Buka Cabang di Indonesia, Ini Program Utama Yayasan Pengagungan Kedudukan Shalat

Tarhib Ramadhan 1440 H Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok

(Depok)  Wahdahjakarta.com -, Muassasah Ta’dzim Qadr Ash-Shalah (Yayasan Pengagungan Kedudukan Shalat) membuka cabang di Indonesia.

Pendiri  Yayasan Syekh Abdul Karim As-Sulami mengatakan,  di Indonesia yayasan ini akan bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah (WI).

“Yayasan pengagungan kedudukan Shalat ini secara umum akan bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah dalam empat program utama”, jelas As-Sulami saat berbicara di hadapan peserta Tarhib Ramadhan 1440 H Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok, di Depok, Rabu (01/05/2019).

Pertama,  Pencerahan dan penyadaran kembali kepada masyarakat tentang  kedudukan shalat.  “Sosialisasi yakni mengingatkan kembali tentang pentingnya kedudukan shalat dalam kehidupan seorang muslim”, unglapnya.

Kedua lanjut As-Sulami,  Pengajaran tentang tatacara shalat yang benar. “Sebab masih banyak yang membutuhkan   penyegaran dan pengajaran kembali tentang tatacara shalat  yang sesuai sunnah Nabi dan mengantarkan pada shalat yang khusyu”, terangnya.

Ketiga, Pendidikan dan pembiasaan melaksanakan shalat pada anak-anak, sebagaimana perintah Nabi kepada para orang tua agar menyuruh anak-anak untuk shalat di usia  tujuh tahun.

Keempat, Penyadaran tentang dampak shalat dalam kehidupan.  Ia menjelaskan, shalat memiliki dampak penting dalam segala aspek kehidupan seseorang.

“Berpengaruh terhadp bisnis kita,  rumah tangga,  prestasi,dan aspek-aspek kehidupan lainnya”, tegasnya. []

Apakah Kiblat Harus Tepat Menghadap Ka’bah Atau Cukup Mengarah Ke Ka’bah

Menghadap Kiblat merupakan syarat-syarat shalat, dimana tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat, kecuali pada saat shalat khauf atau shalat nafilah di atas kendaraan, atau sebuah kapal. Maka kondisi shalat nafilah seperti ini tidak mengharuskan menghadap kiblat, cukup sesuai arah kendaraan dimana ia mengarah.

Para ulama tidak berbeda pendapat dalam hal ini, akan tetapi mereka berbeda apakah kiblat itu harus tepat menghadap Ka’bah atau cukup mengarah ke arah Ka’bah walau tidak sama persis atau tepat menghadap Ka’bah?

Para ulama berbeda pendapat akan hal ini dalam 2 pendapat.

[•] Pendapat mazhab Syafi’iyah dan mazhab Hanabilah yaitu bahwa yang wajib harus tepat menghadap Ka’bah.

[•] Pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah yaitu bahwa yang wajib cukup arah Ka’bah jika seorang yang shalat tidak melihat Ka’bah tersebut. Adapun bagi orang yang melihat Ka’bah maka semua sepakat harus tepat mengarah ke Ka’bah.

(•) Dalil mazhab Hanabilah dan Syafi’iyah

Firman Allah azza wajalla:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya adalah bahwa makna asy-syathr yaitu arah yang berhadapan bagi seorang yang shalat. Karena itu wajib untuk menghadap tepat ke Ka’bah.

• Nabi shallallahu ‘alaihim wasallam tidak shalat kecuali mengarah Ka’bah.

• Kiyas, yaitu kesungguhan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mengagungkan Ka’bah sampai pada derajat tawatur, dan shalat merupakan diantara syiar agama yang paling agung. Sedang penetapan syariat akan keabsahannya tepat menghadap Ka’bah menambah kemudian Ka’bah itu, sehingga tentu ini menjadi sesuatu yang disyariatkan.

Kemudian, perkara ka’bah sebagai Kiblat merupakan sesuatu yang telah pasti sedangkan yang lainnya sebagai Kiblat maka ia adalah sesuatu yang masih diragukan. Sedangkan menjaga dari perkara yang mengkhawatirkan sebagai bentuk kehati-hatian adalah suatu kewajiban. Karena itu wajib pula untuk menghadap tepat ke arah Ka’bah.

