Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang memilih hari-hari tertentu  untuk berpuasa pada bulan Syawal ataukah puasa syawal ini memiliki waktu-waktu (hari-hari) tertentu (ayyam ma’lum)? Apakah jika seseorang berpuasa pada hari-hari itu terhitung sebagai puasa wajib baginya?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (tentang puasa Syawal);

” من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر ” خرجه الإمام مسلم

Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal bagaikan puasa setahun”. (Dikelurakan Oleh Imam Muslim).

Keenam hari tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu dalam bulan Syawal. Seseorang dapat memilih hari i apa saja di sepanjang bulan Syawal. Bila dia mau bisa pada awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bila dia mau bisa terpisah-pisah atau berturut-turut. Masalah ini luwes, alhamdulillah.

Jika seseorang bersegera melakukannya di awal bulan dan berturut-turut, maka itu lebih afdhal. Karena hal itu termasuk sikap bergegas kepada kebaikan (al musara’ah ilal khair).

Puasa tersebut bukan merupakan kewajiban (tidak wajib). Bahkan boleh meninggalkannya pada suatu tahun tertentu. Tetapi yang lebih utama dan lebih sempurna adalah istimrar (terus-menerus) melakukannya setiap tahun, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya meskipun sedikit”. Semoga Allah memberi taufiq. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Juz 15, hlm. 390). (sym)

Artikel: wahdah.or.id

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa syawal?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa Syawal?

Pertanyaan:

Mungkinkah (baca: Bolehkah) menggabungkan dua niat puasa syawal dan puasa qadha? Syukran.

Jawab:

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan masalah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya (sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah).

Qadha Shiyam Ramadhan dan puasa yang lainnya dimaksudkan secara dzatnya. Demikian pula dengan shiyam enam hari diu bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena kedua puasa tersebut (puasa ramadhan + puasa enam hari syawal) setara dengan puasa setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga tidak sah jika keduanya digabung (pelaksanaannya) dalam satu niat.

 

Kesimpulan (red): Puasa qadha dan puasa syawal tidak digabung. Jika digabung, tidak sah. Wallahu a’lam.

(sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=6579)

1[1] Misalnya, seseorang masuk masjid saat kumandang adzan telah usai. Lalu ia menunaikan shalat sunnat rawatib qabliyah . dalam keadaan seperti ini kewajiban shalat tahiyatul masjid atasnya telah gugur. Karena yang dikehendaki oleh syariat adalah “Tidak duduk –saat masuk masjid- sebelum shalat dua rakaat”. Shalat yang dimaksud adalah shalat tahiyatul masjid (penghormatan/pemuliaan terhadap masjid). Namun jika kondisi tidak memungkikan, sehingga seseorang langsung menunaikan shalat sunnah rawatib atau shalat fardhu (jika masuk saat iqamat), maka kewajiban tahiyatul masjid telah gugur, dan boleh menyertakan niat tahiyatul masjid saat shalat sunnat rawatib.

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Mengenal Puasa Sunnah

Mengenal Puasa Sunnah

Menghidupkan ibadah-ibadah nawafil’ (tambahan) atau sunnah merupakan salah satu sifat para kekasih Allah (wali Allah) yang dicintai oleh Allah. Dalam sebuh hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Tidaklah hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nawafil (sunnah) melainkan Aku akan mencintainya” (terj. HR. Bukhari).

Diantara ibadah sunnah tersebut adalah puasa sunnah, Puasa yang disunnahkan adalah pada hari-hari berikut ini;

  1. Puasa ‘Arafah,

Yaitu puasa pada saat jama’ah haji wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Anjuran berpuasa arafah ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak melaksnakan ibadah haji. Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

2. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Yaitu puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 dan 9 Muharram. Keutamaannya menghapus dosa setahun lalu, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

. . . وصوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

. . . Sedangkan puasa ‘Asyura menghapus dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Ahmad dan Nasai).

Adapun puasa tasu’a (9 Muharram), Rasul berniat akan melakukannya tahun berikutnya sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang Yahudi yang berpuasa juga pada 10 Muharram, “Pada tahun depan insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal sembilan”, kata Rasul sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Shahihnya.

3. Puasa Syawwal

Puasa ini merupakan ratibah (pengiring) dari puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaam puasa Syawal ini;

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Siapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim)

Puasa Ramadhan ditambah enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa setahun penuh, karena puasa Ramadhan setara dengan puasa 300 hari dan puasa enam hari di bulan Syawal senilai puasa 60 hari. Sebab setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh kali lipat. 30×10=300, dan 6×10=60. 300+60=360. 360 hari merupakan jumlah hari dalam setahun menurut penanggalan hijriah.

4. Puasa Sya’ban

Diriwayatkan,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan;

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa dalam satu bulan melebihi bulan Sya’ban”. (terj. HR. Abdur).

