Kursi Roda untuk Fahri, Korban Gempa yang Kehilangan Kaki dan Kedua Orangtuanya

Kursi Roda untuk Fahri, Korban Gempa yang Kehilangan Kaki dan Kedua Orangtuanya

Kursi Roda untuk Fahri, Korban Gempa yang Kehilangan Kaki dan Kedua Orangtuanya

(Palu) wahdahjakarta.com — Gempa besar dengan magnitudo 7,7 SR yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) lalu, yang diikuti dengan tsunami meninggalkan kisah yang mengharukan.

Salah satunya Fahri (11, korban gempa yang harus kehilangan kaki kanannya akibat tertimpa bangunan dan likuifaksi saat gempa. Kaki Fahri terpaksa diamputasi karena kondisinya yang sudah parah.

Fahri merupakan warga Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Perumnas Balaroa kelas lima. Akibat kejadian ini, selain kakinya, ia juga harus kehilangan kedua orangtuanya dan salah seorang adiknya.

Saat  ditemui relawan LAZIS Wahdah Fahri tak banyak bicara. Menurut keterangan bibinya bernama Indah (33), Fahri masih mengalami trauma sehingga sangat sulit diajak berkomunikasi.

“Apalagi kakinya diamputasi. Traumanya bertambah,” ujar Indah, Rabu (14/11).

Indah, kepada relawan ia berkisah, saat gempa terjadi, suasana memang sudah agak gelap. Keluarga Fahri, ayah, ibu dan saudara-saudaranya hendak ke Masjid untuk sholat berjamaah. Belum sempat keluar dari rumah, gempa mengguncang Balaroa. Tubuh Fahri terpental. Ia berusaha untuk lari sekuat tenaga. Kakinya terjepit. Ia mengerang kesakitan.

“Fahri sempat bertakbir sambil memegangi kakinya yang terjepit. Sementara ibunya juga terbanting dan rumah sudah ikut tenggelam,” ujar Indah.

Tepat pukul 10, ibu Fahri meninggal dunia. Sementara sang adik baru ditemukan beberapa jam setelahnya. Mereka berdua dikebumikan Sabtu pagi.

“Ibu Fahri sebelum meninggal sempat bersyahadat. Sayang, ayah Fahri masih hilang sampai sekarang,” jelasnya.

Kondisi Fahri saat ini masih kurang baik. Ia sangat sulit diajak berkomunikasi. Hanya bisa menangis saat terus-terusan ditanya tentang kronologi kejadian tersebut. Fahri mendapatkan bantuan kursi roda dari LAZIS Wahdah sebagai bentuk kepeduliaan relawan atas musibah yang menimpa Fahri.

“Mudah-mudahan bisa membantu dan kami doakan kepada keluarga Fahri, dan semua korban terdampak agar bisa bersabar,” pungkas Abu Umar, relawan LAZIS Wahdah saat berkunjung ke kediaman Fahri []

Idris, Korban Gempa yang Bermental Pejuang

Idris, Korban Gempa dan Liquifaksi yang Bermental Pejuang

Idris, Korban Gempa dan Liquifaksi yang Bermental Pejuang

Wahdahjakarta.com-– Namanya Idris. Biasa disapa Pak Idris.  Di usia yang sudah senja, dia masih harus menyaksikan rumah yang dia tempati selama puluhan tahun di Balaroa Palu tenggelam dalam pusaran Liquifaksi.

Beliau menceritakan, ketika terjadi gempa, perlu waktu sekitar setengah menit untuk bisa membuka pintu rumah dari dalam agar istri dan kedua cucunya bisa keluar rumah. Dan itulah mungkin setengah menit terlama dalam hidupnya. Sementara dinding sudah mulai tenggelam kedalam tanah..

Sesampainya di luar rumah, beliau mengajak istri dan kedua cucunya berlari sejauh mungkin dari lokasi rumah yang beliau lihat sudah masuk dalam pusaran liquifaksi, sampai akhirnya tenggelam nyaris tanpa sisa bersama dengan seluruh barang dan perabot di dalamnya.

Karena celana yang beliau kenakan penuh lumpur, akhirnya beliau pergi ke mesjid Imam Muslim yang tak jauh dari tempat dia mengamankan diri untuk meminta sarung buat sholat.

Sekarang beliau numpang di rumah salah seorang kerabatnya..