•Firman Allah azza wajalla:

(•) Dalil Mazhab Malikiyah dan Hanafiah

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya Allah menyebutkan syathr al-Masjid al-Haram bukan Syathr al-Ka’bah. Siapapun yang telah shalat menghadap arah Masjid al-Haram maka ia telah melakukan perintah syariat, baik itu ia benar atau salah.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

ما بين المشرق والمغرب قبلة

“Antara timur dan barat kiblat.” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini Hasan shahih)

Amalan para sahabat, dahulu orang-orang yang shalat di masjid Quba saat shalat subuh di Madinah mereka menghadap Bait al-Maqdis membelakangi Ka’bah, kemudian mereka memutar saat shalat tanpa mencari petunjuk arah. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari hal ini. Sedangkan untuk mengarah tepat ke arah Ka’bah tidak akan diketahui kecuali dengan menggunakan petunjuk yang cukup lama dan teliti untuk menetapkannya. Maka bagaimana mereka tiba-tiba mengetahuinya dikegelapan malam?

•Dahulu orang-orang di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masjid tanpa ada ilmu keinsiyuran yang bertugas tepat untuk menyamakan arah mihrab tepat menghadap ke arah Ka’bah, sementara untuk mengetahui arah Kiblat yang tepat itu harus dengan ketelitian yang tinggi dalam ilmu keinsiyuran. Sementara tidak ada satupun ulama yang menyebutkan bahwa mempelajari ilmu keinsiyuran itu adalah sesuatu yang wajib, maka diketahui bahwa menghadap tepat ke arah Kiblat bukanlah sesuatu yang wajib.

Tarjih:

Ini merupakan ringkasan dari dalil-dalil dua kelompok pendapat yang berbeda. Jika engkau mengamati dalil-dalilnya maka dalil-dalil kelompok kedualah (mazhab Malikiyah dan Hanafiah) yang lebih kuat dan lebih jelas penjelasannya. Apalagi bagi yang jauh di berbagai belahan dunia.

Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh imam al-Qurthubi rahimahullah.

Diringkas dari kitab: Rawai’u al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an Karya Syaikh Ali ash-Shabuni rahimahullah.

————

Catatan dari peringkas, di zaman sekarang ilmu untuk menetapkan arah kiblat sudah sangat mudah dengan berbagai alat. Bahkan seseorang mampu mengetahuinya dengan aplikasi handphone yang mengarahkan kiblat tepat pada Ka’bah.

Karena itu boleh dikatakan sulit untuk memberikan rukhshah bagi orang-orang yang tidak mengetahui arah Kiblat tepat pada arah Ka’bah, kecuali bagi orang-orang yang tidak memiliki handphone atau tidak memiliki aplikasi penunjuk arah Kiblat di handphonenya.

Maka untuk kehati-hatian atas ijma’ ulama akan kewajiban shalat tepat menghadap Ka’bah maka hendaknya seseorang tidak memudah-mudahkan hal ini. Jika ia telah bersungguh-sungguh dan ternyata shalatnya selama ini tidak tepat mengarah Ka’bah melainkan hanya mengarah ke arahnya maka kami menguatkan pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah akan hal ini akan keshahihan shalatnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Sumber : wahdah.or.id

Keutamaan Shalat Berjama’ah


Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadatain. Shalat juga merupakan tiang agama dan amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melaksanakan Shalat secara berjama’ah merupakan ketaatan kepada Allah yang sangat mulia. Shalat berjama’ah juga merupakan salah satu syi’ar Islam yang mulia yang memiliki fadhilah dan keutamaan yang banyak.

Keutamaan shalat Berjama’ah yang akan dibahas dalam tulisan ini terkait dengan seluruh aktivitas yang terkait dengan shalat berjama’ah. Mulai dari berjalan menuju masjid, berdiam di masjid menanti waktu shal;at berjama’ah, dan sebagainya;

1. Naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari kiamat bagi Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid

Salah satu fadhilah yang didapatkan dari shalat berjama’ah adalah barang siapa yang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan naungan pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ… : متفق عليه

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya)……dan seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid” (Muttafaqun Alaihi)

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas mengatakan;

“Orang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid dan kontinyu dalam melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya bukan berarti selalu tinggal di masjid” (Syarah An-Nawawi 7 : 121)

2. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Shalat Berjama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa setiap langkah seorang muslim menuju ke masjid merupakan salah satu sebab pengampunan dosa dan pengangkatan derajat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ …وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ… : رواه مسلم

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?” Para shahabat berkata : “Tentu, Ya Rasulullah”, Beliau bersabda ” ….dan memperbanyak langkah menuju ke masjid …” (HR. Muslim).

