Ampuni Aku Ya Allah

 

Diatas sajadah ku meminta
Dibawah langit malam aku memohon
Semoga saat aku dishalatkan nanti 
Dosaku telah Allah ampuni

Di sepertiga malam ku terbangun
Sunyi sepi dan dinginnya udara malam
Tak membuatku enggan dan takut
Untuk melangkahkan kakiku mengambil wudhu

Di saat kubasuh wajahku
Hembusan angin menembus pori-pori kulitku
Semakin terasa dingin setelah ku usaikan wudhu ini
Tapi tak akan membuat keinginanku menciut

Ku hamparkan sajadah dan ku kenakan mukenaku
Meski nafsuku meronta-ronta memintaku ‘tuk terlelap kembali
Namun tak ku hiraukan semua itu
Ku hanya ingin bersimpuh kehadirat Illahi Rabbi

Rabbi
Kutengadahkan tangan kotor ini
Kuberanikan merapalkan doa-doa penuh harap kepadaMu
Kuberharap dosa-dosaku melebur terampuni
Tak tersisa, hingga jejak kaki melangkah masuk ke surga

Rabbi
Tunjukkan kepadaku arah hidayah
Jangan sesatkan kami setelah kau tunjuki kami kebaikan
Bimbing kami dalam ketaatan
Sempurnakan iman kami dengan islam yang kau berkahi

Sumber: FP Apotek Wahdah

Muslimah, Jangan Melempem Kayak Kerupuk

 

Perempuan pada dasarnya memang harus kemayu, yaitu lemah lembut dan cantik. Meski pada dasarnya perempuan harus lemah lembut, adem ayem, dan anggun, namun hatinya harus selalu terjaga kuat, tahan banting, tangguh, dan tidak boleh lemah

Apalagi bila dikaitkan dengan tanggung jawabnya, maka perempuan muslimah tidak boleh lemah, leyeh-leyeh, dan seadanya menjadi prinsipnya sebagai seorang muslimah

Jangan mau jadi muslimah kuper, ketinggalan zaman dan gapteknya ketulungan. Muslimah itu harus kuat, kayak pondasi rumah 🙂

Jadi muslimah itu harus tangguh dan harus pandai menjaga hati. Jika ingin menjadi wanita yang taat dan terjaga diri dan hatinya, maka bertemanlah dengan mereka yang selalu menjaga diri, hati dan selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya.

Jaga iffah dan izzahmu. Jika apa yang dilihat adalah seperti drama korea yang banyak melow, dan mendengarkan musik tentang cinta. Maka akan mempengaruhi cara berpikir. Kamu tidak akan maju, yang ada hanyalah baper tidak pada tempatnya

Lebih baik perbanyak membaca tilawah, mendengar kajian, ceramah dan hal yang bermanfaat lainnya. Agar wawasanmu bertambah dan keilmuanmu semakin membaik

Ingatlah, bahwa hati itu diibaratkan seperti wadah, jika tidak diisi dengan kebaikan maka keburukanlah yang mengisinya. Jika tidak diisi dengan kerinduan kepada Allah dan Rasul-Nya, kerinduan menyebut nama Allah, kerinduan membaca surat cinta Allah, maka hati itu akan diisi oleh kerinduan-kerinduan pada yang lain bahkan pada sesuatu yang belum halal baginya

Muslimah itu indah akhlaknya. Baik budi pakertinya. Dimuliakan di dalam Islam. Menyempurnakan sesuatu yang belum sempurna. Dan dari rahim-nyalah, generasi tiap kurun waktu akan lahir ke dunia. Maka siapkan dirimu. Jangan mudah melempem karena kita bukan kerupuk.

…………………..

