Fauzan, Relawan Termuda Wahdah yang Terjebak Di Pegunungan Lindu

Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu yang ikut menjadi relawan bersama Tim Relawan Wahdah Islamiyah bersama ayahnya.

(Palu) wahdahjakarta.com,– Dari tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang berhasil dievakuasi oleh satuan TNI Angkatan Udara di Pegunungan Lindu, ada satu relawan yang masih berusia sangat belia. Ia bernama Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu.

Ia bersama dengan ayahnya, Edi Nurdin mengendarai sebuah motor trail menuju Desa Tomado yang berada di Kecamatan Lindu, Kab. Sigi, Sabtu (20/10).

Malam itu suasana sudah gelap. Rombongan Wahdah Islamiyah sejumlah lima orang masih belum kelihatan dari belakang. Beberapa kali ia bersama ayahnya terjungkal ke atas tanah yang berlumpur.

“Ban motor saya slip. Motor jatuh dan Fauzan sudah ada dibibir jurang. Untung kaki kirinya masih terselip di sekitar ban,” ujar Edi.

Saat itu kata Edi, motor yang dikendarainya tidak mempunyai lampu penerangan.

“Susah jalannya. Karena tidak ada lampu jalan makanya saya hanya mengandalkn lampu weser saja,” urainya.

Fauzan sendiri mengaku ikut menjadi relawan karena ingin membantu warga di Desa sana.

“Saya mau bantu mereka. Kasihan, tempatnya terkurung, akses sulit dan bantuan tidak cukup,” kata Fauzan.

Dimata ayahnya, Fauzan adalah anak yang baik. Fauzan memiliki cita-cita menjadi seorang intelijen. Ayahnya bilang, kalau Fauzan ingin menjadi pahlawan yang tak dikenal.

“Kan intelijen begitu. Jarang di publish media,” tuturnya sembari tertawa.

Pria kelahiran 13 September 2004 ini mengaku sering terlibat dalam kegiatan seperti ini. Diakuinya, ia yang juga warga Pinrang sering mengikuti kegiatan SAR di Mangkutana.

“Jadi kalau jalan seperti ini sih biasa. Tapi kan malam itu beda. Makanya saya pikir meski kita punya keahlian tapi kalau Allah punya rencana lain, kita mau apa?” pungkasnya. []

Lazis Wahdah Segera Bangun 100 Shelter Huntara di Palu

Salah satu Huntara bantuan dari Wahdah Islamiyah di Palu, Sulteng.

(Palu) wahdahjakarta.com,- Wahdah Islamiyah membuat prototipe shelter atau huntara (Hunian Sementara) yang terbuat dari bahan kalsiboard. Untuk memperkuat rangka bangunan, kayu-kayu pilihan dirancang untuk memperkokoh hunian lengkap dengan atap yang didominasi bahan seng berukuran 3 x 6 meter.

Nantinya prototipe ini akan dimanfaatkan oleh pengungsi gempa dan tsunami yang ditargetkan sebanyak 100 hunian.

“Insya Allah proyek 100 hunian telah dimulai dan akan dibangun dibeberapa lokasi,” ujar Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Selasa (23/10).

Seperti diketahui bersama, gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah penduduk. Sehingga kebanyakan dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Relawan yang bekerja dalam pembangunan shelter bencana

“Salah satu poin yang paling penting dalam masa pemulihan recovery adalah tersedianya tempat tinggal bagi para korban gempa dan tsunami maka dari itu kita insya Allah akan membantu mereka terkait ketersediaan hunian sementara, tahap pertama sudah proses dan selanjutnya kita terus lanjutkan di tahap berikutnya, target kita membuat mini kompleks Shelter di atas tanah yang telah kita dapatkan dari jamaah Wahdah Islamiyah,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pada Selasa (23/10) siang, empat orang pengungsi di Jln. Sungai manonda, komplek Masjid Imam Muslim, kota Palu menerima secara simbolis shelter yang telah rampung.

Dari pihak Wahdah Islamiyah diwakili oleh Abdul Rahim kepada Hendra Setiawan, Huddin, Rida Az Zahrah dan Zulkarnain.

“Syukur kami ucapkan atas pemberian shelter ini. Semoga LAZIS Wahdah semakin dipercaya masyarakat Indonesia,” ujar Hendra.

