Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasui Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Ribuan umat Islam berkumpul di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru Jakarta  Selatan, pada Sabtu (1/12/2018) malam untuk mengikuti Tabligh Akbar bertema “Arah Perjuangan Umat, Intehrasi Keislaman dan Kebangsaan”.

Kegiatan ini digelar oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) untuk merumuskan peta perjuangan umat Islam ke depan.

Dalam kesempatan ini, Tokoh Persis Tiar Anwar Bachtiar menegaskan Indonesia berhutang kepada perjuangan Ulama dan Umat Islam.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kata Tiar, para ormas Islam telah eksis dan berjuang membebaskan Indonesia dari tangan penjajah Belanda.

“Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” ujar Doktor Sejarah UI ini seperti dikutip INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi JITU.

“Maka kalau ada yang bilang Pancasilais tapi minus Islam itu adalah omong kosong,” tegas Tiar yang juga pengurus MIUMI Pusat.

Tiar juga menegaskan bahwa kekuatan politik Islam ditentukan dari sejauh mana dakwah umat Islam itu sendiri.

“Sekarang capres mana yang tidak butuh suara umat Islam, itu karena kekuatan masyarakat sipil umat Islam, bukan parpol,” jelas dia.

Karena itu, lanjut dia, Mohammad Natsir menyerukan para petinggi Masyumi untuk menguatkan dakwah saat Masyumi dibubarkan.

“Kemenangan umat Islam landasannya adalah ideologi dan gerakannya adalah dakwah,” tukas Tiar.

Menyambung pernyataan Tiar, Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal menegaskan bangsa Indonesia tak perlu ada ketakutan dengan kalimat takbir di negeri ini.

Sebab negeri ini dibebaskan dengan kalimat takbir dan tauhid.

Sementara itu, Direktur INSISTS Henri Shalahuddin menekankan pentingnya umat Islam melakukan kaderisasi pemuda.

Dia juga menyoroti masuknya ajaran feminisme dan keseteraan genda yang meracuni pendidikan hari ini.

Untuk itu, Henri menyarankan agar ormas Islam membuat roadmap perjuangan Islam bagi kejayaan umat.

Sejumlah tokoh lintas ormas Islam seperti Bachtiar Natsir (AQL), Jeje Zainuddin (Persis),  Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah),  Zain An Najah (DDII), dan lain sebagainya. (SM/sym)

Mengagumkan, Pemuda Ini Tinggalkan Pekerjaannya Demi Dakwah

Taufik Hidayat (25) Konsultan Enggineering yang banting setir jadi Da’i. Kini sedang menimba ilmu pada program Tadribud Du’at (Pelatihan Da’i) di Pusdiklat Da’i DPP Wahdah Islamiyah Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com – Ketika dakwah telah merasuk dalam jiwa seorang Muslim dan diyakini sebagai pekerjaan paling mulia maka seseorang akan menghibahkan seluruh tenaga dan pikiran untuknya itu.  boleh jadi, kecintaannya terhadap dakwah akan membuatnya melakukan apa saja demi Islam. Seperti  yang dilakukan oleh Muhammad Taufik Hidayat.

Pemuda berusia 25 tahun asal Bintuni Papua ini rela meninggalkan pekerjaannya sebagai konsutan  pada sebuah perusahaan di Papua demi dakwah.

Taufik merupakan salah satu calon dai yang sedang  belajar di program Sekolah Dai (Tadrib ad Du’at) Wahdah Islamiyah di Makassar.  Sebelumnya selama tiga tahun, ia bekerja sebagai konsultan enggineering di sebuah perusahaan besar di Papua.

Seiring berjalannya waktu, saat melihat kondisi masyarakat Muslim Papua yang membutuhkan da’i, jebolan Teknik sipil ini merasa terpanggil untuk ikut andil dalam membenahi semua kondisi tersebut.

“Saya dengar di Makassar ada program sekolah dai yang di inisiasi oleh Wahdah. Saya pikir inilah kesempatan saya untuk mewujudkan impian saya,” ujar Taufik, lewat pesan singkat, Kamis (29/11/2018).