Muslimah itu:

Saat lahir, Ia menjadi jalan surga bagi kedua orang tuanya;

Saat menikah, Ia menyempurnakan separuh agama suaminya;

Saat menjadi Ibu, surga berada di telapak kakinya

Artikel: Apotek Wahdah

Di Ummat Fest 2018, Ketua Wahdah Ungkap Rahasia Sukses Dakwah WI di 34 Provinsi

Ketua Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Qasim Saguni dalam diskusi dakwah, “Ayo Tarbiyah” di arena ajang Ummat Fest 2018 Celebes Convention Center (CCC) Makassar, Jum’at (14/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com— Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI), ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA mengungkapkan, rahasia sukses perkembangan dakwah Wahdah Islamiyah yang telah menjangkau 34 Provinsi di Indonesia adalah kaderisasi melalui sistim halaqah tarbiyah (pembinaan intensif).

Hal itu disampaikan Ustadz Qasim saat berbicara dalam Diskusi Dakwah “Ayo Tarbiyah” sebagai rangkaian Umat Fest 2018 di Celebes Convention Center (CCC), Jl. Tanjung Bunga, Makassar, Jum’at (14/12/2018).

“Mereka yang dikirim sebagai dai-dai adalah kader, lahir dari tarbiyah dan di sana mereka juga menjadikan tarbiyah sebagai motor penggeraknya,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari wahdah.or.id.

Tarbiyah yang dimaksud, lanjut pendiri WI ini adalah pembinaan intensif dengan sistem halaqah (kelompok kecil) dengan jumlah peserta yang terbatas dan memiliki program serta kurikulum yang teratur. Inilah lanjut Ustadz Qasim yang membedakan belajar melalui sistim halaqah dengan ta’lim umum dan atau program dakwah umum lainnya.

“Kalau dalam dakwah umum pesertanya banyak, tidak terbatas, berbeda dengan tarbiyah yang pesertanya dibatasi (dalam satu halaqah),” ujar mantan Sekretaris Jenderal WI ini.

Aspek lain yang menjadi nilai khas dari program pembinaan intensif melalui halaqah tarbiyah kata Magister Kajian Islam ini adalah interaksi yang intens antara Murabbi (Pengajar/mentor) dengan mutarabbi (murid). Bahkan murabbi terlibat secara langsung dalam mengontrol dan memantau perkembangan peserta tarbiyah.

Dalam tarbiyah ada beberapa program yang dijalankan yakni tahsinul qira’ah (perbaikan bacaan Al-Qur’an), hafalan al-Qur’an, hafalan hadits. Pelaksanaan program tersebut dikontrol oleh murabbi sebagai pengajar. Bagaimana bacaan al-Qur’annya, bagaimana perkembangan pemahamannya, bagaimana pengamalannya dan sebagainya,” jelas ustadz Qasim.

Pengontrolan inilah yang menurut ustadz yang juga praktisi pengobatan Thibun Nabawi ini akan berpengaruh terhadap output atau pun hasilnya.

Saat ini Wahdah Islamiyah telah memiliki cabang di 34 Provinsi dan 193 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Yang terbaru adalah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Lombok Utara yang diresmikan dan dikukuhkan padan Jum’at (14/12/2018). [ed:sym].

Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Oleh: Achmad Firdaus

Suatu saat dikemudian hari ketika semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara para pejuang sejati yang bercerita tentang perjuangan yang indah. (AF)

