Aksi menggugah dari kaum Muslimin Indonesia

Aksi menggugah dari kaum Muslimin Indonesia

Salah Seorang Relawan Membagikan Makan Kepada Peserta Reuni 212

Jakarta, WahdahJakarta.com – Pagi ini Ahad (2/12/2018) sama seperti dua tahun sebelumnya kaum Muslimin Indonesia menggelar Reuni Akbar Alumni 212 yang menggugah Ukhuwah Islamiyah bagi seluruh kaum Muslimin di Indonesia.

Bagi peserta Reuni Akbar Alumni 212 yang ada di sekitaran Monumen Nasional (Monas) DKI Jakarta, Ahad (2/12/2018), hari ini, Anda tak perlu khawatir kelaparan, sebab sejumlah relawan telah menyiapkan posko yang khusus menyedikan makanan dan snack gratis.

Posko itu tersebar di dalam dan di luar lokasi acara yang siap meladeni jamaah tanpa membutuhkan persyaratan apapun. Semuanya dilakukan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti Subuh tadi, para relawan bagi-bagi sarapan gratis itu telah bereaksi, menghadang dan menawarkan makanan kepada setiap peserta yang lewat. Nampak beberapa orang ibu-ibu mengenakan topi bertuliskan kalimat relawan logistik membagi-bagikan sarapan  gratis kepada para peserta reuni alumni 212.

Beberapa hari sebelumnya, para peserta telah diimbau untuk mempersiapkan sejumlah keperluan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan saat pelaksanaan reuni berlangsung, di antaranya imbauan untuk membawa satu jas hujan dikarenakan cuaca sering hujan, kemudian kantong plastik untuk menyimpan telepon seluler, dompet dan barang-barang yang lainnya, serta makanan ringan plus sebotol air mineral, dan perlengkapan shalat.

[pilarindonesia.com/wahdahjakarta.com]

Pakar Hukum: Mengibarkan Bendera Kalimat Tauhid Tidak Melanggar Hukum

(Surabaya) wahdahjakarta.com– Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) yang merupakan salah satu organisasi di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) menggelar seminar Bendera Tauhid dalam Lintasan Sejarah, Perspektif Sirah dan Ketatanegaraan Indonesia”, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu  (28/11/2018).

Salah satu nara sumber seminar Profesor Dr Sateki, SH, M Hum mengatakan, sejak peristiwa pembakaran ‘bendera tauhid’ di Garut, Jawa Barat, umat Islam “ketakutan” mengibarkan bendera tauhid. Padahal pengibaran bendera tauhid itu tidak melanggar hukum. Dengan kata lain dibolehkan.

Bendera kalimat tauhid, lanjut Sateki guru besar sosiologi hukum dan filsafat Pancasila dari Universitas Diponegoro Semarang ini, tidak identik dengan organisasi tertentu, misalnya HTI. “HTI, saya baca di anggaran dasar dan juga penjelasan jubirnya, tak punya bendera,” katanya.

Kata Suteki, tak ada organisasi yang bisa mengklaim bendera tauhid adalah benderanya. “Bendera tauhid milik umat Islam keseluruhan, karena itu semua umat Islam berhak menggunakan. Dan itu dijamin oleh undang-undang,” katanya.

Suteki menjelaskan, fungsi bendera tauhid itu sangat penting. Ia menjadi lambang persatuan umat Islam. “Tak hanya saat perang, tapi juga saat damai,” katanya.

Pelecehan terhadap bendera tauhid, misalnya dengan membakar, menurut Suteki, bisa dipidanakan dengan pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun.

Masalahnya, pada kasus di Garut, pelakunya umat Islam sedangkan yang tersinggung juga umat Islam.

“Di sini kita harus hati-hati, jangan sampai kita diadu domba,” katanya mengingatkan.

Seminar dibuka oleh Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Lucky Hermawan.

