70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Kebaikan dan Dosa

Kebaikan dan Dosa

Kebaikan dan Dosa. Gambar:Laziswahdah.com

Kebaikan dan Dosa

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berakata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘aihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa  (al-birr wal itsm). Beliau bersabda;

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس

Kebaikan itu akhlaq yang baik, sedangkan dosa dalah apa yang berkecamuk dalam dadamu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:

1. Anjuran terhadap husnul khuluq (akhlaq yang baik). Husnul khuluq dapat berupa wajah yang berseri ketika bertemu, menahan diri dari mengganggu orang lain, dan bersabar menahan gangguan, mempersembahkan kebikan, serta berhias diri dengan adab islami. Akhlaq ada yang berupa gharizah dan ada pula mukatasab (diusahakan).

2. Anjuran meninggalkan sesuatu yang meragukan kebolehannya, dan Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang kemampuan untuk mengenali keburukan tersebut. [sym]

(Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586-587, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Kurma dalam Tinjauan Sunnah

Manfaat Buah Kurma

Manfaat Buah Kurma

Dari segi kesehatan, 7Dates membawa manfaat dan kehalalannya pun terjamin, Buah kurma sangat identik dengan Bulan Ramadan. Buah ini dianjurkan untuk dimakan saat berbuka puasa karena manfaat yang dikandungnya.
Berikut manfaat kurma yang dijelaskan menurut hadist, antara lain :

  1. Memakan 7 buah kurma dapat menangkal racun dan sihir
    Dalam Shahih Buhari dan Muslim, diriwayatan oleh Saad bin Abi Waqash, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda ‘Barangsiapa mengkonsumsi kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir’.
    “Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” [1]
    Ajwah merupakan salah satu jenis kurma yang berasal dari Madinah, dikenal sebagai kurma Hijaz yang terbaik dari seluruh jenisnya. Bentuknya bagus, padat dan agak keras, namun termasuk kurma yang paling lezat, harum dan empuk. Harganya paling tinggi diantara yang lain.

  2. Kurma Ajwa berasal dari surga dan dapat mengobati racun
    Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : “Kurma ‘Ajwah itu berasal dari Surga, ia adalah obat dari racun”. HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih.

  3. Kurma mencegah pemiliknya dari kelaparan
    “Rumah yang tidak ada tamr (kurma kering) di dalamnya, akan membikin lapar penghuninya’ (HR. Muslim no. 2046).
    Rumah yang tidak ada tamr (kurma kering) di dalamnya, seperti rumah yang tidak ada makanan di dalamnya’ (HR. Ibnu Majah no. 3328)

  4. Kurma sangat baik untuk menjadi bekal, bahkan pada waktu perang. HR. Muslim
    Kurma adalah jenis nutrisi yang baik, terutama bagi orang yang makanan sehari-harinya mengandung kurma seperti penduduk Madinah. Begitu juga kurma adalah makanan yang baik bagi orang-orang yang tinggal di daerah panas dan agak hangat namun memiliki temperatur tubuh yang lebih dingin.

Bagi penduduk Madinah, tamr (kurma yang kering) merupakan makanan pokok sebagaimana gandum bagi bangsa-bangsa lain. Juga, kurma kering dari daerah Aliyah di Madinah merupakan salah satu jenis kurma terbaik sebab rasanya gurih, lezat dan manis. Kurma termasuk jenis makanan, obat dan buah-buahan, kurma cocok dikonsumsi oleh hampir seluruh manusia.

Dapat berguna untuk memperkuat suhu tubuh alami, tidak menimbulkan reduksi timbunan ampas yang merusak tubuh seperti yang ditimbulkan oleh berbagai jenis makanan dan buah-buahan.

Bahkan bagi yang sudah terbiasa makan kurma, kurma dapat mencegah pembusukan dan kerusakan makanan yang berefek negatif terhadap tubuh.