Proses pembangunan shelter dimulai pada Kamis (18/10) yang dalam pengerjaannya dilakukan oleh delapan orang yang tergabung dalam tim shelter Wahdah Islamiyah.

Syahruddin menambahkan, hunian ini akan dilengkapi dengan WC yang layak guna dan kedepan beberapa Masjid dan Sekolah yang rubuh akan dibangun kembali guna untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi warga Sulawesi Tengah. []

Bersama Lazis Wahdah Bangun Kembali Palu, Sigi, dan Donggala

Bersama Lazis Wahdah Bangun Kembali Palu, Sigi, dan Donggala

Bersama Lazis Wahdah Bangun Kembali Palu, Sigi, dan Donggala

 

Bencana  gempabumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda 4 daerah di Sulawesi Tengah yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong menimbulkan dampak yang luar biasa.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dampak bencana hingga Ahad (21/10/2018) pukul 13.00 WIB, tercatat 2.256 orang meninggal dunia. Sebarannya di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang.  Semua korban sudah dimakamkan.  Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Banyak bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan.

Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana. Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data per 20/10/2018, mencapai lebih dari 13,82 trilyun rupiah. Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara.

Dari Rp 13,82 trilyun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, kerugian mencapai Rp 1,99 trilyun dan kerusakan mencapai Rp 11,83 trilyun. Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi 5 sektor pembangunan yaitu kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp 7,95 trilyun, sektor infrastruktur Rp 701,8 milyar, sektor ekonomi produktif Rp 1,66 trilyun, sektor  sosial Rp 3,13 tilyun, dan lintas sektor mencapai Rp 378 milyar.

Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat. Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman disana. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Berdasarkan sebaran wilayah, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp 7,63 trilyun, Kabupaten Sigi Rp 4,29 trilyun, Donggala Rp 1,61 trilyun dan Parigi Moutong mencapai Rp 393 milyar. Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan.

Sumber: Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Ahad (21/10/2018)


Mari Bersama Kami, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Wahdah Islamiyah (Lazis Wahdah)Bangun Kembali Palu, Sigi, dan Donggala

Program LAZIS Wahdah untuk Warga Terdampak Gempa SulTeng

1.Pembangunan Shelter (Hunian Sementara)

  1. Pembangunan Masjid
  2. Pembangunan Sekolah Semetara
  3. Pembangunan Sarana MCK
  4. Dapur Umum
  5. Layanan Medis
  6. Paket Sembako
  7. Paket Tikar, Sarung dan Selimut
  8. Hygiens Kit
  9. Dakwah dan Trauma Healing

 

💰 Ayo bantu saudara-saudara kita yang terkena dampak Gempa Sulteng. Donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri.

 

📚 Catatan

  1. Demi amanah dan kedisiplinan pencatatan maka diharapkan menambah jumlah nominal 600 setiap transferan. Contoh Rp 500.600,-
  2. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900, ketik : PGS/Nama/Alamat/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

 

🌹 Atas partisipasi dan sedekahnya kami ucapkan “Syukran wa Jazakumullahu Khairan” dan semoga Allah melipat gandakan pahala sedekah kita.

 

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

 

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempasulteng #gempadonggala

#gempapalu #pasukanhijau

#wahdahpeduli

Pemulihan Dampak Gempa Sulteng Terus Diintensifkan

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Percepatan pemulihan dampak gempa Sulteng terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

“Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen”, jelas Sutopo.

Namun demikian kata Sutopo maaih ada beberapa daerah yang aliran listriknya belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja. Sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

Selain itu masih menurut Sutopo, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

“Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah”, terangnya.

Pembersihan puing-puing bangunan juga terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Amukan Tsunami

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Tsunami

Mobil Fidya, korban selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami Palu, Jum’at (29/09/2018) lalu. Photo:Fidya/hidcom.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

 

Mobilnya rusak parah habis diamuk tsunami. Sekujur bodinya tergores parah dan tersayat-sayat. Bodinya penyok dan bampernya copot. Lampu , ban,  dan spion lepas tak berbekas.

Tapi ajaib. Pengemudi mobil itu selamat. Jangankan luka parah, yang ada hanya goresan kecil di kakinya.

