Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Bagi anda para muslimah yang sedang bingung mengisi liburan akhir tahun kali ini ..
Yuks jangan sampai terlewatkan kesempatan berlibur penuh makna bersama Alquran
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Daftarkn diri anda segera dan dapatkan diskon 10% bagi 3 orang pendaftar pertama
ONLY MUSLIMAH
📶 Kuota Terbatas
📝 PERSYARATAN:
1. Muslimah usia 17-25, tahun
2. Mampu membaca Al Qur’an
4. Sehat jasmani & rohani
5. Tidak membawa anak kecil
🎯 TARGET :
3 JUZ 🎁 *FASILITAS
– Asrama – Makan 3x sehari – Pembimbingan hafalan dengan waktu yang intensif
– Mesin Cuci
📌 PENDAFTARAN :
1 – 15 Januari 2018
📩 Cara Daftar

  1. DAFTAR ONLINE
    Ketik NamaPeserta#Kampus#Alamat#
    Kirim ke 085331273578(SMS/WA)
    Ex: Maryam#UI#Cimanggis,Depok#
  2. DAFTAR LANGSUNG DI LOKASI

    📆 *MULAI PROGRAM*
    15-22 Januari 2018 🎀 INFAK PESERTA : Rp 300.000 ☎ *HUBUNGI* 085331273578 / 0217751254

📍LOKASI
RUMAH TAHFIDZ ASSAKINAH
jl. Fatimah bawah No 26 Rt 02 Rw 14 Kel.Kemiri Muka Kec. Beji Depok Jawa Barat
🏢Presented By
Rumah Tahfidz Assakinah
Yayasan Al Hijaz Al khaeriyah indonesia

relakan perpisahan ini

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai akhi, Allah mempertemukan kita dalam keadaanku sebagai muslimah yang sedang mencari cahaya kebenaran. Dan kehadiranmu selaksa tetes air di tengah gersangnya padang pasir. Seumpama sinar bulan purnama di pekatnya malam. Hari demi hari pun mulai terisi dengan perjumpaan demi perjumpaan. Sikapmu yang santun dan kata-katamu yang begitu sopan membuatku tertawan. Hampir setiap hari engkau mengirimkan untaian nasehat agar aku menjadi muslimah yang baik. Untaian nasehat yang memotivasiku untuk semangat belajar mengenal dien ini. Nasehat yang memotivasiku untuk ikut andil dalam gerak dakwah.

Jujur akhi, aku suka dengan rangkaian kata yang engkau tuliskan untukku. Bait-bait kata yang tak jarang membius hatiku, melambungkan anganku melintasi awan-awan impian. Tapi akhi …, kurasa cukup sudah semua itu, jangan engkau lanjutkan lagi. Karena aku sadar, hatiku mulai tercabik, mulai ternoda. Noda yang semakin bertambah ketika kubiarkan diriku hanyut dalam kebersamaan ini.

Wahai akhi, sungguh aku mendapat kebaikan dengan mengenalmu. Tapi aku sadar bahwa kedekatan kita bukan sesuatu yang halal. Jadi, demi cintaku padamu, biarkan aku berlalu. Usah lagi kata-kata pujian itu engkau kirimkan padaku. Usah lagi dering teleponmu memecah keheningan sepertiga malamku. Aku takut membuat Allah cemburu. Aku takut justru itu membuat sujud dan rukuk kita tak bemakna apa-apa di mata-Nya.

Duhai akhi, ikhlaskan aku berlalu darimu. Terima kasih atas beragam nasehat yang engkau maksudkan untuk menguatkan pijakanku di jalan keimanan ini. Terima kasih atas buku yang engkau pinjamkan dan hadiahkan padaku, yang telah turut andil mencerahkan hatiku dalam mengenal dien ini. Tapi aku tak menginginkannya lagi, akhi. Biarlah aku mengembara sendiri menyusuri taklim-taklim muslimah, bergabung dengan saudari-saudariku dalam majelis tarbiyah untuk menambah pemahaman keislamanku. Kurasa pilihan ini lebih menentramkan dan menjaga hatiku dari desiran-desiran aneh yang sulit kutepis.