Ia menjelaskan, hampir semua masjid di daerahnya jarang tersentuh oleh dakwah-dakwah Islam.

“Palingan Jumatan saja kami disuguhi dengan tausyiah dan siraman kalbu,” tambahnya.

Pria keturunan Papua-Bima ini bertekad untuk menjadi dai. Selepas setahun belajar dalam program tersebut, ia akan kembai ke Papua.

“Insya Allah, saya tetap akan fokus berdakwah di tanah kelahiran saya,” imbuhnya.

Masyarakat Papua, terutama bagi yang muslim, kata Taufik seringkali salah jalan. Ia menggambarkan, bahwa tidak sedikit di antara mereka yang berbaur dengan warga non muslim, menyebabkan pengetahuan keislaman mereka semakin berkurang. Termasuk masih belum bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

Bulan tiga tahun 2018 lalu ia keluar dari perusahaannya tersebut. Meski di akuinya, jabatan dan gaji di tempat tersebut cukup menjanjikan.

“Semuanya karena dakwah. Dan tetap karena dakwah,” pungkasnya.

Mengintip  Dinamika  Dakwah Islamiyah di Pulau Buru

Suasana belajar Islam di salah satu Masjid di Pulau Buru dibawah bimbingan Da’i Wahdah Islamiyah

(Pulau Buru) wahdahjakarta.com — Daerah-daerah Indonesia masih banyak yang terpinggirkan. Tak hanya dari sisi perekonomian, akses dan pangan yang terkadang belum mencukupi, dakwah Islam di wilayah ini kadang-kadang terluput dari pantauan masyarakat luar. Meski sejak lahir mereka telah beragama Islam, namun kurangnya pasokan dai ke tempat mereka menjadi problem tersendiri. Anak-anak hanya sebatas bisa mengeja alif ba ta hingga ya, namun pengucapannya masih kurang fasih. Belum lagi hukum bacaan lainnya yang juga luput diajarkan karena dangkalnya pengetahuan para orangtua mereka.

Kondisi Masjid yang jauh dari kata ramai. Pengelolaan serta manajemen keislaman yang perlu di pupuk lebih baik lagi. Hingga tak jarang, di wilayah tertentu, ternyata masih belum ada Masjid yang terbangun.

Adalah ustadz Ariansyah Nur, dai Wahdah Islamiyah yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah di Pulau Buru, Kepulauan Maluku sejak 2017 silam. Pulau Buru merupakan pulau terbesar ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah yang memiliki corak topografi berupa perbukitan dan pegunungan. Wilayah yang cukup menantang untuk para dai yang berasal dari luar Maluku.

Ada beberapa kelompok etnis yang menetap di Buru: etnis asli, yakni Buru (baik di pesisir maupun di pedalaman); dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara (terutama Kei), Ambalau, Kep. Sula (terutama Sanana), Buton, Bugis, dan Jawa (terutama di daerah pemukiman transmigrasi). Tidak diketahui data mengenai komposisi penduduk berdasarkan etnis.

Setiap hari dai asal Makassar ini mengajari anak-anak al-Qur’an. Memahamkan para orangtua dengan dakwah secara pendekatan person to person.

Ustadz ariansyah, Da’i Wahdah Islamiyah di Pulau Buru

“Kita ajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang murni. Perkuat tauhid mereka. Karena pengamalan animisme dan dinamisme disini masih sangat kental,” ujarnya lewat pesan singkat kepada LAZISWahdah.com, Selasa (27/11).

Dakwah di daerah terpencil, apalagi minoritas membutuhkan strategi tersendiri. Bagi ustadz Ariansyah, prinsip terpenting dalam berdakwah di pelosok negeri ialah memperkenalkan agama yang membuat hidup masyarakat lebih mudah dan nyaman. Di kantong-kantong kemiskinan, para dai tak cukup hanya mendakwahkan teori-teori mengenai Islam. Pemberdayaan ekonomi, akses pendidikan, dan pelayanan kesehatan menjadi satu hal penting yang perlu dilakukan.

