Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia

Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah [6] dari kitab Al-Khullaashoh al-Bahiyyah fiy Tartiibi Ahdaats as-Sirah an-Nabawiyyah).

Serial Sirah Nabawiyah 06: Ibunda Rasulullah Meninggal Dunia 

6. Ketika Rasulullah ﷺ menginjak usia 6 tahun, Ibundanya meninggal di Abwaa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lalu kakeknya Abdul Muththolib mengambil alih mengasuhnya.

Penjelasan

Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan: Ketika Rasulullah ﷺ berumur 6 tahun, Aminah ibunda beliau meninggal dunia di Abwa’ yang terletak antara Makkah dan Madinah, Aminah pergi bersama Rasulullah ﷺ untuk berkunjung kepada sanak keluarga dari Bani ‘Adi bin Najjar, lalu meninggal dunia dalam perjalanan pulang menuju Makkah. (Lihat sirah Ibnu Hisyam 1:155)

Abwa’ adalah sbuah perkampungan yang masih termasuk wilayah Madinah. Jarak Abwa’ dan Juhfah sejauh 23 mil. Ada yang mngatakan; Abwa’ adalah sebuah gunung terletak di sebelah kanan bagi yang memasuki Makkah dari arah Madinah. Di situ terdapat sebuah negri yang dinisbatkan kepada gunung ini. (Lihat Mu’jamul Buldan I/79)

Imam Muslim meriwayatkan bahwa saat Rasulullah ﷺ melewati Abwa’ untuk pergi ke kota Makkah pada tahun penaklukan kota tersebut, beliau meminta izin kepada Rabbnya untuk menziarahi ibunya. Beliaupun diberikan izin. Lalu beliau menangis dan menyebabkan orang-orang di sekitar beliau juga turut menangis. Saat itu beliau bersama seribu orang yang mengenakan penutup kepala dari besi. (Lihat shahih Muslim bisyarh an-Nawawi VII/45-46)

Saat ibunya meninggal, Rasulullah ﷺ diasuh oleh Ummu Aiman. Lalu beliau dirawat oleh kakeknya Abdul Muththolib.

Ketika Rasulullah ﷺ di bawah asuhan kakeknya, Ibnu Ishaq meriwayatkan: “Dahulu ada sebuah kasur disediakan untuk Abdul Muththolib di bawah naungan Ka’bah. Dan sebagai wujud penghormatan kepadanya, tdak seorangpun dari anak-anaknya yang berani duduk di atas kasur tersebut. suatu kali, Rasulullah ﷺ duduk di atasnya maka paman-paman beliau berusaha memindahkan Rasulullah ﷺ. Namun Abdul Muththolib berkata, ‘biarkanlah cucuku’. Lalu ia mengusap punggung Rasulullah seraya berkata, ‘sungguh cucuku ini akan menjadi orang besar’.” (Lihat sirah Ibnu Hisyam I/129, riwayat ini diperselisihkan oleh Ulama). WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Serial Sirah Nabawiyah

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Serial Sirah Nabawiyah [05] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Penjelasan

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh Malaikat Jibril ketika sedang bermain bersama anak-anak sebayanya, kemudian (Jibril) mengambilnya dan menelentangkannya, lalu membelah dadanya lalu mengeluarkan hatinya dan mengeluarkan satu gumpalan darinya, lantas berkata:

Ini adalah bagian Syaitan yang ada padamu“, kemudian mencucinya dalam bejana emas dengan air zam-zam lalu menata dan mengembalikannya ke tempat semula. Dan anak-anak (yang sedang bermain dengannya) berlarian mencari ibu susuannya seraya berseru: “Muhammad telah dibunuh”, maka merekapun mendatangi Rasulullah ﷺ yang mukanya terlihat pucat.”

Anas bin Malik berkata: “Saya pernah melihat bekas jahitan di dada Rasulullah ﷺ .”(Shahih Muslim no. 261).

