Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

وعن عائشةَ – رضي الله عنها – “أنّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – اكتحل في رمضانَ وهُو صائمٌ” رواه ابن ماجه بإسناد ضعيف وقال الترمذيُّ: لا يصح في هذا البابِ شيءٌ

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bercelak pada bulan Ramadhan saat beliau sedang puasa”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if).

 

Pelajaran Hadits

Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum bercelak bagi orang yang berpuasa. Sebagian Ulama menganggapnya makruh. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubaraka, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah.

Menurut Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Bahsri, dan Ibrahim An-Nakha’i rahimahumullah bercelak bagi orang yang berpuasa hukumnya boleh. Beliau mengatakan bahwa bercelak tidak membatalkan puasa. Ini juga merupakan pendapat beberapa Ulama Kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahumallah.

Syaikh Bin Baz mengatakan dalam fatwanya;

Bercelak tidak membatalkan puasa secara mutlak pada wanita maupun laki-laki menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat ulama. Tetapi bagi orang yang berpuasa lebih baik menggunakannya pada malam. Demikian pula dengan alat kecantikan berupa sabun dan minyak-minyak yang bersentuhan dengan kulit. termasuk juga ‘hina’ (pewarna kuku) atau make-up dan lain-lain. Semua ini tidak mengapa digunakan oleh orang yang berpuasa. ….”. (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/260).

[sym]

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.

Hadits Puasa [10]: Larangan Berkata dan Berbuat Dusta Ketika Puasa

Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta

wahdahjakarta.com| Orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan pembatal puasa. Tapi seyogyanya juga meninggalkan perkataan dan perbuatan yang mengurangi kesempurnaan bahkan menggugurkan pahala puasa. Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ;

  قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بهِ والجهْلَ فَلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابَهُ” رواهُ البُخاريُّ وأبو دود واللفظ له

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Baragsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak sudi sedikitpun menerima puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Hadits ini merupakan dalil tentang haramnya pekataan dan perbuatan dusta serta perbuatan sia-sia saat berpuasa. Hadits ini juga menunjukan bahwa dusta menyebabkan puasa ditolak dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Ash Shiyam Hadits Nomor: 631.

Hadits Puasa [9] :Anjuran Berbuka dengan Kurma

Anjuran Berbuka dengan Kurma

Kurma dan aAir Putih

Hadits Puasa [9]:Anjuran Berbuka dengan Kurma

wahdahjakarta.com| Salah satu anjuran dan sunnah Nabi dalam berbuka puasa adalah berbuka dengan kurma, sebagaimana dalam hadits berikut;

– وعَنْ سليمان بنِ عامر الضَّبِّيِّ – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أَفْطَر أَحَدُكُمْ فَلْيُفطِر على تمرٍ، فإن لَم يجدْ فَلْيُفطِر على ماءٍ فإِنّهُ طَهُورٌ” رواهُ الخمسة وصحَّحَه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم

Dari Sulaiman bin Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa, hendaknya dia berbuka dengan kurma (tamr), jika tidak mendapatkan kurma maka berbuka dengan air karena dia suci”. (HR. Lima perawi hadits dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran berbuka dengan kurma dan air putih, karena mengandung air (basah) dan gula (manis). Dalam riwayat Tirmidzi dan Nasai dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dinyatakan;

“كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يفطر على رطبات قبل أن يصلي، فإن لم يكن فعلى تمرات فإن لم يكن حسا حسوات من ماء”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum menunaikan shalat Maghrib. Jika tidak ada kurma basah (ruthab) beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamar), jika tidak ada maka beliau meminum beberapa teguk air”. (HR. Tirmidzi dan Nasai).

Salah satu hikmanya adalah karena kurma mengandung glukosa dan air yang dapat mengembalikan kebugaran tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus. Sehingga orang yang berbuka dengan kurma cepat pulih dari letih seharian.  [sym].

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Wahdahjakarta.com|  Salah satu sunnah dalam puasa adalah anjuran makan sahur. Dalam satu sabdanya Nabi menganjurkan untuk makan sahur karena dalam makan sahur terdapat berkah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وعنْ أَنس بنِ مَالكٍ – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “تَسَحَّرُوا فإن في السَّحُورِ بركةً” مُتّفقٌ عَلَيه.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu terdapat berkah”. (Muttafaq ‘alaihi).

Hadits ini menunjukkan anjuran makan sahur sebagai bentuk mengikuti tuntunan Sunnah Nabi dan menyelisihi ahli kitab serta memperkuat fisik dalam beribadah serta melakukan aktivitas lainnya saat menjalani puasa.

Makan sahur merupakan satu Sunnah dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makan sahur juga sekaligus merupakan bentuk mukhalafah terhadap ahli kitab yang berpuasa tanpa makan sahur. Dalam salah satu hadistnya Nabi mengabarkan bahwa diantara pembeda antara puasa kita dengan puasa kalangan ahli kitab adalah makan sahur.

