Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Jalani Pelatihan Jurnalistik, Media Muslim “Tercerahkan”

Pelatihan Jurnalistik, Media Muslim

Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

JALANI PELATIHAN JURNALISTIK, MEDIA MUSLIM “TERCERAHKAN”.

Jakarta(9/9) wahdahjakarta – Forum Jurnalis Muslim (Forjim) mengadakan Workshop Jurnalistik Dakwah Angkatan ke-4 di Masjid Jenderal Sudirman, di kawasan World Trade Center Jakarta Selatan.
Workshop ini diadakan pada tanggal 8-9 September 2018 dalam rangka perwujudan program OMOJ (One Masjid One Journalist) yang merupakan salah satu program Forjim di bidang pendidikan dan pelatihan.

Ada sekitar 30 peserta yang hadir dalam workshop tersebut. Masing-masing peserta berasal dari berbagai DKM Masjid, seperti Masjid Az Zikra Bogor & Masjid Al Azhar. Ada juga yang berasal dari lembaga & media, diantaranya Wahdah Islamiyah, LPOM MUI, Darul Qur’an, dll.

Peserta diajari segala hal di bidang jurnalistik mulai dari teknik wawancara, menulis berita, hingga teknik editing video dan pengambilan gambar.

Pemateri yang didatangkan pun beragam, dibuka oleh Ketua Umum Forjim, Dudy Sya’bani Takdir, S.I.Kom dengan meteri “Urgensi Dakwah Media”, kemudian dilanjutkan dengan teknik wawancara & penulisan berita oleh mantan ketua umum Forjim, Adhes Sastria Sugestian.
Pelatihan kemudian dilanjutkan kembali dengan sedikit sharing ringan mengenai editing video dan pengambilan gambar oleh Produser Video dari ACT dan dilanjutkan oleh materi seputar video editing menggunakan smartphone oleh Direktur Forum Jurnalis Muslim TV, Setyohadi Wiratmoko.

Hari kedua pelatihan, materi yang diajarkan full praktek oleh KPI dan ditutup dengan pelatihan public speaking oleh Radio Dakta.

Dalam sesi testimoni, para peserta mengaku sangat beruntung bisa mengikuti Workshop tersebut karena banyak ilmu baru yang mereka ketahui. Diantaranya ada yang merasa lebih semangat lagi dalam berdakwah di dunia maya dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dan mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di lembaga masing-masing.

Peserta Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

Peserta Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

“Kami berharap agar Forjim kembali mengadakan kegiatan ini, dan kembali merekrut serta membangkitkan semangat para jurnalis muslim potensial yang akan membela agama ini melalui tulisannya.” ujar salah satu peserta.(Fry)

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

Relawan Lazis Wahdah Islamiyah

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

(Kisah Nyata dari Lombok Barat )

 

(wahdahjakarta.com)-, Pernikahan kami di tahun 2006 silam menimbulkan gejolak di kampungku, bahkan desaku. Ramai berita dan cerita di desaku, aku telah salah memilih suami. Bahkan kata salafi dijadikan akronim dari kata salah pilih oleh teman-temanku.

Ibuku hampir stres dengan keadaan itu. Anak sarjana satu satunya saat itu kenapa justru salah memilih jalan hidup beragama. Sesat kata mereka, dan itu merasuk ke dalam relung fikiran ibuku. Suamiku adalah salah satu alumni STIBA Makassar yang merupakan salah satu lembaga pendidikan milik Wahdah Islamiyah.

Maka mulailah kami hidup dengan cap sebagai orang yang berbeda dengan orang sekampung. Berat bagiku awalnya karena aku juga guru Agama di salah satu sekolah negeri. Kujalankan tugasku sehari-hari tanpa mencederai yang kuyakini. Bergumul dengan kondisi lingkungan bukan sesuatu yang ringan.

Kami bersyukur beberapa anggota keluarga memahami pemahaman kami dan mau menerima kami dengan baik. Pelan-pelan kami terus meyakinkan ibu dan keluarga dengan interaksi serta perilaku yang baik. beliau juga melihat keseharian kami, mungkin memberikan kesadaran tersendiri dalam hati ibu, bahwa anak dan menantunya baik-baik saja dalam beragama. tidak seperti yang dituduhkan orang-orang.

Kami harus menerima lirikan-lirikan aneh dari warga ketika kedatangan tamu yang merupakan teman-teman seperjuangan suami dalam dakwah. Sesekali kadang sampai ke telinga teriakan salafiiii….

