Memejamkan Mata dalam Shalat

Memejamkan  Mata dalam Shalat

Pertanyaan:
Apa hukum memjamkan mata dalam shalat?

Jawaban:
Alhamdulillah

Para ulama sepakat makruh memejamkan  mata dalam shalat tanpa ada kebutuhan. Pemilik kitab ‘Roud’ menegaskan akan makruhnya karena hal itu termasuk prilaku orangYahudi. (Roudul Murbi’, (1/95). Begitu juga pemilik kitab Manarus sabil dan Kafi serta Zad karena hal itu mengarah untuk tidur. Manarus Sabil, (1/66) Kafi, (1/285). Pemilik kitab ‘Al-Iqna’ menegaskan akan makruhnya kecuali kalau ada kebutuhan seperti takut (sesuatu) yang dilarang. Melihat budak wanita, istri atau orang asing telanjang, (Al-iqna’, 1/127) begitu juga pemilik Al-Mugni, Al-Mugni, 2/30).

Apa yang ditegaskan oleh pemilik Tuhfatul Muluk akan makruhnya tanpa melihat adanya kebutuhan atau tidak (Tuhfatul Muluk, 1/84). Kasani mengatakan,

Dimakruhkan karena menyalahi sunah. Dimana (dalam sunah) dianjurkan kedua mata memandang ke tempat sujud. Juga karena setiap anggota badan mendapatkan bagian dalam ibadah begitu juga dua mata. (Badai’ Sonai’, (1/503).

Pemilik Maroqi Falah menegaskan kemakruhannya kecuali kalau ada maslahah. Seraya mengatakan,

Terkadang memejamkan mata itu lebih utama dibanding dengan melihat. Maroqi Falah, (1/343).

Imam Al-Izz bin Abdussalam mengatakan dalam fatwanya memperbolehkan ketika ada kebutuhan. Jikalau hal itu lebih khusu’ dalam shalatnya. Sementara Ibnu Qoyim menegaskan dalam Zadul Maad bahwa seseorang kalau lebih khusu’ dengan membuka kedua matanya itu lebih utama. Kalau sekiranya memejamkan kedua mata itu lebih khusu’ karena ada gangguan yang mengganggu shalat dari ukiran dan hiasan maka tentu hal itu tidak dimakruhkan bahkan pendapat dengan anjuran menutup mata itu lebih dekat tujuan syariat serta pokok dibandingkan dengan pendapat memakruhkan. Zadul Ma’ad, (1/283) . [Sumber:https://islamqa.info/id/22174].

Bacaan Al-Fatihah Bagi Ma’mum dalam Shalat Berjama’ah

Bacaan Al-Fatihah Bagi Ma’mum dalam Shalat Berjama’ah

Pertanyaan:

Pertanyaanku berkaitan dengan cara yang benar dalam menunaikan shalat wajib di belakang imam, lebih tepatnya bacaan surat Al-Fatihah. Apakah kami harus membacara surat Al-Fatihah dengan suara pelan sementara imam membacanya dengan keras di sela-sela dua rakaat pertama dan kedua dalam shalat wajib?
Apakah kami harus membaca surat Al-Fatihah pada kondisi yang sama di rakaat ketiga dan keempat yakni rakaat yang imam membaca dengan pelan?
Pertanyaan ini muncul karena sekelompok orang di desaku menginginkan (penjelasan) yang benar tata cara shalat kami. Sementara di tengah penduduk desa ada dua pendapat, salah satu pendapatnya adalah dikala imam (menunaikan) shalat, maka kita wajib mendengarkan saja, baik (ketika) dia membaca dengan keras (pada rakaat pertama dan kedua) maupun membaca dengan pelan (pada rakaat ketiga dan keempat).

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa shalat tidak diterima tanpa bacaan surat Al-Fatihah, baik imam membaca keras maupun pelan. Saya mohon dijelaskan kepada kami mana yang benar disertai dengan berbagai macam dalil.

Jawaban:

Alhamdulillah

Membaca Al-Fatihah termasuk rukun shalat pada setiap rakaat, baik bagi imam maupun munfarid (shalat seorang diri) berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam :

( لا صَلاة لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ) رواه البخاري (الأذان/714)

“Tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR.Bukhari, Azan/714)

Sementara bacaan Al-Fatihah bagi makmum di belakang imam dalam shalat jahriyah (shalat yang dikeraskan suaranya), ada dua pendapat ulama dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Surat Al-Fatihah wajib dibaca. Dalilnya adalah keumuman sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam, “Tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)”.

Dalil lainnya, ketika Nabi sallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang shalatnya keliru, (beliau) memerintahkannya untuk membaca Al-Fatihah. Disamping terdapat riwayat shahih dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau membacanya pada setiap rakaat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari:

Perintah membaca Al-Fatihah telah ditetapkan bagi makmum (dalam shalat) jahriyah tanpa ada batasan. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam bab Qira’ah (bacaan)“.

