Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

10 hari pertama bulan dzulhijah

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

Ukhti, kita masih di sini. Di detik-detik 10 hari pertama bulan Dzulhijah. Hari-hari di mana para pendahulu kita hampir tidak mematikan lampu penerangan di malam hari. Hari-hari di mana para pendahulu kita menghindari membahas hadits dhaif demi menjaga supaya tidak terjatuh pada perkataan yang tidak disukai oleh Allah. Hari-hari yang keutamaannya mengalahkan keutamaan berjihad kecuali orang tersebut berjihad dengan seluruh harta dan jiwanya dan dia kembali tanpa membawa sesuatu pun. Masya Allah buknkah sangat menggiurkan wahai ukhti, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ibarat musim, hari-hari ini adalah musim tanam yang paling bagus. Musim tanam yang perlu kita optimalkan untuk menebar benih kebaikan dan amal shalih supaya kelak kita bisa memperoleh hasil panen yang memuaskan dan menggembirakan.

Meski hari-hari ini tidak terkondisikan sebagaimana 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mari kita ingat-ingat keutamaannya. Supaya hal ini menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang keras dan berusaha meraihnya dengan berbagai amal kebaikan. Mari bergegas. Masih ada ribuan detik yang tersisa untuk kita berkesempatan meraih keutamaannya. Mari berpacu dan berlomba. Memaksa diri untuk tunduk pada ketaatan dan mengibaskan kemalasan. Agar kelak kita tidak menyesal wahai ukhti.

Ukhti, jangan sampai datangnya masa haidmu menjadikan dirimu kendor untuk berupaya meraih keutamaan yang dijanjikan. Masih banyak amal kebaikan di luar puasa dan shalat yang bisa engkau tegakkan. Perbanyak takbir mutlak  yang bisa kita lantunkan sejak awal 1 Dzuhijah hingga nanti menjelang berakhirnya hari tasyrik. Perbanyak dzikir dan shalawat. Sisihkan harta untuk bersedekah di jalan Allah. Perbanyak doa. Sediakan makanan berbuka bagi saudara kita yang menjalankan puasa. Banyak ukhti, masih banyak celah dan jalan yang bisa kita ambil. Ayo bergegas, selagi waktu dan kesempatan berpihak pada kita. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang meraih kemenangan. (ummisanti/aha)

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

(Depok) wahdahjakarta.com-, Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (1/08/2018), Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Jakarta dan Depok menggelar acara Semarak Dzulhijah di Kompleks Pesantren Al Hijaz Kelapa Dua Depok.  Acara ini dihadiri oleh 80 peserta dari beberapa daerah di Jakarta dan Depok.

Menurut Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta Ustadzah Rahmah Thamrin kegiatan ini digelar sebagai sarana silaturrahmi menambah pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. “Kami berharap acara ini dapat menjadi sarana silaturahmi muslimah dan sarana menambah pemahaman kita terhadap keutamaan bulan Dzulhijah. Juga sebagai sarana memupuk semangat pengorbanan”, ungkapnya.

Acara semarak Dzulhijah dibuka mulai pukul 8.30 dengan sesi game ta’aruf dan game cerdas tangkas sebagai acara pembuka. Acara selanjutnya merupakan materi inti yang disampaikan oleh Ustadzah Rahmawati Basarang dengan tema “Menggapai Indahnya Islam bersama Bulan Dzulhijah”.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, panitia melakukan orasi penggalangan donasi Qurban dan donasi dakwah.  Alhamdulillah pada sesi ini diperoleh donasi hewan Qurban 4 ekor kambing dan 5 bagian sapi. [yd/ed:sym].

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

Muslimah Wahdah

Syeikhah Ahlam Najii (Ketua lLembaga Tahfidzul Quran ), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta)

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Pada Rabu (04/07/2018) yang merupakan hari kedua Pertemuan (Multaqa) Internasional ke-5 Ulama dan Da’i,  panitia menggelar pertemuan Da’iyah dan Pimpinan Pesantren seindonesia yang kedua.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta ustadzah dan daiyah dari berbagai ormas Islam, seperti ‘Aisyiyah, Muslimat Nahdatul Ulama, Muslimah Al Irsyad, Muslimah Wahdah Islamiyah (Muslimah Wahdah), BKMM, FKMT  SE-DKI Jakarta.

Muslimah Wahdah Islamiyah diwakili oleh Ketuanya Ustadzah Harisa Tipa Abidin  bersama beberapa pengurus Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara, Syeikh Abdullah Kamil, Syeikhah Ahlam Najii (ketua lembaga tahfidzul quran ), dan Prof. DR. Masyitah Chusnan, (Pimpinan Pusat Aisyiyah), Ustadzah Munirah Al-Muhaibi (sambutan), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta) selagai translator ceramah Syeikhah Ahlam.