Huh nyesek juga….tapi ya sudahlah fikirku.

Yang lebih bikin nyesek adalah fitnah bahwa shalat kami dan ibadah-ibadah kami digaji. Itu  yang disampaikan ibu kepadaku. Tetapi justru hal ini kujadikan sebagai salah satu titik pencerahan untuk menyadarkan ibu, bahwa demikianlah fitnah. Karena beliau lihat sendiri bagaimana suamiku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kami.

Hingga tibalah malam itu, gempa dengan kekuatan 7 SR menguncang desaku kemudian gempa susul menyusul meluluh lantakkan desaku.

Apa hubungannya dengan kehidupan dan keluargaku?

Sebelum menimpa kami, Kabupaten Lombok Utara(KLU) dan Lombok Timur(Lotim ) telah lebih dahulu diluluh lantakkan oleh gempa, dan tim dari Lazis Wahdah telah berada di sana. Sehingga ketika gempa menimpa kami dan menghancurkan rumah hampir seluruh warga, maka segera tim Lazis Wahdah menuju ke desa kami memberikan bantuan. Bahkan Lazis Wahdah merupakan lembaga kemanusiaan pertama yang mengulurkan bantuan ke desa kami hingga hari ini.

Suamiku yang tadinya dicibir, tiba-tiba menjadi magnet bersama Lazis wahdah karena mereka tidak kenal lelah siang dan malam terus hadir memberikan rasa empati baik materi, moril, maupun seprituia.

Anak-anak, lansia, para janda, semua merasakan kehadiran Lazis Wahdah.

Doaku yang paling indah dalam fikiranku saat ini, semoga kehadiran wahdah bersama dakwahnya akan bersemi di desaku di masa yang akan datang

Terimakasih ya Allah puji syukur ke hadirat-Mu.

Terimakasih Laziz Wahdah Islamiyah dengan relawannya.

Terimakasih suamiku. [ed:sym]

Sumber: WAG Alumni STIBA tanpa mencantumkan nama penulis.

Energy Of Da’wah Qurani

Energy of Da'wah Qurani

Sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah dalam seminar Energy Of Da’wah Qurani

Energy Of Da’wah Qurani

(Depok) Wahdahjakarta.com, – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok  menggelar Sharing Dakwah Qurani di Aula Trubus Cimanggis Depok Jawa barat pada Ahad, (12/08/2018).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari MPP (Musyawarah Pengurus Pleno) yang rutin diadakan setiap 4 bulan sekali.

Sharing Da’wah Qurani pada MPP ini mengundang salah satu Lembaga Pendidikan Alquran yang sedang naik daun yaitu Tim Askar Kauny yang diwakili Ust Habiburakhman, Lc. Lembaga pimpinan Ust Bobby Herwibowo, Lc ini terkenal dengan metode menghafal qur´an menggunakan otak kanan dengan branding `Menghafal Semudah Tersenyum`.

Dengan metode ini (atas ijin Allah) sudah jutaan orang yang telah merasakan manfaat bagaimana menghafal qur`an dengan mudah, dan ada 40.000 lebih peserta aktif dari komunitas penghafal qur`an di Indonesia dan beberapa negara lain. Askar Kauny juga telah memiliki 23 Pesantren penghafal qur`an untuk Yatim dan Dhuafa yang digratiskan sejak didirikan tahun 2014 dan masih terus banyak beberapa permintaan antri untuk pendirian pesantrennya.

Perkembangan yang begitu cepat ini (atas ijin Allah) menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dakwah Alqur`an yang begitu tinggi, disamping karena metode yang dikembangkan Askar Kauni begitu mudah dan menyenangkan di dalam prakteknya. `Menghafal Qur`an dengan tidak menggunakan otak`, demikian papar Ust Habib dalam sesi sharing dengan pengurus DPW WI DKI Jakarta – Depok.

Dalam sambutanya Ustadz Ilham Jaya selaku Ketua DPW Menyampaikan perlunya melakukan terobosan – terobosan terus menerus di dalam dakwah, sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang. Dengan adanya sharing dakwah qurani diharapkan menambah wawasan, bekal `amunisi` dan energi bagi Pengurus Wahdah Islamiyah di Jakarta dan Depok agar berdakwah kepada masyarakat lebih mudah diterima, dan punya kekuatan yang dahsyat di dalam membuka pintu-pintu hidayah sebagai sebuah ikhtiar didalam mendakwahkan Alqur`an.(yd).

