Gempa Berkekuatan M 5,2 Guncang Mamasa, 2 Orang Pingsan

Gempa Berkekuatan M 5,2 Guncang Mamasa, 2 Orang Pingsan

(Mamasa) wahdahjakarta.com-, Gempa dengan kekuatan M 5,2 kembali mengguncang wilayah Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Rabu (7/11/2018) pukul 16.42 WIB. Pusat gempa di darat dengan kedalaman 11 km pada lokasi 9 km tenggara Mamasa Sulawesi. Gempa tidak berpotensi tsunami.

Dalam keterangangan tertulis kepada wahdahjakarta.com Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa gempa terasa kuat sekitar 4-5 detik.

“Masyarakat yang sebelumnya sudah tinggal di lokasi pengungsian sebanyak 10.646 jiwa pengungsi panik dan berhamburan keluar ke tanah lapang. Dilaporkan 2 orang pingsan karena kaget atas kejadian gempa tersebut, “ jelas Sutopo.

Sebelumnya masyarakat mengungsi akibat gempa berkekuatan M 5,5 pada Selasa (6/11/2018) pukul 01.35 WIB. Masyarakat mengantisipasi gempa dengan mengungsi di tanah lapang karena saat gempa dirasakan keras selama 4-5 detik.

“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan akibat gempa. BPBD Kabupaten Mamasa masih melakukan pendataan dampak gempa,” pungkasnya.

BNPB: Indonesia Rawan Bencana, Setahun Terjadi 500-600 Gempa

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa Sulteng

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Indonesia rawan bencana. Berbagai bencana selalu menyertai setiap tahunnya. Trend bencana juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

 “Selama tahun 2018, hingga Kamis (25/10/2018), tercatat 1.999 kejadian bencana di Indonesia, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com, Kamis (25/10/2018) malam.

 “Kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana cukup besar. Sebagai gambaran, gempabumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 17,13 trilyun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp 13,82 trilyun”, terangnya.

Sutopo menguraikan, selama tahun 2018, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26/2/2018 yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22/2/2018 yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 ini paling besar sejak 2007. Jumlah kejadian bencana, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana tahun 2016 dan 2017 yaitu 2.306 kejadian bencana dan 2.391 kejadian bencana.

“Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar”, pungkasnya.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan bencana banjir, longsor,dan puting beliung menjelang musim penghujan.

“Saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Gempabumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000 – 6.000 kali gempa. Gempabumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa”, terang Sutopo.

“Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya”, pungkasnya. (FRY/Sym).

Fauzan, Relawan Termuda Wahdah yang Terjebak Di Pegunungan Lindu

Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu yang ikut menjadi relawan bersama Tim Relawan Wahdah Islamiyah bersama ayahnya.

(Palu) wahdahjakarta.com,– Dari tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang berhasil dievakuasi oleh satuan TNI Angkatan Udara di Pegunungan Lindu, ada satu relawan yang masih berusia sangat belia. Ia bernama Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu.

Ia bersama dengan ayahnya, Edi Nurdin mengendarai sebuah motor trail menuju Desa Tomado yang berada di Kecamatan Lindu, Kab. Sigi, Sabtu (20/10).

Malam itu suasana sudah gelap. Rombongan Wahdah Islamiyah sejumlah lima orang masih belum kelihatan dari belakang. Beberapa kali ia bersama ayahnya terjungkal ke atas tanah yang berlumpur.

“Ban motor saya slip. Motor jatuh dan Fauzan sudah ada dibibir jurang. Untung kaki kirinya masih terselip di sekitar ban,” ujar Edi.

Saat itu kata Edi, motor yang dikendarainya tidak mempunyai lampu penerangan.

“Susah jalannya. Karena tidak ada lampu jalan makanya saya hanya mengandalkn lampu weser saja,” urainya.

Fauzan sendiri mengaku ikut menjadi relawan karena ingin membantu warga di Desa sana.

“Saya mau bantu mereka. Kasihan, tempatnya terkurung, akses sulit dan bantuan tidak cukup,” kata Fauzan.

Dimata ayahnya, Fauzan adalah anak yang baik. Fauzan memiliki cita-cita menjadi seorang intelijen. Ayahnya bilang, kalau Fauzan ingin menjadi pahlawan yang tak dikenal.

“Kan intelijen begitu. Jarang di publish media,” tuturnya sembari tertawa.

Pria kelahiran 13 September 2004 ini mengaku sering terlibat dalam kegiatan seperti ini. Diakuinya, ia yang juga warga Pinrang sering mengikuti kegiatan SAR di Mangkutana.

