Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan

Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan
Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan

Oleh : Ustadz Ahmad Hanafi, Lc, MA

Bagi seorang muslim, Ramadhan dengan deretan amal shaleh, baik dalam tataran ibadah fardiyah yang lebih terfokus pada aspek pembinaan kepribadian (mis: sholat, puasa, tilawah al-Qur’an, i’tikaf dll ) ataupun dalam tataran ibadah ijtimaiyah yang lebih mengedepankan nilai sosial dalam bentuk kepedulian terhadap sesama (zakat, shodaqah, memberi buka puasa dan hidangan sahur dll) adalah merupakan sarana-sarana mewujudkan ketakwaan yang hakiki dalam bulan  mulia tersebut.

Tetapi, sangat disayangkan apabila nilai-nilai positif ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya musim ketaatan ini. Adalah hal yang aneh, jika seorang muslim yang begitu khusyu’ dan bergairah melaksanakan amalan-amalan mulia di bulan yang penuh berkah ini, lantas setelah Ramadhan ia kembali melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketakwaan yang telah ia semai selama rentan waktu sebulan penuh. Apa yang patut kita banggakan bila Ramadhan hanya diakhiri dengan euforia baju baru, penganan lebaran dan tradisi mudik tahunan?. Sungguh bijak seorang penyair Arab yang berkata:

Laisa al-‘iidu man labisa al-jadid Walakin al-‘iid man tho’atuhu taziid

(Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju)

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Ta’ala dengan mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah Ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuhsuburkan pada kurang lebih 330 hari pasca Ramadhan. Ia adalah sosok yang tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, bahkan kepada makhluk yang lain, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam Ramadhan.

Setidaknya ada empat prinsip yang dapat kita tangkap dalam merefleksikan nilai takwa sebagai sarana untuk memaksimalkan potensi amal shaleh pasca Ramadhan:

  1. Prinsip Fastabiqul Khaerat

Bersegra dalam merebut setiap peluang untuk melakukan kebaikan merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa (al-Imran: 133). Selain Fastabiqul khaeraat (al-Baqarah: 148), ada beberapa bentuk seruan Allah  dalam al-Qur’an yang memotivasi kita untuk bersegera untuk melakukan kebajikan dan tidak menjadi orang yang selalu menunda amalan. Kata-kata Wasaari’uu (bersegeralah kalian) (al-Imran :133), Wasaabiquu (berlomba-lombalah kalian) ( (al-Hadiid:21), Wafidzalika falyatanaafasil mutanaafisun (Dan pada yang seperti itu hendaklah kalian saling bersaing) (al-Muthaffifiin:26) semuanya bermuara kepada makna agar setiap muslim memanfaatkan peluang kebajikan dengan segera dan menjadi yang terbaik (menjadi pemenang dan bukan pecundang) dalam setiap amal shaleh yang dikerjakan. Allah memuji Nabi Zakariya ‘Alaihissalam beserta keluarga beliau karena telah berhasil mengejawantahkan prinsip ini dalam bingkai yang terbaik. Allah berfirman :

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera  dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Qs. Al-Anbiyaa’: 90).

Ternyata kekhusyukan Zakariya ‘alaihissalam adalah kekhusyukan yang berdimensi semangat untuk bersegera dalam melakukan kebajikan.

  1. Prinsip Mujahadah (Kesungguhan)

Melakukan amal shaleh secara maksimal membutuhkan pengorbanan (tadhiyah). Ubay bin Ka’ab mengilustrasikan bahwa ketakwaan itu ibarat berjalan di jalan yang penuh duri ia butuh kahati-hatian dan kesungguhan. Ia berangkat dari niat yang ikhlas kemudian secara nyata ditunjukkan dengan amal yang serius dan penuh kesungguhan. Allah Ta’ala memuji dan menjanjikan syurga para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekedar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan kehadirat Ilahi Rabbi. Allah berfirman :

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (tidak meminta-minta). (Qs. Adz-dzaariyaat : 16-18)

Kesungguhan dalam ibadah tidak hanya nampak dalam ritual ibadah yang bersifat habluminallah tapi ia mempunyai konstribusi yang sangat kuat dalam menghidupkan ibadah yang bernuansa  habluminannas dengan berbagi kepedulian terhadap kaum dhu’afa.

Sebagai balasan atas komitmen kesungguhan ini hamba Allah Ta’ala berjanji untuk memberikan petunjuk dan membuka jalan-jalan kebajikan untuknya. Allah Ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami“. (Qs. al-Ankabuut: 69).

Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Berpisah dengan siangnya yang begitu indah dan malamnya yang begitu harum semerbak.

