MUI: Politik Itu Sarana Menegakkan Keadilan

Suasana Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI VI

MUI: Politik Itu Sarana Menegakkan Keadilan

(Banjarbaru) wahdahjakarta.com –  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke-6   di Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru Kalimantan Selatan  selama tiga hari, Senin (06/05/2018) sampai Rabu (09/05/2018).

Pertemuan Ulama yang dihadiri 700 ulama dari berbagai daerah seluruh Indonesia ini menghasilkan 24 Fatwa dan satu resolusi yakni tentang Aksi Bela Baitul Maqdis yang akan digelar di lapangan Monumen Nasional (Monas) pada Jum’at (11/05/2018) besok.

Menurut Ketua Umum MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin 24 fatwa tersebut terdiri dari 4 masalah kebangsaan, 11 masalah keagamaan kontemporer dan 9 perundang-undangan.

Masalah-masalah strategis kebangsaan (masail asasiyah wathaniyah) dibahas komisi A memutuskan 4 tema pembahasan meliputi menjaga eksistensi negara dan kewajiban bela negara, prinsip-prinsip ukhuwah sebagai pilar penguatan NKRI, hubungan agama dan politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta pemberdayaan ekonomi umat.

Terkait masalah relasi Agama dan politik ditegaskan bahwa dalam Islam politik dan kekuasaan merupakan sarana menjaga keadilam, menjamin tegaknya syariat Islam (hirasatud Din dan terjaminnya urusan dunia (siyasatud Dun ya) .

”Politik dalam Islam itu sarana untuk menegakkan keadilan, sarana amar makruf nahi munkar dan sarana untuk menata kebutuhan hidup manusia secara menyeluruh,”  tegas ketua Komisi A Buya Gusrizal Gazahar.

Ia menambahkan jika untuk berpolitik, kaum muslimin tidak perlu alergi karena memang begitulah syariat yang diajarkan dalam agama ini. Selain itu, dalam paparannya, ketua MUI Provinsi Sumatera Barat ini juga menegaskan bahwa agama dan simbol keagamaan tidak boleh hanya dijadikan kedok untuk menarik simpati dan pengaruh dari umat beragama serta untuk mencapai tujuan kekuasaan yang sifatnya hanya sementara.

”Tidak boleh menjadikan agama dan simbol-simbol agama untuk menipu dan memanipulasi umat beragama agar bersimpati guna mencapai tujuan politik sesaat tanpa didasari oleh komitmen dan nilai luhur keagamaan yang tulus,”  paparnya.

“Tempat  ibadah bukan hanya untuk kepentingan ritual keagamaan semata namun lebih jauh lagi, tempat ibadah juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, dakwah Islam termasuk membicarakan persoalan politik keummatan dan bagaimana cara memilih pemimpin yang sesuai dengan agama”, tandasnya. [sym]

700 Ulama Hadiri Ijtima Komisi Fatwa MUI di Ponpes Alfalah Banjarbaru

700 Ulama Hadiri Ijtima Komisi Fatwa MUI di Ponpes Alfalah Banjarbaru

(Banjarbaru) wahdahjakarta.com, – 700 ulama dari berbagai daerah di Indonesia selama empat hari, terhitung hari Senin (7/5) hingga Kamis (10/5) berkumpul di Pondok Pesantren Al Falah, Banjar Baru Kalimantan Selatan dalam agenda pertemuan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Ke-6 Se-Indonesia. Kegiatan ini mengangkat tema _ “Meningkatkan Peran Ulama dalam Melindungi dan Memajukan Umat, Bangsa dan Negara.

Hadir dalam kegiatan ini Menteri Agama Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Saefuddin, Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin, Wasekjen MUI Pusat ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Selain itu hadir pula beberapa perwakilan ormas Islam, Pimpinan Pondok pesantren, dan beberapa perguruan tinggi.

 “Kegiatan semacam ini kita adakan sekali setiap tiga tahun. Kami laksanakan di Pondok Pesantren karena memang di sanalah tempat yang paling baik untuk mengumpulkan ulama-ulama,”_  ucap KH. Ma’ruf Amin dihadapan seluruh peserta yang hadir.

Lebih lanjut lagi, Beliau menyampaikan bahwa dalam pertemuan ini akan dibahas beberapa hal. Salah satunya menyangkut kondisi kesenjangan sosial yang saat ini melanda bangsa Indonesia.

“Kita berharap pertemuan ini biaa menjadi awal yang baik bagi negeri ini,”_  tutupnya.

Turut hadir sebagai tamu Ulama Palestina Syaikh Dr. Nawwaf. Ketua Lajnatulquds Palestina ini didapuk menyampaikan sambutan di sela-sela acara pembukaan Ijtima.

Dengan didampingi ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai penerjemah, Syaikh Nawwaf menegaskan bahwa saat ini warga Palestina masih tetap teguh mempertahankan sejengkal demi sejengkal tanah Palestina.

“Al-Quds sama dengan Haramain. Ketiganya adalah tanah suci kaum muslimin yang wajib dipertahankan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyerahkan tanah ini untuk Israel barang sedikitpun,” ucapnya dengan nada berapi-api.

Disamping itu, ia turut berbangga atas kepedulian Indonesia atas Palestina selama ini. Menurutnya, Indonesia adalah bangsa yang sangat ikhlas membantu Palestina sejak dahulu.

“Terima kasih kami ucapkan. Terima kasih dan semoga Allah memudahkan kita merebut Al-Quds,” tuturnya.[ibw/sym]

Kiyai Ma’ruf Amin: Umat Islam Indonesia Siap Boikot

Press Conference Jelang Aksi Bela Palestina


(Jakarta-wahdahjakarta.com)- Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) menggelar konferensi pers di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Center, Jakarta pada hari Sabtu, 16/12/17. Konferensi pers ini terkait akan digelarnya Aksi Bela Palestina hari Ahad besok (17/12) di Monas. Hadir dalam konferensi pers ini Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin dan jajaran pengurus GNPF Ulama, Ust. Bachtiar Nasir, KH Shobri Lubis, Ust. Zaitun Rasmin, dll.

KH Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa inti acara di Monas adalah do’a bersama. “Kita akan berdo’a untuk Palestina, untuk saudara-saudara kita di Pulau Jawa bagian selatan yang sedang mengalami musibah, dan juga untuk semua saudara kita di seluruh dunia seperti Suriah Myanmar, dll”, terang beliau.

Kiyai Ma’ruf juga mengatakan bahwa Aksi Bela Palestina ini bebas dari politik praktis. “Besok tidak ada kepentingan-kepentingan politik praktis. Adanya adalah urusan keadilan dan kemanusiaan”, tegas beliau.

Pimpinan tertinggi MUI ini juga menjelaskan bahwa yang dilakukan adalah sebagai bentuk meneruskan amanah undang-undang. Dimana UUD kita dengan tegas menyebut penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Kiyai Ma’ruf menjelaskan, akan ada petisi kepada Amerika, serta mendorong PBB agar tidak “melempem”. “Kita akan melakukan diplomasi. Kami akan meminta persetujuan kepada peserta aksi, jika seruan ini tidak diindahkan kita akan boikot jika perlu”.

Kiyai Ma’ruf menutup arahannya dengan meneriakkan yel-yel yang diikuti semua peserta. “Islam bersatu bela Palestina, Indonesia bersatu bela Palestina” pekik beliau. Semoga. [ibw/sym]

Jelang Aksi Bela Palestina 17/12 Ini Seruan MUI


Menyikapi persetujuan Presiden AS Donald Trump yang menjadikan Jerusalem sebagai Ibukota Israel serta memindahkan kantor Kedubes as ke Jerusalem, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat akan menggelar Aksi Bela Palestina, pada hari Ahad (17/12) di Monas Jakarta.
Kabar perihal rencana aksi disampaikan melalui Siaran Pers MUI dan pernyataan sikap yang dibacakan Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin di Gedung MUI Pusat, Selasa (12/12). Terkait rencana aksi tersebut MUI menyatakan lima hal penting:
1. Persetujuan Presiden Amerika Donal Trump yang menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota Israel serta memindahkan kantor Kedubes Israel AS ke Jerusalem semakin menegaskan bentuk persetujuan AS atas penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina. Bentuk penjajahan ini sudah diperlihatkan dalam berbagai aksi kekerasan yang berada di luar batas-batas nilai kemanusiaan.
2. MUI menentang (menolak) langkah dan kebijakan Presiden AS ini, karena hal ini semakin menambah ketidakpastian global terutama yang terkait dengan masalah keamanan. Langkah ini juga semakin menjelaskan kepada dunia tentang politik standar ganda AS, bahwa di satu pihak AS selama ini sekan-akan berdiri sebagai Kampiun Demokrasi, tapi di pihak lain, AS mendukung terhadap bentuk bentuk penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
Bagi kami rakyat Indonesia segala bentuk penjajahan di muka bumi harus ditentang dan dilawan karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang tercantum dalam tujuan bernegara RI pada alinea ke-4 UUD 1945.
3. MUI mengajak negara-negara lain terutama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara Teluk untuk bersatu padu melawan penjajahan dan adu domba yang selam ini telah dengan kasat mata dipraktekkan di hadapan kita semua, seraya bersama-sama menegaskan bahwa Palestina adalah sebuah negara dengan Jerusalem sebagai ibu kotanya.
4. MUI akan melakukam aksi ini dengan menagajak seluruh stakeholders; Ormas, tokoh lintas Agama, Diplomat serta seluruh masyarakat pada hari Ahad, 17 Desember 2017 pukul 06.00 sampai selesai di Monas, Jakarta. MUI menandang bahwa pengakuan AS atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel bukan urusan Agama semata, tetapi bentuk penjajahan yang sistematis terhadap Palestina.
5. MUI meminta kepada seluruh umat Islam sedunia untuk membacakan Qunut Nazilah sebagai bentuk dukungan spritual bagi keutuhan dan keselamatan bangsa dan negara Palestina dari penjajahan dan kezaliman para penjajah. [sym].