Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid dapat masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

📝 Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تُصَلِّ إلَّا إِلى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ
“Jangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu…” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
إذَا صَلّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
“Jika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnya…” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, “Tidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnya” (Al Jami’ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Aku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?”. Maka beliau rahimahullah menjawab, “Hal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utama”
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “Kadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?”. Beliau menjawab, “Yang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrah” (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, “Aku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib” (HR. Bukhari). Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafi’ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrah” (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwa’ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
📝 Sumber http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syari’at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syari’at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS – Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu a’lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/

Zakat Manfaat

ZAKAT PERDAGANGAN

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

Fenomena Hilangnya Janin dari Perut Ibunya dalam Islam

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh..

‘Afwan ustadz mau tanya..

Biasakan ada janin yang tiba-tiba hilang dari perut ibunya (bukan karena keguguran atau apapun itu), tiba-tiba saja hilang. Kalau orang bilang katanya bayinya melayang naik atas langit. Bagaimana hukumnya dalam Islam ? Atau bagaimana Islam memandang ini ustadz ? Syukron

mariana – makassar

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam pandangan medis tidak diakui adanya bayi atau janin yang hilang tanpa ada sebab yang jelas. Biasanya analis medis menyatakan bahwa kasus demikian terjadi hanya pada kandungan semu yang lumrah dikenal dengan hamil anggur yang kelihatan hamil tetapi sebetulnya tidak hamil. Analisa ini tentu dapat diterima bilamana sang ibu tidak dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Namun apabila sang ibu dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Misalnya dengan gerakan, atau tendangan yang dirasakannya, atau hasil USG atau indikasi lain yang meyakinkan. Jika kondisinya seperti itu lalu bayinya menghilang tanpa sebab yang jelas maka Islam memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mustahil. Hal demikian dapat saja terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala.

Tindakan preventif yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri adalah senantiasa berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’ agar dapat menghindari gangguan jin atau setan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan janin dari rahim ibunya dengan izin Allah. Nabi bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا».

Sekiranya salah seorang di antara kalian, apabila ingin berjima’ dengan istrinya terlebih dahulu membaca: *”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami”,* apabila kedua pasangan tersebut dikaruniai anak niscaya setan tidak dapat mengganggunya untuk selama. Anak tersebut akan terjaga akal dan pisiknya setelah lahir dan pada saat masih dalam rahim ibunya. Ia juga tidak diseret oleh setan ke dalam kekufuran menurut sebagian ulama seperti al-Qasthallani.

Beberapa praktisi ruqyah syar’iyah juga mengakui beberapa kasus gangguan janin berupa keguguran atau halangan hamil akibat dari ganggun jin atau setan yang biasa diistilahkan dengan “tabi’ah” atau “ummu shibyan” yang beraksi terutama di awal-awal masa kehamilan. Selain berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’, sang ibu juga harus senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya, terutama shalat lima waktu. Juga harus rutin membaca zikir pagi dan petang, zikir dan wirid sebelum tidur agar gangguan jin dan setan dapat terhindarkan.

✍ Dijawab oleh ust. Salahuddin Guntung, Lc, M.A

(Mahasiswa Program Doktoral Konsentrasi Aqidah dan Pemikiran Kontemporer, King Saud University Riyadh)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/fenomena-janin-yang-tiba-tiba-hilang-dari-perut-ibunya/

Hukum Berjualan Rokok Dalam Islam

Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ibu saya baru-baru ini membuka warung makan. Kemudian, di situ dia menjual rokok. Dan saya sudah sampaikan sama ibu saya Insyaa Allah sudah dengan cara yang bil hikmah. Hanya saja saya mendapatkan respon yang kurang baik. Dan sampai sekarang pun ibu saya tetap menjual rokok. Yang saya khawatirkan. Saya makan dari hasil jualan barang tersebut. Apa hukumnya memakan hasil penjualan rokok tersebut. Mohon solusinya. Syukran.

ulfa – mks

Jawaban :

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatu…

Apa yang anda lakukan adalah suatu hal yang terpuji, yaitu menasihati ibu anda agar tidak menjual rokok yang merupakan barang haram. Ini adalah kewajiban kita menasehati kerabat kita, utamanya ibu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” [QS. As Syu’ara:124].

Dan hendaknya hal itu dilakukan dengan hikmah, lemah lembut, apalagi ia adalah seorang ibu yang kita diperintahkan untuk berlemah lembut kepadanya, firman-Nya:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan” [QS. Al Isra’:24],

dan firman-Nya:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” [QS. Lukman:15].

Tetaplah berusaha menasehatinya agar tidak menjual rokok di warungnya, tapi dengan cara hikmah dan lemah lembut. Cari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat, jangan di waktu-waktu sibuk atau pikirannya kacau. Tetap tampakkan akhlak muliah dan patuh terhadap perintah dan permintaannya selama bukan maksiat, bantu ia dalam pekerjaannya di warung. Dan jangan lupa senjata seorang mukmin yang sangat ampuh, yaitu doa, doakan kepada Allah agar Ia memberinya hidayah dan tidak lagi menjual barang yang haram. Lakukan semua itu dengan penuh sabar, dan ingat bahwa hidayah di bawah kuasa Allah, bukan di tangan kita, sehingga serahkan urusan ini kepada Allah semata setelah melakukan usaha maksimal. Firman-Nya:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang” [QS. An Nahl:82].

Adapun harta atau makanan dari hasil penjualan rokok itu maka jika telah bercampur dengan harta hasil jualan barang lain yang halal dari warung itu maka halal bagi anda untuk mengambilnya, karena Rasulullah shallalahu alaihi wasallam juga menerima hadiah dari orang-orang musyrik dan yahudi di zamannya dimana harta mereka bercampur antara halal dan haram.

Wallahu a’lam

✍ Dijawab Oleh Ust. Aswanto Muh. Takwi, Lc

(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud free musically fans University Riyadh KSA)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/hukum-memakan-hasil-penjualan-rokok-dalam-islam/

Mendengar Adzan

Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adzan

Adakah Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adan Setelah Muazin Membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” ?

Bismillah. Ustadz, apa yang harus kita jawab ketika adzan pas “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”?. Karena sepengetahuan saya ada 3 syarat doa terkabul dan salah satunya, menjawab lafaz “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Syukron.

Hilya –Makassar.

Jawaban:

Allaahu a’lam dengan bacaan yang Anda maksudkan, namun sebagian ulama menyebutkan sunatnya membaca bacaan khusus tatkala muazin usai membaca lafal azan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”, dan “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”, sebagaimana yang disebutkan dalam HR Muslim (386) dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan bacaan -tatkala mendengar muazin-:

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله رضيت بالله ربا وبمحمد رسولا وبالإسلام دينا

(Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, radhiitu billaahi rabban, wa bi muhammdin rasuulan, wa bil-islaami diina); maka dosa-dosanya akan terampuni”.

Para ulama tersebut menyatakan bahwa bacaan ini dibaca tatkala muazin usai mengumandangkan dua kalimat syahadat, tepat setelah lafaz “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”. (Lihat: : Al-Majmu’ –Imam Nawawi; 2/87-88 , Syarh al-Mumti’- Ibnul-‘Utsaimin: 2/86, Liqa’ al-Baab al-Maftuuh –Ibnul-‘Utsaimin: liqa’ 156/26, dan Al-Masaail al-Muhimmah fil-Adzaan wal-Iqaamah- al-Tharifi; 108).

Namun ulama yang lain juga menyebutkan bahwa bacaan ini hendaknya dibaca setelah muazin selesai mengumandangkan azan secara keseluruhan, yakni dibaca beserta doa setelah azan yang biasa dibaca setelah muazin mengucapkan lafal azan terakhir “Laa ilaaha illallaah”. (lihat: Tuhfatul-Ahwadzi: 1/529).

Kesimpulannya: Inilah salah satu doa yang diucapkan saat azan. Kapan seseorang membacanya tatkala azan baik ketika muazin usai membaca dua kalimat syahadat atau setelah selesai mengumandangkan azan, maka semua tetap disunahkan, insya Allah.

Adapun pernyataan bahwa bacaan tersebut merupakan salah satu dari 3 syarat terkabulnya doa, maka tidak benar, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Hanya saja  siapa yang mengamalkannya tentu telah menambah ketaatan dan ibadah kepada Allah. Harap dicatat yang bisa menjadi salah satu penguat untuk mustajabnya doa bukan syarat mustajabnya. Wallaahu a’lam.

✍ Dijawab Oleh Ustadz Maulana La Eda Lc

(Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, saat ini menempuh S2 di fakultas yg sama)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/adakah-bacaan-khusus-setelah-muazin-membaca-asyhadu-anna-muhammadan-rasulullah/

Sholat Jamaah

Bolehkah Dua atau Lebih Sholat Jamaah dalam Satu Masjid ?

Dua Sholat Jamaah dalam Satu Masjid

Assaalamualaikum.

Afwan, Ustad ana mau bertanya bolehkah ada dua sholat Jamaah dalam satu masjid?

Jawab :

Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kesimpulannya :

Tidak ada dalil, yg secara langsung melarang 2 sholat jamaah dalam satu mesjid.

Tapi Tidak sepantasnya dalam satu mesjid ada 2 jamaah. Jika ia salat di salah satu jamaah, maka sah salatnya dan tidak perlu mengulangi lagi.

Dalam masalah ini para ulama berpendapat :

1) Jika di mesjid yg ada imam rowatibnya, maka makruh hukumnya, untuk mengadakan jamaah kedua pada saat bersamaan. Solusinya ia mengikuti jamaah yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai. Dengan alasan bakal menimbulkan perpecahan, berburuk sangka dan permasalahan baru.

2) Jika di mesjid yg tidak ada imam rowatibnya, maka tidak mengapa 2 jamaah dalam satu mesjid secara bersamaan, seperti mesjid2 di pinggir jalan dan tempat-tempat umum, walaupun yg lebih baik, mengikuti yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai demi kemaslahatan.

Wallahu a’lam

Sumber:

http://www.awqaf.gov.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=2610

dijawab oleh :

Ust Irwan Kadar, Lc (Pengajar di Pesantren Dai Qur’ani – Cibinong)