Duhai akhi, relakan perpisahan ini terjadi. Usah lagi engkau menghubungiku untuk bertanya kabar ataupun menguatkan semangatku. Usah lagi engkau memintaku untuk membantu dakwahmu. Ajaklah para ikhwan agar engkau dapat membina dan mengkader mereka. Dan biarlah aku berta’awun dengan saudari-saudariku dalam mengusung dakwah ini. Bukankah hal itu lebih menjaga hati kita dari hujaman panah setan yang menyakitkan? Panah yang ketika sudah terlanjur menancap, sakitnya tak terdefinisikan, dan saat dicabut pun sakitnya begitu menyiksa.

Wahai akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi engkau sihir aku dengan kata manismu, bahwa aku begitu berarti bagimu. Jika memang engkau ingin, pinanglah aku, akhi, agar halal rayuanmu untukku. Tapi jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi penjaga hati kita.
Wahai akhi, relakan kepergianku. Jangan berati langkahku yang berusaha menjauh darimu. Justru karena cintaku padamu perpisahan ini kupinta, agar hati kita tetap terjaga untuk selalu dalam ketaatan pada-Nya. Meski terlalu halus setan memoles hubungan yang tak wajar di antara kita, tapi hatiku selalu menjerit dan tersiksa. Meski engkau berkata bahwa semua baik-baik saja, tapi hatiku tak bisa menerima jalinan yang terasa janggal ini. Jalinan yang kurasa seperti membangun istana pada salah satu sisinya, tetapi merobohkan pada sisi lainnya. Biarlah semua ini berakhir akhi, karena begitulah yang seharusnya. Biarlah kutitipkan rasa ini pada-Nya, agar noda-noda di hatiku dapat terkikis. Agar ketenangan hati dapat kurengkuh kembali.

Selamat tinggal akhi. Semoga senantiasa berderap di jalan dakwah dengan kelurusan niat dan kebersihan hati. Semoga tidak ada lagi hati yang ternodai.

[ummisanti/sym]

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan seorang muslimah terletak pada aqidahnya yang tertancap kuat, menghujam ke dalam hati. Prinsip keimanan yang tak mudah goyang oleh gerusan zaman. Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi. Yang dengannya dia menjadi Muslimah merdeka dan terbebas dari penghambaan kepada makhluk. Yang dengannya dia teguh di atas kebenaran dan menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada visi misi hidupnya yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa kehadirannya di dunia tidak sekedar bersinggah ataupun untuk tinggal selamanya. Dia paham bahwa dia diciptakan untuk beribadah kepada Rabb-nya. Ibadah yang tentu saja bukan hasil karya dirinya, tapi sesuai dengan risalah langit yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di paham betul bahwa suatu ibadah yang dia pandang baik belum tentu diterima oleh Allah jika tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Karenanya dia tidak pernah kreatif dalam hal ibadah. Dia sangat memahami bahwa bacaan tasbih, tahlil, dan kalimat thayyibah lainnya adalah sesuatu yang baik dan dicintai Allah. Akan tetapi, dia pun paham ketika bacaan thayyibah itu dibaca dengan waktu tertentu dan jumlah tertentu, maka harus adalah landasan syari’at yang mendasarinya. Sebab jika tidak, berarti menjadi suatu amalan yang sia-sia, bahkan bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Betapa dia melihat kenyataan bahwa orang yang membuat wiridan dengan menentukan sendiri jumlah dan waktunya, telah membuka celah jin untuk masuk ke dalam diri mereka.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kekokohannya menjaga kehormatan diri dan menjunjung tinggi rasa malu. Dia menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan dunia, sehingga berusaha menutupi diri agar tidak menjadi penyebab fitnah. Dia paham bahwa syariat berhijab adalah untuk memuliakannya, untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan ajnabi. Agar keberadaannya tidak mengguncang hati lawan jenis. Karenanya dia memilih busana muslimah yang longgar, tebal, dan tidak menarik perhatian. Berbagai model busana muslimah yang sekarang nge-trend dengan berbagai model dan aksesorisnya, sama sekali tidak menarik minatnya meskipun untuk sekedar melirik. Dia tenggelam dalam kesahajaan, mencukupkan diri dengan kesederhanaan.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepahamannya menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis. Sebisa mungkin dia menghindari interaksi yang dapat menjadi celah fitnah. Dia tegas dan lugas dalam berbicara kepada kaum adam. Dia tidak membuka celah fitnah dengan meminta nasehat kepada lawan jenis atas persoalan pribadinya baik melalui WA, SMS, ataupun inbox FB. Sekalipun kepada seorang yang bergelar ustadz, dia sangat menjaga interaksi pribadi karena dia paham ustadz juga manusia. Dia memahami bahwa interaksi japri (jalur pribadi) melalui media sosial merupakan salah satu bentuk khalwat.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kedekatannya kepada Al Qur’an. Betapa Al Qur’an adalah kitab suci yang mulia, sehingga apapun atau siapapun yang bersinggungan dengannya, maka ia menjadi mulia. Bukankah malam di mana diturunkan Al Qur’an adalah malam yang paling mulia? Bukankah kota di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi kota termulia di muka bumi ini? Bukankah generasi di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi generasi paling mulia di bumi ini? Dia sangat memahami itu, sehingga dia berusaha berakrab-akrab dengan Al Qur’an yang merupakan kalam dari Rabb-nya. Dia belajar memperbaiki bacaan Al Qur’an, merutinkan tilawah harian, melakukan tadabbur dan menghafal Al Qur’an, serta berusaha mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupannya. Dia paham, bahwa umat ini akan tegak dan berjaya dengan Al Qur’an.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepeduliannya akan kondisi umat saat ini. Jauhnya umat dari syari’at dan tersebarnya maksiat membuat hatinya cemburu. Membuat jiwanya gelisah dan berduka. Dia menyadari bahwa menyebarnya maksiat dan tidak adanya pelaku amar ma’ruf nahi mungkar dapat menjadi asbab turunnya laknat Allah atas suatu kaum. Karenanya dia tidak mau berpangku tangan. Dia bergabung dengan barisan pejuang yang berusaha menegakkan dien ini. Dia menjadi satu di antara muslimah lainnya yang berjuang di atas jalan dakwah. Baginya dakwah adalah kebutuhan dan jalan hidup. Dan dia berharap, dakwah yang dijalaninya bisa menjadi hujjah baginya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak.

