Sudah Talak Tiga, Pengen Rujuk, Bagaimana Caranya?

Sudah Talak Tiga, Pengen Rujuk, Bagaimana Caranya?

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, pak Ustadz, langsung saja pertanyaannya, saya sudah mentalak istri saya sebanyak tiga kali, dalam arti talak tiga saya sudah jatuh. Saya menyesal karena melihat kondisi anak-anak. Bagaimana cara agar saya bisa kembali lagi hidup bersama mantan istri saya?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam, dalam ajaran Islam, jika talak tiga sudah jatuh maka seorang suami tidak lagi memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai mantan istri itu dinikahi oleh lelaki lain. Seperti dinyatakan dalam firman Allah:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ … فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik… Kemudian jika si suami mentalaknya (talak ketiga) maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia menikah dengan lelaki yang lain”. (QS. Al Baqarah: 229-230).

Perlu ditegaskan, pernikahan yang dilakukan oleh mantan istrinya itu betul-betul pernikahan. Yakni ada proses hubungan badan dengan suami keduanya. Bukan pernikahan sandiwara yang diatur untuk tujuan menghalalkan suami pertama menikahinya kembali. Kemudian setelah itu terjadi perceraian antara keduanya secara alami pula, dan bukan atas rekayasa dari suami pertama atau selainnya.

Jika kedua hal ini tidak ada, maka proses pernikahan suami pertama yang ingin kembali rujuk batal alias tidak sah. Bahkan, perbuatan ini, yakni merekayasa pernikahan agar suami pertama bisa kembali (Muhallil), termasuk dosa besar yang diancam laknat.

Dari Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ؟ قاَلُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: هُوَ الْمُحَلِّلُ، لَعَنَ اللهُ المُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

Sukakah aku kabarkan kepada kalian tentang At-Taisil Musta’aar (domba pejantan yang disewakan)?” Para Sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah”. Beliau kemudian bersabda: “Ia adalah Al-Muhallil, Allah akan melaknat Al-Muhallil dan Al-Muhallal lahu”. (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad Hasan).

Ibnu Qudamah mengatakan,

“Nikah Muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umumnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i”. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 7/574)

Al Muhallil adalah laki-laki yang disuruh oleh mantan suami agar bersandiwara menikahi mantan istinya lalu menceraikan dengan tanpa menggaulinya, agar suapa ia bisa kembali rujuk. Sedangkan Al Muhallal lahu, adalah mantan suami yang merekayasa pernikahan tersebut.

Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِىِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِى فَبَتَّ طَلاَقِى ، وَإِنِّى نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ الْقُرَظِىَّ ، وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِى إِلَى رِفَاعَةَ ، لاَ ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِى عُسَيْلَتَهُ

“Pernah istri Rifa’ah Al Qurazhiy menemui Nabi Shallallaahu Alaihi wa Sallam serya berkata: “Aku adalah istri Rifa’ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu aku menikah dengan Abdurrahman bin Az-Zubair Al Qurazhiy. Akan tetapi sesuatu yang ada padanya seperti juntaian kain (tidak mampu berhubungan intim)”. Rasulullah pun berkata kepadanya: “Barangkali engkau ingin kembali kepada Rifa’ah? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud “hingga engkau merasakan madunya”, yakni hingga engkau merasakan nikmatnya berhubungan intim bersama suamimu saat ini, dan dia pun (suamimu saat ini) merasakan kenikmatan darimu. Wallahu A’lam.

(Sumber: Akun Facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA)

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Pertanyaan

Kalau seorang muslim menghadapi berbagai macam permasalahan dalam kehidupannya, tidak mendapatkan solusi, apakah dia dibolehkan berdoa dan berharap kematian untuk dirinya agar selesai dari berbagai permasalahan ini?

