahab bin Al Ward pernah melewati sekelompok manusia yang sedang asyik bermain pada hari ied, kemudian ia berkata kepada mereka:

Sungguh mengherankan kalian itu, kalau memang Allah telah menerima puasa kalian apakah semacam ini cara kalian bersyukur dan jika Allah tak menerima amalan puasa kalian apakah semacam ini cara kalian takut

Saudara-saudaraku tercinta…

Diantara indikasi diterimanya amalan ibadah seorang hamba adalah keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal ketaatan dan ketundukannya terhadap syari’at-syari’at Islam. Allah berfirman :

 “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim :7)

Artinya bertambahnya kebaikan baik zhohir maupun batin yang berupa bertambahnya keimanan dan amal sholeh. Oleh karena itu seandainya seorang hamba memiliki kesungguhan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka kebaikan dan ketaatannya terhadap syariat-syariat-Nya akan meningkat dan mampu menjauhi kemaksiatan. Sebagaimana telah di katakan oleh para salafusshaleh: ”Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan”

Setiap seorang hamba harus senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan komitmen dengan syari’at-syari’at-Nya serta istiqomah dengan agama-Nya. Allah berfirman :

 “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. Al Hijr:99)

Jangan bersikap seperti Rubah yang beribadah kepada Allah Azza Wa JAlla sebulan kemudian bermaksiat di bulan yang lain atau beribadah kepada-Nya di suatu tempat tapi bermaksiat di tempat yang lain atau! Namun hendaknya ia memahami bahwa Tuhan Pemilik Ramadhan adalah juga Tuhan Pemilik bulan-bulan lain dan Ia Pemilik semua waktu dan tempat, agar senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus sampai ia kembali kehadirat-Nya dalam keadaan diridhai oleh-Nya. Allah Azza Wa Jalla berfirman :

 “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya”(QS. Fushshilat :6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Katakan aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)

Kalau seandainya puasa Ramadhan telah selesai masih ada puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa hari Senin dan Kamis, puasa di tengah bulan (tanggal 13,14 dan 15 bulan hijriyah), puasa ‘Asyuro dan Arofah dan lainnya. Kalau qiyamur Ramadhan sudah berakhir maka masih ada qiyamullail yang disyariatkan dilakukan setiap malam.

Dan seandainya shodaqoh dan zakat fitri di bulan Ramadhan sudah ditunaikan, masih ada zakat wajib lainnya.

Demikianlah hakekat amalan sholeh yang bisa dilakukan sepanjang masa. Untuk itulah bersungguh-sungguhlah wahai Saudaraku  seiman untuk senantiasa taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan jauhilah kemalasan. Jika anda enggan melaksanakan amalan-amalan sunnah maka jangan sekali-kali meninggalkan dan melalaikan kewajibanmu seperti shalat lima waktu yang harus dilakukan tepat pada waktunya dan dengan berjama’ah dan jangan sekali-kali terjerumus kepada kemaksiatan dengan berkata-kata, makan, minum, melihat dan mendengarkan hal-hal yang diharamkan.

 Beristiqamahlah dan komitmenlah pada agama-Nya di sepanjang masa karena engkau tidak tahu kedatangan malaikat maut. Jangan sampai ia datang dan engkau dalam keadaan bemaksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Ya Allah, Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agamamu”(HR. Ahmad)

[Mustafa A].

Maraji’: Madza ba’da Ramadhan, Riyadh bin Abdurrahman Al Haqiil

Lazis Wahdah Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Lazis Wahdah Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Lazis Wahdah Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Kegiatan Berbagi Di Ujung Negeri ini merupakan salah satu kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan oleh LAZIS Wahdah Nunukan dalam rangka melayani ummat selama bulan suci Ramadhan.

(Nunukan) wahdahjakarta.com| Tak ada yang istimewa dari pondok kayu berlantai dua tersebut. Dibuat dari kayu-kayu disusun, bentuknya kotak dibagi menjadi empat ruang, atas dan bawah. Namun, pondok ini berjasa besar dalam menuntaskan rindu para prajurit penjaga perbatasan. Hanya di Pondok Cinta sinyal telepon seluler bisa ditangkap. Itu pun harus dengan cara menggantungkan telepon di dinding luar pondok.

