Mendulang Hikmah dari Do’a Malam Lailatul Qadar

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “

“يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني”. الترمذي وقال: حسن صحيح

“Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Kesungguhan ‘Aisyah dalam Meraih Kebaikan

Hadits ini menunjukkan kesungguhan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam meraih kebaikan dan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Beliau adalah putri dari manusia terbaik setelah Nabi, istri Nabi, wanita paling cerdas, ia belajar langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia juga dikenal paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun demikian beliau sangat antusias bertanya kepada Rasul tentang do’a khusus yang patut diucapkan pada malam Lailatul qadar.

Hal ini menjadi pelajaran bagi seluruh ummat, bagaimanapun kedudukan seseorang dan capaian ilmu yang telah diraihnya, ia tetap butuh  mengetahui hal-hal yang sepatutnya diraih dengan serius dan sungguh-sungguh.

Dan yang paling spesifik dalam hal ini adalah ilmu nafi’ yang menyucikan hati dan rohani serta membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala telah memuji orang yang memiliki sifat seperti ini dalam firman-Nya;

« فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ » [سورة الزمر  : 17 ، 18

“Berilah kabar gembira kepada para hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik dari perkataan tersebut”. (Qs. Az-Zumar:17-18).

Yakni mendahulukan yang lebih afdhal dan memperhatikan yang lebih sempurna. Mereka berusaha melakukan yang terbaik dari yang baik. Mereka mengedepankan yang lebih utama.

Hikmah dari Do’a Khusus Minta Maaf Pada Malam Lailatul Qadar

Meminta maaf kepada Allah pada setiap waktu dan keadaan merupakan sesuatu yang dianjurkan, sebagaimana ditunjukan oleh dalil-dalil yang banyak. Sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meminta lebih dari sekali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diajarkan suatu do’a yang akan beliau baca dalam do’anya.  Maka Rasu mengatakan kepadanya;:

«  سَلِ اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ »

“Mintalah al-‘afw (maaf) dan al-‘afiyah (keselamatan)

Lalu apa hikmah mengkhususkan minta maaf (ampunan) dalam do’a  malam Lailatul qadar?

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab,

“Nabi menyuruh meminta maaf pada malam lailatul qadar setelah bersungguh-sungguh melakukan pada malam tersebut dan sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena para ‘Arifin bersungguh-sungguh dalam beramal tetapi mereka tidak merasa telah melakukan amal shaleh, sehingga mereka kembali memohon maaf, seperti seorang pelaku dosa yang banyak lalai”. (Lathaiful Ma’arif, 206).

Seorang hamba senantiasa berjalan menuju Allah sembari terus memandang karunia dan nikmat Allah kepadanya  sementara pada saat yang sama ia melihat sendiri aib dirinya dan amalannya serta berbagai kekuarangan dan kelalaiannya. Namun dia tahu bahwa andaikan Tuhannya mengadzabnya dengan adzab yang pedih, maka itu adil baginya. Karena semua putusanNya adil terhadapnya. Dan bahwasanya semua kebaikan yang dia miliki dan lakukan semata-mata karunia dan anugerah Allah kepadanya. Sebagaimana dalam dzikir Sayyidul Istighfar;

“أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي”

“Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui pula dosaku (kepadaMu)”

Maka dia tidak menganggap dirinya (sempurna, melaikan) memandang dirinya banyak lalai dan dosa, dan ia tidak memandang Tuhannya melainkan telah memberikan banyak kebaikan (kepadanya)”. Syifa’ul “Alil, Ibn Qayyim, 115)

Adab Berdo’a

Berdo’a dengan lafal seperti dalam do’a lailatul qadar ini mengandung adab penting dalam berdo’a. Yaitu memuji Allah dengan pantas dan layak bagi Allah serta sesuai dengan permintaan yang berdo’a.

Allah telah membimbing kita untuk melakukan adab ini dalam berbagai ayatnya. Misalnya dalam surat Al-Fatihah yang terbagi dua bagian. Pertamana berisi pujian hamba kepada Rabbnya, kedua permintaan hamba kepada Rabbnya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits qudsi yang masyhur.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang yang berdo’a dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi, maka Nabi mengatakan, “Orang ini terburu-buru”.

Kemudian beliau memannggilnya dan mengatakan kepadanya atau kepada yang lain

“إذا صَلَّى أحَدُكُم فليَبْدأ بتَمْجيدِ رَبَّه والثَّناءِ عليه، ثم يُصَلَّي على النبيِّ ، ثم يدعو بعدُ بما شاءَ

“Jika salah seorang diantara kalian berdo’a hendaknya dia mulai dengan memuji Tuhannya, menyanjungnya, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu ia berdo’a seseuai keinginanannya”.

Husnudzan Kepada Allah

Do’a ini mengajarakan adab husnudzan (bersangka baik) kepada Allah. Ketika seorang hati Mukmin dipenuhi prasangka baik kepada Allah, maka tidak akan kehilangan harapan kepada Allah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, mencintai maaf, karena itu, maafkanlah aku”.