Imam Ibnul Qayyim memberikan komentar terhadap hadits tersebut, “Yang dimaksud dengan kurma Ajwah disini adalah kurma Ajwah Al-Madinah, yakni salah satu jenis kurma di kota itu, dikenal sebagai kurma Hijaz yang terbaik dari seluruh jenisnya. Betuknya amat bagus, padat, agak keras dan kuat, namun termasuk kurma yang paling lezat, paling harum dan paling empuk”

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya dalam kurma Ajwah yang berasal dari Aliyah arah kota Madinah di dataran tinggi dekat Nejed itu mengandung obat penawar atau ia merupakan obat penawar, dan ia merupakan obat penawar racun apabila dikonsumsi pada pagi hari”
“Perintah anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, beliau memerintahkan agar kepalanya disiram dengan air sebanyak tujuh qirbah.
Allah pernah memberi kuasa kepada angin untuk mengadzab kaum ‘Aad selama tujuh malam. Nabi Saw pernah berdo’a kepada Allah agar memberikan pertolongan kepada kaumnya dengan tujuh masa sebagaimana yang diminta oleh nabi Yusuf.
Allah menggambarkan sedekah seseorang dilipatgandakan pahalanya seperti tujuh batang pokok padi yang masing-masing berisi seratus butir padi. Batang padi yang dilihat oleh sahabat nabi Yusuf dalam mimpinya jumlahnya juga tujuh buah. Jumlah tahun saat mereka bercocok tanam juga tujuh.
Pelipatgandaan pahala hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih. Yang masuk surga dikalangan ummat ini tanpa hisab ada tujuh puluh ribu orang.

[Publik Relation 7dates – Dari berbagai sumber]

Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu

Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu

Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”, demikian pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana dalam hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Alinea di atas merupakan pembuka dan wasiat pertama dari rangakaian wasiat penting Nabi kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Teks hadits selengkapnya berbunyi;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ)) رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح]
وفي رواية غير الترمذي ((احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبك، وما أصابك لم يكن ليخطئك,وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا))

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma merawikan, Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, Beliau berkata, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku hendak mengajarimu beberapa kalimat, Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika kamu meminta mintalalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan (isti’anah) mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah!bahwa andaikan seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, merekan takkan dapat memberimu manfaat melainkan apa yang telah tetapkan untukmu. Andaikan mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, niscaya mereka takkan dapat menimpakan mudharat tersebut melainkan apa yang telah ditetapkan Allah akan menimpamu. Pena telah diangkat dan tinta telah mengering”. (HR. Tirmidzi, belau berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam riwayat lain selain Imam Tirmidzi berbunyi; ”Jagalah Allah niscaya kamu akan menemukanNya di depanmu, kenalkan dirimu kepada Allah di saat lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat susah. Ketahuilah bahwa apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang (telah ditetapkan) akan menimpamu tidak akan meleset darimu. Ketahuilah, bahwa prtolongan bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan”.

Jagalah Allah! Maksudnya?
Para Ulama mengatakan bahwa perintah menjaga Allah dalam hadits ini bermakna menjaga hak-hak –Nya, batasan-batasan-Nya dan syariat-syariat-Nya dengan mentaati perintah-printah-Nya dan me njauhi larangan-larangan-Nya.
“Sabdanya, “Jagalah Allah, Allah menjagamu”, yakni, jagalah perintah-perintah-Nya dan taatilah, serta hindarilah larangan-larangan-Nya, maka ia menjagamu dalam berbagai kadaanmu di duniamu dan akhiratmu”, demikian penjelasan Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah.

Senada dengan an-Nawawi rahimahullah, Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah mengatakan, “Jagalah Allah, Allah menjagamu”, artinya, jadilah kamu orang yang patuh pada Tuhanmu, yang melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”.

Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan makna yang lebih umum ari apa yang ikatakan olh Imam Nawai an Ibnu aqiq al-id. Beliau mengatakan, “kalimat, “jagalah Allah”, artinya jagalah batasan–batasanNya dan syariat–syariatNya, dengan mengerjakan perintah– perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya”.

Ulama lain yang juga menyebutkan makna yang lebih umum adalah Syekh Shalih bin Abul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh dan Syekh. DR. Muhammad Yusri. Syekh Alu Syekh menafsirkan perintah menjaga Allah dengan menjaga hak-hak Allah ‘azza wajalla. Sedangkan syekh Muhammad Yusri menafsirkan jagalah Allah dengan menjaga Agama-Nya. Dan Agama Allah mencakup aqidah, hudud (batasan-batasan), huquq (hak-hak Allah), perintah, larangan, dan adab.

