Relawan Pasukan Hijau Gemakan Takbir di Kamp Pengungsi Balaroa

Relawan Pasukan Hijau Gemakan Takbir di Pengungsian Balaroa (2)

Suasana bakda Shalat magrib di Mushalla Darurat di kamp Pengungsi balaroa Palu yang dibangun oleh relawan pasukan hijau Sar Wahdah Islamiyah, Kamis (11/10/2018) petang. Photo: Media Lazis Wahdah

 

Relawan Pasukan Hijau Gemakan Takbir di Kamp Pengungsi Balaroa

(Palu) Wahdahjakarta.com-Pekikan takbir tiba-tiba menggema di sebuah posko pengungsian yang berada di Perumnas Balaroa, Palu Barat, Kamis (11/10).

Pasalnya, sebanyak 20 relawan Pasukan Hijau Wahdah Islamiyah seusai menunaikan ibadah sholat Maghrib meluapkan kegembiraannya setelah berhasil mendirikan sebuah tenda komando berukuran raksasa di tengah-tengah posko pengungsian yang begitu luas.

“Tim SAR hari ini benar-benar melakukan tugasnya dengan begitu baik. Jumlah yang sedikit memang, tapi kesolidannya tidak perlu diragukan lagi,” ucap Abu Umar, komandan Tim SAR Wahdah Islamiyah.

“Yang istimewa karena menurut warga yang kami temui, takbir kami tadi adalah yang paling keras selama di sekitar pengungsian ini. Bahkan kami baru melihat ada relawan yang seperti ini,” tambahnya.

Sebelumnya, tim SAR Pasukan Hujau Wahdah Islamiyah juga sempat membantu pihak RS Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah yang berlokasi di Jl. Dr. Suharso Lrg III, No.02, Besusu Barat, Palu Timur membersihkan seluruh ruangan.

Menurut Abu Umar, pendirian tenda komando ini bertujuan sebagai tempat pengajaran al-Qur’an bagi warga sekitar, pelaksanaan program trauma healing, dan beberapa program lainnya, khusus di sekitaran pengungsian Balaroa. []

Dengar Lantunan Ayat Suci, Korban Gempa Tersentuh Menyeka Air Mata

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci QS. Al Anbiya pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci Al-Quran pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

(PALU) wahdahjakarta.com- “Kami hadir untuk membersamai bapak dan ibu, bukan hanya hadir dengan bantuan ini, namun hadir dengan jiwa kami,” kata Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil membuka taushiyahnya dalam program trauma healing kepada pengungsi korban gempa Palu, Posko Pengungsian Balaroa, Jalan Sumur Yoga, Palu, Kamis (11/10/2018).
“Kami berharap kebersamaan kita bukan hanya di dunia, namun hingga di SurgaNya Allaah ta’ala ” ungkap Ustadz Ikhwan yang juga Ketua Dewan Syura Wahdah Islamiyah ini.

“Bencana yang hadir, akan menjadi asbab ditinggikannya derajat, dan penebal keimanan. Bolehlah kita berada di tenda pengungsian, namun tetap shalat, berdzikir, membaca Alquran dan ibadah lainnya,” tuturnya.

Di sela tausiyah, Umar Al-Faruq bin Ikhwan Jalil melantunkan Kalam Ilahi dalam surah Al-Anbiya, yang disambut derai air mata dari warga pengungsian yang hadir.

Satu persatu warga tertunduk, menghayati lantunan ayat suci, dan tak sedikit yang menyeka air mata karena tersentuh.

Setelah lantunan ayat suci Al-Quran, ustadz Ikhwan mengajak seluruh warga untuk semakin kuat bersabar menghadapi ujian. “Untuk semakin menguatkan kita, bahwa tiada yang lebih besar dari Allah ta’ala, kami mohon izin kepada bapak dan ibu untuk bertakbir bersama sebanyak tiga kali,” serunya yang kemudian disambut pekikan takbir dari warga pengungsian.
Trauma Healing merupakan salah satu program WI dalam penanggulangan korban gempa Palu dan sekitarnya. Ustadz dan Ustadzah senior dan praktisi diterjunkan ke lokasi bencana sejak Senin (6/10/2018).