Kita berpisah dengan bulan Qur’an, bulan ketakwaan, kesabaran, Jihad, magfirah dan bulan pembebasan dari api neraka. Maka faedah apa yang sudah kita raih dari sekian banyak buah-buah Ramadhan yang begitu agung dan naungan-Nya yang begitu luas?

Apakah dalam jiwa kita telah terwujud ketakwaan sehingga kita keluar dari madrasah Ramadhan dengan predikat taqwa? Dan apakah kita senantiasa sabar dalam ketaatan dan menjauhi ma’siat? Apakah kita telah mentarbiyah (mendidik) jiwa kita untuk melakukan berbagai bentuk jihad? Apakah kita telah berjihad melawan hawa nafsu dan mampu mengalahkannya ? Ataukah kita berhasil dikalahkan oleh kebiasaan-kebiasaan dan prilaku-prilaku buruk? Apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk meraih rahmat, Magfirah-Nya dan pembebasan-Nya dari api neraka? Apakah….Apakah….Apakah…? Begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti hati seorang muslim sejati yang senantiasa mengoreksi dirinya dan menjawabnya dengan jujur dan terus terang.

Ramadhan adalah madrasah imaniyah dan tempat persinggahan ruh untuk mempersiapkan bekal di sisa-sisa kehidupan kita di dunia. Maka kapan lagi seseorang akan mengambil bimbingan, pelajaran dan manfaat, untuk merubah kehidupannya jika ia tidak melakukannya pada bulan suci ini.

Bulan Ramadhan merupakan madrasah (sekolahan) untuk mengadakan perubahan amalan, perilaku, kebiasaan dan akhlaq yang bertentangan dengan syariat Allah Azza Wa Jalla. Allah  berfirman :

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 92)

Saudara(i) ku yang tercinta …..

Jika anda termasuk orang-orang yang mampu meraih faedah-faedah Ramadhan dan berhasil mewujudkan ketakwaan pada diri anda, berpuasa dengan benar, mengerjakan qiyamullail dengan khusyu’ serta bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu maka hal tersebut patut disyukuri dan hendaknya anda memohon kepada Allah Azza Wa Jalla agar sikap tersebut konsisten sampai kembalinya ruh kehadirat-Nya.

 Maka hati-hatilah dan jangan sekali-kali termasuk orang-orang yang dimaksud dalam surat An Nahl ayat 92, Allah  Azza Wa Jalla berfirman :

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal

Apakah anda telah melihat seorang wanita yang memintal benang untuk dibuat selembar baju kemudian ketika ia senang melihat baju tersebut ia menguraikan kembali pintalan-pintalan tersebut tanpa sebab!

Maka apa komentar orang-orang terhadap perbuatan tersebut ?

Seperti inilah halnya seseorang yang kembali ke jalan kemaksiatan, kefasikan, kesesatan, kegelapan dan melepaskan ketaatannya kepada Allah serta tidak lagi beramal sholeh setelah selesainya Ramadhan setelah ia merasakan nikmatnya letaatan dan ketakwaan, nikmatnya berdo’a kepada-Nya ia kembali pada pahitnya dan sengsaranya kemaksiatan dan kegelapan !!

Syekh Shalih Fauzan berkata,

Sesungguhnya kebanyakan dari manusia waktu-waktunya berlalu dengan sia-sia sesudah ied dengan begadang, tarian-tarian daerah, bermain yang melalaikan, sehingga mungkin saja mereka meninggalkan shalat-shalat pada waktunya atau shalat berjama’ah, seakan-akan mereka dengan perbuatan itu ingin menghapuskan pengaruh Ramadhan pada jiwa-jiwa mereka jika mempunyai pengaruh, lalu memperbarui kehidupannya bersama syaithan yang jarang bermuamalah dengannya pada bulan Ramadhan

Maka alangkah nistanya sekelompok manusia yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan.

Imam Wahab bin Al Ward pernah melewati sekelompok manusia yang sedang asyik bermain pada hari ied, kemudian ia berkata kepada mereka:

Sungguh mengherankan kalian itu, kalau memang Allah telah menerima puasa kalian apakah semacam ini cara kalian bersyukur dan jika Allah tak menerima amalan puasa kalian apakah semacam ini cara kalian takut

Saudara-saudaraku tercinta…

Diantara indikasi diterimanya amalan ibadah seorang hamba adalah keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal ketaatan dan ketundukannya terhadap syari’at-syari’at Islam. Allah berfirman :

 “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim :7)

