Peduli Gempa Palu, Dua Siswa Ini Galang Donasi

Sultan Brata dan Jophin di kantor Lazis Wahdah Jakarta usai menyerahkan donasi Peduli Gempa Palu, Selasa (06/11/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Gempabumi, tsunami, dan likuifaksi yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala Sulawesi Tengah pada akhir september 2018 lalu memantik empati berbagai kalangan.

Salah satu empati ditunjukan para siswa Kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) Kartika 81 Jakarta Selatan.

Selasa (06/11/2018) lalu, Sultan Brata dan Jophin perwakilan para siswa mendatangai Kantor LAZIS Wahdah Jakarta,  dalam rangka menyalurkan donasi untuk warga tedampak gempa di Sulawesi Tengah (Palu, Sigi, dan Donggala) sejumlah Rp.5.900.000,00.

“Donasi dikumpulkan semenjak 3 minggu yang lalu setelah saya melihat gambar LAZIS Wahdah saat pulang sekolah. Donasi yang terkumpul berasal dari 12 kelas (6 IPA dan 6 IPS)”. ujar salah seorang dari mereka kepada Tim Media LAZIS Wahdah Jakarta.

“Saya merasa tahu gimana kita ngga punya apa-apa, ya setidaknya berbagi”, kata Sultan.

“Kalo melihat mereka menderita begitu ada rasanya miris di hati, ko kita ngga bisa ngebantu gitu, ya udah akhirnya kita berdua gerakin penggalangan dana antar kelas kolektifan berapa aja selama satu minggu ini, akhirnya kita kumpulin dapat segitu”, sambung Jophin menambahkan.

Donasi gempa Palu  sejumlah Rp.5.900.000,00 itu diteriman Ketua Divisi Fundrising LAZIS Wahdah Jakarta, Ismail,  untuk selanjutnya dikirimkan ke lokasi bencana. “Terima kasih, semoga itu kembalinya kepada teman-teman. Tolong diingatkan kepada teman-teman kalian bahwa kebaikan itu jangan berhenti pada kalian, kebaikan itu harus terus mengalir kepada siapapun..”, katanya. (rsp)


 

Dukung Dakwah Qur’an Untuk Palu dan Indonesia dengan menyalurkan donasi melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

 

🎁 Paket Donasi: mulai Rp.110.000,- untuk pendidikan dan pembinaan (sampai dengan 11 Desember 2018)

 

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

 

#1000QuranForPalu

#1000QuranForIndonesia

#pedulinegeri

#melayanidanmemberdayakan

Fauzan, Relawan Termuda Wahdah yang Terjebak Di Pegunungan Lindu

Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu yang ikut menjadi relawan bersama Tim Relawan Wahdah Islamiyah bersama ayahnya.

(Palu) wahdahjakarta.com,– Dari tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang berhasil dievakuasi oleh satuan TNI Angkatan Udara di Pegunungan Lindu, ada satu relawan yang masih berusia sangat belia. Ia bernama Fauzan Nur Rahmat, siswa kelas IX SMP IT Qurrata A’yun, Kel. Tavanjuka, Kec. Palu Selatan, kota Palu.

Ia bersama dengan ayahnya, Edi Nurdin mengendarai sebuah motor trail menuju Desa Tomado yang berada di Kecamatan Lindu, Kab. Sigi, Sabtu (20/10).

Malam itu suasana sudah gelap. Rombongan Wahdah Islamiyah sejumlah lima orang masih belum kelihatan dari belakang. Beberapa kali ia bersama ayahnya terjungkal ke atas tanah yang berlumpur.

“Ban motor saya slip. Motor jatuh dan Fauzan sudah ada dibibir jurang. Untung kaki kirinya masih terselip di sekitar ban,” ujar Edi.

Saat itu kata Edi, motor yang dikendarainya tidak mempunyai lampu penerangan.

“Susah jalannya. Karena tidak ada lampu jalan makanya saya hanya mengandalkn lampu weser saja,” urainya.

Fauzan sendiri mengaku ikut menjadi relawan karena ingin membantu warga di Desa sana.

“Saya mau bantu mereka. Kasihan, tempatnya terkurung, akses sulit dan bantuan tidak cukup,” kata Fauzan.

