Waspada Neo Abu Jahal

Hari itu sebenarnya suara musyrikin Quraisy terbelah. Sebagian kecil pro perang. Sebagian kecil yang lain dengan tegas menolak perang. Dan diantara kedua kubu itu terdapat “undecided voters” atau “swing voters” yang prosentasenya tidak sedikit.

Diantara yang tegas menolak peperangan adalah Bani Zuhrah dan beberapa kabilah yang lain. Nama yang menonjol salah satunya, Hakim bin Hizam, keponakan Khadijah radhiyallahu anha. Ada juga Al Akhnas bin Syuraiq, salah satu “musyrikin garis keras”.

Kubu ini berargumen, tidak perlu perang karena kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat. Kafilah yang membawa saham-saham para investor itu berhasil lolos sampai ke Makkah.

Kafilah telah selamat. Apa lagi yang diinginkan dari perang? Perang hanya akan memicu dendam berkepanjangan. Karena disana ada ayah, ada anak, ada sepupu, ada paman, dan sekian banyak kerabat mereka sendiri dari Makkah.

Orang-orang ini yang tidak setuju dengan perang ini, masih setia kepada akal sehat. Mereka masih waras. Maka mereka memutuskan untuk segera putar balik, kembali ke Makkah.

Sementara itu, sebagian tokoh musyrikin yang lain nampaknya tidak berani tegas. Hati kecil mereka menolak putusan Abu Jahal, namun rasa sungkan mengalahkan akal sehatnya.

‘Utbah bin Rabi’ah contohnya. Pembesar Mekkah yang juga tuan tanah di Tha’if ini coba menyanggah Abu Jahal. Dia utus Hakim bin Hizam untuk adu gagasan dengan Abu Jahal.

Jelas, ‘Utbah punya argumen untuk menolak perang. Jelas juga, Abu Jahal tidak mampu menyanggah akal sehat ‘Utbah.

Menurut ‘Utbah, ngapain perang wong kafilah selamat? Yang akan mereka hadapi adalah sanak saudara dan handai taulan dari Makkah.

Akan ada ayah saling bunuh dengan anaknya, paman dengan keponakan, kakak dengan adiknya, cucu dengan kakek, dst.

Namun, mungkin begitulah tabiat orang-orang dungu. Jika dia tidak bisa beradu gagasan, dia akan serang pribadinya. Begitu juga Abu Jahal, dia sebut ‘Utbah sebagai pengecut dengan kata-kata yang tidak pantas, “Yaa mushaffar itfihi”. Abu Jahal menuduh ‘Utbah takut, karena disana ada anak kandungnya.

Untuk mengembalikan kesolidan, jelas susah bagi Abu Jahal. Mereka terlanjur berpecah. Mereka terlanjur tidak sehati.

Jalan satu-satunya bagi Abu Jahal, hanya PROVOKASI. Bukan narasi penyampaian visi. Abu Jahal tidak punya visi.

Pantik fanatismenya. Pantik dendam atas terbunuhnya Ibnu Hadhrami. Yang penting perang, yang penting kita menang. Itu prinsip Abu Jahal.

“Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduanita sampai masyarakat jazirah Arab mendengar nama kita dan semakin segan kepada kita…”

Itulah provokasi Abu Jahal yang nir-visi. Hanya modal gengsi. Cita-cita yang rendah sekali.

Abu Jahal Masa Kini
Di setiap zaman akan tetap ada Abu Jahal-Abu Jahal seperti ini. Dia berambisi, tanpa punya visi.

Bagi kita sebagai umat, mari waspada. Jangan mudah terprovokasi dengan orasi. Hati-hati, ada para pemimpin yang tidak punya visi, hanya bermodal diksi. Ada juga yang cuma bisa jualan janji.

Mari saling mengingatkan. Karena kita sedang dan akan terus mencari pemimpin untuk umat dan bangsa ini.

