UBN Serukan Pembelaan Terhadap Muslim Uyghur

(Jakarta) wahdahjakarta.com –, Menyikapi penderitaan Muslim Uyghur dan kebijakan diskriminatif pemerintah Cina, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengimbau umat Islam Indonesia untuk terus menyuarakan pembelaannya kepada Muslim Uyghur.

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah mendoakan mereka agar dianugerahi rahmat kasih sayang serta diberikan perlindungan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Marilah sama-sama kita berdoa dalam shalat kita maupun dalam kesendirian kita, semoga saudara-sudara kita mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayang dari Allah Subhanahu wa ta’ala. serta perlindungan dariNya.

Ini adalah yang paling pertama dan utama, jangan pelit untuk berdoa, jangan pelit shalat dua rakaat untuk saudara-saudara kita,” ucap beliau dalam seruan Aksi #BelaMuslimUyghur di AQL Islamic Center, Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan, Kamis Malam, (20/12/18).

Ia juga menganjurkan ke seluruh pengurus masjid di Indonesia untuk melakukan qunut nazilah, serta himbauan kepada khatib jumat agar menyuarakan pembelaan terhadap Muslim Uyghur.

“Kami menganjurkan di seluruh masjid untuk melakukan qunut nazilah. Setidaknya dalam satu hari itu lima kali qunut nazilah. Juga kepada para khatib di seluruh Indonesia agar berbicara tentang pembelaan terhadap umat Islam Uyghur,” ungkap Pimpinan AQL Islamic Center tersebut.

Ulama  yang konsen di bidang tadabbur Qur’an itu menyerukan kepada peserta Aksi #BelaMuslimUyghur yang diadakan di depan Kedutaan Cina, Jakarta, maupun di kota besar lainnya agar menjaga adab, keamanan, kebersihan, ketertiban, peraturan, kedisiplinan, serta tidak merusak sarana publik dan tentu penuh kedamaian.

“Kepada semua yang tidak ikut, bisa ikut membantu saudara-saudara kita yang melakukan aksi dengan bantuan ekonomi, bantuan konsumsi, bantuan kesehatan, atau apa saja yang kita bisa bantu,” seru ustadz Bachtiar.

UBN juga menegaskan bahwa umat Islam harus punya nafas panjang. Beliau menjelaskan bahwa pembelaan terhadap Muslim Uyghur tidak boleh berhenti hanya pada aksi massa saja, namun setelahnya terus bergerak dari sisi media, advokasi dari sisi hukum, kerja-kerja kemanusiaa, dan bantuan ekonomi.

“Kalaupun besok (hari ini) dimulai dengan aksi massa, maka setelahnya kita akan terus bergerak dari sisi media, juga advokasi dari sisi hukum baik di tingkat nasional maupun bisa bergerak di tingkat internasional, kita juga akan bekerja secara kemanusiaan untuk mengirimkan tim investigasi dan memberikan bantuan kemanusiaan, juga kerja-kerja ekonomi apa yang bisa kami lakukan secara ekonomi untuk membantu saudara-saudara kita di Uyghur.” Jelas UBN.

Sebagaimana diberitakan luas oleh media massa internasional bahwa Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, Cina mengalami kebijakan diskriminatif dari pemerintah komunis Cina. Muslim Uyghur mcngalami penyiksaan, pengucilan, dan pelarangan menjanlankan ajaran agama mereka. Jutaan warga Muslim Uyghur dimasukknn ke kamp-kamp tahanan untuk menghapuskan dan menghilangkan identitas keislaman mereka.

Rencananya, Aksi #BelaMuslimUyghur akan digelar di depan kedutaan Besar (KEDUBES) China, Kuningan, Jakarta Selatan, (21/12), usai shalat jumat hari ini.

MIUMI Desak Pemerintah RI dan OKI Selamatkan Muslim Uyghur

Para pengurus MIUMI Pusat (dari kiri ke kanan); Ustadz Fahmi Salim (Wakil Ketua), KH. Hamid Fahmy Zarkasyi (Ketua) ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Ketua)

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengecam dan mengutuk tindakan diskriminatif pemerintah komunis Cina terhadap etnis Muslim Uyghur.

Hal itu merupakan pelanggaran keras terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum internasional, karena kebebasan beragama adalah salah satu Hak Asasi Manusia yang paling mendasar, sebagaimana ditegaskan oleh International Convenant on Social and Political Rights.

Oleh karena itu lembaga yang dipimpin KH. Hamid Fahmy Zarkasyi (ketua) dan Ustadz Bachtiar Nasir ini mendesak pemerintah Republik Indonesia (RI) dan negara-negara Islam anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam) untuk bersikap tegas terhadap Cina.

 “Mendesak kepada negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk segera BERTINDAK TEGAS TERHADAP PEMERINTAH CINA demi untuk menyelamatkan saudara-saudara Muslim Uyghur dari penderitaan mereka dan kembali mendapatkan hak-hak sipil mereka” jelas Hamid Fahmy Zarkasyi melalui siaran pers yang ditandatangi bersama Sekjen MIUMI,  Kamis (20/12/2018).

“Mendesak dan menuntut pemerintah Indonesia untuk memainkan perannya sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dalam membela nasib umat Islam di Uyghur, dan MEMBUAT PERNYATAAN SEBAGAI SIKAP RESMI PEMERINTAH dan umat Islam Indonesia yang mengecam dan mengutuk keras terhadap pemerintah Cina atas tindakannya yang snagat diskriminatif terhadap Muslim Uyghur”, imbuhnya.

MIUMI juga Menuntut pemerintah komunis Cina agar segera MENGHENTIKAN TINDAKAN DISKRIMINATIF DAN PELANGGARAN HAM terhadap Muslim Uyghur. Dan memberikan kebebasan bagi warga muslim Uyghur untuk menjalankan ajaran agamanya.

“Mengajak dunia Internasional untuk MENEGAKKAN HAM bagi seluruh umat manusia, dan memberikan tekanan kepada pemerintah komunis Cina untuk segera menghentikan tindakan diskriminatifnya terhadap Muslim Uyghur” lanjutnya.

Selanjutnya MIUMI Mendukung usulan Jerman yang mendesak PBB mengirim tim Komisi HAM untuk menginvestigasi pelanggaran yang dilakukan pemerintah Cina.

Terakhir Gus Hamid  menyeru dan mengajak seluruh tokoh  umat Islam dan tokoh nasional serta seluruh elemen umat dan bangsa untuk bersatu dan bergerak melakukan apa yang kita mampu untuk membela Muslim Uyghur. []

Tiga Hal yang Dapat Dilakukan Untuk Menolong Muslim Uighur Menurut Ustadz Farid

Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan berkaca mata)

(Bekasi) Wahdahjakarta.com – Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Farid Ahmad Okbah menyerukan tiga hal untuk membantu Muslim Uighur yang sedang terdzalimi oleh rezim komunis China.

“Melihat apa yang dialami Muslim Uighur mengharuskan kita untuk peduli,” katanya sebagaimana dilansir  dari Kiblat.net, Kamis (20/12/2018).

“Pertama,tekanan politik termasuk lewat demo kepada pemerintah China agar melindungi hak- hak beragama Uighur. Termasuk tekanan ekonomi dengan memboikot produk China secara bertahap,” tuturnya.

Pimpinan Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi ini melanjutkan, sikap kedua adalah memberikan dukungan materi sesuai dengan kemampuan.

“Ketiga, doa termasuk melakukan qunut nazilah setiap shalat fardhu,” tukasnya.

Sebagaimana diberitakan luas oleh media massa Internasional bahwa Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, China mengalami kebijakan diskriminatif dari pemerintahan komunis Cina.

Muslim Uyghur mengalami penyiksaan, pengucilan dan pelarangan menjalankan ajaran agama mereka. Jutaan warha Muslim Uyghur dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk menghapuskan dan menghilangkan identitas keislaman mereka. []

Pernyataan Sikap MIUMI Menyikapi Persoalan Muslim Uyghur

#AksiBelaMuslimUyghur

Pernyataan Sikap MIUMI Menyikapi Persoalan Muslim Uyghur

Sebagaimana diberitakan luas oleh media massa Internasional bahwa Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, Cina mengalami kebijakan diskriminatif dari pemerintahan komunis Cina. Muslim Uyghur mengalami penyiksaan, pengucilan dan pelarangan menjalankan ajaran agama mereka. Jutaan warha Muslim Uyghur dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk menghapuskan dan menghilangkan identitas keislaman mereka.

Menyikapi penderitaan Muslim Uyghur dan kebijakan diskriminatif pemerintah Cina ini, maka Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) :

  1. MENGECAM DAN MENGUTUK TINDAKAN DISKRIMINATIF pemerintah komunis Cina terhadap muslim Uyghur, yang merupakan pelanggaran keras terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum internasional, karena kebebasan beragama adalah salah satu Hak Asasi Manusia yang paling mendasar, sebagaimana ditegaskan oleh International Convenant on Social and Political Rights.
  2. Menuntut pemerintah komunis Cina agar segera MENGHENTIKAN TINDAKAN DISKRIMINATIF DAN PELANGGARAN HAM terhadap Muslim Uyghur. Dan memberikan kebebasan bagi warga muslim Uyghur untuk menjalankan ajaran agamanya.
  3. Mengajak dunia Internasional untuk MENEGAKKAN HAM bagi seluruh umat manusia, dan memberikan tekanan kepada pemerintah komunis Cina untuk segera menghentikan tindakan diskriminatifnya terhadap Muslim Uyghur.
  4. Mendesak kepada negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk segera BERTINDAK TEGAS TERHADAP PEMERINTAH CINA demi untuk menyelamatkan saudara-saudara Muslim Uyghur dari penderitaan mereka dan kembali mendapatkan hak-hak sipil mereka.
  5. Mendukung usulan Jerman yang mendesak PBB mengirim tim Komisi HAM untuk menginvestigasi pelanggaran yang dilakukan pemerintah Cina.
  6. Mendesak dan menuntut pemerintah Indonesia untuk memainkan perannya sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dalam membela nasib umat Islam di Uyghur, dan MEMBUAT PERNYATAAN SEBAGAI SIKAP RESMI PEMERINTAH dan umat Islam Indonesia yang mengecam dan mengutuk keras terhadap pemerintah Cina atas tindakannya yang snagat diskriminatif terhadap Muslim Uyghur.
  7. Menyeru dan mengajak seluruh tokoh umat Islam dan tokoh nasional serta seluruh elemen umat dan bangsa untuk bersatu dan bergerak melakukan apa yang kita mampu untuk membela Muslim Uyghur.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai wasilah untuk meringankan beban dan penderitaan saudara kita warga Muslim Uyghur di Cina.

 

Jakarta, 19 Desember 2018/11 Rabiul Akhir 1440

 

Dr. H. Hamid Fahmi Zarkasy, MA, M.Phil                                                  Bachtiar Nasir

Ketua Umum                                                                                                       Sekretaris Jendral

 

 

Tabligh Akbar Bersama Tokoh MIUMI

Tabligh Akbar Bersama Tokoh MIUMI, “Arah Perjuangan Ummat; Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”

Indonesia dan Umat Islam tak bisa dipisahkan.

Tak ada persoalan Indonesia yang lepas dari peran dan sumbangan Umat Islam. Oleh karena itu, sangat penting agar perjuangan umat di negeri tercinta ini selalu berada di arah yang benar. Arah yang menjamin Indonesia menjadi negeri berdaulat, sejahtera, kuat dan dalam ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengajak kaum muslimin di Bandung dan sekitarnya untuk bersama menjaga  “Arah Perjuangan Umat” bersama para Ulama dalam;

“TABLIGH AKBAR Tokoh MIUMI”

yang bertemakan; Arah Perjuangan Umat: Integrasi Keislaman dan Kebangsaan,  yang insya Allah akan dilaksanakan pada waktu dan tempat berikut:

📅 Sabtu, 22 Desember 2018 / 14 Rabiul Akhir 1440
🕰18.30 – 21.30 (Bada Maghrib)
🕌 Masjid Istiqamah, Bandung

Pembicara:
1. Ust. Bachtiar Nasir
2. Ust. Farid Okbah
3. Ustadz Jeje Zainuddin
4. Ustadz Mu’inuddinillah Basri

Hadiri, Ramaikan, Sebarkan dan Siapkan Infaq Terbaik!

Acara ini didukung oleh :
– Masjid Istiqamah
– AQL Islamic Center

#MIUMIBersamaUmat
#RoadShowMIUMI

Narahubung :
087714658988
082150359558

===============
💠 Suka, Ikuti & Bagikan
Instagram: @miumipusat
Twitter : @miumipusat
FB : MIUMI Pusat
Youtube : MIUMI PUSAT
www.miumipusat.org
= = = = = = = = = = = =

MIUMI: Jalan Kejayaan Ummat Adalah Dakwah, Bukan Politik Praktis

Sekjen MIUMI, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Wakil Ketua MIUMI yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) s pada tabligh Akbar di ajang Ummat Fest 2018, Makassar.

(Makassar) wahdahjakarta.com—Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjen MIUMI) Ustadz Bachtian Nasir (UBN) menyatakan,  satu-satunya jalan yang bisa ditempuh agar ummat ini jaya adalah dengan dakwah.

“Kami meyakini bahwa jalan kejayaan adalah dakwah bukan politik praktis,” ujarnya pada Tabligh Akbar, “Menuju Kejayaan Ummat, Hari Dimana Kita Bersama” di ajang Ummat Fest 2018, Makassar, Sabtu (15/12/2018).

Oleh karena itu ia bersama tokoh MIUMI lainnya menolak secara halus untuk terlibat dalam politik praktis sebagai juru kampanye.

“Makanya saya dengan ustad Zaitun ketika kemarin diminta untuk menjadi jurkam kami menolak. Ranah kami bukan politik praktis tapi politik moral,” tegasnya.

Pimpinan Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) ini mengatakan, keberpihakannya dalam politik praktis adalah mendukung yang berdiri di atas ilmu dan keadilan.

“Keberpihakan kita dalam politik jelas. Siapa yang berdiri diatas ilmu dan keadilan maka kita dukung. Siapa yang mrnyelisihinya maka kita lawan,” tegasnya yang kemudian disambut gema takbir dari para peserta.

Ummat Islam Indonesia kata UBN saat ini menjadi leading sektor persatuan dan kejayaan ummat Islam dunia.

“Ghiroh ke ummatan kita terhadap agama saat ini telah menanjak drastis, itu karena jiwa sosial ummat Islam yang kuat dalam persatuan,” imbuhnya. []

Ustadz Zaitun: Umat Islam Guru dan Pelopor Toleransi

Ustadz Zaitun Islam Sudah Lengkap dengan Nilai Kebangsaan

Ustadz Zaitun menyampaikan ceramah pada tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”, yang digelar di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, Sabtu (1/12/2018). Photo: Fadel

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan, penegakkan nilai-nilai Islam dalam konteks kebangsaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu telah dimulai oleh para pejuang yang memerdekaan negeri ini dari penjajahan.

“Perjuangan keumatan dan kebangsaan atau lebih lebih spesifik penegakan nilai-nilai Islam syariat Islam dalam konteks kebangsaan ini telah dimulai oleh para pejuang kita sejak perjuangan kemerdekaan mengusir penjajah”, ujarnya saat berbicara pada Tabligh Akbar MIUMI.

Tabligh Akbar MIUMI digelar di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan tema, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsan”, pada Sabtu (1/12/2018).

Menurut Ustadz Zaitun yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), tidak ada pertentangan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Karena sejak negeri ini merdeka para tokoh pendiri negeri ini yang terdiri dari para ulama telah berupaya mengintegrasikan keduanya.

“Dan para Ulama kita bekerja keras untuk mewujudkan dengan satu kalimat bagaimana kejayaan untuk Islam  dan sekaligus untuk Indonesia”, ungkapnya.

“Sebetulnya ajaran Islam itu sendiri sudah lengkap termasuk masalah kebangsaan, tetapi di Indonesia menjadi begitu menarik dan spesifik karena sebagian besar Muslim tapi ada sebagian kecil yang non muslim sejak sebelum kemerdekaan”, jelasnya.

Akan tetapi sambung Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini, umat Islam di negeri ini tidak mau menafikan non muslim sejak zaman itu. Karena hal itu merupakan bagian dari toleransi yang diajarkan Islam.

Oleh karena itu menurutnya umat Islam tidak perlu diajari tentang toleransi.

“Karena itu tidak usah mengajari kita tentang toleransi”, ucapnya yang disambut pekikan takbir ribuan jama’ah Tabligh Akbar yang memadati Masjid Al-Azhar.

Andaikan umat Islam tidak tahu toleransi, lanjut UZR sapaannya tidak maungkin mau hidup berdampingan dengan non muslim.

“Kalau kita tidak tahu  toleransi apa kita mau bersama-sama non muslim di Negeri ini?” tanyanya penuh retoris.  “Pasti tidak.” Tegasnya.

“Tapi karena kita adalah guru, pelopor toleransi sejak pagi turunnya Islam, bahkan yang lebih hebat lagi kita boleh berbuat baik kepada non muslim”, terangnya.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menambahkan tentang pentingnya mewujudkan kembali cita-cita para pendiri negeri ini.

“Kita semua ingin kembali bertekad mewujudkan cita-cita para pendiri negeri”, katanya.

“Cita-cita mereka mereka adalah Indonesia Jaya dengan syariat Islam dapat ditegakkan dengan sepenuhnya”, jelasnya.

Mantan Wakil Ketua GMPF Ulama ini menandaskan, mewujudkan Indonesia jaya dengan syariat Islam tidak bertentangan dengan pancasila dan kebhinekaan. “Justru itu adalah Pancasila yang asli”, pungkasnya. (sym).

Arah Perjuangan Umat; Politik Ditentukan Oleh Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com—  Dakwah umat Islam memiliki pengaruh terhadap politik umat Islam. Demikian pernyataan Pendiri Partai Masyumi Buya Muhammad Natsir, sebagaimana dikutip Sejarawan Persis Tiar Anwar Bachtiar pada Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat” yang digelar di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta, Sabtu (1/12/2108).

Hal itu disampaikan Kang Tiar dengan maksud meluruskan persepsi umat Islam tentang politik dan kekuasaan.

“Ketika berbicara kekuasaan, langsung meloncat pada masalah politik. Dahulu, ketika Masyumi dibubarkan pemerintah Soekarno, Buya Muhammad Natsir berkata, politik kita ditentukan oleh dakwah kita,” ujarnya.

“Sehingga sepanjang dakwah kuat dan kita berpegang pada ideologi maka insyaAllah Islam akan tetap jaya dan masa depan Indonesia adalah masa depan umat Islam,” tegasnya.

Maka dari itu, sambung Tiar politik kita tidak ditentukan oleh sebesar apa suara partai-partai Islam, tapi kekuatan dakwah Islam. Sepanjang dakwah tidak berhenti, Islam akan tetap jaya.

Ia menambahkan, pada masa kemerdekaan yang menumpahkan darah dan memunculkan identitas Indonesia adalah umat Islam.

“Setelah para ulama dan santri menggerakkan perlawanan melawan, maka kita punya definisi tentang apa itu Indonesia. Sebab, sebelumnya kita dinamai oleh orang Belanda sebagai Inlander,” tambahnya.

Kemudian, pada Abad ke-20 peran umat Islam dalam identitas kebangsaan di Indonesia semakin mengental. Saat itulah munculnya gerakan-gerakan islam semisal Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad.

“Oleh karena itu, jika bicara nasionalisme di Indonesia tanpa keislaman hal itu adalah nonsense,” pungkasnya.

Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan” digelar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Rencananya MIUMI akan roadshow ke beberapa kota di Indonesia untuk menggelar Tabligh Akbar tersebut.

Blue Print Kebangkitan Islam di Indonesia

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasui Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

Blue Print Kebangkitan Islam di Indonesia

(ustadz Fahmi Salim)

 

Niat dan tekad sudah terpasang sejak semalam saat tiba di rumah dari perjalanan dakwah Milad Muhammadiyah ke 106 di Kota Jambi..

Baju dan perlengkapan sudah disiapkan untuk berangkat sebelum subuh ke Monas membaur bersama lautan massa umat Islam pagi ini 212 2018..

Namun apa daya, pukul 02.30 dini hari saat bangun mendapati kaki kanan saya bengkak antara tumit dan mata kaki sebelah kiri. Ya Allah sulit digerakkan dan sakit rasanya..

Sedih sekali akhirnya urung dapat hadir di Monas pagi ini..

Namun saya mengamati terus pantauan media sosial dan live streaming youtube dsb..

Luarr biasa..

Umat Islam Indonesia pantas memimpin kebangkitan dunia Islam..

Setelah perjuangan politik, lanjutkan perjuangan ekonomi pribumi yg berdaulat, kuatkan pilar2 iptek utk memajukan bangsa dan negara..

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Saya optimis kebangkitan Islam dr Indonesia bukan isapan jempol. Ini salah satu buktinya. Tinggal siapa tokoh2 ulama dan cendekiawan yg merawat dan mengarahkan kebangkitan Islam dr Indonesia ini? Kita memerlukan blue print spt buku2 yang ditulis oleh Syekh Yusuf Qardhawi hafizhahullah seputar ترشيد الصحوة الإسلامية yg menjadi rujukan aktifis2 Islam di timur tengah

Disini saya melihat peran para tokoh ulama MIUMI sangat penting untuk mengawal dan mengarahkan shohwah Islamiyah ini karena selain mumpuni dalam bidang keilmuan masing2 dan diakui integritas moral dan dakwahnya ditengah ummat, juga mewakili kemajemukan mazhab Sunni yang ada berkembang di tanah air. Ukhuwah Islamiyah harus menjadi asas dan lem perekat bagi lapisan-lapisan ummat yang sedang bangkit untuk menjaga Izzah dan Wihdatul Ummah nya.

Para ulama muda Indonesia dari seluruh nusantara harus segera berkumpul merapatkan barisan menyusun blue print kebangkitan Islam dr Indonesia ini. Kalau bukan MIUMI siapa lagi? Kalau bukan kita siapa lagi? Maukah kita singsingkan lengan baju, menyiapkan dasar pondasi kebangkitan Islam sebagai amal jariyah bagi anak cucu kita kelak? Sedekah ilmu nilainya lebih dahsyat dari ibadah shalat sunnah dan sedekah harta di jalan Allah.

 

Nashrun minallah wa fathun qorib, wa Basyyiril Mu’minin..

 

Pekojan, 2 Desember 2018 dari sudut ruangan rumah sambil menyantap sarapan pagi buatan permaisuriku

 

Akhukum fillah

Alfaqir Fahmi Salim

Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasui Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat, MIUMI Tegaskan Penguatan Dakwah

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Ribuan umat Islam berkumpul di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru Jakarta  Selatan, pada Sabtu (1/12/2018) malam untuk mengikuti Tabligh Akbar bertema “Arah Perjuangan Umat, Intehrasi Keislaman dan Kebangsaan”.

Kegiatan ini digelar oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) untuk merumuskan peta perjuangan umat Islam ke depan.

Dalam kesempatan ini, Tokoh Persis Tiar Anwar Bachtiar menegaskan Indonesia berhutang kepada perjuangan Ulama dan Umat Islam.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kata Tiar, para ormas Islam telah eksis dan berjuang membebaskan Indonesia dari tangan penjajah Belanda.

“Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” ujar Doktor Sejarah UI ini seperti dikutip INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi JITU.

“Maka kalau ada yang bilang Pancasilais tapi minus Islam itu adalah omong kosong,” tegas Tiar yang juga pengurus MIUMI Pusat.

Tiar juga menegaskan bahwa kekuatan politik Islam ditentukan dari sejauh mana dakwah umat Islam itu sendiri.

“Sekarang capres mana yang tidak butuh suara umat Islam, itu karena kekuatan masyarakat sipil umat Islam, bukan parpol,” jelas dia.

Karena itu, lanjut dia, Mohammad Natsir menyerukan para petinggi Masyumi untuk menguatkan dakwah saat Masyumi dibubarkan.

“Kemenangan umat Islam landasannya adalah ideologi dan gerakannya adalah dakwah,” tukas Tiar.

Menyambung pernyataan Tiar, Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal menegaskan bangsa Indonesia tak perlu ada ketakutan dengan kalimat takbir di negeri ini.

Sebab negeri ini dibebaskan dengan kalimat takbir dan tauhid.

Sementara itu, Direktur INSISTS Henri Shalahuddin menekankan pentingnya umat Islam melakukan kaderisasi pemuda.

Dia juga menyoroti masuknya ajaran feminisme dan keseteraan genda yang meracuni pendidikan hari ini.

Untuk itu, Henri menyarankan agar ormas Islam membuat roadmap perjuangan Islam bagi kejayaan umat.

Sejumlah tokoh lintas ormas Islam seperti Bachtiar Natsir (AQL), Jeje Zainuddin (Persis),  Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah),  Zain An Najah (DDII), dan lain sebagainya. (SM/sym)