Tirmizi, Ibnu Hibban dan yang lainnya menyebutkan sebuah riwayat Makhul dari Mahmud bin Rabi’ dari Ubadah bahwa sesungguhnya terdengar oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam bacaan (seseorang) dalam shalat fajar. Ketika selesai, beliau berkata:

Sepertinya kalian membaca di belakang imam kalian?”. Kami menjawab: “Ya”. (Beliau) bersabda: “Jangan kamu lakukan (itu), selain (membaca) Fatihatul Kitab (Al-Fatihah), karena tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membacanya.

Pendapat kedua: Bacaan imam, dianggap sebagai bacaan makmum. Dalilnya adalah firman Allah:

( وإذا قُرِئ القرآن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون ) الأعراف:204

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-A’raf: 204)

Ibnu Hajar berkata: (Pendapat) yang menggugurkan bacaan Al-Fatihah dalam shalat jahriyah seperti pendapat Malikiyah berdalil dengan hadits;

( وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا )

“Kalau (imam) membaca, maka kalian hendaknya diam”.

Ini adalah hadits shoheh, diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Bagi orang yang megatakan wajib (membaca) Al-Fatihah, mereka mengatakan bahwa (Al-Fatihah) dibaca setelah imam membaca Al-Fatihah dan sebelum memulai membaca surat (Al-Qur’an) lainnya. Atau dibaca ketika ada jedah imam sebentar. Ibnu Hajar berkata: “(Makmum hendaknya) diam ketika imam membaca dan membaca (Al-Fatihah) ketika (imam) diam”.

Syekh Bin Baz berkata: Maksud jeda imam adalah jeda pada saat membaca Al-Fatihah, atau sesudahnya atau jedah saat membaca surat setelahnya. Seandainya imam tidak ada jeda, maka makmum tetap harus membaca Al-Fatihah meskipun saat itu imam dalam kondisi membaca, menurut pendapat yang kuat dari para ulama. ( Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/221).

Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya seperti pertanyaan di atas, lalu dijawab:

Yang benar di antara pendapat ulama adalah wajib membaca Al-Fatihah dalam shalat bagi munfarid (orang yang shalat seorang diri), imam dan makmun, baik shalat jahriyah maupun sirriyah, karena kebenaran dalil yang (menguatkan) akan hal itu dan dalil yang mengkhususkannya.

Adapun firman Allah:

( وإذا قُرِئ القرآن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون ) الأعراف /204

Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-A’raf: 204)

Adalah bersifat umum, begitu juga sabda Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam:

( وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا )

Kalau (imam) membaca, maka hendaknya kalian diam”.

Juga bersifat umum, (mencakup) bacaan Al-Fatihah dan lainnya. (keumuman dalil ini) dikhususkan dengan hadits:

( لا صَلاة لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ) رواه البخاري، الأذان/714

“Tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” Sebagai upaya untuk mengkompromikan dalil-dalil yang ada.

Adapun hadits :

(من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة )

“Siapa mengikuti imam (dalam shalat), maka bacaan imam adalah bacaan baginya.”

Adalah hadits lemah. Juga tidak dibenarkan pendapat yang mengatakan bahwa ucapan “amin” bagi makmum terhadap bacaan imam dari surat Al-Fatihah dapat menggantikan bacaan Al-Fatihah.

Tidak selayaknya menjadikan perbedaan ulama dalam masalah ini sebagai sarana melahirkan kebencian, perpecahan dan saling bertikai. Akan tetapi selayaknya anda mengkaji ilmu lebih dalam lagi, mempelajari, muthola’ah dan saling membuat kajian ilmiah. Jika sebagian di antara kalian taklid kepada salah seorang ulama yang berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah terhadap makmum dalam shalat jahriyah, sementara yang lain taklid kepada ulama yang berpendapat wajibnya diam (bagi makmum) mendengarkan imam pada shalat jahriyah dan cukup dengan bacaan Al-Fatihah-nya imam, maka (hal itu) tidak mengapa. Tidak perlu mencela yang ini dan mencela yang itu dan tidak perlu saling benci karena masalah ini.

Seharusnya kita berlapang dada terhadap perbedaan antara ahli ilmu, luas (wawasan) berfikir, karena perbedaan di antara mereka. Mohonlah petunjuk kepada Allah untuk mendapatkan kebenaran perbedaan ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan (doa). Shalawat (semoga tercurahkan) kepada Nabi kita Muhammad . (Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid/https://islamqa.info).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya jika seorang perempuan menahan datangnya haid di bulan puasa (dengan sengaja menghentikan agar haid tidak keluar) agar bisa berpuasa penuh di bulan Romadhon. Dosakah cara yang dilakukan itu? Mohon jawabannya. (Solichah Munari).

Jawaban:

Pertama,

Pada dasarnya haid merupakan  ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka hendaknya setiap wanita  muslimah menerima kenyataan dan ketetapan tersebut  sepenuh hati. Adapun ibadah dan amal shaleh  yang tidak terlaksana karena haid maka Allah yang maha pengasih dan penyayang serta maha adil telah menetapkan rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk meninggalkan ibadah-ibadah tertentu saat haid.

Sehingga tidak perlu merasa berdosa jika luput dari suatu amalan karena sebab yang telah ditetapkan oleh Allah berupa rukhshah. Karena rukhshah tersebut merupakan sedekah dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dalam hadits;

“(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Subhanahu WaTa’ala kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Dengan  menjalankan rukhsah berarti menerima hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum wanita.

Kedua,

Adapun mengkonsumsi obat atau pil penunda haid agar dapat berpuasa Ramadhan beberapa ulama membolehkan jika hal itu tidak menimbulkan mudharat, resiko, dan gannguan bagi kesehatan dan alat reproduksi baik sementara maupun permanen.

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan;

“Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, agar dia dapat   berpuasa bersama kaum muslimin lainnya… dan jika ada cara lain selain konsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Artinya mempertimbangkan aspek maslahat dan manfaatnya serta aman dari mudharat dan resiko sangat dianjurkan.  Sehingga jika mengandung mudharat bagi tubuh wanita, mengkonsumsi obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan.

Karena pil tersebut bersifat hormonal yang mungkin memengaruhi hormon yang  membuat siklus haid tidak teratur dan dikhawatirkan merusak sistim reproduksi serta efek samping lainnya seperti; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Oleh karena itu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli guna menghindari mudharat dan resiko yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi pil pencegah haid tersebut.

Ketiga,

Meskipun wanita tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena haidh, namun masih banyak pintu kebaikan lain yang dapat dimasuki  untuk tetap  beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan. Di antaranya :

  • Memperbanyak  do’a dan dzikir.
  • Memperbanyak shadaqah dan infak,
  • Memberi makan dan minum serta suguhan buka puasa,
  • Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf,  boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya.
  • Mengikuti kajian keislaman dan membaca buku-buku islami.
  • Berbakti kepada kedua orangtua dan suami, Dan sebagaianya. [sym].

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.

Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit.

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222. [sym].

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

📝 Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تُصَلِّ إلَّا إِلى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ
“Jangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu…” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
إذَا صَلّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
“Jika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnya…” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, “Tidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnya” (Al Jami’ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Aku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?”. Maka beliau rahimahullah menjawab, “Hal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utama”
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “Kadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?”. Beliau menjawab, “Yang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrah” (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, “Aku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib” (HR. Bukhari). Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafi’ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrah” (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwa’ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
📝 Sumber http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syari’at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syari’at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS – Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu a’lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/

Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

  1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
    JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

  2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
    JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

  3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
    JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

  4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
    JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

  5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

  6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

  7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
    JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

Fenomena Hilangnya Janin dari Perut Ibunya dalam Islam

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh..

‘Afwan ustadz mau tanya..

Biasakan ada janin yang tiba-tiba hilang dari perut ibunya (bukan karena keguguran atau apapun itu), tiba-tiba saja hilang. Kalau orang bilang katanya bayinya melayang naik atas langit. Bagaimana hukumnya dalam Islam ? Atau bagaimana Islam memandang ini ustadz ? Syukron

mariana – makassar

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam pandangan medis tidak diakui adanya bayi atau janin yang hilang tanpa ada sebab yang jelas. Biasanya analis medis menyatakan bahwa kasus demikian terjadi hanya pada kandungan semu yang lumrah dikenal dengan hamil anggur yang kelihatan hamil tetapi sebetulnya tidak hamil. Analisa ini tentu dapat diterima bilamana sang ibu tidak dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Namun apabila sang ibu dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Misalnya dengan gerakan, atau tendangan yang dirasakannya, atau hasil USG atau indikasi lain yang meyakinkan. Jika kondisinya seperti itu lalu bayinya menghilang tanpa sebab yang jelas maka Islam memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mustahil. Hal demikian dapat saja terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala.

Tindakan preventif yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri adalah senantiasa berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’ agar dapat menghindari gangguan jin atau setan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan janin dari rahim ibunya dengan izin Allah. Nabi bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا».

Sekiranya salah seorang di antara kalian, apabila ingin berjima’ dengan istrinya terlebih dahulu membaca: *”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami”,* apabila kedua pasangan tersebut dikaruniai anak niscaya setan tidak dapat mengganggunya untuk selama. Anak tersebut akan terjaga akal dan pisiknya setelah lahir dan pada saat masih dalam rahim ibunya. Ia juga tidak diseret oleh setan ke dalam kekufuran menurut sebagian ulama seperti al-Qasthallani.

Beberapa praktisi ruqyah syar’iyah juga mengakui beberapa kasus gangguan janin berupa keguguran atau halangan hamil akibat dari ganggun jin atau setan yang biasa diistilahkan dengan “tabi’ah” atau “ummu shibyan” yang beraksi terutama di awal-awal masa kehamilan. Selain berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’, sang ibu juga harus senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya, terutama shalat lima waktu. Juga harus rutin membaca zikir pagi dan petang, zikir dan wirid sebelum tidur agar gangguan jin dan setan dapat terhindarkan.

✍ Dijawab oleh ust. Salahuddin Guntung, Lc, M.A

(Mahasiswa Program Doktoral Konsentrasi Aqidah dan Pemikiran Kontemporer, King Saud University Riyadh)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/fenomena-janin-yang-tiba-tiba-hilang-dari-perut-ibunya/