 Jawaban

Bismillah,

Pertama: umur panjang bagi orang mukmin disertai dengan amalan saleh itu lebih baik dari kematian. Nabi -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda ketika ditanya siapakah orang yang paling baik,

 خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 110, dinyatakan shahih oleh Albani  dalam Shahih Tirmidzi)

Sabda beliau -sallallahu alaihi wa sallam– lainnya:

  طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Beruntunglah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3928)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, (8195) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

كَانَ رَجُلَانِ أَسْلَمَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُشْهِدَ أَحَدُهُمَا وَأُخِّرَ الْآخَرُ سَنَةً . قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ : فَأُرِيتُ الْجَنَّةَ ، فَرَأَيْتُ فِيهَا الْمُؤَخَّرَ مِنْهُمَا أُدْخِلَ قَبْلَ الشَّهِيدِ ، فَعَجِبْتُ لِذَلِكَ ، فَأَصْبَحْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً ! صَلاةَ السَّنَةِ

“Ada dua orang masuk Islam di hadapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, salah satunya mati syahid dan yang lainnya (wafat) setahun lagi. Tholhah bin Ubaidillah mengatakan, “Saya diperlihatkan surga (dalam mimpi), maka saya melihat yang (wafat) terakhir dimasukkan surga sebelum orang yang mati syahid. Saya heran akan hal itu. Ketika pagi hari, saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-, maka Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidakkah dia telah berpuasa Ramadan setelahnya! Telah menunaikan shalat enam ribu rakaat atau ini dan ini rakaat! (juga menunaikan) shalat sunnah.” (Dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, (2591) Ajluni mengomentari dalam kitab ‘Kasyful Khofa’’ sanadnya hasan)

وقال رجل : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ : فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

 “Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Berkata, “Siapakah yang orang paling jelek? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 2330. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ath-Thayiby rahimahullah mengatakan,

 “Sesungguhnya waktu dan jam seperti modal harta bagi pedagang. Selayaknya dia berniaga agar beruntung. Setiap kali modal hartanya banyak, maka keuntungannya akan lebih banyak. Siapa yang dapat memanfaatkan umurnya dengan memperbaiki amalannya. Maka dia akan beruntung dan bahagia. Siapa yang menyia-nyakan modal hartanya, tidak beruntung dan rugi, maka dia rugi yang nyata.”

Oleh karena itu ketika dikatakan kepada sebagian ulama salaf,

“Alangkah indahnya kematian!! Maka beliau mengatakan, “Wahai anak saudaraku, jangan melakukan hal itu, satu waktu anda hidup dapat beristigfar kepada Allah, itu lebih baik bagi anda dibandingkan kematian!!.

Dikatakan kepada Syeikh yang tua dikalangan mereka, “Apakah anda senang kematian? Beliau menjawab, “Tidak. Telah lewat masa muda dengan keburukannya. Dan telah datang masa tua dengan kebaikannya. Kalau anda berdiri mengucapkan ‘Bismillah. Ketika anda duduk mengucapkan ‘Alhamdulillah. Dan saya senang tetap seperti ini.

Banyak dari ulama salaf menangis ketika akan meninggal dunia menyayangkan keterputusan amal kebaikan. Oleh karena itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang berangan-angan kematian. Karena orang mukmin terhalangi dari kebaikan kataatan, nikmatnya ibadah, kesempatan bertaubat dan mendapatkan apa yang terlewatkan.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu– dari Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam bersabda:

لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ , وَلا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا

“Janganlah salah seorang diantara kamu berangan-angan untuk mati. Jangan berdoa dengannya sebelum waktunya. Sesungguhnya ketika salah seorang diantara kamu ketika meninggal dunia, maka akan terputus amalannya. Bahwa orang mukmin tidak bertambah umurnya melainkan ada kebaikan.” (HR. Muslim, 2682)

Maka terkumpul larangan berangan-angan kematian dan larangan berdoa kejelekan untuk dirinya. Dalam Bukhori, (7235) dengan redaksi, “Salah seorang diantara kamu jangan berangan-angan kematian. Karena bisa menambah kebaikan atau perasaan bersalah terhadap keburukan.

Imam Nawawi rahimahullah mengomentari, “Dalam hadits jelas melarang berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpahnya baik kekurangan, ujian musuh atau kesusahan dunia lainnya. Sementara kalau dia takut kesusahan atau fitnah terhadap agamanya, maka tidak dilarang sesuai dengan pemahaman hadits ini. Hal itu telah dilakukan banyak dari ulama salaf.