Rasulullah shallaalahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan beliau memperbanyak shiyam pada bulan Sya’ban karena ia merupakan bulan yang banyak dilalaikan manusia, sebab ia terletak antara Rajab dan Ramadhan. Alasan lain karena Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal setahun kepada Allah Ta’ala.

5.   Puasa pada Bulan Muharram

Puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan, sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ketika Rasul ditanya;

أي الصيام أفضل بعد رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم

Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Beliau bersabda, ‘(pada) bulan-Nya Allah yang kalian sebut dengan Muharram’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Sebagian Ulama berpendapat, yang dimaksud dalam hadits ini adalah puasa ‘Asyuro da tasu’a, wallahu a’lam.

6. Puasa Tiga Hari dalam Sebulan

Puasa ini disebut pula dengan Shiyam ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14, dan 15, sebagaimana dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu;

أمرنا رسول الله أن نصوم من الشهر ثلاثة أيام البيض؛ ثلث عشرة, وأربع عشرة, وخمس عشرة , وقال هي كصوم الدهر

Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk berpuasa pada hari-hari putih selama tiga hari setiap bulan, yakni pada tanggal 13,14, dan 15. Dan beliau mengatakan, ‘Puasa itu bagaikan puasa sepanjang tahun’. (HR. Nasai).

7. Puasa Senin dan Kamis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa senin dan kamis, beliau mengatakan;

إن الأعمال تعرض كل اثنين وخميس , فيغفر الله لكل مسلم أولكل مؤمن إلا إلا المتهاجرين , فيقول أخّرهما

Sesungguhnya amal perbuatan dilaporkan pada setiap Senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap Muslim atau Mu’min kecuali dua orang yang saling memutus silaturrahim. Lantas Allah berfirman, ‘akhirkanlah keduanya’. (HR. Ahmad)

8. Puasa Daud

Yakni sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Puasa ini merupakan puasa yang paling dicintai Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أحب الصيام إلى الله صيام داود, . . . . وكان يصوم يوما ويفطر يوما

Puasa paling dicintai Allah adalah puas Daud, . . . beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka (tidak puasa)”. (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasai)

8. Puasa bagi Para Bujang yang Belum Mampu Menikah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يا معشر الشيباب, من استداع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج, ومن لم يستطع فغليه باالصوم فإنه له وجاء (أخرجه البخاري)

Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan hendaknya ia menikah, karena hal itu membuatnya mudah menjaga pandangan dan memebentengi kemaluannya, siapa yang belum sanggup menikah hendaknya ia berpuasa, karena puasa merupakan pengendali baginya”. (HR. Bukhari).(sym)

 

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

وعن عائشةَ – رضي الله عنها – “أنّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – اكتحل في رمضانَ وهُو صائمٌ” رواه ابن ماجه بإسناد ضعيف وقال الترمذيُّ: لا يصح في هذا البابِ شيءٌ

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bercelak pada bulan Ramadhan saat beliau sedang puasa”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if).

 

Pelajaran Hadits

Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum bercelak bagi orang yang berpuasa. Sebagian Ulama menganggapnya makruh. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubaraka, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah.

Menurut Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Bahsri, dan Ibrahim An-Nakha’i rahimahumullah bercelak bagi orang yang berpuasa hukumnya boleh. Beliau mengatakan bahwa bercelak tidak membatalkan puasa. Ini juga merupakan pendapat beberapa Ulama Kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahumallah.

Syaikh Bin Baz mengatakan dalam fatwanya;

Bercelak tidak membatalkan puasa secara mutlak pada wanita maupun laki-laki menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat ulama. Tetapi bagi orang yang berpuasa lebih baik menggunakannya pada malam. Demikian pula dengan alat kecantikan berupa sabun dan minyak-minyak yang bersentuhan dengan kulit. termasuk juga ‘hina’ (pewarna kuku) atau make-up dan lain-lain. Semua ini tidak mengapa digunakan oleh orang yang berpuasa. ….”. (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/260).

[sym]

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Pertanyaan:

Saya berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa mengucapkan Bismillah karena saya sedang berada di kamar kecil (toilet). Apa hukumnya?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Siapa yang berbuka puasa atau berniat buka puasa tanpa membaca dzikir-dzikir buka puasa dan baik basmalah dan yang lainnya maka puasanya tetap sah dan tiada dosa baginya. Namun disunnahkan bagi orang yang berpuasa atau yang lainnya membaca bismillahirrahmanirrahim sebelum menyantap makanan. Jika ia berbuka puasa, maka setelah berbuka hendaknya ia mengucapkan;

“ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله”

Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan tetaplah pahala insya Allah” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud).

Atau membaca do’a;

“اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي” رواه ابن ماجه، وحسنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuniku”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Takhrij al-Adzkar). [sym].

Sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7428, Terjemah Oleh Syamsuddin Al-Munawiy).

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.

Tanya Jawab Fiqh Puasa [09]: Kembali dari Perjalanan Pada Siang Hari, Boleh Melakukan Hubungan Suami Istri?

 
Tanya Jawab Fiqh Puasa [09]: Kembali dari Perjalanan Pada Siang Hari, Boleh Melakukan Hubungan Suami Istri?