“Mereka sebetulnya punya ghiroh untuk belajar. Akan tetapi, jumlah dai yang belum maksimal kadang menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Tapi Insya Allah, sembari menunggu pasokan dai dari Makassar, Wahdah Islamiyah akan tetap berjuang di tempat ini. Ada tidaknya, tetap akan jalan,” tegasnya.

Melihat kebutuhan tersebut, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah menilai, pelatihan dai tak cukup hanya membekali mereka dengan kemampuan ceramah. Para dai perlu dilatih agar memiliki keterampilan dan keahlian yang akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat daerah terpencil. Mereka perlu memahami psikologi dan sosiologi masyarakat sekitar. Penguasaan bahasa daerah juga menjadi bekal yang sangat diperlukan. Selain itu, kemampuan yang ada perlu ditambah dengan keahlian tertentu, misal pengobatan, totok, urut, dan sebagainya. Keahlian dan keterampilan ini sangat diperlukan untuk memberikan akses kesehatan kepada masyarakat.

“mendekati masyarakat tidak melulu soal dalil-dalil. Kita perlu perencanaan yang baik. Program peningkatan ekonomi juga perlu di gagas,” ujar dia.

Sahabat, mungkin kita pernah berpikir. Apa jadinya jika tak ada dai yang memiliki tekad baja seperti ustadz Ariansyah. Di beberapa tempat, ada dai yang merelakan uang sakunya untuk membiayai dakwahnya. Belum lagi bagi mereka yang telah berkeluarga. Keringat telah terkucur deras, kantong kian menipis, dan amanah dakwah kian bertambah. Jangan biarkan dai pelosok negeri berpikir sendiri. Ayo bantu mereka melalui program “Tebar Dai Nusantara” Wahdah Islamiyah.

Donasi program tebar Dai bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari bentangkan kebaikan membantu sesama bersama LAZIS Wahdah, melayani dan memberdayakan. []

Lidmi Peduli: Bangkitkan Semangat Pengungsi dengan Dakwah dan Pendidikan

Suasana sarapan pagi bakda subuh di posko pengungsian binaan LIDMI Palu,

(Palu) wahdahjakarta.com-, –  Cara unik dan menarik dilakukan  Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Palu dalam menumbuhkan optimisme bagi pengungsi untuk bangkit dan menatap masa depan yang lebih baik.

Di posko pengungsian Lapangan Mister, Kelurahan Tipo, Palu, Sulawesi Tengah, organisasi mahasiswa dan pemuda berbasis dakwah kampus ini  mengajak warga pengungsian meramaikan kegiatan shalat subuh berjamaah, Ahad (25/11/2018).

Ketua Lidmi Palu, Ahmad Muslimin melalui rilisnya menjelaskan strategi yang digunakan untuk mengajak warga shalat subuh berjama’ah, yakni  dengan menyediakan sarapan pagi berupa bubur kacang hijau hangat kepada warga yang menghadiri shalat subuh berjamaah di mushala darurat yang didirikan.

Suguhan sarapan pagi dapat dinikmati jamaah setelah tausiyah subuh yang disampaikan Muhammad Ridho, relawan Lidmi Peduli. Tausiyah berjalan 30 menit dengan mengajak warga untuk mentadabburi nama dan sifat Allah Ta’ala

“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang berarti Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha Pengasihnya Allah Ta’ala adalah kasih yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik ia manusia, hewan maupun tumbuhan. Baik ia beriman kepada Allah atau tidak,” jelas Ahmad.

“Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayangnya Allah, berlaku hanya kepada orang-orang pilihan Allah Ta’ala. Maka mari kita berupaya menjadi orang-orang pilihan yang akan mendapatkan Ar-Rahimnya Allah Ta’ala,” tambahnya.

Setelah mendengar tausiyah subuh, Tim Lidmi Peduli kemudian menyuguhkan bubur kacang hijau hangat bersama hidangan sederhana kepada seluruh jamaah.