Kata ‘Yasta’tib’ artinya adalah ridho kepada Allah dengan meninggalkan (dosa) dan beristigfar

Ada arti lain larangan berangan-angan kematian yaitu:

Bahwa sakaratul maut sangat berat dan kegentingannya sangat mengerikan. Tidak ada seorangpun seperti itu. Kemudian seseorang tidak mengetahui apa yang dia tungguh setelah kematian. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka berangan-angan kematian adalah meminta sesuatu dimana tidak ada seorangpun mendapatkannya. Dan menipu pada dirinya. Khawatir angan-angan kematian menjadi sebab musibah besar seperti orang yang meminta perlindungan dari panasnya neraka. Khawatir setelah mendapatkan kematian, terjadi yang lebih besar dan lebih berat lagi. Maka berangan-angan kematian termasuk salah satu bentuk mempercepat cobaan sebelum menimpanya. Sehingga tidak layak bagi orang berakal melakukan hal itu. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Jangan berangan-angan bertemu musuh, dan mintalah kesehatan (kebaikan) kepada Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Dari Jabir bin Abdullah radhillahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ ، فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطَّلَع شَدِيدٌ ، وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الإِنَابَةَ

 “Jangan berangan-angan kematian, karena kegentingan sangat mengerikan. Sesungguhnya diantara kebahagiaan seorang hamba adalah berumur panjang dan dikarunia taubat kepada Allah.” (HR. Ahmad, dilemahkan oleh Albani di Silsilah Ahadits Dhoifah, no. 885)

Ibnu Umar radhiallahu anhuma mendengarkan seseorang berangan-angan kematian, maka beliau mengatakan, “Jangan anda berangan-angan kematian. Memohonlah kepada Allah kesehatan. Karena kematian dapat menyingkap ngerinya kegentingannya.

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan, “Dahulu banyak dari kalangan orang-orang saleh berangan-angan kematian waktu sehatnya. Ketika mendapatkannya, mereka tidak menyukainya karena kedahsyatannya. Diantara mereka ada Abu Darda’, Sofyan Tsauri. Bagaimana lagi dengan lainnya?

Larangan beranga-angan kematian sesungguhnya disebabkan karena seseorang mendapatkan kesusahan dalam masalah dunianya. Karena berangan-angan kematian menunjukkan keluhan terhadap apa yang menimpanya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ , فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فَاعِلا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي , وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Jangan salah seorang diantara kamu berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Kalau memang harus dilakukan, hendaknya dia berdoa ‘Ya Allah hidupkan diriku selagi kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkan diriku selagi kematian itu baik bagi diriku.” (Muttafaq alaih)

Ungkapan ‘Kesusahan yang menimpanya’ maksudnya kesusahan dunia seperti sakit, cobaan pada harta dan anak-anak dan semisal itu. Sementara kalau takut kesusahan dalam agamnya seperti fitnah, maka tidak mengapa berangan-angan kematian sebagaimana yang akan kita jelaskan.

Kemungkinan permintaan kematian ini agar dapat terlepas dari kesusahan. Bisa jadi semakin bertambah payah dan kesakitannya terus berlangsung sementara dia belum mengetahuinya. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata, dikatakan, “Wahai Rasulullah, si fulanah telah meninggal dunia dan istirahat. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam marah seraya bersabda, “Sesungguhnya (hakekat) istirahat itu orang yang telah diampuni. HR. Ahmad, 24192 dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, 1710.

Kedua: Beberapa kondisi dianjurkan berangan-angan kematian diantaranya adalah:

  1. Khawatir terhadap fitnah yang menimpa agamanya

Tidak diragukan lagi bahwa kematian seseorang jauh dari fitnah meskipun amalannya sedikit itu lebih baik daripada mendapatkan fitnah dalam agamanya. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Dari Mahmud bin Labid sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ : الْمَوْتُ ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Dua hal yang tidak disukai Bani Adam, kematian. Kematian lebih baik bagi orang mukmin dibandingkan dengan fitnah. Dan tidak menyukai sedikit harta, padahal sedikit harta itu sedikit hisabnya.”(HR. Ahmad dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, no. 813)

Telah ada anjuran berangan-angan kematian pada kondisi seperti ini juga. Sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam doanya:

 وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

“Kalau Engkau menginginkan hamba-Mu fitnah, maka cabutlah (nyawa) diriku tanpa terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi, 3233 dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hal ini dibolehkan menurut mayoritas ulama.”

