Ustadz Zaitun: Sebelum Merdeka Saja Siap Mati, Apalagi Setelah Merdeka

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI yang digelar Wahdah Islamiyah jambi, Ahad (11/11/2018)

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah Jambi menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”. Bertempat di Masjid Agung Al-Falah, Ahad (11/2018). Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Ustadz Zaitun Rasmin mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Tidak berlebihan memang, karena hal ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Bahkan dengan jelas bisa dilihat dalam fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan dan dipertahankan dengan kalimat takbir.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Sebagaimana diketahui, pertempuran 10 November di Surabaya terjadi setelah Indonesia merdeka. “Para pendahulu bangsa ini siap mati dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tentu mereka lebih siap mati setelah kemerdekaan itu ada di tangan,” tegas beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menjelaskan bagaimana besarnya peran umat Islam dalam perjuangan bangsa. Salah satu contohnya adalah ketika para ulama Nahdhatul Ulama mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan para penjajah.

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat anugerah Allah berupa NKRI. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terang beliau.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Beliau juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.

Acara ini didukung berbagai elemen umat seperti FPI Jambi, Komunitas Hijrah Youth Move Up, dll. (Ibawi)

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Di Pertemuan Ulama Anies Baswedan Beberkan Keunikan Indonesia Jaga Persatuan

Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies BaswedanAnies Baswedan menyampaikan sambutan pada Pembukaan Multaqa Pertemuan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke.5 di Jakarta, Selasa (03/07/2018).

Di Pertemuan Ulama Anies Baswedan Beberkan Keunikan Indonesia Jaga Persatuan

(Jakarta) wahdahjakarta.com-,  Selasa (03/07/2018) Ikatan Ulama dan Asia Tenggara bekerjasama dengan Yayasan Al-Manarah al-Islamiyah menggelar Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa di Jakarta pada Selasa (03/07/2018).

Acara ini didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Pemprov DKI) Jakarta. Dalam sambutannya Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan bahwa pertemuan ulama dan da’i adalah momen untuk menggaungkan dan menunjukkan persatuan di Indonesia di mana para hadirin dapat belajar dari persatuan di Indonesia.

Sebab menurutnya Indonesia bangsa yang unik dalam menjaga persatuan dan mengelola keragaman. “Indonesia negeri yang amat bhineka, 700 bahasa 400 suku bangsa  namun yang unik dari Indonesia bukan keberagamannya saja, yang unik dari Indonesia adalah persatuan di dalam keberagaman”, ungkapnya. “Bersatu di dalam keberagaman, di situ letak keunikannya”, imbuhnya.

Penggagas Gerakan Indonesia mengajar ini mengatakan bahwa selama ini kita fokus kita banggakan adalah keberagaman, kita lupa bahwa yang harus kita rayakan bukan hanya keberagaman, yang harus dirayakan adalah persatuan.

Oleh karena itu sebagai Gubernur DKI mengaku bangga dan bersyukur, Jakarta dipilih sebagai tuan rumah penyelenggara Multaqa ini.   Beliau  berharap dari Indonesia terbit perdamaian dan menyebar ke seluruh tempat. Khususnya negeri  yang saat ini belum merasakan perdamaian.

“Membangun persatuan di Indonesia bukan berarti kita menghilangkan masalah tetapi dari waktu ke waktu kita sebagai bangsa selalu bisa menyelesaikan masalah dan menjaga persatuan, dan mungkin dunia Islam bisa belajar banyak dari bagaimana persatuan di Indonesia bisa dibangun,” ucap Anies.

Gubernur Anies juga mengucapkan terima kasih atas kesediaan Wapres RI Muhammad Jusuf Kalla yang hadir menyampaikan sambutan dan membuka acara ini. Menurutnya kedatangan Wapres RI makin menyiratkan pesan perdamaian kepada para hadirin, terlebih Wapres RI telah banyak berjasa dalam upaya perdamaian di banyak tempat. “Pak Wapres juga seorang yang banyak bekerja membangun perdamaian banyak persoalan konflik di Indonesia di mana beliau terlibat, termasuk juga konflik di berbagai wilayah di Asia Tenggara dan bahkan bulan lalu sempat dengan pihak Afganistan untuk merancang solusi perdamaian, ” tandasnya. [sym].