“Apa yang kami sajikan mungkin tidak seberapa, ala kadarnya dari kami, semoga menjadi sedikit penyemangat bagi kita semua,” kata Ridho saat menutup tausiyah Subuh dan mengajak warga untuk sarapan bersama.

Tujuan suguhan ini, lanjut Ridho, untuk membina keakraban dengan seluruh warga yang berada di posko pengungsian, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu, para orang tua yang mendiami posko.

“Pembinaan Al-Quran kepada anak-anak dan remaja sedang kami jalankan, maka kami mengharap dukungan dari orang tua mereka, bahkan pembinaan Al-Quran juga kami rencanakan kepada orang-orang tua tersebut,” ungkap Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako 2013 ini.

Warga setempat, Ardi mengatakan, gempa dan tsunami yang menerjang warga di Kelurahan Tipo meninggalkan banyak hikmah. Namun menurutnya, masih banyak warga yang belum bermuhasabah karenanya.

“Kejadian kemarin itu pak betul-betul luar biasa, seperti kiamat. Allah ingin menunjukkan sebagian dari kuasa-Nya. Maka terima kasih sekali sudah hadir untuk membantu kami untuk selalu ingat Allah, dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” pesannya.

Di antara program Lidmi Peduli yang dijalankan secara rutin di posko ini adalah dalam bidang dakwah dan pendidikan, yakni permainan edukasi kepada anak-anak, pembinaan Al-Quran anak-anak dan remaja, serta Pendidikan Al-Quran Orang Dewasa (DIROSA).

Temu Aktivis Dakwah se-Makassar, Ini Motivasi Pendiri INSISTS

Suasana kajian Spesial LIDMI “Aktivi Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer”, Makassar, Sabtu (24/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com Departemen Kajian Strategis Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) bersama dengan LDK se-Makassar menggelar kajian spesial bertema “Aktivis Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer” di Warkop 27 Jln. Sultan Alauddin Makassar, Sabtu (24/11/2018) malam.

Acara yang diikuti aktivis dakwah semakassar ini menghadirkan Wakil ketua Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Ustadz Nirwan Syafrin Manurung, MA., MIRKH., Ph.D sebagai nara sumber.

Ustadz Nirwan yang juga pimpinan Pesantren Husnayain Sukabumi Jawa Barat ini mengawali pembicaraannya dengan penjelasan tentang  berbagai  tantangan dakwah  saat ini.

“Dalam segala bidang, ekonomi, politik, hukum kita di serang dari segala linik termasuk pemikiran. Kita fokus kepada perang pemikiran ini yang abstrak dan peranannya sangat besar”. Ungkapnya

Perkembangan dunia yang terus berubah dalam berbagai bidang keilmuan dan terus akan berkembang di masa yang datang. Maka seharusnya sosok pemudalah yang harus mengambil peran dalam perjuangan ini.

“Usia mudah penuh dengan prestasi sebagaimana Muh. Natsir, Ir. Soekarno, sebab usia muda memiliki potensi yang hebat dalam pikiran dan tenaga. Tantangan seorang pemuda adalah hedonisme, suka senang-senang, santai-santai, pesta pora dan yang lain”. Ujarnya

Pendiri INSISTS ini membeberkan tentang tantangan dakwah yang berbasis data dan riset sebagai penguat keilmuan bagi para aktivis dakwah.

“Dakwah berbasis data, contohnya ketika orang berbicara tentang intoleransi, kristenisasi. Berapa gereja yang di bakar, mereka punya data. Tapi kita tidak punya data berapa masjid yang dibakar. Membuat rencana, dengan kajian-kajian tentang tantangan dakwah kita”. Tuturnya

Cara pandang yang berubah akan merubah pandangan hidup seseorang terhadap suatu objek, perbuatan yang salah akan tetap di anggap benar dan baik begitu juga sebaliknya. Tantangan terbesar ummat Islam adalah cara pandang terhadap sesuatu sebagai contoh LGBT.

