Dunia Tempat Ujian

Dunia bukan Tempat Piknik

Dunia bukan Tempat Piknik

Sobat, setiap orang selalu diuji oleh Allah dengan kadar mereka masing-masing. Ujian yang tidak selalu sama bahkan cenderung berbeda satu sama lain. Karena memang dunia tempat ujian, bukan tempat piknik.

Kalau kemudian merasakan hidup kok dari dulu begini terus, masalah datang bertubi kayak debur ombak di laut, ga ada hentinya …, lantas kenapa? Mau protes sama Allah? Helloo …! Nyadar dong kalau ini di dunia fana. Wajar saja kalau masalah senantiasa datang untuk menguji kadar keimanan kita. Allah berfirman :

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Supaya Dia menguji kamu siapa yang paling baik amalnya” (potongan ayat QS Al-Mulk : 2) *)

Jadi, jangan kaget dan heran …. Yakin saja bahwa setiap orang mendapat jatah ujian hidup. Hanya saja, seringkali orang yang diuji dengan kenikmatan itu lalai sedang mereka yang diuji dengan kesempitan merasa merana seakan paling menderita. Ini yang perlu kita koreksi dari mindset kita.

Jangan sampai kita masuk dalam golongan orang yang gampang galau. Dikit-dikit baper. Dikit-dikit ngeluh. Dikit-dikit manyun. Lihat orang lain dapat nikmat dikit aja, kita jadi galau super tinggi. Selalu yang terlihat itu rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Apa iya demikian adanya?

Coba kita pikirkan sejenak. Dengan mengeluh, apa iya masalah jadi selesai? Jelas enggak kan?! Yang ada malah hati tambah runyam, pikiran kalut, mood pun jadi jongkok. Kita perlu menyadari, kalau kita punya masalah, orang lain pun punya masalah. Kalau kita lagi merasakan kesempitan, yakin saja ada orang yang lebih sempit dari kita. Untuk urusan dunia, kita memang tidak usah terlalu sering mendongak ke atas. Biar kepala ga pusing dan mata ga kena debu dunia. Masih banyak hal-hal yang patut kita syukuri daripada sibuk membandingkan keadaan diri kita dengan orang lain yang tampak lebih baik keadaannya dari kita. Percayalah, rumput tetangga tak selalu sehijau seperti kenampakannya.

Belajar mensyukuri kehidupan yang kita jalani insya Allah lebih menentramkan hati. Dan bukankah syukur nikmat itu akan melahirkan nikmat-nikmat yang berikutnya? Allah lebih tahu yang terbaik buat kita daripada kita sendiri. Kalaupun Allah menguji kita dengan beragam persoalan hidup, yakin saja bahwa Allah ga bakalan memberi ujian yang kita tidak sanggup menanggungnya. Sebagaimana Allah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡہَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡ‌ۗ

“Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya” (potongan ayat QS Al-Baqoroh : 287)

Jadi semuanya sudah terukur, dan Allah Maha Tahu kapasitas hamba-hamba-Nya. Kita tinggal action dan membuktikan sama Allah bahwa kita bisa menjalani apa pun hempasan yang datang menyapa. Yakin saja, bahwa Allah ga bakalan ninggalin kita. Bahwa Allah selalu membersamai kita. #ummisanti

 

*) Maksudnya, Allah menguji hamba-Nya siapa ikhlas dan benar dalam melakukan amalnya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah

Rasa yang Tergadaikan

Rasa yang Tergadaikan

menggadaikan rasa malu

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab  syar’i seperti dirimu.

Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah. Agar menginspirasi muslimah lainnya. 

Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para  pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan  menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Betapa cantiknya paras itu. Mata yang bening dan terlihat begitu menawan. Berdesir hati melihatnya.  Meski selembar cadar menutup wajahnya, tapi binar kedua matanya menggambarkan kecantikan yang tersimpan di sebaliknya.
Duhai, menatap matanya berlama-lama makin membuat hati berasa tak menentu.  Binar matanya seakan melukiskan senyum manis yang tersembunyi. Ah, andai selembar cadar itu bisa disibak ….

Berdesir dada sang pemuda memandangnya. Sekilas saja. Tiba-tiba tergoda untuk terus memperhatikannya.  Terus dan terus. Menatap wajah itu sepuasnya. Tanpa takut tertangkap mata dari pemiliknya. Karena wajah itu ada pada selembar gambar yang berhasil diambil dari medsos.

Duhai, hati yang berasa tertusuk-tusuk. Ada rindu yang tak terungkap. Ada angan-angan yang seringkali mengelayut di pikiran. Andai bisa berkenalan dengan muslimah bermata indah itu.  Andai bisa bersanding dengannya yang tampak menawan itu. Andai bisa memikat hatinya ….

