Kisah Relawan Wahdah  Terjebak Longsor dan Lumpur  Setinggi Leher Selama 2 Jam

Kisah Relawan Wahdah  Terjebak Longsor dan Lumpur  Setinggi Leher Selama 2 Jam

Relawan berjalan di tengah genangan lumpur akibat longsor

(Sigi) wahdahajakrta.com — Sabtu (20/10/2018) sore sekitar pukul 16.00 WITA, sembilan orang Relawan Wahdah Peduli berangkat menuju Kecamatan Lindu yang merupakan wilayah terluar dari Kabupaten Sigi.

Perjalanan menuju lokasi sejauh 64 kilometer. Setelah gempa, kondisi jalan masuk ke lokasi Taman Nasional Lore Lindu mengalami kerusakan parah. Perjalanan yang semula hanya ditempuh selama tiga puluh menit, pasca gempa harus ditempuh kurang lebih sejam.

“Itupun kalau tidak hujan pak. Kalau hujan ya bisa sampai sejaman lebih,” tutur Andi (47), warga Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi.

Selama perjalanan, tim relawan disuguhi pemandangan yang cukup menguji adrenalin. Mobil 4 WD yang mengangkut bahan-bahan pangan dan logistik akan disalurkan kepada warga di Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi.

“Wilayah itu sangat sedikit mendapatkan bantuan. Banyak di sana yang belum tersentuh bantuan,” ujar Nurhidayat, koordinator logistik dalam misi ini.

Beberapa tanah longsor menyambut kedatangan kami. Jurang-jurang menganga terlihat begitu menyeramkan dari atas mobil. Jalanan sempit, bebatuan terjal banyak bertebaran di atas jalan yang sudah ditutupi lumpur dan ranting-ranting kayu. Mobil meliuk-liuk di atas jalan yang terjal dan sempit.

Sesampainya di depan pintu gerbang Desa Namo, mobil relawan diberhentikan. Desa Namo sendiri merupakan tetangga dari Desa Tomado, tempat dimana Danau Lindu itu berada.

“Mobil tidak bisa masuk pak. Jalanan sudah ditutupi longsor. Motor saja yang bisa pak,” ujar Hamid (36), salah seorang warga di Desa Namo, Kec. Kulawi, Kab. Sigi

Logistik yang isinya berupa beras, air minum, minyak kelapa, snack, perlengkapan mandi, perlengkapan bayi, dan bahan bakar kemudian terpaksa diangkut dengan menggunakan motor.

Sekitar pukul lima sore, relawan Wahdah berangkat bersama sebelas orang laskar FPI dan beberapa warga. Motor yang berangkat sekitar sebelas motor.

Relawan Wahdah terbagi 2 kelompok, tiga orang berangkat lebih awal,baru disusul kelompok kedua empat orang

Di tengah perjalanan, hujan deras turun. Longsor dari arah samping mulai parah. Jalanan sudah tak bisa lagi dilewati oleh kendaraan.

“Turunkan barangnya pak. Kita lari saja,” teriak salah satu warga yang mulai panik.

Kegaduhan mulai terdengar sahut menyahut. Beberapa relawan juga tampak membaca zikir-zikirnya. Kondisi gelap, diguyur hujan deras menciptakan suasana yang sangat mencekam.

Kelompok yang lebih dulu berangkat mereka meneruskan perjalanan, kami yang menyusul berangkat memilih putar balik ke lokasi awal

Tak berapa lama kemudian teriakan warga terdengar melantang dari jauh.

“Tiga orang relawan Wahdah dan warga terjebak longsor. Kami tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak,” jelasnya.

Jujur saja, saat berita itu sampai, kondisi psikis relawan lainnya mulai terganggu. Beberapa orang memilih mundur dan segera lari menyelamatkan diri. Namun ada juga yang memilih mencari relawan dan warga tersebut.