“Islam tantangannya adalah cara pandang hidup kita, sebagai contoh LGBT yang banyak mengatakan itu adalah baik karena merupakan hak bagi setiap manusia dan harus kita akui. Padahal LGBT adalah kriminalitas yang terorganisir”. Imbuhnya

Dalam suasana yang semangat dan motivasi yang tinggi para aktivis dakwah di berikan nasehat agar menjadi ahli dalam bidang kita masing-masing, memiliki spesifikasi yang jelas.

“Antum harus punya spesifikasi di bidang masing-masing dalam hal ekonomi, hukum, politik, sosiologi dan yang lain. Membuat planning dan peta-peta dalam perjuangan ini”. Ungkapnya

Dengan kondisi suara yang parau Ustadz Nirwan Syafrin terus bersemangat memotivasi para aktivis dakwah, teruslah berjuang dalam dakwah ini tanpa memikirkan hasil.

“Jika kita masih yakin dengan agama kita ini maka menjadi tugas kita bersama untuk memperjuangkannya baik sebagai guru, dosen, mahasiswa ustadz dan yang lain. Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil. Namun, perjuangan dan usaha kita, ikhlas dan terus berusaha”. Ujarnya sambil menutup materinya.

Laporan: Muh. Akbar

Editor    : Almunawiy

Kalimat Tauhid Misi Dakwah Para Nabi dan Rasul

Kalimat Tauhid

(Bekasi) Wahdahjakarta.com – Kalimat tauhid merupakan misi utama dakwah para Nabi dan Rasul. Demikian pernyataan Inisiator Majelis Ulama Muslim Indonesia (MIUMI), ustadz Farid Ahmad Okbah mengungkapkan tentang sakralitas kalimat syahadat.

“Nabi Muhammad menyerukan kepada manusia pada saat itu dimulai dari masyarakat Makkah, Nabi selalu menyerukan untuk mengucapkan kalimat Tauhid,” ujarnya pada Kamis (01/11/2018) di Bekasi.

“Nabi pun mengingatkan kepada mereka, jika kalian mengatakan “Laa ilaaha Illallah”, maka singgasana Persi dan Romawi akan jatuh ke tangan kalian,” tegas Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi itu.

Ustadz Farid kemudian menuturkan tentang kemuliaan kalimat syahadat, sebagai jalan bagi seseorang untuk masuk ke surga.

“Tidak ada seorang yang akan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid. Jika seandainya ada orang yang ingin masuk surga, maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat yang termasuk kalimat tauhid,” ujarnya.

Ustadz Farid pun menyebut pentingnya umat muslim untuk menyerukan kalimat syahadat kepada manusia. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya mengutip arti dari surat Al-Anbiya ayat 107.

Dia menjelaskan bahwa rahmat bagi seluruh alam bukan sekadar perdamaian atau sekadar mengajak orang-orang supaya toleran. Melainkan untuk menegakkan kalimat syahadat.

“Supaya mereka selamat dunia dan akhirat. Karena tidak ada jalan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid,” pungkasnya. (kiblat.net).

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Jalani Pelatihan Jurnalistik, Media Muslim “Tercerahkan”

Pelatihan Jurnalistik, Media Muslim

Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

JALANI PELATIHAN JURNALISTIK, MEDIA MUSLIM “TERCERAHKAN”.

Jakarta(9/9) wahdahjakarta – Forum Jurnalis Muslim (Forjim) mengadakan Workshop Jurnalistik Dakwah Angkatan ke-4 di Masjid Jenderal Sudirman, di kawasan World Trade Center Jakarta Selatan.
Workshop ini diadakan pada tanggal 8-9 September 2018 dalam rangka perwujudan program OMOJ (One Masjid One Journalist) yang merupakan salah satu program Forjim di bidang pendidikan dan pelatihan.

Ada sekitar 30 peserta yang hadir dalam workshop tersebut. Masing-masing peserta berasal dari berbagai DKM Masjid, seperti Masjid Az Zikra Bogor & Masjid Al Azhar. Ada juga yang berasal dari lembaga & media, diantaranya Wahdah Islamiyah, LPOM MUI, Darul Qur’an, dll.

