Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Manfaat Puasa Syawal

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallalla ahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa setahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan seperti puasa syawal memiliki banyak manfa’at, di antaranya:

  1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa Ramadhan.
  2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan. Karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, maka Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.”

Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

  1. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah (ampnan) atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (Terj. QS. an-Nahl: 92)

  1. Dan di antara manfa’at puasa Syawal adalah sebagai lanjutan dari amalan yang dikerjakan Pada bulan Ramadhan. Amalan    yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah mal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dilakukan  seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Sumber, Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.

Artikel: http://wahdah.or.id/

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang memilih hari-hari tertentu  untuk berpuasa pada bulan Syawal ataukah puasa syawal ini memiliki waktu-waktu (hari-hari) tertentu (ayyam ma’lum)? Apakah jika seseorang berpuasa pada hari-hari itu terhitung sebagai puasa wajib baginya?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (tentang puasa Syawal);

” من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر ” خرجه الإمام مسلم

Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal bagaikan puasa setahun”. (Dikelurakan Oleh Imam Muslim).

Keenam hari tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu dalam bulan Syawal. Seseorang dapat memilih hari i apa saja di sepanjang bulan Syawal. Bila dia mau bisa pada awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bila dia mau bisa terpisah-pisah atau berturut-turut. Masalah ini luwes, alhamdulillah.

Jika seseorang bersegera melakukannya di awal bulan dan berturut-turut, maka itu lebih afdhal. Karena hal itu termasuk sikap bergegas kepada kebaikan (al musara’ah ilal khair).

Puasa tersebut bukan merupakan kewajiban (tidak wajib). Bahkan boleh meninggalkannya pada suatu tahun tertentu. Tetapi yang lebih utama dan lebih sempurna adalah istimrar (terus-menerus) melakukannya setiap tahun, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya meskipun sedikit”. Semoga Allah memberi taufiq. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Juz 15, hlm. 390). (sym)

Artikel: wahdah.or.id

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa syawal?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa Syawal?

Pertanyaan:

Mungkinkah (baca: Bolehkah) menggabungkan dua niat puasa syawal dan puasa qadha? Syukran.

Jawab:

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan masalah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya (sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah).

Qadha Shiyam Ramadhan dan puasa yang lainnya dimaksudkan secara dzatnya. Demikian pula dengan shiyam enam hari diu bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena kedua puasa tersebut (puasa ramadhan + puasa enam hari syawal) setara dengan puasa setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga tidak sah jika keduanya digabung (pelaksanaannya) dalam satu niat.

 

Kesimpulan (red): Puasa qadha dan puasa syawal tidak digabung. Jika digabung, tidak sah. Wallahu a’lam.

(sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=6579)

1[1] Misalnya, seseorang masuk masjid saat kumandang adzan telah usai. Lalu ia menunaikan shalat sunnat rawatib qabliyah . dalam keadaan seperti ini kewajiban shalat tahiyatul masjid atasnya telah gugur. Karena yang dikehendaki oleh syariat adalah “Tidak duduk –saat masuk masjid- sebelum shalat dua rakaat”. Shalat yang dimaksud adalah shalat tahiyatul masjid (penghormatan/pemuliaan terhadap masjid). Namun jika kondisi tidak memungkikan, sehingga seseorang langsung menunaikan shalat sunnah rawatib atau shalat fardhu (jika masuk saat iqamat), maka kewajiban tahiyatul masjid telah gugur, dan boleh menyertakan niat tahiyatul masjid saat shalat sunnat rawatib.

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Hadits Puasa [9] :Anjuran Berbuka dengan Kurma

Anjuran Berbuka dengan Kurma

Kurma dan aAir Putih

Hadits Puasa [9]:Anjuran Berbuka dengan Kurma

wahdahjakarta.com| Salah satu anjuran dan sunnah Nabi dalam berbuka puasa adalah berbuka dengan kurma, sebagaimana dalam hadits berikut;

– وعَنْ سليمان بنِ عامر الضَّبِّيِّ – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أَفْطَر أَحَدُكُمْ فَلْيُفطِر على تمرٍ، فإن لَم يجدْ فَلْيُفطِر على ماءٍ فإِنّهُ طَهُورٌ” رواهُ الخمسة وصحَّحَه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم

Dari Sulaiman bin Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa, hendaknya dia berbuka dengan kurma (tamr), jika tidak mendapatkan kurma maka berbuka dengan air karena dia suci”. (HR. Lima perawi hadits dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran berbuka dengan kurma dan air putih, karena mengandung air (basah) dan gula (manis). Dalam riwayat Tirmidzi dan Nasai dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dinyatakan;

“كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يفطر على رطبات قبل أن يصلي، فإن لم يكن فعلى تمرات فإن لم يكن حسا حسوات من ماء”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum menunaikan shalat Maghrib. Jika tidak ada kurma basah (ruthab) beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamar), jika tidak ada maka beliau meminum beberapa teguk air”. (HR. Tirmidzi dan Nasai).

Salah satu hikmanya adalah karena kurma mengandung glukosa dan air yang dapat mengembalikan kebugaran tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus. Sehingga orang yang berbuka dengan kurma cepat pulih dari letih seharian.  [sym].

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah 

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah 

Kurma dan Air Putih

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah

wahdahjakarta.com| Menu makan sahur dan buka puasa Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam sangat sederhana. Yaitu hanya berupa ruthob (kurma basah), atau tamr (kurma kering), atau air putih. Sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits, diantaranya;

Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كان النبي يفطر قبل أن يصلي على رطبات فإن لم تكن رطبات فتميرات فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa sebelum melakukan sholat magrib dengan ruthob, jika tidak ada ruthob (kurma basah)maka beliau berbuka dengan beberapa butir tamr(kurma kering) dan jika tidak ada tamar maka beliau meminum beberapa teguk air putih”. (HR. Tirmidzi: 696).

Hadits di atas menunjukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthob, jika tidak ada ruthob, maka beliau berbuka dengan tamr, dan jika tidak ada maka beliau berbuka dengan meneguk beberapa teguk air. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa jika ketika seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa untuk berbuka puasa maka dia berbuka dengan makanan apa saja yang halal, jika ia tidak mendapatkan apa-apa juga maka dia meniatkan saja untuk berbuka, karena siapa yang berniat buka puasa maka terhitung telah berbuka berpuasa.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah  Read more http://wahdahjakarta.com/berbuka-dengan-kurma-dan-air-putih-sederhana-tapi-sehat-dan-berkah/

نعم سحور المؤمن التمر

Sebaik-baik (menu) makan sahur seorang Mu’min adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud: 23345).

Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘a’aihi wasallam berkata kepadaku -dan saat itu ketika sahur-;

يا أنس إني أريد الصيام أطعمني شيئا، فأتيته بتمر وإناء فيه ماء وذلك بعدما أذن بلال

Wahai Anas, sesungguhnya aku ingin puasa, berikanlah sesuatu makanan padaku.” Maka aku datang kepadanya dengan tamar dan segelas air dan itu setelah Bilal mengumandangkan adzannya.” (HR. An Nasai: 2167).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

تسحروا ولو بجرعة من ماء

Bersahurlah!meski hanya dengan –meminum-seteguk air”. (HR. Ibnu Hibban, No. 3476).

 

Kurma & Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah

Mungkin sebagian orang akan bertanya. Ngapain harus berbuka dengan kurma atau air putih? Bukankan masih banyak menu makanan dan minuman yang lebih bergizi? Mungkin sebagian orang lebih memilih berbuka puasa dengan minuman suplemen.

Namun bagi seorang Muslim yang komitmen mengikuti dan meneladani Rasul (ittiba’ dan iqtida) selalu yakin bahwa sebaik-baik petunjuk dan resep adalah yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkait berbuka dengan air putih dan kurma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terangkan bahwa masing-masing dari keduanya suci dan mengandung berkah. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Salman ibn ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر فإنه بركة فإن لم يجد تمرا فالماء فإنه طهور

Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Berkah artinya kebaikan yang banyak dan langgeng. Orang yang berbuka dengan kurma akan memperoleh berkah, berupa pahala dan kebaikan yang banyak. Diantara berkah berbuka puasa dengan kurma adalah mendapatkan khasiat yang terkandung dalam kurma.

Kurma mengandung dzat-dzat penting dibutuhkan setelah seharian lambung kita kosong tidak terisi oleh makanan dan minuman. Karena itu, saat berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) membutuhkan sesuatu yang lembut agar dapat bekerja kembali dengan baik. Jadi, makanan yang masuk harus yang mudah dicerna serta mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atau dua dzat gula. Dan itu terdapat dalam kurma.

Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya sebagaimana dikutip dalam eramuslim.com menjelaskan, berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma Ruthob yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh.

 

 Harus Ganjil?

Apakah yang disantap saat berbuka puasa harus berjumlah ganjil? Tidak ada keterangan yang menunjukan dianjurkannya berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil. Yang ada keterangannya adalah berkenaan dengan shalat ‘idul Fithri. Diriwayatkan bahwa sebelum berangkat ke tempat shalat idul Fithri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan kurma dalam jumlah ganjil.

Untuk lebih jelasnya, kami sertakan fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkenaan dengan hal itu:

Pertanyaan :

Saya pernah mendengar bahwa orang yang berpuasa wajib berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil, yaitu lima atau tujuh. Apakah hal tersebut (dalam jumlah ganjil) wajib ?

Jawaban :

Hal tersebut tidak wajib, bahkan tidak pula sunnah berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil; tiga, lima, tujuh, atau sembilan kecuali pada hari i’dul fithri. Telah ada hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat melaksanakan shalat pada hari i’dul fithri sampai beliau makan beberapa kurma, dan beliau makan kurma dalam jumlah ganjil. Selain keadaan tersebut maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyengaja makan kurma dalam jumlah ganjil.  (Sumber:Fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah)

 Penutup & Kesimpulan

Dari penjelasan di atas diperoleh simpulan;

  • Sunnah ber-ifthar (buka puasa) dengan ruthob (kurma mengkal/basah). Jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada maka dengan air putih.
  • Berbuka dengan kurma dan air putih memiliki dua faidah sekaligus; yakni (a) memperoleh pahala karena mengikuti tuntunan Rasul, dan (b) memperoleh manfaat kesehatan, karena kurma mengandung air putih mengandung dzat yang sangat baik bagi tubuh.

Semoga Allah mengaruniakan taufiq untuk selalu mengikuti sunnah Nabi-Nya dalam setiap ibadah kita. (sym/wahdah.or.id)

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Bulan Ramadhan Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Keutamaan Bulan Ramadhan [2]:  Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

wahdahjakarta.com| Diantara keutamaan bulan Ramadhan adalah bahwa pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu atau diikikat. Sebagaimana dikabarkan dalam hadits Bukhari Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ , وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ ”

Jika datang bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu” Dalam riwayat lain “para setan dirantai (shufidat)” (HR Bukhari & Muslim)

Maksud dari setan dibelenggu dan dirantai, adalah bahwasanya pada bulan Ramadhan mereka tidak leluasa melakukan apa yang biasa mereka lakukan diluar bulan Ramadhan. Oleh karena itu, anda dapati bahwa was-was (bisikan), godaan dan tipu daya setan kepada manusia pada bulan Ramadhan lebih sedikit dibanding bulan-bulan yang lain. Bahkan setan takut kepada bulan Ramadhan, sebagaimana ia takut kepada adzan dan Iqamat sehingga ia lari ketika mendengar adzan dan Iqamat.

Mungkin salah satu bukti nyata yang dapat kita lihat adalah jika bulan Ramadhan datang, para ahli maksiat bersiap-siap untuk bertaubat. Sering pula kita jumpai sebagian orang bertanya saat menjelang Ramadhan dengan pertanyaan yang menunjukan kesiapan mereka untuk bertaubat. Diantara mereka ada yang bertanya: ”Saya pernah berbuat dzolim, bagaimana saya dapat melepaskan diri darinya?” Ada juga yang bertanya : ”Saya pernah melakukan maksiat ini, bagaimana saya bertaubat darinya?”. Yang lainnya bertanya: “Saya melalaikan ketaatan ini dan itu, bagaimana agar saya dapat memelihara ketaaatan tersebut?” Demikian seterusnya.

Mereka bersiap-siap untuk bertaubat sebelum bulan Ramadhan. Berarti setan takut dengan dekatnya kedatangan bulan Ramadhan, dimana pada bulan ini tipudaya dan pengaruhnya melemah. Lalu bagaimana lagi, jika Ramadhan telah masuk setan-setan dibelenggu &  diikat dengan rantai, mereka tidak akan mampu memperdaya manusia kecuali dalam beberapa dosa yang sedikit.

