Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

๐Ÿ“ Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ู„ุง ุชูุตูŽู„ู‘ู ุฅู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ู‰ ุณูุชู’ุฑูŽุฉูุŒ ูˆูŽู„ุง ุชูŽุฏูŽุนู’ ุฃูŽุญูŽุฏุงู‹ ูŠูŽู…ูุฑู‘ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ูƒูŽ
โ€œJangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmuโ€ฆโ€ (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
ุฅุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ู‰ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุฅูู„ู‰ ุณูุชู’ุฑูŽุฉูุŒ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุฏู’ู†ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฏูŽุนู’ ุฃูŽุญูŽุฏุงู‹ ูŠูŽู…ูุฑู‘ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง
โ€œJika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnyaโ€ฆโ€ (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.ย  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, โ€œTidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnyaโ€ (Al Jamiโ€™ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, โ€œAku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?โ€. Maka beliau rahimahullah menjawab, โ€œHal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utamaโ€
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, โ€œKadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?โ€. Beliau menjawab, โ€œYang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrahโ€ (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, โ€œAku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghribโ€ (HR. Bukhari). Nafiโ€™ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafiโ€™ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrahโ€ (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwaโ€™ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

โœ Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
๐Ÿ“ Sumber โžก http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syariโ€™at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syariโ€™at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS โ€“ Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu โ€˜anhu. Beliau berkata:

ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงุดููŠูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ุชูŽุดููŠูŽ

Artinya:

Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu aโ€™lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/

Zakat Manfaat

ZAKAT PERDAGANGAN

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat

โ โ โ TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

โ โ โ TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syariโ€™ah Wahdah Islamiyah

Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
๐Ÿ’Œ Tanya Ustad ๐Ÿ’Œ

๐Ÿ“ฉPERTANYAAN๐Ÿ“ฉ
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

๐Ÿ“ŒJAWABAN๐Ÿ“Œ
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

๐ŸŒฑ Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

๐ŸŒฑ Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Taโ€™ala berfirman:

โ€œKatakanlah kepada wanita yang beriman, โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.โ€ [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

๐ŸŒฑ Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

โ€œHai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaโ€. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.โ€ [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

๐Ÿ‚ Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

โ€ข1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

โ€ข2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
ุตูู†ู’ููŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฑูŽู‡ูู…ูŽุงุŒ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุณููŠูŽุงุทูŒ ูƒูŽุฃูŽุฐู’ู†ูŽุงุจู ุงู„ู’ุจูŽู‚ูŽุฑู ูŠูŽุถู’ุฑูุจููˆู†ูŽ ุจูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽุŒ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกูŒ ูƒูŽุงุณููŠูŽุงุชูŒ ุนูŽุงุฑููŠูŽุงุชูŒู…ูู…ููŠู„ูŽุงุชูŒ ู…ูŽุงุฆูู„ูŽุงุชูŒุŒ ุฑูุกููˆุณูู‡ูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุฃูŽุณู’ู†ูู…ูŽุฉู ุงู„ู’ุจูุฎู’ุชู ุงู„ู’ู…ูŽุงุฆูู„ูŽุฉูุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌูุฏู’ู†ูŽ ุฑููŠุญูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฑููŠุญูŽู‡ูŽุง ู„ูŽูŠููˆุฌูŽุฏู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุณููŠุฑูŽุฉู ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง
โ€œAda dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.โ€ [HR. Muslim].

โ€ข3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

โ€ข4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:
ุฃูŽูŠู‘ูู…ูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุงุณู’ุชูŽุนู’ุทูŽุฑูŽุชู’ ููŽู…ูŽุฑู‘ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู„ููŠูŽุฌูุฏููˆุง ุฑููŠุญูŽู‡ูŽุง ููŽู‡ููŠูŽ ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉ
โ€œSetiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.โ€ [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Taโ€™ala:
โ€œDan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.โ€ [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

๐Ÿ‚ Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

โ€ข1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

โ€ข2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

โ€ข3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Taโ€™ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
โ€œHambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.โ€ [HR. Bukhari].

โ€ข4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

โ€ข5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
โ€œWanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].โ€ [QS. An-Nur: 26].

 

โœ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

๐Ÿ€Grup WA Belajar Islam Intensif๐Ÿ€

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
๐Ÿ“ฑ +628113940090

๐Ÿ‘Like FP Belajar Islam Intensif
๐Ÿ‘Follow instagram belajar.islam.intensif
๐ŸŒ www.belajarislamintensif.com

๐Ÿ€Belajar Islam Intensif๐Ÿ€