Di Konsolidasi Muslimah Wahdah, Ustadz Zaitun: Kadang Wanita Lebih Kuat dalam Pengambilan Keputusan

 

Konsolidasi Nasional Muslimah Wahdah jelang pembukaan Musyawarah Kerja Nasional Wahdah Islamiyah ke.11

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menghadiri Konsolidasi Muslimah Wahdah Islamiyah, di Makassar, Jumat (21/12/2018).

Dalam sambutannya Ustadz Zaitun menyampaikan pentingnya keterlibatan wanita dalam dakwah, termasuk dalam pengambilan keputusan terkait program dan strategi dakwah. Menurutnya kadang wanita lebih kuat dalam pengambilan keputusan.

“Dibalik kelembutan wanita, beliau adalah sosok makhluk yang sangat kuat. Sejarah mencatat dalam mengambil keputusan wanita terkadang lebih kuat, seperti halnya para shahabiiyah ada Sosok khadijah, Ummu Salamah dan wanita lainnya di sepanjang sejarah islam”, jelasnya.

Ia mengajak para pengurus Muslimah Wahdah untuk tetap istiqamah di jalan dakwah.  “Mungkin ada banyak jalan terjal kedepannya, tapi mari mengambil prinsip, saya akan terus berjuang di jalan Allah untuk meraih kemuliaan”, ujarnya.

Kegiatan yang mengusung Tema “ Sinergitas pergerakan muslimah wahdah Islamiyah menuju Visi 2030”, ini merupakan rangkaian kegiatan mukernas XI Wahdah Islamiyah yang akan berlangsung pada 22-25 Desember 2018 di Hotel Sahid Makassar.

Dilansir dari muslimahwahdah.or.id, konsolidasi digelar dalam rangka penyelarasan dakwah dan penguatan organisasi.

Konsolidasi ini dihadiri oleh 15 wilayah di Indonesia yang diwakili oleh para ketua Muslimah Wahdah tingkat wilayah dan daerah. Mereka berkumpul membahas tentang pengelolaan dakwah Muslimah untuk langkah pergerakan dakwah di 2019. []

Jelang Mukernas WI XI, 127 Ketua Muslimah Wahdah Konsolidasi di Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Menjelang perhelatan Musyawarah Kerja Nasional Wahdah Islamiyah ke.11 (Mukernas WI XI) ratusan Ketua Muslimah Wahdah (MW) seindonesia berkumpul di Makassar, Jum’at (21/12/2018).

Bertempat di Pusat Dakwah Muslimah Wahdah Islamiyah, 127 ketua muslimah wahdah Islamiyah Tingkat wilayah dan Daerah mengikuti kegiatan Konsolidasi  Nasional Muslimah Wahdah Islamiyah.

Kegiatan yang mengusung Tema “ Sinergitas pergerakan muslimah wahdah Islamiyah menuju Visi 2030”, ini merupakan rangkaian kegiatan mukernas XI Wahdah Islamiyah yang akan berlangsung pada 22-25 Desember 2018 di Hotel Sahid Makassar.

Menurut Wakil Ketua Muslimaah Wahdah Islamiyah, Ustadzah Nur Amsi Mahmud, konsolidasi nasional Muslimah Wahdah  Islamiyah ini diharapkan dapat  mensinergiskan komitmen para pengurus dakwah dan mengawal berbagai program dakwah yang berkualitas di daerah.

Kegiatan yang akan berlangsung dari  pagi hingga sore ini insyaaALLAh juga akan diisi dengan beberapa  agenda khusus muslimah diantaranya agenda  Keluarga Idaman pilar perjuangan oleh Ustadzah Herda Hasanah. Selain itu akan dilaksanakan pula pleno 4  komisi khusus untuk membicarakan sinergitas program kerja muslimah wahdah Islamiyah di tahun 2019. []

Sumber: Rilis Humas Muslimah Wahdah Pusat

Pemprov Sulsel Apresiasi Kiprah Dakwah Wahdah Islamiyah

Program-program LAZIS Wahdah sebagai salah satu supplier dalam perkembangan dakwah Wahdah Islamiyah maupun lembaga-lembaga dakwah lainnya.