Lama berembug, akhirnya disepakatilah agar semua yang ada di lokasi bersama-sama untuk lari sekencang-kencangnya menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Motor yang dipakai kandas di tengah lumpur. Relawan dan warga memilih untuk berjalan kaki. Entah berapa titik longsor yang membawa lumpur terlihat di sepanjang jalan.

Ada yang tenggelam hingga betis namun ada pula yang tenggelam hingga pusarnya sampai tenggelam sampai leher. Beberapa relawan tampak meringis kesakitan karena terluka akibat batu-batu tajam yang berserakan.

Ada ikhwan yang luka betisnya, kami terus berusaha lolos dari jebakan lumpur  dengan tendang lumpur ke atas  karena dari atas tebing terus longsor sambil jalan merangkak sembari berenang

Zikir dan nekad menyeberang pulang mengandalkan sinar rembulan dan sedikit senter yang dibawa relawan FPI

Sebelum tenggelam lebih dalam, saya tarik nafas biar sedikit ringan dan pijak ke batu yang agak tajam

Warga yang datang membantu berenang, kami ditarik dengan tangan dan kayu dan diseret sambil longgarkan badan

Salah satu relawan FPI yang sampai leher lumpurnya sampai sesak nafas, ditarik lebih awal oleh warga

Saya mengalami luka di tangan dan telapak kaki baru terasa perih waktu jelang shalat subuh

Setelah lolos dari longsor hampir dua jam, kami tiba kembali di lokasi awal pendakian.

Tim relawan yang selamat dari maut kemudian mencari-cari sinyal untuk menghubungi relawan dan warga yang diperkirakan terjebak di balik tanah longsor.

Relawan kemudian menginap di Desa Namo, Kec. Kulawi, Kab. Sigi tepatnya di sebuah Mushola Darurat warga sekitar.

“Jangan kuatir pak. Sudah ada warga kami yang selamatkan beliau semua. Mereka aman dan saat ini menginap di rumah-rumah warga,” ucap warga.

Beberapa relawan langsung sujud syukur seketika itu juga.

Melanjutkan Lagi Perjalanan, 1 Jam Jalan Kaki, Baru Naik Motor Selama 2 Jam

Keesokan harinya, Ahad (21/10) perjalanan kemudian dilanjutkan. Relawan berjalan selama sejam lamanya kemudian menggunakan motor yang sempat ditinggalkan saat malam.

Beberapa kali motor harus diangkat melewati pepohonan yang sudah tumbang bahkan tenggelam ditengah lumpur.

“Alhamdulillah baru sampai setelah melakukan perjalanan selama tiga jam lamanya dari pintu gerbang Taman Nasional Lore Lindu,” ucap Hasyir, relawan yang ikut dalam rombongan ini.

Menurut warga, Irwan (34), bantuan masuk Ke desa ini sangat terbatas jumlahnya. Akses jalan melalui jalur darat lumpuh. Hanya roda dua yang bisa masuk. Bantuan ini hanya maksimal jika menggunakan helikopter.

“Itupun kalau dibagi kami hanya mendapatkan sedikit saja. Palingan beras satu liter dan mie lima bungkus per KK. Bantuan juga baru datang kalau sudah satu minggu,” ungkapnya.

Selama ini kata Irwan, mereka hanya menunggu datangnya bantuan. Meski sedikit, tetapi ia bersama warga muslim lainnya selalu bersyukur.

Di Perkampungan muslim yang berada di lorong Arab, Desa Tomado, Kec. Lindu,setelah memasuki pekan ketiga fase tanggap darurat, dibentuk Posko Bersama oleh relawan Al Khairaat, FPI,  Wahdah Islamiyah dan Annas.

Posko bantuan ini berada di Yayasan al khairaat SPS TPQ Al Hidayah Al Khairaat Tomado Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah, tepat didekat Danau Lindu.

Sambil menunggu helikopter, relawan menginap di rumah-rumah penduduk di sekitaran Danau Lindu.