Selanjutnya, relawan WI akan mendirikan posko pembinaan keislaman kepada warga, yang diisi dengan program-program, diantaranya Trauma Healing, pembinaan pengajian untuk Ibu-ibu dan anak-anak, serta program lainnya.

Sampai berita ini diturunkan, Wahdah Islamiyah telah mendirikan posko relawan di 9 titik yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, dengan program utama SAR, Trauma Healing, layanan medis, dan distribusi logistik. (RH/FSY/SYM)

Jelang Akhir Masa Tanggap Darurat, BNPB: Korban Meninggal 2.045 Jiwa

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Menjelang hari-hari terkhir evakuasi korban gempa Sulteng, pencarian terhadap korban kian digencarkan oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB, maupun Relawan dan masyarakat.

Sutopo Purwo Nugroho, Kapusdatin & Humas BNPB menyatakan, penghentian evakuasi korban akan dilaksanakan pada 11 Oktober 2018 berdasarkan pernyataan wakil presiden yang merupakan koordinator dalam penanganan darurat bencana yang ditunjuk langsung oleh presiden.

Pada konferensi Pers yang digelarRabu(10/10/2018) BNPB melaporkan, sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali, sehingga pada saat korban ditemukan, Tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit. Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan.

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Tutur Sutopo.

Untuk korban luka hingga kemarin, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.

Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
Namun jika masyarakat menemukan mayat korban gempa diimbau untuk melaporkannya agar dicatat sebagai korban meninggal.

“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.” Ujar Sutopo. (Fry)

Evakuasi Korban Gempa Sulteng Dihentikan, BNPB: Yang Belum Ditemukan Dinyatakan Hilang

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan menghentikan masa tanggap darurat gempa Sulteng. Dengan demikian proses evakuasi korban juga dihentikan. Adapun korban yang belum ditemukan dinyatakan hilang, dan areal lokasi bencan dijadikan sebagai areal kuburan massal.

Dalam catatan BNPB pada konferensi Pers yang digelar, Rabu(10/10/2018) siang sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali. Sehingga saat korban ditemukan, tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit.

“Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan”, jelas Kapusdatin & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers kemarin, rabu (10/10/2018)

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Imbuh Sutopo.

Korban yang ditemukan sudah dimakamkan seluruhnya, 969 jenazah dimakamkan secara massal, sedangkan 1.076 lainnya dikembalikan kepada keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.
Untuk korban luka, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.”

Sebelumnya media ini memberitakan keputusan BNPB mengakhiri masa tanggap darurat gempa Palu dan penghentian evakuasli berdasarkan keputusan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

“Berdasarkan keputusan gubernur Sulteng, BNPB mengumumkan evakuasi tanggap darurat korban akan diakhiri pada tanggal 11 Oktober besok, sehingga untuk evakuasi korban yang masih tersisa akan di maksimalkan sebelum jatuh tempo”, ujar Sutopo saat Konfrensi pers,Rabu (10/10/2018).

“Karena Tim SAR juga punya tugas lain dalam hal penanganan bencana, maupun kemanusiaan, dan tempo pencarian korban juga kami menyesuaikan dengan undang-undang”, tuturnya.

Beberapa pertimbangan lain berdasarkan Rapat Koordinasi dengan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola adalah bahwa korban yang dievakuasi sudah banyak yang rusak dan sulit dikenali akibat kondisi jenazah yang sudah melepuh, sehingga begitu ditemukan langsung dimakamkan karena berpotensi menyebabkan penyakit.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga menyampaikan agar dipertimbangkan untuk tidak melanjutkan evakuasi, sehingga lokasi bencana diusulkan agar menjadi tenpat penguburan massal dan masyarakat akan dibangunkan tempat lain untuk tinggal diluar lokasi bencana. [fsy/sym].

Gempa Bumi Rusak Rumah Warga di Sumenep, Jawa Timur

Jawa Timur & Bali diguncang gempa bumi

Setelah Sulteng, Jawa Timur & Bali juga menjadi pusat gempa bumi berkekuatan hampir mencapai 7 dan menghancurkan beberapa rumah warga pada saat malam hari

(Jakarta) wahdahjakarta.com- Gempa bumi dengan kekuatan 6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) dini hari. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan , episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km. Gempa tidak berpotensi tsunami.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis , Kamis (11/10/2018) pagi menyampaikan bahwa sementara korban gempa adalah tiga orang meninggal dunia dan sejumlah rumah mengalami kerusakan.
“Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur. Data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan. Daerah yang
terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Semenep Jawa Timur”, jelas Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com.

Dinding salah satu rumah warga Jawa Timur yang terkena dampak gempa bumi tadi malam.

Selain itu beberapa rumah mengalami kerusakan. BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Sumenep masih melakukan pendataan. Kerusakan 25 rumah terdapat di:
– rumah rusak di desa Jambuir, Kec. Gayam Kepulauan sapudi- Sumenep
– rumah rusak di Kopedi Kec.Bluto – Sumenep
– rumah rusak di Kertasada Kec.Kalianget – Sumenep
– rumah rusak di Nyabakan timur Kec.Batang-Batang – Sumenep
– rumah rusak di Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep
– rumah rusak di Desa Pancor Kec. Gayam – Sumenep
– rumah rusak di Desa Nyamplong Kec. Gayam – Sumenep
Selain itu terdapat satu Masjid rusak di Desa Gendang Timur Kec.Sepudi – Sumenep.
Gempa M6,4 yang kemudian telah dimutakhirkan menjadi M6,3 oleh BMKG terasa di seluruh wilayah Jawa Timur meliputi Kabupaten/Kota Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, Kab. Probolinggo, Kota Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kab. Pasuruan Kota Pasuruan, Kota Batu, Kota Malang, Kab. Malang, Kab. Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Kab. Mojokerto, dan Kota Mojokerto.
Guncangan gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Sumenep dan Situbondo selama 2-5 detik. Masyarakat berhamburan keluar rumah. Sedang di daerah lain gempa dirasakan sedang selama 2-5 detik.
“Berdasarkan analisis peta gempa dirasakan, intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan”, terang Sutopto.
“Artinya gempa dirasakan ringan hingga sedang. Secara umum tidak banyak dampak kerusakan akibat gempa”, Pungkasnya.
Sutopo menambahkan, posko BNPB terus memantau perkembangan dampak gempa dan penanganannya. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi:
1) Kalaksa BPBD Kabupaten Sumenep (Rahman 0812-3530-146).
2) Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur (Suban, +62811328601).

Gempa Bumi M6,4 Guncang Jawa Timur dan Bali, 3 Orang Dikabarkan Meninggal Dunia

Keadaan rumah warga di Sumenep, Jawa Timur

Keadaan rumah warga di Sumenep, Jawa Timur pasca gempa 6,4 SR tadi malam, kamis(11/10/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com- Gempabumi dengan kekuatan magnitudo M6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) pukul 01.57 WIB. BMKG melaporkan episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km.
“Gempa tidak berpotensi tsunami”, Kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis kepada wahdahjakarta.com, Kamis (11/10/2018) pagi.
“Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur. Data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan. Daerah yang terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Sumenep Jawa Timur”, jelas Sutopo.

Tampak dalam salah satu rumah warga pasca gempa tadi malam.

Tiga orang meninggal dunia adalah (1) Nuril Kamiliya (L/7) (Warga Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep), (2) H. Nadhar (P/55) Dsn. Jambusok, Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep, dan (3) Laki-laki Dewasa yang identitasnya masih identifikasi.
“Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari saat korban sedang tidur tiba-tiba gempa mengguncang dan rumah roboh sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri”, Pungkasnya. [fry/sym].

Relawan Wahdah Islamiyah Gelar Terapi Psikososial Kepada Anak-anak Korban Gempa

Relawan Wahdah Islamiyah sedang memberikan terapi psikososial kepada anak-anak korban Gempa

Relawan Wahdah Islamiyah sedang memberikan terapi psikososial kepada anak-anak korban Gempa

(PALU) wahdahjakarta.com,- Relawan Wahdah Islamiyah yang merupakan gabungan dari Wahdah Peduli dan LAZIS Wahdah menggelar kegiatan Psikososial kepada anak-anak korban Gempa di Posko I Wahdah Islamiyah, Jalan WR. Supratman, Palu, Selasa (9/10/2018).