Demikianlah gambaran yang dialami oleh prajurit  Tentara Nasional Indonesia (TNI) penjaga perbatasan Indonesia – Malaysia yang berlokasi di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Kerinduan mereka dengan keluarga jangan ditanya lagi. Momentum Ramadhan seperti saat sekarang ini harus mereka lalui dengan sabar karena harus menjalankan tugas negara.

Sabtu (9/6/2018) lalu, LAZIS Wahdah Nunukan bergerak melintasi jalan-jalan setapak menuju pos-pos perbatasan. 70 paket Ifthar disalurkan kepada para prajurit yang ada.

”Alhamdulillah, setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, mobil kami yang mengangkut paket ifthar tiba di patok tiga wilayah perbatasan,” ujar ustadz Abu Ismail, Ketua LAZIS Wahdah Nunukan.

Kegiatan Berbagi Di Ujung Negeri ini merupakan salah satu kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan oleh LAZIS Wahdah Nunukan dalam rangka melayani ummat selama bulan suci Ramadhan.

”Kami ucapkan terima kasih. Bantuan ini sangat berharga bagi kami yang di perbatasan. Apalagi kami jauh dari keluarga. Dengan melihat ramainya buka puasa ini, kerinduan kami kepada keluarga sedikit bisa terobati,” ucap salah seorang prajurit.

***

Indahnya berbagi dengan sesama. Mari perbanyak Sedekah untuk membantu orang yang membutuhkan di sekitar kita melalui  nomor rekening sedekah Bank Syariah Mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah dan konfirmasi transfer ke 0811 9787 900 (wa/sms).

Semoga di penghujung Ramadhan tahun ini, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, aamiin. []

LAZIS Wahdah, Melayani dan Memberdayakan

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallm ber’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadnan” (HR. Bukhari & Muslim) .

 Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhinya yaitu: Seorang muslim, mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk), berakal, dan suci dari janabat, haidh, serta nifas.

Rukun I’tikaf

  1. Niat, karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat.
  2. Tempatnya harus di Masjid. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’alayang artinya:

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid” (QS. Al Baqarah : 187)

Keharusan beri’tikaf di masjid ini berlaku pula untuk wanita, dalam hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama bahwa wanita tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya karena tempat itu tidaklah dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang shahih menerangkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf di masjid Nabawi.

Al Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah-  berkata tentang i’tikafnya istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  di masjid : “Hal ini menunjukkan disyariatkannya i’tikaf di masjid, karena seandainya tidak, tentu para istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  akan beri’tikaf di rumah-rumah mereka karena mereka telah diperintahkan untuk berlindung atau berdiam di rumah”. (Fathul Bari 4 : 352)

Syarat Masjid Yang Ditempati I’tikaf

Para ulama telah berikhtilaf tentang syarat masjid yang sah untuk di gunakan i’tikaf namun diantara pendapat-pendapat yang ada maka pendapat yang pertengahan dan paling dekat dengan kebenaran adalah I’tikaf harus dilaksanakan di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah padanya karena shalat berjama’ah bagi laki-laki hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan atsar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yaitu:

Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah”. (HR. Ad Daraqutni dan Al Baihaqi)

Pendapat ini dipegangi pengikut madzhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad serta perkataan Hasan Al Bashri dan ‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:

Disyaratkannya i’tikaf di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, karena shalat jama’ah itu wajib, dan ketika seseorang beri’tikaf di masjid yang tidak dilaksanakan shalat jama’ah akan mengakibatkan salah satu dari dua hal: meninggalkan shalat jama’ah yang merupakan kewajiban, yang kedua keluar untuk shalat di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah dan hal ini akan sering berulang padahal masih mungkin untuk menghindarinya, dan sering keluar dari tempat i’tikaf itu bertentangan dengan maksud/tujuan i’tikaf …”. (Al Mughni 4 : 461)

Jika seseorang i’tikaf di masjid jama’ah yang tidak dilaksanakan shalat Jum’at maka pada hari Jumat wajib atasnya untuk keluar shalat Jum’at dan i’tikafnya tidak batal karena dia keluar disebabkan udzur yang dibenarkan syariat dan hal tersebut hanya sekali dalam sepekan, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Said bin Jubair, Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakhaaiy, Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Dawud Azh Zhohiri, Ibnu Qudamah, dan lain-lain. [sym]

Artikel: wahdah.or.id

Keajaiban Lailatul Qadr

Keajaiban Lailatul Qadr

Keajaiban Lailatul Qadr

Bulan  Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang mulia (lailatul qadr) malam yang didalamnya diturun-kan Al-Qur’an dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mengabar-kan bahwa ia lebih mulia dari seribu bulan dari segi keutamaan,  kemuliaan-nya dan banyaknya pahala.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

“ Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada satu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberikan peringatan Pada malam itu di jelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad-Dukhaan : 3-4).

