Syarh Singkat Shahih Bukhari (002): Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi

Syarh Singkat Shahih Bukhari (002): Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi

Oleh: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA.

Kitab Permulaan Wahyu

Bab: Permulaan Wahyu

Hadis 2

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا.

Dari Aisyah Ibu Kaum Mu’minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara turunnya wahyu turun kepada engkau?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya“. Aisyah berkata: “Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.

 

Pelajaran Hadits:

 

  1. Al Harits bin Hisyam adalah saudara kandung musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ‘Amru bin Hisyam Abu Jahal. Al Harits memeluk agama islam pada peristiwa Fathu Makkah dan Ia termasuk sahabat Nabi yang mulia. Al Harits meninggal dunia pada peperangan Negeri Syam sebagai seorang syahid.
  2. Hadis ini menjelaskan 2 cara/proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu melalui suara gemerincing lonceng dan berubahnya Malaikat Jibril menjadi rupa seorang laki-laki. Kedua cara ini boleh jadi adalah yang paling sering terjadi kepada Nabi, karena ada hadis-hadis lainnya yang menunjukkan cara/proses lainnya seperti; Melalui suara yang menyerupai bunyi lebah, ilham, mimpi yang benar, berjumpa dengan Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, firman Allah saat Isra Mi’raj, dan sebagainya. Namun diantara ulama ada yang menafsirkan bahwa beberapa cara-cara tersebut kembali kepada 2 cara yang disebutkan dalam hadis di atas.
  3. Suara lonceng terdiri dari dua unsur; pertama adalah kuatnya suara lonceng tersebut, kedua adalah suara gemerincing yang dihasilkannya. Unsur pertama(kuatnya suara lonceng itu) adalah apa yang dimisalkan oleh Nabi dengan wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dalam hadis ini. Adapun unsur kedua maka ia bukanlah maksud Nabi dalam hadis ini, karena suara gemerincing lonceng telah dilarang di dalam agama Islam sebagaimana hadis Muslim bahwa para Malaikat menjauh dari suara lonceng. Karenanya pula tatkala Nabi hendak mengadakan lonceng sebagai penanda masuknya waktu shalat, maka Allah mengajarkan yang lebih baik kepadanya yaitu adzan melalui mimpi 2 orang sahabat; Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi dan Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhuma.
  4. Makna “shalshalah” dimaknai sebagai wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, atau ia adalah suara kepakan sayapnya.
  5. Datangnya wahyu seperti kuatnya suara lonceng adalah yang terberat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, artinya wahyu itu sangat berat bagi Nabi namun yang terberat adalah jenis di atas. Hal ini juga menjadi salah satu penafsiran “Qaulan Tsaqilan” di dalam surah Al Muzzammil: 5.
  6. Hadis ini menunjukkan bahwa Malaikat Jibril dapat merubah penggambaran dirinya seperti seorang pria. Dan cara penerimaan wahyu ini adalah yang paling mudah menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau seakan berbicara kepada seorang manusia biasa sebagaimana hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan.
  7. Terdapat tambahan riwayat dalam hadis ini yang merupakan ucapan Aisyah radiyallahu ‘anha dimana beliau mensifatkan beratnya proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, dimana beliau sampai berkeringat pada musim yang sangat dingin.

Penulis : Rachmat Badani Lc., MA.

Artikel : Wahdahjakarta.com

Syarh Singkat Shahih Bukhari (001): Amal Perbuatan Tergantung Niat

Syarh Singkat Shahih Bukhari (001): Amal Perbuatan Tergantung Niat

Oleh: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA.

Kitab Permulaan Wahyu

Bab: Permulaan Wahyu

Hadis 1

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

 

Dari Umar bin Al Khaththab, Ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan

 

Pelajaran Hadits:

 

  1. Para ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa Imam Bukhari tidak memulai kitabnya dengan muqaddimah. Beliau justru memulai kitabnya dengan mengangkat hadis ini sebagai hadis pertama. Diantara alasan yang dikemukakan adalah:
  • Melalui hadis ini Imam Bukhari hendak menjelaskan ketulusan niatnya tatkala menulis kitab shahihnya.

–  Hadis ini diriwayatkan melalui sahabat Umar bin Khattab tatkala Ia berkhutbah di atas mimbar, sehingga apabila hadis ini dapat dijadikan sebagai muqaddimah khutbah secara lisan maka ia pula dapat dijadikan muqaddimah khutbah secara tulisan atau sebagai muqaddimah sebuah kitab.