Kegiatan yang dilakukan berbentuk permainan edukasi untuk mengembalikan psikologi atau kondisi kejiwaan anak seperti sedia kala.

Rustam Hafid selaku relawan Wahdah Islamiyah mengatakan, kegiatan ini dikhususkan bagi anak-anak korban gempa yang memang mengalami perubahan dalam tingkah laku sosialnya.

“Alhamdulillah hari ini kami mulai dengan penuh antusias oleh anak-anak. Insya Allah besok akan dilanjutkan lagi dengan tambahan item, seperti menggambar, mewarnai dan games edukasi lainnya,” ujarnya, Selasa (9/10/2018).

Rustam melanjutkan, kegiatan ini akan dilakukan secara berkala dengan motivasi-motivasi kepada anak, menyesuaikan pada kondisi mereka yang suka bermain.

“Anak-anaknya suka bermain, jadi kami masuk melalui permainan, tentunya dengan mengedepankan edukasi,” tuturnya.

Terapi ini adalah salah satu Program Relawan Wahdah Islamiyah di lokasi terdampak gempa, selain distribusi logistik, SAR dan pelayanan kesehatan.

Menurut data BNPB, Sampai berita ini diturunkan, terdapat 82.775 jiwa warga yang mengungsi di 112 titik di Sulteng, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. (fry)

Ustadz Ikhwan Jalil: Kembalikan Palu Ke Pangkuan Bumi Hijrah

Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil

Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil (memakai tas ranse) dan Ustadz Jahada Mangka, sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri Palu, Selasa (09102018) saat menjafi Relawan Trauma Healing untuk korban gempa Sulteng.

SIGI – Bencana alam yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah ta’ala yang harus semakin menambah keimanan setiap manusia, khususnya orang-orang yang berada dekat dengan lokasi kejadian.

“Adalah sebuah kerugian jika tanda kekuasaan Allah ta’ala ini sama sekali tidak menambah keimanan kita. Maka untuk kita yang hadir, mari memperbanyak dzikir agar hikmah peristiwa ini tidak berlalu begitu saja,” ungkap Ustad Muhammad Ikhwan Jalil di hadapan seratusan relawan Wahdah Islamiyah di Kecamatan Tinggede, Kabupaten Sigi, Selasa (9/10/2018).

Beliau juga mengajak, untuk memperbanyak membaca Alquran serta menghafalkannya. Sebab menurut dia, Alquran akan memperkuat jiwa para relawan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaannya.

Anggota Dewan Syariah Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah ini juga menghimbau untuk memperkuat persaudaraan agar tercipta kesolidan kerja.

“Ketua divisi harus mengenal anggotanya, demikian pula setiap anggota sesama relawan, harus saling mengenal. Inilah salah satu asas keberadaan kita disini,” pesannya.

Dalam penyampaiannya juga, ustad Ikhwan menambahkan masalah penting yang menjadi fokus relawan Wahdah, yakni bukan hanya memberikan makanan raga kepada Korban terdampak gempa, namun juga makanan ruhani.

“Ini kekhasan kita. Maka mari kita bumikan salah satu jargon yang menjadi asas kehidupan seorang Muslim, yakni Dakwah dan Tarbiyah. Bersama kita kembalikan Palu ke pangkuan bumi Hijrah,” terangnya bersambut takbir para relawan.

Sambutan sekaligus ceramah dari Juru Bicara Forum Umat Islam Bersatu Sulawesi Selatan (FUIB Sulsel) ini merupakan sambutan perdana sebagai Kordinator umum relawan Wahdah Islamiyah, yang sebelumnya dipegang oleh Ustad Iskandar Kato, yang bertugas sepekan di lokasi terdampak gempa.

Selanjutnya, ustad Ikhwan akan bertugas mengoordinir kinerja relawan WI selama masa penanggulangan musibah bencana gempa bumi Palu dan sekitarnya. (Fry)

Wahdah Islamiyah Kembali Kirim Relawan ‘Pasukan Hijau’ Ke Sulawesi Tengah

Pasukan Hijau Wahdah Islamiyah

“Pasukan Hijau” yang dikirim oleh DPP Wahdah Islamiyah untuk membantu evakuasi korban gempa SulTeng

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com– “Selamat bergabung dalam ‘Pasukan Hijau’ Wahdah Islamiyah,”
demikian ucapan Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz DR. Rahmat Abdul Rahman, Lc. MA saat apel pelepasan relawan Wahdah Islamiyah di halaman kantor DPP WI, Jl. Antang Raya, no 48, Makassar, Selasa (9/10).

‘Pasukan Hijau’ sendiri adalah istilah yang merujuk pada relawan Wahdah Islamiyah dengan ciri khas pakaian warna hijau.

Ustadz Rahmat berpesan agar para relawan senantiasa menjaga keikhlasan. “Tugas kemanusiaan yang ikhwah sekalian akan laksanakan adalah bagian dari jihad fii sabilillah. Maka luruskan niat, perbaiki tujuan dan maksud antum semua” pesan Ustadz Rahmat.

Jihad yang dimaksud, lanjut ustadz Rahmat, bukan jihad dalam artian perang, namun untuk membantu sesama umat manusia.

Apel relawan di depan gedung DPP Wahdah Islamiyah.

Selain persiapan fisik, para relawan juga harus mempersiapkan mental dengan baik untuk menghadapi kondisi yang terburuk sekalipun. “Kondisi di sana mungkin tidak sesuai dengan bayangan antum sebelumnya, makanya jangan kaget, tetapi harus siap dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja antum hadapi di sana,” kata ustadz Rahmat.

Menjelaskan kondisi di lokasi terdampak gempa Sulteng, menurut Ustadz Rahmat bahwa masih ada lokasi-lokasi pengungsi belum tertangani dengan baik, mereka masih kekurangan makanan dan minuman. Untuk itu diharapkan agar relawan bekerja dengan koordinasi yang baik dengan relawan yang telah ada di sana dan juga pihak pemerintah.

“Lihat titik-titik lokasi yang belum mendapat bantuan. Kita masuk ke pelosok-pelosok dimana belum disentuh oleh relawan-relawan dari organisasi lain. Masuk ke sana, antarkan bantuan, buat mereka tersenyum. Minimal mereka merasa bahwa mereka punya saudara yang memberikan kepedulian dan perhatian kepada mereka,” kata ustadz Rahmat penuh haru.

Koordinator pengiriman relawan Ustadz Taufan Djafri mengatakan, hari ini akan diberangkatkan relawan sebanyak 66 relawan dengan rincian 48 relawan yang akan bertugas di dapur umum, distribusi bantuan dan evakuasi, 8 orang relawan medis yang terdiri atas Dokter dan Perawat, serta 10 orang relawan Trauma Healing.

Relawan ini akan menjadi tenaga tambahan bagi 150 relawan Wahdah Islamiyah yang telah bertugas di kota Palu, kabupaten Sigi dan kabupaten Donggala.[]

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Palu (Wahdahjakarta.com)- Memasuki hari ke-12 pasca gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah dapur umum Posko Induk  Wahdah Islamiyah di Tinggede, Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah terus beroperasi melayani kebutuhan konsumsi pengungsi dan relawan.

“Alhamdulillah bahan makanan untuk Dapur Umum sementara masih aman”. Ujar Mistam Fahmi Ahmad (51), juru masak Posko induk Wahdah Islamiyah Palu, Selasa (09/10/2018)

Untuk menghindari kebosanan Mistam berusaha meramu dan mengolah bahan makanan secar variatif. “Meramu bahan makanan ini untuk jadi menu yang berbeda setiap harinya agar tidak bosan yang jadi tantangan.” Ujarnya kepada Tim Media Lazis Wahdah.

 Dapur Umum Wahdah Islamiyah

Menu sederhana Dapur Umum Wahdah Islamiyah. Dapur umum ini melayani kebutuhan konsumsi pengungsi dan relawan

Menurut relawan Wahdah Peduli asal Majene ini bahwa dapur umum ini sangat penting. Menjaga asupan nutrisi untuk pengungsi, juga untuk relawan yang hingga saat ini masih terus bertugas agar tidak drop akibat kecapean.

Saat ini setiap harinya Dapur Umum mengolah 100 kg beras. Makanan siap saji seperti abon dan ikan kering dari para dermawan pun sangat membantu. [Anas/Sym].