Ada kalanya waktu ibarat dimensi yang terlihat, layaknya orang yang bisa menatap gedung-gedung yang tinggi, pepohonan dan puncak gunung dikejauhan sana. Setiap orang bisa menatap waktu ke arah yang berlawanan dan tampaklah kejadian penting masa lalu, kelahiran, pernikahan dan kematian terlihat sebagai pertanda adanya dimensi waktu. Begitupun dengan rentetan kejadian di masa yang akan datang, merentang penuh hayal dan tanya di masa depan yang jauh. Kita semua akan berpindah tempat, namun setiap orang bisa memilih gerak pada poros waktu. Mungkin banyak diantara kita yang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan, ada memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian, sementara yang lain berpacu menuju masa depan dengan berjuta harapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Setiap insan ditakdirkan bersama rentetan peristiwa yang telah dan (akan) menemani hari-harinya. Tak terkecuali dengan petualangan hidupku yang telah menyisakan beragam goresan kisah yang indah. Terlebih lagi disaat aku mencoba memainkan memori dalam ingatanku yang melayang jauh ke masa lalu, belasan tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Merah, kampus yang dikenal sebagai perguruan tinggi terfavorit di Kawasan Timur Indonesia. Sedikit bangga dan bersyukur bisa mengenyam pendidikan di kampus ternama itu, terlebih lagi saat mengingat masa-masa indah datangnya cahaya hidayah. Iya, kampus itulah yang menjadi saksi bisunya.

Aku merasa rindu sekali berada pada masa itu, rindu pada sosok yang ketika itu, tujuh, delapan, atau sembilan tahun yang lalu merombak kotak-kotak ‘nafsu duniawi’ dalam hidupku. Beliau adalah seorang guru yang sangat sederhana, ramah dengan senyum khas dan sapaan lembutnya saat menjumpai kami murid-muridnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan penampilannya sebagai seorang guru, mungkin berbeda dengan professor-doktor dengan perawakan angkuh dan gaya modis masa kini yang sering aku jumpai dikampus. Beliau selalu ceria bersama kami, meskipun terkadang matanya nampak sayu pertanda beliau dalam kondisi lelah dengan beragam aktivitas dakwahnya, apalagi beliau adalah ‘orang penting’ di Wahdah Islamiyah kala itu.

Iya, Wahdah Islamiyah. Beliaulah yang memperkenalkan kepadaku lebih jauh tentang ormas ahlussunnah tersebut, meskipun sebenarnya organisasi dakwah itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena kebetulan disaat awal menjadi mahasiswa, aku beberapa kali ‘terjebak’ ikut dalam ta’lim pekanan di masjid milik Wahdah Islamiyah yang terletak dikawasan pondokan mahasiswa. Beliau selalu mengajari kami dengan tutur kata yang lembut dan santun, sehingga nasehat yang beliau sampaikan lebih mudah ‘nyantol’ dihati murid-muridnya. Beliau juga yang tak pernah bosan mengingatkan kami untuk selalu menghadiri majelis ilmu di masjid-masjid binaan Wahdah Islamiyah di Kota Makassar.

Masih tercatat begitu jelas, hari itu Kamis 8 November 2007, ketika beliau memaparkan dengan gamblang di hadapan aku dan teman-temanku, bagaimana pentingnya menjaga keikhlasan untuk menjadi seorang aktivis dakwah yang baik. Hari itu memang bukan kali pertama aku bermajelis dengan beliau, namun nasehat-nasehat yang disampaikan kepada kami sangat bermakna buatku, karena kebetulan di tahun itu aku dipercayakan untuk menempati posisi ‘penting’ dalam  mengemban amanah dakwah. Suasana hangat dalam majelis ilmu bersama beliau pun terus berlanjut dalam episode-episode yang panjang.

Setiap Kamis ba’da Ashar, dengan ditemani lampu yang tak terlalu terang, beliau selalu sabar dan setia menanti kami (murid-muridnya) di pojok masjid kampus lantai dua. Terkadang beliau juga yang ‘membangunkan’ ketika kami bermalas-malasan atau keasyikan nongkrong sehingga lupa akan jadwal tarbiyah. Sekali lagi, dengan sabarnya menanti kami yang sementara antri untuk mandi, sikat gigi, berwudhu, atau mempersiapkan segala sesuatunya. Lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah pembelajaran itu, sebuah lingkaran kecil dengan lima, enam, tujuh, sampai sepuluh orang lebih (tak menentu) peserta dan seorang guru. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya.