(Sumber: Hidayatullah.com)

Pesan Haedar Nasir di Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (26/11/2018)

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com – Pemuda Muhammadiyah menggelar Muktamar XVII di Yogyakarta tepatnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dari tanggal 25 hingga 28 November 2018. Tema  Muktamar XVII adalah ‘Menggembirakan Dakwah Islam dan Memajukan Indonesia’.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam sambutan pembukaan yang digelar Senin (26/11/2018) menyampaikan, pemuda Muhammadiyah harus tetap perkokoh jati diri pergerakan dengan tauhid, dan perkaya prinsip-prinsip itu dengan prinsip Muhammadiyah.

“Seperti yang dinukil dari trilogi Cokroaminoto yang sekarang menjadi triloginya syarikat Islam; Tauhid, ilmu dan amal,” ujarnya menyampaikan pesan pertama.

Kedua, pemuda Muhammadiyah harus terus bergerak untuk memajukan bangsa dengan spirit menggembirakan dan memajukan Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap kepada kader pemuda Muhammadiyah dan semuanya aspirasi yang sangat dasar ini bahwa muktamar ini sebagai titk dasar pangkal organisasi dan suksesi kepemimpinan.

“Untuk menjalankannya bagaimana seluruh pimpinan yang dapat mandat itu membawa visi dan misi untuk menyebarluaskan dengan menggembirakan dan memajukan,” katanya.

Ketiga, Pemuda Muhammadiyah harus mengikuti jejak induk Muhammadiyah yang berpijak pada prinsip-prinsip organisasi. Karena kepribadian kita dan akhlak kita harus sebagai bingkai yang baik. Dengan bingkai itulah, kita terus bisa melangkah dengan baik.

“Kita harus maju, kita harus sukses, tetapi di saat yang sama kemajuan dan kesuksesan itu juga harus terletak pada kepribadian kita,” ujarnya.

Kemudian, Haedar membacakan sepuluh sifat Pemuda Muhammadiyah:

  1. Muhammadiyah senantiasa beramal dan bertujuan untuk damai dan sejahtera.
  2. Muhammadiyah selalu perbanyak kawan dan ukhuwah islamiyah.
  3. Muhammadiyah senantiasa lapang dada dan memegang teguh ajaran islam.
  4. Muhammadiyah adalah gerakan keagamaan dan kemasyarakatan.
  5. Muhammadiyah senantiasa mengindahkan segala hukum, peraturan dan negara yang sah.
  6. Muhammadiyah senantiasa menjalankan misi amar ma’ruf nahi munkar dan menjadi contoh teladan yang baik.
  7. Muhammadiyah aktif dalam perkembangan masyarakat dan pembangunan sesuai islam.
  8. Muhammadiyah bekerjasama dengan golongan lain dalam mewujudkan syiar dakwah.
  9. Muhammadiyah membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain untuk memelihara masyarakat yang adil dan makmur.
  10. Muhammadiyah bersifat adil dan korektif dan bijaksana.

Untuk menghadapi tahun politik dan masa kampanye, Haedar berpesan kepada kader pemuda Muhammadiyah untuk bisa menjadi suri tauladan yang baik di manapun dan kapan pun. Sebagaimana spirit tauladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam  dalam mengemban dakwah Islam. (kiblat.net).

Dubes Saudi: Memasang Bendera Tauhid Bukan Kriminal

Bendera Tauhid yang dikibarkan oleh massa pasa aksi 211 kemarin.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) menyayangkan pembakaran bendera kalimat tauhid.

Duta Besar (Dubes) Saudi untuk Indonesia Osama Mohammed Abdullah Al Shuaibi mengatakan, kalimat tauhid memiliki arti penting bagi seluruh umat Islam.

“Kalimat Itu memiliki arti penting bagi ummat Islam, kalau seandainya bendera itu diletakkan di dinding seseorang sebagai gambar atau apalah bentuknya, apakah perlu juga kita mencari tahu siapa yang sudah berbuat seperti itu?” ungkap Osama dalam Konferensi pers di gedung PP Muhammadiyah, Jln. Menteng Raya Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Menurut Oesama, bendera tersebut bukanlah hal yang aneh jika dipasang di dinding rumah seseorang.

“Apakah jika ada seseorang ataupun di rumah anda ada orang yang menaruh bendera tersebut kemudian anda dianggap seorang kriminal?” ujar Osama.

“Apakah ketika seseorang memasang bendera tauhid di rumahnya itu seorang kriminal? Tentu tidak kan,” terangnya.

Dubes Osama justru menyayangkan prilaku oknum yang sengaja membakar bendera tauhid tersebut.

“Yang paling penting, ini yang kita sayangkan, yaitu pembakaran kalimat tauhid ini” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan sejumlah media, Habib Rizieq Shihab (HRS) diperiksa Kepolisian Saudi Arabia terkait bendera hitam yang dipasang entah oleh siapa di tembok belakang rumahnya di Makkah, Saudi, baru-baru ini. HRS lantas mendapat fitnah terkait ISIS.

Menurut Osama, Habib Rizieq adalah seorang muslim serta seorang warga negara Indonesia. Keberadaan Habib mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia dan Saudi. Habib Rizieq juga bukan sosok menakutkan bagi Arab Saudi dan Indonesia.

Hingga saat ini, Habib Rizieq masih menjadi tamu yang baik di Saudi tanpa memiliki masalah hukum apapun.

“Soal izin tinggal, kalaulah habib Rizieq punya masalah di Saudi, pasti dipenjara. Tapi, sampai saat ini masih dijamin kehidupannya di Saudi dan diperhatikan Indonesia,” katanya.[fry/sym]

Bendera Tauhid Tidak Dilarang

Ketua Front santri Indonesia (FSI), Habib Hanif Alatas menunjukkan perbedaan bendera tauhid dan bendera HTI

Jakarta (wahdahjakarta.com)-,Kementrian Koordinator  Bidang Politik Hukum dan  Keamanan (Kemenko Polhukam) menggelar Dialog Kebangsaan bersama Tokoh-tokoh Ormas Islam di kantor Kemenko Polhukam, di Jakarta, Jum’at (09/11/2018).

Dalam pertemua tersebut Ormas-ormas Islam bersepakat untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan mengedepankan dialog dalam segala hal, pasca kasus pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Kita sepakat kita akan menjaga persatuan, kesatuan, mengedepankan dialog dalam segala hal dan terpenting terkait masalah bendera, tadi sudah dijelaskan,” ujar Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI) Habib Hanif Alatas.

Pada pertemuan antara pemerintah dan ormas Islam itu ia menjelaskan perbedaan antara bendera bertulisan kalimat tauhid –seperti yang dibakar di Garut tersebut– dengan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Hanif bahkan membawakan contoh dua jenis bendera dimaksud dan memperlihatkannya kepada para peserta dialog, antara lain Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, perwakilan PBNU, GP Ansor, dan ormas-ormas Islam lainnya.

“Bahwasanya yang tidak boleh ini bendera ini,” jelas Hanif seraya mengangkat contoh bendera hitam yang disertai tulisan “Hizbut Tahrir Indonesia”. “Ini bendera HTI ini, tadi sudah dijelaskan secara gamblang,” imbuhnya usai pertemuan.

Sedangkan yang satunya, yaitu bendera mirip yang dibakar di Garut, “Yang ini tidak pernah dilarang,” tegasnya seraya memperlihatkan contoh bendera hitam bertulisan putih kalimat tauhid dalam lafadz Arab “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. “Tadi sudah dijelaskan dan disepakati oleh beberapa (ormas)…” sambungnya.

“Artinya,” lanjut Hanif, “ke depan bendera tauhid yang seperti ini dan dengan warna apapun tidak boleh di-sweeping lagi, tidak boleh dilarang lagi, tidak boleh dikucilkan lagi. Ini sudah menjadi kesepakatan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia….

Mudah-mudahan dengan adanya kesepakatan ini bendera ini wajib untuk dihormati, wajib dimuliakan. Dari PBNU tadi juga sudah minta maaf, dari Banser juga sudah minta maaf.”

Pertemuan itu digelar terkait kasus pembakaran “bendera tauhid” oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tersebut. Pada dialog bertema “Dengan Semangat Ukhuwah Islamiyah, Kita Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa” ini, pihak yang bertemu dari pemerintah antara lain Menko Polhukam Wiranto dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta dari tokoh-tokoh agama Islam, para ulama, para habaib, dan pimpinan ormas Islam di antaranya dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan PBNU.

Wiranto mengatakan, dalam dialog tersebut telah terjadi kesepakatan bahwa ada kesalahpahaman yang tidak lagi boleh terjadi di masa ke depan.

GP Ansor menyampaikan, sangat menyesalkan terjadinya pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Kami sangat menyesal dengan peristiwa ini, aturan organisasi juga sudah diterapkan, untuk hukum dipasrahkan oleh penegak hukum. Jangan sampai hal ini (pembakaran, Red) terjadi lagi dan sudah ditegaskan kepada anggota kami. Jika ada hal itu terulang maka akan ada tindakan tegas. Kami memohon maaf karena peristiwa ini menjadi gaduh,” kata Perwakilan GP Ansor Khairul Anwar.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyesalkan peristiwa yang terjadi di Garut.

Sumber: Hidayatullah.com

Vonis 10 Hari dan Denda Rp 2.000 Untuk Pembakar Bendera, Ini Sikap MUI

Vonis 10 Hari dan Denda 2.000 Untuk Pembakar Bendera, Ini Sikap MUI

Anggota Watim MUI KH. Mohammad Siddiq

(JAKARTA) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang diklaim sebagian kalangan sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sudah selesai dengan dijatuhkannya vonis oleh hakim kepada pembawa dan pembakar bendera.

Anggota Watim MUI KH Muhammad Siddiq mengatakan, vonis hakim Pengadilan Negeri Garut penjara 10 hari bagi pembakar dan pembawa bendera itu adalah hasil dari proses penegakkan hukum yang harus dihormati semua pihak.

Walaupun terkesan formalistik atas vonis yang terlalu ringan, Siddiq tidak terlalu mempermasalahkan.

Proses hukum ini adalah usaha dari semua pihak untuk mencapai penyelesaian atas insiden pembakaran bendera, saya kira ini hal yang baik ketika semua selesai dengan ketetapan hukum,” kata Siddiq kepada wartawan, Selasa (6/11).

Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini menyadari masih ada pihak yang kurang puas dengan vonis hakim tersebut.

Ia mempersilakan pihak yang tidak puas menempuh jalur hukum lain. Namun, sikap umat Islam yang menyerahkan penyelesaian terkait pembakaran bendera ke pengadilan adalah cara yang paling tepat.

“Mudah-mudahan vonis ini bisa diterima semua pihak biar tidak ada kegaduhan dan jadi pelajaran agar insiden serupa tidak lagi terjadi,” imbuhnya.

Sebelumnya Pengadilan Negeri Garut pada Senin (5/11). Dalam sidang terkait pembakarab bendera di hari santri di Garut, hakim memutuskan pembawa dan pembakar bendera dijatuhi hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2.000.

Hakim beranggapan keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sehingga dijatuhi kurungan 10 hari dan denda Rp 2 ribu. Kepada pembawa bendera pun, Hakim memutuskan menjatuhkan pidana ringan serupa. Unsur pidana yang dikenakan karena dianggap mengganggu dan membuat kegaduhan sebagaimana pasal yang didakwakan yakni Pasal 174 KUHP.

Sumber: Republika.co.id

Tuntutan Umat Islam Indonesia dalam Aksi Bela Tauhid 211

(Jakarta) wahdahjakarta.com—Gabungan ormas Islam Indonesia menggelar Aksi Bela Tauhid II, pada Jum’at (02/11/2018).

Massa Aksi Bela Tauhid berkumpul di Masjid Istiqlal untuk melaksanakan shalat Jum’at terlebih dahulu.  Usai shalat Jum’at massa mulai bergerak dari Masjid Istiqlal, Jakarta menuju Istana Negara mulai pukul 13.00 WIB.

Hampir semua peserta aksi memakai atribut bertuliskan kalimat Tauhid. Rata-rata memakai ikat kepala dengan berlafazd kalimat tauhid.  Massa juga membawa bendera Tauhid.

Mereka juga tak lupa membawa bendera kalimat tauhid berwarna hitam dan warna putih. Massa aksi tersebut berjalan menuju ke arah patung kuda. Sesekali mereka meneriakkan takbir.

Dalam aksi bela tauhid jilid dua ini, massa menyampaikan lima tuntutan terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat La Ilaha Illallah.

Pertama, meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk membuat pernyataan resmi bahwa bendera tauhid adalah bendera Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan bendera ormas apapun sehingga tidak boleh dinistakan oleh siapapun.

Kedua, meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk memproses hukum semua pihak yang terlibat dalam pembakaran bendera tauhid berlaku baik pelaku maupun aktor intelektual yang mengajarkan dan mengerahkan serta menebar kebencian untuk memusuhi bendera tauhid.

Ketiga, Menghimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mudah diadu domba oleh pihak manapun.

Kempat, menghimbau kepada umat beragama agar menghormati simbol-simbol agama dan selalu menjaga kebhinekaan sehingga tidak ada lagi persekusi atau penolakan terhadap pemuka agama atau aktifis di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kelima, PBNU wajib meminta maaf kepada umat Islam atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh anggota Banser di Garut dan PBNU harus dibersihkan dari liberalisme dan aneka paham sesat menyesatkan lainnya karena NU adalah rumah besar ASWAJA (Ahlussunnah Wal Jama’ah).

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menko Polhukam

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menkop olhukam

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menko Polhukam. Jum’at (2/11/2018) siang. Photo:Republika.co.id

(JAKARTA) wahdahjakarta.com — Sebanyak 10 orang perwakilan massa Aksi Bela Tauhid II diterima Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (2/11). Para perwakilan massa aksi itu masuk bersama-sama ke Kantor Kemenko Polhukam sekitar pukul 14.45 WIB.

10 orang perwakilan Aksi Bela Tauhid itu adalah Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif, Ustaz Asep Syarifudin, Habib Hanif Alatas, Ustazah Nurdiati Akma, Kiai Raud Bahar, Ustadz Awit Masyuri, Ustadz Maman S, Ustadz Al Khaththath, Egi Sujana, dan Kiai Nasir Zein.

Ke-10 orang perwakilan tersebut didata sekitar pukul 14.20 WIB. Menko Polhukam juga sudah berada di dalam ruangan Kantor Kemenko Polhukam menerima 10 perwakilan Aksi Bela Tauhid II. Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga hadir Wakapolri Komjen Pol Ari Dono.

Sebelumnya, Kapolres Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Roma Hutajulu mengatakan, Kantor Staf Presiden (KSP) juga akan hadir menemui perwakilan massa aksi di Kemenko Polhukam.

Selain itu, Puluhan polisi berpeci putih dan berkalung sorban ikut mengawal aksi Bela Tauhid, Jumat (2/11). Saat ini, massa aksi Bela Tauhid terpusat di depan Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Jumat (2/11).

Jajaran polisi berpeci putih itu ikut berdiri membentuk pagar betis di depan kawat berduri yang terpasang di depan Gedung Sapta Pesona untuk menghalau massa agar tidak mendekati Istana Merdeka di Jalan Medan Merdeka Barat.

Di depan kawat berduri, puluhan massa berseragam putih dari Laskar Pembela Islam (LPI) turut berdiri di depan kawat ikut menghadang massa yang ingin berunjuk rasa depan istana. Ribuan massa dari berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cirebon, Garut tiba di Jakarta mengikuti aksi Bela Tauhid 211 yang mulanya direncanakan digelar di depan Istana.

Irwan Syaifulloh, salah satu orator yang mengaku dari elemen gerakan 212, mengaku tuntutan mereka agar pemerintah mengakui bahwa pelaku membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid, bukan bendera kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Ia juga mengatakan, massa meminta agar pemerintah berlaku adil dan menindak pelaku dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hingga pukul 14.00 WIB, perwakilan massa masih berorasi di depan patung kuda. (Republika.co.id)

Peserta Aksi 211 Bela Kalimat Tauhid Mulai Padati Kawasan Masjid Istiqlal

Peserta Aksi 211 Bela Kalimat Tauhid Mulai Padati Kawasan Masjid Istiqlal

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pasca insiden pembakaran bendera bertuliskan  kalimat tauhid, umat Muslim Indonesia melakukan sejumlah aksi damai bela kalimat tauhid di berbagai daerah.  Hari ini, Jum’at (2/11/2018) Aksi Bela Tauhid jilid 2 berskala nasional kembali digelar di ibu kota.

Pantauan wahdahjakarta.com sejak pagi terlihat masyarakat dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Masjid Istiqlal Jakarta.

Mereka mengenakan berbagai atribut bernuansa tauhid, seperti topi, bendera, ikat kepala, baju, dan sebagainya.

Mereka datang dari berbagai daerah demi membela kalimat tauhid yang dilecehkan oleh oknum pembakar bendera bertuliskan kalimat suci tersebut.

Diantara peserta ada yang berasal dari puncak, Bogor Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung, mereka memulai perjalanan dari puncak sebelum maghrib menggunakan bus untuk mengikuti Aksi damai ini. Mereka mengaku tahu informasi ini dari media sosial facebook dan kemudian memutuskan untuk berangkat menuju jakarta.

“Kita semua tahu, bahwa bendera tersebut merupakan bendera yang sangat dimuliakan umat muslim, jadi kami ingin ikut membela bendera bertulis kalimat mulia itu dengan ikut membelanya lewat aksi ini” tutur Taufik(19) kepada wahdahjakarta.com.

Keutamaan dan Keagungan Kalimat Tauhid

Keagungan Kalimat Tauhid

Di tengah viralnya pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid  LA ILAHA ILLALLAH, dan memancing kemarahan umat, saya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan kepada kita semua keutamaan dan keagungan kalimat Tauhid.

Pada kalimat inilah dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpusar.

Keutamaan dan keagungan kalimat tauhid (لا إله إلا الله) :

  1. Sangat Berat Dalam Timbangan

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله

Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman, ”Ucapkan hai Musa laa ilaha illallah”. Musa berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”. Allah berfirman, ” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya -selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat laa ilaha illallah diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaha illallah  lebih berat timbangannya.”  (HR. Ibnu Hibban no. 6218)

  1. Kalimat Berbuah Jannah/Surga

Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi,

خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ

“Engkau terbebas dari neraka” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah laa ilaha illallah, maka dia akan masuk surga”  (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh al-Albani)

  1. Kebaikan Yang Paling Utama

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ كَلِّمْنِي بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, apakah laa ilaha illallah merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Kalimat itu (laa ilaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”  (Dihasankan Syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas)

  1. Dzikir Paling Utama

Berdzkir dengan kalimat tauhid La Ilaha Illallah merupakan dzikir yang paling utama, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada;

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Dzikir yang paling utama adalah bacaan laa ilaha illallah.”  (Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)

  1. Kalimat “laa ilaha illallah” adalah amal yang paling utama
  2. Paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak
  3. Merupakan pelindung dari setan

Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam;

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan ’laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.”  (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Kalimat “laa ilaha illallah” adalah kunci 8 pintu surga dan orang yang mengucapkannya bisa masuk surga dari pintu mana saja

Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Barangsiapa mengucapkan saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.”  (HR. Muslim no. 149)

Ustadz Ishak Abd. Razak Bakari, Lc., M.Phil. [Anggota Pleno Dewan Syariah Wahdah Islamiyah]