Peserta diajari segala hal di bidang jurnalistik mulai dari teknik wawancara, menulis berita, hingga teknik editing video dan pengambilan gambar.

Pemateri yang didatangkan pun beragam, dibuka oleh Ketua Umum Forjim, Dudy Sya’bani Takdir, S.I.Kom dengan meteri “Urgensi Dakwah Media”, kemudian dilanjutkan dengan teknik wawancara & penulisan berita oleh mantan ketua umum Forjim, Adhes Sastria Sugestian.
Pelatihan kemudian dilanjutkan kembali dengan sedikit sharing ringan mengenai editing video dan pengambilan gambar oleh Produser Video dari ACT dan dilanjutkan oleh materi seputar video editing menggunakan smartphone oleh Direktur Forum Jurnalis Muslim TV, Setyohadi Wiratmoko.

Hari kedua pelatihan, materi yang diajarkan full praktek oleh KPI dan ditutup dengan pelatihan public speaking oleh Radio Dakta.

Dalam sesi testimoni, para peserta mengaku sangat beruntung bisa mengikuti Workshop tersebut karena banyak ilmu baru yang mereka ketahui. Diantaranya ada yang merasa lebih semangat lagi dalam berdakwah di dunia maya dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dan mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di lembaga masing-masing.

Peserta Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

Peserta Pelatihan Jurnalistik Media Muslim

“Kami berharap agar Forjim kembali mengadakan kegiatan ini, dan kembali merekrut serta membangkitkan semangat para jurnalis muslim potensial yang akan membela agama ini melalui tulisannya.” ujar salah satu peserta.(Fry)

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

Relawan Lazis Wahdah Islamiyah

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

(Kisah Nyata dari Lombok Barat )

 

(wahdahjakarta.com)-, Pernikahan kami di tahun 2006 silam menimbulkan gejolak di kampungku, bahkan desaku. Ramai berita dan cerita di desaku, aku telah salah memilih suami. Bahkan kata salafi dijadikan akronim dari kata salah pilih oleh teman-temanku.

Ibuku hampir stres dengan keadaan itu. Anak sarjana satu satunya saat itu kenapa justru salah memilih jalan hidup beragama. Sesat kata mereka, dan itu merasuk ke dalam relung fikiran ibuku. Suamiku adalah salah satu alumni STIBA Makassar yang merupakan salah satu lembaga pendidikan milik Wahdah Islamiyah.

Maka mulailah kami hidup dengan cap sebagai orang yang berbeda dengan orang sekampung. Berat bagiku awalnya karena aku juga guru Agama di salah satu sekolah negeri. Kujalankan tugasku sehari-hari tanpa mencederai yang kuyakini. Bergumul dengan kondisi lingkungan bukan sesuatu yang ringan.

Kami bersyukur beberapa anggota keluarga memahami pemahaman kami dan mau menerima kami dengan baik. Pelan-pelan kami terus meyakinkan ibu dan keluarga dengan interaksi serta perilaku yang baik. beliau juga melihat keseharian kami, mungkin memberikan kesadaran tersendiri dalam hati ibu, bahwa anak dan menantunya baik-baik saja dalam beragama. tidak seperti yang dituduhkan orang-orang.

Kami harus menerima lirikan-lirikan aneh dari warga ketika kedatangan tamu yang merupakan teman-teman seperjuangan suami dalam dakwah. Sesekali kadang sampai ke telinga teriakan salafiiii….

Huh nyesek juga….tapi ya sudahlah fikirku.

Yang lebih bikin nyesek adalah fitnah bahwa shalat kami dan ibadah-ibadah kami digaji. Itu  yang disampaikan ibu kepadaku. Tetapi justru hal ini kujadikan sebagai salah satu titik pencerahan untuk menyadarkan ibu, bahwa demikianlah fitnah. Karena beliau lihat sendiri bagaimana suamiku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kami.