Ah, aku rindu dengan orang ini, aku rindu dengan sentuhan lembutnya ketika membangunkan kami saat tertidur disela-sela materi yang disampaikan. Aku rindu suara khasnya yang selalu mengingatkan kami “Akhi, jangan lupa hari ini jadwal tarbiyah ya, ingatkan ikhwa yang lain, kumpul di masjid kampus Unhas.” Ujarnya lembut. Aku benar-benar rindu bermajelis dengannya, walaupun mungkin seringkali kami membuat beliau kecewa, dengan datang telat, sering ‘ngantuk’ saat belajar, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, beliau tidak pernah marah dan selalu sabar mengajari kami tentang Islam yang sesungguhnya.

Menurut aku, beliau adalah guru paling sabar yang pernah aku temui, dengan telaten menasehati kami yang masih berlumur dosa kemaksiatan dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing menuju cahaya hidayah Allah. Beliau tak pernah bosan mengarahkan kami agar menjadi seorang Muslim sejati yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah. Sehingga saat itu aku benar-benar yakin bahwa disinilah aku menemukan jalan kebenaran yang akan menuntun hidupku menuju negeri keabadian kelak.

Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi (bukan terkesan lebay) tatkala aku mengingat setiap rentetan peristiwa penuh makna itu. Ya, kebersamaan yang begitu indah dengan saudara tercinta dalam satu halaqah tarbiyah, meskipun tak bisa dipungkiri dalam sepekannya terkadang peserta tarbiyah berganti-ganti dan kadang ada juga ‘bintang tamu’ sebagai peserta baru yang bergabung bersama kami. Tapi itulah kekuatan kebersamaan dalam majelis ilmu yang dengannya dapat mempersatukan kami dalam ikatan ukhuwah meskipun dari beragam karakter yang berbeda. (Bersambung insya Allah)

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

Dalam kunjungan itu beliau berpesan agar tidak meninggalkan kegiatan ta’lim sebagai bentuk syiar dakwah islam dalam materi yang berjudul “Pentingnya Mengikuti Majelis Ilmu”.

Materi tersebut diberikan supaya semangat para peserta tidak mudah kendor ketika mengikuti majelis ilmu karena kebanyakan orang yang mengikuti majelis ilmu hanya karena pemateri yang mengisi kajian merupakan pemateri yang terkenal, sedangkan untuk pemateri-pemateri yang kurang terkenal justru terabaikan.

Dalam materi tersebut, beliau juga menyebutkan bahwa pentingnya kegiatan Kelompok Belajar Islam Intensif (KKI) atau lebih dikenal dengan nama Tarbiyah. Menurut beliau, metode ini sangat cocok untuk kalangan awam yang baru ingin mendalami ilmu agama maupun pembinaan karakter islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah karena materi tarbiyah merupakan materi-materi dasar sekaligus pengenalan terhadap agama Islam secara ringan agar ummat tidak kaget akibat langsung diberi materi yang sangat dalam pembahasannya dalm proses awal hijrah.

“In syaa Allah dengan menghidupkan Tarbiyah, kita akan membangun pemahaman yang benar, dan kalau dasar-dasarnya sudah bagus kedepannya nanti akan jadi lebih mudah dalam memahami kitab-kitab sunnah yang ada. Dan jika dasar yang dimiliki sudah cukup kuat, tentu orang akan lebih mudah membaca maupun memahami sendiri apa saja ajaran islam yang ada dalam kitab tersebut.” Ujar beliau dalam kesempatan tersebut.

Merupakan tindakan yang kurang tepat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu dasar dari kitab dengan membacanya sendiri tanpa binaan langsung dari dasar oleh yang sudah punya ilmu tentang hal tersebut.

“Lebih mudah memahami dasar ilmu agama dari yang sudah menguasainya walaupun murabbi(pengajar) tersebut juga masih dalam proses belajar juga.” Ujar beliau.

Lagipula, apabila kita mempelajari dasar ilmu kepada ulama besar tentu tidak akan lebih intensif daripada kepada murabbi, karena waktu yang dimiliki oleh seorang ustadz besar akan lebih sedikit untuk pembinaan khusus dan karakter daripada seorang murabbi yang cenderung belum terlalu banyak kesibukan, namun hasil yang didapat akan sama saja. (fry)

Indahnya Dakwah

Halaqah Tarbiyah. Foto: M.Ode Wahyu

Jika orang-orang tahu betapa indahnya dakwah di daerah yang masyarakat kurang memahami agama ini, niscaya mereka akan meninggalkan sofa rumahnya yang empuk dan beralih pada dakwah yang indah ini.

Banyak orang yang pandai menyemangati orang lain untuk berdakwah, tapi mereka sendiri tidak ingin jauh dari area nyamannya. Mereka tidak ingin jauh dari keluarga, anak istri dan lebih memilih tempat yang orang-orang sudah banyak mengenal agama. Orang-orang seperti ini jika diminta ke daerah yang tak ada keluarga mereka disana, maka beban 5 ton serasa sedang menindih pundak mereka.

Adapun orang-orang yang benar-bsnar yakin akan janji Allah, mereka akan pergi demi meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Walau awalnya memang terasa berat, mereka penuhi perintah Rabbnya:

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. At-Taubah: 41)

Semoga Allah menguatkan seluruh teman-teman yang sedang berdakwah di jalan Allah di daerah manapun. Semoga Allah memudahkan seluruh urusan kalian.

Jangan merasa iri dengan orang-orang yang bertitel yang selalu tampil dipodium, karena sebagian dari mereka merasa takut untuk berjuang sepertimu.

Engkaulah manusia pilihan. Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (QS. Al-Hajj: 78)

Ingat, dakwah itu adalah bagian dari jihad. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wajalla:

وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar“. (QS. Al-Furqan: 52).

Jihad besar yang dimaksud dalam ayat dia atas adalah berjihad dengan Al-Qur’an, yakni mendakwahkan dan mengajarkan Al-Qur’an.

Keep istiqamah.
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

(Ira Ummu Aisyah)

Dahulu kalau kita pulang ke kampung, maka penampilan dan pemahaman kita terasa sangat asing. Walaupun keluarga dari pihak bapak di Jeneponto (Sulawesi Selatan) sangat sopan dan tidak pernah menyindir perbedaan yang ada di diri kami, semisal pakaian atau kami yang tidak salaman dengan keluarga yang bukan mahram.

Namun beberapa tahun belakangan ini, kami sangat bersyukur karena da’wah sudah mulai menyentuh  keluarga; beberapa di antara mereka sudah ikut program DIROSA (pendidikan iqra orang dewasa) bahkan tarbiyah intensif yang dbina oleh teman-teman dari Wahdah Islamiyah yang ada di Jeneponto. Mereka masuk ke kampung-kampung, membina masyarakat dengan tulus dan sabar. Para pejuang-pejuang kebaikan ini kebanyakannya bukan lulusan pesantren atau kampus berbasic Islam, tapi bekal da’wah mereka diperoleh dari sebuah halaqah tarbiyah islamiyah yang di dalamnya mereka dibekali dengan ilmu syar’ie dari alquran maupun hadits sesuai pemahaman salafush shalih (generasi awal Islam yang lurus), memperbaiki bacaan alquran dan mendalami hukum-hukum tajwid, dikontrol amal hariannya, ditanamkan dan dibentuk adab dan akhlaknya, diluruskan syubhat-syubhat yang bertengger di kepalanya, bahkan ditanamkan dengan kuat untuk mengambil peran dalam dawah dan perjuangan  sesuai dengan potensi masing-masing serta harus memberi manfaat dimanapun, kapanpun dan apapun profesinya.