Artinya bertambahnya kebaikan baik zhohir maupun batin yang berupa bertambahnya keimanan dan amal sholeh. Oleh karena itu seandainya seorang hamba memiliki kesungguhan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka kebaikan dan ketaatannya terhadap syariat-syariat-Nya akan meningkat dan mampu menjauhi kemaksiatan. Sebagaimana telah di katakan oleh para salafusshaleh: ”Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan”

Setiap seorang hamba harus senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan komitmen dengan syari’at-syari’at-Nya serta istiqomah dengan agama-Nya. Allah berfirman :

 “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. Al Hijr:99)

Jangan bersikap seperti Rubah yang beribadah kepada Allah Azza Wa JAlla sebulan kemudian bermaksiat di bulan yang lain atau beribadah kepada-Nya di suatu tempat tapi bermaksiat di tempat yang lain atau! Namun hendaknya ia memahami bahwa Tuhan Pemilik Ramadhan adalah juga Tuhan Pemilik bulan-bulan lain dan Ia Pemilik semua waktu dan tempat, agar senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus sampai ia kembali kehadirat-Nya dalam keadaan diridhai oleh-Nya. Allah Azza Wa Jalla berfirman :

 “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya”(QS. Fushshilat :6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Katakan aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)

Kalau seandainya puasa Ramadhan telah selesai masih ada puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa hari Senin dan Kamis, puasa di tengah bulan (tanggal 13,14 dan 15 bulan hijriyah), puasa ‘Asyuro dan Arofah dan lainnya. Kalau qiyamur Ramadhan sudah berakhir maka masih ada qiyamullail yang disyariatkan dilakukan setiap malam.

Dan seandainya shodaqoh dan zakat fitri di bulan Ramadhan sudah ditunaikan, masih ada zakat wajib lainnya.

Demikianlah hakekat amalan sholeh yang bisa dilakukan sepanjang masa. Untuk itulah bersungguh-sungguhlah wahai Saudaraku  seiman untuk senantiasa taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan jauhilah kemalasan. Jika anda enggan melaksanakan amalan-amalan sunnah maka jangan sekali-kali meninggalkan dan melalaikan kewajibanmu seperti shalat lima waktu yang harus dilakukan tepat pada waktunya dan dengan berjama’ah dan jangan sekali-kali terjerumus kepada kemaksiatan dengan berkata-kata, makan, minum, melihat dan mendengarkan hal-hal yang diharamkan.

 Beristiqamahlah dan komitmenlah pada agama-Nya di sepanjang masa karena engkau tidak tahu kedatangan malaikat maut. Jangan sampai ia datang dan engkau dalam keadaan bemaksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Ya Allah, Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agamamu”(HR. Ahmad)

[Mustafa A].

Maraji’: Madza ba’da Ramadhan, Riyadh bin Abdurrahman Al Haqiil

7 Etika Mendatangi Shalat Hari Raya

7 Etika Mendatangi Shalat Hari Raya

Berikut ini adab dan etika yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi shalat hari raya atau shalat id.

 1. Mandi, Menggunakan Parfum, dan Memakai Pakaian Bagus

Hal ini berdasarkan hadits berikut;

عن زيد بن الحسن بن علي ، عن أبيه – رضي الله عنهما – قال : أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – في العيدين أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نتطيب بأجود ما نجد ، وأن نضحي بأسمن ما نجد ، البقرة عن سبعة والجزور عن عشرة ، وأن نظهر التكبير وعلينا السكينة والوقار .

 

Dari Zaid bin Hasan bin Ali dari Ayahnya radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada shalat dua hari raya untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai parfum terbaik yang kami miliki, dan berkurban dengan hewan paling gemuk yang kami miliki, . . .” (HR. Hakim)

Adapun dalil tentang mandi  adalah  riwayat dari Al-Baihaqi melalui asy-Syafi’i tentang seseorang yang pernah bertanya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu tentang mandi. Beliau menjawab,“Mandilah setiap hari jika engkau mengehendakinya.” Kata orang itu, ”Bukan itu yang kumaksud, tapi mandi yang memang mandi (dianjurkan). Ali menjawab , ”Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari Nahr dan hari Fithri”.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa karena hari Ied merupakan  hari berkumpulnya kaum muslimin untuk shalat, maka ia disunnahkan untuk mandi sebagaimana hari Jum’at.

Diriwayatkan pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian hibarah  shalat hari Raya.

2. Makan Dahulu Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri, dan makan setelah kembali dari Shalat Pada hari Idul Adha

 Berdasarkan hadits riwayat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri sebelum makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied  beliau menyantap daging qurbannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidziy).

“Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dikutip oleh ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2:228) berkata: “Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan sembelihan qurban. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dari hasil sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak berqurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.”

Bertakbir

Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam Ied. Pada hari raya Idul Adha takbir dianjurkan untuk dikumandangkan sejak ba’da shalat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dan berakhir pada hari terakhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). Sedangkan pada shalat idul Fithri takbir berakhir dengan dimulainya shalat ied. Dianjurkan pula bertakbir ketika berada di perjalanan menuju tempat shalat ‘ied.

Adapun lafazh takbir (takbiran) yang disebutkan oleh para ulama adalah :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

Lafazh ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhuma (HR. Ibnu Abi Syaibah).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً

Lafazh ini dicontohkan oleh Salman radhiyallahu ‘anhu  (HR. Abdur Rozzaq).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَـهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

اللهُ أَكْبَرُ ( 3× ) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَ الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلأَحْزَبَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

Lafazh ini disebutkan oleh Imam Syafi’i (Lih:Al Adzkar : 224)

4. Melalui Jalan Yang Berbeda Ketika Berangkat dan Kembali

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ    إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ ( رواه البخاري (

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada hari Raya selalu melalui jalan yang berbeda (ketika berangkat dan kembali). (HR. Bukhari).

5. Shalat Ied Dilakukan di Tanah Lapang, kecuali darurat karena hujan atau sebab lainnya, maka boleh dilakukan di masjid.

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ide di tanah lapang sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى … ( رواه البخاري و مسلم(

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke luar ke Mushalla (tempat shalat di tanah lapang) pada hari Idul Fithri dan Idul Adh-ha” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Saling memberi Ucapan Selamat (Tahniah)

Dianjurkan saling menyampaikan ucapan selamat (tahniah) pada dua hari Raya (idul Fithri dan Idul Adha). Berdasarkan sebuah riwayat bahwa para shabat Nabi bila bertemu pada hari ied mereka saling menyampaikan ucapan selamat dengan mengatakan;

تقبل الله منّا ومنكم

7. Diporbolehkan Makan, Minum, dan menikmati hiburan yang halal selama tidak berlebihan, sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Idul Adha,

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكرالله

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah”. (HR. HR. Ahmad).

Wallahu a’lam

Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Umur ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sama dengan ummat-ummat sebelumnya. Umat terdahulu terkenal dengan umur yang panjang serta tubuh yang kuat. Semua itu menjadikan mereka maksimal dalam menegakkan ibadah kepada Allah.

Berbeda dengan umur ummat Rasulullah. Selain kadarnya yang pendek, itu pun dipadati pula oleh banyak kelemahan serta kelalaian. Karena itu, dari hitung-hitungan, amal ibadah ummat ini sangat jauh tertinggal dari orang-orang sebelumnya.

Itulah sebabnya, mengapa Allah Ta’ala kemudian menetapkan banyak amal-amal kebaikan yang pahalanya berlipat kali untuk meneutupi kekurangan umur yang diberikan pada mereka.

Seorang yang shalat berjamaah misalnya, Nabi mengabarkan ia lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendiri. Itu artinya, orang yang shalat jama’ah seakan umurnya melampaui dua puluh tujuh hari orang yang shalat sendiri.

Demikian pula orang yang shalat di Masjidil Haram. Pahalanya sama dengan sepuluh ribu kali lipat shalat di masjid selainnya. Itu artinya, seakan ia mendapat tambahan umur sepuluh ribu hari ketimbang orang yang tidak shalat di masjidil haram

Nah, demikian pula dengan Lailatul Qadar. Ibadah di dalamnya lebih baik ketimbang seribu bulan ibadah di bulan-bulan selainnya. Seakan mereka yang mendapat Lailatul Qadar itu menerima bonus umur seribu bulan ketimbang mereka yang tidak mendapatkannya. Dan itu berlaku setiap tahun.

Makanya, tidak heran jika ada dari ummat Rasulullah kelak yang datang amal-amal yang sangat banyak. Seakan ia hidup ribuan tahun khusus hanya untuk beribadah. Itu dikarenakan amal-amal yang dikerjakan hamba tersebut, kendati zahirnya sedikit akan tetapi lipatan pahalanya sangat melimpah di sisi-Nya.

Di sinilah Rahasianya, mengapa para ulama mengatakan, dibutuhkan kecerdasan dalam beribadah. Carilah tempat dan waktu di mana padanya terkandung keberkahan yang menyebabkan pahala berlipat ganda. Jangan sampai kita lelah dalam sebuah amal, akan tetapi pahalanya sangat kecil di sisi-Nya.