Wahdah Islamiyah Jakarta Tegaskan Komitmen Dakwah Qur’an

Ketua DPW WI Jakarata dan Depok Ustadz. Ilham Jaya saat menyampaikan arahan pada MPP DPW WI Jakarta, Ahad (12/08/2018)

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.c0m,-  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta (Wahdah Jakarta) menggelar Musyawarah Pengurus Pleno (MPP) pada Ahad (12/08/2018) di Agroedutainment Toko Trubus Cimanggis Depok.

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan,  Wahdah Jakarta dan Depok bertekad akan menjadikan dakwah Al-Quran sebagai inti dari aktifitas-aktifitas Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok.

“Kegiatan dan program dakwah yang dijalankan Wahdah di DKI Jakarta dan sekitarnya Wahdah Islamiyah Jakarta memformulasikan tema-tema Qurani baik secara konten dan perwajahan dakwah Islam sebagai brand utama dakwah Wahdah Islamiyah di Jakarta dan sekitarnya”, terang Ustadz Ilham.

“Kita harapkan bahwasanya tema-tema Quran ini menjadi unggulan dalam program kerja di lembaga perjuangan ini”, pungkas mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Saat ini Wahdah Jakarta mengelola beberapa kegiatan dan program Dakwah Qur’an seperti Rumah Tahfidz, Markaz Qur’an, DIROSA (bimbingan baca Al-Qur’an untuk orang dewasa), tahfidz Week end, bimbingan terjemah Qur’an, pesantren tahfidz, serta pelatihan guru dan pengajar Qur’an.

Ustadz Ilham berharap program dan gerakan ini memberikan manfaat yang besar terhadap umat di Indonesia secara umum, terkhusus bagi warga Jakarta sebagai pusat Ibukota, dan umat Islam secara umum.

MPP ini diikuti oleh perwakilan pengurus wahdah dan Muslimah Wahdah tingkat Daerah di Jakarta dan Depok (DPD WI Jakarta Timur, DPD WI Jakarta Selatan, DPD WI Jakarta Pusat, DPD WI Jakarta Utara, dan DPD WI Depok. [sym]

Lepas 307 Dai , Ustadz Zaitun: Kita Bangun Negeri Ini dengan Dakwah

Lepas 307 Dai , Ustadz Zaitun: Kita Bangun Negeri Ini dengan Dakwah

Lepas 307 Dai, Ustadz Zaitun: Kita Bangun Negeri Ini dengan Dakwah

(Makassar) wahdahjakarta.com,- Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI)  kembali mengutus 307 Dai ke berbagai daerah.  Pengiriman Dai ini merupakan pelaksanaan Gerakan Tebar Dai Nusantara (TDN) jilid III.

Dai yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar akan ditugaskan di pulau Sumatera,  Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa  Dua Bali, Maluku, dan Papua.

Acara pelepasan Dai dirangkaikan dengan Tabligh Akbar yang mengangkat tema ‘Bersama Membangun Negeri” di Masjid al-Markaz al-Islami Makassar, Ahad (5/8/2018).

Kepada seluruh dai yang ditugaskan ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menasehatkan agar di daerah tugas nantinya mereka menjaga hubungan baik dengan pemerintah dan masyarakat.

Lepas 307 Dai , Ustadz Zaitun: Kita Bangun Negeri Ini dengan Dakwah

Para dai ini diharapkan menjadi pembimbing bagi masyarakat. “Dengan adanya program ini, semarak membumikan al-Qur’an dan ajaran Islam yang kaffah bisa segera terwujud. Ayo kita bangun negeri ini dengan dakwah,” kata ustadz Zaitun.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, termasuk  yang penting diperhatikan dalam pembinaan masyarakat adalah masalah akhlak. Untuk itu ustadz Zaitun berharap agar para dai ini juga menjadi teladan dan mengajarkan akhlak yang baik kepada masyarakat.[ed:sym]

Thoyigbe Zola, Mualaf  yang Sebelumnya  Penentang Islam

Mualaf

Zola saat bercerita di hadapan peserta Multaqa Ulama dan Da’i

Sebelum menjadi mualaf, Harun (nama hijrah Zola setelah masuk Islam) merupakan tokoh berpengaruh di wilayahnya yang menentang keras ajaran Islam. Pandangannya itu dia dapati dari kabar-kabar serampangan yang mengaitkan ajaran Islam dengan kekerasan. Namun, Syekh Ibrahim tak patah arang dan menjelaskan bahwa pandangan tersebut merupakan kesesatan yang sengaja ditujukan untuk merusak citra Islam.