“Sampai sekarang saya seperti mimpi (masih) hidup,” ujar Fidyawati, sang pengemudi dan pemilik mobil itu.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

Sore itu sebelum kejadian, Fidya sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya, Stikes Widya Nusantara (Stikes WNP) di Jl Universitas Tadulako, Palu.

Roda empat yang dikendarainya bergerak dari arah Tondo menuju rumahnya di Jl Cemara, Kecamatan Palu Barat. Sendirian di dalam mobil, ia melewati jalan raya menyisir Pantai Talise, rute yang memang biasa ia lewati bolak balik rumah-kampus.

Sambil melantunkan shalawat atas Nabi, mengikuti irama senada dari tape mobilnya, Fidya fokus berkendara. Ia ingin cepat sampai di rumah untuk menunaikan shalat maghrib.

Tiba-tiba, saat posisinya berada tidak jauh dari pertigaan Jl Talise dan Cut Mutia, ia terkejut, laju mobil dihentikan. Disaksikannya pemandangan mengagetkan. Berbagai jenis sepeda motor dan penumpangnya terjatuh, mobil-mobil saling bertabrakan di depannya. Orang-orang pada berlarian meninggalkan kendaraannya sambil berteriak-teriak.

“Gempaaaaa… Aiiiiiirrrrr… Tsunamiiiiiii…!!!

Bersamaan dengan teriakan itu mobil terasa diayun-ayunkan sangat keras. Saya menengok ke arah kanan jendela dari dalam mobil. Saya melihat air itu berdiri di dekat saya dan sangat tinggi berwarna hitam, seakan marah,” tutur Fidya di Palu kepada hidayatullah.com, Sabtu pertengahan Oktober 2018.

Itulah detik-detik “alam mengamuk” dan mulai meluluhlantakkan ibukota Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 7,4 skala richter terjadi pada pukul 18.02 WIB atau pukul lima sore waktu Palu, disusul tsunami sekitar 6 menit kemudian.

Detik-detik itu pula kepanikan melanda. Di dalam mobil, Fidya mengencangkan shalawat yang diputar dan diucapkannya. Rumahnya sudah berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari tempatnya saat itu. Tapi, tiada lagi kesempatan untuk melarikan diri apalagi pulang. Ia memilih menunduk, memegang erat setir, mematikan mesin mobil, dan menutup kedua matanya. Dipasrahkan segalanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ia merasa dunia seperti sudah kiamat. Berbaris-baris doa ia panjatkan.

“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim….

La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntumminadzalimin.

(Saya) memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari ‘kiamat’ itu,” ungkapnya.

Beruntung. Saat gelombang tsunami menghantam dan menyeretnya, mobil Fidya tidak langsung terbalik dan terbentur. Hanya terseret. “Seakan saya naik perahu yang didorong dari belakang mobil dengan ombak.”

Hitungan detik, ia membuka matanya, ternyata mobil yang ditumpangi sudah terseret sejauh 30-an meter dari jalan raya tadi, terdampar di halaman rumah penduduk setempat. Tapi bencana belum berakhir.

“Saya tengok lagi ke arah kanan saya dari jendela mobil, air laut berdiri lagi lebih tinggi dari yang pertama, dan membawa, mengisap reruntuhan bangunan, mobil, motor, serta semua orang-orang yang berada di pinggir pantai.”

Melihat semua itu, badan dan bibirnya gemetar. “Saya menutup mata lagi dan berdoa sambil berderai air mata. Seakan hari itu adalah hari terakhir saya hidup di dunia ini.”

Hempasan tsunami yang kedua ini sangat keras dan deras. Mobil yang Fidya kendarai pun terbentur bangunan yang runtuh, lalu tersangkut di atap rumah. Benturan itu keras, tapi keajaiban kembali terjadi.

“Di sini saya sempat kaget karena lihat balok seperti besar tiang rumah mengarah pas mukaku. Tapi tidak masuk dalam mobil sama sekali. Hanya memecahkan kaca mobil. Kaca mobil berhamburan di mukaku tapi sama sekali tidak luka di mukaku. Mukaku tidak luka sama sekali. Benar-benar kuasa Allah Yang Maha Melindungi dan Menolong,” tuturnya begitu terkesan.

