Wahdah Islamiyah Jabar Gelar Workshop Media di Bandung

Peserta Workhop Dakwah Media Bersama Ketua Infokom DPP Wahdah Islamiyah Ust. Zainal Abidin dalam Pelatihan yang digelar di Bandung, 8-9 Desember 2018.

(Bandung) wahdahjakarta.com–Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jawa Barat menggelar workshop media di Markaz Wahdah Islamiyah Bandung, sabtu-ahad 8-9 Desember 2018.

Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Wahdah Islamiyah se-Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung. Workshop diisi oleh Kadep Infokom Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Zainal Abidin, Kadep Infokom DPW DKI Jakarta Syamsudin Lahanufi serta Pimpinan Pondok IT Yogyakarta Irhamullah Yunta.

Materi workshop meliputi videografi, desain grafis, jurnalistik, media sosial, branding, fotografi, pembuatan website, serta online streaming / broadcasting.

Antusias peserta saat mengikuti serangkaian acara dalam Workshop Dakwah Media di Bandung(8-9/12/2018)

Sekitar 30 orang dari berbagai daerah antusias mengikuti acara ini, antara lain utusan dari Bandung, Bandung Barat, Cianjur, Depok, Bekasi (Jawa Barat), Jakarta Utara, Jakarta Timur (DKI Jakarta) serta Bandar Lampung (Lampung).

“Kami sangat senang akhirnya bisa membuat video dakwah singkat hasil jerih payah tangan kami sendiri. Mulai dari diskusi tentang pemilihan ide, penyusunan naskah, pengambilan gambar sampai dengan mengedit video hingga menjadi video pendek berdurasi sekitar 4 menit”, ujar Alir salah seorang peserta yang berasal dari Depok.

Ketua panitia workshop, Yan Syafri Hidayat mengatakan, workshop ini bertujuan agar setiap pengurus Wahdah Islamiyah memiliki kemampuan dalam bidang media dan jurnalistik yang menunjang kegiatan dakwah di daerah masing-masing. “Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, ini termasuk workshop dengan peserta terbanyak yg diisi oleh Infokom DPP”, ujarnya.
Ia berharap acara ini dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerja nyata dan pertemuan rutin Infokom, khususnya untuk daerah Jawa Barat.

(infokom-dpwjbr).

Ribuan Muslimah Hadiri Silaturrahim Akbar Muslimah di Makassar

Silaturrahmi Akbar Muslimah, “Satu Hati, Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan,” di CCC Makassar, Ahad (2/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com— Ribuan Muslimah berkumpul di gedung Celebes Convention Center (CCC) untuk mengikuti  acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim bertema “Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan, Ahad, (2/12/2018).

Dalam kesempatan itu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Liestiaty F. Nurdin menyatakan bahwa wanita Muslimah, khususnya kaum ibu harus pintar, karena mereka dituntut mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

“Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba”, ucapnya di hadapann sekitar sepuluh ribuan Muslimah yang memadati hampir seluruh sudut ruangan gedung CCC.

“Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Muslimah Wahdah Pusat (MWP), Gerakan Muslimah Bisa dan Forus Majelis Taklim Wahdah Islamiyah ini bertujuan untuk membangun jiwa muslimah peduli dan cepat tanggap terhadap dakwah dan kemanusiaan.

Menurut keterangan tertulis panitia kepada wahdahjakarta.com, acara ini digelar untuk menyikapi fenomena bencana banyak menimpa Indonesia belakangan ini. Fenomena musibah dan bencana yang melanda menuntut peran semua pihak, termasuk kaum Muslimah dan Muballighat.

Menurut Majdah M. Zain, Rektor Universitas Islam Makassar yang turut dihadirkan sebagai nara sumber pada kegiatan ini, peran yang dapat dimainkan oleh Muslimah dan Mubalighah adalah amar ma’ruf  nahi munkar sebagai salah satu upatya mencegah bencana dan musibah.

“Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. Seorang pembawa amar ma’ruf dan mencegah perbuatan  buruk  atau nahi mungkar”, ujarnya.

Menurutnya seorang muslimah tidak boleh cuek terhadap kondisi di sekitarnya. Ia juga meluruskan persepsi sebagian orang yang berkata, “yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan”.

Senada dengan Ibu majdah Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah, Harisatipa Abidin  mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua.

