Jilbab dan Cadar di Indonesia

cadar-rimpu mbojo

cadar perempuan Bima
(rimpu mbojo)

Jilbab dan Cadar di Indonesia

Pengantar

Setiap diskusi tentang polemik masalah cadar, salah satu pertanyataan yang muncul adalah, “cadar bukan budaya Indonesia”. Atau “cadar budaya Arab”.

Benarkah cadar bukan bagian dari syariat Islam? Benarkah cadar merupakan sesuatu yang baru di Indonesia? Dalam catatan Buya Hamka, cadar atau jilbab dengan penutup wajah sudah dikenal di sebagian daerah di Indonesia sejak tahun 1920an. Buya menuliskan temuannya dalam Tasfsir Al-Azharnya ketika menafisrkan Surat Al-Ahzab ayat 59. Berikut selengkapnya.

***

Ketika  penulis (Buya Hamka) datang ke Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan dalam tahun 1926 penulis masih mendapati kaum perempuan di sana memakai jilbab. Yaitu  kain sarung ditutupkan ke seluruh badan hanya separuh muka saja yang kelihatan. Asal saja  mereka keluar dari rumah hendak menemui keluarga di rumah lain mereka tetap menutup seluruh badan dengan memasukkan badan itu ke dalam kain sarung dan salah satu dari kedua belah tangan yang memegang kain di muka sehingga hanya separuh yang terbuka bahkan hanya matanya saja.

Seketika penulis datang ke Makassar pada tahun 1971 pada tahun 1931 sampai meninggalkannya pada tahun 1934 perempuan perempuan yang berasal dari Selayar berbondong-bondong pergi ke tempat mereka jadi buruh harian memilih kopi di gudang-gudang di pelabuhan Makassar, semuanya memakai jilbab persis seperti di Langkat itu pula.

Seketika  penulis pergi ke Bima pada tahun 1956 penulis masih mendapati perempuan di Bima jika keluar dari rumah berselimutkan kain sarung sebagai diangkat 1927 dan di Makassar 1931 itu pula.

Seketika  penulis pergi ke Gorontalo pada tahun 1967 (40 tahun sudah berangkat) penulis dapati perempuan-perempuan Gorontalo memakai jilbab di luar bajunya meskipun pakaian yang di dalam memakai rok modern.

Pergerakan  perempuan Islam di bawah pimpinan ulama-ulama pun membuat pakaian perempuan yang memegang kesopanan Islam yang tidak memperagakan badan.

Gerakan  Aisyiyah di tanah Jawa atas anjuran K. H. Ahmad Dahlan selak selain memakai Semar (selendang) yang dililitkan ke dada agar dada jangan kelihatan, di bawah pula untuk menutupi kepala. Ketika saya mulai datang ke Yogyakarta pada tahun 1924 (tiga tahun sebelum ke Tanjung Pura Langkat) kelihatan di samping khimar penutup kepala dan dada itu, Aisyah pun memakai jilbab di luarnya. Pakaian  secara begini menjalar ke seluruh tanah air dalam pergerakan Islam. Almarhum Rangkayo Rahmah El-Yunusiyah mempertahankan khimaar dengan dililitkan pada muka dan kepala dengan kemas sekali; muka tidak ditutup. Seorang  perempuan pergerakan yang sama pengguruannya dengan Rangkayo Rahmah El yunusiyyah yaitu Rangkayo Rasuna Said tidak pernah lepas khimar (selendang) itu dari kepala beliau.

menjadi adat istiadat perempuan  Indonesia jika telah kembali dari Haji Lalu memakai khimar selendang yang dililitkan di kepala dengan dibawahnya di pasar dengan sanggul bergulung sehingga rambut lemas tidak kelihatan.

Tetapi  di zaman akhir-akhir ini perempuan perempuan modern yang mulai tertarik kembali kepada agama lalu pergi naik haji di Jakarta 1974 pernah mengadakan suatu mode show pergerakan peragaan pakaian peragaan pakaian di Bali room hotel Indonesia memperagakan pakaian modern yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak menghilangkan rasa keindahan estetika.

Dalam  ayat yang kita tafsirkan ini (QS.Al-Ahzab:59) jelaslah bahwa bentuk pakaian atau modelnya tidaklah ditentukan oleh Alquran yang menjadi pokok yang dikehendaki Alquran ialah pakaian yang menunjukkan iman kepada Tuhan pakaian yang menunjukkan kesopanan bukan yang memperagakan badan untuk jadi tontonan laki-laki.

Sumber: Tafsir Al-Azhar, jilid 8, hlm. 5783-5784.