Lewat lubang kaca depan yang pecah itulah, Fidya keluar sambil membawa tasnya. “Saya keluar mobil dalam keadaan bersih dan goresan luka kecil di kaki. Alhamdulillah air setetes pun tidak ada (masuk ke) dalam mobil.”

Langit sudah gelap, saat kedua kaki Fidya melangkah hati-hati di atas reruntuhan rumah. Ia amati sekelilingnya, disaksikannya suasana sangat mencekam. Suara tangisan terdengar dimana-mana. Orang-orang pada berteriak minta tolong. Mayat-mayat bergelimpangan di depan matanya.

Ia menengok ke belakang, tampak seorang ibu dan anak serta seorang kakek paruh baya yang juga selamat dari tsunami. Fidya bergegas mencari jalan turun dari atap rumah. Ia pun memegang ujung pohon bambu yang berada di belakang tembok atap rumah itu. Tak lupa ditolongnya ibu dan anak tadi untuk turun juga.

“Kami pun berlari-lari sekuat-kuatnya sambil berpegang tangan dan melafadzkan ‘La ilaha illallah’. Di perjalanan saya banyak melihat orang berlarian tak menentu dan penuh kegelisahan. Seakan kiamat itu telah tiba. Ya memang hari itu kiamat sughra. Tak terasa saya berjalan tanpa alas kaki dan tidak tahu posisi saya dimana, karena semua jalan gelap. Saya sangat kehausan. Tidak lama kemudian saya mendapatkan air dan roti yang berhamburan di jalan, lalu saya ambil dan makan.”

Bersyukur

“Allahu Akbar, Allahu Akbar… La ilaha illallah!”

Adzan isya terdengar dikumandangkan dari masjid sekitar Fidya, entah dimana. Ia segera menunaikan shalat di atas trotoar. Usai bersimpuh kepada Allah, ia berjalan ke arah atas, kawasan pemukiman yang lebih tinggi, ia mengenalinya kawasan Jl Cik Ditiro. “Di situlah saya diberikan sendal oleh bapak yang saya tidak kenal.”

Ia melanjutkan perjalanan ke arah atas dan berhenti di depan toko baju yang berantakan karena gempa. Di sini, Fidya mengganti pakaian dengan gamis yang diberikan oleh pemilik toko tersebut. Awalnya ia berniat ngutang, tapi karena tidak mau meninggalkan utang dalam keadaan seperti itu, ia memilih membeli baju pemberian tersebut.

“Karena saya takut meninggalkan utang jikalau hari itu adalah kesempatan terakhir saya hidup. Saya pun membayarnya.”

Perjalanan dilanjutkan, tapi mengarah ke bawah. Satu tujuan yang hendak dicapai, kediaman Pimpinan Pusat Al Khairat Sulawesi Tengah, Habib Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. “Karena saya mengingat mertua dan keluarga suami saya semua di sana.”

Hanya sekitar 5 meter berjalan kaki, tiba-tiba ada seseorang naik sepeda motor, memakai baju putih, yang menawarkan diri mengantar Fidya ke kediaman Habib Saggaf. Ia pun turut.

“Laki-laki yang baju putih bawa motor saya tidak kenal, tapi dia bilang kalau dia juga korban yang selamat dari tsunami pas dia lagi di Palu Grand Mall. Saya lupa tanya namanya.”

Sekitar pukul 22.00 WITA, Fidya pun tiba di kediaman Habib Saggaf. Artinya, sekitar 6 jam ia melewati suasana mencekam sejak kejadian sore itu. “Alhamdulillah saya sampai dan berkumpul dengan keluarga suami.” Saat peristiwa itu, suaminya sedang dinas di Jakarta, sedangkan anak semata wayangnya tengah berada di Kabupaten Toli-Toli Sulteng.

Keesokan harinya, Sabtu (29/09/2018), Fidya kembali mendatangi lokasi kejadian dimana mobilnya terdampar. Kendaraan yang setia menemaninya kemana-mana ini kondisinya sangat mengenaskan. Terperosok dan tertindih puing-puing bangunan.

Mobil yang rusak parah itu tentu menelan kerugian ratusan juta rupiah bagi Fidya sekeluarga. Ia masih belum tahu mau diapakan. Tapi itu bukan masalah.

“Saya tidak pernah menghitung apa yang telah Allah titipkan buat saya apalagi harta benda (mobil) rusak ataupun hilang, mau ratusan juta atau berapa lah harga mobil,” tuturnya.

“Saya sama suami tidak pusing atau memikirkan masalah kerugian. Karena itu bukanlah milik saya, hanya Allah menitipkan harta pada saya. Kalau rusak berarti sudah waktunya Allah mengambil titipan itu dari saya. Nyawa atau keselamatan lebih berharga dibandingkan harta benda yang rusak.

Tapi saya sangat bersyukur, harta benda (mobil) yang Allah titipkan kepada saya bisa (menjadi wasilah) melindungi saya dari ‘kiamat’ itu,” ungkap mahasiswi berjilbab ini dengan mantap.

Yang membuatnya juga semakin bersyukur sekaligus takjub, ada korban selamat lainnya yang terjebak dalam mobil saat tsunami, tapi keluar dari mobil dalam keadaan luka parah. “Yang saya heran juga, tidak trauma sama sekali yang saya rasa, padahal orang-orang semua trauma.”

Beberapa bulan lalu, Fidya masih bekerja sebagai perawat di RSUD Anutapura Palu. Saat gempa magnitudo 7,4, Jumat (28/09/2018) itu, gedung berlantai 4 ini ambruk. Bangunannya terpisah jadi 2 bagian, yang satu sisinya tenggelam bersama seluruh pasien dan perawat yang bertugas.

Kalau boleh berandai-andai, sekiranya saat kejadian itu Fidya sedang bertugas di RS tersebut, tentu kisahnya akan berbeda. Itulah hikmah tersendiri atas keputusannya berhenti bekerja (resign) dari RS itu. “Resign (karena) pas lanjut kuliah 5 bulan lalu,” tuturnya.

Wanita kelahiran Toli-Toli, Jumat, 12 Oktober 1990 ini, betul-betul meresapi dan mengambil pelajaran dari serentetan kejadian serta keajaiban yang dialaminya itu.

“Semoga saya yang diberikan kesempatan hidup ini dapat merasakan nikmatnya iman setelah ‘kiamat’ itu terjadi. Di tengah penderitaan luka dan duka, semoga kita dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’la,” pungkasnya berpesan. (MAS)

Sumber: Hidayatullah.com

Penanganan Gempa Sulteng, BNPB: Jumlah Korban Meninggal 2.133

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa Sulteng

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Penanganan darurat dampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah terus dilakukan hingga saat ini. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26/10/2018. Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, jelas Sutopo.

“Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana”, terangnya.

Sutopo juga menyampaikan update korban terdampak gempa. “Hingga Sabtu (20/10/2018), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga”, jelasnya.

Untuk korban selamat yang kehilangan rumah tempat tinggal akan dibuatkan hunian sementara (huntara).
“Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian”, ucapnya.

“Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak”, imbuhnya.

Ia juga menambahkan, kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini.
“Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya”, pungkasnya.

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Rektorat Institut Agama Islam Negri (IAIN) Palu sehari pasca gempa dan tsunami Palu.

Pasca gempa dan tsunami Palu, perkuliahan di Universitas Tadulako diberhentikan sementara. Meski demikian, mahasiswa Untad tetap bisa mengikuti kuliah dalam program sit in di beberapa kampus di Indonesia yang menyatakan kesediaannya untuk membantu.

(PALU) Wahdahjakarta.com – Hari kedua dan ketiga di Palu, Forjim Solidarity dan Tim Media Lazis Wahdah menyambangi tiga kampus yang menjadi ikon pendidikan di Palu, yakni Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismu), Kampus Universitas Al-Khairat, dan kampus Universitas Tadulako (Untad).

Kampus IAIN Palu yang berada di tepi Pantai Talise, tepatnya di Jl Diponegoro No23, Lere, Palu, Sulawesi Tengah, termasuk kampus yang terkena gelombang tsunami.  Kondisinya terbilang parah dan menyedihkan. Saat memasuki kampus, terlihat lumpur tebal dan genangan air di seluruh area kampus.

Bangunan kuliah hingga rektorat rusak terendam lumpur. Begitu juga dengan mobil yang terparkir di pekarangan kampus tampak ringsek.  Hingga saat ini, belajar mengajar di kampus IAIN Palu diliburkan. Belum bisa dipastikan kapan mahasiswa kembali ke kampus, mengingat area kampus masih tergenang air dan lumpur.