Dirosa

Dirosa (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa) Sebagai Salah satu ujung tombak dakwah Wahdah Islamiyah di seluruh Indonesia

Sehingga tidak heran, ketika ada satu saja binaan wahdah di sebuah daerah maka akan mulai muncul kegiatan-kegiatan islamy;  minimal mengajarkan membaca alquran baik anak-anak, orang dewasa sampai kakek nenek. Dan lihatlah dari 1 orang maka akan berkembang da’wah di daerah tersebut bak angin yang bertiup dimana setiap orang bisa merasakan keberadaannya.

Sangat terharu dan berterima kasih dengan Wahdah Islamiyah yang menyebarkan da’wah ke pelosok negri dengan cinta; cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia sehingga rela berpayah agar orang-orang di sekitar mereka mendapat kebaikan-kebaikan yang banyak dari Islam.

Saya yakin banyak teman-teman yang merasakan kebaikan ini, ketika kita terbatasi bahkan mungkin sebagian putus asa untul menda’wahi keluarga… ternyata Allah membukakan pintu hidayah/ kebaikan kepada mereka lewat orang lain… makanya tidak heran ketika salah seorang kerabat mengatakan “saya terima kasih kepada Wahdah Islamiyah”; saya terharu walaupun tetap diluruskan bahwa setiap kebaikan datangnya dari Allah, Wahdah Islamiyah cuma sarana/perantara kebaikan tersebut. Dan Begitulah kami diajarkan dan selalu diulang-ulangi oleh ustadz dan murabbi kami tentang wahdah, bahwa kita beramal dan  berjuang pastikan niat kita lillah (untuk Allah) bukan lilwahdah (bukan untuk wahdah).

Salam ta’zhim kepada segenap da’i da’iyah wahdah Islamiyah di manapun berada. Baarokallahu fiinaa wa fiikum.  [IUA/ed:Sym].

Safari Taman Gizi Ruhiyyah dan Tsaqafah

Safari Taman Gizi Ruhiyyah dan Tsaqafah

Safari Taman Gizi Ruhiyyah dan Tsaqafah

Bersama 
Syeikh DR. Muhammad Ad Duwaisy hafizhahullah
(Pakar Tarbiyah dari Timur Tengah)

Ada apa dengan pola pembinaan umat hari ini?
Bagaimana format yang tepat?
Formal maupun informal?
Ada apa dengan kurikulum kita hari ini?
Seberapa efektif?

Nantikan jawaban-jawabannya dalam diskusi-diskusi hangat bersama para pakarnya.

Insya Allah akan dilaksanakan di Jakarta dan sekitarnya selama beberapa hari (28 Juni-3 Juli 2018) bersama para ahli di bidangnya.

Mari sebarkan.. Kita kembalikan peradaban yang gemilang..

CP:
085 725 745 972 (WA Only)

Basaer Asia Publishing

=============

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala,

Betapa banyak saudara-saudara semuslim kita yang mengambil fans-fans selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik karena pengaruh dari televisi, media sosial yang memunculkan banyak model maupun lainnya yang membuat saudara kita tertarik padanya.  Hail ini juga diperparah lagi dengan kurangnya orang tua mengajarkan anak untuk mengidolakan Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam serta kurangnya pengetahuan yang menyeluruh tentang karakteristik Nabi mulai dari fisik, sifat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau.

Di sekolah-sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun. Ketika ditanya siapakah idola mereka, maka kebanyakan yang menjawab mulai dari Messi, Ronaldo, Artis korea dan banyak lagi orang-orang kafir lainnya.  Tidak sadarkah mereka, bahwa semua yang ada pada orang yang difavoritkan itu juga ada semua di dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau jauh lebih baik lagi. Tidakkah mereka sadar  yang ketika di akhir hayat beliau yang dipikirkan hanyalah kita sebagai umatnya. Lebih dari itu bahkan kita dianggap saudara oleh beliau Alaihi Shollatu Wassalam yang membuat iri para sahabat Radhiallahu Anhum.

Saudaraku  yang berbahagia,

Masih inginkah engkau mengambil teladan lain selain Rasulullah ?