Aurat wanita di Hadapan Laki-Laki yang Bukan Mahram

 

Para Ulama berbeda pendapat  tntang urat wanita di hadapan laki-laki,  dalam dua pendapat;

  • Pendapat pertama yaitu bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya. Ini pendapat mazhab Syafi’iyah dan Hanabilah. Imam Ahmad mengatakan: “Seluruh tubuh wanita adalah aurat bahkan kukunya“. (Tafsir Ibn al-Jauzi: 6/31)
  • Pendapat kedua yaitu bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Dalil-dalil masing-masing pendapat

Dalil Mazhab Malikiyah dan Hanafiyah. Aurat wanita di Hadapan Laki-Laki

• Firman Allah azza wajalla:

 ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak pada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Dalam ayat ini disebutkan adanya ististna (pengecualian) dari hal-hal yang tidak boleh diperlihatkan dari anggota yaitu “Kecuali yang biasa nampak.” Maksudnya perkara yang dibutuhkan untuk diperlihatkan dan ditampakkan yaitu wajah dan telapak tangan.

Pendapat ini pula merupakan pendapat beberapa sahabat dan tabi’in. Sa’id Ibn Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata tentang makna firman Allah “Kecuali yang biasa tampak,” yaitu wajah dan telapak tangan. Begitupula ‘Atha’ dan Adh-Dhahhak.

• Hadits Aisyah yang menceritakan bahwa Asma Binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma masuk menemui Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dengan mengenakan pakaian yang tipis. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling dari arahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Asma, sesungguhnya wanita yang telah dewasa tidak baik dilihat kecuali ini dan ini sambil menunjukkan wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Dawud, ia sendiri mengatakan haditsnya mursal. Para ulama menghukumi hadits ini lemah karena terputusnya sanad dan beberapa periwayatnya lemah)

• Diantara yang menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat adalah anjuran wanita memperlihatkan wajah dan telapak tangannya saat shalat dan ihram. Jika seandainya ia adalah aurat maka tidak akan diperbolehkan untuk membukanya, sebab menutup aurat adalah syarat sahnya shalat.

Dalil madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah

• Firman Allah azza wajalla:

ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak pada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Dalam ayat ini Allah mengharamkan perhiasan wanita untuk diperlihatkan secara mutlak, baik yang bersifat khalqiyyah (sifat anggota tubuh) atau muktasabah (perhiasan tambahan untuk mempercantik dirinya).

Adapun makna firman Allah “Kecuali yang biasa nampak” yaitu jika ia tampak karena tidak sengaja seperti kain penutup wajah yang tertiup angin hingga menyingkap wajah. Sebab wajah itulah yang merupakan asal fitnah bagi laki-laki.

Adapun hadits Nabi yang menguatkan pendapat ini sangat banyak yang berputar pada hukum memandang wajah wanita. Misalnya hadits Jabir yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang hukum memandang wajah wanita secara tiba-tiba tidak senagaja, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Palingkanlah wajah-Mu.”

Dalil berikutnya adalah firman Allah azza wajalla:

وإذا سألتموهن متاعا فاسلوهن من وراء حجاب

Apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari belakang tabir“. (QS. Al-Ahzab: 53)

Ayat secara jelas mengharamkan melihat wajah wanita.

Jawaban terhadap Dalil Mazhab Malikiyah dan Hanafiyah.

• Hadits yang dijadikan hujjah dhaif.
• Ta’wil ayatnya jelas yaitu jika ia tidak sengaja mengungkapnya.
•Wajah dan telapak tangan tidak ditutup saat shalat karena terdapat masyaqqah (unsur menyusahkan/memberatkan). (Tafsir ibn al-Jauzi: 6/31)

Catatan Penting:

Para ulama yang mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan aurat mempersyaratkan agar pada wajah tidak dihias dengan alat-alat kosmetik, sebab jika menggunakan hal ini dan menampakkannya maka ulama sepakat akan keharamannya.

Tarjih:

Pendapat yang mengatakan wajah dan telapak tangan adalah aurat adalah perkataan yang benar pada perkara ini.

(Diringkas oleh Ustadz Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy dari kitab Rawai’u al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an Karya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni: 144-149).

Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
💌 Tanya Ustad 💌

📩PERTANYAAN📩
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

📌JAWABAN📌
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

🌱 Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

🌱 Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

🌱 Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

🍂 Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

•1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

•2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌمُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim].

•3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

•4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَة
“Setiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.” [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.” [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

🍂 Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

•1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

•2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

•3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.” [HR. Bukhari].

•4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

•5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].” [QS. An-Nur: 26].

 

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