Hingga tibalah malam itu, gempa dengan kekuatan 7 SR menguncang desaku kemudian gempa susul menyusul meluluh lantakkan desaku.

Apa hubungannya dengan kehidupan dan keluargaku?

Sebelum menimpa kami, Kabupaten Lombok Utara(KLU) dan Lombok Timur(Lotim ) telah lebih dahulu diluluh lantakkan oleh gempa, dan tim dari Lazis Wahdah telah berada di sana. Sehingga ketika gempa menimpa kami dan menghancurkan rumah hampir seluruh warga, maka segera tim Lazis Wahdah menuju ke desa kami memberikan bantuan. Bahkan Lazis Wahdah merupakan lembaga kemanusiaan pertama yang mengulurkan bantuan ke desa kami hingga hari ini.

Suamiku yang tadinya dicibir, tiba-tiba menjadi magnet bersama Lazis wahdah karena mereka tidak kenal lelah siang dan malam terus hadir memberikan rasa empati baik materi, moril, maupun seprituia.

Anak-anak, lansia, para janda, semua merasakan kehadiran Lazis Wahdah.

Doaku yang paling indah dalam fikiranku saat ini, semoga kehadiran wahdah bersama dakwahnya akan bersemi di desaku di masa yang akan datang

Terimakasih ya Allah puji syukur ke hadirat-Mu.

Terimakasih Laziz Wahdah Islamiyah dengan relawannya.

Terimakasih suamiku. [ed:sym]

Sumber: WAG Alumni STIBA tanpa mencantumkan nama penulis.

Energy Of Da’wah Qurani

Energy of Da'wah Qurani

Sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah dalam seminar Energy Of Da’wah Qurani

Energy Of Da’wah Qurani

(Depok) Wahdahjakarta.com, – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok  menggelar Sharing Dakwah Qurani di Aula Trubus Cimanggis Depok Jawa barat pada Ahad, (12/08/2018).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari MPP (Musyawarah Pengurus Pleno) yang rutin diadakan setiap 4 bulan sekali.

Sharing Da’wah Qurani pada MPP ini mengundang salah satu Lembaga Pendidikan Alquran yang sedang naik daun yaitu Tim Askar Kauny yang diwakili Ust Habiburakhman, Lc. Lembaga pimpinan Ust Bobby Herwibowo, Lc ini terkenal dengan metode menghafal qur´an menggunakan otak kanan dengan branding `Menghafal Semudah Tersenyum`.

Dengan metode ini (atas ijin Allah) sudah jutaan orang yang telah merasakan manfaat bagaimana menghafal qur`an dengan mudah, dan ada 40.000 lebih peserta aktif dari komunitas penghafal qur`an di Indonesia dan beberapa negara lain. Askar Kauny juga telah memiliki 23 Pesantren penghafal qur`an untuk Yatim dan Dhuafa yang digratiskan sejak didirikan tahun 2014 dan masih terus banyak beberapa permintaan antri untuk pendirian pesantrennya.

Perkembangan yang begitu cepat ini (atas ijin Allah) menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dakwah Alqur`an yang begitu tinggi, disamping karena metode yang dikembangkan Askar Kauni begitu mudah dan menyenangkan di dalam prakteknya. `Menghafal Qur`an dengan tidak menggunakan otak`, demikian papar Ust Habib dalam sesi sharing dengan pengurus DPW WI DKI Jakarta – Depok.

Dalam sambutanya Ustadz Ilham Jaya selaku Ketua DPW Menyampaikan perlunya melakukan terobosan – terobosan terus menerus di dalam dakwah, sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang. Dengan adanya sharing dakwah qurani diharapkan menambah wawasan, bekal `amunisi` dan energi bagi Pengurus Wahdah Islamiyah di Jakarta dan Depok agar berdakwah kepada masyarakat lebih mudah diterima, dan punya kekuatan yang dahsyat di dalam membuka pintu-pintu hidayah sebagai sebuah ikhtiar didalam mendakwahkan Alqur`an.(yd).