Hal ini yang ada dari salaf terkait dengan berangan-angan kematian. Mereka berangan-angan kematian karena takut fitnah.

Diriwayatkan Malik dari Said bin Musayyab beliau berkata, ketika Umar bin Khotob kembali dari Mina, tinggal di Abtoh kemudian mengumpulkan tumpukan di Batha dan melepas selendang kemudian terlentang sambil menjulurkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa:

اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي ، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي ، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلا مُفَرِّطٍ

“Ya Allah usiaku telah tua, lemah kekuatanku, rakyatku telah tersebar, maka tolong cabut diriku (menghadap kepada-Mu) tanpa sia-sia dan melampaui batas.”

Said berkomentar, tidak lama setelah bulan Dzulhijjah, sampai Umar radhiallahu anhu terbunuh.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Siapa yang melihat kematian dijual, tolong belikan untukku !. (‘Tsabat ‘Indal Mamat, karangan Ibnul Jauzi, hal. 45).

  1. Jika kematiannya berupa syahid di jalan Allah Azza Wajalla

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ   )متفق عليه

“Kalau sekiranya tidak memberatkan kepada umatku, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dibelakang peperangan. Saya ingin terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kemudian dibunuh lagi, kemudian dihidupkan kemudian dibunuh.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berangan-angan dibunuh di jalan Allah tiada lain karena agungnya keutamaan mati syahid.

Diriwayatkan Muslim, no. 1909 sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah akan sampaikan ke posisi orang-orang yang mati syahid meskipun meninggal di atas ranjangnya.)

Para ulama salaf mencintai mati di jalan Allah

Abu bakar radhiallahu anhu berkomentar terkait Musailamah Al-Kadzab ketika mengaku menjadi Nabi,

“Demi Allah. saya akan memeranginya dengan suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana dia mencintai kehidupan.

Kholid bin Walid radhiallahu anhu pernah menulis surat kepada penduduk Persia ‘Demi Zat yang tiada Tuhan selainnya. Pasti saya akan utus kepada kamu semua suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana anda mencintai kehidupan.

Karena posisi ini diinginkan –semoga Allah tidak menghalangi kami untuk mendapatkannya- dan mencarinya sangat dipuji dari semua sisi. Karena orang yang dikarunianya tidak akan terhalangi dari pahala amal saleh yang menjadi kebaikan dalam kehidupan. Sehingga kematian itu lebih baik bagi seseorang. Kemudian Allah juga akan menjaga kedudukan orangnya dari fitnah kubur.

Dari Salman radhiallahu anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribath (menjaga) sehari semalam itu lebih baik daripada puasa dan qiyam sebulan. Kalau dia meninggal dunia, maka amalannya tetap mengalir yang dilakukannya, dialirkan rezkinya dan aman dari fitnah.”(HR. Muslim, no. 1913)

Kesimpulan

Dimakruhkan bagi seorang muslim berangan-angan kematian kalau disebabkan bencana dunia yang menimpanya. Bahkan hendaknya dia bersabar dan memohon bantuan kepada Allah. kita memohon kepada Allah agar anda dibebaskan dari kegalauan yang menimpa anda. silahkan merujuk soal no. 22880.

Wallahu a’lam.

Sumber: Islamqa.info.id

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Pertanyaan:

Apa hukumnya jika seseorang menghapal suatu surat namun cepat lupa. Apakah lebih baik dia merutinkan bacaan dengan melihat mushaf saja atau bagaimana?