Syeikh Abdullah menyampaikan materi Peran Wanita Islam dalam Melahirkan Generasi dan Mengukir Sejarah. Sementara Syeikhah Ahlam Najii berbicara tentang Al-Quran dalam kehidupan.  Prof. Masyitah yang juga rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyampaikan topik tentang Peranan Wanita Muslimah di Indonesia.

Pertemuan (Multaqa) ini digelar setiap tahun sejak tahun 2014 yang dirangkaikan dengan Deklarasi Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara. Selanjutnya Multaqa Ulama dan Da’i ini menjadi agenda tahunan lembaga yang dipimpin Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin ini.  pertama yang digelar di Depok Tahun 2014 sebagai tahun pembentukan Rabithah.

 Multaqa yang kedua tahun 2015 diselenggarakan di Lembang Jawa Barat dengan tema “Waman Ahsanu Qaulan..”. Multaqa yang ketiga diselenggarakan di Sentul-Bogor dengan tema Ummatan Wasatha. Multaqa ke empat tahun 2017 diselenggarakan di Kota padang dengan Tema “Wihdatul Ummah”.

Sejak Multaqa ke.4 yang digelar di Padang (2017) lalu diagendakan pula pertemuan Ulama Wanita, Da’iyah, dan Ustadzah serta pimpinan Pesantren dan aktivis dakwah Muslimah. (U2/ed:sym).

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

oleh : Samsul Basri

Para Ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya apakah boleh atau tidaknya telapak tangan tersingkap di dalam Shalat.

Kedua Tangan Wajib ditutup Ketika shalat

Imam Asy-Syaukani rahimahullahu  menyebutkan dalam kitab “Nailu al-Authaar” juz 3 hlm.330 bahwa al-Imam al-Muhaddits, Imam Abu Daud dan Imam Ahmad berkata,

أنه لا يجوز للمرأة الحرة أن تكشف كفيها وقدميها في الصلاة. ويجب عليها ستر جميع بدنها إلا الوجه

“Mengenai hal ini tidak boleh bagi seorang wanita merdeka menampakkan kedua telapak tangan demikian pula kedua kakinya ketika shalat.  wajib baginya menutup semua badannya kecuali wajah.”

Kedua Tangan Tidak Wajib ditutup dan  Boleh Terlihat

Pendapat  ini dipilih oleh Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qashim bin al-Jilaabi al-Bashriy al-Maalikiy dalam kitab “at-Tafrii’u” juz 1 hlm.239.

والمرأة الحرة كلها عورة إلا وجهها ويديها وعليها أن تستر في الصلاة سائر جسدها ولا تبدي منه شيئا الا الوجه واليدين

Dan seorang wanita merdeka, seluruh tubuhnya adalah aurat, kecuali wajah dan kedua tangannya, maka wajib baginya menutup seluruh tubuhnya dalam shalat, dan tidak menampakkan bagian dari tubuhnya sedikitpun ketika shalat kecuali wajah dan kedua tangannya.

Bagaimana sebaiknya???

Sebaiknya dengan menggabungkan dua pendapat,

Fatwa Majelis Ulama al-Mamlakah as-Su’udiyyah

إن غطتهما فأفضل ، وإلا فليس بلازم ، لا بأس بكشفهما ، والوجه يشرع كشفه في الصلاة ، المرأة تكشف وجهها في الصلاة ، إلا إذا كان عندها أجنبي تغطي وجهها ، أما إذا كان ما عندها إلا زوج أو نساء ، السنة أن يكون الوجه مكشوفا ، أما اليدان فإن شاءت كشفتهما على الصحيح ، وإن شاءت سترتهما وهو أفضل خروجا من خلاف من قال بوجوب سترهما ، أما القدمان فيستران .

Sekiranya muslimah menutup kedua tangan ketika shalat, maka hal itulah yang lebih utama. namun sekiranya tidak, maka bukan suatu keharusan. yaitu tidak mengapa tampak kedua tangan. adapun wajah, disyariatkan tersingkap ketika shalat, maksudnya seorang wanita menyingkap wajahnya dalam shalat, kecuali disekitarnya lelaki asing yang memungkinkan secara leluasa melihatnya, maka ia menutupnya. adapun jika yang memungkinkan melihatnya hanya suami atau wanita muslimah, maka yang sunnah adalah membiarkan wajah tersingkap. adapun kedua tangan jika ia mau, boleh menampakkan kedua tangan, dan jika mau ia menutup kedua tangannya dan tentu inilah yang lebih afdhal (lebih utama), lebih selamat, menghindari khilaf dari yang mengatakan bahwa menutup kedua tangan adalah wajib. adapun kedua kaki, maka keduanya wajib ditutup bagi wanita. (http://www.alifta.net/Fatawa).