Alhamdulillah Senin Pagi (21/10) bantuan helikopter TNI AU tiba mengangkut Relawan dan beberapa warga, sekitar pukul 10.30 Wita  sudah mendarat di Bandara Palu (*)

Laporan: Zulkifli Tri Darmawan

Relawan LAZIS Wahdah Islamiyah

Antar Bantuan Ke Lindu Sigi, Relawan Wahdah  dan FPI Terjebak Longsor

Antar bantuan ke Lindu Sigi, Relawan Wahdah Terjebak Longsor

Kondisi jalan menuju Lindu Kab. Sigi saat relawan Lazis Wahdah mengantar bantuan beberapa hari lalu.

(SIGI) wahdahjakarta.com — Sejumlah  personil  Relawan Wahdah dan FPI  sempat dikabarkan terjebak longsor di sekitar danau Lindu, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

“Iya, ada  7 orang yang terjebak,” ujar Wakil Koordinator Umum Relawan Wahdah Islamiyah, ustadz Abdurrahim saat dikonfirmasi via pesan Whatsapp, Ahad (21/10).

Menurut ustadz Abdurrahim, ketujuh relawan awalnya hendak mengantarkan bantuan dan melakukan trauma healing kepada warga terdampak gempa di kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi.  Mereka berpencar menjadi dua kelompok kecil.

“Ada 3 orang  yang duluan naik  dan 4 orang masih di bawah bersama dengan kendaraan, longsor terjadi di dua tempat sehingga yang dibawa tidak bisa naik dan pulang,” imbuhnya.

Alhamdulillah, semua relawan selamat meski masih terisolasi longsor.

“Komunikasi terakhir kondisi seluruh relawan dalam keadaan baik, kami sudah arahkan untuk berkumpul di sekitar danau Lindu karena tim terpisah menjadi 2 kelompok,” ujar ustadz Abddurahim yang terus memantau perkembangan dari posko utama Wahdah Islamiyah di Sigi.

Rencananya relawan akan dievakuasi dengan menggunakan helikopter.

“Setelah di danau Lindu kami arahkan naik helikopter ke Palu, karena ada info setiap hari ada helikopter yang bolak balik dari danau Lindu ke Palu,” pungkasnya.

Selain itu dikabarkan pula, relawan Hilal Merah Indonesia (HILMI) sayap pergerakan Front Pembela Islam (FPI) juga terjebak tanah longsor saat menuju desa Tomodo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi.

 “Alhamdulillah, Tim Relawan HILMI-FPI yang sempat mengalami longsoran tanah saat perjalanan menuju Desa Tomodo dikabarkan selamat dan berhasil kembali menuju posko induk di Palu,” dilaporkan akun resmi HILMI-FPI ‏@hilmi_fpi sekitar pukul 22.30 WIB sebagaimana dilansir dari hidayatullah.com. []

Ketum FPI: Kiai Ma’ruf Bijak, Kedepankan Fikih Dakwah

Ketum FPI Ustadz Shabri Lubis bersama Ketum MUI KH. Ma'ruf Amin

Ketum FPI Ustadz Shabri Lubis bersama Ketum MUI KH. Ma’ruf Amin

“Kiai Ma’ruf sangat bijak ketika memaafkan Sukmawati dengan menggunakan pendekatan fikih dakwah, sembari beliau mengakomodir orang yang mau nahi mungkar dengan menuntutnya secara hukum,”

(Jakarta) wahdahjakarta.com-Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Ustadz Shabri Lubis dan Wakil Ketua Umum FPI, Ustadz Ja’far Shodiq, bersilaturrahmi ke Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI, di kantor MUI, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu sore, 11 April 2018, sekitar pukul 15.00. Kyai Ma’ruf didampingi Wakil Ketua Umum MUI, H. Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Infokom, H. Masduki Baidlowi, dan Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis, Ph.D.