Ma’na Al-Qadr

Al-Qadr artinya kemuliaan, keagungan atau taqdir dan qadha (ketentuan) karena lailatul qadr sangat agung dan sangat mulia yang mana pada malam itu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menenukan/ menetapkan semua urusan yang akan terjadi sela-ma satu tahun.

Kapankah Lailatul Qadr itu ?

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 42-50 pendapat dalam penentuan malam lailatul qadr dan yang paling rajih bahwa dia pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan hal itu. Beliau bersabda:

“Carilah malam lailatul qadr pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda:

 “Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang terakhir pada malam 21, 23, 25 dan 27.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Maka barangsiapa yang menghi-dupkan sepuluh malam terakhir khu-susnya malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan dengan amalan-amalan ibadah niscaya akan menda-patkan lailatul qadr dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan pahala.

Adapun  hikmah dari disembunyi-kannya waktu tepatnya lailatul qadr agar supaya kaum muslimin memper-banyak ibadah dikeseluruhan malam bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil pada malam terakhir di bulan Ramadhan karena lailatul qadr berpindah-pindah setiap tahunnya.

Keutamaan Lailatul Qadr

Diantara keutamaan lailatul qadr adalah:

  1. Malam Diturun-kan Al-Quran.
  2. Malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Qadr ayat 3

Maksudnya pahala ibadah pada saat itu lebih baik dari pada seribu bulan bagi mereka yang menghidup-kannya dengan berbagai macam ibadah dan kebaikan seperti shalat, dzikir dan berdo’a.

  1. Bagi mereka yang menghidupkan malam lailatul qadri dengan memper-banyak ibadah maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa–dosanya  yang telah lalu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya: “Barang siapa yang beribadah kepada Allah di malam lailatul qadr maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaih)
  2. Pada malam itu turun para malaikat dan mereka tidak turun (ke bumi) kecuali membawa kebaikan dan berkah serta kasih sayang. sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Qadr ayat  4
  3. Malam lailatul qadr adalah malam keselamatan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr:5)

Yaitu selamat dari kesalahan dan penyakit atau selamat dari azab dan siksaan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Tanda-tanda Lailatul Qadr

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari : “Telah disebutkan dalam beberapa riwayat tanda-tanda lailatul qadr namun kebanyakan tanda-tanda tersebut tidak nampak kecuali setelah lewat malam tersebut”

Para ulama telah menyebutkan be-berapa tanda-tanda tersebut, berdasar-kan hadits-hadits yang shahih diantara-nya :

  1. Bulan Sabit

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami bermudzakarah  (bertanya-tanya)  tentang kapan malam lailatul qadr ber-sama dengan Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala, maka beliau bersabda :

“Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)

  1. Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala bersabda:

Malam Lailatul qadr adalah malam yang sejuk tidak panas dan tidak dingin, di pagi harinya cahaya mentarinya lembut dan berwarna merah“ (HHR. Ath Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

  1. Cahaya Matahari Pada Pagi Hari-nya Tidak Menyengat

Dari Ubaiy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda:

Pagi hari dari malam lailatul qadr terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud).

Namun tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahui tanda-tandanya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman & mengharapkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Amalan Yang Disyariat-kan Pada 10 Malam Terakhir Di Bulan Ramadhan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam senantiasa bersung-guh-sungguh dalam ibadah pada sepuluh malam terakhir, tidak seperti dua puluh malam pertama. Seba-gaimana yang dikatakan oleh shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan hal yang tidak beliau lakukan pada malam yang lainnya.” (HR. Muslim).

Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para salafus shaleh juga memuliakan sepuluh malam terakhir ini serta bersungguh-sungguh di dalamnya dengan memperbanyak amal kebaikan, untuk itu dianjurkan secara syar’i kepada seluruh kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  dan para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhu dalam menghidupkan malam-malam ini dengan beri’tikaf di masjid-masjid, shalat, istighfar, mem-

baca Al-Qur’an serta berbagai ibadah lainnya, agar mendapatkan kemenangan berupa ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Dan disunnahkan bagi seorang muslim untuk memperbanyak do’a pada malam-malam tersebut karena do’a di waktu-waktu tersebut mustajab dan do’a yang diulang-ulang pada waktu tersebut adalah do’a yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ÑÖí Çááå ÚäåÇ bahwasanya  dia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya mendapatkan lailatul qadr maka apa yang aku katakan?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda: “Katakanlah:

 “Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fuannii (Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampum, mencintai ampunan (maaf) maka ampunilah aku).” (HSR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) .

Hendaknya bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh dalam  beribadah  pada malam-malam  ini,  sebab yang demikian  itu  adalah  kesempatan seumur  hidup  dan kesempatan itu tidak selalu ada.

Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa malam itu lebih mulia dari seribu bulan atau delapan puluh tiga tahun lebih.

Seandainya seseorang beribadah  kepada Allah   selama delapan puluh tiga tahun lebih, maka lailatul qadr lebih baik dari itu, dan hal tersebut merupakan keutamaan dan karunia yang sangat besar. Karunia apakah yang lebih besar dari hal itu.

Dan sangatlah merugi orang yang tidak sempat mendapatkan pahala di waktu-waktu mulia dan musim-musim maghfirah disebabkan kelalai-annya dan ketidak seriusannya dalam beribadah. [AM/sym].

Maraji’ :

  1. Fatawa Fish Shiyam, Syekh Abdullah Al Jibrin
  2. Ad Durus Ar Ramadhaniyah, Muassasah Al Haramain Markazul Bahts Al Ilmi
  3. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Pertanyaan:

Saya berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa mengucapkan Bismillah karena saya sedang berada di kamar kecil (toilet). Apa hukumnya?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Siapa yang berbuka puasa atau berniat buka puasa tanpa membaca dzikir-dzikir buka puasa dan baik basmalah dan yang lainnya maka puasanya tetap sah dan tiada dosa baginya. Namun disunnahkan bagi orang yang berpuasa atau yang lainnya membaca bismillahirrahmanirrahim sebelum menyantap makanan. Jika ia berbuka puasa, maka setelah berbuka hendaknya ia mengucapkan;

“ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله”

Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan tetaplah pahala insya Allah” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud).

Atau membaca do’a;

“اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي” رواه ابن ماجه، وحسنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuniku”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Takhrij al-Adzkar). [sym].

Sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7428, Terjemah Oleh Syamsuddin Al-Munawiy).

Program #TebarIftharNusantara Sambangi Santri Tahfidz Cibinong

 Program #TebarIftharNusantara Sambangi Santri Tahfidz Cibinong

(Cibinong) wahdahjakarta.com| Sabtu (26/06/2018) Lembaga Amil Zakat Wahdah Islamiyah Jakarta (Lazis Wahdah Jakarta) kembali menyalurkan pembagian takjil kepada masyarakat.

Kali ini kegiatan yang merupakan bagian dari program #TebarIftharNusantara ini mengambil lokasi di Kelurahan Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Tepatnya di Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor. 100 an paket  ifthar berupa tkjil dan makan malam disalurkan kepada para santri penghafal Al-Qur’an yang sedang menjalani Daurah Menghafal Al-Qur’an akhir tahun.

Kegatan ini merupakan salah satu dari program #TebarIftharNusantara dan #RamadhanUkhuwah yang digelar Wahdah Islamiyah secara nasional. Wahdah Islamiyah menargetkan 100.000 paket ifthar secara nasional. Menurut Ketua Lazis Wahdah Yudi Wahyudi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok, Yudi Wahyudi, bahwa DPW WI Jakarta menargetkan 50.000 paket.