Da’iyah dan aktivis kemanusiaan yang sempat terjun langsung sebagai relawan kemanusiaan Palu ini  mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa yang membuat para peserta turut larut dalam suasana yang disampaikan  oleh ustadzah.

Gerakan Muslimah Bisa yang digelar secara rutin oleh Muslimah Wahdah setiap 3 tahun atau 4 tahun sekali.

Arah Perjuangan Umat; Politik Ditentukan Oleh Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com—  Dakwah umat Islam memiliki pengaruh terhadap politik umat Islam. Demikian pernyataan Pendiri Partai Masyumi Buya Muhammad Natsir, sebagaimana dikutip Sejarawan Persis Tiar Anwar Bachtiar pada Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat” yang digelar di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta, Sabtu (1/12/2108).

Hal itu disampaikan Kang Tiar dengan maksud meluruskan persepsi umat Islam tentang politik dan kekuasaan.

“Ketika berbicara kekuasaan, langsung meloncat pada masalah politik. Dahulu, ketika Masyumi dibubarkan pemerintah Soekarno, Buya Muhammad Natsir berkata, politik kita ditentukan oleh dakwah kita,” ujarnya.

“Sehingga sepanjang dakwah kuat dan kita berpegang pada ideologi maka insyaAllah Islam akan tetap jaya dan masa depan Indonesia adalah masa depan umat Islam,” tegasnya.

Maka dari itu, sambung Tiar politik kita tidak ditentukan oleh sebesar apa suara partai-partai Islam, tapi kekuatan dakwah Islam. Sepanjang dakwah tidak berhenti, Islam akan tetap jaya.

Ia menambahkan, pada masa kemerdekaan yang menumpahkan darah dan memunculkan identitas Indonesia adalah umat Islam.

“Setelah para ulama dan santri menggerakkan perlawanan melawan, maka kita punya definisi tentang apa itu Indonesia. Sebab, sebelumnya kita dinamai oleh orang Belanda sebagai Inlander,” tambahnya.

Kemudian, pada Abad ke-20 peran umat Islam dalam identitas kebangsaan di Indonesia semakin mengental. Saat itulah munculnya gerakan-gerakan islam semisal Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad.

“Oleh karena itu, jika bicara nasionalisme di Indonesia tanpa keislaman hal itu adalah nonsense,” pungkasnya.

Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan” digelar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Rencananya MIUMI akan roadshow ke beberapa kota di Indonesia untuk menggelar Tabligh Akbar tersebut.

Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasui Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Ribuan umat Islam berkumpul di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru Jakarta  Selatan, pada Sabtu (1/12/2018) malam untuk mengikuti Tabligh Akbar bertema “Arah Perjuangan Umat, Intehrasi Keislaman dan Kebangsaan”.

Kegiatan ini digelar oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) untuk merumuskan peta perjuangan umat Islam ke depan.

Dalam kesempatan ini, Tokoh Persis Tiar Anwar Bachtiar menegaskan Indonesia berhutang kepada perjuangan Ulama dan Umat Islam.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kata Tiar, para ormas Islam telah eksis dan berjuang membebaskan Indonesia dari tangan penjajah Belanda.

“Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” ujar Doktor Sejarah UI ini seperti dikutip INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi JITU.

“Maka kalau ada yang bilang Pancasilais tapi minus Islam itu adalah omong kosong,” tegas Tiar yang juga pengurus MIUMI Pusat.

Tiar juga menegaskan bahwa kekuatan politik Islam ditentukan dari sejauh mana dakwah umat Islam itu sendiri.

“Sekarang capres mana yang tidak butuh suara umat Islam, itu karena kekuatan masyarakat sipil umat Islam, bukan parpol,” jelas dia.

Karena itu, lanjut dia, Mohammad Natsir menyerukan para petinggi Masyumi untuk menguatkan dakwah saat Masyumi dibubarkan.

“Kemenangan umat Islam landasannya adalah ideologi dan gerakannya adalah dakwah,” tukas Tiar.

Menyambung pernyataan Tiar, Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal menegaskan bangsa Indonesia tak perlu ada ketakutan dengan kalimat takbir di negeri ini.

Sebab negeri ini dibebaskan dengan kalimat takbir dan tauhid.

Sementara itu, Direktur INSISTS Henri Shalahuddin menekankan pentingnya umat Islam melakukan kaderisasi pemuda.