Tapi begitulah Iman.. ia bisa membuat orang yang tertimpa musibah menjadi nampak santai-santai saja… Bahkan beliau menceritakan kejadian tenggelamnya rumah beliau sambil sesekali diselingi tawa…

Bukan hanya itu.. Beliau juga meminta kepada panitia agar diberikan “Baju dinas relawan berwarna hijau”

Liquifaksi yg mengerikan itu mungkin telah menenggelamkan rumahnya. Tapi Iman di dadanya membuat dia malu untuk sekedar menjadi penonton..

Walaupun beliau sangat pantas untuk mendapatkan bantuan.

Dia mungkin Korban.. Tapi hatinya adalah Hati Pejuang..

Dengan semangat beginilah Palu akan bangkit…

Fauzan, Relawan Termuda Wahdah yang Terjebak Di Pegunungan Lindu

Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu yang ikut menjadi relawan bersama Tim Relawan Wahdah Islamiyah bersama ayahnya.

(Palu) wahdahjakarta.com,– Dari tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang berhasil dievakuasi oleh satuan TNI Angkatan Udara di Pegunungan Lindu, ada satu relawan yang masih berusia sangat belia. Ia bernama Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu.

Ia bersama dengan ayahnya, Edi Nurdin mengendarai sebuah motor trail menuju Desa Tomado yang berada di Kecamatan Lindu, Kab. Sigi, Sabtu (20/10).

Malam itu suasana sudah gelap. Rombongan Wahdah Islamiyah sejumlah lima orang masih belum kelihatan dari belakang. Beberapa kali ia bersama ayahnya terjungkal ke atas tanah yang berlumpur.

“Ban motor saya slip. Motor jatuh dan Fauzan sudah ada dibibir jurang. Untung kaki kirinya masih terselip di sekitar ban,” ujar Edi.

Saat itu kata Edi, motor yang dikendarainya tidak mempunyai lampu penerangan.

“Susah jalannya. Karena tidak ada lampu jalan makanya saya hanya mengandalkn lampu weser saja,” urainya.

Fauzan sendiri mengaku ikut menjadi relawan karena ingin membantu warga di Desa sana.

“Saya mau bantu mereka. Kasihan, tempatnya terkurung, akses sulit dan bantuan tidak cukup,” kata Fauzan.

Dimata ayahnya, Fauzan adalah anak yang baik. Fauzan memiliki cita-cita menjadi seorang intelijen. Ayahnya bilang, kalau Fauzan ingin menjadi pahlawan yang tak dikenal.

“Kan intelijen begitu. Jarang di publish media,” tuturnya sembari tertawa.

Pria kelahiran 13 September 2004 ini mengaku sering terlibat dalam kegiatan seperti ini. Diakuinya, ia yang juga warga Pinrang sering mengikuti kegiatan SAR di Mangkutana.

“Jadi kalau jalan seperti ini sih biasa. Tapi kan malam itu beda. Makanya saya pikir meski kita punya keahlian tapi kalau Allah punya rencana lain, kita mau apa?” pungkasnya. []

Lazis Wahdah Segera Bangun 100 Shelter Huntara di Palu

Salah satu Huntara bantuan dari Wahdah Islamiyah di Palu, Sulteng.

(Palu) wahdahjakarta.com,- Wahdah Islamiyah membuat prototipe shelter atau huntara (Hunian Sementara) yang terbuat dari bahan kalsiboard. Untuk memperkuat rangka bangunan, kayu-kayu pilihan dirancang untuk memperkokoh hunian lengkap dengan atap yang didominasi bahan seng berukuran 3 x 6 meter.

Nantinya prototipe ini akan dimanfaatkan oleh pengungsi gempa dan tsunami yang ditargetkan sebanyak 100 hunian.

“Insya Allah proyek 100 hunian telah dimulai dan akan dibangun dibeberapa lokasi,” ujar Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Selasa (23/10).

Seperti diketahui bersama, gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah penduduk. Sehingga kebanyakan dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Relawan yang bekerja dalam pembangunan shelter bencana

“Salah satu poin yang paling penting dalam masa pemulihan recovery adalah tersedianya tempat tinggal bagi para korban gempa dan tsunami maka dari itu kita insya Allah akan membantu mereka terkait ketersediaan hunian sementara, tahap pertama sudah proses dan selanjutnya kita terus lanjutkan di tahap berikutnya, target kita membuat mini kompleks Shelter di atas tanah yang telah kita dapatkan dari jamaah Wahdah Islamiyah,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pada Selasa (23/10) siang, empat orang pengungsi di Jln. Sungai manonda, komplek Masjid Imam Muslim, kota Palu menerima secara simbolis shelter yang telah rampung.