  • Kitab shahih Bukhari mengangkat hadis-hadis Nabi yang merupakan wahyu Allah Ta’ala, sehingga sangat pantas bila Imam Bukhari mengangkat bab pertama tentang permulaan wahyu, dan bila wahyu Allah itu menjelaskan syariat-syariat-Nya maka sangat tepat apabila dimulai dengan hadis di atas seputar amalan.
  1. Hadis ini adalah dalil dan dasar utama dalam agama Islam. Telah diriwayatkan dari para salaf bahwa hadis ini merupakan 1/3 agama islam, atau 1/4nya, juga hadis ini dapat dijadikan dalil dalam 70 pintu ilmu syari.
  2. Hadis ini adalah hadis ahad (garib) karena tidak diriwayatkan dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu kecuali dari 1 jalur saja hingga sampai kepada Yahya bin Said. Dari Yahya kemudian hadis ini banyak diriwayatkan oleh para perawi bahkan sampai pada jumlah derajat mutawatir.
  3. Lafadz amalan dan niat dalam hadis di atas disebutkan dalam bentuk jamak, yang bermakna bahwa setiap amalan-amalan bergantung kepada niat-niatnya. Oleh karena ada begitu banyak niat dari amalan yang dilakukan oleh seseorang, ada yang berniat karena Allah, atau untuk urusan duniawi dan sebagainya. Sedangkan di dalam riwayat lainnya, lafadz niat disebutkan dalam bentuk tunggal yang menunjukkan bahwa tempat niat hanyalah satu yaitu hati dan satu-satunya niat yang diterima adalah karena Allah ta’ala.
  4. Hadis ini menjelaskan urgensi niat yang ikhlas dan keutamaannya, karena seluruh amalan bergantung kepada niatnya.
  5. Diantara urgensi niat adalah untuk membedakan antara sebuah ibadah dan adat, antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Karena itu niat adalah perniagaan para ulama, oleh karena melalui sebuah ibadah, seseorang dapat memperoleh pahala yang banyak disebabkan niatnya, atau melalui sebuah adat dan kebiasaan, seseorang dapat memperoleh pahala bilamana diniatkan karena Allah.
  6. Hadis ini mengajarkan salah satu diantara metode taklim yaitu dengan menyebutkan kaidah terlebih dahulu kemudian memberikan contoh untuk memperjelas dan menguatkan pemahaman audience.
  7. Riwayat ini tidak menyebutkan lafadz hadis Umar secara sempurna (yaitu berisi “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya) namun akan disebutkan oleh Imam Bukhari pada bab-bab berikutnya. Sebabnya boleh jadi karena Imam Bukhari ingin mendahulukan riwayat Syaikhnya Al Humaidi yang berketurunan Quraisy sebagai bentuk pengamalan hadis Nabi untuk mendahulukan Quraisy, sedang pada riwayat Bukhari dari Al Humaidi adalah riwayat yang tidak lengkap. Atau boleh jadi karena Imam Bukhari hendak menjadikan hadis niat ini sebagai muqaddimah kitabnya, maka beliau meriwayatkan matan yang tidak lengkap, agar beliau tidak terjatuh dalam perbuatan mentazkiah diri beliau sendiri.
  8. Diantara hal yang dapat membinasakan seseorang adalah perkara syahwat, kepada dunia dan wanita. Disebutkannya syahwat kepada wanita dalam hadis ini padahal ia merupakan bagian dari dunia, disebabkan karena besarnya fitnah wanita yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana dalam hadis lainnya.
  9. Disebutkan bahwa hadis ini disabdakan oleh Nabi Muhammad berkenaan dengan kisah seorang pria yang enggan melakukan hijrah karena Allah, namun ia melakukannya untuk menikahi seorang wanita semata yang bernama Ummu Qais.

Penulis            : Rachmat Badani Lc., MA.

Jauhi Sifat Sombong

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)

Puasa Syawal dalam Mazhab Syafi’i

Disunahkan puasa syawal enam hari setelah Ramadhan, dimana pahalanya bagaikan puasa setahun penuh, berdasarkan hadis Abu Ayyub al-Anshari:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan, kemudian setelahnya berpuasa enam hari di bulan syawal, maka bagaikan berpuasa setahun.” [H.R. Muslim]

Hal tersebut dikarenakan satu kebaikan pahalanya sepuluh kali lipat, puasa sebulan bagaikan sepuluh bulan, dan puasa enam hari bagaikan dua bulan. Berdasakan hadis Tsauban:

‎مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ، فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan maka puasa sebulan terhitung sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah Idulfitri maka terhitung berpuasa setahun penuh.” [H.R. Ahmad]

Puasa syawal disunahkan bagi siapa saja, baik yang sempurna puasa ramadhannya atau belum, seperti orang yang berbuka karena sakit, safar, haid, dll., namun sebaiknya menyelesaikan utang puasa terlebih dahulu. Adapun yang mempunyai utang puasa tanpa uzur, seperti berbuka dengan sengaja, maka harus mengganti puasanya terlebih dahulu.