Pengangkatan derajat artinya kedudukan yang tinggi di Syurga (syarah An-Nawawi 3 : 141).

Penghapusan dosa dan pengangkatan derajat tidak hanya didapatkan oleh orang yang memperbanyak langkahnya menuju ke masjid, akan tetapi fadhilah ini akan didapatkan juga ketika kembali ke rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةً, ذَاهِبًا وَرَاجِعًا : رواه أحمد

“Barang siapa yang menuju ke masjid untuk shalat berjama’ah maka setiap langkahnya menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali” (HSR. Ahmad).

3. Keutamaan Menunggu Shalat

Dan diantara fadhilah shalat berjama’ah adalah barang siapa yang duduk untuk menunggu shalat ia akan senantiasa dido’akan oleh para malaikat, makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِي صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُو لَهُ الْمَلاَئِكَةُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْه : رواه مسلم

“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo’akannya : “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR. Muslim)

4. Keutamaan Berada di Shaf Pertama

Dalam shalat berjama’ah terdapat shaf dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melebihkan shaf awal atas shaf lainnya dikarenakan didalamnya terdapat fadhilah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ اْلأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا : رواه البخاري

Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menjelaskan tentang fadhilah apa yang terkandung didalamnya hal ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang terdapat didalamnya. Dan telah datang beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa shaf awal juga menyerupai shafnya para malaikat, sebagaimana juga terdapat riwayat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat terhadap orang-orang yang berada di shaf awal dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang yang berada di shaf pertama dan kedua (Lihat Ahammiyatu Shalatil Jama’ah : 21-24).

5. Keutamaan berada di shaf sebelah kanan

Diriwayatkan dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ : رواه أبو داود

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada pada shaf sebelah kanan” (HHR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Para shahabat menyukai untuk senantiasa berada di bagian kanan shaf apabila mereka shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Al-Bara’ Radhiyallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ فَيُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهَِ : رواه أبوداود

Kami apabila shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih kami sukai untuk kami berada di sebelah kanan beliau karena beliau menghadapkan wajahnya (pertama kali) kepada kami (saat salam)” (HSR. Abu Daud)

6. Keutamaan Mengucapkan Amin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang fadhilah mengucapkan amin bersama-sama imam dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ : رواه البخاري

Apabila imam mengucapkan “ghairul maghduubi ‘alaihim waladdhaliin” maka katakanlah “Amin” karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu ” (HR. Bukhari)

7. Pengampunan dosa atas orang yang melaksanakan shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu

Diantara keutamaan shalat jama’ah adalah kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atas orang yang shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu berupa pengampunan dosa. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan berkata “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ : رواه مسلم

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia atau secara berjama’ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

8. Keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendiri

Telah terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang ganjaran bagi orang yang melaksanakan shalat secara berjama’ah berupa pelipat gandaan derajat atas orang yang shalat secara sendiri-sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

( صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً ( رواه البخاري

“Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat sendiri sebanyak dua puluh derajat” (HR. Bukhari)

9. Dua pembebasan atas orang yang senantiasa mendapatkan takbir pertama imam selama empat puluh hari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى للهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَااقِ : رواه الترمذي

Barang siapa yang shalat selama empat puluh hari secara berjama’ah dan selalu mendapatkan takbir pertama, maka di tetapkan baginya dua pembebasan : Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari nifaq” (HHR. Tirmidzi).

Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan kami sebelum kami mendapatkan keutamaan-keutamaan ini, Amin.

-Syamsuddin-
Maraji’ : Ahammiyah Shalati Al Jama’ah, Dr. Fadhlu Ilahi
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 18)

Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Adab-Adab Shalat (5)

Adab-Adab Shalat (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang adab-adab  shalat.