Namun, disisi lain ada jiwa-jiwa jahat yang sangat cepat merespon bisikan-bisikan setan. Sehingga ketika pengaruh setan melemah pada bulan Ramadhan dia tetap jahat. Oleh karena itu, anda jumpai orang yang tetap menyimpang pada bulan Ramadhan. Saya pernah melihat contoh yang seperti ini bahkan sebagian mereka melakukan pelanggaran pada malam 27 Ramadhan, bahkan terkadang sekelompok orang yang telah tertutupi hatinya berkumpul melakukan perbuatan sia-sia, minum-minum (khamar), bernyanyi dan bahkan berzina, Wal ‘iyaadzu billah. [sym]. 

Tanya Jawab Fiqh Puasa [06]: Berkah Makan Sahur

 Berkah Makan Sahur

Berkah Makan Sahur

Tanya Jawab Fiqh Puasa [06]: Berkah Makan Sahur

Pertanyaan:

Apakah berkah dalam sahur dapat diperoleh dengan menyantap apapun meski hanya berupa air?

Jawaban:

Apapun yang dikonsumsi oleh seseorang pada waktu sahur adalah baik dan mengandung berkah. Semakin sesuai dengan hajat seseorang semakin baik dan berkah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“تسَحَّروا فإن في السَّحُور بركةً”

Bersahurlah karena di dalam makan sahur terdapat berkah”. (HR. Bukhari: 1923).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda;

“عليكم بالسَّحُور فإنه الغذاء المبارك”

“Hendaklah kalian makan sahur karena ia merupakan gizi yang berberkah”. (HR. Ahmad:4/132).

Ini juga mengandung makna bahwa di dalam makan sahur terdapat berkah bagi manusia. Jika seseorang meninggalkan makan sahur sama sekali maknanya ia kehilangan berkah tersebut. Adapun jika ia hanya meminum segelas air atau segelas susu, atau memakan sebutir kurma misalnya, roti atau makanan ringan, Ini lebih afdhal dan bepengaruh pada hari ia menjalani puasa dan saat bekerja.

Dan hendaknya seseorang berusaha menyantap sesuatu pada saat sahur, karena, pertama; Nabi menyuruh makan sahur, kedua; makan sahur mengandung kemaslahatan baginya. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu melainkan mengandung kebaikan sebab beliau tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Wallahu a’lam. (terjemah Oleh Syamsuddin Al-Munawiy dari fatwa Syekh Syekh Shaleh bin Ali bin Ghashun rahimahullah // http://www.almoslim.net/node/235858).Sumber dari: http://wahdah.or.id/fatwa-ramadhan-20-keberkahan-dalam-sahur/

Memanfaatkan Waktu Pada Bulan Ramadhan

Memanfaatkan Waktu Pada Bulan Ramadhan

Waktu seorang Muslim umumnya sangat berharga, dan pada bulan Ramadhan lebih berharga dan lebih mahal. Oleh sebab itu, wajib mengingatkan beberapa hal terkait persoalan memanfaatkan waktu di bulan ini.

Pertama

Sebuah kesalahan ketika sebagian orang begadang sepanjang malam pada bulan Ramadhan. Seseorang hendaknya membagi waktu malamnya untuk tidur, karena tidur malam tidak sama dengan tidur siang. Sebab tidur satu atau dua jam pada malam hari dapat menggantikan waktu istirahat yang banyak (lama )pada waktu yang lain.

Kedua

Seorang Muslim selayaknya mengisi waktunya pada bulan Ramadhan dengan membaca al-Quran. Entah membaca melalui mushaf atau dari hafalan. Membaca di masjid, rumah, mobil dan tempat lain yang memungkinkan. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menamatkan bacaan al-Quran setiap tiga hari, atau setiap pekan, atau paling minimal menamatkan satu kali selama bulan Ramadhan ini, meskipun hal ini termasuk kelalaian yang jelas.

Ketiga

Pentingnya meninggalkan permainan (perkara) sia-sia. Sebab sebagian pemuda berkumpul selepas shalat tarwih –kalau mereka shalat- untuk begadang. Mereka berbagi cerita, bahkan majelis tersebut didominasi oleh senda gurau, canda tawa, bahkan mereka terjerumus ke dalam ghibah dan namimah, perkataan dusta dan semacamnya. Semua ini tidak pantas bagi seorang Muslim pada seluruh waktunya apalagi pada bulan ini. Sungguh kerugian besar bila seorang hamba berbuat baik, kemudian ia rusak sendiri dengan kemaksiatan dan dosa.