 

Ustadz Zaitun: Cinta NKRI Itu Fitrah

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Gorontalo – Wahdah Islamiyah Gorontalo menelenggarakan tabligh akbar dengan tema Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan. Bertempat di Masjid Kampus Univeritas Negeri Gorontalo Sabilurrasyad pada hari Ahad, 11/02/2018.

Hadir dalam acara ini Ketua MUI gorontalo Ust. Abdurrahman Bahmid, Lc, Alumni Al Azhar yang juga anggota DPD RI ini menyebut tabligh akbar ini sangat penting sebagai penguatan.

“Umat Islam harus kuat, baik secara pribadi, organisasi, maupun dalam skala ummat. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah”, terangnya.

“Mashdarul quwwah (sumber kekuatan) adalah kuatnya aqidah dan hubungan dengan Allah. Setelah itu, persatuan ummat”, imbuhnya.

Selanjutnya Ust. Zaitun Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang juga Wasekjen MUI menjelaskan pentingnya cinta NKRI dan pentingnya persatuan.

“NKRI adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga dan dirawat”, kata beliau.

Menurut Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i Asia Tenggara ini, nasionalisme (cinta negeri) adalah sesuatu yag thabi’i (sesuai dengan sifat bawaan manusia/fitrah). Asalkan tetap dalam batas yang tidak melanggar syari’at.

“Cinta kepada negeri adalah sesuatu yang thabi’i. Sebagaimana dahulu Rasulullah mengungkapkan kecintaan beliau kepada kota Makkah saat berhijrah”, terangnya.

“Umat islam mayoritas di negeri ini harus mengetahui konsep islam tentang nasionalisme. Kalau tidak, akan dimanfaatkan oleh orang lain dari kalangan sekuler menjauhkan ummat islam dari hak-haknya,” lanjut ustad yang juga wakil ketua GNPF ulama ini.

Batasan yang beliau maksudkan adalah kecintaan yang tidak melebihi cinta Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam, serta tidak merendahkan bangsa lain.

“Cinta pada negeri ini disyariatkan asal tidak melebihi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan ajaran Islam itu sendiri. Nasionalisme yang dilarang Islam adalah menjadikan seseorang membenci atau merendahkan bangsa lain”, tegas beliau.

Beliau menambahkan bahwa wujud cinta negeri adalah dengan membela, membangun, merawat, mencintai, dan memajukan NKRI.

Termasuk bentuk merawat NKRI menurut beliau adalah dengan tetap menghidupkan budaya saling menasehati, Amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan identitas-identitas yang ada pada suku atau agama tertentu. Umat Islam siap bersatu dalam perbedaan demi terjaganya NKRI”, pungkas beliau. [ibw]

Ustadz Zaitun: Bangsa Indonesia Cinta Persatuan

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Kendari-Wahdahjakarta.com)-Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara menyelenggarakan tabligh akbar di Masjid Al Kautsar, Kota Kendari pada Ahad, (10/12/2017). Tabligh akbar di masjid terbesar Kendari ini menghadirkan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Zaitun Rasmin sebagai pemateri utama.

Panitia memilih tema ukhuwah karena dipandang saat ini ikatan persaudaraan menjadi “critical point”. Satu titik kritis yang harus dijaga dan dikuatkan karena menyangkut solidaritas sesama muslim di tanah air maupun di seluruh dunia.

Ustaz. Zaitun mengawali dengan mengingatkan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu Al Quds Palestina. Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i ASEAN ini menghimbau agar umat Islam di Indonesia turut membantu saudara kita disana.

Ulama kelahiran Gorontalo ini mengecam keras tindakan Trump. “Keputusan Donald Trump yang menyatakan Al Quds sebagai ibukota Israel adalah tanda awal hancurnya Israel dan Amerika in syaa Allah,” tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa menguatnya ukhuwah di antara kaum muslimin diharapkan menjadi penguat persatuan sesama komponen bangsa di Indonesia. Dengan kata lain, ukhuwah diharapkan menjadi penguat “persatuan Indonesia”.
“Persatuan bisa kita lakukan lebih luas. Termasuk dengan non muslim. Contohnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saat tiba di Madinah. Persatuan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas dan mempertahankan Madinah dari gangguan luar,” tambah beliau.

Menurut beliau, adanya para perusak negeri ini bukan alasan untuk tidak mencintai negeri ini. “Di negeri ini memang ada para perusak dan perampok yang ingin menjualnya. Namun ini bukan menjadi alasan untuk tidak mencintai negeri ini. Pada dasarnya, bangsa kita adalah bangsa yang cinta persatuan. Sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Maka ini bisa menjadi modal penting bagi kita dalam mengupayakan kerukunan dan ukhuwah,” lanjut beliau.

Tabligh akbar sukses digelar dan dihadiri ribuan peserta. Sebagian berasal dari luar kota dan bahkan luar pulau, seperti Pulau Muna dan Buton. [ibw]

Tim Kebersihan Reuni Akbar 212

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Jakarta – Reuni 212 Sabtu (02/12) telah usai gegap gempita dihadiri sekitar 1 Jutaan orang. Alhamdulillah, atas izin Allah Monumen Nasional (Monas) kembali telah bersih bebas dari sampah.

” Bagus kalau setiap acara besar yang diselenggarakan di Monas harusnya bersih seperti ini”. ujar salah seorang peserta reuni.

Dikabarkan bahwa sampah bekas acara Reunian 212 ini memang sudah di koordinir dengan pihak dinas kebersihan Kota Jakarta bekerjasama dengan relawan dari penyelenggara. Para relawan tidak sedikit yang kemudian disebar di berbagai titik lapangan, disamping juga atas kesadaran dari para peserta sendiri untuk mengumpulkan sampah yang berserakan, sehingga sampah dapat terlokalisir tidak berserakan.(RH).

UBN Mengisi Reuni Akbar 212

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ketua GNPF Ulama Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) memberikan tausiyah pada acara Reuni Akbar 212, konsolidasi akbar yang didukung berbagai komponen umat Islam. Reuni dilaksanakan di Monas, Jakarta pada hari Sabtu (2/12/2017).

Ketua GNPF Ulama yang kerap disapa UBN ini menyimpulkan penyebab perpecahan yang selama ini terjadi, berakar pada 2 hal, yaitu : jauhnya umat dari Al Qur’an dan adanya pengelompokan-pengelompokan terhadap umat Islam.

Untuk kasus yang pertama, beliau menyindir masih banyak yang tidak sholat subuh berjama’ah dan mendahulukan membaca Whatsapp dibanding Al Qur’an.

Yang kedua adalah masih adanya gesekan dalan internal umat Islam dikarenakan beberapa perbedaan, seperti organisasi, madzhab, dll.

“Demi Allah, tidak pernah ada di hati saya bahwa NU, Anshor dan Banser melarang saya ceramah. Yang ada adalah karena saya yang jarang silaturahim kepada mereka,” tegasnya.

Berikutnya beliau mengajak agar umat Islam tidak membuka kembali luka sejarah. “Pernah ada luka sejarah di masa lalu. Masyumi pernah kecewa dengan NU, dan NU kecewa dengan Masyumi. Itu adalah ijtihad para pendahulu kita,” kata beliau.

“Kini kita umat Islam perlu membuat ijtihad baru, yaitu bersatunya semua kekuatan Islam baik yang tradisional maupun modernis di Indonesia. Hilangkan syak wasangka, lupakan luka sejarah. Kita menatap masa depan Islam yang baru di Indonesia”, lanjutnya.

Persatuan perlu terus diupayakan karena ada pihak-pihak yang ingin agar umat terus berseteru.