  1. Memelihara Shalat Berjamaah di Masjid Terdekat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا لقد هممت أن آمر الملؤذِن فيقيم  ، ثم آمر رجلا يؤم الناس ، ثم آخذ شعلا من النار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

 “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik kecuali shalat Subuh dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat itu niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh  aku pernah berpikiran kuat untuk memerintahkan muadzin agar mengumandangkan iqamah lalu aku menyuruh seseorang untuk mengimani manusia kemudian aku membawa Suluh api, lalu aku bakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah setelah itu (setelah dikumandangkan informasi atau setelah mendengar ancaman beliau Shallallahu Alaihi Wasallam). (HR. Bukhari)

  1. Merealisasikan Buah Shalat

Yakni senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, selalu merasa diawasi dan takut kepadaNya dalam setiap keadaan. Berhenti  dari perkataan kotor dan perbuatan yang munkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar saat melakukan langkah dan Dirikanlah shalat untuk menginngatKu”. (QS.  Thaha:14).

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu kitab al-qur’an dan Dirikanlah shalat shalat itu mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar sesungguhnya mengingat Allah salah adalah lebih besar keutamaannya daripada ibadah kepada yang lain untuk mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).  Bersambung insya Allah.

 Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab-Adab Shalat [04]

Adab-Adab Shalat [04]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

 Diantara adab-adab Shalat yang hendaknya diperhatikan dan dijaga adalah;  menunggu shalat setelah selesai Shalat dan menjaga Shalat sunnah Rawatib

  1. Menunggu Shalat Setelah  Selesai Shalat

Dianjurkan menunggu Shalat setelah  selesai Shalat, seperti menunggu Shalat  Isya  setelah Shalat  Maghrib,  sambil diisi dengan dzikir,  membaca atau menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu,  dan menghadiri majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Setelah Shalat duduk di Masjid membaca Al-Qur’an dan menunggu Shalat berikutnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia di tempat Shalatnya (menunggu Shalat berikutnya), dan selama tidak berhadats (batal wudhu). Para Malaikat itu berdo’a: Ya Allah ampunila dia, ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang dari kalian senantiasa mendapatkan pahala Shalat selama Shalat (berikutnya) yang menahannya (untuk tetap di tempat shalatnya). Tidak ada yang menahannya untuk pulang dahulu kepada keluargnya (di rumah)  kecuali shalat (yang dia tunggu). (Muttafaq ‘alaih).

  1. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Menjaga Shalat Sunnah Rawatib, tidak menyepelekan,  dan merasa ringan meninggalkannya,  karena melaksanakan shalat rawatib menambah kedekatan kepada Allah dan menambal kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Shalat Fardhu seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim shalat sunnah 12 raka’at selain shalat fardhu melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim).

Dua belas rakaat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat Fardhu yang terdiri atas;  empat raka’at sebelum dzuhur,  dua raka’at setelah Dzuhur, dua raka’at setelah Maghrib,  dua raka’at setelah Isya,  dan dua raka’at sebelum Subuh.

Ummu Habibah radhiallahu anha mengatakan Aku tidak pernah meninggalkan shalat rawatib sejak Ibu sejak mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hal tersebut demikian pula kamar dan Norman mengatakan hal yang sama

  1. Tekun Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Khusus Rawatib qabliyah Subuh hendaknya lebih diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat tekun melaksanakannya, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata,  “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menekuni suatu shalat sunnah pun setekun  beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”. (Muttafaq alaih).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu Anha bahwa beliau bersabda;

 “Dua  rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya”.  (HR. Muslim).

Bersambung ke tulisan berikutnya. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Adab dalam Shalat

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya

Ke.5 lima, Memasuki shalat dengan tenang dengan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla dan dengan anggota badan yang tenang tawadhu rendah hati dan khusyu’ Di hadapan-Nya. Juga  dengan penuh rasa hina diri ketundukan dan haibah (takut kepada kebesaran Allah).

Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [٢٣:١]  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [٢٣

Sungguh beruntung orang orang mukmin, yakni mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Qs. al-Mu’minun 1-2).