(Jakarta) wahdahjakarta.com-,  Seorang kepala suku dari Afrika menjadi pusat perhatian para peserta Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa yang digelar selama empat hari dari Selasa s/d Jum’at (3-6/7/2018), di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Thoyigbe Zola namanya. Dia merupakan Kepala Suku dari suatu wilayah di Benin, negara di Afrika Barat. Penampilannya boleh jadi yang paling mencolok dan ghorib.

Atribut serta pakaian yang melekat nampaknya belum pernah dikenakan oleh para ulama atau masyarakat dari negeri kaum Muslimin.

Tongkat kebesarannya itulah yang begitu tampak mencolok. Panjangnya hampir setinggi tubuhnya. Ketika berjalan, ujung tongkat itu seakan mencapit sekaligus menggigit bahunya karena terdapat patung macan mengaum tepat di ujung tongkat yang selalu menjadi pembicaraan para ustadz.

Kain sarung yang dia kenakan pun tampak mentereng dengan motif macan-macan. Ketika diwawancarai eksklusif bersama beberapa rekan wartawan, Zola menjelaskan, atribut dan pakaian yang dia kenakan itu merupakan simbol-simbol yang menandakannya seorang pemimpin suatu kaum.

“Tongkat yang menempel di pundak adalah bukti bahwa saya raja. Sedangkan tongkat panjang bercabang digunakan untuk memerintah dan penutup kepala dengan tiga pucuk adalah tanda kebesaran. Tidak ada satupun orang yang boleh memakai pakaian seperti ini kecuali saya,” ungkap Zola dengan bahasa Prancis, ketika diundang wawancara ke sebuah kamar hotel.

Keunikannya itu ternyata mengundang antusias dari para ustadz dan peserta yang hadir untuk sekedar berkenalan atau mengabadikan momen langka bertemu “raja dari Afrika”.

Atribut, tongkat macan, dan gelar raja, merupakan “pemanis” dari kisah Zola yang kini telah berganti nama menjadi Harun Muhammad. Sebelum memasuki bulan Ramadhan lalu, Harun telah memeluk Islam setelah sebelumnya menjadi seorang penyembah berhala.

Syaikh Khalid al-Hamoudi, da’i sekaligus tokoh dermawan masyhur dari Arab Saudi menyaksikan kesaksian Harun ketika mengucap dua kalimat syahadat.

Dalam satu sesi acara, Syaikh Khalid meminta Harun menceritakan kisah hijrahnya kepada seluruh peserta yang sangat antusias mendengar cerita itu.

Melalui seorang penerjemah yang tak lain merupakan sosok da’i yang telah mendakwahi Harun selama lebih dari 10 tahun, Syekh Abu Bakr dari Afrika, menyampaikan, Harun merasa sangat bahagia bisa berada di tengah kaum Muslimin dari berbagai dunia.

“Dia senang sekali dan tidak pernah membayangkan hal seperti ini. Dia yakin bahwa kebahagiaan ini hanya datang dari Allah. Dia juga berterima kasih kepada kaum Muslimin Indonesia karena menyambutnya dengan gembira. Juga kepada Syaikh Khalid yang menuntunnya memeluk Islam,” tutur Syekh Ibrahim menerjemahkan perkataan Harun, melansir Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi JITU.

Sebelum menjadi mualaf, Harun merupakan tokoh berpengaruh di wilayahnya yang menentang keras ajaran Islam. Pandangannya itu dia dapati dari kabar-kabar serampangan yang mengaitkan ajaran Islam dengan kekerasan. Namun, Syekh Ibrahim tak patah arang dan menjelaskan bahwa pandangan tersebut merupakan kesesatan yang sengaja ditujukan untuk merusak citra Islam.

Sejak itu, Harun semakin kuat memeluk Islam. Sekarang Harun menyadari, banyak manusia yang memfitnah Islam. Setelah menjadi Muslim, Harun langsung mendapati, fitnah tersebut ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan ketika dia justru mendapat sambutan yang hangat dari para masyekh dan ratusan da’i dari berbagai negara yang menghadiri acara tersebut.