Keberkahan makan sahur juga berupa do’a Malaikat dan rahmat Allah kepada orang yang makan sahur. Sebagaimana dikabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain bahwa:

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.”

Shalawatnya Allah bermakna pujian dan rahmat. Artinya Allah memuji dan merahmati orang-orang yang makan sahur. Sedangkan shalawatnya Malaikat berarti do’a dan permohonan ampun. Maknanya Malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk orang yang makan sahur.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti agar santap sahur ini tidak ditinggalkan sama sekali. Minimal memakan sebutir kurma dan atau meminum seteguk air. [sym].

Hadits Puasa [7]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

Anjuran Menyegerakan Berbuka

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-7 & 8 [626 & 627]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

626- وعن سهِل بنِ سَعْدٍ – رضي الله عنه – أَنْ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عجّلوا الْفِطْر” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

627- وللتِّرْمذي مِنْ حديث أَبي هُريْرة – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قالَ: “قالَ الله عَزَّ وجلَّ: أَحبُّ عِبادي إليَّ أَعْجَلُهُمْ فطْراً”

 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Allah Ta’ala berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka“. (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan:

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran menyegerakan untuk berbuka (takjil) jika sudah jelas bahwa mata hari telah terbenam. Dalam riwayat Imam Ahmad haditsnya berbunyi,

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. 

Imam Abu Daud menambahkan lafal,

Karena orang-orang Yahudi mengakhirkan berbuka hingga bintang-bintang mulai terbit (larut malam)“.

[sym/wahdahjakarta.c0m].

 

Penjelasan Hadits Puasa [02]: Larangan Berpuasa Pada Hari Syak

Hukum Puasa Pada Hari Syak

Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

(من صام اليوم الذي يشك فيه فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم)

“Barangsiapa berpuasa pada hari syak (yang diragukan),maka ia telah bermaksiat (durhaka) kepada Abul Qasim shallallaahu ‘alaihi wasallam.

(Hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,dan dinilai maushul oleh lima Ahli hadits, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Pelajaran Hadits

Abul Qasim adalah  gelar atau panggilan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al Qasim adalah nama putra beliau dari istri beliau Khadijah radhiyallaahu ‘anha.

Yang dimaksud dengan hari yang diragukan dalam hadits dia atas adalah hari setelah 29 Sya’ban Disebut yaum asy Syak jika belum dapat dipastikan; apakah 1 Ramadhan telah masuk dengan terlihatnya hilal ataukah  Sya’ban dicukupkan 30 hari.

Keharaman berpuasa pada hari syak (meragukan) tersebut, disebabkan menjadi bentuk kedurhakaan kepada Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam. Karena Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa Ramadhan melainkan setelah jelas bahwa 1 Ramadhan telah masuk dengan ru’yatul hilal atau menggenapkan Sya’ban menjadi 30 hari.

Hadits di atas menunjukkan satu kaidah hukum yang menyatakan, Yang berlaku atau kuat tetap berlakunya hukum yang ada menurut keadaanya semula. Implementasi kaidah ini adalah tetapnya bulan sya’ban dan belum masuknya bulan ramadhan.  Selama  kita meyakini masih berlangsungnya bulan sya’ban dan belum adanya tanda-tanda masuknya bulan Ramadhan, artinya selama belum ada kepastian masuknya bulan Ramadhan, maka malam/hari itu masih bulan Sya’ban. Dalam hadits lain ada larangan sehari/dua hari sebelum ramadhan.

Akan tetapi boleh berpuasa pada hari tersebut (30 Sya’ban) dengan sebab dan niat yang jelas, seperti puasa Qadha, puasa Sunnah Senin dan kamis  serta puasa Daud bagi yang terbiasa melakukannya padwa bulan-bulan sebelumnya. [sym]

(Sumber: Taudhiyhul Ahkam Min Bulughil Maram dengan sedikit modifikasi ).

Penjelasan Singkat Hadits Puasa [01]: Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam : Penjelasan Hukum Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam : Penjelasan Hukum Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits Pertama [618]

عنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “لا تَقَدَّمُوا رمضانَ بصوم يومٍ ولا يومينِ إلا رجلٌ كان يصومُ صوماً فليَصمهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali orang yang terbiasa berpuasa sebelumnya, hendaknya dia tetap berpuasa”. (Muttafaq ‘alaihi).

Pelajaran Hadits:

Hadits ini menunjukkan larangan berpuasa sehari atau dua hari sebelum masuk bulan Ramadhan. Imam Tirmidzi mengatakan, “Para Ulama mengamalkan hadits ini, mereka menganggap makruh hukumnya seseorang cepat berpuasa sebelum masuk bulan Ramadhan”.

Kecuali orang yang terbiasa berpuasa sebelumnya, hendaknya dia tetap berpuasa”, maksudnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa pada hari-hari sebelumnya, dan hari-hari puasanya (Senin/kamis atau puasa Daud) bertepatan dengan hari terakhir bulan Sya’ban, maka tidak mengapa dia tetap berpuasa. [sym].