Keutamaan Shalat Berjama’ah


Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadatain. Shalat juga merupakan tiang agama dan amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melaksanakan Shalat secara berjama’ah merupakan ketaatan kepada Allah yang sangat mulia. Shalat berjama’ah juga merupakan salah satu syi’ar Islam yang mulia yang memiliki fadhilah dan keutamaan yang banyak.

Keutamaan shalat Berjama’ah yang akan dibahas dalam tulisan ini terkait dengan seluruh aktivitas yang terkait dengan shalat berjama’ah. Mulai dari berjalan menuju masjid, berdiam di masjid menanti waktu shal;at berjama’ah, dan sebagainya;

1. Naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari kiamat bagi Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid

Salah satu fadhilah yang didapatkan dari shalat berjama’ah adalah barang siapa yang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan naungan pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ… : متفق عليه

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya)……dan seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid” (Muttafaqun Alaihi)

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas mengatakan;

“Orang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid dan kontinyu dalam melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya bukan berarti selalu tinggal di masjid” (Syarah An-Nawawi 7 : 121)

2. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Shalat Berjama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa setiap langkah seorang muslim menuju ke masjid merupakan salah satu sebab pengampunan dosa dan pengangkatan derajat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ …وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ… : رواه مسلم

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?” Para shahabat berkata : “Tentu, Ya Rasulullah”, Beliau bersabda ” ….dan memperbanyak langkah menuju ke masjid …” (HR. Muslim).

Pengangkatan derajat artinya kedudukan yang tinggi di Syurga (syarah An-Nawawi 3 : 141).

Penghapusan dosa dan pengangkatan derajat tidak hanya didapatkan oleh orang yang memperbanyak langkahnya menuju ke masjid, akan tetapi fadhilah ini akan didapatkan juga ketika kembali ke rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةً, ذَاهِبًا وَرَاجِعًا : رواه أحمد

“Barang siapa yang menuju ke masjid untuk shalat berjama’ah maka setiap langkahnya menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali” (HSR. Ahmad).

3. Keutamaan Menunggu Shalat

Dan diantara fadhilah shalat berjama’ah adalah barang siapa yang duduk untuk menunggu shalat ia akan senantiasa dido’akan oleh para malaikat, makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِي صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُو لَهُ الْمَلاَئِكَةُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْه : رواه مسلم

“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo’akannya : “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR. Muslim)

4. Keutamaan Berada di Shaf Pertama

Dalam shalat berjama’ah terdapat shaf dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melebihkan shaf awal atas shaf lainnya dikarenakan didalamnya terdapat fadhilah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ اْلأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا : رواه البخاري

Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menjelaskan tentang fadhilah apa yang terkandung didalamnya hal ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang terdapat didalamnya. Dan telah datang beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa shaf awal juga menyerupai shafnya para malaikat, sebagaimana juga terdapat riwayat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat terhadap orang-orang yang berada di shaf awal dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang yang berada di shaf pertama dan kedua (Lihat Ahammiyatu Shalatil Jama’ah : 21-24).

5. Keutamaan berada di shaf sebelah kanan

Diriwayatkan dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ : رواه أبو داود

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada pada shaf sebelah kanan” (HHR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Para shahabat menyukai untuk senantiasa berada di bagian kanan shaf apabila mereka shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Al-Bara’ Radhiyallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ فَيُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهَِ : رواه أبوداود

Kami apabila shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih kami sukai untuk kami berada di sebelah kanan beliau karena beliau menghadapkan wajahnya (pertama kali) kepada kami (saat salam)” (HSR. Abu Daud)

6. Keutamaan Mengucapkan Amin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang fadhilah mengucapkan amin bersama-sama imam dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ : رواه البخاري

Apabila imam mengucapkan “ghairul maghduubi ‘alaihim waladdhaliin” maka katakanlah “Amin” karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu ” (HR. Bukhari)

7. Pengampunan dosa atas orang yang melaksanakan shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu

Diantara keutamaan shalat jama’ah adalah kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atas orang yang shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu berupa pengampunan dosa. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan berkata “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ : رواه مسلم

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia atau secara berjama’ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

8. Keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendiri

Telah terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang ganjaran bagi orang yang melaksanakan shalat secara berjama’ah berupa pelipat gandaan derajat atas orang yang shalat secara sendiri-sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

( صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً ( رواه البخاري

“Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat sendiri sebanyak dua puluh derajat” (HR. Bukhari)

9. Dua pembebasan atas orang yang senantiasa mendapatkan takbir pertama imam selama empat puluh hari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى للهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَااقِ : رواه الترمذي

Barang siapa yang shalat selama empat puluh hari secara berjama’ah dan selalu mendapatkan takbir pertama, maka di tetapkan baginya dua pembebasan : Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari nifaq” (HHR. Tirmidzi).

Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan kami sebelum kami mendapatkan keutamaan-keutamaan ini, Amin.

-Syamsuddin-
Maraji’ : Ahammiyah Shalati Al Jama’ah, Dr. Fadhlu Ilahi
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 18)

Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Adab-Adab Shalat (5)

Adab-Adab Shalat (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang adab-adab  shalat.

  1. Memelihara Shalat Berjamaah di Masjid Terdekat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا لقد هممت أن آمر الملؤذِن فيقيم  ، ثم آمر رجلا يؤم الناس ، ثم آخذ شعلا من النار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

 “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik kecuali shalat Subuh dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat itu niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh  aku pernah berpikiran kuat untuk memerintahkan muadzin agar mengumandangkan iqamah lalu aku menyuruh seseorang untuk mengimani manusia kemudian aku membawa Suluh api, lalu aku bakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah setelah itu (setelah dikumandangkan informasi atau setelah mendengar ancaman beliau Shallallahu Alaihi Wasallam). (HR. Bukhari)

  1. Merealisasikan Buah Shalat

Yakni senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, selalu merasa diawasi dan takut kepadaNya dalam setiap keadaan. Berhenti  dari perkataan kotor dan perbuatan yang munkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar saat melakukan langkah dan Dirikanlah shalat untuk menginngatKu”. (QS.  Thaha:14).

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu kitab al-qur’an dan Dirikanlah shalat shalat itu mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar sesungguhnya mengingat Allah salah adalah lebih besar keutamaannya daripada ibadah kepada yang lain untuk mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).  Bersambung insya Allah.

 Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab-Adab Shalat [04]

Adab-Adab Shalat [04]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

 Diantara adab-adab Shalat yang hendaknya diperhatikan dan dijaga adalah;  menunggu shalat setelah selesai Shalat dan menjaga Shalat sunnah Rawatib

  1. Menunggu Shalat Setelah  Selesai Shalat

Dianjurkan menunggu Shalat setelah  selesai Shalat, seperti menunggu Shalat  Isya  setelah Shalat  Maghrib,  sambil diisi dengan dzikir,  membaca atau menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu,  dan menghadiri majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Setelah Shalat duduk di Masjid membaca Al-Qur’an dan menunggu Shalat berikutnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia di tempat Shalatnya (menunggu Shalat berikutnya), dan selama tidak berhadats (batal wudhu). Para Malaikat itu berdo’a: Ya Allah ampunila dia, ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang dari kalian senantiasa mendapatkan pahala Shalat selama Shalat (berikutnya) yang menahannya (untuk tetap di tempat shalatnya). Tidak ada yang menahannya untuk pulang dahulu kepada keluargnya (di rumah)  kecuali shalat (yang dia tunggu). (Muttafaq ‘alaih).

  1. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Menjaga Shalat Sunnah Rawatib, tidak menyepelekan,  dan merasa ringan meninggalkannya,  karena melaksanakan shalat rawatib menambah kedekatan kepada Allah dan menambal kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Shalat Fardhu seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim shalat sunnah 12 raka’at selain shalat fardhu melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim).

Dua belas rakaat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat Fardhu yang terdiri atas;  empat raka’at sebelum dzuhur,  dua raka’at setelah Dzuhur, dua raka’at setelah Maghrib,  dua raka’at setelah Isya,  dan dua raka’at sebelum Subuh.

Ummu Habibah radhiallahu anha mengatakan Aku tidak pernah meninggalkan shalat rawatib sejak Ibu sejak mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hal tersebut demikian pula kamar dan Norman mengatakan hal yang sama

  1. Tekun Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Khusus Rawatib qabliyah Subuh hendaknya lebih diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat tekun melaksanakannya, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata,  “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menekuni suatu shalat sunnah pun setekun  beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”. (Muttafaq alaih).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu Anha bahwa beliau bersabda;

 “Dua  rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya”.  (HR. Muslim).