Dari pihak Wahdah Islamiyah diwakili oleh Abdul Rahim kepada Hendra Setiawan, Huddin, Rida Az Zahrah dan Zulkarnain.

“Syukur kami ucapkan atas pemberian shelter ini. Semoga LAZIS Wahdah semakin dipercaya masyarakat Indonesia,” ujar Hendra.

Proses pembangunan shelter dimulai pada Kamis (18/10) yang dalam pengerjaannya dilakukan oleh delapan orang yang tergabung dalam tim shelter Wahdah Islamiyah.

Syahruddin menambahkan, hunian ini akan dilengkapi dengan WC yang layak guna dan kedepan beberapa Masjid dan Sekolah yang rubuh akan dibangun kembali guna untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi warga Sulawesi Tengah. []

TNI AU Evakuasi Relawan yanTerjebak Longsor di Lindu Sulteng

Relawan Wahdah Islamiyah yang turun dari helikopter di Sigi, Sulteng

(Sigi) wahdahjakarta.com,- Tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang terjebak di pegunungan Lindu, Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah akhirnya pada Senin (22/10) berhasil dievakuasi oleh helikopter yang dibawa oleh Angkatan Udara. Masing-masing relawan yakni Rendy Hi Syamsul, Zulkifli Tri Darmawan, Nurhidayat, Hasir, Agus, Fauzan Nur Rahmat dan Edi Nurdin.

Helikopter ini terbang dari Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri menuju Helipad yang berada di dekat SMP Negeri 14 Sigi, danau Lindu. Relawan dievakuasi sekitar pukul 10.00 dan baru tiba sekitar pukul 11.00 waktu Palu.

Tujuh relawan ini terjebak lantaran akses jalan menuju Palu putus akibat tanah longsor.

“Akses ke Palu putus. Ada sebelas titik longsor yang ada disana. Kira-kira dua sampai tiga hari baru bisa pulih,” ujar Rendi, relawan Wahdah Islamiyah.

Sementara itu, koordinator distributor bantuan Nurhidayat mengatakan, sejak semalam, Sabtu (20/10) jalan menuju Desa Tomado juga rusak parah. Motor yang mengangkut logistik tidak bisa lagi menembus jalan yang sudah dipenuhi oleh lumpur dan batu.

Rombongan relawan Wahdah Islamiyah di Sigi, Sulteng.

“Malam itu hujan deras. Jalan juga putus. Maka kami memilih untuk kembali ke Kulawi. Kami bermalam di mushola darurat disana,” tambahnya.

“Dua hari kami terjebak di Kulawi dan Lindu. Kami tidak bisa berbuat banyak karena tak ada jalan untuk kembali ke Palu selain berjalan selama dua jam menembus pegunungan,” jelasnya.

Esok harinya, Ahad (21/10) empat orang relawan yang sempat berpisah dengan tiga orang relawan di malam itu memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Tomado.

“Alhamdulillah orang-orang disana menyambut kami dengan begitu ramah. Kami disuguhi makanan dan minuman. Bahkan pakaian karena yang kami kenakan sudah basah kuyup,” ujar Rendi mengenang. []

Pemulihan Dampak Gempa Sulteng Terus Diintensifkan

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Percepatan pemulihan dampak gempa Sulteng terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

“Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen”, jelas Sutopo.

Namun demikian kata Sutopo maaih ada beberapa daerah yang aliran listriknya belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja. Sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

Selain itu masih menurut Sutopo, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

“Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah”, terangnya.

Pembersihan puing-puing bangunan juga terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

103 Ton Bantuan Kemanusiaan Asing Tiba di Sulawesi Tengah

Salah satu pesawat yang mengangkut bantuan seberat 103 ton dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaimandi Balikpapan menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu, Sulteng pada Rabu (17/10).

(PALU) wahdahjakarta.com – Sebanyak 6 pesawat asing yang mengangkut  103 Ton bantuan kemanusiaan dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaimandi Balikpapan menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu, Sulteng pada Rabu (17/10).

Enam pesawat tersebut merupakan dukungan transportasi dari Pemerintah Amerika Serikat, Australia, Kanada, Korea, Jepang, dan Singapura.