Pertanyaan:

Pertanyaan saya adalah tentang seseorang yang melakukan safar selama tiga hari. Dalam perjalanan kembali ia makan sahur di suatu tempat 400 km sebelum kota dimana ia tinggal, dan berniat akan puasa pada hari itu. Tetapi ia terlambat dan sampai di rumahnya pada pukul 9 pagi. Di samping itu perjalanan tersebut melelahkan dan ia belum tidur pada malam harinya. Ketika sampai di rumah beliau disambut oleh istrinya, dan setelah memastikan keadaan anak-anak mereka melakukan hubungan suami istri, dengan alasan bahwa ia (suami) tidak puasa karena sedang safar, namun setelah itu ia tetap menyempurnakan puasanya. Mohon berikan jawaban kepada kami, jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Orang yang memiliki udzur sepeti safar dan sakit dibolehkan berbuka (tidak puasa). Lalu jika udzurnya telah hilang pada pertengahan siang, seperti sembuh dari sakit atau kembali dari perjalanan, maka ada dua pendapat ulama tentang masalah ini;

Imam Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa tidak wajib imsak (menahan diri dari makan dan minum serta pembatal puasa lainnya pada sampai waktu berbuka.

Sedangkan Hanafiyah dan Hanabilah dalam suatu riwayat berpendapat bahwa ia harus imsak.

Jika salah satu dari pasangan suami istri termasuk yang memiliki udzur untuk tidak puasa dan yang lainnya tidak memiliki udzur, lalu terjadi hubungan intim, maka pada masing-masing berlaku hukum tersendiri. (Maksudnya yang punya udzur tidak berdosa dan tidak berkewajiban bayar kaffarat. Sebaliknya yang tidak punya udzur untuk berbuka wajib bayar kaffarat).

Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa keduanya wajib imsak, maka suami dan istrinya wajib membayar kaffarat berupa puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin.

Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan ini, maka ia tidak dapat dihukumi sebagai orang yang tidak puasa. Selain itu udzurnya telah hilang, bahkan ia memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa. Ia juga telah sampai di tempat dimana dia muqim, dan ia sampai dalam keadaan berpuasa. Sehingga ia tidak boleh berbuka meskipun merasa letih. Karena yang dibolehkan berbuka hanya mereka yang dikhawatirkan akan sakit dan atau bertambah parah sakitnya. Oleh karena ia menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan, maka wajib baginya membayar kaffarat berupa puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin.

Ia juga telah melakukan kesalahan dengan merusak puasa istrinya. Oleh karena itu hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Istri juga wajib membayar kaffarat jika ia melakukan hal itu secara sukarela (tanpa paksaan). Adapun jika dipaksa oleh suaminya, maka yang membayar kaffarat hanya suaminya. Wallahu a’lam. [sym].

Sumber: Syekh DR. Muhammad al-Arus Abdul Qadir (Dosen Universitas Ummul Qura); http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-13162.htm,

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

PERTANYAAN:

Apa hukumnya orang yang berbuka (membatalkan puasa) pada siang hari Ramadhan dengan maksud setelah itu menggauli istrinya? Apakah ia dianggap melakukan siasat tipudaya sehingga ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai hukuman baginya? atau ia dianggap berdosa atas siasat itu dan hanya berkewajiban mengqadha satu hari saja, ataukah perbuatannya tersebut tanpa kaffarat?

Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal

JAWABAN:

Taqabbalallahu minkum shalihal a’mal

Orang puasa yang membuat hilah (siasat) untuk menghindari kafarat jima (hubungan suami istri) pada siang hari Ramadhan dengan makan terlebih dahulu tidak dapat merubah hukum syariat sama sekali. Karena pada asalnya dia bermaksud melakukan jima’ dan ia tidak termasuk orang yang boleh berbuka pada siang hari Ramadhan, dan hilah yang dilakukannya adalah batil secara syar’i. Sebab sesungguhnya ia juga harus tetap menahan (tidak makan dan minum) karena ia makan dan minum dengan sengaja tanpa rukshah.

Oleh karena itu, orang yang sengaja makan (membatalkan Pusanya) dengan maksud untuk menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan, sementara dia merupakan orang yang wajib berpuasa, maka ia berdosa. Oleh karena itu ia harus bertaubat, beristighfar, melakukan qadha (mengganti puasa), dan membayar kaffarat menggauli istri pada siang hari bulan Ramadhan.

Jika ia hanya makan (membatalkan puasa) dan sebelumnya tidak ada niat untuk berjima’, namun setelah itu ia menggauli istrinya, apakah ia wajib bayar kafarat? Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan ulama. Mayoritas ulama bependapat bahwa dalam masalah seperti ini ia tetap wajib bayar kaffarat. [sym/wahdahjakarta.com].

(Sumber: Fatwa Syekh Sulaiman bin Abdullah al-Majid (Hakim Mahkamah Agung Riyadh); http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-232807.htm).