Sebagai contoh, hadist yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Juwairiyah. Bahwa suatu pagi, Rasulullah keluar dari rumah Juwairiyah ke masjid melaksanakan shalat subuh. Ketika itu Juwairiyah berada di tempat sujud (sejadah). Saat Rasulullah kembali dari masjid dan matahari sudah tinggi, Rasulullah mendapati Juwairiyah masih duduk bersimpuh di tempat semula. Rasulullah bertanya: “Wahai Juwairiyah, adakah sejak tadi engkau duduk di tempat sujud itu?” Juwairiyah menjawab: “Iya, benar”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:  “Sungguh aku telah membaca sesudahmu empat kalimat, andai (pahalanya) ditimbang dengan (pahala) kalimat yang kamu baca seharian, pasti bisa mengimbanginya, yaitu kalimat: “Subhanallah wa Bihamdihi ‘Adada Khalqihi, wa Ridha’a Nafsihi, wa Zinata ‘Arsyihi, wa Midada Kalimatihi”. (Mahasuci Allah dengan segenap puji-Nya, sebanyak makhluk ciptaan-Nya, sejauh keridhaan-Nya, seberat timbangan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya).” (HR. Muslim).

Iya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan pada Juwairiyah, bahwa amal itu yang paling utama diperhatikan adalah kualitasnya, dan bukan kuantitas. Bisa jadi seorang duduk seharian untuk berdzikir, akan tetapi dikalahkan oleh sebuah amal sederhana yang ternyata pahalanya sangat besar di sisi Allah. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Seperti telah disinggung dalam kajian-kajian lalu, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, utamanya di malam-malam ganjil.

Dan bahwasanya diangkatnya pengetahun tentang kapan pastinya malam itu sejalan dengan hikmah Rabbani. Yakni agar supaya kaum Mukminin bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah pada seluruh malam-malam tersebut.

Adapun pernyataan sebagian sahabat, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Ubay bin Ka’ab, bahwa Lailatul Qadar itu jatuhnya pada malam ke-27, maka ia adalah ijtihad mereka berdua. Juga, bisa saja ia terjadi pada satu tahun tertentu yang mereka rasakan, dan bukan setiap tahunnya.

Riwayat tersebut berbunyi:

(وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar: “Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Pendapat yang kuat terkait riwayat Mu’awiyah di atas bahwa ia adalah hadits mauquf. Yakni hanya merupakan perkataan sahabat (Mu’awiyah bin Abi Sufyan), sebagaimana nyatakan oleh Ibnu Hajar.

Intinya, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, utamanya pada malam-malam ganjil. Lebih utama lagi pada malam ke-27. Dan tabiat Lailatul Qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya.

Buktinya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendapatinya pada malam ke-21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Radhiallahu Anhu.

Saat itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah di hadapan para sahabat seraya mengatakan:

“إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ”.

Sungguh telah diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, kemudian aku lupa atau dibuat lupa. Olehnya, carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir, pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke-21, hingga air mengalir mengaliri tempat shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seusai shalat aku menyaksikan wajah beliau kotor terkena lumpur. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

4 Kunci Meraih Rahasia Lailatul Qadar

Lailatul Qadar

4 Kunci Meraih Rahasia Lailatul Qadar

Berjumpa Lailatul Qadar adalah dambaan semua hamba yang beriman kepada Allah. Dan bahwasanya, malam penuh berkah ini berpindah-pindah jatuhnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Maka tidak ada pilihan bagi kita melainkan mencarinya pada seluruh hari-hari tersebut, utamanya pada malam-malam ganjil. Yang demikian sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam peringatkan:

“تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”. صحيح البخاري.

“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Nah, untuk mendapatkan keberkahan malam yang mulia itu, sekurang ada empat kunci yang harus dimiliki:

Kunci Pertama: Mengetahui pahala, serta gambaran besarnya balasan bagi orang yang menegakkan ibadah serta bersungguh-sungguh di dalamnya. Tanamkan keyakinan, bahwa ia bukan malam biasa. Akan tetapi malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kunci Kedua: Mengejar serta memperhatikan tanda-tandanya. Di antaranya, tanda yang disebutkan dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها”. رواه مسلم.

“Dan tanda Lailatul Qadar itu, matahari terbit di pagi harinya putih pucat tidak ada cahaya padanya”.

Sebagian tanda zahir ini kadang terhijab dari kita, namun bisa saja salah satu dari kita merasakan tanda ini dalam dirinya berupa ketenangan, kelapangan hati, rasa khusyu’, dan selainnya.