Lzis Wahdah juga mengajak untuk mendukung suksesnya program #RamadhanUkhuwah dengan menawarkan donasi pada beberapa program  yang menjadi layanan mitra kaum muslimin berbagi manfaat di bulan mulia ini, yakni:

  1. #TebarIftharNusantara (Rp. 25.000/porsi)
  2. Tebar Sembako Nusantara (Rp. 200.000/paket)
  3. Tebar Al-Quran Nusantara (Rp. 100.000/mushaf
  4. Kado lebaran Yatim (Rp. 250.000/kado)
  5. Bingkisan Lebaran Dai (Rp. 350.000/pack)
  6. Tebar Mukena Nusantara (Rp. 100.000/set)

Cara Berdonasi

  1. Donasi Ramadhan Ukhuwah dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 776 900 9005 a.n. Lazis Wahdah Ramadhan (Kode Transfer ATM Bersama: 451). Tambahkan kode unik 300 di akhir nominal transfer, misal: Rp.100.300
  2. Konfirmasi Transfer Donasi melalui WA/SMS ke 0811 9787 900, ketik : RU/Nama/Alamat/Nama Program/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

LAZIS Wahdah,  Melayani dan Memberdayakan

Kiat Praktis  Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada Bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur'an Pada bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada bulan Ramadhan

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam.  Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Wahdahjakarta.com| Ramadhan adalan bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala– dalam surat Al-Baqarah ayat 185;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

 “Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185).

Oleh karena itu salah satu amalan yang dianjurkan  pada bulan Qur’an ini adalah membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Orang-orang shaleh terdahulu menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai amal yang paling mereka prioritaskan pada bulan Ramadhan setelah shiyam (puasa) dan qiyam (shalat tarawih). Mereka mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali. Ada yang khatam setiap tujuh hari , setiap lima hari, setiap tiga hari, bahkan setiap hari.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam. Sementara Al-Aswad setiap dua hari sekali mengkhatamkan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Hal ini (mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan) juga telah menjadi tradisi orang-orang shaleh sepanjang zaman, sampai hari ini.

Sepintas mengkhatamkan Al-Qur’an berkali kali merupakan sesuatu yang berat. Namun jika ada kemauan dan tekad yang kuat serta pengaturan jadwal dan manajemen waktu yang rapi hal itu bukan sesuatu yang berat. Misalnya jika ingin mengkatamkan tiga kali selama Ramadhan berarti setiap sepuluh hari. Untuk mencapai target tersebut, maka setiap hari membaca tiga juz. Untuk memudahkan dan terasa lebih ringan maka target diturunkan kepada setiap waktu shalat. Misalmnya setiap waktu shalat (sebelum dan setelahnya) membaca 6 lembar atau 12 halaman.

Berikut ini contoh sederhana pengaturan waktu setiap hari yang disertai rincian target setiap waktu shalat.

Untuk satu kali khatam

  1. Shalat Subuh 2 lembar
  2. Shalat Zhuhur 2 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 2 lembar
  4. Shalat Maghrib 2 lembar
  5. Shalat ‘Isya 2 lembar

Untuk dua kali khatam

  1. Shalat Subuh 4 lembar
  2. Shalat Zhuhur 4 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 4 lembar
  4. Shalat Maghrib 4 lembar
  5. Shalat ‘Isya 4 lembar

✔ Untuk tiga kali khatam 

  1. Shalat Subuh 6 lembar
  2. Shalat Zhuhur 6 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 6 lembar
  4. Shalat Maghrib 6 lembar
  5. Shalat ‘Isya 6 lembar

Selama mencoba, semoga meraih predikat sebagai Ahlul Qur’an.  [sym].

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Bulan Ramadhan Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

wahdahjakarta.com| Diantara keutamaan bulan Ramadhan adalah bahwa pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu atau diikikat. Sebagaimana dikabarkan dalam hadits Bukhari Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ , وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ ”

Jika datang bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu” Dalam riwayat lain “para setan dirantai (shufidat)” (HR Bukhari & Muslim)

Maksud dari setan dibelenggu dan dirantai, adalah bahwasanya pada bulan Ramadhan mereka tidak leluasa melakukan apa yang biasa mereka lakukan diluar bulan Ramadhan. Oleh karena itu, anda dapati bahwa was-was (bisikan), godaan dan tipu daya setan kepada manusia pada bulan Ramadhan lebih sedikit dibanding bulan-bulan yang lain. Bahkan setan takut kepada bulan Ramadhan, sebagaimana ia takut kepada adzan dan Iqamat sehingga ia lari ketika mendengar adzan dan Iqamat.

