700 Muslimah Hadiri Daurah Muslimah Wahdah Sulteng

Muslimah Wahdah

Ratusan tamu yang hadir dalam daurah akbar Muslimah Wahdah yang diselenggarakan di Kab. Sigi, Ahad(2/12/2018)

(Sigi) wahdahjakarta.com, 700an muslimah memadati tenda darurat di halaman SD Islam Terpadu Qurrata A’yun desa Tinggede, Kecamatan Marowa, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, Ahad (02/12/2018).

Para peserta hadir mengikuti kegiatan Daurah Muslimah yang digelar Muslimah Wahdah Sulteng dengan tema, “PASIGALA Bangkit, Bertauhid dengan Al-Qur’an.”

Program yang merupakan bentuk kepedulian sosial terhadap korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah

“Kegiatan Daurah Akbar ini merupakan satu di antara program pembinaan Muslimah Wahdah kepada ibu-ibu di tenda pengungsian kawasan Palu, Sigi, dan Donggala (PASIGALA) serta muslimah kota Palu yang tentu tidak terlepas dari wujud kepedulian Muslimah Wahdah terhadap musibah yang menimpa masyarakat PASIGALA khususnya ibu-ibu dan anak-anak.” ujar Uni, Ketua Muslimah Wahdah Daerah Palu

 Daurah Akbar ini juga merupakan ajang silaturahmi dan penguatan bagi masyarakat secara ruhiyah maupun jasadiyah setelah musibah yang menimpa wilayah Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu.

Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut kurang lebih 737 muslimah. Sebagian besar merupakan ibu-ibu binaan Muslimah Wahdah Peduli di 36 titik posko pengungsian yang tersebar di PASIGALA.

“Antusias yang tinggi membuat suasana daurah semakin bersemangat. Perbedaan usia, profesi dan asal daerah dari masing-masing peserta tidak menyurutkan kesungguhan untuk menyimak tausiah dan menyemarakkan yel-yel khas kegiatan.” Jelasnya.

Dalam kegiatan yang didukung penuh oleh Lazis Wahdah dan pengurus Mulimah Wahdah Sulawesi Tengah ini, para peserta disuguhkan beberapa materi dan motivasi yang menguatkan hati untuk bangkit, kembali mengingat Allah subhanahu wata’ala serta bersiap menjadi pribadi tangguh dalam menjalankan fase kehidupan pasca gempa.

Terakhir di penghujung acara, panitia menyiapkan makan siang bersama dan pembagian bingkisan berupa jilbab, gamis, dan beberapa item lainnya kepada peserta sehingga membuat suasana kegiatan semakin bersemangat.

“Ucap syukur yang tak terhingga atas terlaksananya kegiatan tersebut dan ucapan terima kasih kepada seluruh donatur dan pihak yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan segara urusan kita, memberkahi waktu, harta dan setiap jerih payah kita meniti jalan yang diridhoi-Nya.” tutup Uni.

Ribuan Muslimah Hadiri Silaturrahim Akbar Muslimah di Makassar

Silaturrahmi Akbar Muslimah, “Satu Hati, Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan,” di CCC Makassar, Ahad (2/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com— Ribuan Muslimah berkumpul di gedung Celebes Convention Center (CCC) untuk mengikuti  acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim bertema “Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan, Ahad, (2/12/2018).

Dalam kesempatan itu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Liestiaty F. Nurdin menyatakan bahwa wanita Muslimah, khususnya kaum ibu harus pintar, karena mereka dituntut mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

“Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba”, ucapnya di hadapann sekitar sepuluh ribuan Muslimah yang memadati hampir seluruh sudut ruangan gedung CCC.

“Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Muslimah Wahdah Pusat (MWP), Gerakan Muslimah Bisa dan Forus Majelis Taklim Wahdah Islamiyah ini bertujuan untuk membangun jiwa muslimah peduli dan cepat tanggap terhadap dakwah dan kemanusiaan.

Menurut keterangan tertulis panitia kepada wahdahjakarta.com, acara ini digelar untuk menyikapi fenomena bencana banyak menimpa Indonesia belakangan ini. Fenomena musibah dan bencana yang melanda menuntut peran semua pihak, termasuk kaum Muslimah dan Muballighat.

Menurut Majdah M. Zain, Rektor Universitas Islam Makassar yang turut dihadirkan sebagai nara sumber pada kegiatan ini, peran yang dapat dimainkan oleh Muslimah dan Mubalighah adalah amar ma’ruf  nahi munkar sebagai salah satu upatya mencegah bencana dan musibah.

“Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. Seorang pembawa amar ma’ruf dan mencegah perbuatan  buruk  atau nahi mungkar”, ujarnya.

Menurutnya seorang muslimah tidak boleh cuek terhadap kondisi di sekitarnya. Ia juga meluruskan persepsi sebagian orang yang berkata, “yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan”.

Senada dengan Ibu majdah Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah, Harisatipa Abidin  mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua.

Da’iyah dan aktivis kemanusiaan yang sempat terjun langsung sebagai relawan kemanusiaan Palu ini  mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa yang membuat para peserta turut larut dalam suasana yang disampaikan  oleh ustadzah.

Gerakan Muslimah Bisa yang digelar secara rutin oleh Muslimah Wahdah setiap 3 tahun atau 4 tahun sekali.

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Musliman Wahdah

Sepuluh Ribuan peserta Silaturrahmi Akbar Muslimah yang digelar Muslimah Wahdah, Ahad (2/12/2018)

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Gempa, gempa gempa…
Seketika wajahmu hadir menemani
Air mata tumpah
Mayat-mayat berteriak
Riuhan emosi
Runtuhlah hampir seluruh lautan
Yang dulunya kokoh

Kini sisa kenangan,
Lalu lihatlah takdir, kini menjadi buas
Menghisap hampir seluruh energi bumi
Dan yang tersisa hanyalah elupsi

“Hancur semua tidak ada yang tersisa kasian. Laa ilaaha ilallah Lailahaa ilallah. Apa yang bisa kau banggakan, kecuali ketakutan ini yang menjalar di tubuhmu. Insya Allah kita bisa lewati. Saya tidak terima! Hancur semua, hancur.”

Sementara di belahan bumi yang berbeda ada isakan tangis yang mengguncang
Penuh berderai
Bumi Syam…
Wahai semesta tanah kami telah dihancurkan
Wahai dunia tidakkah kau lihat, tanah kami telah direnggut kebebasannya
Wahai dunia kau tahu?

Lampu yang berkedap-kedip” tak henti-hentinya. Suara menggema terdengar di gedung siang itu. Saat sepenggal puisi teatrikal dan monolog yang ditampilkan. Memecahkan keramaian menjadi kesunyian yang terdengar khidmat hingga meneteskan air mata. Suara itu merasuk ke palung hati, merasakan keperihan. Perih ketika merasakan derita yang dirasakan oleh saudara seiman ketika di timpa sebuah bencana. Apabila anggota tubuh yang satu merasakan kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan. Seperti itulah diibaratkan sebuah ukhuwah yang terjalin antar sesama manusia.
Suasana begitu terasa padat di gedung Celebes Convention Center yang menandakan bahwa begitu antusiasnya para muslimah menghadari acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim dengan mengangkat tema satu hati satu aksi untuk dakwah kemanusiaan. Ahad, (2/12/2018)

Sekitar 10 ribuan muslimah yang hadir dalam kegiatan ini. Para peserta memenuhi gedung hingga hampir ke sudut-sudut ruangan. Meja registrasi tak henti-hentinya didatangi oleh membludaknya para peserta untuk dapat menghadiri acara ini. Bahkan dibatasi karena gedung sudah penuh tak ada tempat duduk lagi.

Sebelum teatrikal berlangsung, saat membuka acara secara resmi, suasana ketika itu terasa bersahabat.Ibu Liestiaty F. Nurdin istri Gubernur provinsi Sulsel mengungkapkan rasa terima kasih dan senangnya ketika di undang dalam acara yang mempertemukannya dengan para muslimah yang pesertanya di berbagai kalangan. “Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba. Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, ungkapnya”.

Ditambah oleh Dr. Ir. Majdah M. Zain M. Si Rektor Universitas Islam Makassar. Perempuan inspiratif dan cerdas ini, ketika di depan para peserta ia mengungkapkan setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. “Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubalgh. Seorang pembawa amal ma’ruf dan mencegah perbuatan nahi mungkar. Dalam artian jangan pernah berkata yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan. Bagaimanapun apapun itu sepatutnya selalu memberi kemanfaatan yang berguna bagi orang lain, kalau belum mampu cukuplah bagi keluarga kita sendiri, “ungkapnya.