“Jadi kalau jalan seperti ini sih biasa. Tapi kan malam itu beda. Makanya saya pikir meski kita punya keahlian tapi kalau Allah punya rencana lain, kita mau apa?” pungkasnya. []

Lazis Wahdah Segera Bangun 100 Shelter Huntara di Palu

Salah satu Huntara bantuan dari Wahdah Islamiyah di Palu, Sulteng.

(Palu) wahdahjakarta.com,- Wahdah Islamiyah membuat prototipe shelter atau huntara (Hunian Sementara) yang terbuat dari bahan kalsiboard. Untuk memperkuat rangka bangunan, kayu-kayu pilihan dirancang untuk memperkokoh hunian lengkap dengan atap yang didominasi bahan seng berukuran 3 x 6 meter.

Nantinya prototipe ini akan dimanfaatkan oleh pengungsi gempa dan tsunami yang ditargetkan sebanyak 100 hunian.

“Insya Allah proyek 100 hunian telah dimulai dan akan dibangun dibeberapa lokasi,” ujar Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Selasa (23/10).

Seperti diketahui bersama, gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah penduduk. Sehingga kebanyakan dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Relawan yang bekerja dalam pembangunan shelter bencana

“Salah satu poin yang paling penting dalam masa pemulihan recovery adalah tersedianya tempat tinggal bagi para korban gempa dan tsunami maka dari itu kita insya Allah akan membantu mereka terkait ketersediaan hunian sementara, tahap pertama sudah proses dan selanjutnya kita terus lanjutkan di tahap berikutnya, target kita membuat mini kompleks Shelter di atas tanah yang telah kita dapatkan dari jamaah Wahdah Islamiyah,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pada Selasa (23/10) siang, empat orang pengungsi di Jln. Sungai manonda, komplek Masjid Imam Muslim, kota Palu menerima secara simbolis shelter yang telah rampung.

Dari pihak Wahdah Islamiyah diwakili oleh Abdul Rahim kepada Hendra Setiawan, Huddin, Rida Az Zahrah dan Zulkarnain.

“Syukur kami ucapkan atas pemberian shelter ini. Semoga LAZIS Wahdah semakin dipercaya masyarakat Indonesia,” ujar Hendra.

Proses pembangunan shelter dimulai pada Kamis (18/10) yang dalam pengerjaannya dilakukan oleh delapan orang yang tergabung dalam tim shelter Wahdah Islamiyah.

Syahruddin menambahkan, hunian ini akan dilengkapi dengan WC yang layak guna dan kedepan beberapa Masjid dan Sekolah yang rubuh akan dibangun kembali guna untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi warga Sulawesi Tengah. []

TNI AU Evakuasi Relawan yanTerjebak Longsor di Lindu Sulteng

Relawan Wahdah Islamiyah yang turun dari helikopter di Sigi, Sulteng

(Sigi) wahdahjakarta.com,- Tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang terjebak di pegunungan Lindu, Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah akhirnya pada Senin (22/10) berhasil dievakuasi oleh helikopter yang dibawa oleh Angkatan Udara. Masing-masing relawan yakni Rendy Hi Syamsul, Zulkifli Tri Darmawan, Nurhidayat, Hasir, Agus, Fauzan Nur Rahmat dan Edi Nurdin.

Helikopter ini terbang dari Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri menuju Helipad yang berada di dekat SMP Negeri 14 Sigi, danau Lindu. Relawan dievakuasi sekitar pukul 10.00 dan baru tiba sekitar pukul 11.00 waktu Palu.

Tujuh relawan ini terjebak lantaran akses jalan menuju Palu putus akibat tanah longsor.

“Akses ke Palu putus. Ada sebelas titik longsor yang ada disana. Kira-kira dua sampai tiga hari baru bisa pulih,” ujar Rendi, relawan Wahdah Islamiyah.

Sementara itu, koordinator distributor bantuan Nurhidayat mengatakan, sejak semalam, Sabtu (20/10) jalan menuju Desa Tomado juga rusak parah. Motor yang mengangkut logistik tidak bisa lagi menembus jalan yang sudah dipenuhi oleh lumpur dan batu.

Rombongan relawan Wahdah Islamiyah di Sigi, Sulteng.

“Malam itu hujan deras. Jalan juga putus. Maka kami memilih untuk kembali ke Kulawi. Kami bermalam di mushola darurat disana,” tambahnya.

“Dua hari kami terjebak di Kulawi dan Lindu. Kami tidak bisa berbuat banyak karena tak ada jalan untuk kembali ke Palu selain berjalan selama dua jam menembus pegunungan,” jelasnya.