Dia juga menyoroti masuknya ajaran feminisme dan keseteraan genda yang meracuni pendidikan hari ini.

Untuk itu, Henri menyarankan agar ormas Islam membuat roadmap perjuangan Islam bagi kejayaan umat.

Sejumlah tokoh lintas ormas Islam seperti Bachtiar Natsir (AQL), Jeje Zainuddin (Persis),  Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah),  Zain An Najah (DDII), dan lain sebagainya. (SM/sym)

Mengagumkan, Pemuda Ini Tinggalkan Pekerjaannya Demi Dakwah

Taufik Hidayat (25) Konsultan Enggineering yang banting setir jadi Da’i. Kini sedang menimba ilmu pada program Tadribud Du’at (Pelatihan Da’i) di Pusdiklat Da’i DPP Wahdah Islamiyah Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com – Ketika dakwah telah merasuk dalam jiwa seorang Muslim dan diyakini sebagai pekerjaan paling mulia maka seseorang akan menghibahkan seluruh tenaga dan pikiran untuknya itu.  boleh jadi, kecintaannya terhadap dakwah akan membuatnya melakukan apa saja demi Islam. Seperti  yang dilakukan oleh Muhammad Taufik Hidayat.

Pemuda berusia 25 tahun asal Bintuni Papua ini rela meninggalkan pekerjaannya sebagai konsutan  pada sebuah perusahaan di Papua demi dakwah.

Taufik merupakan salah satu calon dai yang sedang  belajar di program Sekolah Dai (Tadrib ad Du’at) Wahdah Islamiyah di Makassar.  Sebelumnya selama tiga tahun, ia bekerja sebagai konsultan enggineering di sebuah perusahaan besar di Papua.

Seiring berjalannya waktu, saat melihat kondisi masyarakat Muslim Papua yang membutuhkan da’i, jebolan Teknik sipil ini merasa terpanggil untuk ikut andil dalam membenahi semua kondisi tersebut.

“Saya dengar di Makassar ada program sekolah dai yang di inisiasi oleh Wahdah. Saya pikir inilah kesempatan saya untuk mewujudkan impian saya,” ujar Taufik, lewat pesan singkat, Kamis (29/11/2018).

Ia menjelaskan, hampir semua masjid di daerahnya jarang tersentuh oleh dakwah-dakwah Islam.

“Palingan Jumatan saja kami disuguhi dengan tausyiah dan siraman kalbu,” tambahnya.

Pria keturunan Papua-Bima ini bertekad untuk menjadi dai. Selepas setahun belajar dalam program tersebut, ia akan kembai ke Papua.

“Insya Allah, saya tetap akan fokus berdakwah di tanah kelahiran saya,” imbuhnya.

Masyarakat Papua, terutama bagi yang muslim, kata Taufik seringkali salah jalan. Ia menggambarkan, bahwa tidak sedikit di antara mereka yang berbaur dengan warga non muslim, menyebabkan pengetahuan keislaman mereka semakin berkurang. Termasuk masih belum bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

Bulan tiga tahun 2018 lalu ia keluar dari perusahaannya tersebut. Meski di akuinya, jabatan dan gaji di tempat tersebut cukup menjanjikan.

“Semuanya karena dakwah. Dan tetap karena dakwah,” pungkasnya.

Mengintip  Dinamika  Dakwah Islamiyah di Pulau Buru

Suasana belajar Islam di salah satu Masjid di Pulau Buru dibawah bimbingan Da’i Wahdah Islamiyah

(Pulau Buru) wahdahjakarta.com — Daerah-daerah Indonesia masih banyak yang terpinggirkan. Tak hanya dari sisi perekonomian, akses dan pangan yang terkadang belum mencukupi, dakwah Islam di wilayah ini kadang-kadang terluput dari pantauan masyarakat luar. Meski sejak lahir mereka telah beragama Islam, namun kurangnya pasokan dai ke tempat mereka menjadi problem tersendiri. Anak-anak hanya sebatas bisa mengeja alif ba ta hingga ya, namun pengucapannya masih kurang fasih. Belum lagi hukum bacaan lainnya yang juga luput diajarkan karena dangkalnya pengetahuan para orangtua mereka.

Kondisi Masjid yang jauh dari kata ramai. Pengelolaan serta manajemen keislaman yang perlu di pupuk lebih baik lagi. Hingga tak jarang, di wilayah tertentu, ternyata masih belum ada Masjid yang terbangun.

Adalah ustadz Ariansyah Nur, dai Wahdah Islamiyah yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah di Pulau Buru, Kepulauan Maluku sejak 2017 silam. Pulau Buru merupakan pulau terbesar ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah yang memiliki corak topografi berupa perbukitan dan pegunungan. Wilayah yang cukup menantang untuk para dai yang berasal dari luar Maluku.

Ada beberapa kelompok etnis yang menetap di Buru: etnis asli, yakni Buru (baik di pesisir maupun di pedalaman); dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara (terutama Kei), Ambalau, Kep. Sula (terutama Sanana), Buton, Bugis, dan Jawa (terutama di daerah pemukiman transmigrasi). Tidak diketahui data mengenai komposisi penduduk berdasarkan etnis.

Setiap hari dai asal Makassar ini mengajari anak-anak al-Qur’an. Memahamkan para orangtua dengan dakwah secara pendekatan person to person.

Ustadz ariansyah, Da’i Wahdah Islamiyah di Pulau Buru

“Kita ajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang murni. Perkuat tauhid mereka. Karena pengamalan animisme dan dinamisme disini masih sangat kental,” ujarnya lewat pesan singkat kepada LAZISWahdah.com, Selasa (27/11).

Dakwah di daerah terpencil, apalagi minoritas membutuhkan strategi tersendiri. Bagi ustadz Ariansyah, prinsip terpenting dalam berdakwah di pelosok negeri ialah memperkenalkan agama yang membuat hidup masyarakat lebih mudah dan nyaman. Di kantong-kantong kemiskinan, para dai tak cukup hanya mendakwahkan teori-teori mengenai Islam. Pemberdayaan ekonomi, akses pendidikan, dan pelayanan kesehatan menjadi satu hal penting yang perlu dilakukan.

“Mereka sebetulnya punya ghiroh untuk belajar. Akan tetapi, jumlah dai yang belum maksimal kadang menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Tapi Insya Allah, sembari menunggu pasokan dai dari Makassar, Wahdah Islamiyah akan tetap berjuang di tempat ini. Ada tidaknya, tetap akan jalan,” tegasnya.

Melihat kebutuhan tersebut, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah menilai, pelatihan dai tak cukup hanya membekali mereka dengan kemampuan ceramah. Para dai perlu dilatih agar memiliki keterampilan dan keahlian yang akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat daerah terpencil. Mereka perlu memahami psikologi dan sosiologi masyarakat sekitar. Penguasaan bahasa daerah juga menjadi bekal yang sangat diperlukan. Selain itu, kemampuan yang ada perlu ditambah dengan keahlian tertentu, misal pengobatan, totok, urut, dan sebagainya. Keahlian dan keterampilan ini sangat diperlukan untuk memberikan akses kesehatan kepada masyarakat.

“mendekati masyarakat tidak melulu soal dalil-dalil. Kita perlu perencanaan yang baik. Program peningkatan ekonomi juga perlu di gagas,” ujar dia.

Sahabat, mungkin kita pernah berpikir. Apa jadinya jika tak ada dai yang memiliki tekad baja seperti ustadz Ariansyah. Di beberapa tempat, ada dai yang merelakan uang sakunya untuk membiayai dakwahnya. Belum lagi bagi mereka yang telah berkeluarga. Keringat telah terkucur deras, kantong kian menipis, dan amanah dakwah kian bertambah. Jangan biarkan dai pelosok negeri berpikir sendiri. Ayo bantu mereka melalui program “Tebar Dai Nusantara” Wahdah Islamiyah.

Donasi program tebar Dai bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari bentangkan kebaikan membantu sesama bersama LAZIS Wahdah, melayani dan memberdayakan. []

Lidmi Peduli: Bangkitkan Semangat Pengungsi dengan Dakwah dan Pendidikan

Suasana sarapan pagi bakda subuh di posko pengungsian binaan LIDMI Palu,

(Palu) wahdahjakarta.com-, –  Cara unik dan menarik dilakukan  Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Palu dalam menumbuhkan optimisme bagi pengungsi untuk bangkit dan menatap masa depan yang lebih baik.

Di posko pengungsian Lapangan Mister, Kelurahan Tipo, Palu, Sulawesi Tengah, organisasi mahasiswa dan pemuda berbasis dakwah kampus ini  mengajak warga pengungsian meramaikan kegiatan shalat subuh berjamaah, Ahad (25/11/2018).

Ketua Lidmi Palu, Ahmad Muslimin melalui rilisnya menjelaskan strategi yang digunakan untuk mengajak warga shalat subuh berjama’ah, yakni  dengan menyediakan sarapan pagi berupa bubur kacang hijau hangat kepada warga yang menghadiri shalat subuh berjamaah di mushala darurat yang didirikan.

Suguhan sarapan pagi dapat dinikmati jamaah setelah tausiyah subuh yang disampaikan Muhammad Ridho, relawan Lidmi Peduli. Tausiyah berjalan 30 menit dengan mengajak warga untuk mentadabburi nama dan sifat Allah Ta’ala

“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang berarti Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha Pengasihnya Allah Ta’ala adalah kasih yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik ia manusia, hewan maupun tumbuhan. Baik ia beriman kepada Allah atau tidak,” jelas Ahmad.

“Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayangnya Allah, berlaku hanya kepada orang-orang pilihan Allah Ta’ala. Maka mari kita berupaya menjadi orang-orang pilihan yang akan mendapatkan Ar-Rahimnya Allah Ta’ala,” tambahnya.

Setelah mendengar tausiyah subuh, Tim Lidmi Peduli kemudian menyuguhkan bubur kacang hijau hangat bersama hidangan sederhana kepada seluruh jamaah.

“Apa yang kami sajikan mungkin tidak seberapa, ala kadarnya dari kami, semoga menjadi sedikit penyemangat bagi kita semua,” kata Ridho saat menutup tausiyah Subuh dan mengajak warga untuk sarapan bersama.

Tujuan suguhan ini, lanjut Ridho, untuk membina keakraban dengan seluruh warga yang berada di posko pengungsian, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu, para orang tua yang mendiami posko.

“Pembinaan Al-Quran kepada anak-anak dan remaja sedang kami jalankan, maka kami mengharap dukungan dari orang tua mereka, bahkan pembinaan Al-Quran juga kami rencanakan kepada orang-orang tua tersebut,” ungkap Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako 2013 ini.

Warga setempat, Ardi mengatakan, gempa dan tsunami yang menerjang warga di Kelurahan Tipo meninggalkan banyak hikmah. Namun menurutnya, masih banyak warga yang belum bermuhasabah karenanya.

“Kejadian kemarin itu pak betul-betul luar biasa, seperti kiamat. Allah ingin menunjukkan sebagian dari kuasa-Nya. Maka terima kasih sekali sudah hadir untuk membantu kami untuk selalu ingat Allah, dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” pesannya.

Di antara program Lidmi Peduli yang dijalankan secara rutin di posko ini adalah dalam bidang dakwah dan pendidikan, yakni permainan edukasi kepada anak-anak, pembinaan Al-Quran anak-anak dan remaja, serta Pendidikan Al-Quran Orang Dewasa (DIROSA).

Temu Aktivis Dakwah se-Makassar, Ini Motivasi Pendiri INSISTS

Suasana kajian Spesial LIDMI “Aktivi Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer”, Makassar, Sabtu (24/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com Departemen Kajian Strategis Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) bersama dengan LDK se-Makassar menggelar kajian spesial bertema “Aktivis Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer” di Warkop 27 Jln. Sultan Alauddin Makassar, Sabtu (24/11/2018) malam.

Acara yang diikuti aktivis dakwah semakassar ini menghadirkan Wakil ketua Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Ustadz Nirwan Syafrin Manurung, MA., MIRKH., Ph.D sebagai nara sumber.

Ustadz Nirwan yang juga pimpinan Pesantren Husnayain Sukabumi Jawa Barat ini mengawali pembicaraannya dengan penjelasan tentang  berbagai  tantangan dakwah  saat ini.

“Dalam segala bidang, ekonomi, politik, hukum kita di serang dari segala linik termasuk pemikiran. Kita fokus kepada perang pemikiran ini yang abstrak dan peranannya sangat besar”. Ungkapnya

Perkembangan dunia yang terus berubah dalam berbagai bidang keilmuan dan terus akan berkembang di masa yang datang. Maka seharusnya sosok pemudalah yang harus mengambil peran dalam perjuangan ini.