 

Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahulla

المرأة عورة كلها عورة، يجب أن تستر بدنها في الصلاة، ولو ما عندها أحد، إلا الوجه، فالسنة كشفه، أما بقية بدنها فالمشروع ستره، بل يجب ستره إلا الكفين بعض أهل العلم أجاز كشفهما، والأفضل سترهما والأحوط سترهما، فإذا صلَّت وقدماها مكشوفتان أو رأسها أو ذراعها، أو صدرها لم تصح صلاتها، فالواجب على المرأة أن تستتر إلا الوجه، وهكذا الكفان الأحوط سترهما؛ لأنها عورةٌ كلها ولو ما حضرها أجنبي.

Seorang wanita seluruh tubuhnya adalah aurat. wajib baginya menutup seluruh tubuhnya di dalam shalatnya, meski tak seorang pun melihatnya, kecuali wajahnya. karena sunnahnya wajah memang ditampakkan, adapun anggota tubuh yang lainnya disyariatkan untuk ditutup. bahkan wajib ditutup kecuali kedua telapak tangan, karena sebagian ulama membolehkan keduanya tersingkap. dan yang lebih utama adalah menutup keduanya, dan yang lebih berhati -hati  adalah menutupnya. jika seorang wanita shalat, sedang kedua kakinya tersingkap atau rambutnya, atau lengannya, atau dadanya maka shalatnya tidak sah. maka wajib bagi wanita menutup badannya kecuali wajahnya. demikian pula kedua tangan, yang lebih berhati-hati adalah dengan menutupnya. karena wanita adalah aurat seluruhnya meskipun tidak ada lelaki asing yang melihatnya. (http://www.binbaz.org.sa/node/14749).

 

PP Salimah Gelar Silaturahim Nasional Koperasi dan Pengusaha

PP Salimah

PP Salimah Gelar Silaturahim Nasional Koperasi dan Pengusaha

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah) kembali menggelar perhelatan akbar berskala nasional. Pertemuan kali ini mengangkat tema ‘Menuju Koperasi dan UKM yang Produktif Kontributif’, Jumat sampai dengan Ahad (27 – 29/4/2018), bertempat di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Dalam silaturahim nasional ini berkumpul ratusan pengurus Salimah tingkat PW (Pimpinan Wilayah), PD (Pimpinan Daerah), dan Pengurus Kossuma (Koperasi Syariah Serba Usaha Salimah).

Ketua Umum Salimah, Siti Faizah  menyampaikan, “Salimah merupakan ormas perempuan yang peduli pada peningkatan kualitas perempuan, anak, dan keluarga Indonesia. Selain memiliki program dakwah, pendidikan, sosial, juga  fokus pada program peningkatan kualitas ekonomi keluarga, antara lain dengan mendirikan lembaga otonom, Koperasi Syariah Serba Usaha Salimah (Kossuma) sebagai salah satu Lembaga Kelengkapan Salimah (LKS).”

Dalam sambutannya, Ketua Umum Salimah 2015-2020 ini menyampaikan, silaturahim Kossuma dan UKM ini dirancang dengan harapan agar keterlibatan lembaga otonom Salimah bisa optimal sesuai kapasitas dalam aksi nyata membantu masyarakat, menyumbangkan pikiran bagi peningkatan kualitas ekonomi anggota dan masyarakat.

“Menyumbangkan sebagian dari hasil usaha untuk membantu kelancaran roda organisasi, sebagai pemenuhan seruan Allah Ta’ala, ‘Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.’ (Qs. Albaqarah:267),” papar Faizah.

Menurut  Ketua Departemen Ekonomi PP Salimah Etty Pratiknyowati Kossuma didirikan sejak tahun 2006, hingga saat ini, sudah berdiri 120 Kossuma di seluruh Indonesia. “Ada beberapa yang sudah bekerjasama dan mengakses dana pembiayaan baik melalui KUR maupun LPDB,” ujar Etty.

Acara ini dibuka oleh Yuana Sutyowati, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM. Pada kesempatan ini juga ada penyerahan bantuan pembiayaan. Diterima oleh dua UKM anggota Koperasi Salimah Sejahtera Indonesia (KSSI).

Mereka mengajuan KUR dan disetujui setelah melalui proses kelayakan usaha dan kelengkapan administrasi.  Penerima KUR tersebut adalah Reni Anggraeni. Mengajukan permohonan KUR dengan jumlah nominal 100 juta untuk mengembangkan usaha kuliner Salimah Food dan garment batik.  Sedangkan penerima KUR Syurti, mengajukan sejumlah 25 juta digunakan untuk mengembangkan usaha konveksi seragam. Dana KUR ini diperoleh melalui BRI Syariah.