Esok harinya, Ahad (21/10) empat orang relawan yang sempat berpisah dengan tiga orang relawan di malam itu memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Tomado.

“Alhamdulillah orang-orang disana menyambut kami dengan begitu ramah. Kami disuguhi makanan dan minuman. Bahkan pakaian karena yang kami kenakan sudah basah kuyup,” ujar Rendi mengenang. []

Penanganan Gempa Sulteng, BNPB: Jumlah Korban Meninggal 2.133

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa Sulteng

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Penanganan darurat dampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah terus dilakukan hingga saat ini. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26/10/2018. Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, jelas Sutopo.

“Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana”, terangnya.

Sutopo juga menyampaikan update korban terdampak gempa. “Hingga Sabtu (20/10/2018), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga”, jelasnya.

Untuk korban selamat yang kehilangan rumah tempat tinggal akan dibuatkan hunian sementara (huntara).
“Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian”, ucapnya.

“Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak”, imbuhnya.

Ia juga menambahkan, kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini.
“Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya”, pungkasnya.

Relawan Wahdah Islamiyah Lakukan Aksi Bersih-Bersih di Pengungsian

Salah satu Relawan LAZIS Wahdah yang melakukan kegiatan kebersihan di lokasi pengungsian bencana Sulteng.

(DONGGALA) wahdahjakarta.com– Relawan Wahdah Islamiyah melakukan pembersihan di posko pengungsian Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala Sulawesi tengah, Sabtu (13/10).

Pembersihan dilakukan sepanjang posko yang berisi 342 Kepala Keluarga ini, dengan menyisir tenda-tenda pengungsian.

Andi Nasaruddin selaku Koordinator Posko relawan Wahdah mengatakan, tujuan dilaksanakan pembersihan adalah untuk membantu warga menjalankan aktivitasnya di lingkungan yang steril.

“Banyak sekali sampah, sehingga banyak lalat-lalat berkeliaran yang sangat berbahaya untuk kesehatan warga,” ujar pria asal Bone ini.

Nasaruddin melanjutkan, salah satu program Wahdah Islamiyah di posko pengungsian ini adalah layanan kesehatan. Maka untuk mempersiapkannya, kata Nasar, adalah dengan mempersiapkan lingkungan yang bersih.

“Insya Allah tim medis akan tiba untuk melayani keluhan kesehatan warga,” ujarnya.

Selain layanan kesehatan, Wahdah Islamiyah juga membuka Sekolah Ceria kepada anak-anak, bersama Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI). Sekolah ditujukan untuk mengisi waktu anak-anak yang libur sekolah akibat gempa yang terjadi.

“Juga sebagai cara Trauma Healing dengan menggunakan permainan dan materi-materi sekolah,” pungkas Nasar.

“Kami berharap program-program yang kami jalankan bisa memberikan manfaat bagi seluruh warga pengungsian, bukan hanya bantuan sembako,” tambahnya.

Sejauh ini, sudah ada delapan posko Wahdah Islamiyah yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigimoutong. Masing-masing memiliki program antara lain distribusi logistik, trauma healing, pembinaan keislaman, sekolah darurat, dan program lainnya. (fry)

Laporan:Rustam Hafid
Relawan Wahdah Peduli

Dengar Lantunan Ayat Suci, Korban Gempa Tersentuh Menyeka Air Mata

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci QS. Al Anbiya pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci Al-Quran pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

(PALU) wahdahjakarta.com- “Kami hadir untuk membersamai bapak dan ibu, bukan hanya hadir dengan bantuan ini, namun hadir dengan jiwa kami,” kata Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil membuka taushiyahnya dalam program trauma healing kepada pengungsi korban gempa Palu, Posko Pengungsian Balaroa, Jalan Sumur Yoga, Palu, Kamis (11/10/2018).
“Kami berharap kebersamaan kita bukan hanya di dunia, namun hingga di SurgaNya Allaah ta’ala ” ungkap Ustadz Ikhwan yang juga Ketua Dewan Syura Wahdah Islamiyah ini.

“Bencana yang hadir, akan menjadi asbab ditinggikannya derajat, dan penebal keimanan. Bolehlah kita berada di tenda pengungsian, namun tetap shalat, berdzikir, membaca Alquran dan ibadah lainnya,” tuturnya.

Di sela tausiyah, Umar Al-Faruq bin Ikhwan Jalil melantunkan Kalam Ilahi dalam surah Al-Anbiya, yang disambut derai air mata dari warga pengungsian yang hadir.