Dimata ayahnya, Fauzan adalah anak yang baik. Fauzan memiliki cita-cita menjadi seorang intelijen. Ayahnya bilang, kalau Fauzan ingin menjadi pahlawan yang tak dikenal.

“Kan intelijen begitu. Jarang di publish media,” tuturnya sembari tertawa.

Pria kelahiran 13 September 2004 ini mengaku sering terlibat dalam kegiatan seperti ini. Diakuinya, ia yang juga warga Pinrang sering mengikuti kegiatan SAR di Mangkutana.

“Jadi kalau jalan seperti ini sih biasa. Tapi kan malam itu beda. Makanya saya pikir meski kita punya keahlian tapi kalau Allah punya rencana lain, kita mau apa?” pungkasnya. []

Lazis Wahdah Segera Bangun 100 Shelter Huntara di Palu

Salah satu Huntara bantuan dari Wahdah Islamiyah di Palu, Sulteng.

(Palu) wahdahjakarta.com,- Wahdah Islamiyah membuat prototipe shelter atau huntara (Hunian Sementara) yang terbuat dari bahan kalsiboard. Untuk memperkuat rangka bangunan, kayu-kayu pilihan dirancang untuk memperkokoh hunian lengkap dengan atap yang didominasi bahan seng berukuran 3 x 6 meter.

Nantinya prototipe ini akan dimanfaatkan oleh pengungsi gempa dan tsunami yang ditargetkan sebanyak 100 hunian.

“Insya Allah proyek 100 hunian telah dimulai dan akan dibangun dibeberapa lokasi,” ujar Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Selasa (23/10).

Seperti diketahui bersama, gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah penduduk. Sehingga kebanyakan dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Relawan yang bekerja dalam pembangunan shelter bencana

“Salah satu poin yang paling penting dalam masa pemulihan recovery adalah tersedianya tempat tinggal bagi para korban gempa dan tsunami maka dari itu kita insya Allah akan membantu mereka terkait ketersediaan hunian sementara, tahap pertama sudah proses dan selanjutnya kita terus lanjutkan di tahap berikutnya, target kita membuat mini kompleks Shelter di atas tanah yang telah kita dapatkan dari jamaah Wahdah Islamiyah,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pada Selasa (23/10) siang, empat orang pengungsi di Jln. Sungai manonda, komplek Masjid Imam Muslim, kota Palu menerima secara simbolis shelter yang telah rampung.

Dari pihak Wahdah Islamiyah diwakili oleh Abdul Rahim kepada Hendra Setiawan, Huddin, Rida Az Zahrah dan Zulkarnain.

“Syukur kami ucapkan atas pemberian shelter ini. Semoga LAZIS Wahdah semakin dipercaya masyarakat Indonesia,” ujar Hendra.

Proses pembangunan shelter dimulai pada Kamis (18/10) yang dalam pengerjaannya dilakukan oleh delapan orang yang tergabung dalam tim shelter Wahdah Islamiyah.

Syahruddin menambahkan, hunian ini akan dilengkapi dengan WC yang layak guna dan kedepan beberapa Masjid dan Sekolah yang rubuh akan dibangun kembali guna untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi warga Sulawesi Tengah. []

TNI AU Evakuasi Relawan yanTerjebak Longsor di Lindu Sulteng

Relawan Wahdah Islamiyah yang turun dari helikopter di Sigi, Sulteng

(Sigi) wahdahjakarta.com,- Tujuh relawan Wahdah Islamiyah yang terjebak di pegunungan Lindu, Desa Tomado, Kec. Lindu, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah akhirnya pada Senin (22/10) berhasil dievakuasi oleh helikopter yang dibawa oleh Angkatan Udara. Masing-masing relawan yakni Rendy Hi Syamsul, Zulkifli Tri Darmawan, Nurhidayat, Hasir, Agus, Fauzan Nur Rahmat dan Edi Nurdin.

Helikopter ini terbang dari Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri menuju Helipad yang berada di dekat SMP Negeri 14 Sigi, danau Lindu. Relawan dievakuasi sekitar pukul 10.00 dan baru tiba sekitar pukul 11.00 waktu Palu.

Tujuh relawan ini terjebak lantaran akses jalan menuju Palu putus akibat tanah longsor.