Ibnu Sa’ad berkata; “Umur Rasulullah ﷺ saat peristiwa tersebut (pembelahan dada) adalah 4 tahun. (Lihat ath-Thobaqoot I/112).

Pembersihan spiritual dari bagian syaitan, mrupakan prolog dini kenabian dan prsiapan untuk pemeliharaan dari berbagai kejahatan dan penyembahan kepada selain Allah. Tidak boleh ada di dadanya kecuali Tauhid.

Peristiwa masa kecil Beliau ﷺ telah menunjukkan hal tersebut, beliau ﷺ tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah bersujud kpda berhala di saat hal trsbut menjadi sesuatu yg biasa di tengah kaumnya. (Lihat As-Sirah an-Nabawiyah Ash-Shohihah, DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari).

Peristiwa ini (pembelahan dada) menyebabkan Rasulullah ﷺ dikembalikan kepada ibunya, Aminah binti Wahb, karena Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau ﷺ . (Musnad Ahmad 4:184-185, Sunan Ad-Darimi 1:8-9, Mustadrak al-Hakim 2:616). (MU/sym]

WaLlahu Ta’ala A’lam.

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

1. Mengetahui asbab Nuzul kebanyakan ayat dan asbab wurud hadits Nabi, dimana hal ini dapat membantu memahami makna ayat dan hadits serta menyimpulkan hukum dari keduanya.

2. Bekal bagi para du’at dan pejuang Islam. Dengan belajar sirah mereka akan memiliki tekad dan motivasi yang kuat,karena mereka memiliki teladan dan pendahulu yang telah mempersembahkan juhud (pengorbanan) yang besar berupa tetesan darah untuk menjayakan Islam. Dengan belajar sirah pula para da’i makin tahu betapa mahalnya hidayah pada Agama ini dan betapa mulianya orang-orang berdawah dan berjihad memperjuangkannya.

3.Sirah nabawiyah sendiri merupakan salah satu mu’jizat dan tanda kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibn Hazm rahimahullah berkata, “Bagi yang mengkaji dengan seksama Sirah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini akan membenarkan dan mempersaksikan bahwa beliau adalah benar-benar Rasul Allah. Andaikan beliau tidak memiliki mu’jizat selain sirahnya, maka sudah cukup. (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/190).

4. Mengetahui jalan ideal menjayakan Islam seperti yang ditempuh oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau diutus pada saat manusia berada dalam kondisi kehidupan yang paling buruk. Bahkan lebih buruk dibanding kondisi ummat-ummat para Nabi selain beliau. Dengan belajar sirah kita mengetahui bgaimana beliau memulai da’wah, bgaimana berpindah dari satu marhalah (fase) ke marhalah berikutnya. Hingga Allah sempurnakan Dien ini, dan Allah sempurnakan nikmat-Nya kepada kaum Muslimin.

5. Mengenali faktor-faktor yang menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum layak dan pantas memimpin ummat manusia. Dengan belajar sirah kita dapat mengetahui pula bagaimana mereka ditarbiyah (dibina dan dikader) oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap mereka, menumbuhkan semangat mengikuti metode mereka,dan menapaktilasi jalan mereka.

6. Belajar sirah dapat menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi dan para sahabat. Karena seolah-olah mereka hadir di tengah-tengah kita, dan kita berada di tengah-tengah mereka. Kita bahagia dengan kebahagiaan bersama bahagia mereka, menangis bersama tangisan mereka, dan bahagia atas kemenangan mereka. Karena tidak dapat dipungkiri, kebersamaan yang lama suka dan duka termasuk faktor penguat ikatan cinta dan persaudaraan. Inilah berkahnya belajar sirah nabawiyah yang mulia. Ia termasuk salah satu simpul iman. Dimana tidak akan sempurna iman seorang hamba dia mencintai Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cintanya pada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

7. Belajar Sirah Nabawiyah merupakan kenikmatan ruhiyah dan gizi bagi hati yang suci.

8. Belajar sirah membantu setiap Muslim untuk mengetahui kebanyakan hukum-hukum fiqh, nilai-nilai pendidikan (durus tarbawiyah), siyasah syar’iyyah, dan sebagainya. Seorang pemimpin sangat butuh belajar dari sirah tentang bagaimana Nabi memimpin. Demikian pula dengan seorang prajurit,dari sirah dapat belajar menjadi prajurit yang benar. Apa lagi para da’i dan murabbi.Mereka sangat butuh belajar dari sirah bagaimana da’wah dan tarbiyah dijalankan.

9. Mengenali kemuliaan (syaraf) nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bagaimana beliau dijaga oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari gangguan manusia. Bagaimana Malaikat turun berperang bersama beliau pada perang Badar, Ahzab (Khandaq), dan Hunain? Serta bagaimana Malaikat Jibril dan Mikail turun melindungi tubuh beliau yang mulia pada perang uhud?

10. Mengetahui sebab kemenangan dan kekalahan. Diantara sebab kemenangan adalah tsiqah kepada Allah, bertawakkal, dan merendahkan diri pada-Nya, serta menjalani sebab yang menghantarkan kepada kemenangan. namun tidak menggantungkan diri pada sebab dan selalu mengimani bahwa pertolongan dan kemenangan datang dari Allah Ta’ala. Adapun sebab kekalahan (hazimah) diantaranya seperti yang terjadi pada perang uhud, yakni kecenderungan terhadap dunia, dan seperti yang terjadi pada perang Hunain yakni terpedaya dengan jumlah yang banyak.

11. Sebagai panduan hidup bagi pribadi dan masyarakat Muslim, dan panduan serta sumber yang murni dalam memahami syariat Islam. Sirah Nabawiyah juga merupakan gambaran benar tentang konsep hidup yang pernah disaksikan penduduk bumi. Karena ia merupakan sejarah Rasul Allah yang paling mulia sekaligus pemimpin seluruh ummat manusia. [sym]

(Sumber: Waqafat Tarbawiyah ma’as Sirah an Nabawiyah, karya Syekh Ahmad Farid, hlm. 13-15)

Mengenal Ibu Susuan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Mengenal Ibu Susuan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

(Serial Sirah Nabawiyah [04] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

serial sirah Nabawiyah [04] Ibu Susuan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam

Yang menyusui Nabi ﷺ adalah Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah, dan nampaklah keberkahan karena keberadaan Nabi ﷺ di sisinya.”

Pelajaran dan Penjelasan:

Wanita pertama yang menyusui Nabi ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah yang merupakan mantan budak wanita Abu Lahab, yang sebelumnya juga telah menyusui Hamzah bin Abdil Muththolib.
“..Tsuwaibah menyusuiku bersama Abu Salamah…”. (Lihat HR.Bukhari (9/43) dan Muslim 10/25-27))

Menjadi tradisi di kalangan orang Arab adalah mencari wanita di pedalaman yang dapat menyusui bayi mereka sebgai tindakan preventif dari penyakit yang banyak menular di perkotaan. Selain itu agar anak mereka menjadi kuat serta lisan dan bahasanya terjaga.

Abdul Muththolib memilih seorang wanita dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakr yaitu Halimah binti Abi Dzuaib untuk menyusui Nabi ﷺ .

Dalam (pengasuhan) Halimah, Rasulullah ﷺ memiliki saudara sesusuan, yaitu: Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah binti al-Harits, Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdil Muththolib, dan Hamzah bin Abdil Muththolib. Dengan demikian Hamzah paman nabi, merupakan saudara sesusuan Rasulullah ﷺ dari dua sisi: Tsuwaibah dan Halimah.

Halimah merasakan keberkahan serta peristiwa yang ajaib sejak kehadiran Rasulullah ﷺ di tengah keluarganya. Diantaranya:

  • ASI Halimah menjadi banyak, padahal sebelumnya tidak bisa tidur karena tangis bayinya yang kelaparan.
    Onta tua milik Halimah juga tiba-tiba memiliki susu yang banyak.
  • Onta betina yang ditunggangi oleh Halimah beserta Rasulullah ﷺ sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan onta-onta yang lainnya.
  • Sesampainya di kampung Bani Sa’ad yang terkenal sangat tandus, kambing-kambing tampak kenyang dan memiliki air susu yang banyak.

(Peristiwa-peristiwa ini terdapat dalam HR. Abu Ya’la 7158, Ibnu Hisyam 124. Adz-Dzahabi mengatakan isnadnya jayyid walaupun hadits ini diperselisihkan oleh para ulama)

Wanita lain yang juga menyusuinya adalah Ummu Aiman, nama aslinya Barkah binti Tsa’labah yakni mantan budak beliau yang didapatkannya sebagai warisan dari ayahnya. WaLlahu Ta’ala A’lam. (MU/sym).

Artikel:wahdah.or.id

Do’a Nabi Ibrahim dan Kabar Gembira Nabi ‘Isa ‘alaihimassalam

Serial Sirah Nabawiyah 03. Gambar: Wahdah.or.id

Do’a Nabi Ibrahim dan Kabar Gembira Nabi ‘Isa ‘alaihimassalam (Serial Sirah Nabawiyah [03] dari Kitab Al-Khulaashoh Al-Bahiyyah fiy Ahdaats As-Siyrah An-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٣ – يقول – صلى الله عليه وسلم -: أنا دعوة إبراهيم، وبشرى عيسى، رأت أمي حين حملت بي كأن نورا خرج منها أضاءت له قصور بصرى من أرض الشام

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku adalah (pengabulan) doa Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa, dan ibuku melihat ketika ia mengandungku seolah-olah cahaya keluar darinya menerangi istana-istana Bushra di Negri Syam.

Pelajaran
Hadits ini dishohihkan oleh asy-syaikh al-Albani dalam Shohih al-Jaami’ 1463 – 3451, Diriwayatkan oleh Ahmad 5/262, dan al-Hakim 4230.

Do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam’ yang dimaksud adalah do’a Beliau yang termaktub dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (terj. QS al-Baqarah: 129).

Do’a tersebut dikabulkan oleh Allah dengan diutusanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan anak keturunan beliau melalui Isma’il ‘alaihissalam.

Kabar gembira Nabi Isa ‘alaihis salam yang dimaksud adalah apa yang diabadikan di dalam al-Qur’an tentang Nabi Isa:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad), ” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (terj. QS Ash-Shaf:6).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathoif Ma’arifnya menafsirkan bahwa cahaya yg dimaksud adalah indikasi atas apa yang akan datang bersamanya, yaitu cahaya yang dijadikan petunjuk oleh penduduk bumi dan hilangnya kegelapan syirik. Sebagaimana firman Allah ﷻ di Surah al-Maidah 15-16.
Keutamaan Negri Syam (sekrang meliputi Suriah,Palestina, Yordania dan Libanon). Ibnu Katsir berkata tentang hadits ini, “Penyebutan negeri Syam secara khusus dengan keluarnya cahaya adalah sebuah isyarat akan kokohnya agama ini di negri Syam. Negri Syam pada akhir zaman akan menjadi benteng pertahanan bagi Islam dan pemeluknya. Di negeri inilah Nabi Isa putera Maryam akan turun di Damaskus pada menara putih di bagian Timur.

Dalam Shohih Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Senantiasa sekelompok dari umatku yang terus berjuang menampakkan kebenaran tidaklah membahayakan orang-orang yang mencerca dan menyelisihi mereka, hingga datang urusan Allah (yakni hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian (berjuang di jalan Allah).” Dalam riwayat Shahih Bukhari, ‘Dan mereka berada di Negeri Syam’.” WaLlohu Ta’ala A’lam. (MU/sym).  Bersambung Insya Allah.

Artikel:wahdah.or.id

Baca Juga!

Mengenal Nama dan Nasab Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

(Serial Sirah Nabawiyah [02] dari Kitab Al-Khulaashoh Al-Bahiyyah fiy Ahdaats As-Siyrah An-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)
٢ – ولد – صلى الله عليه وسلم – يتيما يوم الاثنين لاثنتي عشرة ليلة خلت من شهر ربيع الأول من عام الفيل.

“Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal pada Tahun Gajah.”

Pelajaran:

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim, ayahnya meninggal tatkala ia masih dalam kandungan, ini pendapat yang lebih kuat.

Ibnul Qoyyim berkata: “Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan meninggalnya ayah Nabi ﷺ yang bernama Abdullah. Apakah ia meninggal saat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam masih dalam kandungan, ataukah meninggal tatkala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah dilahirkan? Dari kedua pendapat ini, yang paling benar adalah pendapat bahwa ayah Nabi meninggal saat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam masih dalam kandungan.” (Zaadul Ma’aad I/75).

Kesabaran Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menghadapi kesulitan hidup yang yatim sejak lahir  membuat Beliau lebih sensitif dengan nilai-nilai kemanusiaan, sangat simpati kepada anak yatim, orang miskin, dan yang tezholimi.

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan pada hari Senin. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qotadah bahwa Nabi ditanya tentang puasa hari Senin, dan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pun bersabda: “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama) kepadaku.” (terj. HR. Muslim no.1162).

Adapun tanggal kelahiran Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, ada yang mengatakan:  2 Rabi’ul awal, 8 rabi’ul awal, 10 rabi’ul awal, 12 rabi’ul awal, 17 rabi’ul awal, 22 rabi’ul awal.

Keenam pendapat ini disebutkan oleh Ibnu Katsir namun tak ditopang oleh hadits yg shohih, ada hadits Jabir dan Ibnu Abbas yang mnyatakan tgl 12, namun hadits ini lemah. (Al-Bidayah wan Nihayah III/109). Namun pndapat yang masyhur dan dipilih oleh Ibnu Ishaq adalah tanggal 12.

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan pada tahun gajah. Al-Hakim meriwayatkan dlam mustadraknya dari Ibnu Abbas bhwa beliau berkata: “Nabi dilahirkan pada Tahun Gajah.” Disebut dengan Tahun Gajah, karena pristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah. Allah subhana wa ta’ala mengabadikan peristiwa ini dalm Surah al-Fiil.  WaLlahu Ta’ala A’lam. [MU/Sym]. 

Artikel: wahdah.or.id.

Baca Juga: Mengenal Nama dan Nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam 

Mengenal Nama dan Nasab Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Serial Sirah Nabawiyah [01] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali

Oleh: Marzuqi Umar, Lc

Nama dan Nasab Rasulullah Muhammad

Mengenal nasab Rasulullah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan satu dari tiga landasan pokok (al-Ushul at-Tsalatsah) yang wajib diketahui setiap Muslim. Ia setara dengan pengenalan (ma’rifah) terhadap Allah dan Agama Islam. Diantara aspek yang perlu diketahui berkenaan dengan mengenal Nabi Muhammad adalah mengenal nama-nama dan nasab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

١ – نبينا – صلى الله عليه وسلم- هو أبو القاسم محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن إلياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان

Nabi kita ﷺ , Beliau adalah Abul Qosim Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka’b bin Luay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.”

Penjelasan

  1. Abul Qosim merupakan nama kun-yah (كنية ) Beliau ﷺ . Sebagaimana yang diriwayatkan Hakim dalam Mustadraknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Saya adalah Abul Qosim, Allah yang memberi dan saya yang membagikan.”

  2. Muhammad merupakan nama Beliau ﷺ , namanya yang lain: – Ahmad, sebagaimana dikabarkan dalam surat As-Shaf ayat 6;

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ (6 (

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (Qs. As-Shaf:6)

Nama beliau yang lain adalah Al-Maahiy, Al-Haasyir, Al-‘Aaqib, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata;

لي خمسة أسماء: أنا محمّد، وأحمد، وأنا الماحي الّذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الّذي يحشر النّاس على قدمي، وأنا العاقب” رواه البخاري

Aku memiliki lima nama; aku adalah Muhammad dan Ahmad; aku juga al-Mahi, Allah menghapus kekufuran dengan mengutusku; aku juga al-Hasyir, manusia dikumpulkan di atas kakiku, dan aku juga al-‘Aqib.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لي خمسة أسماء: أنا محمد، وأنا أحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يُحشَر الناسُ على قدَمَيَّ، وأنا العاقِب، والعاقِبُ: الذي ليس بعده نبيٌّ، وقد سماه الله رَؤوفاً رحيماً” رواه مسلم.

Aku memiliki lima nama. Aku adalah Muhammad dan aku juga Ahmad; Aku adalah al-Mahi karena Allah menghapuskan kekufuran dengan perantaraan diriku; Aku adalah al-Hasyir karena manusia dikumpulkan di di atas kakiku; dan aku adalah al-‘Aqib, karena tidak ada lagi nabi setelahku. Allah juga menamai beliau Ra-uf dan Rahim (yang pengasih dan penyanyang).” (HR. Muslim).

Beliau juga memiliki nama Al-Muqoffiy, Nabiyyut Taubah, Nabiyyur Rahmah, Sebagaimana Beliau diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu;

” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً ، فَقَالَ : أَنَا مُحَمَّدٌ ، وَأَحْمَدُ ، وَالْمُقَفِّي ، وَالْحَاشِرُ ، وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ ، وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ ”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada kami beberapa namanya. Beliau bersabda, ‘Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Muqaffi, Nabiyu at-Taubah, dan Nabiyu al-Marhamah’. (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan ‘Nabiyu al-Malhamah’. (HR. Muslim).

Beliau juga bernama Al-Mutawakkil, Diterangkan dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari;

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّوْرَاةِ قَالَ أَجَلْ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي سَمَّيْتُكَ المتَوَكِّلَ لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Dari Atha` bin Yasar, dia berkata: Aku menjumpai Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu anhuma, lalu aku mengatakan,”Beritahukan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di dalam Taurat!’ Dia menimpali, “Ya. Demi Allah, sesungguhnya beliau itu diterangkan sifatnya dalam Taurat dengan sebagian sifat yang ada di dalam Alquran, (yaitu),’Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan serta penjaga bagi orang-orang Arab. Kamu adalah hamba dan Rasul-Ku. Namamu al mutawakkil, bukan keras dan kasar,’ dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak mencabut nyawanya sampai dia berhasil meluruskan millah (agama) yang bengkok dengan mengatakan laa ilaha illallah”. (HR Bukhari)

Dan masih banyak nama-nama lainnya yang mencapai seribu nama namun tidak disebutkan karena lemahnya dalil yang digunakan, bahkan sebagiannya tidak memiliki dasar sama sekali.

3. Nasab Beliau ﷺ hingga Adnan ini disepakati para ahli nasab dan tidak ada sama sekali perbedaan pendapat tentang hal tersebut. (Zaadul Ma’aad I/70)

4. Rasulullah ﷺ berasal dari keturunan dan nasab yang mulia, dan hal ini memberi pengaruh terhadap dakwah yang diusungnya. Orang yang berasal dari keturunan yang mulia membuat orang lebih tertarik dengan seruannya, sebagaimana pertanyaan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan: “Bagaimana garis turunan Muhammad di tengah masyarakatmu?” Abu Sufyan yang saat itu belum masuk Islam menjawab: “Dia berasal dari keturunan yang mulia di antara kami.” Wallahu Ta’ala A’lam .
Artikel: wahdah.or.id

Wahdah Jakarta Shafwan bin Umayyah

SHAFWAN BIN UMAYYAH, BENCI BERBUAH CINTA

Shafwan bin Umayyah adalah putra dari Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy. Umayyah bin Khalaf sendiri adalah pembesar Quraisy yang luar biasa bencinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana tokoh-tokoh yang lain seperti Abu Jahal, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dua bersaudara ‘Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin Mughirah, dll.

Umayyah, ayah dari Shafwan radhiyallahu ‘anhu dicatat dalam sejarah sebagai penyiksa Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Kekejamannya pada hari itu akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Kebenciannya terhadap Islam dan kebengisannya berakhir di Perang Badar bersama kawan-kawan seangkatannya.

 

Dendam Kesumat

Sejak peristiwa terbunuhnya Umayyah di Perang Badar, tertanam dendam kesumat di hati sang anak, Shafwan. Setahun berselang, para putra mahkota tokoh-tokoh Quraisy ini ingin melampiaskan pembalasannya di Perang Uhud. Putra-putra Quraisy ini seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, Abu Sufyan, dan lain-lain yang semuanya ingin membalaskan dendam orang tua atau saudaranya yang terbunuh. Tak luput pula Shafwan turut serta.

Dendam kesumat ini terus tumbuh dan mengakar di hatinya hingga Makkah ditaklukkan. Artinya, kebenciannya kepada Islam telah terhitung kurang lebih 21 tahun sejak Rasulullah mendeklarasikan kenabian. Dalam peristiwa Fathu Makkah ini sebetulnya Shafwan bin Umayyah masuk dalam daftar 10 nama yang diburu, dinyatakan halal darahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beruntung Shafwan dimintakan amnesti oleh Umair bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, kawan lamanya.

Namun menurut pengakuannya sendiri, kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta merekah setelah masuk Islam. Kecintaannya kepada Rasulullah baru mulai tumbuh dan menguat setelah Perang Hunain.

 

Benci Berbuah Cinta

Barang kali Shafwan termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Anas bin Malik:

إنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَ
Artinya: “Sungguh dulu ada seseorang yang masuk Islam dan tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim no 2312)
Pasca Perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Shafwan bin Umayyah bagian ghanimah sebanyak 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta lagi, kemudian ditambah 100 ekor unta lagi.
Hingga akhirnya Shafwan bin Umayyah mengakui sendiri,

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa yang ia berikan, padahal ia adalah orang yang dulunya paling aku benci. Namun beliau terus-menerus memberikan pemberiannya kepadaku hingga akhirnya beliau menjadi orang yang paling aku cintai”. (HR Muslim no 2313)

Setelah masuk Islam, Shafwan bin Umayyah termasuk shahabat yang sangat baik keislamannya. Beliau turut berjuang di medan-medan jihad dalam rangka membela dan meninggikan kalimatullah.

 

Shafwan Adalah Buah Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari kisah ini kita belajar bagaimana seorang Shafwan bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya tak terkira dendamnya, bisa masuk Islam. Bara kebencian yang telah terpendam lebih dari dua dekade itu pun tak disangka, akhirnya padam. Dengan siraman hidayah Rabbul ‘alamin.

Dari kisah ini pula kita belajar, betapa dermawannya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa dunia sungguh tidak bernilai di mata beliau. Bagi beliau, keislaman seorang Shafwan bin Umayyah jauh lebih berharga dari sekedar ratusan unta dan kambing.

Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, wa radhiyallahu ‘an Shafwaana wa ‘anish shahaabati ajma’iin.

 

Sumber:

  1. Min Akhlaqir Rasulil Karim shalallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah
  2. Situs Islam Story asuhan Dr. Raghib As Sirjani

 

Murtadha Ibawi

Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Jakarta