Ke.6, Tidak Menolehkan Muka, Tertawa atau Mempermainkan Pakaian dengan Tangan Ketika shalat

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai berpaling dalam shalat maka beliau bersabda; “Itu (berpaling dalam shalat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba”. (HR Bukhari).

Ke.7. Memandang ke Tempat Sujud dan Menghindari Pandangan ke Langit (diatas)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Mengapa suatu Mengapa suatu kaum menengadahkan pandangan matanya ke langit ketika shalat Rasulullah mengatakan hal itu dengan penuh penekanan hingga beliau bersabda mereka harus benar-benar berhenti maka mata mereka akan benar-benar disambar”. (HR. Bukhari).

Ke. 8 Memelihara Kesadaran (bertafakur) dan Merenungkan Makna Ayat-ayat dan Dzikir- dzikir yang Dibaca.  Hindari  kelalaian dan lupa dalam shalat.

Allah Ta’ala berfirman;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ [١٠٧:٤]﴿٤﴾  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [١

“Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang salat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Qs. al-Maun 4-5).

Al-Wail adalah siksaan di neraka bagi orang-orang yang menghasilkan salatnya hingga keluar dari waktunya dan Siksa ini disediakan pula bagi orang yang melakukan salat dengan tubuh dan lisannya saja, sedangkan hatinya tidak khusyu’,  tidak merenungkan apa apa yang mereka baca.  Maka shalat mereka tidak berpengaruh bagi jiwa dan amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya seseorang ada yang selesai dari shalatnya akan tetapi tidak dicatat baginya dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembila nya, seperdelapannya, Sepertujuhnya,  seperenamnya seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,  atau seperdua nya”. [Bersambung insya Allah]

(Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 20-24).

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Sahkah Jika Jama'ah Wanita Shalat disamping Jama'ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Shalat Jama’ah Wanita disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Pertanyaan:

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama, kalau jama’ah wanita shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah. Adanya perbedaan diantara mereka manakala shalat di sampingnya tanpa ada pembatas. Pendapat Hanafiyah (mengatakan), bahwa batal shalatnya tiga orang laki-laki. Satu disamping kanan, yang lain samping kiri dan ketiga dibelakangnya. Dengan syarat-syarat yang telah mereka sebutkan. Hasilnya adalah wanita itu sudah ‘Musytaha’ yaitu telah berumur tujuh tahun atau yang sudah layak untuk digauli, menurut perbedaan dalam madzhab. Dan ikut dengan laki-laki dalam shalat mutlak yaitu yang ada ruku’ dan sujud. Sama-sama dalam larangan dan pelaksanaan. Dan hendaklah imam telah berniat untuk mengimami (wanita) atau menjadi imam kalangan wanita secara umum. Dengan perincian lainnya, dapat diketahui dengan merujuk ke kitab-kitab mereka. Silahkan melihat kitab AL-Mabsut, 1/183. Badai’ sonai’, 1/239. Tabyinul Haqaiq, 1/ 136-139.

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan perbedaan dalam masalah, kesimpulan madzhab Hanafiyah adalah kalau laki-laki shalat sementara disampingnya ada wanita. Shalatnya tidak batal (baik) laki-laki maupun wanita. Baik dia sebagai imam atau makmum. Ini adalah madzhab kami (Syafiiyyah), dan juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan (ulama’). Abu Hanifah mengatakan, kalau wanita (dalam kondisi) tidak shalat atau dalam kondisi shalat tapi tidak bersama shalat dengan dia. Maka shalatnya sah baik laki-laki maupun wanita. Kalau (wanita) dalam kondisi shalat ikut bersama dengan (laki-laki) –tidak dikatakan kebersamaan menurut Abu Hanifah kecuali kalau imamnya berniat menjadi imam para wanita- kalau wanita ikut bersamanya, jika ada laki-laki berdiri disampingnya. Maka shalatnya batal orang yang (berdiri) disamping wanita. Sementara shalat wanita tersebut tidak batal. Bagitu juga (tidak batal) orang yang shalat disela setelah selanya. Karena antara (wanita) dengan laki-laki ada penghalang. Kalau wanita di shaf diantara yakni imamnya, maka shalat orang yang sejajar dibelakangnya batal, dan tidak batal orang yang shalat sejajar dengan jajaran wanita. Karena ada penghalang. Kalau para wanita membuat shaf dibelakang imam, sementara dibelakang mereka ada shaf laki-laki. Maka shalat yang ada dishaf setelah (shaf para wanita) batal. Berkata, sebenarnya qiyas (analoginya) tidak batal shalat yang ada dibelakang shaf diantara shaf-shaf karena ada penghalang. Akan tetapi kami katakan, shaf para laki-laki dibelakangnya batal meskipun ada seratus shaf karena istihsan. Kalau wanita berdiri di samping imam, maka shalat imam batal karena wanita ada di sampingnya. Dan madzhabnya, kalau shalat imam batal, maka shalat para makmum juga batal. Dan shalat (wanita) itu juga batal karena dia termasuk bagian dari makmum.

Madzhab ini lemah hujjahnya. Nampak berpegang teguh dengan perincian yang tidak ada asalnya. Pegangan kami bahwa shalatnya sah sampai ada dalil shoheh syar’i yang menjelaskan batalnya (shalat) padahal mereka tidak punya (dalil). Teman-teman kami (semadzhab) mengkiyaskan berdirinya (wanita) dengan berdirinya dalam shalat jenazah, (maka shalatnya) tidak batal menurut mereka. (Al-Majmu’, 3/331 Dengan sedikit ringkasan).

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Kedua, tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana kondisi zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 380 dan Muslim, 658. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk makan-makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kami. Anas berkata: ”Saya berdiri ke tikar yang kami punya sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami percikkan air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fath, ‘’dalam hadits ini banyak  faedahnya… (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki. Dan berdirinya wanita sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya”.

Akan tetapi kalau terjadi seperti apa yang anda sebutkan bahwa para wanita sejajar dengan para lelaki, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam . [islamqa.info.id].

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Hukum Shalat Berjama’ah

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Berikut ini beberapa adab dalam shalat;

  1. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan penuh keinginan dan harap serta kecintaan, dengan penuh perhatian perhatian dan semangat serta rindu untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena  itu Ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari nikmat Ku”.  (Qs.Al Baqarah: 152).

  1. Berpenampilan yang baik sebelum masuk shalat dengan memilih pakaian yang bersih, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid untuk shalat”, (Qs. Al-A’raf: 31).

Ayat ini menunjukan anjuran berhias dengan mengenakan pakaian terbaik ketika datang ke Masjid untuk menunaikan Shalat.

  1. Lakukanlah sesuatu yang sangat mendesak (seperti makan) sebelum shalat agar selama shalat hati anda tidak disibukkan dengan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

لا يقوم أحدكم إلى الصلاة وهو  بحضرة الطعام ولا هو يدفعه الأخبثان الغائط والبول

Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan salat sedang Ia di hadapan makanan dan dan jangan pula ia salat sedang ia menahan buang air besar atau buang air kecil”. (HR. Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits ini para Ulama memandang makruh hukumanya shalat jika makanan telah tersajikan, sebagaimana makruh pula hukumanya shalat sambil menahan hasrat buang air. Alasannya karena hal itu dapat mengganggu dan mengurangi kekhusyukan shalat. Namun jika hal itu dilakukan tidak membatalkan shalat. Artinya shalatnya tetap sah.

  1. Ketika Mendatangi shalat berjalanlah dengan tenang, tidak berlari-lari tidak terburu-buru sehingga membuat nafas tersengal-sengal atau membuat keributan yang mengganggu orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Apabila panggilan salat telah berkumandang maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru.   Datangilah  Shalat dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka lakukanlah dan apa yang tertinggal dari shalat maka sempurnakanlah setelah imam salam” (HR.Muslim).

Ini  menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang pergi menuju shalat untuk tidak melakukan perbuatan yang sia-sia  dengan tangannya, berkata dengan perkataan yang buruk dan melihat sesuatu yang buruk. Dianjurkan  untuk sungguh-sungguh dalam menjauhi apa apa yang biasa dijauhi oleh orang yang sedang shalat, dan apabila ia telah sampai ke masjid dan menunggu shalat maka harus lebih serius lagi dalam menjauhi hal-hal yang telah disebutkan tadi”. (Syarah Nawawi ‘Ala Muslim). Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 16-19.