“Akses ke Palu putus. Ada sebelas titik longsor yang ada disana. Kira-kira dua sampai tiga hari baru bisa pulih,” ujar Rendi, relawan Wahdah Islamiyah.

Sementara itu, koordinator distributor bantuan Nurhidayat mengatakan, sejak semalam, Sabtu (20/10) jalan menuju Desa Tomado juga rusak parah. Motor yang mengangkut logistik tidak bisa lagi menembus jalan yang sudah dipenuhi oleh lumpur dan batu.

Rombongan relawan Wahdah Islamiyah di Sigi, Sulteng.

“Malam itu hujan deras. Jalan juga putus. Maka kami memilih untuk kembali ke Kulawi. Kami bermalam di mushola darurat disana,” tambahnya.

“Dua hari kami terjebak di Kulawi dan Lindu. Kami tidak bisa berbuat banyak karena tak ada jalan untuk kembali ke Palu selain berjalan selama dua jam menembus pegunungan,” jelasnya.

Esok harinya, Ahad (21/10) empat orang relawan yang sempat berpisah dengan tiga orang relawan di malam itu memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Tomado.

“Alhamdulillah orang-orang disana menyambut kami dengan begitu ramah. Kami disuguhi makanan dan minuman. Bahkan pakaian karena yang kami kenakan sudah basah kuyup,” ujar Rendi mengenang. []

Pemulihan Dampak Gempa Sulteng Terus Diintensifkan

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

Terjunkan  1.047 Relawan, PLN Pulihkan Jaringan Listrik di Palu

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Percepatan pemulihan dampak gempa Sulteng terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

“Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen”, jelas Sutopo.

Namun demikian kata Sutopo maaih ada beberapa daerah yang aliran listriknya belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja. Sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

Selain itu masih menurut Sutopo, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

“Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah”, terangnya.

Pembersihan puing-puing bangunan juga terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

Penanganan Gempa Sulteng, BNPB: Jumlah Korban Meninggal 2.133

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa Sulteng

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Penanganan darurat dampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah terus dilakukan hingga saat ini. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

“Masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26/10/2018. Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana”, jelas Sutopo.

“Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana”, terangnya.

Sutopo juga menyampaikan update korban terdampak gempa. “Hingga Sabtu (20/10/2018), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga”, jelasnya.

Untuk korban selamat yang kehilangan rumah tempat tinggal akan dibuatkan hunian sementara (huntara).
“Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian”, ucapnya.

“Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak”, imbuhnya.

Ia juga menambahkan, kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini.
“Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya”, pungkasnya.

103 Ton Bantuan Kemanusiaan Asing Tiba di Sulawesi Tengah

Salah satu pesawat yang mengangkut bantuan seberat 103 ton dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaimandi Balikpapan menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu, Sulteng pada Rabu (17/10).

(PALU) wahdahjakarta.com – Sebanyak 6 pesawat asing yang mengangkut  103 Ton bantuan kemanusiaan dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaimandi Balikpapan menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu, Sulteng pada Rabu (17/10).

Enam pesawat tersebut merupakan dukungan transportasi dari Pemerintah Amerika Serikat, Australia, Kanada, Korea, Jepang, dan Singapura.

Sebanyak 64 sorti penerbangan dengan menggunakan pesawat angkut militer membawa bantuan dari Balikpapan sebagai entry point menuju Palu. Pesawat yang rata-rata menggunakan jenis C-130 Hercules tersebut mengangkut bantuan dari dalam dan luar negeri berupa bantuan pangan dan non pangan. Bantuan pangan yang dibongkarmuat tersebut berupa air mineral, mie instan, biskuit, makanan gizi bayi, minyak goreng dan beras, sedangkan non pangan didominasi tenda. Selain itu, pesawat juga menurunkan 1 unit forklift yang digunakan untuk mengangkut barang yang diturunkan dari pesawat.

BNPB melaporkan bantuan yang belum terkirim per 17/10/ 2018 terdiri dari 32 unit genset dari Cina sebanyak 32 unit (3,46 ton) dan tenda Alpinter dari UNICEF sebanyak 42 set (14,49 ton). Bantuan ini akan diangkut dan dikirim ke Palu dengan pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat dan Jepang pada hari ini. Total bantuan internasional yang telah diterima oleh Pemerintah Indonesia seberat 980 ton dengan kategori pangan dan non pangan.
Tercatat 20 negara telah membantu Pemerintah Indonesai selama penanganan darurat pascagempa Sulawesi Tengah (Sulteng). Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, India, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Malaysia, Perancis, Qatar, RRT, Rusia, Spanyol, Selandia Baru, Singapura, Swiss, Turkei, dan Ukraina. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mendapatkan dukungan bantuan dari ASEAN Coordinating Centre For Humanitarian Assistance (AHA Centre) dan Badan PBB.

Sementara itu, tenda yang dikirimkan lebih dikhususkan untuk pemenuhan kebutuhan tenda sekolah. Sebanyak 13 palet kemasan tenda sekolah bantuan UNICEF dikirimkan melalui dua sorti oleh pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat. Berdasarkan data per 16/10/2018 pukul 20.00 Wita Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sulteng, total sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, MI dan MTs, terdampak berjumlah 1.185 unit. Kerusakan terbesar teridentifikasi di Kabupaten Donggala (499 unit), Kota Palu (359), Kabupaten Sigi (234) dan Kabupaten Parigi Moutong (93). Dari total jumlah tersebut, kerusakan ruang kelas dengan kategori rusak berat dan rusak sedang mencapai 4.722 unit. Sampai dengan hari ini (19/10), ribuan tenda untuk kelas darurat masih dibutuhkan di wilayah terdampak.
Sumber: Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Relawan Trauma Healing Hibur Anak Korban Gempa dengan Bercerita

Wakil Ketua Umum Wahdah ISlamiyah Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil ketika menyampaikan cerita di depan anak-anak korban bencana Sulteng saat menjadi Relawan Trauman Healing di kab. Sigi, Sulawesi Tengah.

(SIGI) wahdahjakarta.com — Salah satu metode Trauma Healing kepada anak korban gempa yang dilakukan oleh relawan Wahdah Islamiyah adalah melalui cerita edukasi. Cerita edukasi yang berisi nilai-nilai pendidikan dan patriotisme.

Salah satunya adalah Dongeng berjudul ‘Kerajaan Darusallam’ yang disampaikan oleh Ustad Ikhwan Jalil kepada puluhan anak-anak korban Gempa.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Robot ini adalah pasukan Mujahid yang ditugaskan menjaga negerinya, Kerajaan Darussalam. Tiba-tiba ada sepasukan musuh yang dipimpin oleh Raja Jengkol menyerangnya. Maka bertakbir lah seluruh pasukan kerajaan melawan pasukan musuh itu,” kisah Ustad Ikhwan dengan penuh semangat kepada puluhan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Qurrota A’yun, Jumat (19/10/2018).

Di akhir kisah, ustad Ikhwan membagikan mainan robot kepada anak-anak yang hadir dengan terlebih dahulu membuka pertanyaan.

“Jika seandainya robot ini adalah Anda, apakah Anda siap melindungi negeri anda dari gangguan musuh? ,” tanya ustad Ikhwan kepada Amar (12), siswa kelas 6 SD IT Qurrota A’yun.

“Siap, saya akan melawannya menggunakan robot ini,” tutur Amar, tersambung gelak tawa seluruh peserta yang hadir.

Lantunan kisah oleh Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah ini mendapat sambutan tawa oleh anak-anak yang hadir, apalagi dihiasi dengan lantunan nasyid Deen Salam oleh Umar Al-Faruq, Putra Ustad Ikhwan.

Trauma healing merupakan salah satu agenda relawan Wahdah Islamiyah dalam pemulihan korban gempa Palu dan sekitarnya. “Hari ini kita mengirimkan 10 ustadz yang akan menjadi tim trauma healing,” kata ustadz Taufan Djafri, koordinator pengiriman relawan, di kantor DPP Wahdah Islamiyah, Jl. Antang Raya no 48, Makassar, Selasa (9/10/2018) lalu.