“Usia mudah penuh dengan prestasi sebagaimana Muh. Natsir, Ir. Soekarno, sebab usia muda memiliki potensi yang hebat dalam pikiran dan tenaga. Tantangan seorang pemuda adalah hedonisme, suka senang-senang, santai-santai, pesta pora dan yang lain”. Ujarnya

Pendiri INSISTS ini membeberkan tentang tantangan dakwah yang berbasis data dan riset sebagai penguat keilmuan bagi para aktivis dakwah.

“Dakwah berbasis data, contohnya ketika orang berbicara tentang intoleransi, kristenisasi. Berapa gereja yang di bakar, mereka punya data. Tapi kita tidak punya data berapa masjid yang dibakar. Membuat rencana, dengan kajian-kajian tentang tantangan dakwah kita”. Tuturnya

Cara pandang yang berubah akan merubah pandangan hidup seseorang terhadap suatu objek, perbuatan yang salah akan tetap di anggap benar dan baik begitu juga sebaliknya. Tantangan terbesar ummat Islam adalah cara pandang terhadap sesuatu sebagai contoh LGBT.

“Islam tantangannya adalah cara pandang hidup kita, sebagai contoh LGBT yang banyak mengatakan itu adalah baik karena merupakan hak bagi setiap manusia dan harus kita akui. Padahal LGBT adalah kriminalitas yang terorganisir”. Imbuhnya

Dalam suasana yang semangat dan motivasi yang tinggi para aktivis dakwah di berikan nasehat agar menjadi ahli dalam bidang kita masing-masing, memiliki spesifikasi yang jelas.

“Antum harus punya spesifikasi di bidang masing-masing dalam hal ekonomi, hukum, politik, sosiologi dan yang lain. Membuat planning dan peta-peta dalam perjuangan ini”. Ungkapnya

Dengan kondisi suara yang parau Ustadz Nirwan Syafrin terus bersemangat memotivasi para aktivis dakwah, teruslah berjuang dalam dakwah ini tanpa memikirkan hasil.

“Jika kita masih yakin dengan agama kita ini maka menjadi tugas kita bersama untuk memperjuangkannya baik sebagai guru, dosen, mahasiswa ustadz dan yang lain. Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil. Namun, perjuangan dan usaha kita, ikhlas dan terus berusaha”. Ujarnya sambil menutup materinya.

Laporan: Muh. Akbar

Editor    : Almunawiy

Kalimat Tauhid Misi Dakwah Para Nabi dan Rasul

Kalimat Tauhid

(Bekasi) Wahdahjakarta.com – Kalimat tauhid merupakan misi utama dakwah para Nabi dan Rasul. Demikian pernyataan Inisiator Majelis Ulama Muslim Indonesia (MIUMI), ustadz Farid Ahmad Okbah mengungkapkan tentang sakralitas kalimat syahadat.

“Nabi Muhammad menyerukan kepada manusia pada saat itu dimulai dari masyarakat Makkah, Nabi selalu menyerukan untuk mengucapkan kalimat Tauhid,” ujarnya pada Kamis (01/11/2018) di Bekasi.

“Nabi pun mengingatkan kepada mereka, jika kalian mengatakan “Laa ilaaha Illallah”, maka singgasana Persi dan Romawi akan jatuh ke tangan kalian,” tegas Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi itu.

Ustadz Farid kemudian menuturkan tentang kemuliaan kalimat syahadat, sebagai jalan bagi seseorang untuk masuk ke surga.

“Tidak ada seorang yang akan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid. Jika seandainya ada orang yang ingin masuk surga, maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat yang termasuk kalimat tauhid,” ujarnya.

Ustadz Farid pun menyebut pentingnya umat muslim untuk menyerukan kalimat syahadat kepada manusia. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya mengutip arti dari surat Al-Anbiya ayat 107.

Dia menjelaskan bahwa rahmat bagi seluruh alam bukan sekadar perdamaian atau sekadar mengajak orang-orang supaya toleran. Melainkan untuk menegakkan kalimat syahadat.

“Supaya mereka selamat dunia dan akhirat. Karena tidak ada jalan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid,” pungkasnya. (kiblat.net).

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.