Banyak hal yang didiskusikan berkenaan dengan masalah kemasyarakat dan persatuan umat. Di antara diskusi yang cukup hangat adalah pertanyaan Ustadz Shabri Lubis tentang sikap MUI terhadap puisi Ibu Indonesia yang dibacakan Sukmawati Soekarno. Kyai Ma’ruf menjelaskan, MUI secara institusi belum mengeluarkan sikap resmi.

Namun berkenaan dengan harapan Ketum MUI agar umat menerima permintaan maaf yang disampaikan Sukmawati dengan datang ke MUI, adalah bentuk bimbingan bagi orang yang tidak mengerti syari’at dah mengakui kesalahannya. Dalam hal ini Kyai Ma’ruf mendahulukan fikih dakwah daripada fikih ahkam.

“Saya memaafkan Sukmawati itu untuk membimbingnya, karena ia telah mengakui tak mengerti syariah dan meminta maaf kepada umat Islam. Saya hanya berharap tidak dituntut, tapi tak berarti melarang apalagi menghalangi orang yang mau menuntut secara hukum,” kata Kyai Ma’ruf

Berkenaan tuntutan hukum, Kyai Ma’ruf hanya berharap, dan sama sekali tidak melarang, apalagi menghalangi siapapun yang mau menuntut secara hukum. Sebab, wilayah hukum adalah hak seluruh warga negara dan kewenangan penegak hukum.

Jawaban Kiai Ma’ruf ini melegakan Ustadz Shabri Lubis. Bahwa Kyai Ma’ruf bijak dalam menyikapi masalah dugaan penistaan agama dalam puisi Ibu Indonesia. Sebab Kyai Ma’ruf mendahulukan fikih dakwah dalam menyikapi orang yang tidak mengerti syariah tanpa menghalangi orang lain yang mau menuntut secara hukum.

“Kiai Ma’ruf sangat bijak ketika memaafkan Sukmawati dengan menggunakan pendekatan fikih dakwah, sembari beliau mengakomodir orang yang mau nahi mungkar dengan menuntutnya secara hukum,” kata Ustadz Shabri

Tentang persatuan umat, Kyai Ma’ruf dan ustadz Shabri Lubis sepakat untuk membangun saling sepahaman, bahwa dalam berjuang dan membangun dakwah harus bagi tugas dan tidak boleh saling menafikan. Apapun yang sekiranya disalah pahami, sebaiknya dilakukan tabayyun dan musyawarah.

Ini penting sebagai sikap umat Islam. Apalagi di zaman semarak medsos, harus hati-hati dan bijak menanggapi segala isu yang berkembang. Umat Islam perlu menguatkan diri dari berbagai serangan yang mengadu domba sehingga disibukkan dengan masalah perpecahan internal umat Islam.

FPI, kata Ustadz Shabri, siap mendukung kebijakan MUI, terutama dalam melakukan nahi munkar dan menggalang persatuan umat Islam di Indonesia.[]

Nasehat KH Didin Hafidudin Kepada Ustadz Abdul Somad

Nasehat Kyai Didin Hafidhuddin Kepada Ustadz Abdul Somad

(Bogor-Wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Badan Koordinasi Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pernah dimintai nasihat oleh Ustaz Abdul Somad yang saat ini sedang fenomenal dan digandrungi banyak jamaah.

Kyai Didin bercerita, nasihat tersebut diminta ketika Ustaz Somad meneleponnya saat hendak berceramah di Masjid Az Zikra Sentul, Bogor.

“Saya pernah ditelepon Ustaz Abdul Somad, beliau mengatakan, Kyai apa nasihat untuk saya? saya katakan, Ustaz terus istiqomah dalam berdakwah untuk mempersatukan umat,” cerita Kyai Didin saat berceramah dalam Tabligh Akbar di Masjid Al Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Sabtu (30/12).

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad adalah sosok yang tepat sebagai tokoh pemersatu umat. “Karena sekarang ini, figur untuk mempersatukan umat itu figur yang jarang,” kata Kyai Didin sebagaimana dilansir dari Suaraislamonline.com.