Rabb …, fitnah itu benar-benar menancap kuat. Anak panahnya tepat menusuk jantung hati.  Ditarik terasa sakit, dibiarkan pun begitu menyiksa.

Duhai pesona muslimah bermata indah. Betapa hati selalu tergoda menatap sepasang matamu yang indah menawan.  Dalam diam selalu terbayang dan terselip kerinduan yang membuncah.  Bagaimana rasa ini bisa ditepis?

Duhai, salahkah hati yang terpaut? Bukankah sang muslimah yang memulai? Bukankah dia yang menebar foto dirinya sehingga sang pemuda pun terjebak dalam umpannya. Bukankah asap itu timbul dari percikan api?

Duhai muslimah bermata jeli. Tidakkah engkau menyadari bahaya yang mengintaimu? Sekiranya pemuda itu timbul hasrat dan niat jahatnya padamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah pada hatimu!

Sekiranya pemuda itu terfitnah hatinya karena lembar foto yang melukiskan keindahan matamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah hatimu, wahai muslimah!

Duhai, di manakah rasa itu, wahai muslimah? Sudahkah rasa itu benar-benar tergadaikan?  Rasa malu yang semestinya menjadi perhiasan bagi muslimah shalihah seperti dirimu.  Lalu apa yang tersisa jika rasa itu sudah engkau campakkan dari hatimu?!

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab syar’i seperti dirimu. Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah ….  Agar menginspirasi muslimah lainnya. Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Di mana engkau tanggalkan rasa malumu, waha muslimah? Bukankah busana muslimah itu untuk menutup dirimu. Untuk menjagamu dari pandangan ajnabi. Lalu mengapa engkau justru sengaja membuat orang lain memandang dan menikmati yang semestinya disembunyikan? Tidak sadarkah engkau telah membuka pintu fitnah pada hati-hati pemuda yang sudah berusaha menjaga diri mereka?  Tidak takutkah engkau pada ajnabi yang berniat jahat padamu, yang bisa saja menyalah-gunakan fotomu untuk kesenangan nasfunya? Tidak takutkah engkau akan bahaya ‘ain yang mengintaimu?

Duhai, mari sejenak melihat ke dalam diri, wahai muslimah. Jalan dakwah ini tidak bisa diusung dengan cara-cara murahan. Dakwah ini butuh strategi dan metode yang mulia. Karena kita mendakwahkan kebaikan, bukan kemungkaran.

Sadarlah wahai muslimah! Ambil rasa malu yang sempat engkau campakkan. Sematkan kembali dalam hatimu.  Berjalanlah sesuai fitrahmu sebagai muslimah yang tersembunyi. Dan itu pun tak akan menghalangimu untuk menebar dakwah dan kebaikan kepada sesamamu.  Yakinlah bahwa banyak cara mulia yang bisa engkau tempuh untuk mendakwahkan keyakinanmu. Rangkullah hati-hati muslimah yang masih berserakan di luar sana dengan keanggunan akhlakmu,  bukan dengan keindahan foto selfimu.

Wahai muslimah! Mari tetap kokoh berpijak pada syariat ini meski arus kehidupan berusaha menghanyutkan keimanan. Selalulah bergantung pada Sang Pemilik Hati agar diri terjaga dari kerusakan moral yang makin carut marut.  Agar keimanan tetap tertancap kuat menghujam di hati kita. Agar diri tidak terjebak dalam kemaksiatan yang terbungkus ketaatan.

Semoga Allah menjaga hati-hati kita dalam ketaatan dan keikhlasan.

Catatan hati di sudut kamar

#ummisanti

berdoa

Berdoalah ! Lalu Serahkan Hasilnya Kepada-Nya

Berdoalah ! Lalu Serahkan Hasilnya Kepada-Nya

Saudaraku,
Jika engau tertimpa cobaan yang sangat sulit bagimu melepaskan diri darinya, maka tidak ada jalan keluar untukmu kecuali ‘DOA’ dan kembali kepada Allah setelah engkau mendahuluinya dengan taubat atas dosa-dosamu. Karena ketergelinciran (ke dalam dosa) mengakibatkan siksa. Jika ketergelinciran tersebut telah hilang dengan taubat atas dosa-dosa itu, maka hilang pula sebab turunya siksa dan cobaan itu.

Jika engkau sudah berdoa namun engkau merasa belum ada tanda-tanda doa’mu dikabulkan maka renungilah dirimu! Mungkin taubatmu tidak benar. Benahi dan benarkanlah taubatmu terlebih dahulu kemudian berdoalah lagi.
Ingat! jangan sekali-kali bosan berdoa, meskipun tanda-tanda pengabulan belum terasa. Boleh jadi, kemaslahatan terdapat dalam pengunduran pengabulan doamu, atau bahkan kemaslatan terdapat di dalam ketidak terkabulkannya doamu. Namun demikiaan, ketahuilah bahwa engkau tetap mendapatkan pahala dari doa’mu tersebut. Engkau diberi oleh-Nya apa yang bermanfaat untukmu. Diantara manfaat tersebut adalah engkau tidak diberi apa yang engkau minta tetapi digantikan dengan yang lain yang menurut-Nya lebih maslahat bagimu.

Jika Iblis mendatangimu lalu mengatakan kepadamu; sudah berapa sering engkau berdoa’ tetapi engkau belum melihat hasil pengabulan doa’mu? maka katakanlah ‘Aku bertaa’bbud (beribadah) dengan berdoa. Sebab, doa bukan sekedar mengajukan permintaan dan permohonan kepada Allah. Lebih dari itu, ia merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Tatkala Dia menyuruh hamba-Nya untuk meminta Dia sertai dengan janji pengabulan terhadap doa’ itu. Simak dan renungi ayat berikut ini:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah (berdoa kepada-Ku)akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina“.(QS Al Mukmin: 60).

Subhanallaah. Dia menyuruh berdoa lalu disusul dengan janji pengabulan dan ditutup dengan ancaman bagi yang enggan berdoa’.

Berdoalah ! dan yakinlah doamu akan dikabulkan

Saudaraku ,
Ketika engkau berdoa, sertailah dengan keyakinan bahwa doa’amu pasti dikabulkan. Namun boleh jadi pengabulannya ditunda hingga waktu yang telah ditentukan-Nya. Boleh jadi pen-ta’khir-annya mengandung beberapa maslahat, sehingga pengabulan doa itu akan datang pada saat yang tepat. Andaipun tidak dikabulkan, maka anda telah merealisasikan taa’bbud dan tadzallul kepada-Nya. Anda telah menunaikan perintah-Nya dalam ayat di atas.

Sekali lagi, ketahuilah ! doamu pasti dikabulkan selama engkau memenuhi syaratnya.Dia akan mengabulkan doamu sesuai janji-Nya dengan salah satu dari tiga kemungkinan sebagimana diinformasikan oleh Nabi-Nya:
Oleh sebab itu, janganlah engkau meminta sesuatu kepada-Nya melainkan engkau sertai dengan permintaan pilihan (mohon kepada Allah dipilihkan yang terbaik).Berapa banyak permintaan berupa dunia jika dikabulkan justru mendatangkan kehancuran bagi pemintanya.
Sebelum mengakhiri coretan singkat ini ,saya menerima taushiyah via SMS melalui salah seorang ikhwah –jazahullaahu khairan– yang bunyinya :
“Kita minta kepada Allah setangkai bunga segar, tapi Allah beri kita kaktus berduri. Kita minta kupu-kupu tapi Allah beri kita ulat berbulu. Kita sedih dan kecewa. Namun kemudian kaktus itu berbunga sangat indah dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan-Nya, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Allah beri apa yang kitah butuhkan. Kadang kita sedih, kecewa dan terluka. Tapi diatas segalanya, Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi kita”.
Sekali lagi berdoalah !!selanjutnya serahkan hasilnya kepada-Nya. [sym].
Bekasi 30 /01/1432 H
(Bahan bacaan: Shaidul Khaathir Ibnul Jauziy).

Ternyata Ini Dua Puluh Tujuh Keutamaan Shalat Berjama’ah dari Shalat Sendirian

Shalat berjama’ah
Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian. Dalam riwayat lain dua puluh lima derajat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بس بع وعشرين درجة
Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”. (HR. Bukhari, No. 645 dan Muslim, No. 650).
Dalam hadits lain disebutkan;
بخمس وعشرين درجة
Lebih utama dua puluh lima derajat”. (HR. Bukhari, No.646, dan Muslim, No.649).
Apa yang menjadikan shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima derajat dan atau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian? Para ulama telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. Diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Penulis kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari ini berkata, “Saya telah mengintisarikan apa-apa yang saya dapatkan mengenai hal ini. Yaitu hal-hal yang menjadikan shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima tau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian’’, yaitu:
Pertama, Memenuhi panggilan muadzin dengan niat shalat berjama’ah,
Kedua, Berangkat pada awal waktu menuju shalat berjama’ah,
Ketiga, Berjalan dengan tenang ke masjid,
Keempat, Masuk masjid sambil berdo’a,
Kelima, Shalat tahiyatul masjid ketika masuk masjid,
Keenam, Menunggu jama’ah,
Ketujuh, Do’a permohonan ampunan oleh para Malaikat untuk mereka yang menghadiri shalat jama’ah,
Kedelapan, Kesaksian para Malaikat akan membela mereka,
Kesembilan, Menjawab iqamah,
Kesepuluh, Selamat dari setan ketika setan lari mendengar iqamah,
Kesebelas, Berdiri menunggu takbiratul ihram imam, atau masuk bersama imam dalam keadaan apa saja dia mendapatkan imam,
Keduabelas, Mendapatkan takbiratul ihram,
Ketiga belas, Meluruskan dan menutup celah-celah shaf,
Keempat belas, Menjawab ucapan Imam, “Sami’allahu liman hamidah”,
Kelima belas, Terhindari dari lupa pada umumnya dan mengingatkan imam apabila lupa atau memulai untuknya,
Keenam belas, Meraih shalat khusyu’ dan terhindar dari apa-apa yang membuat lalai pada umumnya,
Ketujuh belas, Pada umumnya dengan berjama’ah setiap jama’ah dapat memperbaiki tatacara shalatnya,
Kedelapan belas, Para Malaikat mengitari orang-orang yang shalat berjama’ah dengan sayap-sayap mereka,
Kesembilan belas, Melatih diri memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan mempelajari rukun-rukun Shalat dan bagian-bagian lainnya,
Kedua puluh, Menampakkan syi’ar Islam,
Kedua puluh satu, Menghinakan setan dengan berjama’ah dalam beribadah serta saling tolong menolong dalam ketaatan dan yang malas menjadi bersemangat,
Kedua puluh dua, Selamat dari penyakit kemunafikan dan terhindar dari buruk sangka orang bahwa ia meninggalkan shalat,
Kedua puluh tiga, Menjawab salam Imam,
Kedua puluh empat, Meraih keutamman dengan berkumpul dalam keadaan berdo’a dan berdzikir sehingga berkah yang sempurna dapat juga menyempurnakan yang kurang,
Kedua puluh lima, Tegaknya rasa saling kasih antara tetangga dan saling bertemu dalam waktu-waktu shalat,

Ini adalah dua puluh lima poin yang merupakan keutamaan shalat berjama’ah dibanding shalat sendirian, dan tersisa dua keutamaan yang terkait dengan shalat jahriyah, yaitu;

Kedua puluh enam, Mendengar dan menyimak dengan seksama bacaan Imam, dan
Kedua puluh tujuh, Membaca “Amin” bersamaan dengan bacaan ‘amin” imam agar bersesuaian juga dengan ucapan “amin” para Malakat. (Fathul Bari, 2/133)
(Sumber: 40 manfaat Shalat Berjama’ah, karya Syekh Abu Abdillah Musnid Al-Qahthani)

Lima Prinsip Hidup Bahagia Seorang Muslim

lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim

Lima pinsip hidup bahagia seorang Muslim; (1) Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah, (2) 2. Menggabungkan Kebahagiaan Ruh dan Jasad, 3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup, (4) Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati, dan (5) Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Akan tetapi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda dalam mengukur kebahagiaan. Karena yang paling memengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan pandangan hiudp yang dipijakinya.

Bagi seorang Muslim, kebahagiaan tidak selalu berupa kemewahan dan keberlimpahan materi duniawi. Berikut ini lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim dalam konsep hidup Islam. dalam tulisan ini akan menguraikan beberapa prinsip hidup bahagia menurut Islam.

1. Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah
Allah Ta’ala berfirman:

[ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦:١٥٣

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. Al-An’am: 153).

Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan meniti jalan yang digariskan oleh Allah. Yang dimaksud dengan meniti jalan Allah adalah menaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan benar. Ayat 153 surah al-An’am diatas sebelumnya didiahului dengan penjelasan tentang beberapa perintah dan larangan Allah kepada orang beriman. Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa orang yang meninggalkan jalan yang digariskan oleh Allah akan, tidak tenang dan tidak bahagia. Karena ia akan mencari jalan dan sumber kebahagiaan pada jalan yang dibuat dan digariskan oleh selain Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

[ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (surat Thaha [20]: 123.

2. Menggabungkan antara Kebahagiaan Ruh dan Jasad

Manusia terbentuk dari ruh dan jasad. Masing-masing dari keduanya membutuhkan gizi dan nutrisi yang harus dipenuhi secara adil. Sebagian kalangan hanya menekankan aspek ruh dan mengabaikan kebutuhan jasad. Sebaliknya sebagian yang lain hanya menekankan pemenuhan kebutuhan jasad dan mengabaikan kebutuhan ruh. Adapun petunjuk Islam memenuhi kebutuhan keduanya (ruh dan jasad) secara adil. Ruh dipenuhi kebutuhannya dengan cahaya wahyu dari langit dan menjaga kesehatan jasad dengan pememenuhan hajat syahwat dan syahwat melalui cara yang halal dan thayyib.

Allah Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Surah al-Qashash [28]:77).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada ummatnya untuk menunaikan hak kepadapemiliknya masing-masing. “Sesungguhnya Rabbmu punya haq darimu, dirimu punya haq darimu, keluargamu juga punya hak, maka berilah setiap hak kepada pemiliknya” (Terj. HR. Bukhari).

3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup
Barangsiapa yang telah menikmati manisnya Iman, maka ia takkan pernah mau meninggalkannya, kendati pedang diletakkan di lehernya. Sepertimana tukang sihir Fir’aun yang tegar menghadapi ancaman potong tangan-kaki dan salib;
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ [٢٠:٧١

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. (Qs Thaha [20]:71). Mereka tetap teguh dan tegar sebagaimana diabadikan oleh Allah;

 

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا [٢٠:٧٢]

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (Qs Thaha [20]:72).

Tidak ada sesuatupun yang meneguhkan dan menegarkan mereka, kecuali karena mereka telah merasakan lezat dan manisnya keimanan. Sehingga mereka merasakan ketenangan batin dan ketegaran saat menghadapi ancaman, termasuk ancaman pembunuhan sekalipun.

4. Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati

Tiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah (ketentraman).Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman. Allah Ta’la berfirman tentang orang-orang beriman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Qs Al-Fath: 4).

Keimanan melahirkan kebahagiaan dari dua sisi (1) Iman dapat menghindarkan dan memalingkan seseorang dari ketergelinciran ke dalam dosa yang merupakan sebab ketidak tenangan dan kegersangan jiwa. (2) Keimanan dapat menjadi sumber utama kebahagiaan, yakni sakinah dan thuma’ninah. Sehingga di tengah lautan probematika dan krisis hidup tidak ada jalan keluar dan keselamatan selain Iman.

Oleh karena itu orang yang tanpa iman di hatinya dipastikan akan selalu dirundung rasa takut, was-was, kahwatir, gelisah, galau. Adapun bagi orang beriman. Adapun bagi orang beriman tidak ada rasa takut sama sekali, selain takut kepada Allah Ta’ala. Hati yang dipenuhi iman memandang remeh setiap kesuliatn yang menghimpit, kerana orang beriman selalu menyikapi segala persoalan dengan tawakkal kepada Allah. sedangkan hati yang kosong, tanpa iman tak ubahnya selembar daun rontok dari dahannya yang diombang-ambingkan oleh angin.

5. Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Pasca kehidupan dunia, akan memasuki kehidupan di alam kubur bakda kematian dan selanjutnya kehidupan di negeri akhirat setelah hari kiamat. Dan jalan-jalan kebahagiaan akan menyertai manusia dalam tiga fase kehidupan tersebut (dunia, alam kubur,& hari akhir) Dalam kehidupan dunia Allah Ta’ala telah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs An-Nahl [16]:97).

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang baik; bahagia, tenang, tentram, meski hartanya sedikit. Adapun kebahagiaan di alam kubur, seorang Mu’min akan dilapangkan kuburannya, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, seorang Mu’min dalam kuburannnya benar-benar berada di taman yang hijau, dilapangkan kuburannya sejauh tujuh puluh hasta, dan disinari kuburannya seperti –terangnya- bulan di malam purnama” (dihasankan oleh al-Albaniy).

Sedangkan kebahagiaan di akhirat Allah berjanji akan tempatkan dalam surga dan kekal di dalam selama-lamanya jelaskan dalam Hud ayat 108,

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (Terj. Qs Hud [11]:108)

Dengan iman seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Jadi, Islam telah datang dengan konsep dan jalan kebahagiaan yang abadi, yang mencakup kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Meskipun demikian Allah telah menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai dua sisi yang saling terkait dan terpisah. Sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab keduanya adalah satu. Keduanya adalah jalan yang satu. Allah mengingatkan bahwa siapa yang menghendaki balasan dunia, maka Allah memiliki balasan di dunia dan akhirat;

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Qs An-Nisa [4]: 134). Namun bagi seorang Muslim yang beriman bahwa kebahagiaan yang ada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal abadi. (sym)

Artikel: http://wahdah.or.id

Baca juga: Nikmatnya Ibadah Ikhlas dan Khusyu’