(Makassar) wahdahjakarta.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (pemprov Sulsel) mengapresiasi kiprah Dakwah Wahdah Islamiyah di Sulawesi Selatan.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian (kabag) Keuangan Pemprov Sulsel, Andi Arwin saat menyampaikan sambutan pada pembukan pameran Ummat Fest 2018, Makassar, Jum’at (14/12/2018).

“Selama ini, apa yang dilakukan oleh Wahdah Islamiyah patut diapresiasi”, ujarnya di hadapan ribuan jama’ah yang memadati gedung Celebes Convention Center (CCC).

Menurutnya, Wahdah Islamiyah telah banyak berkontribusi bagi perkembangan dakwah di Sulawesi Selatan.
“Saya mewakili pak wagub meminta maaf karena tak bisa hadir menepati janjinya karena ada amanah mendadak dari bapak gubernur yang saat ini berada di Jepang,” ucapnya.

“Saya Kenal Wahdah saat di Palopo. Waktu itu saya juga sempat menjadi bagian pemerintah Palopo yang sudah bersinergi sejak lama dengan Wahdah,” paparnya.

“Kalau boleh saya minta izin. Saya mau bergabung dengan Wahdah dan membaktikan segala potensi saya untuk agama Allah dan Rasul-Nya,” tuturnya dengan tersenyum.

Dalam kegiatan Ummat Fest 2018 ini, Wahdah Islamiyah menghadirkan beberapa kegiatan keummatan. Diantaranya pameran produk, kuliner, talk show yang dipandu oleh sejumlah publik figur seperti Teuku Wisnu, Arie K. Untung dan Erwin Raja.

Menurut Ketua Panitia Gishar Hamka, perhelatan Ummat Fest 2018 merupakan kegiatan pertama dan terbesar di Makassar. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut dan memeriahkan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke.11 Wahdah Islamiyah yang digelar akhir Desember 2018. [sym]

700 Muslimah Hadiri Daurah Muslimah Wahdah Sulteng

Muslimah Wahdah

Ratusan tamu yang hadir dalam daurah akbar Muslimah Wahdah yang diselenggarakan di Kab. Sigi, Ahad(2/12/2018)

(Sigi) wahdahjakarta.com, 700an muslimah memadati tenda darurat di halaman SD Islam Terpadu Qurrata A’yun desa Tinggede, Kecamatan Marowa, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, Ahad (02/12/2018).

Para peserta hadir mengikuti kegiatan Daurah Muslimah yang digelar Muslimah Wahdah Sulteng dengan tema, “PASIGALA Bangkit, Bertauhid dengan Al-Qur’an.”

Program yang merupakan bentuk kepedulian sosial terhadap korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah

“Kegiatan Daurah Akbar ini merupakan satu di antara program pembinaan Muslimah Wahdah kepada ibu-ibu di tenda pengungsian kawasan Palu, Sigi, dan Donggala (PASIGALA) serta muslimah kota Palu yang tentu tidak terlepas dari wujud kepedulian Muslimah Wahdah terhadap musibah yang menimpa masyarakat PASIGALA khususnya ibu-ibu dan anak-anak.” ujar Uni, Ketua Muslimah Wahdah Daerah Palu

 Daurah Akbar ini juga merupakan ajang silaturahmi dan penguatan bagi masyarakat secara ruhiyah maupun jasadiyah setelah musibah yang menimpa wilayah Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu.

Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut kurang lebih 737 muslimah. Sebagian besar merupakan ibu-ibu binaan Muslimah Wahdah Peduli di 36 titik posko pengungsian yang tersebar di PASIGALA.

“Antusias yang tinggi membuat suasana daurah semakin bersemangat. Perbedaan usia, profesi dan asal daerah dari masing-masing peserta tidak menyurutkan kesungguhan untuk menyimak tausiah dan menyemarakkan yel-yel khas kegiatan.” Jelasnya.