Boleh menggabung niat qada puasa dengan puasa syawal namun tidak mendapat pahala puasa setahun penuh jika jumlah puasanya kurang dari sebulan + enam hari (baca poin no.2).

Afdalnya puasa syawal enam hari berturut-turut langsung setelah Idulfitri sebagai bentuk penyegeraan kebaikan karena dikhawatirkan ada halangan jika diakhirkan, tapi boleh juga dilakukan selang sehari dan diakhirkan.

Jika luput berpuasa enam hari sedangkan bulan syawal telah berakhir, maka boleh dilakukan di bulan-bulan setelahnya dan tetap mendapat pahala setahun penuh.

Penulis             : Ustaz Ayyub Subandi, Lc ( Bendahara Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Sumber            : Mughni al-Muhtāj ila Ma’rifah Ma’ānī Alfāz al-Minhāj karya al-Khatīb al-Syirbīnī (977 H)]

Artikel             : Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah

=======

👍 Like Fans Page Dewan Syariah Wahdah Islamiyah:

🌐 http://bit.ly/FansPageDSAWI

Tiga Wasiat Sang Kekasih

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Beliau  berkata,:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

” Kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) mewasiatkan  kepadaku tiga perkara yang aku tidak akan meninggalkannya hingga aku meninggal dunia (1) Berpuasa tiga hari setiap bulan, (2) Mengerjakan Shalat Dhuha, dan (3) Mengerjakan Shalat Witir sebelum tidur.” (HR. Bukhori no. 1178)

Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

Dari Abu Dzar, Rasulullah shollollahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (bulan Hijriyah).”(HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425.)

“Puasa Tiga hari setiap bulan itu adalah seperti puasa sepanjang masa“.(H.R.Bukhori & Muslim dari )

Puasa Ayyaamul Bidh bulan SYAWAL 1440 H ini, Insya Allah jatuh pada hari SENIN(13), SELASA(14) dan RABU(15) Bertepatan dengan tanggal: 17,18,19 JUNI 2019 M

Bila Kita tambah berpuasa satu hari selanjutnya (Kamis/20 Juni 2019), maka kita akan mendapatkan 2 Puasa Sunat Sekaligus (Ayyaamul Bidh dan Senin-Kamis).

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu Berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  lebih sering berpuasa hari Senin dan Kamis, lalu ada Sahabat yang bertanya akan hal itu. Kemudian Beliau Bersabda: Sesungguhnya seluruh amal akan dipersembahkan pada setiap senin dan Kamis, kemudian Alloh mengampuni setiap Muslim atau setiap Mukmin kecuali dua orang yg sedang bermusuhan, sebab Alloh Berfirman: Tangguhkanlah amal keduanya (H.R.Ahmad bisanadin shohih).

Bagi yang belum sempat Puasa sunah 6 hari bulan Syawal, maka tinggal menambahnya 2 hari berikutnya Jumat dan  Sabtu (21&22 Juni 2019), maka akan mendapatkan 3 Puasa Sunat Sekaligus (Bidh, Senin-Kamis dan 6 hari Syawal).

Dari Abi Ayyub Radhiyallahu ‘anhu, Sesungguhnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda: Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Romadhon kemudian diikutinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun. (H.R.Muslim)

Shalat Dhuha

“Setiap pagi masing-masing ruas anggota badan kalian harus dikeluarkan shodaqohnya. Setiap Tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid shodaqoh, setiap Tahlil Shodaqoh, setiap Takbir Shodaqoh, Amar Ma’ruf shodaqoh, Nahi Munkar Shodaqoh. Semuanya itu bisa dicukupi dg 2 Rekaat Sholat Dhuha yg ia kerjakan”. (H.R.Muslim dari S.Abi Dzar RA).

“Adalah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam  Sholat Dhuha 4 Rakaat dan kadang Beliau menambahnya sesuai Kehendak Alloh”. (H.R.Muslim).

Shalat Witir Sebelum Tidur

“Shalat Witir itu tidak diharuskan seperti Sholat Fardhu, tetapi Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu  mengerjakannya, serta Bersabda: Sesungguhnya Allah itu Witir ( Ganjil- Esa) dan suka pada yg ganjil, Maka Sholat Witirlah kamu sekalian Wahai Ahlul Qur’an !” (H.R. Abu Dawud & Turmudzi).

Barangsiapa yg khawatir tidak bisa bangun pada Akhir Malam, maka Sholatlah Witir pada permulaannya. Dan Barangsiapa yg berkeyakinan akan bisa bangun pada akhir  malam, maka sholatlah witir pada akhir malam, karena sungguh sholat di akhir malam itu disaksikan dan hal itu lebih utama “.(H.R.Muslim dari S.Jabir RA).