Ustadzah Harisa Tipa Abidin, S. Pd, I sebagai Mubalighat, Inspirator Hijrah, Aktivis Dakwah dan kemanusiaan mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua. Ketika ustadzah mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa dan mencekap yang membuat para peserta turut merasakan oleh ustadzah.

Setelah acara usai, salah satu mahasiswi bernama Ani mengungkapkan rasa senangnya dapat ikut acara satu hati dan aksi kemanusiaan ia mengutarakan apa yang dirasakannya. “Saya mendapatkan sebuah hal baru dari acara ini. Teatrikal dan monolog yang begitu menyentuh benar-benar di jiwaku. Merasakan kesedihan dan rasa haru, hingga sempat meneteskan air mata,” ungkapnya sambil tersenyum

Acara yang menghadirkan hampir 10 ribu muslimah tentu bukanlah tak memiliki hambatan. Persiapan yang dilakukan itu sekitar 1 bulan sebelum acara berlangsung. Tak main-main panitia volunteer yang dikerahkan sekitar 350 orang dan 15 orang dari Event Organizer (EO). “Tindak lanjut dari acara ini sebagai respon dari problematika umat yang terjadi yang juga dinamakan sebagai Gerakan Muslimah Bisa yang biasanya diadakan 3 tahun atau 4 tahun sekali. Untuk acara ini, dalam acara yang selalu diadakan oleh Gerakan Muslimah Bisa ada hal-hal baru yang ditampilkan seperti teatrikal yang disajikan sebagai bentuk penggalangan dana dan donasi kemanusiaan, “Tutup Zelfia Amran Ketua EO.

Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia (IPMI) Gelar Temu Nasional di Kendari

(Kendari) wahdahjakarta.com, Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia (IPMI) bekerja sama dengan IPMI Cabang Kendari kembali menggelar acara Temu Ramaja Sekolah (TERAS) Nasional tahun 2018 di Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan oleh IPMI Daerah yang diharapkan mampu menunjukkan eksistensi dan peran pelajar muslimah untuk Indonesia.

Kegiatan TERAS kali ini dilaksanakan selama 3 hari ahad-Selasa (18-20 November 2018), diikuti oleh pelajar muslimah dari 3 provinsi, yakni sulawesi selatan (Makassar, Maros, Palopo, Luwuk Timur, Jeneponto, Bulukumba, Bone, dan Takalar), Sulawesi Tenggara (Kendari, Baubau, Kolaka, Kolaka Timur, dan Muna) serta Sulawesi Tengah (Palu dan Sigi).

Hari pertama, ahad, (18/11/2018) digelar Temu Aktivis Dakwah Sekolah Nasional (TADSN) di Aula Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan  ini dihadiri 86 peserta dari berbagai daerah. Ketua IPMI Pusat, Evawani Pratiwi mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang silaturrahmi pelajar muslimah Indonesia. Beberapa rekomendasi strategis lahir dari kegiatan ini khususnya dalam memperkuat jaringan dan persaudaraan (ukhuwah) aktivis dakwah sekolah serta strategi dakwah di lingkungan sekolah dan remaja pada umumnya.

Hasriani Jawire, salah seorang peserta TERAS Nasional dari Kabupaten Kolaka menyatakan bahwa “kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya dalam mengemban dakwah islam, membangun jaringan dalam dakwah serta memperkuat ukhuwah sesama aktivis dakwah sekolah dan remaja”.

Pada hari Senin, 19 November 2018 kegiatan dilanjutkan dengan brainstorming bersama peserta yang berasal dari daerah di 3 provinsi. Eva, selaku penanggung jawab IPMI pusat, mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen para aktivis dakwah untuk tetap konsisten (istiqomah) dalam berdakwah.

TERAS Nasional kali ini juga menggelar Muslimah Creative Competion (MCC) yaitu sebuah kompetisi berbasis online yang terdiri dari pembuatan Poster Islami, Fotografi, hingga Videografi. Kegiatan ini digelar secara online  yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat berkarya bagi pelajar muslimah serta menyalurkan potensi pelajar muslimah di bidang IT, kegiatan ini terbuka bagi pelajar muslimah se-Indonesia.