Jawaban:

Orang yang sering lupa hendaknya memiliki wirid rutin berupa bacaan Istighfar yang dapat menghindarkannya dari sifat lupa. Karena Allah Ta’ala berfirman;

{واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربي لأقرب من هذا رشداً}،

Orang yang senantiasa memperbanyak istighfar akan ditolong oleh Allah dengan dikaruniai ingatan yang baik yang membantunya menyimpan apa yang telah dihafalkannya. Demikian pula  orang yang selalu shalat dengan membaca apa yang telah dihafalaknnya. Misalnya apa yang dihafalkannya pada siang hari dia baca pada shalat di malam hari, maka hafalannya akan tetap tinggal.

Demikian pula halnya dengan shalat fardhu, jika seseorang selalu membaca hafalan (baru) nya dalam shalat fardhu, maka hal itu akan menguatkan hafalannya.

Adapun bacaan melalui mushaf, jika sekadar membaca dan membolak-balik lembaran mushaf tanpa diserta tadabbur (perenungan) dan tafahhum (pemahaman), maka hal itu juga tidak akan membantu dalam menghafal. Yang membantu dan memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an adalah bacaan yang tenang dan perlahan-lahan, dimana seseorang memahami apa yang dibacanya. (Syekh Muhammad Hasan Dadew Asy-Syinqithi).

Bolehkah Tidak Memberi Maaf Pada Orang Lain

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, Ustadz, saya punya masalah dengan teman beberapa waktu lalu. Saya sangat kecewa dan marah kepadanya. Berkali-kali dia datang minta maaf tapi tidak saya ladeni. Apakah sikap saya ini benar?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam.

Perbuatan yang saudara(i) lakukan ini tidak pantas dan tidak dibolehkan oleh syariat. Karena ciri seorang Muslim itu adalah lapang dada dan saling memberi maaf.

Kita boleh marah dan mendiamkan jika saudara muslim kita berlaku tidak adil atau menzalimi kita. Akan tetapi, hal itu hanya diizinkan selama tiga hari. Lebih dari itu, maka hukumnya tidak boleh.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seseorang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسلِمٍ أَن يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ، فَيَعْرِضُ هَذَاوَيَعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ”. متفق عليه.

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari, saling bertemu lalu yang satu berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, dalam riwayat lain sikap tidak memaafkan kesalahan sesama Muslim sementara yang bersalah sudah berusaha minta maaf, diancam amalnya akan ditangguhkan (tidak diterima) hingga bersedia memberi maaf dan berdamai.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا اترْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai”. (HR.Muslim).

Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook  Ustadz Rappung Samuddin,Lc, MA

Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum Ustadz,

Saya seorang santriwati pesantren tahfidz, mau bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haid. Mengingat dalam proses menghafal Al-Qur’an kami dianjurkan mengulangi halafalan setiap hari. Mohon pencerahannya.

Jawaban:

“Tidak masalah bagi wanita yang sedang haid dan nifas membaca Al Qur’an menurut pendapat yang shahih. karena tidak ada nash yang shahih melarang wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an.  Akan tetapi membacanya melalui hafalannya dan tanpa menyentuh mushaf Al Qur’an,

Sebab haid  dan nifas  berlangsung beberapa hari demikian juga dengan nifas. Sehingga wanita haid nifas  diperbolehkan membaca Al Qur’an melalui hafalan atau aplikasi smatr phone agar keduanya tidak sampai lupa hafalan Al-Qur’an  dan tidak ketinggalan wirid membaca Al Qur’an.

Selain itu dibolehkan pula bagi wanita haid membaca buku-buku yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an serta membaca do’a dan zikir, seperti doa zikir makan-minum, bangun tidur, masuk-keluar rumah, berkendaraan, zikir pagi petang dan sebagainya. Wallahu a’lam.

 

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Pertanyaan: “Assalamu Alaikum, ust saya seorang mahasiswi, sampai sekarang saya masih belum terlalu mengerti terkait tanda bersihnya seorang wanita dari haid. Mohon penjelasannya. Syukran”.

Jawaban: Wa’alaikum salam. Perlu diketahui, tanda seorang wanita itu telah bersih (suci) dari haid ada pada satu dari dua keadaan.

Pertama: “Al-Qasshah Al-Baidha’”, atau keluarnya cairan putih sebagai tanda berhentinya haid.