Dia Akan Menjagamu
Dia akan menjagamu”. Inilah balasan yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang menjaga Agama, perintah, syari’at, batasan, dan hak-hak Allah Ta’ala.

Lalu, apa dan bagaimana bentuk penjagaan Allah terhadap seorang hambaNya?

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh mengatakan, penjaga Allah terhadap seorang hamba pada dua aspek, yakni dunia dan Dien (Agama). Orang yang menjaga syariat Allah akan dijaga oleh Allah masalahat dunianya, seperti kesehatan badannya, dimudahkan hajat hidupnya, diluaskan rezkinya, dijaga anak-anak dan keluarganya dan sebagainya. Singkatnya semua maslahat dunianya dijamin oleh Allah dan dihindarkan dari berbagai mudharat dalam urusan dunianya.

Yang kedua, dijaga dalam urusan Agama (Dien) nya. Yakni dijaga hatinya dari berbagai ujian syahwat dan syubhat yang menimpa Agamanya. Hatinya terlindungi dari pengaruh syahwat mapun syubhat. Hal ini semakna dengan janji Allah dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya, “Tidaklah hambaKu mendekatkan diri dengan ibadah-ibadah tambahan (nafilah/sunnah) melainkan aku pasti mencintainya, jika aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannuya dia mendengar, akulah penghilahatannya yang dengannya dia melihat, Akulah tangannya yang dengan-Nya dia menggenggam, Akulah kakinya yangdengan-Nya Dia berjalan. Jika dia meminta (berdo’a) aku pasti beri, dan jika memohon pertolongan aku pasti menolongnya”.

Artinya orang yang menjaga hak dan syariat Allah dengan menjaga kontiniuitas ibadah-ibadah Sunnah akan selalu dijaga, dibimbing, dan diarahkan oleh Allah. Penglihatan, pendengaran, tangan dan kakinya akan selalu dijaga dan dibimbing oleh Allah. Sehingga Dia hanya memandang dan mendengarkan yang baik serta diridhai Allah. Tangan dan kakinya akan senantiasa dibimbing oleh Allah. [sym]

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

Ternyata Ini Dua Puluh Tujuh Keutamaan Shalat Berjama’ah dari Shalat Sendirian

Shalat berjama’ah
Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian. Dalam riwayat lain dua puluh lima derajat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بس بع وعشرين درجة
Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”. (HR. Bukhari, No. 645 dan Muslim, No. 650).
Dalam hadits lain disebutkan;
بخمس وعشرين درجة
Lebih utama dua puluh lima derajat”. (HR. Bukhari, No.646, dan Muslim, No.649).
Apa yang menjadikan shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima derajat dan atau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian? Para ulama telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. Diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Penulis kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari ini berkata, “Saya telah mengintisarikan apa-apa yang saya dapatkan mengenai hal ini. Yaitu hal-hal yang menjadikan shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima tau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian’’, yaitu:
Pertama, Memenuhi panggilan muadzin dengan niat shalat berjama’ah,
Kedua, Berangkat pada awal waktu menuju shalat berjama’ah,
Ketiga, Berjalan dengan tenang ke masjid,
Keempat, Masuk masjid sambil berdo’a,
Kelima, Shalat tahiyatul masjid ketika masuk masjid,
Keenam, Menunggu jama’ah,
Ketujuh, Do’a permohonan ampunan oleh para Malaikat untuk mereka yang menghadiri shalat jama’ah,
Kedelapan, Kesaksian para Malaikat akan membela mereka,
Kesembilan, Menjawab iqamah,
Kesepuluh, Selamat dari setan ketika setan lari mendengar iqamah,
Kesebelas, Berdiri menunggu takbiratul ihram imam, atau masuk bersama imam dalam keadaan apa saja dia mendapatkan imam,
Keduabelas, Mendapatkan takbiratul ihram,
Ketiga belas, Meluruskan dan menutup celah-celah shaf,
Keempat belas, Menjawab ucapan Imam, “Sami’allahu liman hamidah”,
Kelima belas, Terhindari dari lupa pada umumnya dan mengingatkan imam apabila lupa atau memulai untuknya,
Keenam belas, Meraih shalat khusyu’ dan terhindar dari apa-apa yang membuat lalai pada umumnya,
Ketujuh belas, Pada umumnya dengan berjama’ah setiap jama’ah dapat memperbaiki tatacara shalatnya,
Kedelapan belas, Para Malaikat mengitari orang-orang yang shalat berjama’ah dengan sayap-sayap mereka,
Kesembilan belas, Melatih diri memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan mempelajari rukun-rukun Shalat dan bagian-bagian lainnya,
Kedua puluh, Menampakkan syi’ar Islam,
Kedua puluh satu, Menghinakan setan dengan berjama’ah dalam beribadah serta saling tolong menolong dalam ketaatan dan yang malas menjadi bersemangat,
Kedua puluh dua, Selamat dari penyakit kemunafikan dan terhindar dari buruk sangka orang bahwa ia meninggalkan shalat,
Kedua puluh tiga, Menjawab salam Imam,
Kedua puluh empat, Meraih keutamman dengan berkumpul dalam keadaan berdo’a dan berdzikir sehingga berkah yang sempurna dapat juga menyempurnakan yang kurang,
Kedua puluh lima, Tegaknya rasa saling kasih antara tetangga dan saling bertemu dalam waktu-waktu shalat,