Bersambung ke tulisan berikutnya. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Adab dalam Shalat

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya

Ke.5 lima, Memasuki shalat dengan tenang dengan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla dan dengan anggota badan yang tenang tawadhu rendah hati dan khusyu’ Di hadapan-Nya. Juga  dengan penuh rasa hina diri ketundukan dan haibah (takut kepada kebesaran Allah).

Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [٢٣:١]  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [٢٣

Sungguh beruntung orang orang mukmin, yakni mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Qs. al-Mu’minun 1-2).

Ke.6, Tidak Menolehkan Muka, Tertawa atau Mempermainkan Pakaian dengan Tangan Ketika shalat

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai berpaling dalam shalat maka beliau bersabda; “Itu (berpaling dalam shalat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba”. (HR Bukhari).

Ke.7. Memandang ke Tempat Sujud dan Menghindari Pandangan ke Langit (diatas)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Mengapa suatu Mengapa suatu kaum menengadahkan pandangan matanya ke langit ketika shalat Rasulullah mengatakan hal itu dengan penuh penekanan hingga beliau bersabda mereka harus benar-benar berhenti maka mata mereka akan benar-benar disambar”. (HR. Bukhari).

Ke. 8 Memelihara Kesadaran (bertafakur) dan Merenungkan Makna Ayat-ayat dan Dzikir- dzikir yang Dibaca.  Hindari  kelalaian dan lupa dalam shalat.

Allah Ta’ala berfirman;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ [١٠٧:٤]﴿٤﴾  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [١

“Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang salat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Qs. al-Maun 4-5).

Al-Wail adalah siksaan di neraka bagi orang-orang yang menghasilkan salatnya hingga keluar dari waktunya dan Siksa ini disediakan pula bagi orang yang melakukan salat dengan tubuh dan lisannya saja, sedangkan hatinya tidak khusyu’,  tidak merenungkan apa apa yang mereka baca.  Maka shalat mereka tidak berpengaruh bagi jiwa dan amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya seseorang ada yang selesai dari shalatnya akan tetapi tidak dicatat baginya dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembila nya, seperdelapannya, Sepertujuhnya,  seperenamnya seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,  atau seperdua nya”. [Bersambung insya Allah]

(Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 20-24).

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Sahkah Jika Jama'ah Wanita Shalat disamping Jama'ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Shalat Jama’ah Wanita disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Pertanyaan:

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama, kalau jama’ah wanita shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah. Adanya perbedaan diantara mereka manakala shalat di sampingnya tanpa ada pembatas. Pendapat Hanafiyah (mengatakan), bahwa batal shalatnya tiga orang laki-laki. Satu disamping kanan, yang lain samping kiri dan ketiga dibelakangnya. Dengan syarat-syarat yang telah mereka sebutkan. Hasilnya adalah wanita itu sudah ‘Musytaha’ yaitu telah berumur tujuh tahun atau yang sudah layak untuk digauli, menurut perbedaan dalam madzhab. Dan ikut dengan laki-laki dalam shalat mutlak yaitu yang ada ruku’ dan sujud. Sama-sama dalam larangan dan pelaksanaan. Dan hendaklah imam telah berniat untuk mengimami (wanita) atau menjadi imam kalangan wanita secara umum. Dengan perincian lainnya, dapat diketahui dengan merujuk ke kitab-kitab mereka. Silahkan melihat kitab AL-Mabsut, 1/183. Badai’ sonai’, 1/239. Tabyinul Haqaiq, 1/ 136-139.

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan perbedaan dalam masalah, kesimpulan madzhab Hanafiyah adalah kalau laki-laki shalat sementara disampingnya ada wanita. Shalatnya tidak batal (baik) laki-laki maupun wanita. Baik dia sebagai imam atau makmum. Ini adalah madzhab kami (Syafiiyyah), dan juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan (ulama’). Abu Hanifah mengatakan, kalau wanita (dalam kondisi) tidak shalat atau dalam kondisi shalat tapi tidak bersama shalat dengan dia. Maka shalatnya sah baik laki-laki maupun wanita. Kalau (wanita) dalam kondisi shalat ikut bersama dengan (laki-laki) –tidak dikatakan kebersamaan menurut Abu Hanifah kecuali kalau imamnya berniat menjadi imam para wanita- kalau wanita ikut bersamanya, jika ada laki-laki berdiri disampingnya. Maka shalatnya batal orang yang (berdiri) disamping wanita. Sementara shalat wanita tersebut tidak batal. Bagitu juga (tidak batal) orang yang shalat disela setelah selanya. Karena antara (wanita) dengan laki-laki ada penghalang. Kalau wanita di shaf diantara yakni imamnya, maka shalat orang yang sejajar dibelakangnya batal, dan tidak batal orang yang shalat sejajar dengan jajaran wanita. Karena ada penghalang. Kalau para wanita membuat shaf dibelakang imam, sementara dibelakang mereka ada shaf laki-laki. Maka shalat yang ada dishaf setelah (shaf para wanita) batal. Berkata, sebenarnya qiyas (analoginya) tidak batal shalat yang ada dibelakang shaf diantara shaf-shaf karena ada penghalang. Akan tetapi kami katakan, shaf para laki-laki dibelakangnya batal meskipun ada seratus shaf karena istihsan. Kalau wanita berdiri di samping imam, maka shalat imam batal karena wanita ada di sampingnya. Dan madzhabnya, kalau shalat imam batal, maka shalat para makmum juga batal. Dan shalat (wanita) itu juga batal karena dia termasuk bagian dari makmum.

Madzhab ini lemah hujjahnya. Nampak berpegang teguh dengan perincian yang tidak ada asalnya. Pegangan kami bahwa shalatnya sah sampai ada dalil shoheh syar’i yang menjelaskan batalnya (shalat) padahal mereka tidak punya (dalil). Teman-teman kami (semadzhab) mengkiyaskan berdirinya (wanita) dengan berdirinya dalam shalat jenazah, (maka shalatnya) tidak batal menurut mereka. (Al-Majmu’, 3/331 Dengan sedikit ringkasan).

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Kedua, tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana kondisi zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 380 dan Muslim, 658. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk makan-makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kami. Anas berkata: ”Saya berdiri ke tikar yang kami punya sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami percikkan air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fath, ‘’dalam hadits ini banyak  faedahnya… (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki. Dan berdirinya wanita sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya”.

Akan tetapi kalau terjadi seperti apa yang anda sebutkan bahwa para wanita sejajar dengan para lelaki, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam . [islamqa.info.id].

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Hukum Shalat Berjama’ah

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Berikut ini beberapa adab dalam shalat;

  1. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan penuh keinginan dan harap serta kecintaan, dengan penuh perhatian perhatian dan semangat serta rindu untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena  itu Ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari nikmat Ku”.  (Qs.Al Baqarah: 152).

  1. Berpenampilan yang baik sebelum masuk shalat dengan memilih pakaian yang bersih, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid untuk shalat”, (Qs. Al-A’raf: 31).

Ayat ini menunjukan anjuran berhias dengan mengenakan pakaian terbaik ketika datang ke Masjid untuk menunaikan Shalat.

  1. Lakukanlah sesuatu yang sangat mendesak (seperti makan) sebelum shalat agar selama shalat hati anda tidak disibukkan dengan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

لا يقوم أحدكم إلى الصلاة وهو  بحضرة الطعام ولا هو يدفعه الأخبثان الغائط والبول

Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan salat sedang Ia di hadapan makanan dan dan jangan pula ia salat sedang ia menahan buang air besar atau buang air kecil”. (HR. Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits ini para Ulama memandang makruh hukumanya shalat jika makanan telah tersajikan, sebagaimana makruh pula hukumanya shalat sambil menahan hasrat buang air. Alasannya karena hal itu dapat mengganggu dan mengurangi kekhusyukan shalat. Namun jika hal itu dilakukan tidak membatalkan shalat. Artinya shalatnya tetap sah.

  1. Ketika Mendatangi shalat berjalanlah dengan tenang, tidak berlari-lari tidak terburu-buru sehingga membuat nafas tersengal-sengal atau membuat keributan yang mengganggu orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Apabila panggilan salat telah berkumandang maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru.   Datangilah  Shalat dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka lakukanlah dan apa yang tertinggal dari shalat maka sempurnakanlah setelah imam salam” (HR.Muslim).

Ini  menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang pergi menuju shalat untuk tidak melakukan perbuatan yang sia-sia  dengan tangannya, berkata dengan perkataan yang buruk dan melihat sesuatu yang buruk. Dianjurkan  untuk sungguh-sungguh dalam menjauhi apa apa yang biasa dijauhi oleh orang yang sedang shalat, dan apabila ia telah sampai ke masjid dan menunggu shalat maka harus lebih serius lagi dalam menjauhi hal-hal yang telah disebutkan tadi”. (Syarah Nawawi ‘Ala Muslim). Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 16-19.

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Sujud Sahwi

 

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Pertanyaan:

Assalamu alaikum ustadz mohon penjelasan tentang sujud sahwi. Apakah dilakukan setelah salam atau sebelum salam? Karena saya pernah lihat ada yang sujud setelah salam, ada juga pernah saya lihat sujud sebelum salam. Terima kasih. (Abu Abdillah, Sulawesi Selatan)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambal kekurang sempurnaan shalatnya lantaran karena  lupa. Sebab kelupaan ada tiga; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah): Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batallah shalatnya.

Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam, setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi dilakukan sebelum salam dalam dua kondisi;

Pertama

Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal.

Kedua

Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua keadaan:

Pertama

Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam.

Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna, lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan setelah itu sujud sahwi dan salam.

Kedua

Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya. Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama, yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya, misalnya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam.

Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa sujud sahwi ada yang dilakukan sebelum salam dan ada yang dilakukan setelah salam.

[sym]

Sumber: 257 Tanya Jawab, Fatwa-Fatwa Al-‘Ustaimin, hal 146-148 Gema Risalah Press

Hukum Shalat Berjama’ah

Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat Berjama’ah di Masjid Anas bin Malik Kampus STIBA Makassar

Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah  merupakan salah satu syi’ar yang agung di dalam Islam. Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa, shalat berjamaah termasuk ketaatan yang sangat ditekankan dan taqarrub yang paling agung bahkan merupkan syi’ar islam yang paling Nampak. Ia juga termasuk dari sunnah Rasulullah dan para shahabatnya. Rasulullah dan para shahabatnya selalu melaksanakannya, tidak pernah meninggalkannya kecuali jika ada ‘udzur yang syar’i. Bahkan  dalam kondisi takut (perang) pun  mereka tetap melaksanakan shalat berjama’ah. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri  ketika sakit parah, beliau tetap menghadiri shalat berjamaah di masjid dan ketika sakitnya semakin parah beliau memerintahkan Abu Bakar  ash Shiddiyq radhiyallaahu ‘anhu  untuk mengimami para shahabatnya.  Diantara para sahabat pun bahkan ada yang dipapah oleh dua orang (karena sakit) untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Kalau kita membaca dan memperhatikan dengan seksama dalil-dali dari al-Qur`an, as-Sunnah serta pendapat dan amalan para salafush shalih maka kita akan sampai pada kesimpulan  bahwa dalil-dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa  shalat berjama’ah di masjid hukumnya  wajib. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

  1. Dalil–dalil dari al-Quranul Karim.

Firman Allah Ta’ala:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43).

Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan tiga hal:  Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan Ruku’ bersama orang-orang yang ruku’. Dan yang dimaksudkan dengan ruku bersama orang-orang yang ruku’ dalam ayat ini adalah shalat berjamaah, sebagaimana penjelasan para ahli tafsir.

Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan kebanyakan ‘ulama telah berdalil dengan ayat ini untuk (menunjukkan) wajibnya shalat berjamaah”. (Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi tafsiir Ibni Katsiir, hal: 58).

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: (Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’) maksudnya shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Di dalam ayat ini terdapat perintah dan kewajiban (shalat) berjama’ah… (Taisirul kariimirrahman Fii Tafsiiril Kalaamil Mannaan,1/84).

Al Qaadhi Al baidhawiy menafsirkan  kalimat“Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku” maksudnya fiy jamaa’atihim (dalam jamaah mereka).

Al-Imam Abu Bakr Al-Kasaniy Al-Hanafiy ketika menjelaskan wajibnya melaksanakan shalat berjama’ah mengatakan:

 “Adapun (dalil) dari al-Kitab adalah firman-Nya (yang artinya): “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43), Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, yang demikian itu dengan bergabung dalam ruku’ maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. Muthlaqnya perintah menunjukkan wajibnya mengamalkannya.” (Bada`i’ush-shana`i’ fi Tartibisy-Syara`i’ 1/155 dan Kitabush-Shalah hal. 66).

  1. Firman Allah Ta’ala dalam surah an-Nisaa ayat 102

Artinya: “dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (QS An Nisa: 102).

Ayat yang mulia ini menjelaskan tatacara shalat khauf yang dilaksanakan secara berjamaa’ah. Hal ini menunjukkan bahwa Shalat berjamaa’ah itu hukumnya wajib. Wajhul istidlaal (sisi pendalilan) yang menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaa’ah ada dua:

  1. Apabila Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalalam keadaan takut maka dalam keadaan aman lebih ditekankan lagi (kewajibannya). Dalam masalah ini berkata al-Imam Ibnul Mundzir: “Ketika Allah memerintahkan shalat berjama’ah dalam keadaan takut menunjukkan dalam keadaan aman lebih wajib lagi.” (Al-Ausath fis Sunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf 4/135; Ma’alimus Sunan karya Al-Khithabiy 1/160 dan Al-Mughniy 3/5).
  2. Shalat khauf yang dikerjakan secara berjama’ah menyelisihi aturan dan tata cara shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah wajib mengikuti imam. Namun demikian dalam shalat khauf  mutaaba’atul Imam ditinggalkan (ketika Imam ruku’ sebagian jamaah ada yang tetap berdiri dan tidak ruku’). Meninggalkan Mutaaba’atul Imam (yang hukumnya wajib) sekedar untuk mendapatkan pahala amalan sunnah tidak mungkin. Sehingga jelaslah bahwa hal ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaah.
  1. Firman Allah Ta’ala :

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam: 42-43).

Menurut para Ahli Tafsir bahwa yang dimaksudkan dengan “diseru untuk bersujud” adalah  shalat berjamaah. Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah: “Dan telah berkata lebih dari satu dari salafush shalih tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam:43), yaitu ucapan mu`adzdzin: “hayya ‘alash-shalaah hayya ‘alal-falaah”.

Berkata Turjumanul Qur`an ‘Abdullah bin ‘Abbas  radhiyallaahu ‘anhuma dalam menafsirkan ayat  di atas: “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawabnya” (Ruhul Ma’ani 29/36).

Berkata Ka’ab Al-Ahbar rahimahullah: “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi dari (shalat) berjama’ah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283, Zadul Masir 8/342 dan Tafsir Al-Qurthubiy 18/251).

  1. Dalil-Dali dari Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Kewajiban Shalat berjamaah juga telah ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diantaranya:

  1. Hadits Pertama:

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki buta (‘Abdullah bin Ummi Maktum) mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam  lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku  tidak memiliki  seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu beliau meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  agar memberi keringanan kepadanya untuk shalat di rumahnya. Maka  Rasulullah memberikannya keringanan. Namun ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya serakaya berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.

Dalam hadits ini  Nabi yang mulia tidak memberikan keringanan kepada ‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum untuk meninggalkan shalat berjama’ah dan melaksanakannya di rumah, padahal Ibnu Ummi Maktum mempunyai beberapa ‘udzur  diantaranya:

  1. Matanya Buta,
  2. Tidak memiliki penuntun yang mengantarkannya ke masjid,
  3. Rumahnya jauh dari masjid,
  4. Umurnya yang sudah tua dan tulang-tulangnya sudah rapuh.
  5. Adanya pohon kurma dan pohon-pohon lainnya yang menghalanginya antara rumahnya dan masjid,
  6. Adanya binatang buas yang banyak di Madinah .
  1. Hadits kedua

Al-Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Malik bin Al-Huwairits: Saya mendatangi Nabi dalam suatu rombongan dari kaumku, maka kami tinggal bersamanya selama 20 hari, dan Nabi adalah seorang yang penyayang dan lemah lembut terhadap sahabatnya, maka ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda (yang artinya):

Kembalilah kalian dan tinggallah bersama mereka serta ajarilah mereka dan shalatlah kalian, apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua (berilmu tentang al-Kitab & as-Sunnah dan paling banyak hafalan al-Qur`annya) di antara kalian mengimami kalian.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 628, 2/110 dan Muslim semakna dengannya no. 674, 1/465-466).

Berdasakan dalil -dalil di atas disimpulkan bahwa shalat berjamaa’ah  di masjid hukumnya wajib bagi laki-laki .

Shalat Berjamaah Bagi Wanita

Adapun bagi wanita maka  mereka tidak diwajibkan untuk shalat berjama’ah di masjid, rumah mereka lebih afdhal.Namun jika mereka hendak melaksanakan shalat berjamaah di masjid tidak boleh dilarang. Mereka boleh keluar ke masjid untuk shalat berjamaah   dengan beberapa syarat.