Kedua: “Al-Jufuf”, atau terhentinya darah keluar, di mana jika diusap dengan kapas, kain putih, atau sejenisnya ia tetap kering dan tidak meninggalkan bekas apapun.

Umumnya, tanda wanita bersih dari haid adalah keluarnya cairan putih (Al-Qasshah Al-Baidha’). Dan ini merupakan tanda paling meyakinkan. Sebab, setelah keluarnya cairan putih, dipastikan tidak akan keluar darah lagi, berbeda dengan tanda Al-Jufuf. Kecuali jika kebiasaannya tidak keluar cairan putih. Maka yang menjadi acuan adalah Al-Jufuf (kering).

Ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu Anha, tatkala beberapa wanita datang kepada beliau bertanya tentang bersihnya wanita dari haid dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada padanya Ash-Shufrah (cairan kekuningan). Maka beliau berkata:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

Jangan kalian terburu-buru, hingga kalian melihat Al-Qasshah Al-Baidha’”. Imam Bukhari mengomentari: “Maksud Aisyah, (jangan buru-buru) merasa suci dari haid.” (Riwayat Imam Bukhari).

Sebagian ulama ada yang memberi perincian terkait masalah ini, yakni:

Pertama: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih. Masa menunggu itu sampai satu hari, dan ini merupakan pendapat Ibnu Qudamah dan Syaikh Al-Utsaimin.

Kedua: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan Al-Jufuf lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf. Tapi jika pertama kali yang dilihat olehnya tanda Al-Jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

Ketiga: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda ini, lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu cairan putih sampai batas waktu sehari, sebagaimana pada poin pertama. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf.

Ketahuilah, cairan kekuningan (Ash-Shufrah) itu biasanya keluar sebelum adanya tanda bersihnya wanita dari haid sebagaimana telah dijelaskan. Makanya Aisyah memerintahkan untuk tidak tergesa-gesa menganggap diri telah suci semata dengan melihat cairan kekuningan tersebut.

Terakhir, cairan kekuningan (Ash-Shufrah), atau cairan berwarna keruh (Al-Kudrah), jika keluar sebelum ada tanda suci (masih dalam keadaan haid atau bersambung dengan haid), maka ia dianggap sebagai bagian dari haid. Adapun jika keduanya keluar saat setelah bersih (melalui tanda-tanda suci), maka ia tidak dianggap sebagai bagian dari haid. Hingga atas wanita tersebut kewajiban mendirikan shalat, berpuasa, dan selainnya.

Dalilnya, keterangan dari Ummu Athiyah Radhiallahu Anha, beliau mengatakan:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ، وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

Kami tidak menganggap cairan keruh (Al-Kudrah) atau kekuningan (Ash-Shufrah) setelah suci sebagai bagian dari haid”. (HR. Abu Daud, Shahih). Wallahu A’lam.

Sumber: Akun facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA

Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena saya juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Muharram merupakan bulan haram (asyhurul hurum) sebagaimana diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 6. Selain itu bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bulan Allah (syahrullah). Sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa bulan Muharram merupakan bulan sial. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan terhormat berdasarkan keterangan dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia [syahrullah al-haram], maka kita harus memuliakannya. Tentu memuliakan dan menghormati bulan ini bukan dengan mengkeramatkannya, bukan dengan menganggapnya sebagai bulan sial. Bukan pula dengan menghindari hajatan karena taakut sial dan seterusnya. Tapi kita hendaknya memuliakaan bulan ini sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita harus memuliakaan bulan ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat mengormatinya. Yakni dengan meninggalkan segala bentuk dosa dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Jangan Berbuat Dzalim di bulan Muharram

Pada bulan-bulan mulia ini –termasuk muharram-, Allah melarang berbuat dzalim. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah memalui kalimat “Fala tadzlimu fihinna anfusakum,”. Maksudnya janganlah kalian mendzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. Karena keharaman dosa pada bulan-bulan itu lebih tegas, dan dosanya lebih berat dari dosa yang dilakukan pada bulan-bulan lain. Hal ini seperti pelipatgandaan dosa yang dilakukan di tanah haram. Sebagaiaman dinyatakan oleh Allah, “Waman yurid fihi bi ilhadin bi dzulmin. . .