Mungkin salah satu bukti nyata yang dapat kita lihat adalah jika bulan Ramadhan datang, para ahli maksiat bersiap-siap untuk bertaubat. Sering pula kita jumpai sebagian orang bertanya saat menjelang Ramadhan dengan pertanyaan yang menunjukan kesiapan mereka untuk bertaubat. Diantara mereka ada yang bertanya: ”Saya pernah berbuat dzolim, bagaimana saya dapat melepaskan diri darinya?” Ada juga yang bertanya : ”Saya pernah melakukan maksiat ini, bagaimana saya bertaubat darinya?”. Yang lainnya bertanya: “Saya melalaikan ketaatan ini dan itu, bagaimana agar saya dapat memelihara ketaaatan tersebut?” Demikian seterusnya.

Mereka bersiap-siap untuk bertaubat sebelum bulan Ramadhan. Berarti setan takut dengan dekatnya kedatangan bulan Ramadhan, dimana pada bulan ini tipudaya dan pengaruhnya melemah. Lalu bagaimana lagi, jika Ramadhan telah masuk setan-setan dibelenggu &  diikat dengan rantai, mereka tidak akan mampu memperdaya manusia kecuali dalam beberapa dosa yang sedikit.

Namun, disisi lain ada jiwa-jiwa jahat yang sangat cepat merespon bisikan-bisikan setan. Sehingga ketika pengaruh setan melemah pada bulan Ramadhan dia tetap jahat. Oleh karena itu, anda jumpai orang yang tetap menyimpang pada bulan Ramadhan. Saya pernah melihat contoh yang seperti ini bahkan sebagian mereka melakukan pelanggaran pada malam 27 Ramadhan, bahkan terkadang sekelompok orang yang telah tertutupi hatinya berkumpul melakukan perbuatan sia-sia, minum-minum (khamar), bernyanyi dan bahkan berzina, Wal ‘iyaadzu billah. [sym]. 

Keutamaan Bulan Ramadhan [1]: Ramadhan Bulan Al-Qur’an 

Keutamaan Bulan Ramadhan [1]: Ramadhan Bulan Al-Qur'an 

Ramadhan Bulan Al-Qur’an

 Ramadhan Bulan Al-Qur’an

Allah menciptakan  dan memilih yang termulia diantara ciptaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, . .” (QS.Al-Qashash:68)

Allah menciptakan manusia, dan memilih para Nabi dan Rasul sebagai manusia termulia. Lalu dari seluruh Nabi dan Rasul yang diutus-Nya, Allah memilih para rasul Ulul Azmi sebagai yang paling mulia. Dari semua nabi dan Rasul Ulul Azmi, Allah pilih nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan Rasul yang paling mulia. Bahkan beliau digelari sebagai sayyidu waladi Adam (pemimpin para keturunan Adam).

Allah juga menciptakan hari-hari sejumlah tujuh hari dalam sepekan. Dari ketujuh hari tersebut Dia memilih Jum’at sebagai hari paling mulia yang merupakan sayyidul ayyam. Demikian pula dengan jumlah bulan (syahr) dalam setahun ada 12 bulan yang bermula dari Muharram dan berakhir di Dzulqa’dah. Dari keduabelas bulan tersebut Allah memilih Asyhurul Hurum dan bulan Ramadhan sebagai bulan termulia. Ramadhan yang merupakan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah memiliki banyak keistimewaan. Sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tulisan ini akan  menguraikan beberapa keutamaan bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.

  1. Ramadhan Bulan Al-Qur’an

Ramadhan dijuluki pula sebagai syahrul Qu’an (bulan al-Qur’an). Sebab al-Qur’an yang merupakan kitab hidayah bagi orang bertakwa, serta pembeda (furqan) antara haq dan bathil diturunkan oleh Allah Ta’ala pada bulan ini, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman :

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185)

Menurut Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah rahimahullah, Firman Allah, “diturunkan didalamnya Al-Qur’an” mengandung beberapa makna:

  1. Maksudnya, diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.
  2. Boleh jadi maksudnya adalah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam dimulai pada bulan Ramadhan. Dimana, Al-Qur’an diturunkan pertama kali pada malam Lailatul Qadri, sedangkan Lailatul Qadri bagian dari bulan Ramadhan.
  3. Dikatakan, bahwa makna “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnnya diturunkan Al-Qur’an” maksudnya diturunkannya Al-Qur’an pada bulan ini sebagai pujian dan sanjungan terhadap bulan Ramadhan serta penjelasan tentang keutamaannya dan kewajiban berpuasa pada bulan tersebut.

Ayat lain yang menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan adalah surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhan ayat 3:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Qs al-Qadr:1).

حم [٤٤:١] وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ [٤٤:٢]إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ [٤٤:٣

Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (Qs. Ad-Dukhan:1-3).

Allah Ta’ala menyebut malam diturunkannya al-Qur’an sebagai lailatul qadri (malam yang mulia) dan lailah mubarakah (malam yang diberkahi [lailautul qadri]). Dan malam lailatul qadri tersebut terdapat pada bulan Ramadhan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabat, “Ramadhan telah mendatangi kalian. Bulan yang penuh berkah. Allah memfardhukan kepada kalian berpuasa pada bulan ini. …… Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sesiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka terhalangi dari kebaikan”. (Terj. HR. Nasai).

Bahkan pewajiban dan pensyariatan puasa pada bulan Ramadhan dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya la-Qur’an pada bulan tersebut. Dimana setelah menyatakan, Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, barulah Allah perintahkan kewajiban berpuasa pada ayat 185 surah Al-Baqarah. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaimin, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah rahimahullah. 

Hadits Puasa [4]: Niat Puasa

Niat puasa wajib sebelum terbit fajar

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-6 [624] 
Niat Puasa

 624- وعن حَفْصةَ أُمِّ المُؤمنين – رضي الله عنها – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “منْ لَمْ يُبَيّت الصِّيامَ قَبْلَ الفجر فلا صِيامَ لـهُ” رواهُ الخمْسةُ ومَالَ التِّرمذيُّ والنسائي إلى ترجيح وَقْفِهِ، وصحَّحَهُ مرفوعاً ابنُ خزيمةَ وابنُ حِبَّانَ.

وللدارقطني: “لا صِيامَ لمن لَم يَفْرِضْهُ منَ الليل”

 

Dari Hafshah Ummul Mu’minn radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang tidak berniat puasa sejak malam sebelum terbit fajar maka tidak sah puasa baginya”. (Diriwayatkan oleh lima perawi hadits, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai cenderung pada pendapat bahwa hadits ini mauquf, sementara Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menhsahihkannya sebagai hadits marfu’).

Dalam riwayat Imam Daruquthni lafadznya berbunyi, “Tidak ada puasa (tidak sah) bagi orang yang tidak berniat sejak malam”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa puasa tidak sah tanpa didahului niat sejak malam. Batas akhir berniat adalah sebelum terbit fajar. Niat puasa dapat dilakukan sejak terbenam mata hari meskipun setelahnya melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan intim dan sebagainya.

Hal tersebut (niat puasa sejak malam) wajib dilakukan dalam puasa wajib dan puasa qadha. Adapun puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikutnya di bawah ini.

Hadits ke-7 [625]

625- وعنْ عائشة – رضي الله عنها – قالت: دخل عليَّ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – ذات يومٍ فقال: “هلْ عندكمْ شيءٌ؟” قُلنا: لا، قال: “فإني إذا صائمٌ” ثمَّ أَتانا يوْماً آخر، فقلنا أُهديَ لنا حَيْسٌ، فقال: “أرِينِيهِ فَلَقد أَصبحْتُ صائماً” فَأَكل، رواهُ مسلمٌ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata, Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke kamarku, “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang dapat disantap)“? “Tidak”,Kalau begitu saya puasa“. Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain, saya kataan kepada beliau, “Dihadiahkan kepada kita hiss“. Maka Belia berkata, “Perlihatkan padaku, (meskipun) sebenarnya hari ini saya puasa”, lalu Beliau makan“. (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan dalil tentang sahnya puasa sunnah tanpa didahului niat sejak malam, artinya boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar, bahkan setelah terbit mata hari sekalipun, selama seseorang belum makan dan minum atau melakukan pembatal puasa lainnya.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa puasa sunnah boleh dibatalkan atau tidak dilanjutkan. Ibnu Umar mengatakan, “Hal itu tidak mengapa selama puasa yang dilakukan bukan puasa nazar atau qadha puasa Ramadhan”. Wallahu a’lam. [sym/wahdahjakarta.c0m].