Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

(Jakarta) wahdahjakarta.coom-,  Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke.V resmi ditutup pada Jum’at (06/07/2018).

Penutupan  agenda tahunan Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  yang  menutup resmi gelaran Multaqo ini secara resmi.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin multaqa kali ini mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah multaqa tahun ini mengalami peningkatan dari sebelumnya, baik dari sisi pelaksanaan maupun kepesertaan”, ucapnya.

“Multaqa kali dihadiri oleh utusan dan perwakilan berbagai ormas dan lembaga Islam di Indonesia seperti; Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Persis, dan sebagainya”, imbuhnya.

Sementara Gubernus Anies dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Multaqa ini dapat terus berlangsung dan berharap agar penyelenggaraan berikutnya semakin lebih baik lagi.

Menurutnya, pertemuan itu penting karena dihadiri oleh para ulama dari banyak negara.

“Kita bisa merasakan dari dekat kehadiran ulama dari berbagai belahan dunia ini,” ujarnya.

Secara khusus, Anies juga menyampaikan apresiasinya kepada utusan da’i dan ulama dari Indonesia yang telah memberikan warna di kancah dunia.

“Saya ucapkan terima kasih telah ikut membawa nama umat Islam Indonesia,” terangnya.

Multaqa tersebut juga menghasilkan 10 poin rekomendasi. Diantaranya adalah bagaimana memperkuat Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan internasional.

Untuk merealisasikan seluruh keputusan dan rekomendasi  forum multaqa ini Multaqa mengamanahkan dibentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Pertemuan yang digelar selama empat hari sejak Selasa (3/8/2018) dihadiri oleh sebanyak 600 ulama dan da’i dari Indonesia , Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. []

Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

Ustadz Zaitun

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memandu Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Bachtira Nasir, dan Ustadz Abdul Shomad

Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

 

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Pada Kamis (05/07/2018) yang merupakan malam puncak acara Pertemuan (Multaqa) Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-5, para peserta menanti suatu momen yang ditunggu-tunggu. Yakni Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia; Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen MIUMI Pusat), Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat.

Para ustadz masyhur yang selama ini memenuhi ruang-ruang di media sosial, pada malam itu duduk di satu meja, bergantian berceramah di hadapan para ulama dan masyayekh dari berbagai negara, dan dengan intensif berbahasa Arab.

Dimoderatori Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, para ustadz yang ketika itu dipanggil dengan gelar “syekh” itu pun satu per satu menyampaikan risalah Islam dengan kekhasannya masing-masing.

“Syekh Bachtiar Nasir, Syekh Abdul Somad, dan Syekh Adi Hidayat,” Ustadz Zaitun Rasmin memanggil satu per satu ketiganya ke atas panggung.

Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) diberi giliran pertama dan berbicara tentang persatuan dan lemahnya kondisi umat Islam saat ini dalam politik, ekonomi, dan bidang strategis lainnya.

Dalam penjelasaannya, UBN mengutip kisah terkenal ulama Mesir Syekh Mutawalli As-Sya’rawi yang menjawab pertanyaan seorang orientalis mengenai kebenaran Al-Quran. Cukup singkat ceramah UBN pada malam itu.

“Saya meyakini persatuan di antara kita, tidak akan pernah terjadi sebelum kita meng-upgrade status dari sekedar Muslimin menjadi Mu’minin,” ujar UBN, melansir Islamic News Agency (INA) kantor berita yang diinisiasi Jurnaslis Islam Bersatu (JITU).

Selanjutnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengawali ceramahnya dengan memperkenalkan diri kepada para masyayekh mengenai latar belakang pendidikan dan asal-usulnya.

Dalam ceramahnya, UAS membawa masalah perbedaan madzhab fikih dengan pembawaan yang ringan. Dia bahkan terkadang menyelipkan humor yang tak jarang membuat para peserta dan para ulama yang lengkap dengan gamis dan kefiyyehnya itu tak mampu menahan tawa.

“PERSIS, NU, Muhammadiyah semuanya adalah saudara kami. Perbedaan-perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’iyah (cabang) bukan ushuliyah (landasan atau dasar-dasar agama),” ucap UAS.