KSSI juga akan menyerahkan berkas pengajuan pembiayaan syariah ke LPDB sejumlah 300 juta yang digunakan untuk mendukung usaha anggota koperasi.

Silaturahmi ini ada beberapa rangkaian acara. Jumat sore, akan dilaksanakan diskusi panel, membahas mengenai Penguatan Kelembagaan dan Jaringan Kerjasama, akses pembiayaan baik melalui KUR (Kredit Usaha Kecil) maupun LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir). Juga akan diberikan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan. Semua narasumber dari jajaran Deputi Kemenkop dan LPDB.

Acara lainnya adalah Seminar Wirausaha Perempuan. Digagas oleh Komunitas Enterprener Perempuan (KEP). Salah satu komunitas yang dimiliki Salimah, di bawah kendali Departemen Pendidikan. Seminar dengan judul Melejitkan Bisnis,  akan menghadirkan pembicara-pembicara profesional, Sabtu (28/4/2018).

Salimah melalui KSSI juga akan melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan BankWaqf International Malaysia. (Rilis)

Ada Apa Dengan PELAKOR?

Ada Apa Dengan PELAKOR

Ada Apa Dengan PELAKOR

_Bismillaahirrahmaanirrahiim_
*Kajian Parenting Nabawi*
*”Ada Apa Dengan PELAKOR❓”*
(Mengupas hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga)
🔺🔺🔺🔺🔺

📝 Pemateri :
Al Ustadz Bendri Jaisyurrahman Hafidzahullah

Hari/ Tanggal :
jumat 30 Maret 2018
Pkl 08.30 s/d 11.30 WIB

🏫 Tempat : Saung Arafah Pondok Laras
Jl komjen yasin 2e kelapa dua ciamnggis Depok
💌 Investasi :
– Infaq terbaik untuk anak2 yatim penghafal Al Quran

🍹 Fasilitas :
– Snack
– Soft File Materi
– DoorPrize
– Buletin Al Hijaz

📱 Informasi dan Pendaftaran :
Ketik, REG_Kp_NamaLengkap_Nomer WA
Kirim ke No. Hp. 08111110948 (call/wa)

🌐 Event by :
– Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia
– DPD Wahdah Islamiyah Depok

🚩 Supported by :
– Ponpes Tahfidz Al ihsan Kelapa Dua
– Ponpes Tahfidz Raudhatul Huffadz Pondok cabe
– Paud IBQ Al ihsan
– Rumah quran As-Sakinah.

🔴 TERTARIK?, Segera daftar ya. Ingat-ingat! :
– Peserta terbatas Bagi 200 orang
– Pendaftaran Maksimal sampai dengan tgl 29 Maret 2018 pkl 15.00 WIB.

#YuukBantuSebar
#RaihPahala

Ratusan Muslimah Siap Banjiri GMMI III di Gedung Convention Hall Bandung

 

BANDUNG  (wahdahjakarta.com)- Ratusan Muslimah dari berbagai daerah di Indonesia siap membanjiri gedung Convention Hall Mandalawangi kota Bandung, Ahad (18/3) mendatang.

Sederet pemateri dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda akan menghiasi keseruan jalannya Seminar Kemuslimahan bertajuk “Kado Cinta Muslimah Perindu Syurga” nanti yang merupakan rangkaian dari Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3.

Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Muslim Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Menurut Fitria Ningsih selaku Ketua Panitia Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3, kegiatan ini diperuntukkan bagi para muslimah yang ingin menumbuhkan nilai-nilai Islam di kehidupannya, di tengah problematika yang terjadi di kalangan muslimah.

Selain itu, lanjutnya, seminar ini hadir sebagai solusi bagi seluruh muslimah yang ingin berbenah diri dan peduli atas segala macam problematika yang terjadi di negeri ini.

”Insya Allah, seminar kita akan dihadiri oleh beberapa pemateri Nasional, salah satunya adalah mbak Peggy Melati Sukma, seorang inspirator hijrah dan penulis buku yang sangat dikenal oleh muslimah Indonesia. Di ujung acara kami juga akan mengadakan penggalangan donasi Alquran dan hijab untuk para muslimah yang membutuhkan,” ujarnya.

Fitria menembahkan, hadirnya ratusan muslimah dalam kegiatan ini sebagai bukti bahwa FMDKI adalah lembaga yang mampu merangkul semua kampus di Indonesia dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Sebagaimana diketahui, FMDKI sejauh ini telah memiliki jaringan daerah lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Salah satu fokus kerja lembaga ini adalah pembinaan Alquran mahasiswi di kampus-kampus serta pembinaan lainnya yang bergerak dalam wilayah kemuslimahan. []

Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti