etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

media sosial

Adab Menggunakan Media Sosial

Adab Menggunakan Media Sosial
Oleh ustadz Ayyub Soebandi, Lc.

Tidak bisa dipungkiri pengaruh media sosial tidak bisa terlepaskan dari kehidupan di masa sekarang. Dukungan internet yang kencang, teknologi yang canggih dengan lahirnya smartphone dimana dengan satu genggaman kita bisa melakukan apa saja dan memperoleh informasi dengan mudahnya.

Begitu juga dengan dukungan aplikasi dan media sosial yang banyak bermunculan seperti BBM (Blackberry Massanger), WA (WhatsApp), Twitter, Path, Facebook, Instagram, Linkedin, Pinterest, Line dll. Kita dapat berhubungan dengan manusia dari belahan bumi manapun, dapat bersilaturahim dengan teman-teman lama, juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan tak jarang banyak yang menjalin keakraban di dunia nyata.

Memang pada hakikatnya sebagai mahluk sosial manusia tidak dilarang untuk bergaul dan Allahpun menjelaskan dalam Al Qur’an tentang hal ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)

Walaupun melakukan komunikasi di media sosial dan hanya memperlihatkan gambar, chattingan dan status, tapi tak selamanya menggambarkan si empunya akun dalam kesehariannya, hingga tak terlihat dengan jelas apakah si empunya sama persis dengan yang dia gambarkan di sosmed, tapi menjaga adab tetap harus dikedepankan. Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan di jejaring sosial :

Menjaga interaksi dengan lawan jenis.

Inilah ajaran Islam, yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, baik di dunia nyata ataupun di jejaring sosial. Para Sahabat radhiyallahu’anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus bertanya dibelakang hijab. Allah Ta’ala berfirman,

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

Chattingan bebas dengan lawan jenis adalah trik Iblis untuk menjerumuskan ke dalam hal-hal yang diharamkan. Maka hendaknya waspada dan tetap menjaga interaksi dengan lawan jenis. Jika interaksi langsung di dunia nyata sangat perlu dijaga, maka bagaimana lagi di dunia maya yang lebih bebas dan jauh dari pandangan manusia, yakinlah Allah maha Mengetahui dan maha Melihat perbuatan kita.

Cermat dalam mengkonsumsi dan menyebarkan berita.

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya); menyia-nyiakan harta; dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat. terutama berita yang terkait keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah.

Allah berfirman,

“Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi, prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana lagi ketika sengaja menyebarkan berita dusta atau hoax?

Maka sebelum menyebarkan berita, info, tulisan, gambar dll maka hendaknya memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Menjaga amanah ilmiah.
Ketika menukilkan sebuah tulisan, berita dll, hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan. Hal ini agar kita tidak termasuk orang-orang yang mendapat ancaman hadits,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang Al-Mutasyabbi’ (mengaku-ngaku memiliki dengan sesuatu yang tidak dimilikinya), maka ia seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR Bukhari, Muslim).

Berkata dengan baik atau diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Begitu juga dengan tulisan, hendaknya memikirkan terlebih dahulu sebelum menulis, jika bermanfaat maka silahkan menulis, jika tidak bermanfaat maka ditahan.

Gunakan bahasa yang baik dan sopan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Dan katakan (Sampaikan) kepada hamba-hamba-Ku, jika mereka mau berbicara (kalau dia mau posting, kalau dia mau comment, kalau dia mau menyampaikan sebuah artikel), dia harus gunakan bahasa yang terbaik.

Kata “ahsan” dalam ayat ini kalau pakai istilah bahasa Inggris yaitu superlatif bukan comparatif. Jadi bukan yang lebih baik tapi yang terbaik.

Jadi, kalau mau berbicara gunakanlah bahasa yang terbaik, kenapa?

Karena setan selalu mengadu domba dan sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata.

Maka, gunakanlah bahasa yang terbaik.

Apalagi di sosmed, karena ketika kita masuk ke grup WA atau di Facebook atau di Twitter atau kita mention sesuatu, kita tidak memberikan ekspresi, lalu tidak ada intonasi. Jadi secara umum tidak ada ekspresi dan tidak adanya intonasi maka rentan terjadi kesalahpahaman.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus
https://laziswahdah.com/blog/adab-menggunakan-media-sosial/

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha

Jadwal Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Jakarta

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Ied merupakan hari istimewa, sehingga sudah seyogyanya setiap Muslim menghadirinya dengan memperhatikan adab dan etika yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wa sallam. Tulisan singkat ini akan menguraikan secara sederhana beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika menghadiri shalat Idul Adha.

  1. Mandi sebelum keluar ke tempat shalat ied.

  2. Dianjurkan tidak makan terlebih dahulu, tetapi makan setelah kembali dari pelaksanaan shalat ‘ied, dan lebih dianjurkan jika makan daging hewan qurban.

  3. Dianjurkan bertakbir. Takbir pada hari Idul Adha dianjurkan mulai setelah shalat subuh pada 9 dzulhijjah, dan berakahir pada hari terakhir hari Tasyriq (sore hari 13 Dzulhijjah).

  4. Berhias dan mengenakan pakaian terbaik.

  5. Melalui jalur jalan yang berbeda saat berangkat ke tempat shalat dan kembali,

  6. Boleh saling menyampaikan tahniah (ucapan selamat), seperti mengatakan TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKU. (Sym).

wudhu

Batalkah Wudhu Jika Menyentuh Wanita?

 

Para salaf ash-shalih (orang-orang shalih terdahulu) berbeda pendapat mengenai makna mulamasah (menyentuh) dalam firman Allah azza wajalla:

أو لامستم النساء

“Atau kalian menyentuh wanita”. (QS. An-Nisa: 43)

 

• Ali, Ibn Abbas dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah hubungan suami istri. Ini merupakan mazhab Hanafiyah.

 

• Ibn Mas”ud, Ibn Umar dan asy-Sya’bi radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah menyentuh dengan tangan. Ini merupakan mazhab Syafi’iyyah.

• Ibn Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Perkataan yang lebih dekat pada kebenaran dari dua perkataan tersebut adalah pendapat yang memahami bahwa makna firman Allah yang diperselisihkan itu adalah hubungan suami istri bukan makna-makna yang lain dari kata al-Lams (menyentuh). Sebab ada hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhu lagi.” Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyentuh wanita, apakah ia membatalkan wudhu atau tidak.

 

• Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Beliau berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciumi sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhunya. Beliau juga berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah yang mencari Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala Nabi sedang shalat lail. Ketika ‘Aisyah meraba-rabakan tangannya di atas tanah, ia mengenai kaki Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang sedang shalat.

 

Adapun ayat tersebut bagi beliau merupakan kinayah dari kata jima’ (hubungan suami istri).

 

• Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Dalil beliau adalah keumuman ayat yang diperselisihkan maknanya tadi. Bagi beliau maknyanya bisa dipahami menyentuh dengan tangan atau melakukan jima’ sebagai makna kiyasan. Dan hukum asalnya adalah memahami teks secara hakikat kecuali jika teks ayat tidak bisa dipahami secara hakikatnya, maka untuk memahaminya dipahami secara majaz (makna kiasannya).

 

• Imam Malik berpendapat bahwa menyentuh wanita disertai syahwat membatalkan wudhu, sedangkan menyentuhnya tanpa disertai syahwat tidaklah membatalkan wudhu.

 

• Imam Ibn Rusyd dalam “Bidayatu al-Mujtahid”nya mengatakan bahwa: “Penyebab perbedaan pendapat diantara mereka adalah karena kata lams (menyentuh) dalam bahasa Arab mengandung makna yang berbeda. Kadang maknanya dipahami secara mutlak bahwa maksudnya adalah menyentuh dengan tangan, dan kadang memang dipahami sebagai makna kiasan dari jima’ (hubungan suami istri).

 

Tarjih (Sesuai pemahaman Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni)

Dari seluruh pendapat yang ada, maka pendapat yang rajih adalah pendapat yang tidak membatalkannya, ini pula yang dikuatkan oleh Ibn Rusyd al-Maliki rahimahmullahu jami’an.

Diringkas dari kitab Rawa’i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah (1/457-459) Peringkas: Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/batalkah-wudhu-jika-menyentuh-wanita/ .

Hukum Berjualan Rokok Dalam Islam

Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ibu saya baru-baru ini membuka warung makan. Kemudian, di situ dia menjual rokok. Dan saya sudah sampaikan sama ibu saya Insyaa Allah sudah dengan cara yang bil hikmah. Hanya saja saya mendapatkan respon yang kurang baik. Dan sampai sekarang pun ibu saya tetap menjual rokok. Yang saya khawatirkan. Saya makan dari hasil jualan barang tersebut. Apa hukumnya memakan hasil penjualan rokok tersebut. Mohon solusinya. Syukran.

ulfa – mks

Jawaban :

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatu…

Apa yang anda lakukan adalah suatu hal yang terpuji, yaitu menasihati ibu anda agar tidak menjual rokok yang merupakan barang haram. Ini adalah kewajiban kita menasehati kerabat kita, utamanya ibu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” [QS. As Syu’ara:124].

Dan hendaknya hal itu dilakukan dengan hikmah, lemah lembut, apalagi ia adalah seorang ibu yang kita diperintahkan untuk berlemah lembut kepadanya, firman-Nya:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan” [QS. Al Isra’:24],

dan firman-Nya:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” [QS. Lukman:15].

Tetaplah berusaha menasehatinya agar tidak menjual rokok di warungnya, tapi dengan cara hikmah dan lemah lembut. Cari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat, jangan di waktu-waktu sibuk atau pikirannya kacau. Tetap tampakkan akhlak muliah dan patuh terhadap perintah dan permintaannya selama bukan maksiat, bantu ia dalam pekerjaannya di warung. Dan jangan lupa senjata seorang mukmin yang sangat ampuh, yaitu doa, doakan kepada Allah agar Ia memberinya hidayah dan tidak lagi menjual barang yang haram. Lakukan semua itu dengan penuh sabar, dan ingat bahwa hidayah di bawah kuasa Allah, bukan di tangan kita, sehingga serahkan urusan ini kepada Allah semata setelah melakukan usaha maksimal. Firman-Nya:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang” [QS. An Nahl:82].

Adapun harta atau makanan dari hasil penjualan rokok itu maka jika telah bercampur dengan harta hasil jualan barang lain yang halal dari warung itu maka halal bagi anda untuk mengambilnya, karena Rasulullah shallalahu alaihi wasallam juga menerima hadiah dari orang-orang musyrik dan yahudi di zamannya dimana harta mereka bercampur antara halal dan haram.

Wallahu a’lam

✍ Dijawab Oleh Ust. Aswanto Muh. Takwi, Lc

(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud free musically fans University Riyadh KSA)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/hukum-memakan-hasil-penjualan-rokok-dalam-islam/

Mendengar Adzan

Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adzan

Adakah Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adan Setelah Muazin Membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” ?

Bismillah. Ustadz, apa yang harus kita jawab ketika adzan pas “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”?. Karena sepengetahuan saya ada 3 syarat doa terkabul dan salah satunya, menjawab lafaz “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Syukron.

Hilya –Makassar.

Jawaban:

Allaahu a’lam dengan bacaan yang Anda maksudkan, namun sebagian ulama menyebutkan sunatnya membaca bacaan khusus tatkala muazin usai membaca lafal azan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”, dan “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”, sebagaimana yang disebutkan dalam HR Muslim (386) dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan bacaan -tatkala mendengar muazin-:

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله رضيت بالله ربا وبمحمد رسولا وبالإسلام دينا

(Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, radhiitu billaahi rabban, wa bi muhammdin rasuulan, wa bil-islaami diina); maka dosa-dosanya akan terampuni”.

Para ulama tersebut menyatakan bahwa bacaan ini dibaca tatkala muazin usai mengumandangkan dua kalimat syahadat, tepat setelah lafaz “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”. (Lihat: : Al-Majmu’ –Imam Nawawi; 2/87-88 , Syarh al-Mumti’- Ibnul-‘Utsaimin: 2/86, Liqa’ al-Baab al-Maftuuh –Ibnul-‘Utsaimin: liqa’ 156/26, dan Al-Masaail al-Muhimmah fil-Adzaan wal-Iqaamah- al-Tharifi; 108).

Namun ulama yang lain juga menyebutkan bahwa bacaan ini hendaknya dibaca setelah muazin selesai mengumandangkan azan secara keseluruhan, yakni dibaca beserta doa setelah azan yang biasa dibaca setelah muazin mengucapkan lafal azan terakhir “Laa ilaaha illallaah”. (lihat: Tuhfatul-Ahwadzi: 1/529).

Kesimpulannya: Inilah salah satu doa yang diucapkan saat azan. Kapan seseorang membacanya tatkala azan baik ketika muazin usai membaca dua kalimat syahadat atau setelah selesai mengumandangkan azan, maka semua tetap disunahkan, insya Allah.

Adapun pernyataan bahwa bacaan tersebut merupakan salah satu dari 3 syarat terkabulnya doa, maka tidak benar, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Hanya saja  siapa yang mengamalkannya tentu telah menambah ketaatan dan ibadah kepada Allah. Harap dicatat yang bisa menjadi salah satu penguat untuk mustajabnya doa bukan syarat mustajabnya. Wallaahu a’lam.

✍ Dijawab Oleh Ustadz Maulana La Eda Lc

(Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, saat ini menempuh S2 di fakultas yg sama)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/adakah-bacaan-khusus-setelah-muazin-membaca-asyhadu-anna-muhammadan-rasulullah/