Ketua IPMI Kendari, Samsinar Samsuddin, menjelaskan bahwa puncak acara TERAS Nasional dilaksanakan pada hari Selasa, 20 November 2018 dalam bentuk Seminar Remaja Muslimah yang dilaksanakan di Gedung Auditorium Mokodompit Universitas Haluoleo Pukul 08.00 – 12.00 dengan menghadirkan 700 orang remaja muslimah. Menghadirkan pemateri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kendari, Sri Lestari, SE, M.Si, dan Ustadzah Hj. Harisatipah Abidin, dengan materi “Menyongsomg Generasi Gemilang Untuk Negeri”.

Kegiatan TERAS Nasional merupakan agenda 4 tahunan yang sukses diselenggaran pertama kali pada tahun 2014. TERAS Nasional 2018 mengangkat tema “Satukan Langkah dari Pelajar Muslimah Untuk Indonesia” . (Rilis IPMI).

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum Ustadz,

Saya seorang santriwati pesantren tahfidz, mau bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haid. Mengingat dalam proses menghafal Al-Qur’an kami dianjurkan mengulangi halafalan setiap hari. Mohon pencerahannya.

Jawaban:

“Tidak masalah bagi wanita yang sedang haid dan nifas membaca Al Qur’an menurut pendapat yang shahih. karena tidak ada nash yang shahih melarang wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an.  Akan tetapi membacanya melalui hafalannya dan tanpa menyentuh mushaf Al Qur’an,

Sebab haid  dan nifas  berlangsung beberapa hari demikian juga dengan nifas. Sehingga wanita haid nifas  diperbolehkan membaca Al Qur’an melalui hafalan atau aplikasi smatr phone agar keduanya tidak sampai lupa hafalan Al-Qur’an  dan tidak ketinggalan wirid membaca Al Qur’an.

Selain itu dibolehkan pula bagi wanita haid membaca buku-buku yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an serta membaca do’a dan zikir, seperti doa zikir makan-minum, bangun tidur, masuk-keluar rumah, berkendaraan, zikir pagi petang dan sebagainya. Wallahu a’lam.

 

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Pertanyaan: “Assalamu Alaikum, ust saya seorang mahasiswi, sampai sekarang saya masih belum terlalu mengerti terkait tanda bersihnya seorang wanita dari haid. Mohon penjelasannya. Syukran”.

Jawaban: Wa’alaikum salam. Perlu diketahui, tanda seorang wanita itu telah bersih (suci) dari haid ada pada satu dari dua keadaan.

Pertama: “Al-Qasshah Al-Baidha’”, atau keluarnya cairan putih sebagai tanda berhentinya haid.

Kedua: “Al-Jufuf”, atau terhentinya darah keluar, di mana jika diusap dengan kapas, kain putih, atau sejenisnya ia tetap kering dan tidak meninggalkan bekas apapun.

Umumnya, tanda wanita bersih dari haid adalah keluarnya cairan putih (Al-Qasshah Al-Baidha’). Dan ini merupakan tanda paling meyakinkan. Sebab, setelah keluarnya cairan putih, dipastikan tidak akan keluar darah lagi, berbeda dengan tanda Al-Jufuf. Kecuali jika kebiasaannya tidak keluar cairan putih. Maka yang menjadi acuan adalah Al-Jufuf (kering).

Ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu Anha, tatkala beberapa wanita datang kepada beliau bertanya tentang bersihnya wanita dari haid dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada padanya Ash-Shufrah (cairan kekuningan). Maka beliau berkata:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

Jangan kalian terburu-buru, hingga kalian melihat Al-Qasshah Al-Baidha’”. Imam Bukhari mengomentari: “Maksud Aisyah, (jangan buru-buru) merasa suci dari haid.” (Riwayat Imam Bukhari).

Sebagian ulama ada yang memberi perincian terkait masalah ini, yakni:

Pertama: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih. Masa menunggu itu sampai satu hari, dan ini merupakan pendapat Ibnu Qudamah dan Syaikh Al-Utsaimin.

Kedua: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan Al-Jufuf lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf. Tapi jika pertama kali yang dilihat olehnya tanda Al-Jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

Ketiga: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda ini, lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu cairan putih sampai batas waktu sehari, sebagaimana pada poin pertama. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf.

Ketahuilah, cairan kekuningan (Ash-Shufrah) itu biasanya keluar sebelum adanya tanda bersihnya wanita dari haid sebagaimana telah dijelaskan. Makanya Aisyah memerintahkan untuk tidak tergesa-gesa menganggap diri telah suci semata dengan melihat cairan kekuningan tersebut.

Terakhir, cairan kekuningan (Ash-Shufrah), atau cairan berwarna keruh (Al-Kudrah), jika keluar sebelum ada tanda suci (masih dalam keadaan haid atau bersambung dengan haid), maka ia dianggap sebagai bagian dari haid. Adapun jika keduanya keluar saat setelah bersih (melalui tanda-tanda suci), maka ia tidak dianggap sebagai bagian dari haid. Hingga atas wanita tersebut kewajiban mendirikan shalat, berpuasa, dan selainnya.

Dalilnya, keterangan dari Ummu Athiyah Radhiallahu Anha, beliau mengatakan:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ، وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

Kami tidak menganggap cairan keruh (Al-Kudrah) atau kekuningan (Ash-Shufrah) setelah suci sebagai bagian dari haid”. (HR. Abu Daud, Shahih). Wallahu A’lam.

Sumber: Akun facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

10 hari pertama bulan dzulhijah

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

Ukhti, kita masih di sini. Di detik-detik 10 hari pertama bulan Dzulhijah. Hari-hari di mana para pendahulu kita hampir tidak mematikan lampu penerangan di malam hari. Hari-hari di mana para pendahulu kita menghindari membahas hadits dhaif demi menjaga supaya tidak terjatuh pada perkataan yang tidak disukai oleh Allah. Hari-hari yang keutamaannya mengalahkan keutamaan berjihad kecuali orang tersebut berjihad dengan seluruh harta dan jiwanya dan dia kembali tanpa membawa sesuatu pun. Masya Allah buknkah sangat menggiurkan wahai ukhti, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ibarat musim, hari-hari ini adalah musim tanam yang paling bagus. Musim tanam yang perlu kita optimalkan untuk menebar benih kebaikan dan amal shalih supaya kelak kita bisa memperoleh hasil panen yang memuaskan dan menggembirakan.

Meski hari-hari ini tidak terkondisikan sebagaimana 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mari kita ingat-ingat keutamaannya. Supaya hal ini menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang keras dan berusaha meraihnya dengan berbagai amal kebaikan. Mari bergegas. Masih ada ribuan detik yang tersisa untuk kita berkesempatan meraih keutamaannya. Mari berpacu dan berlomba. Memaksa diri untuk tunduk pada ketaatan dan mengibaskan kemalasan. Agar kelak kita tidak menyesal wahai ukhti.

Ukhti, jangan sampai datangnya masa haidmu menjadikan dirimu kendor untuk berupaya meraih keutamaan yang dijanjikan. Masih banyak amal kebaikan di luar puasa dan shalat yang bisa engkau tegakkan. Perbanyak takbir mutlak  yang bisa kita lantunkan sejak awal 1 Dzuhijah hingga nanti menjelang berakhirnya hari tasyrik. Perbanyak dzikir dan shalawat. Sisihkan harta untuk bersedekah di jalan Allah. Perbanyak doa. Sediakan makanan berbuka bagi saudara kita yang menjalankan puasa. Banyak ukhti, masih banyak celah dan jalan yang bisa kita ambil. Ayo bergegas, selagi waktu dan kesempatan berpihak pada kita. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang meraih kemenangan. (ummisanti/aha)

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

(Depok) wahdahjakarta.com-, Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (1/08/2018), Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Jakarta dan Depok menggelar acara Semarak Dzulhijah di Kompleks Pesantren Al Hijaz Kelapa Dua Depok.  Acara ini dihadiri oleh 80 peserta dari beberapa daerah di Jakarta dan Depok.

Menurut Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta Ustadzah Rahmah Thamrin kegiatan ini digelar sebagai sarana silaturrahmi menambah pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. “Kami berharap acara ini dapat menjadi sarana silaturahmi muslimah dan sarana menambah pemahaman kita terhadap keutamaan bulan Dzulhijah. Juga sebagai sarana memupuk semangat pengorbanan”, ungkapnya.

Acara semarak Dzulhijah dibuka mulai pukul 8.30 dengan sesi game ta’aruf dan game cerdas tangkas sebagai acara pembuka. Acara selanjutnya merupakan materi inti yang disampaikan oleh Ustadzah Rahmawati Basarang dengan tema “Menggapai Indahnya Islam bersama Bulan Dzulhijah”.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, panitia melakukan orasi penggalangan donasi Qurban dan donasi dakwah.  Alhamdulillah pada sesi ini diperoleh donasi hewan Qurban 4 ekor kambing dan 5 bagian sapi. [yd/ed:sym].

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info