[ummisanti/sym]

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (2)

Pada artikel seri kedua ini kita akan melanjutkan bahasan tentang beberapa peran istri yang bisa mendorong tercapainya rumah tangga bahagia. Sebelumnya, kita sudah membahas peran istri sebagai kekasih bagi suami.
Peran Istri sebagai Ibu bagi Anak-anak
Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran anak merupakan sebuah kemestian. Meskipun tidak setiap pasangan dikarunia keturunan, akan tetapi secara umum bahwa tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk melestarikan keturunan. Maka kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangga merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Berbicara tentang anak tentu tidak lepas dari sosok seorang ibu. Dan dalam Islam, sosok ibu ini mendapat tempat atau kedudukan yang mulia. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ؕ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” [QS. Luqman: Ayat 14]
Betapa payahnya seorang ibu mengandung anaknya selama 9 bulan kemudian melahirkannya dengan taruhan nyawa. Perjuangan masih dilanjutkan dengan mengasuh dan merawatnya. Masya Allah, ladang pahala yang sangat subur sehingga Allah pun menyandingkan rasa syukur kepada ibu bapak sejajar dengan rasa syukur kepada-Nya. Ayat di atas tentunya menjadi pendorong tersendiri bagi seorang istri untuk bisa memposisikan dirinya sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Sosok laki-laki sebagai suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya memiliki waktu yang terbatas untuk berlama-lama di rumah karena tuntutan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka di sinilah peran istri untuk berbagi tugas dengan suami, menjadi ibu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu memiliki waktu lebih banyak untuk bersama anak-anak dibandingkan sang ayah. Ibu memegang tanggung jawab atas pembinaan masa depan anak-anak. Keberadaan dan peran seorang ibu menjadi sangat vital bagi pendidikan anak di awal pertumbuhan mereka. Dan inilah yang menjadi kunci awal pembentukan kepribadian mereka di masa depan.
Ibu adalah model bagi anak-anaknya di mana setiap gerak dan tingkah lakunya akan dicontoh dan ditiru. Istri yang bisa memainkan peran sebagai ibu yang baik tentunya akan membuat suami tenang dan memberi kepercayaan penuh untuk mengurus anak-anak. Tentunya peran yang satu ini bukan peran yang mudah dilakukan meski secara alami atau fitrahnya seorang perempuan memiliki jiwa keibuan. Maka penting bagi seorang istri untuk terus mengasah keilmuan dan ketrampilannya dalam mengasuh dan mendidik anak agar peran sebagai ibu dapat dilakoni dengan baik.
Peran Istri sebagai Sahabat Suami
Siapakah sahabat? Dia adalah orang yang dekat di hati kita. Orang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan kita. Persahabatan menunjukkan hubungan kedekatan perasaan dan emosi. Sahabat adalah orang yang paling mudah kita ajak bicara tentang banyak hal. Seorang sahabat siap menjadi pendengar yang baik, menjadi sandaran saat sahabatnya rapuh, tempat berbagi tawa dan air mata. Hampir tidak ada rahasia di antara dua orang yang bersahabat. Dukaku dukamu, bahagiamu bahagiaku. Aku nyaman bersamamu,engkau pun nyaman bersamaku. Begitulah, seseorang akan merasa nyaman bersama sahabatnya. Mereka bisa saling menerima kekurangan satu sama lain. Mengatasi persoalan yang timbul di antara keduanya dengan semangat persahabatan sehingga kerenggangan hubungan mudah teratasi.