Kunci ketiga: Bersungguh-sungguh di dalamnya serta memperbanyak shalat dan tidak melewatkan saat-saatnya yang sangat berharga.

Termasuk, bermujahadah dalam doa dan permohonan ampunan dari Allah.

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

“يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني”. الترمذي وقال: حسن صحيح.

Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Kunci Keempat: Ikhlas di dalamnya, serta hanya berharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“مَن قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه”. متفق عليه.

“Siapa yang menegakkan (ibadah-ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya mengharap balasan (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

“Jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka”. 

Seperti diketahui, waktu persis kapan turunnya Lailatul Qadar itu merupakan rahasia ilahi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Tentu saja hal ini mengandung hikmah yang agung. Di antaranya, agar Kita tetap berjaga-jaga akannya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Barangkali ada yang bertanya terkait judul di atas. Apa korelasi antara Lailatul Qadar dengan debat kusir? Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahih”nya terdapat keterangan tentang hal ini.

عن عُبَادَة بْنُ الصَّامِتِ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ: “خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالخَمْسِ

Dari Ubadah bin Shamit Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengabarkan tentang malam Lailatul Qadar. Akan tetapi, beliau lantas bertemu dua orang dari kaum Muslimin sedang berdebat, maka beliau pun bersabda:

Sungguh aku keluar untuk mengabarkan kalian tentang (waktu) malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga akhirnya (pengetahuan) itu diangkat. Semoga ini lebih baik bagi kalian, carilah ia pada malam dua puluh tujuh, dua puluh sembilan, dan dua puluh lima”. (HR. Bukhari).

Dari keterangan ini nampak bahwa pada mulanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberitahu oleh Allah ilmu tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Akan tetapi, dikarenakan ada dua orang yang berdebat di dalam Masjid, maka ilmu itu pun kembali diangkat oleh Allah Ta’ala.

Para ulama mengatakan, dalam hadits ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutamakan penyebutan dua puluh tujuh, kemudian dua puluh sembilan, lalu dua puluh lima, sebagai isyarat bahwa kemungkinan besar terjadinya malam Lailatul Qadar itu ada pada malam kedua puluh tujuh.

Terkait riwayat ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –rahimahullah– berkata:

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: “فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُخَاصَمَةَ مَذْمُومَةٌ وَأَنَّهَا سَبَبٌ فِي الْعُقُوبَةِ الْمَعْنَوِيَّةِ أَيِ الْحِرْمَانِ وَفِيهِ أَنَّ الْمَكَانَ الَّذِي يَحْضُرُهُ الشَّيْطَانُ تُرْفَعُ مِنْهُ الْبَرَكَةُ وَالْخَيْرُ”

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: Dalam hadits ini terkandung dalil bahwa debat kusir itu tercela. Dan bahwasanya ia merupakan sebab bagi hukuman yang sifatnya maknawiyah, yakni pengharaman (dari kebaikan). Demikian pula, padanya terdapat dalil bahwa tempat yang dihadiri setan di dalamnya diangkat darinya keberkahan dan kebaikan”. (Lihat Fath Al-Bari, 1/113, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Nah, jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin

Fiqh Praktis Zakat Fitrah

Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitrah  hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Ia merupakan kewajiban setiap Muslim (ah) pada akhir bulan Ramadhan, berdasarkan perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

“فرض رسول الله –صلى الله عليه وسلم– زكاة الفطرمن رمضان صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، على الذكر والأنثى، والصغير والكبير، والحر والعبد من المسلمين، وأمر أن تؤدى قبل خروج الناس للصلاة “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada zakat fitrah pada bulan Ramadhan berupa 1 sha tamr (kurma), atau tepung gandum kepada laki-laki, wanita, anak kecil, dewasa, orang merdeka maupun budak di kalangan kaum Muslimin, dan beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar ke tempat shalat (‘ied)”. (HR. Nasai).

Hikmah Zakat Fithrah

 

Zakat fithrah memiliki hikmah yang sangat agung yang kembali kepada muzakki (penunai zakat) dan penerima (mustahiq). Bagi penunainya zakat memiliki hikmah sebagai pembersih dan penyuci seseorang yang berpuasa dari hal-hal yang menodai puasanya, baik berupa Laghw (omong kosong) maupun rafats (perkataan kotor), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma;

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memfardhu (wajib) kan Zakat Fithri sebagai penyuci orang-orang puasa dari laghw dan rafts serta makanan bagi orang-orang miskin”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibn Majah).