Menurut Ibnu Ishak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, ma’ana kalimat ‘fala tadzzlimu fihinna anfusakum’ adalah janganlah kalian jadikan yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram sebagaimana dilakukan oleh para ahli syirik.

 Oleh karena itu hendaknya kita memuliakan dan menyicikan bulan ini dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan kedzaliman nomor wahid yang harus dihindari dan dijauhi adalah kesyirikan. Sebab, syirik merupakan kedzaliman paling besar, sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 13:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (QS Luqman:13).

Sunnah Bepuasa

Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (H.R. Muslim).

Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”.

Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim). [sym]

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

 

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena ana juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Wa ‘alikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum)  yang diistimewakan oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.  (Qs. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahrullah (Bulan Nya Allah).  Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim,  Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulanNya Allah (yakni)  bulan Muharram“. (HR. Muslim)

Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandaran sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah/Masjid), Rasulullah, Saifullah (Pedang Allah, gelar bagi Sahabat Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib) dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Oleh karena itu kurang tepat jika menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial. Sebab pada dasarnya tidak ada hari atau bulan sial. Bahkan keyakinan adanya waktu tertentu yang dianggap sial dapat menyebabkan syirik. Justru sebaliknya. Bulan Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia yang hendaknya dimuliakan dan dihormati. Tentu saja memuliakan dan menghormati bulan Muharram bukan dengan men-sial-kannya atau mengkeramatkannya. Tetapi dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah dalam memuliakan bulan ini. Yakni dengan meninggalkan kezaliman dan memperbanyak puasa suannah. Wallahu a’lam. [sym].

Memejamkan Mata dalam Shalat

Memejamkan  Mata dalam Shalat

Pertanyaan:
Apa hukum memjamkan mata dalam shalat?

Jawaban:
Alhamdulillah

Para ulama sepakat makruh memejamkan  mata dalam shalat tanpa ada kebutuhan. Pemilik kitab ‘Roud’ menegaskan akan makruhnya karena hal itu termasuk prilaku orangYahudi. (Roudul Murbi’, (1/95). Begitu juga pemilik kitab Manarus sabil dan Kafi serta Zad karena hal itu mengarah untuk tidur. Manarus Sabil, (1/66) Kafi, (1/285). Pemilik kitab ‘Al-Iqna’ menegaskan akan makruhnya kecuali kalau ada kebutuhan seperti takut (sesuatu) yang dilarang. Melihat budak wanita, istri atau orang asing telanjang, (Al-iqna’, 1/127) begitu juga pemilik Al-Mugni, Al-Mugni, 2/30).

Apa yang ditegaskan oleh pemilik Tuhfatul Muluk akan makruhnya tanpa melihat adanya kebutuhan atau tidak (Tuhfatul Muluk, 1/84). Kasani mengatakan,

Dimakruhkan karena menyalahi sunah. Dimana (dalam sunah) dianjurkan kedua mata memandang ke tempat sujud. Juga karena setiap anggota badan mendapatkan bagian dalam ibadah begitu juga dua mata. (Badai’ Sonai’, (1/503).

Pemilik Maroqi Falah menegaskan kemakruhannya kecuali kalau ada maslahah. Seraya mengatakan,

Terkadang memejamkan mata itu lebih utama dibanding dengan melihat. Maroqi Falah, (1/343).

Imam Al-Izz bin Abdussalam mengatakan dalam fatwanya memperbolehkan ketika ada kebutuhan. Jikalau hal itu lebih khusu’ dalam shalatnya. Sementara Ibnu Qoyim menegaskan dalam Zadul Maad bahwa seseorang kalau lebih khusu’ dengan membuka kedua matanya itu lebih utama. Kalau sekiranya memejamkan kedua mata itu lebih khusu’ karena ada gangguan yang mengganggu shalat dari ukiran dan hiasan maka tentu hal itu tidak dimakruhkan bahkan pendapat dengan anjuran menutup mata itu lebih dekat tujuan syariat serta pokok dibandingkan dengan pendapat memakruhkan. Zadul Ma’ad, (1/283) . [Sumber:https://islamqa.info/id/22174].