Dalam kegiatan yang didukung penuh oleh Lazis Wahdah dan pengurus Mulimah Wahdah Sulawesi Tengah ini, para peserta disuguhkan beberapa materi dan motivasi yang menguatkan hati untuk bangkit, kembali mengingat Allah subhanahu wata’ala serta bersiap menjadi pribadi tangguh dalam menjalankan fase kehidupan pasca gempa.

Terakhir di penghujung acara, panitia menyiapkan makan siang bersama dan pembagian bingkisan berupa jilbab, gamis, dan beberapa item lainnya kepada peserta sehingga membuat suasana kegiatan semakin bersemangat.

“Ucap syukur yang tak terhingga atas terlaksananya kegiatan tersebut dan ucapan terima kasih kepada seluruh donatur dan pihak yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan segara urusan kita, memberkahi waktu, harta dan setiap jerih payah kita meniti jalan yang diridhoi-Nya.” tutup Uni.

Ribuan Muslimah Hadiri Silaturrahim Akbar Muslimah di Makassar

Silaturrahmi Akbar Muslimah, “Satu Hati, Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan,” di CCC Makassar, Ahad (2/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com— Ribuan Muslimah berkumpul di gedung Celebes Convention Center (CCC) untuk mengikuti  acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim bertema “Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan, Ahad, (2/12/2018).

Dalam kesempatan itu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Liestiaty F. Nurdin menyatakan bahwa wanita Muslimah, khususnya kaum ibu harus pintar, karena mereka dituntut mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

“Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba”, ucapnya di hadapann sekitar sepuluh ribuan Muslimah yang memadati hampir seluruh sudut ruangan gedung CCC.

“Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Muslimah Wahdah Pusat (MWP), Gerakan Muslimah Bisa dan Forus Majelis Taklim Wahdah Islamiyah ini bertujuan untuk membangun jiwa muslimah peduli dan cepat tanggap terhadap dakwah dan kemanusiaan.

Menurut keterangan tertulis panitia kepada wahdahjakarta.com, acara ini digelar untuk menyikapi fenomena bencana banyak menimpa Indonesia belakangan ini. Fenomena musibah dan bencana yang melanda menuntut peran semua pihak, termasuk kaum Muslimah dan Muballighat.

Menurut Majdah M. Zain, Rektor Universitas Islam Makassar yang turut dihadirkan sebagai nara sumber pada kegiatan ini, peran yang dapat dimainkan oleh Muslimah dan Mubalighah adalah amar ma’ruf  nahi munkar sebagai salah satu upatya mencegah bencana dan musibah.

“Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. Seorang pembawa amar ma’ruf dan mencegah perbuatan  buruk  atau nahi mungkar”, ujarnya.

Menurutnya seorang muslimah tidak boleh cuek terhadap kondisi di sekitarnya. Ia juga meluruskan persepsi sebagian orang yang berkata, “yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan”.

Senada dengan Ibu majdah Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah, Harisatipa Abidin  mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua.

Da’iyah dan aktivis kemanusiaan yang sempat terjun langsung sebagai relawan kemanusiaan Palu ini  mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa yang membuat para peserta turut larut dalam suasana yang disampaikan  oleh ustadzah.

Gerakan Muslimah Bisa yang digelar secara rutin oleh Muslimah Wahdah setiap 3 tahun atau 4 tahun sekali.

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Musliman Wahdah

Sepuluh Ribuan peserta Silaturrahmi Akbar Muslimah yang digelar Muslimah Wahdah, Ahad (2/12/2018)

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Gempa, gempa gempa…
Seketika wajahmu hadir menemani
Air mata tumpah
Mayat-mayat berteriak
Riuhan emosi
Runtuhlah hampir seluruh lautan
Yang dulunya kokoh

Kini sisa kenangan,
Lalu lihatlah takdir, kini menjadi buas
Menghisap hampir seluruh energi bumi
Dan yang tersisa hanyalah elupsi

“Hancur semua tidak ada yang tersisa kasian. Laa ilaaha ilallah Lailahaa ilallah. Apa yang bisa kau banggakan, kecuali ketakutan ini yang menjalar di tubuhmu. Insya Allah kita bisa lewati. Saya tidak terima! Hancur semua, hancur.”