Manusia Sangat Butuh Kepada Ampunan Allah

Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat antusias bertanya kepada nabi tentang do’a malam lailatul qadar. Lalu Nabi menjawab dengan menyuruhnya memohon maaf (al-‘afw). Jika hal ini dijarkan oleh nabi kepada seorang shidiqah binti Shidiq, lalu bagaiman dengan kita?

Hal ini menunjukkan, kita saangat butuh kepada Allah. Kita butuh segalanya kepada Allah, namun yang paling kita butuhkan ampunan dan maaf atas dosa dan kesalahan kita.

 

 

Khotbah Jum’at: Meraup Berkah Ramadhan

 

 

Meraup Berkah Ramadhan

Khotbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, detik-detik yang dilaluinya bisa lebih berharga dibandingkan dengan dunia beserta seluruh isinya, dan jika datang bulan Ramdhan, Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dan menjelaskan tentang keutamaan dan berkah yang menyertainya, beliau mengatakan:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Sikap Rasulullah ini tentunya menunjukkan dahsyatnya keutamaan bulan Ramadhan, Rasulullah menyebutnya sebagai bulan yang penuh dengan berkah, yang dimaksud dengan berkah adalah untaian-untaian kebaikan dan manfaat. Dan jika di hubungkan dengan bulan Ramadhan, maka berkahnya menghiasinya dalam beberapa hal:

Pertama: Bulan Ampunan dosa

Jika kita mengkaji hadits-hadits yang datang dari Rasulullah, maka kita akan mendapati banyak sekali amalan-amalan yang menjadi faktor diampuninya dosa-dosa hamba, diantaranya yang terkandung dalam sabda Rasulullah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Artinya:”Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dari dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang memakmurkan malam Lailatul Qadr (dengan Ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Tiga redaksi hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan bulan maghfirah, sebab berkumpul di dalamnya amalan-amalan yang dapat menjadi faktor diampuninya dosa seorang hamba, baik amalan tersebut hukumnya wajib ataupun yang hukumnya sunnah.

Maka jika seorang hamba melaksanakan satu amalan saja dengan penuh keikhlasan dan keimanan, seperti puasa yang merupakan bagian dari rukun islam yang wajib hukumnya untuk dilaksanakan, maka sesungguhnya amalan ini dapat menjadi penghapus dosa yang telah lalu baginya.

Kedua: Bulan Dilipat Gandakannya Pahala Amalan

Ini adalah berkah kedua yang menghiasi bulan Ramadhan, yaitu pahala-pahala amalan dilipat gandakan oleh Allah, jika pada hari biasa, sebuah amalan dapat dilipat gandakan antara sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, maka di dalam bulan Ramadhan, ada amalan yang dilipat gandakan dengan jumlah yang tidak terbatas, Rasulullah bersabda:

كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله عز وجل: إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

Artinya: ”Setiap Amalan manusia dilipat gandakan, satu kebaikan pahalanya (bila) sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman: kecuali ibadah puasa (pahalanya tidak terhingga), sesungguhnya (puasa) milikku, dan AKU yang memberi pahalanya”. HR Muslim.

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya hadits ini dapat memberikan motivasi bagi seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah puasa, sebab pahala yang dijanjikan oleh Allah sangat luar biasa, dapat melebihi hitungan-hitungan yang ada di kepala manusia, dan hadits ini juga dapat memberikan dorongan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kwalitas puasa yang kita laksanakan, sebab semakin baik kwalitas puasa kita, maka akan berpengaruh kepada besarnya pahala yang di dapatkan dari Allah.

Ketiga: Bulan Ramadhan mengkondisikan kaum muslimin untuk beramal sholih

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah diatas:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: ”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Dalam hadits ini, dapat kita simpulkan bahwa bulan Ramadhan telah dikondisikan dengan sedemikian rupa, untuk menjadi bulan Taubat, bulan beramal ibadah, dan bulan yang penuh dengan kebaikan, seakan tidak ada tempat bagi manusia untuk melakukan kemaksiatan. Silahkan di renungkan; di bulan Ramadhan di buka pintu-pintu Surga, ditutup pintu Neraka, di belenggu syaitan-syaitan, serta diwajibkan bagi seluruh kaum muslimin untuk berpuasa. Dan realita dalam kehidupan juga membuktikan, bahwa berapa banyak di kalangan kaum muslimin tidak mampu untuk berpuasa di luar bulan Ramadhan, meskipun puasa-puasa yang sangat dianjurkan dan dijanjikan pahala yang besar seperti puasa ‘Asyura’ dan ‘Arafah, namun ketika bulan Ramadhan datang, maka mereka dapat melaksanakan ibadah puasa tersebut. Dan betapa banyak di kalangan kaum muslimin yang tidak mampu untuk melaksakan qiyamul lail di luar bulan Ramadhan, namun ketika bulan Ramadhan datang menjelang, mereka dapat melaksanakannya dengan penuh semangat.

 

Keempat:  Lailatul Qadr

Ini adalah puncak dari keberkahan di bulan Ramadhan dan puncak keindahannya, yang mana malam ini, lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah:

 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Laitul Qodar (adalah malam) yang lebih baik daripada seribu bulan”.

 

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Inilah berkah yang dikandung oleh bulan Ramadhan, yang hendaknya kita termotivasi untuk meraihnya. Sesungguhnya cara yang terbaik untuk meraup keberkahan Ramadhan adalah dengan memaksimalkan kemampuan dan usaha kita untuk melaksanakan ibadah di dalamnya dengan sebaik dan sebanyak mungkin, sebagaimana ucapan Malaikat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

يا باغي الخير أقبل

Artinya:”Wahai pencari kebaikan, datanglah”. HR Timidzi dan yang lainnya.

Semoga Allah senantiasa menuntun kita pada jalan kebaikan, dan menjaga kita dari jalan kesesatan.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وجعلني وإياكم من الصالحين.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

 

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Sumber: Wahdah.or.id

 

 

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

wahdahjakarta.com| Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh (malam) terakhir Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Salahsatu wujud kesungguhan beliau adalah dengan ber i’tikaf dan mencari malam lailatul qadri pada malam –malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha diterangkan bahwa;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); begadang dan fokus beribadah.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. Inilah makna yang lebih dekat, karena kiasan yang seperti ini ma’ruf di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

قومٌ إِذَا حَارَبُوا شَدُّوا مآزرهم

دُون النساء ولو بَاتَتْ بأطْهارِ

Kaum yang jika berperang maka mengencangkan kain-kain sarungnya

Tanpa menggauli istri ,meski istrinya dalam keadaan suci

Perkataan ‘Aisyah:”Ahyaa lailahu/Nabi menghidupkan seluruh malamnya”,maksudnya menghabiskan malamnya dengan begadang mengerjkan shalat dan ibadah yang lain. Dan dalam hadits ‘Aisyah yang lain dia mengatakan; ”Saya tidak mengetahui Rasululah membaca seluruh Al qur’an dalam semalam, shalat malam sampai subuh, berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan’’(HR. Nasai).

Boleh jadi maksud perkataan ‘Aisyah “Nabi menghidupkan malamnya” adalah qiyamullail pada separuh malam. Atau maknanya, beliau melakukan qiyamullail sepanjang malam, tetapi diselingi oleh makan malam, sahur dan sebagainya. Sehingga maksudnya beliau menghidupkan sebagian besar waktu malam (dengan ibadah).

Perkatan ‘Aisyah:”Membangunkan keluarganya”. Maksudnya beliau membangunkan istri-istrinya untuk shalat. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa beliau membangunakan istrinya sepanjang tahun, tetapi beliau hanya membangunkan mereka pada sebagian malam. Dalam shahih Bukhariy dijelaskan bahwa nabi bangun pada suatu malam lantas mengatakan:

سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن من يوقظ صواحب الحجرات يريد أزواجه لكي يصلين رب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة

Subhanallaah, Maha suci Allah, apa yang fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa lagi yang akan Dia turunkan? siapa yang membangunkan penghuni kamar-kamar ini (istrinya). Duhai, Betapa banyak orang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat” (HR Bukhari).

Diterangkan pula bahwa jika hendak witir beliau membangunkan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha (HR Bukhari). Tetapi yang paling menonjol sepanjang tahun adalah beliau membangunkan istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.

Artikel: wahdah.or.id

Keutamaan Bulan Ramadhan [4]: Lailatul Qadr yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Wahdahjakarta.com| Ketika menyampaikan kabar gembira akan kedatangan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan. Diantaranya, pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam tersebut dikenal dengan sebutan Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، …… ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ”

Ramadhan telah mendatangi kalian. Bulan yang penuh berkah. Allah memfardhukan kepada kalian berpuasa pada bulan ini. …… Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sesiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka terhalangi dari kebaikan”. (Terj. HHR. Nasai).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ [٩٧:٣]تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ [٩٧:٤]سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ[٩٧:٥

Lailatul Qadr (malam kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al Qadr: 2-5)

Para ulama telah menghitung bahwa seribu bulan kurang lebih 83 tahun. Dalam kitab Al-Muwatho karya Imam Malik ada satu riwayat dengan Sanad mursal, bahwa diperlihatkan kepada Rasulullah umur manusia sebelum beliau. Maka seakan-akan beliau merasa umur umatnya terlalu pendek tidak sampai menyamai amal umat yang panjang umurnya, sehingga Allah memberinya Lailatul Qadri yang lebih baik dari seribu bulan.Sungguh, ini merupakan keutamaan yang agung jika seorang hamba Allah mendapatkan malam Lailatul Qadri sehingga ini terhitung mendapatkan keutamaan 83 tahun atau lebih. (Pembahasan selanjutnya tentang lailatul qadri akan diulas pada pembahasan tersendiri insya Allah). [sym].