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Salah satu ruangan IAIN Palu yang rusak akibat gempa dan tsunami Palu. Photo diambil sehari setelah gempa Palu, Sabtu (30/09/2018).

Selain kampus IAIN, gempa Palu juga menimpa kampus Universitas Tadulako (Untad). Sebagian besar kondisi bangunannya retak-retak dan tak sedkit yang roboh.

Menurut Muhammad Khairil Al Fath, salah satu mahasiswa Untad, ia mendengar informasi dari teman-teman kuliahnya, bahwa dua mahasiswa yang meninggal dunia akibat gempa Palu. Satu laki-laki, dan satu perempuan. Juga dikabarkan ada beberapa mahasiswi yang dinyatakan hilang, belum diketahui keberadaannya.

“Saya mendengar, mahasiwa yang meninggal itu tertimpa runtuhan bangunan. Nyawanya tak tertolong, ketika hendak dievakuasi. Saat mau ditolong, mahasiswa itu menolak untuk dipotong salah satu tangannya, hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir,” kata Khairil.

Adapun perempuan yang meninggal adalah mahasiswi bercadar. Ketika ditemui, perempuan itu terlihat utuh tubuhnya dan tetap terbalut dengan busana muslimahnya. Namun Khairil belum mengetahui nama kedua mahasiswa yang meninggal tersebut.

Pasca gempa dan tsunami Palu, perkuliahan di Universitas Tadulako diberhentikan sementara. Meski demikian, mahasiswa Untad tetap bisa mengikuti kuliah dalam program sit in di beberapa kampus di Indonesia yang menyatakan kesediaannya untuk membantu. Kabarmya, pada 5 November 2018, mahasiswa akan kembali kuliah.

Dalam kesempatan itu, forjim solidarity dan tim media Laznas Wahdah juga menyambangi Universitas Muhammadiyah (Unismu) Palu. Hanya satu gedung serba guna (arena olahraga) yang roboh akibat gempa. Sedangkan Gedung kampus Universitas Al Khairat tidak mengalami kerusakan yang berarti. Namun kampusnya dijadikan sebagai posko pengungsian. (des/sym)

Relawan Trauma Healing Hibur Anak Korban Gempa dengan Bercerita

Wakil Ketua Umum Wahdah ISlamiyah Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil ketika menyampaikan cerita di depan anak-anak korban bencana Sulteng saat menjadi Relawan Trauman Healing di kab. Sigi, Sulawesi Tengah.

(SIGI) wahdahjakarta.com — Salah satu metode Trauma Healing kepada anak korban gempa yang dilakukan oleh relawan Wahdah Islamiyah adalah melalui cerita edukasi. Cerita edukasi yang berisi nilai-nilai pendidikan dan patriotisme.

Salah satunya adalah Dongeng berjudul ‘Kerajaan Darusallam’ yang disampaikan oleh Ustad Ikhwan Jalil kepada puluhan anak-anak korban Gempa.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Robot ini adalah pasukan Mujahid yang ditugaskan menjaga negerinya, Kerajaan Darussalam. Tiba-tiba ada sepasukan musuh yang dipimpin oleh Raja Jengkol menyerangnya. Maka bertakbir lah seluruh pasukan kerajaan melawan pasukan musuh itu,” kisah Ustad Ikhwan dengan penuh semangat kepada puluhan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Qurrota A’yun, Jumat (19/10/2018).

Di akhir kisah, ustad Ikhwan membagikan mainan robot kepada anak-anak yang hadir dengan terlebih dahulu membuka pertanyaan.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Siap, saya akan melawannya menggunakan robot ini,” tutur Amar, tersambung gelak tawa seluruh peserta yang hadir.

Lantunan kisah oleh Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah ini mendapat sambutan tawa oleh anak-anak yang hadir, apalagi dihiasi dengan lantunan nasyid Deen Salam oleh Umar Al-Faruq, Putra Ustad Ikhwan.