Adapun hikmah bagi penerimanya adalah memberi kecukupan makanan sehingga mereka tidak meminta-minta pada hari ‘ied, bedasarkan hadits Nabi di atas, ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memfardhu (wajib) kan Zakat Fithri sebagai penyuci orang-orang puasa dari laghw dan rafts serta makanan bagi orang-orang miskin”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibn Majah).

Dalam hadits lain, Nabi juga bersabda;

أغنوهم عن السؤال يوم العيد

Berilah kecukupan kepada mereka sehingga tidak meminta-minta pada hari ‘ied”. ( HR. Baihaqiy).

 

Zakat Fitrah Berupa Makanan

Zakat Fitrah dikeluarkan dan disalurkan dalam bentuk makanan pokok mayoritas penduduk suatu daerah, baik gandum, jemawut, kurma, beras, jagung, anggur, atau keju. sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu;

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah baik untuk anak kecil maupun orang dewasa, untuk orang merdeka maupun budak sebanyak 1 sha’ makanan atau 1 sha’ keju, atau a sha’ jemawut atau 1 sha’ kurma, atau 1 sha’ anggur”. (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena zakat fitrah adalah zakat makanan, maka hendaknya tidak digantikan dengan uang, kecuali darurat. Sebab tidak ada satu riwayatpun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membayarkan uang sebagai pengganti makanan. Demikianpula tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa mereka mengeluarkan dan menunaikan zakat fitrah berupa uang. Padahal saat itu sudah ada uang sebagai alat tukar.

Jumlah Zakat Fitrah

Berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar dari para sahabat, kadar zakat fithri adalah 1 sha’. 1 Sha’= 4 mud. 1 mud setara dengan satu cakupan dua telapak tangan orang dewasa). Namun sha’ yang dimaksud bukan berdasarkan cakupan tangan masing-masing yang berzakat. Tetapi sha’ yang dimaksud adalah sha’ nya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sha’ Nabi jika dikonversi ke berat setara dengan 2,5 Kg.

Waktu Menunaikan Zakat Fitrah

Zakat fitrah diwajibkan pada malam hari ‘ied. Sedangkan waktu menunaikannya terbagi dua;

Waktu jawaz; boleh mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum shalat ‘ied, sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Waktu Afdhal (Utama); Waktu yang utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara terbit fajar hingga sebelum pelaksanaan shalat ‘ied. Sebab Nabi memerintahkan agar zakat Fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat melakukan shalat hari raya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi para shaimin dari omong kosng dan perkataan kotor serta makanan bagi para masakin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang memberikannya setelah shalat ‘ied maka ia (hanya) sedekah biasa”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Penerima Zakat Fitrah 

Golongan yang berhak menerima zakat fitrah hanya orang miskin, menurut peandapat yang rajih (kuat), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bahwa Zakat Fithri diwajibkan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin agar mereka memiliki kecukupan sehingga tidak meminta-minta pada hari’ied. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqiy Nabi mengatakan;

أغنوهم عن السؤال يوم العيد

Berilah kecukupan kepada mereka sehingga tidak meminta-minta pada hari ‘ied”. ( HR. Baihaqiy).

Sebagian Ulama (diantaranya Syekh al-Jazairi) ada yang berpendapat, yang berhak menerima zakat Fitrah adalah sama dengan golongan yang berehak menerima zakat secara umum, sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 60. Namun orang miskin lebih berhak menerima zakat Fitrah daripada kelompok lainnya. Artinya mustahiq yang lainnya diberikan setelah fakir miskin mendapatkan bagian. Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatkan, “Jadi, zakat Fithri tidak diserahkan kepada selain fuqara kecuali jika mereka tidak ada atau kefakiran mereka ringan atau kelompok penerima zakat lainnya memiliki kebutuhan yang mendesak”. (Minhajul Muslim, hlm.571).

Kesimpulan

  • Zakat Fitrah hukumnya wajib bagi setip Muslim (ah); baik anak-anak, dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka maupun budak.
  • Zakat Fitrah ditunaikan dalam bentuk makanan pokok, dan tidak diganti dengan uang, kecuali dalam kondisi darurat.
  • Zakat Fitrah diwajibkan pada malam hari Raya.
  • Waktu afdhal penunaiannya setelah terbit fajar pada hari ‘ied sampai sebulum shalat ‘ied dimulai.
  • Boleh menunaikan zakat Fitrah satu atau dua hari sebelum ‘ied untuk memudahkan panitia menyalurkannya kepada yang berhak.
  • Jika ditunaikan setelah shalat ‘ied; terhitung sebagai sedekah biasa.
  • Hikmah Zakat Fitrhi; (1) Penyuci para shaimin dari laghw dan rafats, dan (2) Makanan bagi para masakin.
  • Yang berhak menerima zakat fitrah adalah faqir miskin. Boleh diberikan kepada yang lain dalam keadaan daruraut atau kebutuhan para fuqara dan masakin terpenuhi.