Murtadha Ibawi

Hilful Fudhul (Serial Sirah Nabawiyah Part 10)

Hilful Fudhul
(Serial Sirah Nabawiyah [10] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

١٠ – ثم شهد – صلى الله عليه وسلم – حلف الفضول لنصرة المظلوم

10. Kemudian Rasulullah menyaksikan Hilful Fudhul untuk menolong pihak yang terzholimi.

Pelajaran:

1. Penyebab terjadinya perjanjian Fudhul (Hilful Fudhul) adalah karena seorang dari Kabilah Zabid dari Yaman datang ke Makkah bersama barang dagangannya. Ia menjualnya kepda seorang yang bernama al-‘Ash bin Wail as-Sahmi, namun orang ini tidak bersedia membayarnya. Kemudian al-‘Ash dilaporkan kepada tokoh-tokoh Quraisy, namun tidak ada juga yang ingin menolongnya.

Maka ia mendaki gunung Abi Qubais, ia brteriak agar haknya dkembalikan, akhirnya bangkitlah Zubair bin Abdil Muththolib dan berkata “Orang seperti ini tidak mungkin dibiarkan terzholimi.” Maka berkumpullah Banu Hasyim, Zuhrah, Banu Taim di rumah Abdullah bin Jad’an, mereka bersumpah dan berjanji untuk menolong orang yang terzholimi tersebut sampai haknya dikembalikan. Selanjutnya mereka menemui al-‘Ash bin Wa’il untuk mengambil paksa dan mengembalikan harta kepada pemiliknya. (Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad 1/126-128)

2. Nabi ﷺ yang saat itu berumur 20 tahun menghadiri perjanjian tersebut. Nabi ﷺ berkata tentang perjanjian tersebut: “Saya telah menyaksikan di Rumah Abdullah bin Jad’an sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada seekor unta brwarna merah. Seandainya saya diajak dalam perjanjian yg sama dalam Islam, maka saya akan bergabung.” (Ibnu Hisyam 1/166 ada juga hadits yang semakna dengannya yang diriwayatkan oleh Ahmad 1655, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-mufrad 569)

3. Dinamakan perjanjian Fudhul karena mereka telah melakukan sesuatu yang utama (fadhl). (Lihat al-Bidayah wan Nihayah 2/322).  Disebutkan juga bahwa dinamakan sbgai perjanjian Fudhul karena dipelopori oleh 3 orang pemuka kabilah, yang semuanya bernama Fadhl.

4. Rasulullah memuji perjanjian ini yang menjunjung keadilan, menunjukkan bahwa Beliau ﷺ datang mghadapi era jahiliyah tetapi tidak memusuhinya secara keseluruhan. Beliau tetap berlaku adil dan mengakui kebenaran yg ada pada mereka. Memberikan pelajaran kepada kita bagaimana kita harus bersikap adil dan menerima kebenaran sampai dari musuh skalipun, dan tidak menutup mata dengan kebaikan orang lain. (Lihat QS. Al-Maidah: 8)

5. Seorang Muslim adalah penyeru kpda kebaikan dan ia akan mendukung setiap yg mengajak kepada kebenaran. Setiap yang mengajak kpda kebenaran akan menjadi partner baginya. Ia tdak bisa hanya merasa cukup dgn apa yang ia lakukan sendiri kmudian mengabaikan apa yang telah dilakukan oleh orang lain. WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym/wahdahjakarta.com].

Perang Fijar (Serial Sirah Nabawiyah Part: 09)

Sirah Nabawiyah parta 8: Perang Fijar

Sirah Nabawiyah parta 8: Perang Fijar

 

(Serial Sirah Nabawiyah [09] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٩ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – الخامسة عشرة كانت حرب الفجار بين قريش وهوازن.

9. Ketika usia Rasululullah ﷺ menginjak 15 tahun terjadi perang Fijar antara Quraisy versus Hawazin.

Pelajaran:

1. Peristiwa perang Fijar terjadi antara Kinanah yang didukung oleh Quraisy berhadapan dengan Hawazin. Perang ini dinamakan Fijar karena telah melanggar kehormatan bulan Harom.

2. Tidak ada kabar yang shohih menyebutkan tentang keikutsertaan Rasulullah ﷺ pada perang ini kecuali apa yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirahnya tanpa menyebutkan sanad, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ”Ketika itu (perang Fijar) aku memanah melindungi paman-pamanku.”

Namun as-Suhaili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak ikut bersama paman-pamannya dalam perang tersebut karena perang ini melanggar kehormatan bulan harom, dan pihak-pihak yang bersengketa masih dalam kekufuran. Sementara Allah ﷻ tidak mengijinkan bagi orang beriman untuk berperang kecuali untuk meninggikan kalimat Allah. (Lihat ar-Raudhu al-Unuf 1/209).

3. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang umur Rasulullah ﷺ saat meletusnya perang ini. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa saat itu umur Rasulullah 14 atau 15 tahun. Sedangkan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa umur Rasulullah ﷺ saat itu adalah 20 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa umur Rasulullah ﷺ waktu itu adalah 10 tahun. Pendapat ini yang dipilih oleh asy-Syaikh Ahmad Fariid karena peristiwa Fijar terjadi 15 tahun sebelum pemugaran Ka’bah, dan pemugaran Ka’bah terjadi 15 tahun sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul. Dan Rasulullah diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, maka usia Rasulullah saat peristiwa Fijar tersebut adalah 10 tahun. (lail an-Nubuwwah Lil Baihaqi 2/58-60).

4. Pemicu terjadinya perang ini adalah seseorang dari Bani Kinanah yang bernama al-Barradh membunuh Urwah dari Bani Hawazin, padahal mereka berada di bulan harom. Karena peristiwa tersebut emosi kedua kabilah ini tersulut.

5. Panglima dari kalangan Quraisy dan Kinanah saat itu adalah Harb bin Umayyah. Pada pagi harinya kemenangan berada di pihak Hawazin, namun keadaan berbalik saat tengah hari menjadi kemenangan pihak Kinanah.

6. Akhir dari perang ini adalah kedua kubu bersepakat untuk bertemu tahun depan di Ukazh. Saat waktu yang ditentukan tersebut tiba, perjanjian damai terjadi setelah pihak Kinanah membayar denda kepada Hawazin. WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Pertemuan dengan Pendeta Buhaira (Serial Sirah Nabawiyah Part: 08)

Pertemuan dengan Pendeta Buhaira
(Serial Sirah Nabawiyah [08] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٨ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – الثانية عشرة خرج به عمه أبو طالب إلى الشام، فلما بلغوا بصرى رآه بحيرى الراهب، فتحقق فيه صفات النبوة فأمر عمه برده، فرجع

 

8. Saat Rasulullah ﷺ menginjak usia 12 tahun, Abu Tholib membawanya ke Syam. Ketika mereka sampai di Bushra, seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Pendeta ini mendapati sifat-sifat  kenabian pada diri Rasulullah ﷺ maka ia pun meminta Abu Tholib untuk memulangkannya, maka ia pun kembali.

Pelajaran:
1. Keterangan tentang hal ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’ari dishohihkan oleh asy-Syaikh al-Albani. (Shahih Sunan Tirmidzi 3/191)

2. Buhaira dalam riwayat tersebut mnyebutkan dasar knapa ia membenarkan sifat kenabian pada diri Rasulullah ﷺ , yaitu: Waktu rombongan Rasulullah ﷺ meninggalkan Aqobah maka semua batu dan pohon bersujud kepada Rasulullah, yang mana benda ini tidak bersujud kecuali untuk seorang Nabi. Adanya tanda kenabian di bawah pundak Rasulullah ﷺ yang menyerupai buah apel. Adanya awan yang mnyertai dan menaungi Rasulullah ﷺ saat Rasulullah skalipun beralih tempat. Juga bayangan pohon yang miring melindungi beliau ketika tidur di dekatnya.

3. Buhaira meminta Abu Tholib agar membawa Rasulullah ﷺ pulang dan mengurungkan niat untuk membawanya ke Syam, ia mengkhawatirkan ancaman orang2 Romawi dan Yahudi, maka Muhammad ﷺ kembali ke Makkah brsama beberapa orang lainnya.
Di penghujung riwayat tersebut, disebutkan bahwa yang menyertai Rasulullah ﷺ pulang adalah Abu Bakar dan Bilal, namun keterangan tentang hal ini dikritik oleh para Ahli Hadits.

4. Dari kisah Buhaira ini terdapat bukti bahwa Ahlul kitab mngetahui sifat dan waktu dimana Rasulullah ﷺ akan diutus, namun bersama dengan pengetahuan itu, mereka tetap mengingkari risalah yang Rasulullah ﷺ bawa. (Lihat QS. Al-Baqarah: 89)

5. Kesaksian seorang ulama dari Ahlul kitab tentang kebenaran yang Rasulullah bawa, serta kabar tentatng permusuhan yang keras dari ahlul kitab kpada Rasulullah ﷺ bserta risalahnya. WaLlahu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Kakek Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah Part:07)

 

Serial Siran Nabawiyah [07] Kakek Rasulullah Meninggal Dunia

Kakek Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah [07] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٧ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – ثماني سنوات توفي جده عبد المطلب وكفله عمه أبو طالب

7 . Saat Rasulullah ﷺ berumur 8 tahun, kakeknya yang bernama Abdul Muththolib wafat. Dan pengasuhan Rasulullah ﷺ beralih ke pamannya Abu Tholib.

Pelajaran:

Abdul Muththolib merupakan pemuka Makkah. Beliau menonjol bukan karena hartanya. Akan tetapi karena ia lah yang mengurus Ka’bah dan melayani para tamu yang datang berhaji. Ia lah yang berperan sebagai juru bicara Quraisy untuk berkomunikasi dengan Abrahah ketika akan memerangi Makkah. (As-Sirah an-Nabawiyah ash-shohihah, Akram Dhiya’ al-Umari)

Abdul Muththolib juga terpandang di Makkah karena usahanya menggali dan menjaga eksisnya sumur zam-zam yang merupakan mata air terpenting di Makkah. (Sirah Ibnu Hisyam I/131-134)

Ada riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Abdul Muththolib pernah bernadzar jika Allah ﷻ memberinya 10 org anak laki2 maka ia akan mengorbankan 1 diantara mreka di depan ka’bah, tatkala Allah ﷻ memberikannya, undian jatuh pada Abdullah. Pdahal Abdullah merpkan anak yang paling dicintainya. Ia pun brkata: ‘Yaa Allah, Abdullah atau 100 ekor unta (sebagai tebusannya)?’ Kemudian ia mengundi lagi antara Abdullah dan 100 ekor unta, maka undian itu jatuh pada 100 ekor unta tersebut.” (Ath-Thabari 2:239-240).

Allah ﷻ menjaga hidup Abdullah (ayah Rasulullah ﷺ) dengan memalingkan niat Abdul Muththolib yang akan mengorbankannya, sebagai ketetapan Allah untuk kelahiran Rasulullah ﷺ

Abdul Muththolib meninggal dunia 8 tahun setelah peristiwa pasukan bergajah (tahun gajah). (Sirah Ibnu Hisyam I/129).

Abdul Muththolib berwasiat kepada paman Rasulullah ﷺ Abu Tholib untuk menjaga beliau sepeninggalnya. Dipilihnya Abu Tholib, karena ia dan Abdullah mrupakan saudara kandung, seibu dan sebapak. Ibu dari keduanya bernama Fathimah binti ‘Amr. (Sirah Ibnu Hisyam I/137). [MU/sym].

Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia

Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah [6] dari kitab Al-Khullaashoh al-Bahiyyah fiy Tartiibi Ahdaats as-Sirah an-Nabawiyyah).