Selain kepada anak-anak, Trauma Healing juga diberikan kepada kalangan remaja dan orang tua. Metode untuk remaja dan orang tua berbeda dengan anak-anak, yakni melalui pendekatan rohani dengan tausiyah dan motivasi. ()

Korban Meninggal Gempa Sulteng Hampir 2000an Jiwa

evakuasi jenazah korban meningggal  gempa sulteng

Tim SAR sedang melakukan eevakuasi korban mennggal gempa Sulteng di Petobo Palu Barat. Photo: Tim Media Lazis Wahdah

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Jumlah korban meninggal gempa Palu, Donggal, dan Sigi yang ditemukan dan dievakuasi terus bertambah. Pusat Data dan Informasi serta Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) menyatakan bahwa jumlah korban meninggal gempa Sulteng sampai hari  ini (Senin)  adalah 1.949 jiwa.

“Tim evakuasi masih mencari, di Petobo, balaroa, selalu Tim SAR menemukan korban jumlahnya cukup banyak, karena memang diduga korban yang masih tertimbun atau berada di bawah reruntuhan bangunan banyak” ujar Kepala Pusat Data & Informasi serta Humas BNPB, Sutopo Nugroho dalam jumpa pers FMB9 yang digelar di Jakarta, Senin (08/10/2018) siang.

Secara terperinci Sutopo menyampaikan, di Kota Palu jumlah korban meninggal yang terdata sebanyak 1.539 jiwa, Kab. Donggala 171 orang, Kab. Sigi 222 orang. Sedangkan Parigi Moutong terdata secara stabil sebanyak 15 orang. Begitu  pula dengan Pasangkayu, Sulbar sebanyak 1 orang.

Seluruh korban sudah dimakamkan secara massal di beberapa daerah. Ada  pula yang diambil oleh keluarganya untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.

Beliau juga menyebutkan, secara tenis korban yang ditemukan langsung diidentifikasi, dibawa ke rumah sakit terdekat kemudian secepatnya dimakamkan.

Selain korban meninggal sda pula korban luka-luka sebanyak 10.679 orang (2.549 orang luka berat, dan 8.130 sisanya luka ringan).

Data yang ada akan terus bergerak secara dinamis sesuai laporan oleh Tim Evakuasi yang di lapangan, dan untuk update selanjutnya akan disampaikan pada konferensi pers update tanggap darurat BNPB besok, 9 Oktober 2018. [fry/sym]

BNPB : 1.763 Orang Korban Meninggal Sudah Termasuk Korban WNA

Kepala Pusat Data & Informasi serta Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat menjelaskan proses Evakuasi Gempa Sulteng pada awak media, Ahad (7/10/2018).

H+9 Evakuasi korban, BNPB mencatat pada hari ini, 7 Oktober 2018, pada pukul 13.00 WIB ada 1.763 korban meninggal yang diitemukan. Masing- berasal dari Palu (1.519 orang), Donggala (159 orang), Sigi (69 orang), Parigi Moutong (15 orang), dan Pasangkayu (15 Orang). Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data & Informasi serta Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalan Konferensi Pers yang Update Penanganan Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah

“Jumlah korban jiwa terus bertambah karena memang Tim SAR gabungan yang dikoordinir oleh Basarnas setingkat TNI, Polri, Kementrian ESDM, Relawan, bahkan masyarakat juga terus melakukan pencarian korban.” Jelas beliau dalam pertemuan tersebut.

Beliau menambahkan, dalam evakuasi korban, Kota Palu merupakan wilayah paling banyak korban meninggal yang kebanyakan disebabkan oleh Tsunami.

Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir pada konferensi pers lkemarin, 6 Oktober 2018.

Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir pada konferensi Pers Kemarin menyebutkan sebelumnya ada sekitar 122 Warga negara asing teridentifikasi berada di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, saat terjadi gempa dan tsunami pada Jumat (28/9) pekan lalu. Dari 122 WNA tercatat seorang warga negara Korea dan Belgia belum diketahui keberadaannya.

Berdasarkan hasil evakuasi, semua korban WNA sudah ditemukan. Seorang warga Korea ditemukan tewas tertimbun reruntuhan Hotel Roa-Roa. Jenazahnya berhasil dievakuasi.

“Dari 1.763 korban meninggal dunia tadi ini, sudah termasuk 1 orang WNA yaitu Korea Selatan.” ujar Sutopo. (fry)