Seorang sahabat siap sedia saat dibutuhkan. Rela menyisihkan waktu dan mengorbankan kepentingannya untuk sahabatnya. Saat dekat hati merasa bahagia. Saat jauh pun banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dan ada kerinduan untuk bersama. Saling menghargai dan saling percaya. Seperti itulah sosok seorang sahabat. Persahabatan menjadikan seseorang begitu istimewa dan sangat dibutuhkan kehadirannya.
Bagaimana jika sosok sahabat ini hadir dalam kehidupan rumah tangga? Itulah peran yang perlu dimainkan oleh istri, menjalin persahabatan dengan suami. Dengan begitu, istri menjadi begitu istimewa di hati suami dan sebaliknya pula suami menjadi begitu istimewa di hati istri.
Persahabatan yang terjalin antara suami istri membuat saat-saat perjumpaan menjadi hal yang dirindukan. Suami bisa dengan leluasa mencurahkan suka dukanya, mengisahkan rahasia hidupnya, serta merasa aman dan nyaman bersamanya. Mereka saling memahami, saling mengerti, saling memberi dan menerima, penuh kehangatan dan begitu akrab.
Yang sering kali terjadi saat ini, banyak pasangan suami istri yang jarang atau bahkan tidak sempat meluangkan waktu bersama. Mereka kurang menyadari betapa berharganya detik-detik kebersamaan bersama pasangan. Benarkah demikian?
Kesibukan seorang suami mencari nafkah di luar rumah seringkali menyita waktu. Begitupun rutinitas seorang istri di rumah dengan seabreg pekerjaan rumah tangga. Apalagi jika istri juga berperan sebagai wanita karir, tentu waktu untuk membersamai keluarga menjadi sangat berkurang. Jika masing-masing pasangan tidak menyadari pentingnya membangun kedekatan hati satu sama lain, tidak memperhatikan kualitas kebersamaan mereka, hubungan suami istri dengan pola semacam ini akan menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Ketika suami istri berkesempatan bersama di rumah, keduanya sibuk dengan gadget masing-masing. Sibuk berasyik ria dengan orang yang jauh di luar sana dan lupa dengan keberadaan orang terdekatnya. Mereka asyik dengan pertemanan di dunia maya sampai lupa membangun ikatan hati dengan pasangannya. Atau jika tidak, saat sedang bersama justru mereka sering disibukkan dengan pembicaraan tagihan listrik, pembelanjaan dapur, ataupun segala tetek bengek kebutuhan rumah tangga yang tak kunjung habis untuk dibicarakan. Meskipun hal-hal seperti ini memang perlu dibicarakan dan didiskusikan, akan tetapi jangan sampai porsinya mengabaikan kebutuhan hati.
Istri yang memahami perannya tentu tidak akan membiarkan kondisi seperti ini berlaku dalam rumah tangganya. Bagaimana pun kebersamaan dengan pasangan adalah momen berharga yang tidak boleh dilewatkan dengan hal-hal yang kurang berarti. Ia sangat memperhatikan kualitas hubungannya dengan suami. Selalu siap saat suami membutuhkan bantuan. Dia berusaha memberikan perhatian-perhatian kecil sehingga suami menyadari betapa istimewanya dia.
-selesai-