Serial Sirah Nabawiyah 06: Ibunda Rasulullah Meninggal Dunia 

6. Ketika Rasulullah ﷺ menginjak usia 6 tahun, Ibundanya meninggal di Abwaa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lalu kakeknya Abdul Muththolib mengambil alih mengasuhnya.

Penjelasan

Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan: Ketika Rasulullah ﷺ berumur 6 tahun, Aminah ibunda beliau meninggal dunia di Abwa’ yang terletak antara Makkah dan Madinah, Aminah pergi bersama Rasulullah ﷺ untuk berkunjung kepada sanak keluarga dari Bani ‘Adi bin Najjar, lalu meninggal dunia dalam perjalanan pulang menuju Makkah. (Lihat sirah Ibnu Hisyam 1:155)

Abwa’ adalah sbuah perkampungan yang masih termasuk wilayah Madinah. Jarak Abwa’ dan Juhfah sejauh 23 mil. Ada yang mngatakan; Abwa’ adalah sebuah gunung terletak di sebelah kanan bagi yang memasuki Makkah dari arah Madinah. Di situ terdapat sebuah negri yang dinisbatkan kepada gunung ini. (Lihat Mu’jamul Buldan I/79)

Imam Muslim meriwayatkan bahwa saat Rasulullah ﷺ melewati Abwa’ untuk pergi ke kota Makkah pada tahun penaklukan kota tersebut, beliau meminta izin kepada Rabbnya untuk menziarahi ibunya. Beliaupun diberikan izin. Lalu beliau menangis dan menyebabkan orang-orang di sekitar beliau juga turut menangis. Saat itu beliau bersama seribu orang yang mengenakan penutup kepala dari besi. (Lihat shahih Muslim bisyarh an-Nawawi VII/45-46)

Saat ibunya meninggal, Rasulullah ﷺ diasuh oleh Ummu Aiman. Lalu beliau dirawat oleh kakeknya Abdul Muththolib.

Ketika Rasulullah ﷺ di bawah asuhan kakeknya, Ibnu Ishaq meriwayatkan: “Dahulu ada sebuah kasur disediakan untuk Abdul Muththolib di bawah naungan Ka’bah. Dan sebagai wujud penghormatan kepadanya, tdak seorangpun dari anak-anaknya yang berani duduk di atas kasur tersebut. suatu kali, Rasulullah ﷺ duduk di atasnya maka paman-paman beliau berusaha memindahkan Rasulullah ﷺ. Namun Abdul Muththolib berkata, ‘biarkanlah cucuku’. Lalu ia mengusap punggung Rasulullah seraya berkata, ‘sungguh cucuku ini akan menjadi orang besar’.” (Lihat sirah Ibnu Hisyam I/129, riwayat ini diperselisihkan oleh Ulama). WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Serial Sirah Nabawiyah

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Serial Sirah Nabawiyah [05] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Penjelasan

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh Malaikat Jibril ketika sedang bermain bersama anak-anak sebayanya, kemudian (Jibril) mengambilnya dan menelentangkannya, lalu membelah dadanya lalu mengeluarkan hatinya dan mengeluarkan satu gumpalan darinya, lantas berkata:

Ini adalah bagian Syaitan yang ada padamu“, kemudian mencucinya dalam bejana emas dengan air zam-zam lalu menata dan mengembalikannya ke tempat semula. Dan anak-anak (yang sedang bermain dengannya) berlarian mencari ibu susuannya seraya berseru: “Muhammad telah dibunuh”, maka merekapun mendatangi Rasulullah ﷺ yang mukanya terlihat pucat.”

Anas bin Malik berkata: “Saya pernah melihat bekas jahitan di dada Rasulullah ﷺ .”(Shahih Muslim no. 261).

Ibnu Sa’ad berkata; “Umur Rasulullah ﷺ saat peristiwa tersebut (pembelahan dada) adalah 4 tahun. (Lihat ath-Thobaqoot I/112).