Sementara Ustadz Adi Hidayat (UAH), dengan gaya bahasa yang puitis, yang didukung dengan penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang dikontekstualisasikan dengan sejarah Islam di Nusantara berkali-kali membuat para peserta berdecak kagum.

Seakan dia ingin berpesan, bahwa datangnya rahmat Allah ke Indonesia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran para ulama terdahulu yang telah menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Tanah Air.

UAH, yang memiliki latar belakang Muhammadiyah, secara fasih dapat menyebutkan silsilah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. “Keduanya merupakan dua bersaudara dari kakek buyut yang sama”, tegasnya.

Selain dihadiri ulama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga tak ingin melewatkan momen tersebut. Tidak seperti biasanya, Anies hadir tanpa berbicara di hadapan umum dan mengaku hanya ingin menikmati ceramah para ustadz. [ed:sym].

MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Zaitun saat Konferensi Pers Bedah RUU KUHP Terkai Masalah Keumatan

MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

(Jakarta) Wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menyelenggarakan diskusi “Bedah RUU KUHP Terkait Masalah Keumatan”, Selasa, (13/2/17) di Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center Jakarta.

Narasumber yang dihadirkan adalah Arsul Sani dari Komisi III DPR yang membidangi hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan keamanan, Prof. Euis Sunarti, dan Pakar Hukum Universitas Indonesia (UI) Dr. Neng Djubaedah, S.H, M.H, Ph.D.

Diskusi yang dihadiri anggota MIUMI pusat dan daerah serta perwakilan berbagai ormas Islam ini menghasilkan lima point rekomendasi berikut:

1. Mendesak Presiden dan DPR untuk menolak intervensi asing berkaitan dengan RKUHP demi harga diri bangsa Indonesia dan kedaulatan hukum nasional.

2. Mendukung perluasan makna beberapa pasal dalam RKUHP terkait perzinaan, perkosaan, dan perbuatan cabul sesama jenis.

3. Mendorong koordinasi dan konsolidasi antar wakil rakyat di DPR demi menjaga ideologi bangsa Indonesia (Pancasila).

4. Menghimbau umat Islam dan seluruh umat beragama untuk siap siaga menyambut seruan Ulama dan pemuka agama masing masing untuk membela hak-hak, nilai-nilai dan kedaulatan bangsa Indonesia.

5. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut mengawal proses perjuangan Iegislasi Nasional demi terwujudnya KUHP yang sesuai dengan PancasiIa dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Diskusi ini dipandu oleh Adnin Armas dan ditutup dengan konferensi pers yang dipimpin oleh Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir.

Dalam sesi konferensi pers Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin berharap rancangan undang-undang ini segera diselesaikan dan disahkan untuk meminimalkan madharat yang muncul. [ibw/sym].

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

Ustadz Zaitun Tabligh Akbar di Majid Al-Hikmah Pontianak

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

(Pontianak)- wahdahjakarta.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa ukhuwah merupakan modal kuat dalam perjuangan. Hal ini beliau katakan saat menyampaikan ceramah pada Tabligh Akbar “Merajut Persatuan dengan Dakwah dan Tarbiyah” di Masjid Al-Hikmah Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (27/01/2018).

“Ukhuwah adalah salah satu modal kuat dalam perjuangan, nikmat ukhuwah dan ittihad (persatuan) ini harus kita jaga karena perjuangan masih panjang”, ujarnya. “Saling berbantah-bantahan hanya akan saling melemahkan, sebagaimana dalam Al-Anfal”, imbuhnya.

Selanjutnya Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menguraikan tips menjaga ukhuwah dan mencapai tingkatan ukhuwah tertinggi. “Cara mencapai tingkatan ukhuwah yang tertinggi, yang pertama adalah dengan memperkuat iman”, terangnya. “Namun jangan tergesa-gesa menyatakan bahwa muslim yang berselisih itu tidak beriman”, lanjutnya.

Tips yang kedua menurut Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini adalah, jaga akhlaq. “Itulah hikmahnya dalam surat Al Hujurat ayat 10 dan beberapa ayat setelahnya Allah sebutkan berbagai permasalahan akhlaq yang perlu dijaga agar ukhuwah tetap kokoh”, ungkapnya.