#ummisanti

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (1)

Pernikahan mempertemukan dua hati dan dua kepribadian dalam satu ikatan suci, dalam satu bahtera rumah tangga. Bahtera yang melaju melintasi lembaran-lembaran masa dan mengukir beragam kisah dengan segala keunikannya. Pernikahan merupakan tim sukses dari pasangan suami istri yang saling bahu membahu menghalau badai agar bahtera rumah tangga tetap kokoh. Satu sama lain berusaha mengimbangi rasa dan irama agar tercipta harmoni indah, sehingga hempasan persoalan yang datang menerpa tidak menjadikan bahtera rumah tangga karam dan runyam. Masalah yang hadir dalam kehidupan rumah tangga justru menjadi bumbu penyedap yang makin mempererat ikatan hati.
Siapa pun tentu menginginkan kondisi rumah tangga seperti itu. Rumah tangga yang hangat penuh cinta, bertabur kebahagiaan dan kemesraan. Hanya saja, yang menginginkan belum tentu bisa meraihnya. Karena untuk mewujudkannya tentulah butuh kesungguhan, kerja sama, dan kekompakan.
Salah satu faktor utama untuk meraih rumah tangga serasa surga adalah keberadaan seorang istri. Ia punya peran dan andil besar dalam mengarahkan bahtera rumah tangga menuju pantai kebahagiaan, untuk mencapai rumah tangga yang bernilai dan berbobot, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Allah berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ؕ اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: Ayat 21)
Dari ayat tersebut dapat kita tangkap sebuah makna bahwa kehadiran istri dapat memberikan rasa tenteram serta perasaan cinta dan kasih sayang bagi suaminya. Pertanyaannya, apakah semua istri dapat memainkan peran tersebut? Tentunya, pemeran terbaik adalah istri yang paham akan kedudukannya di mata suami dan memaknai hakikat pernikahan yang dijalaninya semata untuk meraih ridha Allah.
Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya masa awal pernikahan semua terasa begitu manis. Istri begitu mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suami. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia pernikahan, kekuatan cinta pun teruji oleh berbagai situasi dan kondisi. Ada yang menguat, tak sedikit pula yang kian memudar. Ada istri yang mengeluhkan suaminya menjadi begitu kaku dan cuek setelah masa yang panjang dari pernikahannya, tanpa dia sendiri menengok ke dalam diri bahwa bisa jadi dialah penyebab perubahan itu.
Seorang istri semestinya punya kepekaan tinggi terhadap fluktuasi ruhiyah rumah tangganya. Karena bagaimana pun, dia memegang peran strategis yang menentukan nasib bahtera rumah tangganya, menuju kepada kebahagiaan atau justru kehancuran. Istri yang pandai memainkan peran dan paham terhadap hak dan kewajibannya, akan punya energi lebih untuk mengayuh bahtera rumah tangganya menuju maghligai kebahagiaan yang hakiki.
Ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh seorang istri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Peran-peran tersebut dapat menjadi pupuk cinta dan keharmonisan rumah tangga. Kemampuan istri mengolah peran dan memberikan suguhan rasa yang berbeda sangat dibutuhkan oleh seorang suami,suguhan dengan menu yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan suami. Istri yang cerdas akan mampu menempatkan diri dan memainkan peran sesuai dengan situasi dan keadaan.
Peran Istri sebagai Kekasih
Peran ini punya arti sangat vital bagi kehidupan rumah tangga. Betapa banyak orang yang menikah tapi tidak saling menjadi kekasih. Pernikahan hanya menjadi simbol sosial dan masing-masing disibukkan oleh rutinitas yang makin lama kian menjemukan. Hingga datang masanya titik kulminasi kebosanan dalam rutinitas pernikahan yang menyebabkan pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian.
Karenanya, penting bagi seorang istri untuk bisa menyuguhkan rasa seorang kekasih bagi sang suami. Dengan begitu rumah tangga yang dijalani memiliki ruh kemesraan, ada ikatan batin kuat yang mengokohkan bahtera rumah tangga. Ada cinta yang tersemai dan terjaga dengan baik. Ada pelangi bahagia yang membuat satu sama lain merasa saling membutuhkan dan enggan terpisahkan.
Jadilah kekasih bagi suami Anda. Kekasih yang mau memahami dan menerima kekurangannya serta lebih terfokus pada kelebihan yang dia miliki. Jadilah seorang kekasih yang selalu mensyukuri kehadirannya sebagai anugerah indah yang Allah berikan. Jadilah kekasih yang makna kehadiran Anda di dekat suami lebih dari sekedar “berada bersamanya”.
Seorang istri adalah kekasih hati bagi suaminya. Dia selalu ada saat suami membutuhkan. Selalu ada cara baginya untuk menggoda dan memikat hati suami. Dia mampu menjadi tempat berbagi kemesraan dan kasih sayang.
Sebagai kekasih, istri yang cerdas memahami kebutuhan biologis suaminya, mampu menangkap sinyal-sinyal yang terkadang tidak terungkapkan. Dia tidak lelah mencurahkan belaian cinta dan kasih sayang untuk belahan jiwanya. Ketika sang suami menginginkan dirinya, maka ia bersegera dengan sepenuh hati dan kesungguhan memenuhi hasrat suaminya. Ia menyadari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya sehingga dia (suami) tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga subuh.” (HR Bukhari No. 5194 dan Muslim No. 1436)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak ajakannya melainkan Rabb yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim No. 1436)
Seorang istri tentu tidak rela dirinya dilaknat oleh penduduk langit dan Rabb yang menciptakannya. Baginya, membahagiakan suami adalah kebahagiaan juga untuknya. Ia menyadari bahwa keinginan suami yang tertunda dapat menjadi celah yang menggerogoti keharmonisan rumah tangga. Betapa mereka yang tidak memperhatikan kebutuhan primer suami yang satu ini akan menemukan rumah tangganya berada dalam titik rawan. Ketika seorang istri seringkali mengabaikan kebutuhan ranjang suaminya, hal ini bisa memicu terjadinya perselingkuhan bahkan perceraian.
[bersambung …]