Oleh Syamsuddin Al-Munawiy

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [4]: Adab-Adab I’tikaf

Ada beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan dipraktikkan oleh orang yang beri’tikaf. Diantara adab-adab i’tikaf tersebut adalah

  1. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala .
  2. Membuat bilik-bilik di masjid untuk digunakan berkhalwat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , terutama jika ada wanita yang ikut beri’tikaf, maka wajib atas wanita untuk membuat bilik-bilik tersebut agar terhindar dari ikhtilat (bercampur) dan saling pandang-memandang dengan lawan jenis.
  3. Meninggalkan perdebatan dan pertengkaran walaupun dia berada di pihak yang benar
  4. Hendaknya  juga menghindari dari mengumpat, berghibah, dan berkata-kata yang kotor, karena hal-hal tersebut terlarang di luar i’tikaf maka pelarangannya bertambah pada saat i’tikaf.
  5. secara umum seluruh perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat hendaknya ditinggalkan, karena semua hal itu akan mengurangi pahala beri’tikaf

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Berikut ini sepuluh   kaidah Praktis Zakat Fitrah menurut Syekh Abdul Aziz Ath-Tharaifi hafidzahullah. Jumlah sepuluh dalam artikel singkat ini bukan pembnatasan, tapi sekadar untuk memudahkan.

  1. Zakat fitrah hukumnya wajib atas anak kecil ataupun orang dewasa, seorang wali wajib membayarkan zakat fitrahnya orang-orang yang menjadi tanggungannya baik istri/anak-anaknya, dan disunnahkan membayarkan zakat  janin yang belum lahir.
  2. Zakat fitrah adalah berupa makanan pokok yang ada didaerah tersebut seperti beras atau tepung, tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan yang bukan merupakan makanan pokok pada daerah tersebut.
  3. Waktu yang paling utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara shalat subuh pada pagi hari raya sampai waktu didirikannya shalat idul fitri.
  4. Boleh mempercepat pengeluaran zakat fitrah dua hari atau tiga hari sebelum hari raya idul fitri, dahulu Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengeluarkannya tiga hari  sebelum hari raya.
  5. Menunda pengeluaran zakat fitrah setelah shalat hari raya tidak sah, sebagaimana hukumnya menunda shalat Subuh hingga terbit matahari, kecuali kalau ada udzur seperti ia lupa, maka boleh mengeluarkannya setelah shalat idul fitri.
  6. Yang sunnah adalah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok, bukan uang sesuai kesepakatan para ulama, namun mereka hanya berbeda pendapat bolehkah mengeluarkannya dalam bentuk uang? Sekelompok salaf membolehkannya, namun yang lebih hati-hati adalah mengeluarkannya dalam bentuk makanan
  7. Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan takaran satu sha’ (antara 2,5 – 3 kg), boleh mencampur dua jenis makanan pokok dalam satu sha’ untuk satu orang miskin, dengan syarat kadar masing-masing dua jenis makanan pokok tersebut banyak dan bisa dikonsumsi oleh si penerima.
  8. Tidak ada riwayat dari Nabi atau para sahabat bahwa mereka mengeluarkan zakat fitrah berupa uang, namun hanya diriwayatkan dari amalan beberapa tabiin, sebab itu boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang kalau memiliki maslahat yang nyata.
  9. Bolehkah seseorang memberikan zakat fitrah kepada pembantu atau pekerja di rumahnya?? Ada dua kondisi:
    • Pertama: Bila dalam akad kerja, majikan yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka majikan  tidak boleh memberikan zakat pada mereka, bahkan –menurut sebagian salaf- majikan  dianjurkan untuk menanggung pengeluaran zakat fitrah mereka.
    • Kedua: bila dalam akad, mereka sendirilah yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka boleh bagi majikan memberikan zakat fitrah pada mereka.
  10. Setiap anggota keluarga yang memiliki pekerjaan dan mampu, yang lebih utama adalah masing-masing mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, namun bila ayah (atau wali) mereka membayarkan zakat fitrah mereka semua maka dibolehkan, dan sebagian salaf juga men-sunnah-kan pembayaran zakat fitrahnya pembantu atau pekerja di rumah. (Syaikh Abdul-‘Aziz Al-Tharifi).

Alih Bahasa: Maulana Laeda

Artikel          : http://wahdah.or.id