Keempat

Sebagian pemuda menganggap bulan Ramadhan sebagai kesemptan bermain dan bersenda gurau. Anda saksikan sebagian mereka setelah shalat Isya atau tarwih pergi bermain bola/futsal. Mereka menghabiskan seluruh malamnya dengan bermain sepanjang malam sampai waktu sahur. Mungkin sebagian mereka bergembira dengan kedatangan Ramadhan karena kesempatan tersebut.

Saya tidak bermaksud melarang berolahraga, asal dilakukan sesuai kadar (porsi) yang masuk akal. Tetapi aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa menghabiskan seluruh malam untuk permainan merupakan kelalaian dan menyia-nyiakan waktu. Tidurnya seseorang pada pada malam hari jauh lebih baik dari keadaan para pemuda yang menghabiskan atau melawati malamnya dengan perkara yang tidak bermanfaat, entah dengan main bola, nonton TV yang menayangkan wanita, musik ,dan sinetron yang merusak. Dimana tidak sepantasnya bagi orang yang menghargai waktunya untuk menghabiskan waktunya dalam perkara tersebut, sehingga ia rugi karena tidak mendapat pahala dan justru berdosa.

Kelima

Sebagian pemuda menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.Hal ini disebabkan oleh buruknya manajemen waktu harian mereka dan kelalaian mereka untuk menambah kebaikan pada musim yang mulia ini.

Mereka begadang sepanjang malam kemudian usai shalat subuh mereka pergi balapan liar dengan berkumpul di pinggir jalan-jalan. Andaikan mereka duduk di masjid setelah shalat subuh sampai matahari terbit setinggi tombak, kemudian shalat dua rakaat sehingga dia memperoleh pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, dan sempurna. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka pergi balapan, tertawa dan bersenda gurau, kemudian saat matahari telah meninggi mereka pergi tidur sampai datang waktu (jam) bekerja atau belajar dengan berat dan terpaksa mereka ke tempat kerja atau sekolah. Setelah selesai jam belajar dan berkantor ia langsung lemparkan badannya ke kasur sampai terbenam matahari.

Ini adalah masalah yang krusial. Kaum Muslimin wajib meninggalkannya. Jika seseorang butuh untuk menghabiskan/memanfaatkan sebagian waktu di siang hari bulan Ramadhan untuk bekerja atau sekolah, maka ia harus mengkhususkan sebagian waktu malamnya untuk tidur, agar dapat menghadiri shalat berjama’ah, lalu siangnya untuk membaca al-Quran dan taqarrub lainnya.

Dan sangat disayangkan, sebagian pegawai ketiduran pada jam kantor, juga para pelajar tidur pada jam belajar. Apakah seorang pegawai digaji hanya untuk tidur di kantor? Ataukah untuk melayani kepentingan publik dan kemaslahatan kaum Muslimin?

Tak dapat dipungkiri bahwa ia digaji untuk menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya,maka ia tidak boleh tidur pada jam kerja. Meskipun kebanyakan pegawai –alhamdulillah- tetap merasakan tanggungjawab dan kewajibannya serta bermuamalah (interaksi) dengan baik bersama kaum Muslimin pada setiap waktu khususnya di bulan Ramadhan. Tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk mengingatkan kesalahan yang dilakukan oleh segelintir orang. Wallahul Hadiy Ila aqwamit Thariq. (sym)

Sumber: Diterjemahkan dari Risalah Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd.

Agar Ramadhan Lebih Bermakna, Perhatikan 4 Hal Ini!

Agar Ramadhan Lebih Bermakna, Perhatikan 4 Hal Ini!

Suatu kesyukuran yang hanya patut kita panjatkan kepada Allah, karena tanpa terasa kita telah memasuki subuh pertama dibulan ramadhan 1439 H. Kedatangan bulan Ramadhan adalah nikmat agung atas orang yang Allah kehendaki.

Bulan Ramadhan datang membawa kabar gembira kepada mereka yang gemar beramal. Hati orang-orang bertaqwa membuncah karena keindahan hari-harinya diisi dengan ibadah. Ramadhan datang untuk mencuci dosa orang-orang yang bertaubat dan menyesal, pintu-pintu syurgaNya dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.

Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan bulan Ramdhan sehingga sangat sayang apabila dia hanya berlalu begitu saja seperti tahun-tahun yang lalu. Agar Ramadhan tahun ini lebih bermakna dan berberkah, maka minimal ada 4 hal yang perlu diperhatikan:

  1. Merenungi Kembali tentang Ramadhan yang Lalu

Mari mencoba mengingat ulang kondisi diri dan ibadah kita pada Ramadhan yang lalu. Apakah puasa kita sudah memenuhi adab-adabnya atau sekedar tidak makan, minum dan berhubungan badan saja?

Apakah Ramadhan tahun lalu kita rutin tarawih dan tilawah setiap harinya?

Apakah kita termasuk orang yang untung atau rugi dalam ramadhan kemarin ?

Kalaulah kita termasuk orang-orang yang telah puasa sesuai dengan sunnah Rasul, mengisi hari-harinya dengan tilawah qur’an, malamnya dengan banyak bersujud, maka bersyukurlah kita kepada Allah, dan kita bertekad untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitasnya pada Ramadhan kali ini.

Namun apabila kita termasuk orang yang banyak lalai dalam mengisi Ramadhan tahun yang lalu, maka tahun ini kita bertekad untuk lebih giat lagi beribadah sebagai tanda kesyukuran diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan.

  1. Memahami Puasa Ramdahan

Yakni berusaha untuk memahami keutamaan dan hukum-hukum puasa. dengan mengetahui keutamaan puasa maka akan memberi motivasi untuk semangat ibadah, sedangkan memahami hukum-hukumnya agar kita lebih tenang dalam ibadah.

Begitu banyak keutamaan orang yang berpuasa, diantaranya adalah akan dihapuskan segala dosa dan kesalahan

Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap Ridha Allah maka dosa2 yang telah lampau akan diampuni” (HR. Imam Bukhari (38) dan Imam Muslim (760)

Shalat lima waktu, shalat jum’at ke jum’at berikutnya, puasa ramadhan ke ramadhan berikutnya, menjadi penghapus dosa-dosa diantara keduanya selama ia menjauhi dosa-dosa besar” (HR Imam Muslim (233))

Orang yang berpuasa hanya Allah yang tahu berapa besar pahala yang ia dapatkan, Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Setiap amal aanak cucu adam itu untuknya dan setiap satu kebaikan yang ia lakukan dilipat gandakan pahalanya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman kecuali puasa, puasa itu untuk Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena mereka telah meninggalkan syahwat, makan dan minum karena Ku…”

Puasa merupakan sebab tercapainya kebahagiaan didunia dan diakherat, dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah :

“… ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat dia berbuka puasa dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabb nya di akhirat..”

Dan masih banyak lagi keutamaan orang yang melaksanakan ibadah puasa  Ramadhan. Selain itu juga, kita harus memahami hukum puasa yang menyangkut tentang syarat dan rukun puasa, sunnah dan adab berpuasa, hal-hal yang dapat membatalkan puasa serta perkara yang dalat mengurangi pahala dari puasa.

  1. Menjaga Puasa

Upaya menjaga puasa agar lebih bermakna adalah dengan jalan menunaikan sunnah-sunnahnya seperti Sahur dan mengakhirkannya, Menyegerakan berbuka, Memberi Buka, Doa ketika berbuka. Juga berusaha menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa seperti Marah dan emosi, Berdusta, Berkata Keji, Mendengar, melihat yang buruk, Makan minum berlebihan, serta Menyia-nyiakan waktu.

Betapa Banyak Orang berpuasa tapi tidak mendapat (pahala) apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar, dan betapa banyak orang yang sholat malam (tarawih) tapi tidak mendapatkan apa-apa selain begadang saja” (HR An-NAsai)

  1. Menghiasi Puasa

Sebagai upaya mengisi Ramadhan dengan ibadah, bukan hanya sekedar puasa saja, namun diisi dengan Tadarus Al-Quran, Sedekah/memberi berbuka, Sholat Tarawih, Memperbanyak Doa, I’tikaf, Dakwah & Tarbiyah, dan Umroh. Semoga bermanfaat. [Askar/sym].