Satu persatu warga tertunduk, menghayati lantunan ayat suci, dan tak sedikit yang menyeka air mata karena tersentuh.

Setelah lantunan ayat suci Al-Quran, ustadz Ikhwan mengajak seluruh warga untuk semakin kuat bersabar menghadapi ujian. “Untuk semakin menguatkan kita, bahwa tiada yang lebih besar dari Allah ta’ala, kami mohon izin kepada bapak dan ibu untuk bertakbir bersama sebanyak tiga kali,” serunya yang kemudian disambut pekikan takbir dari warga pengungsian.
Trauma Healing merupakan salah satu program WI dalam penanggulangan korban gempa Palu dan sekitarnya. Ustadz dan Ustadzah senior dan praktisi diterjunkan ke lokasi bencana sejak Senin (6/10/2018).

Selanjutnya, relawan WI akan mendirikan posko pembinaan keislaman kepada warga, yang diisi dengan program-program, diantaranya Trauma Healing, pembinaan pengajian untuk Ibu-ibu dan anak-anak, serta program lainnya.

Sampai berita ini diturunkan, Wahdah Islamiyah telah mendirikan posko relawan di 9 titik yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, dengan program utama SAR, Trauma Healing, layanan medis, dan distribusi logistik. (RH/FSY/SYM)

Jelang Akhir Masa Tanggap Darurat, BNPB: Korban Meninggal 2.045 Jiwa

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Menjelang hari-hari terkhir evakuasi korban gempa Sulteng, pencarian terhadap korban kian digencarkan oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB, maupun Relawan dan masyarakat.

Sutopo Purwo Nugroho, Kapusdatin & Humas BNPB menyatakan, penghentian evakuasi korban akan dilaksanakan pada 11 Oktober 2018 berdasarkan pernyataan wakil presiden yang merupakan koordinator dalam penanganan darurat bencana yang ditunjuk langsung oleh presiden.

Pada konferensi Pers yang digelarRabu(10/10/2018) BNPB melaporkan, sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali, sehingga pada saat korban ditemukan, Tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit. Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan.

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Tutur Sutopo.

Untuk korban luka hingga kemarin, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.

Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
Namun jika masyarakat menemukan mayat korban gempa diimbau untuk melaporkannya agar dicatat sebagai korban meninggal.

“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.” Ujar Sutopo. (Fry)

Evakuasi Korban Gempa Sulteng Dihentikan, BNPB: Yang Belum Ditemukan Dinyatakan Hilang

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan menghentikan masa tanggap darurat gempa Sulteng. Dengan demikian proses evakuasi korban juga dihentikan. Adapun korban yang belum ditemukan dinyatakan hilang, dan areal lokasi bencan dijadikan sebagai areal kuburan massal.

Dalam catatan BNPB pada konferensi Pers yang digelar, Rabu(10/10/2018) siang sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali. Sehingga saat korban ditemukan, tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit.

“Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan”, jelas Kapusdatin & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers kemarin, rabu (10/10/2018)

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Imbuh Sutopo.

Korban yang ditemukan sudah dimakamkan seluruhnya, 969 jenazah dimakamkan secara massal, sedangkan 1.076 lainnya dikembalikan kepada keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.
Untuk korban luka, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.”

Sebelumnya media ini memberitakan keputusan BNPB mengakhiri masa tanggap darurat gempa Palu dan penghentian evakuasli berdasarkan keputusan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

“Berdasarkan keputusan gubernur Sulteng, BNPB mengumumkan evakuasi tanggap darurat korban akan diakhiri pada tanggal 11 Oktober besok, sehingga untuk evakuasi korban yang masih tersisa akan di maksimalkan sebelum jatuh tempo”, ujar Sutopo saat Konfrensi pers,Rabu (10/10/2018).

“Karena Tim SAR juga punya tugas lain dalam hal penanganan bencana, maupun kemanusiaan, dan tempo pencarian korban juga kami menyesuaikan dengan undang-undang”, tuturnya.

Beberapa pertimbangan lain berdasarkan Rapat Koordinasi dengan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola adalah bahwa korban yang dievakuasi sudah banyak yang rusak dan sulit dikenali akibat kondisi jenazah yang sudah melepuh, sehingga begitu ditemukan langsung dimakamkan karena berpotensi menyebabkan penyakit.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga menyampaikan agar dipertimbangkan untuk tidak melanjutkan evakuasi, sehingga lokasi bencana diusulkan agar menjadi tenpat penguburan massal dan masyarakat akan dibangunkan tempat lain untuk tinggal diluar lokasi bencana. [fsy/sym].