Sebanyak 64 sorti penerbangan dengan menggunakan pesawat angkut militer membawa bantuan dari Balikpapan sebagai entry point menuju Palu. Pesawat yang rata-rata menggunakan jenis C-130 Hercules tersebut mengangkut bantuan dari dalam dan luar negeri berupa bantuan pangan dan non pangan. Bantuan pangan yang dibongkarmuat tersebut berupa air mineral, mie instan, biskuit, makanan gizi bayi, minyak goreng dan beras, sedangkan non pangan didominasi tenda. Selain itu, pesawat juga menurunkan 1 unit forklift yang digunakan untuk mengangkut barang yang diturunkan dari pesawat.

BNPB melaporkan bantuan yang belum terkirim per 17/10/ 2018 terdiri dari 32 unit genset dari Cina sebanyak 32 unit (3,46 ton) dan tenda Alpinter dari UNICEF sebanyak 42 set (14,49 ton). Bantuan ini akan diangkut dan dikirim ke Palu dengan pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat dan Jepang pada hari ini. Total bantuan internasional yang telah diterima oleh Pemerintah Indonesia seberat 980 ton dengan kategori pangan dan non pangan.
Tercatat 20 negara telah membantu Pemerintah Indonesai selama penanganan darurat pascagempa Sulawesi Tengah (Sulteng). Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, India, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Malaysia, Perancis, Qatar, RRT, Rusia, Spanyol, Selandia Baru, Singapura, Swiss, Turkei, dan Ukraina. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mendapatkan dukungan bantuan dari ASEAN Coordinating Centre For Humanitarian Assistance (AHA Centre) dan Badan PBB.

Sementara itu, tenda yang dikirimkan lebih dikhususkan untuk pemenuhan kebutuhan tenda sekolah. Sebanyak 13 palet kemasan tenda sekolah bantuan UNICEF dikirimkan melalui dua sorti oleh pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat. Berdasarkan data per 16/10/2018 pukul 20.00 Wita Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sulteng, total sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, MI dan MTs, terdampak berjumlah 1.185 unit. Kerusakan terbesar teridentifikasi di Kabupaten Donggala (499 unit), Kota Palu (359), Kabupaten Sigi (234) dan Kabupaten Parigi Moutong (93). Dari total jumlah tersebut, kerusakan ruang kelas dengan kategori rusak berat dan rusak sedang mencapai 4.722 unit. Sampai dengan hari ini (19/10), ribuan tenda untuk kelas darurat masih dibutuhkan di wilayah terdampak.
Sumber: Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Relawan Trauma Healing Hibur Anak Korban Gempa dengan Bercerita

Wakil Ketua Umum Wahdah ISlamiyah Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil ketika menyampaikan cerita di depan anak-anak korban bencana Sulteng saat menjadi Relawan Trauman Healing di kab. Sigi, Sulawesi Tengah.

(SIGI) wahdahjakarta.com — Salah satu metode Trauma Healing kepada anak korban gempa yang dilakukan oleh relawan Wahdah Islamiyah adalah melalui cerita edukasi. Cerita edukasi yang berisi nilai-nilai pendidikan dan patriotisme.

Salah satunya adalah Dongeng berjudul ‘Kerajaan Darusallam’ yang disampaikan oleh Ustad Ikhwan Jalil kepada puluhan anak-anak korban Gempa.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Robot ini adalah pasukan Mujahid yang ditugaskan menjaga negerinya, Kerajaan Darussalam. Tiba-tiba ada sepasukan musuh yang dipimpin oleh Raja Jengkol menyerangnya. Maka bertakbir lah seluruh pasukan kerajaan melawan pasukan musuh itu,” kisah Ustad Ikhwan dengan penuh semangat kepada puluhan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Qurrota A’yun, Jumat (19/10/2018).

Di akhir kisah, ustad Ikhwan membagikan mainan robot kepada anak-anak yang hadir dengan terlebih dahulu membuka pertanyaan.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Siap, saya akan melawannya menggunakan robot ini,” tutur Amar, tersambung gelak tawa seluruh peserta yang hadir.

Lantunan kisah oleh Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah ini mendapat sambutan tawa oleh anak-anak yang hadir, apalagi dihiasi dengan lantunan nasyid Deen Salam oleh Umar Al-Faruq, Putra Ustad Ikhwan.

Trauma healing merupakan salah satu agenda relawan Wahdah Islamiyah dalam pemulihan korban gempa Palu dan sekitarnya. “Hari ini kita mengirimkan 10 ustadz yang akan menjadi tim trauma healing,” kata ustadz Taufan Djafri, koordinator pengiriman relawan, di kantor DPP Wahdah Islamiyah, Jl. Antang Raya no 48, Makassar, Selasa (9/10/2018) lalu.

Selain kepada anak-anak, Trauma Healing juga diberikan kepada kalangan remaja dan orang tua. Metode untuk remaja dan orang tua berbeda dengan anak-anak, yakni melalui pendekatan rohani dengan tausiyah dan motivasi. ()

Relawan Kesehatan Wahdah Islamiyah Susuri Pegunungan Sigi

Relawan Kesehatan Wahdah Islamiyah Susuri Pegunungan Sigi

Relawan Kesehatan Wahdah Islamiyah sedang melakukam pelayanan kesehatan di salah satu desa di Pegunungan Sigi Sulteng, Kamis (19/10/2018)

(Sigi) Wahdahjakarta.com, — Ikhtiar dalam membantu korban gempa terus dialirkan hingga ke pelosok-pelosok Sulawesi Tengah. Tim relawan kesehatan Wahdah Islamiyah  yang dipimpin  dr. Mujahid menyusuri pegunungan Sigi untuk memberikan pelayanan kesehatan  di  di Desa Oo Kec. Kulawi Selatan Kabupaten Sigi, Kamis (19/10/2018).

Perjalanan dalam menembus lokasi ini tidak memerlukan waktu yang sangat lama karena kondisi jalan yang masih baik. Hanya saja, letaknya yang sedikit terpencil dari lokasi perkotaan membuat wilayah ini sering tidak terjamah oleh bantuan.

Salah seorang pasien bernama Ester Tawue (68) menderita sebuah penyakit serius dibagian jemari kakinya. Terlihat beberapa pembengkakan pembuluh darah yang sudah meracuni hampir semua bagian pergelangan kakinya.

“Tidak ada jalan lain kecuali amputasi,” ucap dr. Mujahid saat memeriksa kondisi ibu Ester.

Enard Tawue, suami dari ibu Ester mengatakan, awal mula pembengkakan terjadi beberapa bulan yang lalu.

“Saat itu hanya muncul benjolan kecil mirip mata ikan. Namun semakin hari semakin membesar dan jadinya seperti ini,” tukasnya.

Satu bulan yang lalu, ibu Ester sempat dirawat di RS Umdata kota Palu. Namun hingga satu bulan dirawat tidak ada perubahan, akhirnya keluarga berniat mengobatinya dengan metode alternatif.

“Kita hanya pakai daun alam,” kata pak Enard.

“Kalau bapak mau dan setuju ibu dioperasi, maka kami dari Wahdah siap memfasilitasi ibu ke rumah sakit. Kami punya Ambulance,” ucap dr. Mujahid.

Seharian penuh bertugas melayani pasien dengan mobile, pasien yang diobati berjumlah 219 orang.

“Alhamdulillah ini capaian luar biasa,” tambahnya.

Layanan kesehatan juga dilakukan di daerah pengunjungsian Kelurahan Balaroa dan kompleks SMP Negeri 13 kota Palu. []

Lahan Terbatas, Warga Terpaksa Bangun Tenda Pengungsian di Samping Kuburan

Tenda yang didirikan warga di samping kuburan akibat terbatasnya lahan untuk pengungsian.

(Palu) Wahdahjakarta.com-– Pemandangan miris terlihat di sekitaran kompleks pengungsian di Kel. Balaroa, Kec. Palu Barat, kota Palu Jumat (12/10,) pasalnya, terlihat beberapa warga memanfaatkan tanah pekuburan sebagai tempat tinggal.

Tenda-tenda warga yang begitu banyak membuat sebagian warga memilih untuk tidur diatas tanah pekuburan.

Warga di perumahan Balaroa yang mengungsi memilih mendirikan tenda di dekat lokasi pemakaman karena lahan yang terbatas.

Terlihat pula tumpukan pakaian diatas pekuburan dengan jumlah yang sangat banyak.

mereka dijanji sama pemerintah untuk diberikan tempat tinggal sementara,paling lambat dua bulan. [fry]

Laporan:
Dzulkifli Tri Darmawan
Relawan Media Lazis Wahdah Islamiyah