Ini adalah dua puluh lima poin yang merupakan keutamaan shalat berjama’ah dibanding shalat sendirian, dan tersisa dua keutamaan yang terkait dengan shalat jahriyah, yaitu;

Kedua puluh enam, Mendengar dan menyimak dengan seksama bacaan Imam, dan
Kedua puluh tujuh, Membaca “Amin” bersamaan dengan bacaan ‘amin” imam agar bersesuaian juga dengan ucapan “amin” para Malakat. (Fathul Bari, 2/133)
(Sumber: 40 manfaat Shalat Berjama’ah, karya Syekh Abu Abdillah Musnid Al-Qahthani)

Tidak Dapat Membalas Kebaikan? Doakan!

Membalas Kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من استعاذكم بالله فأعيذوه، ومن سألكم بالله فأعطوه، ومن أتى إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا فادعواله)) أخرجه البيهقي ((
“Barangsiapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah maka lindungilah dia, barangsiapa meminta sesuatu kepadamu karena Allah maka penuhilah permintaannya, dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan tersebut, jika kamu tidak dapat membalas kebaikan tersebut maka do’akanlah dia”. (HR. al-Baihaqi, 4/199, Abu Daud, no. 1672, dan An-Nasai, no. 2566; dishahihkan Syekh al-Albani).

Pelajaran Hadits:
1. Siapa yang datang memohon perlindungan dan suaka dalam urusan tertentu wajib dilindungi selama ia berada di atas kebenaran. Demikian pula orang yang dimintai sesuatu atas nama Allah, jika mampu maka ia harus memberikan apa yang diminta.
2. Memohon perlindungan kepada makhluq dalam urusan yang dimampui dan disanggupi makhluq adalah boleh. Boleh pula meminta ketika membutuhkan.
3. Wajibnya membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, jika tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan maka hendaknya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya. [sym].
(Sumber: Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al Birr Wa as Shilah, hlm. 598, Karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).
Artikel:http://wahdah.or.id

Anjuran Melihat Kepada yang Lebih Rendah dalam Masalah Nikmat

Anjuran melihat kepada yang lebih rendah dalam masalah nikmat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم (متفق عليه)
Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu dapat menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian”. (Muttafaq ‘alaih).

Pelajaran Hadits

Hadits ini merupakan dalil tentang kewajiban mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan anjuran untuk bersikap qana’ah. Dan untuk menumbuhkan sikap qana’ah hendaknya memandang kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia. Karena bagaimanapun faqirnya seorang hamba, pasti akan menemukan orang yang lebih faqir darinya. Bagaimanapun sakitnya seseorang, akan menemukan orang yang penyakitnya lebih parah.

Demikian pula jika ia melihat pada kekurangan fisiknya, tetap akan menemukan orang yang lebih memiliki kekurangan. Sehingga ketika memandang kepada dirinya dan menemukan kesehatan fisik, akan ingat kepada Allah lalu bersyukur kepada-Nya serta mendapatkan ketenangan jiwa.

Hal ini berbeda dengan urusan ketaatan. Dalam urusan ketaatan hendaknya seseorang melihat kepada orang yang berada di atasnya serta menganggap dirnya sebagai orang yang memiliki banyak kekurangan dan kelalaian. (sym).

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)