“Mereka, musuh agama dan negara, tidak peduli kamu ini bajunya putih atau hijau, tidak perduli kamu NU atau Muhammadiyah, mereka tidak peduli bangsa negara ini hancur. Yang mereka mau adalah kita umat berpecah belah, bawa lari kekayaan Indonesia yg luar biasa ini,” pungkasnya. [ibw]

Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

 

Denpasar (Wahdahjakarta.com)- Wahdah Islamiyah (WI) Bali menggelar tabligh akbar bertajuk “Menjalin Persatuan dalam Perbedaan” hari Ahad (26/11/2017). Acara bertempat di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, Bali dengan menghadirkan ketua Umum WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pembicara.

Ustadz Zaitun menyampaikan bahwa salah satu cara menjaga iman adalah dengan memelihara persaudaraan dan persatuan. Sebab, persaudaraan dan persatuan adalah bagian dari iman.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan banyak alasan mengapa kita mesti bersatu. Salah satunya, karena kita akan lemah jika sendirian dan sebaliknya, akan menjadi kuat jika bersatu. Begitulah sifat iman menurut beliau.

Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan bersatu. Kita adalah umat yang telah Allah tetapkan sebagai saudara, sepanjang kita beragama Islam. Meskipun berbeda mazhab, organisasi, suku, warna kulit, bahasa, dll.

Menurut beliau, iman akan melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan akan menghasilkan kekuatan jika sesama muslim saling menolong. “Dengan iman yang ada pada setiap mukmin, akan mendorong satu sama lain saling menasihati dan saling menolong”, ungkap beliau.

Dalam hal menolong orang lain, tidak hanya menolong ketika ada yang terzhalimi, tapi juga harus menolong orang yang menzhalimi. Caranya dengan menasihatinya agar berhenti dari kezhaliman tersebut.

Dalam hal menjaga keharmonisan persaudaraan ini, kita memerlukan ketegasan agar kezhaliman tidak berlanjut. Sekali lagi, menurut beliau, tujuan utamanya adalah untuk menghentikan kezhaliman. Bukan untuk menyakiti sesama saudara.

Kajian berlangsung khidmat hingga akhir dengan jamaah yang membludak. Masjid Baitul Makmur ini terkenal dengan jamaah shalat subuhnya, lebih dari 1000 orang jamaah setiap hari. []

 

 

Resolusi Umat Islam Surakarta

Resolusi Islam Surakarta
Solo (wahdahajarta.com)- Ahad (19/11) Ummat Islam Surakarta menggelar pertemuan dan silaturrahim di Masjid Baitul Ma’mur Sukoharjo Solo Jawa Tengah. Pertemuan yang diinisiasi oleh Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Solo ini mengangkat tema Pemimpin Kebangkitan Peradan Islam.
Pertemuan ini dihadiri perwakilan tokoh ummat dari organisasi masyakat (ormas) Islam, para pengurus MIUMI Pusat dan daerah, serta elemen ummat Islam lainnya.

Dalam pertemuan ini dikeluarkan sebuah resolusi yang disebut Resolusi Islam Surakarta. Berikut naskah resolusi Islam surakarta yang terdiri atas empat poin utama.

Bersama Silaturrahim Tokoh-tokoh Ulama dan Umat Islam Surakarta yang dihadiri seluruh organisasi dan elemen umat Islam Surakarta, kami menyatakan:
1. Tokoh dan ulama umat Islam Surakarta bertekad untuk bersatu, bersaudara dan bersama-sama berjuang mewujudkan ummatan waahidah (umat yang satu) di bawah kalimat tauhid dan sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wasallam. Segala perbedaan tidak akan memecah belah hati kaum muslimin serta kita bingkai dengan toleransi dan kasih sayang.
2. Menolak dan melawan segala usaha memecah belah persatuan dan persaudaraan kaum muslimin.
3. Bertekad berjuang bersama-sama untuk menegakkan ajaran Islam dengan sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
4. Bertekad untuk memertahankan NKRI dan mengantarkan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang memberikan keteladanan dalam peradaban Islam.
Surakarta, 19 November 2017

[ibw/sym]