Trauma healing merupakan salah satu agenda relawan Wahdah Islamiyah dalam pemulihan korban gempa Palu dan sekitarnya. “Hari ini kita mengirimkan 10 ustadz yang akan menjadi tim trauma healing,” kata ustadz Taufan Djafri, koordinator pengiriman relawan, di kantor DPP Wahdah Islamiyah, Jl. Antang Raya no 48, Makassar, Selasa (9/10/2018) lalu.

Selain kepada anak-anak, Trauma Healing juga diberikan kepada kalangan remaja dan orang tua. Metode untuk remaja dan orang tua berbeda dengan anak-anak, yakni melalui pendekatan rohani dengan tausiyah dan motivasi. ()

Lahan Terbatas, Warga Terpaksa Bangun Tenda Pengungsian di Samping Kuburan

Tenda yang didirikan warga di samping kuburan akibat terbatasnya lahan untuk pengungsian.

(Palu) Wahdahjakarta.com-– Pemandangan miris terlihat di sekitaran kompleks pengungsian di Kel. Balaroa, Kec. Palu Barat, kota Palu Jumat (12/10,) pasalnya, terlihat beberapa warga memanfaatkan tanah pekuburan sebagai tempat tinggal.

Tenda-tenda warga yang begitu banyak membuat sebagian warga memilih untuk tidur diatas tanah pekuburan.

Warga di perumahan Balaroa yang mengungsi memilih mendirikan tenda di dekat lokasi pemakaman karena lahan yang terbatas.

Terlihat pula tumpukan pakaian diatas pekuburan dengan jumlah yang sangat banyak.

mereka dijanji sama pemerintah untuk diberikan tempat tinggal sementara,paling lambat dua bulan. [fry]

Laporan:
Dzulkifli Tri Darmawan
Relawan Media Lazis Wahdah Islamiyah

Dengar Lantunan Ayat Suci, Korban Gempa Tersentuh Menyeka Air Mata

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci QS. Al Anbiya pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci Al-Quran pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

(PALU) wahdahjakarta.com- “Kami hadir untuk membersamai bapak dan ibu, bukan hanya hadir dengan bantuan ini, namun hadir dengan jiwa kami,” kata Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil membuka taushiyahnya dalam program trauma healing kepada pengungsi korban gempa Palu, Posko Pengungsian Balaroa, Jalan Sumur Yoga, Palu, Kamis (11/10/2018).
“Kami berharap kebersamaan kita bukan hanya di dunia, namun hingga di SurgaNya Allaah ta’ala ” ungkap Ustadz Ikhwan yang juga Ketua Dewan Syura Wahdah Islamiyah ini.

“Bencana yang hadir, akan menjadi asbab ditinggikannya derajat, dan penebal keimanan. Bolehlah kita berada di tenda pengungsian, namun tetap shalat, berdzikir, membaca Alquran dan ibadah lainnya,” tuturnya.

Di sela tausiyah, Umar Al-Faruq bin Ikhwan Jalil melantunkan Kalam Ilahi dalam surah Al-Anbiya, yang disambut derai air mata dari warga pengungsian yang hadir.

Satu persatu warga tertunduk, menghayati lantunan ayat suci, dan tak sedikit yang menyeka air mata karena tersentuh.

Setelah lantunan ayat suci Al-Quran, ustadz Ikhwan mengajak seluruh warga untuk semakin kuat bersabar menghadapi ujian. “Untuk semakin menguatkan kita, bahwa tiada yang lebih besar dari Allah ta’ala, kami mohon izin kepada bapak dan ibu untuk bertakbir bersama sebanyak tiga kali,” serunya yang kemudian disambut pekikan takbir dari warga pengungsian.
Trauma Healing merupakan salah satu program WI dalam penanggulangan korban gempa Palu dan sekitarnya. Ustadz dan Ustadzah senior dan praktisi diterjunkan ke lokasi bencana sejak Senin (6/10/2018).

Selanjutnya, relawan WI akan mendirikan posko pembinaan keislaman kepada warga, yang diisi dengan program-program, diantaranya Trauma Healing, pembinaan pengajian untuk Ibu-ibu dan anak-anak, serta program lainnya.

Sampai berita ini diturunkan, Wahdah Islamiyah telah mendirikan posko relawan di 9 titik yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, dengan program utama SAR, Trauma Healing, layanan medis, dan distribusi logistik. (RH/FSY/SYM)