Di akhir ceritanya yang berulang kali memicu hadirin bertakbir, Harun berjanji untuk terus berupaya mendakwahkan Islam kepada kaumnya di Benin. Pengaruhnya sangat diharapkan untuk penyebaran Islam di wilayah-wilayah Afrika yang belum terjangkau kebesaran dan kelembutan hati orang semacam Syekh Khalid dan ketangguhan dakwah dari Syekh Ibrahim. []

Indahnya Dakwah

Halaqah Tarbiyah. Foto: M.Ode Wahyu

Jika orang-orang tahu betapa indahnya dakwah di daerah yang masyarakat kurang memahami agama ini, niscaya mereka akan meninggalkan sofa rumahnya yang empuk dan beralih pada dakwah yang indah ini.

Banyak orang yang pandai menyemangati orang lain untuk berdakwah, tapi mereka sendiri tidak ingin jauh dari area nyamannya. Mereka tidak ingin jauh dari keluarga, anak istri dan lebih memilih tempat yang orang-orang sudah banyak mengenal agama. Orang-orang seperti ini jika diminta ke daerah yang tak ada keluarga mereka disana, maka beban 5 ton serasa sedang menindih pundak mereka.

Adapun orang-orang yang benar-bsnar yakin akan janji Allah, mereka akan pergi demi meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Walau awalnya memang terasa berat, mereka penuhi perintah Rabbnya:

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. At-Taubah: 41)

Semoga Allah menguatkan seluruh teman-teman yang sedang berdakwah di jalan Allah di daerah manapun. Semoga Allah memudahkan seluruh urusan kalian.

Jangan merasa iri dengan orang-orang yang bertitel yang selalu tampil dipodium, karena sebagian dari mereka merasa takut untuk berjuang sepertimu.

Engkaulah manusia pilihan. Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (QS. Al-Hajj: 78)

Ingat, dakwah itu adalah bagian dari jihad. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wajalla:

وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar“. (QS. Al-Furqan: 52).

Jihad besar yang dimaksud dalam ayat dia atas adalah berjihad dengan Al-Qur’an, yakni mendakwahkan dan mengajarkan Al-Qur’an.

Keep istiqamah.
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Syaikh Yusuf Estes: Hidayah Milik Allah, Tapi Seorang Da’i Harus Melakukan yang Terbaik

Peserta Kuliah Umum syaikh Yusuf Estes

Surabaya (wahdahjakarta.com) – Hidayah itu milik Allah, tapi Seorang Da’i harus melakukan yang terbaik dalam berdakwah. Demikian disampaikan Dai asal Amerika Serikat (AS) Syaikh Yusuf Estes saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan warga Surabaya dan sekitarnya di Ballroom Grand City Surabaya, Senin malam (19/3/2018).

Dai yang dahulunya seorang pendeta itu menegaskan bahwa tugas kita sebagai Muslim hanya menjelaskan tentang Islam, sementara hidayah itu urusan Allah. Kata Syaikh, jangankan kita, Nabi saja sebagai manusia terbaik tidak bisa mengajak paman tercintanya masuk Islam.
“Begitu juga bapaknya Nabi Ibrahim, anaknya Nabi Nuh, betapa mereka mencintai keluarganya dan berharap bisa bersama-sama masuk Islam, tetapi kita tidak bisa memaksanya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pesan Syaikh, lakukan saja yang terbaik dalam berdakwah mengenalkan Islam, biar Allah yang memberikan hidayahNya.

Para peserta sangat antusias mengikuti acara bertajuk ‘The Journey to Islam’ itu. Banyak diantara mereka yang mengaku senang bisa melihat dan bertanya langsung kepada Syaikh Yusuf, salah satunya seorang muslimah yang mengaku semangat berdakwah karena terinspirasi dengan Syaikh Yusuf.

Saat sesi bertanya, ia menceritakan bahwa saat ini ia berharap bisa mengajak sahabatnya masuk Islam, namun ia masih kurang berani mengajaknya karena ini masalah agama ini pembicaraan yang sensitif.

Menjawab pertanyaan tersebut, Syaikh Yusuf mengatakan bahwa Din (agama) Islam adalah cara hidup. “Dalam Islam, Allah menegaskan bahwa Din adalah cara hidup, kalau kamu tidak mau bicara Din berarti tidak mau bicara tentang kehidupan,” jelasnya.

Syaikh Yusuf Estes di Surabaya

Safari Dakwah Syaikh Yusuf digelar oleh Sahabat Dakwah Internasional (SDI), sebuah lembaga dakwah yang consern menghadirkan Da’i Internasional. Sebelumnya pada 2017 lalu SDI sukses menggelar acara safari dakwah bersama Zakir Naik.

Safari Dakwah Syaikh Estes dimulai di Jakarta 18 maret lalu dan dijadwalkan sampai Rabu 21 Maret 2018.

Humas SDI Budhi Setiawan mengatakan, peserta yang hadir di Surabaya melebihi target. “Target kami 1000 orang, tapi alhamdulillah yang hadir lebih dari 1000. Kami sediakan 1.200 bangku di dalam dan 300 di luar, semua terisi penuh,” katanya.

Setelah Surabaya, rencananya Syaikh Yusuf melanjutkan safari dakwahnya ke Balikpapan, Kalimantan Timur.
Berikut jadwal Syaikh Yusuf Estes di Balikpapan :
Selasa, 20 Maret 2018
Pkl 12.00 memberikan Ceramah di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak
pkl. 19.30 WITA, Dome Balikpapan Sport & Convention Center
Rabu, 21 Maret 2018
pkl. 04.30 WITA, Ceramah Ba’da Subuh, Masjid Namirah.

Para peserta yang akan hadir diimbau membawa headset/handsfree yang berfungsi sebagai media alih bahasa dari penterjemah dan dipastikan di ponsel anda terdapat aplikasi radio, untuk mendengarkan secara langsung. [sym].

Sumber: Suaraislamonline.com.

Alhamdulillah, Syaikh Yusuf Estes Tiba di Indonesia

Syaikh Yusuf Estes

Kedatangan Syaikh Yusuf Estes Tiba di Bandara Soekarno-Hatta Indonesia

Alhamdulillah, Syaikh Yusuf Estes  Tiba di Indonesia

JAKARTA (wahdahjakarta.com)- Dai asal Amerika Serikat Syaikh Yusuf Estes akhirnya tiba di Indonesia. Syaikh Yusuf Estes sendiri terbang langsung dari Los Angeles kemudian singgah di Incheon Korea Selatan dan transit di Singapura baru melanjutkan perjalanannya ke Indonesia.

Menempuh perjalanan selama lebih kurang 24 jam menggunakan Singapore Airlines, sosok dai terkemuka asal AS ini mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tepat pukul 7 pagi WIB dan langsung disambut oleh ketua Sahabat Dakwah Internasional (SDI), ustadz Bukhari Wahid dan pembina SDI bapak Haji Sahir.

Dari bandara, beliau langsung dibawa menuju hotel di kawasan Sudirman untuk melepas lelah setelah sekian lama berada di dalam pesawat.

Agenda resmi Syaikh Yusuf Estes di Indonesia sendiri baru dimulai pada hari Ahad besok (18/3/2018) yaitu mengisi ceramah subuh di masjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur dan dilanjutkan ceramah zhuhur di masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Selain melakukan safari dakwah di beberapa kota yang ada di Indonesia, Syaikh Yusuf Estes juga akan melakukan beberapa pertemuan dengan berbagai pihak di Indonesia seperti ulama dan pejabat pemerintah.

Ada komentar menarik dari Syaikh Yusuf Estes setibanya di Indonesia. Hal itu disampaikannya langsung kepada ketua SDI, ustadz Bukhari Wahid.

“Dia bilang ke kita, wah servisnya kelas keluarga kerajaan,” ungkap Syaikh Yusuf Estes kepada ustadz Bukhari Wahid. Sepertinya Syaikh Yusuf Estes sangat terkesan dengan sambutan dan pelayanan yang diberikan pihak panitia kepada beliau.

Kedatangan beliau ke Indonesia difasilitasi oleh Sahabat Dakwah Internasional (SDI) yang sebelumnya juga sukses menghadirkan Dr. Zakir Naik (DZN) dan Mufti Kerajaan Perlis Malaysia, Dr. Mohd Asri Zainul Arifin (Dr. Maza).

Syaikh Yusuf Estes

Profil singkat Syaikh Yusuf Estes

Syaikh Yusuf Estes dibesarkan dari keluarga penganut agama Kristen yang sangat taat, dia mendapat pendidikan di Texas, sukses dalam berbisnis musik, memiliki toko, acara TV dan menggunakan bakatnya untuk menjadi seorang penginjil, sambil melakukan beberapa khotbah dari Alkitab.

Ada peristiwa menarik yang dia alami, yang peristiwa ini akhirnya merubah total hidupnya. Pada tahun 1991 dia berusaha mempengaruhi seorang Muslim dari Mesir untuk berpindah agama, namun justru akhirnya dia menemukan fakta sebenarnya tentang Islam sejati dan kemudian menjadikan dirinya seorang Muslim.[sym]