Sementara di belahan bumi yang berbeda ada isakan tangis yang mengguncang
Penuh berderai
Bumi Syam…
Wahai semesta tanah kami telah dihancurkan
Wahai dunia tidakkah kau lihat, tanah kami telah direnggut kebebasannya
Wahai dunia kau tahu?

Lampu yang berkedap-kedip” tak henti-hentinya. Suara menggema terdengar di gedung siang itu. Saat sepenggal puisi teatrikal dan monolog yang ditampilkan. Memecahkan keramaian menjadi kesunyian yang terdengar khidmat hingga meneteskan air mata. Suara itu merasuk ke palung hati, merasakan keperihan. Perih ketika merasakan derita yang dirasakan oleh saudara seiman ketika di timpa sebuah bencana. Apabila anggota tubuh yang satu merasakan kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan. Seperti itulah diibaratkan sebuah ukhuwah yang terjalin antar sesama manusia.
Suasana begitu terasa padat di gedung Celebes Convention Center yang menandakan bahwa begitu antusiasnya para muslimah menghadari acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim dengan mengangkat tema satu hati satu aksi untuk dakwah kemanusiaan. Ahad, (2/12/2018)

Sekitar 10 ribuan muslimah yang hadir dalam kegiatan ini. Para peserta memenuhi gedung hingga hampir ke sudut-sudut ruangan. Meja registrasi tak henti-hentinya didatangi oleh membludaknya para peserta untuk dapat menghadiri acara ini. Bahkan dibatasi karena gedung sudah penuh tak ada tempat duduk lagi.

Sebelum teatrikal berlangsung, saat membuka acara secara resmi, suasana ketika itu terasa bersahabat.Ibu Liestiaty F. Nurdin istri Gubernur provinsi Sulsel mengungkapkan rasa terima kasih dan senangnya ketika di undang dalam acara yang mempertemukannya dengan para muslimah yang pesertanya di berbagai kalangan. “Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba. Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, ungkapnya”.

Ditambah oleh Dr. Ir. Majdah M. Zain M. Si Rektor Universitas Islam Makassar. Perempuan inspiratif dan cerdas ini, ketika di depan para peserta ia mengungkapkan setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. “Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubalgh. Seorang pembawa amal ma’ruf dan mencegah perbuatan nahi mungkar. Dalam artian jangan pernah berkata yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan. Bagaimanapun apapun itu sepatutnya selalu memberi kemanfaatan yang berguna bagi orang lain, kalau belum mampu cukuplah bagi keluarga kita sendiri, “ungkapnya.

Ustadzah Harisa Tipa Abidin, S. Pd, I sebagai Mubalighat, Inspirator Hijrah, Aktivis Dakwah dan kemanusiaan mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua. Ketika ustadzah mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa dan mencekap yang membuat para peserta turut merasakan oleh ustadzah.

Setelah acara usai, salah satu mahasiswi bernama Ani mengungkapkan rasa senangnya dapat ikut acara satu hati dan aksi kemanusiaan ia mengutarakan apa yang dirasakannya. “Saya mendapatkan sebuah hal baru dari acara ini. Teatrikal dan monolog yang begitu menyentuh benar-benar di jiwaku. Merasakan kesedihan dan rasa haru, hingga sempat meneteskan air mata,” ungkapnya sambil tersenyum

Acara yang menghadirkan hampir 10 ribu muslimah tentu bukanlah tak memiliki hambatan. Persiapan yang dilakukan itu sekitar 1 bulan sebelum acara berlangsung. Tak main-main panitia volunteer yang dikerahkan sekitar 350 orang dan 15 orang dari Event Organizer (EO). “Tindak lanjut dari acara ini sebagai respon dari problematika umat yang terjadi yang juga dinamakan sebagai Gerakan Muslimah Bisa yang biasanya diadakan 3 tahun atau 4 tahun sekali. Untuk acara ini, dalam acara yang selalu diadakan oleh Gerakan Muslimah Bisa ada hal-hal baru yang ditampilkan seperti teatrikal yang disajikan sebagai bentuk penggalangan dana dan donasi kemanusiaan, “Tutup Zelfia Amran Ketua EO.

Muslimah Wahdah Bakal Gelar Silaturrahmi Akbar Bersama 10.000 Muslimah

 

10.000 Muslimah bakal hadiri Silurrahmi Akbar Muslimah di CCC Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com – Musibah dan bencana yang mengguncang Indonesia akhir-akhir ini mengetuk hati para muslimah di Makassar.

Muslimah Wahdah Pusat (MWP), Gerakan Muslimah Bisa dan Forus Majelis taklim Wahdah Islamiyah bersama-sama mengusung kegiatan yang dapat menjalin sinergitas sesama muslimah bernama Silaturahim Akbar Muslimah Bisa dan Gema Majelis Ta’lim.

Dengan mengangkat tema “Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan” kegiatan ini akan menghadirkan 10.000 muslimah se-Makassar dan akan terselenggara di Celebes Convention Centre (CCC) pada 2 Desember 2018 mendatang.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun jiwa muslimah peduli dan cepat tanggap terhadap dakwah dan kemanusiaan. Dengan melihat fenomena bencana banyak menimpa Indonesia belakangan ini.

Dalam silaturahim panitia akan menyampaikan sosialisasi aksi cepat tanggap Muslimah Wahdah. Selain itu akan digelar pula seminar inspiratif dari muslimah inspiratif seperti Ustadzah Harisa Tipa Abidin, seorang Muballighah, Inspirator Hijrah, Aktivis Dakwah dan Kemanusiaan.

Akan hadir pula Dr Ir Majdah M Zain MSi aktivis dakwah dan kemanusiaan yang juga Rektor Universitas Islam Makassar (UIM). Selain itu, akan hadir sebagai Keynote Speaker dalam seminar ini Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan, Liestiaty F Nurdin.

Silaturahim Muslimah Akbar ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan visualisasi “Ketika Bumi Mengamuk”, penampilan syair-syair Dakwah dan Kemanusiaan, pameran produk muslim, dan pengukuhan Majelis Taklim Kota Makassar. Tak kalah pentingnya adalah donasi “Satu Hati Satu Aksi” Dakwah dan Kemanusiaan.

Zelfia Amran, selaku Ketua Event Organizer dari kegiatan ini mengungkapkan acara tersebut sebagai respon dari problematika umat dan kemanusiaan yang tidak pernah lepas dari kehidupan.

“InsyaaAllah berbagai hal yang menimpa bangsa bisa dicegah dan kita selesaikan dengan energi Satu Hati Satu Aksi Insyaa Allah Kita Bersama Menggalang Kebersamaan Untuk Dakwah dan Kemanusiaan,” jelasnya, Selasa (28/2018). (sym).

Sumber: Makassar.terkini.id.

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

Ibu Jamila (tengah) di Posko Pengungsian Muslimah Wahdah Islamiyah Makassar

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

(Makassar) wahdahjakarta.com– Rasa syukur tak henti-hentinya terucap. Karena ia dapat melahirkan anak ke empatnya dalam keadaan selamat. Merasa terharu perjuangannya dari kota Palu ke kota Makassar tidaklah mudah, meninggalkan tempat tinggal dan rumahnya yang hancur di Perumnas Baraloa Palu.

Seakan tak percaya bahwa atas kuasa Allah, ia dan keluarganya dapat selamat dari musibah itu. Masih teringat di benaknya saat gempa yang terjadi saat itu. ia bersama suami dan anak ketiganya tidak ada di rumah. Mereka berada di Swalayan. Sedangkan kedua anaknya ada di rumah.  Saat detik-detik kejadian,  ia masih di dalam Swalayan, karena lupa masih ada kebutuhan yang belum dibeli. Sementara suami dan anaknya di luar.