Semoga Bermanfaat dan Kita semua bisa melaksanakannya. Semoga Alloh Ta’ala Mengampuni segala dosa kita, Menerima seluruh Amal Sholih kita dan DIANUGERAHI  dapat mengisi hari-hari mendatang dg lebih baik lagi Barokah-….. Aamiin.  []

 

 

Bersabarlah, Musibah Bisa Menghapus Dosa

Diantara hikmah musibah dan Ujian adalah dapat menghapuskan dosa.

Diantara hikmah musibah dan Ujian adalah dapat menghapuskan dosa.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak henti-hentinya musibah menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sampai ia berjumpa dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” 💦

[HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2280].

Kesusahan, keperihan hidup, sakit dan musibah adalah hal yang lumrah menimpa kita sebagai manusia. Tidak satu pun manusia yang susah seumur hidup, ataukah bahagia selama-lamanya. Kadang ia akan merasai bahagia, dan kadang pula hidup sengsara. Cobalah kita tanyakan pada mereka yang hidupnya dibawah kolong jembatan. Adakah mereka selalu merasakan kesulitan, tanpa adanya selingan kebahagiaan?

Cobalah tanya pada si kaya yang hidupnya bergelimangan harta, adakah mereka itu merasa bahagia selamanya? Apakah tak satu pun selama hidupnya mereka merasakan kesulitan?

Bersabarlah kawan, musibah yang sementara engkau hadapi di fase ini akan menghapus segala dosamu. Gundahmu yang selama ini engkau rasakan tak akan selamanya seperti itu. Bukankah Allah mengatakan dalam firmannya (yang artinya),“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35). Maka bersabarlah, Allah akan jaminkan dosamu akan terampuni.

Jangankan musibah yang besar seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, puting beliung, banjir bandang, tertusuk duri sedikit pun kata Nabi, akan menggugurkan dosa-dosamu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah dari seorang Muslim yang tertusuk duri hingga apa-apa yang lebih berat darinya, kecuali dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan.” (HR Muslim).

Melalui nasehat ini, kami mengajak kepada pembaca sekalian untuk kembali merenungi hidup, berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa segala musibah dan segala kepedihan, akan menghapuskan segala dosa dan kesalahan kita, Insya Allah. []

❤ “Sedekah Membangun Negeri”, Sedekah Anda untuk Program Dakwah, Program Tahfizh, Program Pendidikan, Program Kemandirian dan Program Wahdah Peduli

💠Layanan Sedekah: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

💠Layanan Zakat: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 772 800 8002 an Lazis Wahdah Jakarta Zakat

📲Konfirmasi transfer/Layanan Jemput Donasi: 0811 9787 900 (call/wa/sms)

#melayanidanmemberdayakan
#spiritalqur’an

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة ، إن أُعطي رضي وإن لم يُعطَ لم يرضَ

“Celakalah pemburu Dinar, dirham, dan Qothifah,  Jika  diberi maka dia ridha,  jika tidak diberi maka ia tidak ridha” (HR. Bukhari).

Pelajaran  Hadits:

  1. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarnya dan cita-cita tertingginya serta puncak tujuan dari ilmunya. Tetapi hendaknya dia menjadikan seluruh amalannya dalam rangka mengharap wajah Allah serta kebahagiaan dan keselamatan di negeri akhirat. Sehingga  dengan demikian seluruh aktivitasnya siang  dan malamnya bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab tidak mengapa seseorang mencari dunia dengan tujuan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni melakukan hal itu demi mengharap wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang  tercela adalah jika upaya mencari dunia atau kesibukan mencari dunia menjauhkan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan menyibukkan serta memalingkan dari melaksanakan kewajiban ibadah kepadanya.
  2. Orang  beriman yang sempurna imannya jika diberi dia bersyukur, jika tidak memperoleh apa-apa maka dia bersabar. Dia  senantiasa ridha terhadap Qadha dan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Kebaikan dan Dosa

Kebaikan dan Dosa

Kebaikan dan Dosa. Gambar:Laziswahdah.com

Kebaikan dan Dosa

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berakata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘aihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa  (al-birr wal itsm). Beliau bersabda;

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس

Kebaikan itu akhlaq yang baik, sedangkan dosa dalah apa yang berkecamuk dalam dadamu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:

1. Anjuran terhadap husnul khuluq (akhlaq yang baik). Husnul khuluq dapat berupa wajah yang berseri ketika bertemu, menahan diri dari mengganggu orang lain, dan bersabar menahan gangguan, mempersembahkan kebikan, serta berhias diri dengan adab islami. Akhlaq ada yang berupa gharizah dan ada pula mukatasab (diusahakan).

2. Anjuran meninggalkan sesuatu yang meragukan kebolehannya, dan Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang kemampuan untuk mengenali keburukan tersebut. [sym]

(Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586-587, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)