Salah satu akhlaq buruk yang dapat merusak ukhuwah menurut Inisiator MIUMI ini adalah memberi label-label tertentu kepada sesama Muslim atau lembaga-lembaga dakwah. “Tetap bersangka baik kepada sesama lembaga dakwah atau aktivis Islam meskipun kita tidak sepakat dengan berbagai cara dakwahnya”, imbaunya. [ibw/sym]

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Pontianak (wahdahjakarta.com)– Para Ulama hendaknya tampil mengarahkan ummat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak Kalimantan Barat, Ahad (28/01) pagi.

“Sejarah perjuangan umat dan ulama di Indonesia menunjukkan bahwa mereka telah korbankan harta dan nyawa untuk memerdekakan negeri ini. Di masa orde lama dan orde baru sebagian ulama terpaksa menjauhi pusat kekuasaan. Namun Di zaman ini umat dan ulama tidak boleh terjebak dalam hal yang sama. Para ulama harus tampil di depan untuk mengarahkan ummat dan menjaga negara ini”, jelasnya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menambahkan bahwa hal itu dapat diwujudkan dengan mengembalikan fungsi dan peran Masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial, dan perjuangan. Menurutnya bahwa memang Masjid tidak selayaknya dijadikan tempat kegiatan politik praktis, tapi penyadaran dan pendidikan politik (siyasah syar’iyyah) kepada ummat.

“Di masjid ada larangan jual beli dan kegiatan politik praktis, namun masjid harus tetap menjadi tempat penyadaran siyasah syar’iyyah (Politik Islam), karena siyasah syar’iyyah adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam”, terangnya.

“Negeri ini adalah karunia Allah Ta’ala yang harus kita jaga dan pertahankan. Karena itu kita harus sungguh-sungguh, jangan sampai negeri ini hancur”, ungkapnya. “Kita buktikan bahwa umat Islam adalah yang paling tinggi nasionalismenya”, pungkasnya. [ibw/sym].

ustadz-zaitun-di-kantor-MUI

Ustaz Zaitun Ajak Masyarakat Hadir Pada Aksi Bela Palestina

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Jakarta-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengajak masyarakat memprioritaskan untuk hadir pada acara Indonesia Bela Palestina, Ahad (17/12) besok.

“Harap dijadikan prioritas”, imbaunya saat Press Conference jelang Aksi Indonesia Bersatu Bela Palestina di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Jakarta Selatan, pada Sabtu (16/12). “Korbankan acara yang lain untuk Palestina”, tandasnya. ” Karena kita datang untuk membela Palestina”, pungkasnya.

Aksi Indonesia Bela Palestina yang dipimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) ini diperkirakan akan akan dihadiri 3 juta massa. 70 Ormas Islam akan menurunkan massa masing-masing untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina yang dijajah oleh Zionis Israel. [ed:sym].

Ustaz Zaitun: Salah Langkah Trump Awal Persatuan Umat Islam Dunia

Ustaz Zaitun:  Salah  Langkah Trump  Awal Persatuan Umat Islam  Dunia
(Jakarta-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP-WI) Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin menyebut salah langkah yang dilakukan Donal Trump menyetujui penetapan Yerusalem memantik persatuan umat Islam dunia. “Saya yakin, salah langkah Trump itu sebagai awal persatuan umat Islam dunia”, ucap Ustaz Zaitun pada acara Orasi Kemanusiaan “Indonesia Bersatu Bela Palestina” di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (12/12).

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menegaskan pula bahwa hal itu merupakan salah satu tanda dekatnya kemenangan Islam. “Kemenangan Islam itu pasti dan sudah dijanjikan oleh Allah, orang-orang yang memusuhi Islam selalu dibuat salah langkah”, imbuhnya.

“Kita bersyukur kepada Allah yang membuat Donald Trump salah langkah”, terang ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini.
“Saya sudah mencium pembebasan Al-Aqsa. Dan gelombang persatuan umat Islam Dunia tidak akan berhenti sebelum Al-Aqsa dibebaskan”, pungkasnya. [sym]

Ustaz Zaitun: Bangsa Indonesia Cinta Persatuan


(Kendari-Wahdahjakarta.com)-Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara menyelenggarakan tabligh akbar di Masjid Al Kautsar, Kota Kendari pada Ahad, (10/12/2017). Tabligh akbar di masjid terbesar Kendari ini menghadirkan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustaz. Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pemateri utama.

Panitia memilih tema ukhuwah karena dipandang saat ini ikatan persaudaraan menjadi “critical point”. Satu titik kritis yang harus dijaga dan dikuatkan karena menyangkut solidaritas sesama muslim di tanah air maupun di seluruh dunia.

Ustaz. Zaitun mengawali dengan mengingatkan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu Al Quds Palestina. Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i ASEAN ini menghimbau agar umat Islam di Indonesia turut membantu saudara kita disana.

Ulama kelahiran Gorontalo ini mengecam keras tindakan Trump. “Keputusan Donald Trump yang menyatakan Al Quds sebagai ibukota Israel adalah tanda awal hancurnya Israel dan Amerika in syaa Allah,” tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa menguatnya ukhuwah di antara kaum muslimin diharapkan menjadi penguat persatuan sesama komponen bangsa di Indonesia. Dengan kata lain, ukhuwah diharapkan menjadi penguat “persatuan Indonesia”.
“Persatuan bisa kita lakukan lebih luas. Termasuk dengan non muslim. Contohnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saat tiba di Madinah. Persatuan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas dan mempertahankan Madinah dari gangguan luar,” tambah beliau.

Menurut beliau, adanya para perusak negeri ini bukan alasan untuk tidak mencintai negeri ini. “Di negeri ini memang ada para perusak dan perampok yang ingin menjualnya. Namun ini bukan menjadi alasan untuk tidak mencintai negeri ini. Pada dasarnya, bangsa kita adalah bangsa yang cinta persatuan. Sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Maka ini bisa menjadi modal penting bagi kita dalam mengupayakan kerukunan dan ukhuwah,” lanjut beliau.

Tabligh akbar sukses digelar dan dihadiri ribuan peserta. Sebagian berasal dari luar kota dan bahkan luar pulau, seperti Pulau Muna dan Buton. [ibw]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]

Resolusi Umat Islam Surakarta

Resolusi Islam Surakarta
Solo (wahdahajarta.com)- Ahad (19/11) Ummat Islam Surakarta menggelar pertemuan dan silaturrahim di Masjid Baitul Ma’mur Sukoharjo Solo Jawa Tengah. Pertemuan yang diinisiasi oleh Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Solo ini mengangkat tema Pemimpin Kebangkitan Peradan Islam.
Pertemuan ini dihadiri perwakilan tokoh ummat dari organisasi masyakat (ormas) Islam, para pengurus MIUMI Pusat dan daerah, serta elemen ummat Islam lainnya.

Dalam pertemuan ini dikeluarkan sebuah resolusi yang disebut Resolusi Islam Surakarta. Berikut naskah resolusi Islam surakarta yang terdiri atas empat poin utama.

Bersama Silaturrahim Tokoh-tokoh Ulama dan Umat Islam Surakarta yang dihadiri seluruh organisasi dan elemen umat Islam Surakarta, kami menyatakan:
1. Tokoh dan ulama umat Islam Surakarta bertekad untuk bersatu, bersaudara dan bersama-sama berjuang mewujudkan ummatan waahidah (umat yang satu) di bawah kalimat tauhid dan sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wasallam. Segala perbedaan tidak akan memecah belah hati kaum muslimin serta kita bingkai dengan toleransi dan kasih sayang.
2. Menolak dan melawan segala usaha memecah belah persatuan dan persaudaraan kaum muslimin.
3. Bertekad berjuang bersama-sama untuk menegakkan ajaran Islam dengan sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
4. Bertekad untuk memertahankan NKRI dan mengantarkan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang memberikan keteladanan dalam peradaban Islam.
Surakarta, 19 November 2017

[ibw/sym]