Saat mulai terjadi goncangan. Ia berusaha menyelamatkan diri bersama  suami dan anaknya tercinta. Saat masih tergoncang mereka masih berada di dalam swalayan. Sampai-sampai pengunjung yang juga terjebak di dalam saling memeluk satu sama lain, yang jumlah mereka sepuluh orang. Ia meyaksikan kejadian yang mencekam. Bangunan yang di atas menjadi ke bawah dan tanah yang berada di bawah naik ke atas. Tak lama kebakaran juga terjadi karena dari bawah tanah tersebut menimbulkan api. Untung saja dinding Swalayan itu terbuat dari kaca bukan tembok. Sehingga dinding kaca itu dihancurkan.

Terlalu panik,  mereka berlari menyelamatkan diri. bahkan ibu Jamila yang sementara hamil tua ternyata lebih kencang dibandingkan suaminya.  Bahkan ia juga tak sadar bahwa kondisinya sedang hamil.

Perjuangan tak sia-sia, mereka sekeluarga selamat. Kedua anaknya di rumah juga diselamatkan oleh salah satu saudaranya yang menginap di rumahnya.

Situasi yang tidak mendukung,  mereka memutuskan untuk ke Makassar dengan tumpangan Pesawat Hercules. Awalnya mereka mengungsi di posko pengungsian Asrama Haji. Tetapi kondisi tak kondusif akhirnya memutuskan untuk pindah ke posko pengungsian Muslimah Wahdah Islamiyah DPC Makassar yang berlokasi di jalan Abu Bakar Lambogo nomor 111, kota Makassar.

Atas idzin Allah Ta’ala Jamila melahirkan bayi perempuan dengan normal di Puskesmas Batua kota Makassar pada Selasa (10/10/2018) lalu. Selasa (16/10/2018) bayi ini diaqiqah di Posko Pengungsian  Muslimah Wahdah Peduli, dan diberi nama “Muslimah Wahdah”. (sym).

Lap: Infokom Muslimah Wahdah

Unik, Bayi Pengungsi Palu Ini Diberi Nama Muslimah Wahdah

Unik, Bayi Pengungsi Palu Ini Diberi Nama Muslimah Wahdah

(Makassar) Wahdahjakarta.com– Di balik duka musibah Palu, terpancar kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Ibu Jamila, salah satu pengungsi Palu di Posko Muslimah Wahdah (MW). Hadiah terindah di balik musibah yang menimpanya. Tepatnya  10 Oktober 2018, Pagi hari di Puskesmas Batua Kota Makassar, lahirlah seorang bayi anak ke empat dengan perjuangan yang tidak mudah.

Selasa (16/10/2018) bayi ini diakikah di Posko Pengungsian Muslimah Wahdah Jalan Abubakar Lambogo No. 111 Makassar.

Yang unik, bayi ini  riberi nama Muslimah Wahdah. Mengenai alasan  pemberian nama Muslimah Wahdah untuk bayi perempuannya ini,  Ibu Jamila mengungkapkan alasan menamainya Muslimah Wahdah karena tersimpan banyak kenangan di posko pengungsian Muslimah Wahdah.

“Mereka Tim Muslimah Wahdah Peduli ini terus dan terus mengurusi saya dari awal kedatangan di Asrama Haji Sudiang, proses kelahiran hingga acara akikah ini, setiap saat mereka ada untuk keluarga saya. Sampai  saya berfikir apakah mereka ini tidak  punya kerjaan selain saya diurusi. Kenangan terdalam, terindah dan sangat tak bisa terlupakan,” ungkap ibu muda berusia 33 tahun ini.

Dan tentunya paling utama,tambahnya, bahwa saya berharap agar kelak anakku bisa menjadi anak yang sholehah dan baik, seperti ummi-umminya para Tim Muslimah Wahdah Peduli di posko ini, yang telah banyak membantu kami

Dibalik musibah  ada hikmah di baliknya. Sebagai bahan pembelajaran untuk bisa menjadi orang yang lebih baik.

“Dari kejadian ini saya masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertaubat menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, “tutupnya.

Unik, Bayi Pengungsi Palu Ini Diberi Nama Muslimah Wahdah

Jamila, Ibu dari bayi “Muslimah Wahdah” bersama pengurus Muslimah Wahdah (MW), Selasa (16/10/2018)

Menurut Ketua Departemen Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah Ustadzah Herlinda, sejak ada informasi bahwa ribuan korban gempa mengungsi ke Makassar, maka kami segera bentuk tim relawan muslimah dan kordinasikan dengan cabang wahdah di makassar untuk memantau titik titik pengungsian

“Alhamdulillah tim awal kemarin meninjau lokasi pengungsian di Asrama Haji, melihat banyaknya pengungsi yang datang, tim akhirnya buka  15 titik pengungsian untuk menampung korban di 14 Kecamatan di Makassar,sampai akhirnya dibuka 100 titik pengungsian, jelas Ustadzah yang biasa disapa Ummu Iffah ini.

Terkhusus untuk kondisi Ibu Jamila,tambah Ummu Iffah, waktu itu relawan yang diterjunkan di Asrama haji, setelah kordinasi dengan pihak pemerintah, melihat Ibu Jamila dalam kondisi hamil tua, tim berinisiatif memindahkan perawatan ke tempat yang lebih kondusif sampai melahirkan.

“Tim Relawan Muslimah Wahdah diberi tugas khusus mengawal ibu Jamila sampai melahirkan, relawan muslimah diatur secara bergiliran melakukan pelayanan, ” tambahnya. [sym]

Laporan:Nisa (Tim Infokom Muslimah Wahdah Islamiyah)

Siapkan Relawan Trauma Healing, Muslimah Wahdah Gelar Pembekalan Psikososial

Muslimah Wahdah Pembekalan Trauma Healing

Siapkan Relawan Trauma Healing, Muslimah Wahdah Gelar Pembekalan Psikososial

(Makassar) wahdahjakarta.com – Departemen Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah menggelar Pembekalan Dukungan Psikologi Kejiwaan dan Psikososial pada relawan korban gempa Sulteng, Ahad (14/10/2018) lalu. Bertempat di Aula Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah Jl.Antang Raya, Makassar.

Menurut Ketua Departemen Sosial Muslimah Wahdah (MW) Ustadzah Herlinda, S.S, egiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk komitmen Muslimah Wahdah untuk berkhidmat kepada umat, untuk membekali para relawan muslimah dalam memberikan dukungan psikososial, bukan hanya kepada penyintas bencana Palu, tetapi juga kepada korban bencana lain yang terjadi nantinya.

“Melalui kegiatan ini diharapkan akan terbentuk tim-tim relawan bencana”, ujar Ustadzah yang akrab disapa Ummu Iffah yang juga koordinator Tim Muslimah Wahdah Peduli.

Menurut Narasumber pelatihan ini dr. Irma Santy, Sp.Kj, bahwa Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan psikologis dini ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang sudah diberikan pembekalan, tidak harus dari kalangan tenaga kesehatan.

“Muslimah Wahdah ini sangat berpeluang memberikan PFA”, tandas  dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Stroke Center RSKD Dadi Makassar ini.

Kegiatan PFA ini diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama dan dukungan psikososial kepada para korban gempa sehingga bisa mengurangi rasa trauma dan tidak berlanjut hingga konsultasi ke psikiater.

Lanjut dr.Irma, ada beberapa hal yang harus dihindari ketika berhadapan dengan korban gempa, diantaranya tidak bertanya tentang perasaan mereka atau hal-hal yang bisa membuat mereka semakin sedih. “Kita harus banyak mendengar cerita mereka dulu, jangan terlalu banyak bertanya, dan harus membuat mereka tenang.” Ungkap dr.Irma.

Kegiatan yang berlangsung selama setengah hari ini diikuti 150 peserta yang berasal dari beberapa daerah yakni Makassar, Maros, Gowa, Pangkep, Sidrap, Pinrang, dan Enrekang. Diantara mereka merupakan Tim Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah yang sebelumnya telah turun membantu dan menyapa langsung para korban gempa Palu yang tersebar di beberapa posko di Makassar.

Tim Muslimah Wahdah Peduli hingga saat ini telah mengunjungi dan memberikan bantuan kepada kurang lebih 1200 orang pada 100 posko yang tersebar di 14 kecamatan yang ada di Kota Makassar. (Qn/sym).

Sumber:Muslimahwahdah.or.id