Pembersihan spiritual dari bagian syaitan, mrupakan prolog dini kenabian dan prsiapan untuk pemeliharaan dari berbagai kejahatan dan penyembahan kepada selain Allah. Tidak boleh ada di dadanya kecuali Tauhid.

Peristiwa masa kecil Beliau ﷺ telah menunjukkan hal tersebut, beliau ﷺ tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah bersujud kpda berhala di saat hal trsbut menjadi sesuatu yg biasa di tengah kaumnya. (Lihat As-Sirah an-Nabawiyah Ash-Shohihah, DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari).

Peristiwa ini (pembelahan dada) menyebabkan Rasulullah ﷺ dikembalikan kepada ibunya, Aminah binti Wahb, karena Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau ﷺ . (Musnad Ahmad 4:184-185, Sunan Ad-Darimi 1:8-9, Mustadrak al-Hakim 2:616). (MU/sym]

WaLlahu Ta’ala A’lam.

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

1. Mengetahui asbab Nuzul kebanyakan ayat dan asbab wurud hadits Nabi, dimana hal ini dapat membantu memahami makna ayat dan hadits serta menyimpulkan hukum dari keduanya.

2. Bekal bagi para du’at dan pejuang Islam. Dengan belajar sirah mereka akan memiliki tekad dan motivasi yang kuat,karena mereka memiliki teladan dan pendahulu yang telah mempersembahkan juhud (pengorbanan) yang besar berupa tetesan darah untuk menjayakan Islam. Dengan belajar sirah pula para da’i makin tahu betapa mahalnya hidayah pada Agama ini dan betapa mulianya orang-orang berdawah dan berjihad memperjuangkannya.

3.Sirah nabawiyah sendiri merupakan salah satu mu’jizat dan tanda kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibn Hazm rahimahullah berkata, “Bagi yang mengkaji dengan seksama Sirah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini akan membenarkan dan mempersaksikan bahwa beliau adalah benar-benar Rasul Allah. Andaikan beliau tidak memiliki mu’jizat selain sirahnya, maka sudah cukup. (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/190).

4. Mengetahui jalan ideal menjayakan Islam seperti yang ditempuh oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau diutus pada saat manusia berada dalam kondisi kehidupan yang paling buruk. Bahkan lebih buruk dibanding kondisi ummat-ummat para Nabi selain beliau. Dengan belajar sirah kita mengetahui bgaimana beliau memulai da’wah, bgaimana berpindah dari satu marhalah (fase) ke marhalah berikutnya. Hingga Allah sempurnakan Dien ini, dan Allah sempurnakan nikmat-Nya kepada kaum Muslimin.

5. Mengenali faktor-faktor yang menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum layak dan pantas memimpin ummat manusia. Dengan belajar sirah kita dapat mengetahui pula bagaimana mereka ditarbiyah (dibina dan dikader) oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap mereka, menumbuhkan semangat mengikuti metode mereka,dan menapaktilasi jalan mereka.

6. Belajar sirah dapat menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi dan para sahabat. Karena seolah-olah mereka hadir di tengah-tengah kita, dan kita berada di tengah-tengah mereka. Kita bahagia dengan kebahagiaan bersama bahagia mereka, menangis bersama tangisan mereka, dan bahagia atas kemenangan mereka. Karena tidak dapat dipungkiri, kebersamaan yang lama suka dan duka termasuk faktor penguat ikatan cinta dan persaudaraan. Inilah berkahnya belajar sirah nabawiyah yang mulia. Ia termasuk salah satu simpul iman. Dimana tidak akan sempurna iman seorang hamba dia mencintai Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cintanya pada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

7. Belajar Sirah Nabawiyah merupakan kenikmatan ruhiyah dan gizi bagi hati yang suci.

8. Belajar sirah membantu setiap Muslim untuk mengetahui kebanyakan hukum-hukum fiqh, nilai-nilai pendidikan (durus tarbawiyah), siyasah syar’iyyah, dan sebagainya. Seorang pemimpin sangat butuh belajar dari sirah tentang bagaimana Nabi memimpin. Demikian pula dengan seorang prajurit,dari sirah dapat belajar menjadi prajurit yang benar. Apa lagi para da’i dan murabbi.Mereka sangat butuh belajar dari sirah bagaimana da’wah dan tarbiyah dijalankan.

9. Mengenali kemuliaan (syaraf) nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bagaimana beliau dijaga oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari gangguan manusia. Bagaimana Malaikat turun berperang bersama beliau pada perang Badar, Ahzab (Khandaq), dan Hunain? Serta bagaimana Malaikat Jibril dan Mikail turun melindungi tubuh beliau yang mulia pada perang uhud?

10. Mengetahui sebab kemenangan dan kekalahan. Diantara sebab kemenangan adalah tsiqah kepada Allah, bertawakkal, dan merendahkan diri pada-Nya, serta menjalani sebab yang menghantarkan kepada kemenangan. namun tidak menggantungkan diri pada sebab dan selalu mengimani bahwa pertolongan dan kemenangan datang dari Allah Ta’ala. Adapun sebab kekalahan (hazimah) diantaranya seperti yang terjadi pada perang uhud, yakni kecenderungan terhadap dunia, dan seperti yang terjadi pada perang Hunain yakni terpedaya dengan jumlah yang banyak.

11. Sebagai panduan hidup bagi pribadi dan masyarakat Muslim, dan panduan serta sumber yang murni dalam memahami syariat Islam. Sirah Nabawiyah juga merupakan gambaran benar tentang konsep hidup yang pernah disaksikan penduduk bumi. Karena ia merupakan sejarah Rasul Allah yang paling mulia sekaligus pemimpin seluruh ummat manusia. [sym]

(Sumber: Waqafat Tarbawiyah ma’as Sirah an Nabawiyah, karya Syekh Ahmad Farid, hlm. 13-15)

Mengenal Ibu Susuan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Mengenal Ibu Susuan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

(Serial Sirah Nabawiyah [04] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

serial sirah Nabawiyah [04] Ibu Susuan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam

Yang menyusui Nabi ﷺ adalah Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah, dan nampaklah keberkahan karena keberadaan Nabi ﷺ di sisinya.”

Pelajaran dan Penjelasan:

Wanita pertama yang menyusui Nabi ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah yang merupakan mantan budak wanita Abu Lahab, yang sebelumnya juga telah menyusui Hamzah bin Abdil Muththolib.
“..Tsuwaibah menyusuiku bersama Abu Salamah…”. (Lihat HR.Bukhari (9/43) dan Muslim 10/25-27))

Menjadi tradisi di kalangan orang Arab adalah mencari wanita di pedalaman yang dapat menyusui bayi mereka sebgai tindakan preventif dari penyakit yang banyak menular di perkotaan. Selain itu agar anak mereka menjadi kuat serta lisan dan bahasanya terjaga.

Abdul Muththolib memilih seorang wanita dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakr yaitu Halimah binti Abi Dzuaib untuk menyusui Nabi ﷺ .

Dalam (pengasuhan) Halimah, Rasulullah ﷺ memiliki saudara sesusuan, yaitu: Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah binti al-Harits, Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdil Muththolib, dan Hamzah bin Abdil Muththolib. Dengan demikian Hamzah paman nabi, merupakan saudara sesusuan Rasulullah ﷺ dari dua sisi: Tsuwaibah dan Halimah.

Halimah merasakan keberkahan serta peristiwa yang ajaib sejak kehadiran Rasulullah ﷺ di tengah keluarganya. Diantaranya:

  • ASI Halimah menjadi banyak, padahal sebelumnya tidak bisa tidur karena tangis bayinya yang kelaparan.
    Onta tua milik Halimah juga tiba-tiba memiliki susu yang banyak.
  • Onta betina yang ditunggangi oleh Halimah beserta Rasulullah ﷺ sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan onta-onta yang lainnya.
  • Sesampainya di kampung Bani Sa’ad yang terkenal sangat tandus, kambing-kambing tampak kenyang dan memiliki air susu yang banyak.

(Peristiwa-peristiwa ini terdapat dalam HR. Abu Ya’la 7158, Ibnu Hisyam 124. Adz-Dzahabi mengatakan isnadnya jayyid walaupun hadits ini diperselisihkan oleh para ulama)

Wanita lain yang juga menyusuinya adalah Ummu Aiman, nama aslinya Barkah binti Tsa’labah yakni mantan budak beliau yang didapatkannya sebagai warisan dari ayahnya. WaLlahu Ta’ala A’lam. (MU/sym).

Artikel:wahdah.or.id

Do’a Nabi Ibrahim dan Kabar Gembira Nabi ‘Isa ‘alaihimassalam

Serial Sirah Nabawiyah 03. Gambar: Wahdah.or.id

Do’a Nabi Ibrahim dan Kabar Gembira Nabi ‘Isa ‘alaihimassalam (Serial Sirah Nabawiyah [03] dari Kitab Al-Khulaashoh Al-Bahiyyah fiy Ahdaats As-Siyrah An-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٣ – يقول – صلى الله عليه وسلم -: أنا دعوة إبراهيم، وبشرى عيسى، رأت أمي حين حملت بي كأن نورا خرج منها أضاءت له قصور بصرى من أرض الشام

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku adalah (pengabulan) doa Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa, dan ibuku melihat ketika ia mengandungku seolah-olah cahaya keluar darinya menerangi istana-istana Bushra di Negri Syam.

Pelajaran
Hadits ini dishohihkan oleh asy-syaikh al-Albani dalam Shohih al-Jaami’ 1463 – 3451, Diriwayatkan oleh Ahmad 5/262, dan al-Hakim 4230.

Do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam’ yang dimaksud adalah do’a Beliau yang termaktub dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (terj. QS al-Baqarah: 129).

Do’a tersebut dikabulkan oleh Allah dengan diutusanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan anak keturunan beliau melalui Isma’il ‘alaihissalam.

Kabar gembira Nabi Isa ‘alaihis salam yang dimaksud adalah apa yang diabadikan di dalam al-Qur’an tentang Nabi Isa:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad), ” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (terj. QS Ash-Shaf:6).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathoif Ma’arifnya menafsirkan bahwa cahaya yg dimaksud adalah indikasi atas apa yang akan datang bersamanya, yaitu cahaya yang dijadikan petunjuk oleh penduduk bumi dan hilangnya kegelapan syirik. Sebagaimana firman Allah ﷻ di Surah al-Maidah 15-16.
Keutamaan Negri Syam (sekrang meliputi Suriah,Palestina, Yordania dan Libanon). Ibnu Katsir berkata tentang hadits ini, “Penyebutan negeri Syam secara khusus dengan keluarnya cahaya adalah sebuah isyarat akan kokohnya agama ini di negri Syam. Negri Syam pada akhir zaman akan menjadi benteng pertahanan bagi Islam dan pemeluknya. Di negeri inilah Nabi Isa putera Maryam akan turun di Damaskus pada menara putih di bagian Timur.

Dalam Shohih Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Senantiasa sekelompok dari umatku yang terus berjuang menampakkan kebenaran tidaklah membahayakan orang-orang yang mencerca dan menyelisihi mereka, hingga datang urusan Allah (yakni hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian (berjuang di jalan Allah).” Dalam riwayat Shahih Bukhari, ‘Dan mereka berada di Negeri Syam’.” WaLlohu Ta’ala A’lam. (MU/sym).  Bersambung Insya Allah.

Artikel:wahdah.or.id

Baca Juga!

Mengenal Nama dan Nasab Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi Wa Sallam