#ummisanti

Rasa yang Tergadaikan

Rasa yang Tergadaikan

menggadaikan rasa malu

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab  syar’i seperti dirimu.

Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah. Agar menginspirasi muslimah lainnya. 

Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para  pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan  menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Betapa cantiknya paras itu. Mata yang bening dan terlihat begitu menawan. Berdesir hati melihatnya.  Meski selembar cadar menutup wajahnya, tapi binar kedua matanya menggambarkan kecantikan yang tersimpan di sebaliknya.
Duhai, menatap matanya berlama-lama makin membuat hati berasa tak menentu.  Binar matanya seakan melukiskan senyum manis yang tersembunyi. Ah, andai selembar cadar itu bisa disibak ….

Berdesir dada sang pemuda memandangnya. Sekilas saja. Tiba-tiba tergoda untuk terus memperhatikannya.  Terus dan terus. Menatap wajah itu sepuasnya. Tanpa takut tertangkap mata dari pemiliknya. Karena wajah itu ada pada selembar gambar yang berhasil diambil dari medsos.

Duhai, hati yang berasa tertusuk-tusuk. Ada rindu yang tak terungkap. Ada angan-angan yang seringkali mengelayut di pikiran. Andai bisa berkenalan dengan muslimah bermata indah itu.  Andai bisa bersanding dengannya yang tampak menawan itu. Andai bisa memikat hatinya ….

Rabb …, fitnah itu benar-benar menancap kuat. Anak panahnya tepat menusuk jantung hati.  Ditarik terasa sakit, dibiarkan pun begitu menyiksa.

Duhai pesona muslimah bermata indah. Betapa hati selalu tergoda menatap sepasang matamu yang indah menawan.  Dalam diam selalu terbayang dan terselip kerinduan yang membuncah.  Bagaimana rasa ini bisa ditepis?

Duhai, salahkah hati yang terpaut? Bukankah sang muslimah yang memulai? Bukankah dia yang menebar foto dirinya sehingga sang pemuda pun terjebak dalam umpannya. Bukankah asap itu timbul dari percikan api?

Duhai muslimah bermata jeli. Tidakkah engkau menyadari bahaya yang mengintaimu? Sekiranya pemuda itu timbul hasrat dan niat jahatnya padamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah pada hatimu!

Sekiranya pemuda itu terfitnah hatinya karena lembar foto yang melukiskan keindahan matamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah hatimu, wahai muslimah!

Duhai, di manakah rasa itu, wahai muslimah? Sudahkah rasa itu benar-benar tergadaikan?  Rasa malu yang semestinya menjadi perhiasan bagi muslimah shalihah seperti dirimu.  Lalu apa yang tersisa jika rasa itu sudah engkau campakkan dari hatimu?!

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab syar’i seperti dirimu. Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah ….  Agar menginspirasi muslimah lainnya. Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Di mana engkau tanggalkan rasa malumu, waha muslimah? Bukankah busana muslimah itu untuk menutup dirimu. Untuk menjagamu dari pandangan ajnabi. Lalu mengapa engkau justru sengaja membuat orang lain memandang dan menikmati yang semestinya disembunyikan? Tidak sadarkah engkau telah membuka pintu fitnah pada hati-hati pemuda yang sudah berusaha menjaga diri mereka?  Tidak takutkah engkau pada ajnabi yang berniat jahat padamu, yang bisa saja menyalah-gunakan fotomu untuk kesenangan nasfunya? Tidak takutkah engkau akan bahaya ‘ain yang mengintaimu?

Duhai, mari sejenak melihat ke dalam diri, wahai muslimah. Jalan dakwah ini tidak bisa diusung dengan cara-cara murahan. Dakwah ini butuh strategi dan metode yang mulia. Karena kita mendakwahkan kebaikan, bukan kemungkaran.

Sadarlah wahai muslimah! Ambil rasa malu yang sempat engkau campakkan. Sematkan kembali dalam hatimu.  Berjalanlah sesuai fitrahmu sebagai muslimah yang tersembunyi. Dan itu pun tak akan menghalangimu untuk menebar dakwah dan kebaikan kepada sesamamu.  Yakinlah bahwa banyak cara mulia yang bisa engkau tempuh untuk mendakwahkan keyakinanmu. Rangkullah hati-hati muslimah yang masih berserakan di luar sana dengan keanggunan akhlakmu,  bukan dengan keindahan foto selfimu.

Wahai muslimah! Mari tetap kokoh berpijak pada syariat ini meski arus kehidupan berusaha menghanyutkan keimanan. Selalulah bergantung pada Sang Pemilik Hati agar diri terjaga dari kerusakan moral yang makin carut marut.  Agar keimanan tetap tertancap kuat menghujam di hati kita. Agar diri tidak terjebak dalam kemaksiatan yang terbungkus ketaatan.

Semoga Allah menjaga hati-hati kita dalam ketaatan dan keikhlasan.

Catatan hati di sudut kamar

#ummisanti

merasa cukup

Mendefinisikan Kecukupan

Suatu hari sebuah pesan masuk ke HP saya. “Mbak, kalau boleh tahu, gaji bersih suami mb berapa dalam sebulan? Suamiku mau keluar kerja dan ber-wirausaha. Galau ni mb.” Begitu kira-kira isi pesan tersebut. Saya langsung mesem-mesem (senyum-senyum). Yah, namanya kami ini wirausaha, gajinya ya kami sendiri yang mengatur. Kalau pas usaha lancar tentu gaji kami di atas rata-rata, tapi tidak jarang juga pas-pasan bahkan minus.

Sebenarnya, punya status sebagai pegawai ataupun wirausaha, itu adalah pilihan. Mana yang menjadi pilihan dan kemantapan hati, kita nyaman di dalamnya, itulah yang semestinya dijalani. Kalau masalah nominal, ah, saya pribadi tidak mau berkutat dengan angka-angka. Bagi saya, rejeki itu tidak bisa di-matematika-kan. Bahkan dalam nominal yang sedikit tapi mengandung keberkahan, justru itu lebih menenangkan hati dan kehidupan. Apalagi sudah lazim kita melihat fenomena di negeri ini, betapa banyak mereka yang berdasi tapi masih rakus dengan harta. Mereka yang diberi amanah mengurus rakyat malah menjadi maling. Kasihan sekali orang-orang seperti itu, seakan hidup hanya di dunia saja, seakan uang dan harta adalah segalanya. Padahal kaya atau miskin itu hanya bagian dari ujian hidup, jika saja mereka menyadarinya.

Kaya atau miskin pun bagi saya tidak bisa diukur dengan parameter fisik. Betapa banyak mereka yang hidup di rumah megah dengan kendaraan mewah tapi hatinya miskin. Miskin dari rasa syukur, miskin dari ketenangan hidup, miskin dari kebahagiaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terus saja merasa kurang dan kurang. Sedangkan banyak yang dipandang miskin, ternyata mereka menikmati hidup dalam ketenangan dan merasa baik-baik saja. Mengapa? Hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Bukan saya mengajari untuk tidak kaya. Kaya itu suatu kebutuhan, karena banyak sekali amal kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekayaan. Ibadah umrah dan haji, zakat maal, menyantuni fakir miskin, wakaf, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang hanya bisa dilakukan dengan kelebihan harta. Hanya saja, tidak setiap hamba Allah di dunia ini mendapatkan kelebihan harta. Dan memang Allah memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Lantas, jika Allah menghendaki kita untuk tidak mendapatkannya, sehingga kita hidup dalam keuangan yang pas-pasan, bagaimana rasa hati kita?

Iri? Ah, itu bukan solusi. Sekali lagi saya katakan, bahkan kelapangan ataupun kesempitan dalam harta itu hanya bagian dari ujian hidup. Jika pada titik ini kita ternyata pada kondisi ‘pas-pasan’ secara materi, nikmati saja, syukuri. Itulah kondisi terbaik untuk kita menurut Allah. Bisa jadi ketika kita diberi kelapangan harta, kondisi kita malah menjadi orang yang kufur nikmat dan banyak melakukan kemaksiatan. Jadi, dilihat saja dari sisi positifnya. Belajar mensyukuri pemberian-Nya karena Dia memberi dengan kasih sayang dan semua demi kebaikan kita.

“Ah, mbak nggak ngerasain sih gimana rasanya ga pegang uang.” Hmmm, itulah tabiat kebanyakan manusia, seringkali memandang diri paling merana sementara orang lain paling bahagia dan tidak pernah kesusahan. Memang, seperti apa sih rasanya ga pegang uang menurutmu? Saya rasa, tinggal bagaimana kita menata hati dan berusaha bersyukur dalam setiap apa pun kondisi kita. Bukankah Allah sendiri yang menjanjikan, barangsiapa yang bersyukur kepada-Nya maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

“Tapi saya sudah berusaha bersyukur kok masih kurang aja nih mbak keuangannya?”

Hehe, mbaknya …, nikmat Allah itu sangat luas ……………….. Jangan membatasi nikmat hanya dari segi materi. Kita diberi kesehatan dan anggota tubuh yang sempurna itu nikmat. Kita memiliki suami yang shaleh dan mencintai kita itu nikmat. Kita memiliki mertua yang sayang dan perhatian itu nikmat. Kita bisa makan hari ini, itu juga nikmat. Kita bisa mengais rejeki dengan cara yang halal itu nikmat. Banyak sekali nikmat Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, dan kita tidak akan mampu menghitungnya.

Jadi, ga perlu risau bin galau. Enjoy aja. Yang penting kita tidak menghilangkan sebab, yaitu dengan ikhtiar dan berdoa. Setelahnya, serahkan semua kepada Allah. Apalagi bagi mbak-mbak yang sudah nikah ni, jangan sampai membebani suami dengan banyak tuntutan. Jika suami masih memiliki penghasilan yang pas-pasan, jangan menyudutkannya dengan berbagai kritik dan tuntutan. Berilah motivasi dan semangat. Suami sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi hak kita, jadi cobalah untuk menghargai hal itu. Jangan sampai berbagai tuntutan dan rengekan kita justru membuat suami mencari rejeki dengan cara yang tidak halal. Demi istri tercinta, tidak sedikit suami yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan harta. Supaya istrinya tidak ngomel-ngomel, supaya istrinya bisa tambah mencintainya. Ah, apakah mbak-mbak mau punya suami seperti itu? Kalau saya sih ga mau.

Yuk, belajar merasa cukup dan bersyukur dengan apa pun kondisi kita. InsyaAllah itu lebih menenangkan hati dan mendatangkan kecintaan Allah. Fase kehidupan kita masih panjang lho, jadi jangan begong saja meratapi nasib di fase ini, supaya di fase berikutnya kita ga nyesel.

#UmmiSanti