Oleh karena itu, kata Kyai yang juga Dekan Fakultas Pasca Sarjana UIKA ini , kehadiran Ustaz Somad perlu kita sambut untuk persatuan umat Islam. “Karena untuk membangun NKRI itu modalnya persatuan umat Islam,” jelasnya.

Dalam menjaga persatuan, ia berpesan untuk tidak mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti soal khilafiyah. Menurutnya, semua kelompok maupun organisasi harus bersatu-padu membangun negeri.

“Apapun organisasinya, itu aset umat. Ada NU, ada Muhammadiyah, ada Persis, PUI, Wahdah, FPI yang luar biasa amar makruf nahi mungkarnya, LDK dan lainnya, semua harus bersatu,” tandas Kyai Didin. [ed:sym]

KH Shobri Lubis: The Most Easy Way Is Boycott

KH Shobri Lubis: The Most Easy Way Is Boycott

Jakarta – Chairman of the DPP Front Pembela Islam (FPI) KH Shobri Lubis present in the Palestinian Defense Action held at Monas on Sunday (17/12/17). The MUI-led event is a form of reaction to Donald Trump’s statement that states Al-Quds as the capital of Israel.

Kiyai Shobri mentions that the affairs of Al-Quds are not only the affairs of the Palestinians, but the affairs of the Muslims entirely. “Palestine belongs to Muslims.” he said.

According to him, the root cause of the problem is that Palestinian land does not belong to the Zionists: “The problem is that the Zionists established the state of Israel on the property of Muslims and we rejected any offer to divide the Aqsa Mosque,” he explained.

Kiyai Shobri is optimistic that Indonesian Muslims will be able to print historical records with their defense of Palestine.

“The year 2017 will be a historical record, Al-Quds once taken by the Crusaders and Saladin freed it. This year it will be captured by America and Israel, will we let or defend it?”, He asked the participants of the action which was met with the thrill of takbir.

According to him the easiest form of resistance is to boycott Zionist and American products.

“Boycott Jewish products for as long as possible, intend lillahi ta’ala,” he concluded.

HRS: Kuatkan Tekad, Jangan Terpecah Belah

HRS: Kuatkan Tekad, Jangan Terpecah Belah

Jakarta – Habib Rizieq Syihab (HRS) Imam Besar FPI memberikan sambutan dari kota Mekkah, Saudi Arabia pada acara Reuni Akbar 212. Acara yang dihelat di Monas pada hari Sabtu, 2/12/2017.

Habib Rizieq berpesan agar umat Islam tetap memegang kuat ajaran Islam. “Kuatkan niat, bulatkan tekad, untuk berpegang teguh dengan agama Allah dan tidak berpecah belah,” pesannya.

Selanjutnya Habib Rizieq membacakan beberapa ayat Al Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Artinya: “Orang-orang yang beriman, mereka berperang fi sabilillah. Dan orang-orang kafir mereka berperang di jalan Thaghut, maka perangilah wali-wali syaithan, sesungguhnya tipu daya syaithan itu lemah.” (Surat An-Nisa’ 76)

“Dalam ayat ini”, lanjutnya, “Allah menyampaikan informasi yang sangat berharga, bahwa tipu daya bala tentara syaithan itu lemah dan teramat rapuh.”
Habib Rizieq melanjutkan, sebesar apapun, sekaya apapun, sehebat apaun senjata mereka, tetap saja itu semua adalah rapuh.

Imam Besar FPI yang saat ini masih bermukim di Saudi Arabia ini juga berpesan bahwa Islam adalah agama yang paling mulia. Maka dari itu, umat Islam tidak perlu merasa lemah.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “Janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah bersedih hati, dan kalian adalah umat yang paling mulia jika kalian beriman” (Surat Ali Imran: 139)

“Aksi Bela Islam bukan sekedar pembelaan dari penistan Al Qur’an, tapi juga hingga Al Qur’an tegak di negeri ini. Ayat suci harus berada di atas ayat konstitusi,” pungkasnya. [ibw]