Tidak inginkah kalian semua dikumpulkan bersama Rasullah dan para orang sholeh. Jika kalian benar ingin bertemu dengan Rasullullah Alaihi Sholatu Wasssalam dan para sahabat Rodhiallahu Anhum Ajmain maka cintailah mereka dan contohlah bagaimana kehidupan mereka di dalam kehidupanmu. Cukuplah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam suri tauladan terbaik bagi seorang muslim.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. (HR. Bukhori )

[jundi/aha]

Dunia Tempat Ujian

Dunia bukan Tempat Piknik

Dunia bukan Tempat Piknik

Sobat, setiap orang selalu diuji oleh Allah dengan kadar mereka masing-masing. Ujian yang tidak selalu sama bahkan cenderung berbeda satu sama lain. Karena memang dunia tempat ujian, bukan tempat piknik.

Kalau kemudian merasakan hidup kok dari dulu begini terus, masalah datang bertubi kayak debur ombak di laut, ga ada hentinya …, lantas kenapa? Mau protes sama Allah? Helloo …! Nyadar dong kalau ini di dunia fana. Wajar saja kalau masalah senantiasa datang untuk menguji kadar keimanan kita. Allah berfirman :

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Supaya Dia menguji kamu siapa yang paling baik amalnya” (potongan ayat QS Al-Mulk : 2) *)

Jadi, jangan kaget dan heran …. Yakin saja bahwa setiap orang mendapat jatah ujian hidup. Hanya saja, seringkali orang yang diuji dengan kenikmatan itu lalai sedang mereka yang diuji dengan kesempitan merasa merana seakan paling menderita. Ini yang perlu kita koreksi dari mindset kita.

Jangan sampai kita masuk dalam golongan orang yang gampang galau. Dikit-dikit baper. Dikit-dikit ngeluh. Dikit-dikit manyun. Lihat orang lain dapat nikmat dikit aja, kita jadi galau super tinggi. Selalu yang terlihat itu rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Apa iya demikian adanya?

Coba kita pikirkan sejenak. Dengan mengeluh, apa iya masalah jadi selesai? Jelas enggak kan?! Yang ada malah hati tambah runyam, pikiran kalut, mood pun jadi jongkok. Kita perlu menyadari, kalau kita punya masalah, orang lain pun punya masalah. Kalau kita lagi merasakan kesempitan, yakin saja ada orang yang lebih sempit dari kita. Untuk urusan dunia, kita memang tidak usah terlalu sering mendongak ke atas. Biar kepala ga pusing dan mata ga kena debu dunia. Masih banyak hal-hal yang patut kita syukuri daripada sibuk membandingkan keadaan diri kita dengan orang lain yang tampak lebih baik keadaannya dari kita. Percayalah, rumput tetangga tak selalu sehijau seperti kenampakannya.

Belajar mensyukuri kehidupan yang kita jalani insya Allah lebih menentramkan hati. Dan bukankah syukur nikmat itu akan melahirkan nikmat-nikmat yang berikutnya? Allah lebih tahu yang terbaik buat kita daripada kita sendiri. Kalaupun Allah menguji kita dengan beragam persoalan hidup, yakin saja bahwa Allah ga bakalan memberi ujian yang kita tidak sanggup menanggungnya. Sebagaimana Allah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡہَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡ‌ۗ

“Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya” (potongan ayat QS Al-Baqoroh : 287)

Jadi semuanya sudah terukur, dan Allah Maha Tahu kapasitas hamba-hamba-Nya. Kita tinggal action dan membuktikan sama Allah bahwa kita bisa menjalani apa pun hempasan yang datang menyapa. Yakin saja, bahwa Allah ga bakalan ninggalin kita. Bahwa Allah selalu membersamai kita. #ummisanti

 

*) Maksudnya, Allah menguji hamba-Nya siapa ikhlas dan benar dalam melakukan amalnya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah