10 Langkah Hafal Qur’an (1): Ikhlas

Hafal Qur'an

Santri Penghafal Qur’an. Photo: Istimewa.

10 Langkah Hafal Qur’an (1): Ikhlas

Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala. Ia adalah sebaik-baik dan semulia-mulia perkataan. Allah tidak akan menganugrahkan kenikmatan menghafal al-Quran, kecuali kepada mereka yang berniat ikhlas hanya untuk diri-Nya.

Manusia yang beramal tanpa disertai niat yanga ikhlas untuk Allah maka amalannya akan seperti debu yang dihembuskan. Ia tidak mendapat pahala kecuali dengan niat yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء مانوى

Setiap amalan tergantung kepada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai apa yang ia niatkan.”(HR.Al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من تعلم العلم مما يبتعغى به وجه الله لايتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk mendapatkan wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia maka (pada Hari Kiamat) ia tidak akan mencium aroma surga.”

Cukuplah hadits ini sebagai peringatan dan ancaman bagi kita, marilah berdoa kepada Allah agar memperbaiki niat dan amalan dan menjadikan orang-orang yang ikhlas.
(Syekh Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Kaifa Tahfadzul Qur’an Fi ‘Asyi Khuthuwat, hlm. 18-20).

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (2)

Pada artikel seri kedua ini kita akan melanjutkan bahasan tentang beberapa peran istri yang bisa mendorong tercapainya rumah tangga bahagia. Sebelumnya, kita sudah membahas peran istri sebagai kekasih bagi suami.
Peran Istri sebagai Ibu bagi Anak-anak
Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran anak merupakan sebuah kemestian. Meskipun tidak setiap pasangan dikarunia keturunan, akan tetapi secara umum bahwa tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk melestarikan keturunan. Maka kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangga merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Berbicara tentang anak tentu tidak lepas dari sosok seorang ibu. Dan dalam Islam, sosok ibu ini mendapat tempat atau kedudukan yang mulia. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ؕ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” [QS. Luqman: Ayat 14]
Betapa payahnya seorang ibu mengandung anaknya selama 9 bulan kemudian melahirkannya dengan taruhan nyawa. Perjuangan masih dilanjutkan dengan mengasuh dan merawatnya. Masya Allah, ladang pahala yang sangat subur sehingga Allah pun menyandingkan rasa syukur kepada ibu bapak sejajar dengan rasa syukur kepada-Nya. Ayat di atas tentunya menjadi pendorong tersendiri bagi seorang istri untuk bisa memposisikan dirinya sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Sosok laki-laki sebagai suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya memiliki waktu yang terbatas untuk berlama-lama di rumah karena tuntutan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka di sinilah peran istri untuk berbagi tugas dengan suami, menjadi ibu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu memiliki waktu lebih banyak untuk bersama anak-anak dibandingkan sang ayah. Ibu memegang tanggung jawab atas pembinaan masa depan anak-anak. Keberadaan dan peran seorang ibu menjadi sangat vital bagi pendidikan anak di awal pertumbuhan mereka. Dan inilah yang menjadi kunci awal pembentukan kepribadian mereka di masa depan.
Ibu adalah model bagi anak-anaknya di mana setiap gerak dan tingkah lakunya akan dicontoh dan ditiru. Istri yang bisa memainkan peran sebagai ibu yang baik tentunya akan membuat suami tenang dan memberi kepercayaan penuh untuk mengurus anak-anak. Tentunya peran yang satu ini bukan peran yang mudah dilakukan meski secara alami atau fitrahnya seorang perempuan memiliki jiwa keibuan. Maka penting bagi seorang istri untuk terus mengasah keilmuan dan ketrampilannya dalam mengasuh dan mendidik anak agar peran sebagai ibu dapat dilakoni dengan baik.
Peran Istri sebagai Sahabat Suami
Siapakah sahabat? Dia adalah orang yang dekat di hati kita. Orang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan kita. Persahabatan menunjukkan hubungan kedekatan perasaan dan emosi. Sahabat adalah orang yang paling mudah kita ajak bicara tentang banyak hal. Seorang sahabat siap menjadi pendengar yang baik, menjadi sandaran saat sahabatnya rapuh, tempat berbagi tawa dan air mata. Hampir tidak ada rahasia di antara dua orang yang bersahabat. Dukaku dukamu, bahagiamu bahagiaku. Aku nyaman bersamamu,engkau pun nyaman bersamaku. Begitulah, seseorang akan merasa nyaman bersama sahabatnya. Mereka bisa saling menerima kekurangan satu sama lain. Mengatasi persoalan yang timbul di antara keduanya dengan semangat persahabatan sehingga kerenggangan hubungan mudah teratasi.
Seorang sahabat siap sedia saat dibutuhkan. Rela menyisihkan waktu dan mengorbankan kepentingannya untuk sahabatnya. Saat dekat hati merasa bahagia. Saat jauh pun banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dan ada kerinduan untuk bersama. Saling menghargai dan saling percaya. Seperti itulah sosok seorang sahabat. Persahabatan menjadikan seseorang begitu istimewa dan sangat dibutuhkan kehadirannya.
Bagaimana jika sosok sahabat ini hadir dalam kehidupan rumah tangga? Itulah peran yang perlu dimainkan oleh istri, menjalin persahabatan dengan suami. Dengan begitu, istri menjadi begitu istimewa di hati suami dan sebaliknya pula suami menjadi begitu istimewa di hati istri.
Persahabatan yang terjalin antara suami istri membuat saat-saat perjumpaan menjadi hal yang dirindukan. Suami bisa dengan leluasa mencurahkan suka dukanya, mengisahkan rahasia hidupnya, serta merasa aman dan nyaman bersamanya. Mereka saling memahami, saling mengerti, saling memberi dan menerima, penuh kehangatan dan begitu akrab.
Yang sering kali terjadi saat ini, banyak pasangan suami istri yang jarang atau bahkan tidak sempat meluangkan waktu bersama. Mereka kurang menyadari betapa berharganya detik-detik kebersamaan bersama pasangan. Benarkah demikian?
Kesibukan seorang suami mencari nafkah di luar rumah seringkali menyita waktu. Begitupun rutinitas seorang istri di rumah dengan seabreg pekerjaan rumah tangga. Apalagi jika istri juga berperan sebagai wanita karir, tentu waktu untuk membersamai keluarga menjadi sangat berkurang. Jika masing-masing pasangan tidak menyadari pentingnya membangun kedekatan hati satu sama lain, tidak memperhatikan kualitas kebersamaan mereka, hubungan suami istri dengan pola semacam ini akan menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Ketika suami istri berkesempatan bersama di rumah, keduanya sibuk dengan gadget masing-masing. Sibuk berasyik ria dengan orang yang jauh di luar sana dan lupa dengan keberadaan orang terdekatnya. Mereka asyik dengan pertemanan di dunia maya sampai lupa membangun ikatan hati dengan pasangannya. Atau jika tidak, saat sedang bersama justru mereka sering disibukkan dengan pembicaraan tagihan listrik, pembelanjaan dapur, ataupun segala tetek bengek kebutuhan rumah tangga yang tak kunjung habis untuk dibicarakan. Meskipun hal-hal seperti ini memang perlu dibicarakan dan didiskusikan, akan tetapi jangan sampai porsinya mengabaikan kebutuhan hati.
Istri yang memahami perannya tentu tidak akan membiarkan kondisi seperti ini berlaku dalam rumah tangganya. Bagaimana pun kebersamaan dengan pasangan adalah momen berharga yang tidak boleh dilewatkan dengan hal-hal yang kurang berarti. Ia sangat memperhatikan kualitas hubungannya dengan suami. Selalu siap saat suami membutuhkan bantuan. Dia berusaha memberikan perhatian-perhatian kecil sehingga suami menyadari betapa istimewanya dia.
-selesai-

#ummisanti

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (1)

Pernikahan mempertemukan dua hati dan dua kepribadian dalam satu ikatan suci, dalam satu bahtera rumah tangga. Bahtera yang melaju melintasi lembaran-lembaran masa dan mengukir beragam kisah dengan segala keunikannya. Pernikahan merupakan tim sukses dari pasangan suami istri yang saling bahu membahu menghalau badai agar bahtera rumah tangga tetap kokoh. Satu sama lain berusaha mengimbangi rasa dan irama agar tercipta harmoni indah, sehingga hempasan persoalan yang datang menerpa tidak menjadikan bahtera rumah tangga karam dan runyam. Masalah yang hadir dalam kehidupan rumah tangga justru menjadi bumbu penyedap yang makin mempererat ikatan hati.
Siapa pun tentu menginginkan kondisi rumah tangga seperti itu. Rumah tangga yang hangat penuh cinta, bertabur kebahagiaan dan kemesraan. Hanya saja, yang menginginkan belum tentu bisa meraihnya. Karena untuk mewujudkannya tentulah butuh kesungguhan, kerja sama, dan kekompakan.
Salah satu faktor utama untuk meraih rumah tangga serasa surga adalah keberadaan seorang istri. Ia punya peran dan andil besar dalam mengarahkan bahtera rumah tangga menuju pantai kebahagiaan, untuk mencapai rumah tangga yang bernilai dan berbobot, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Allah berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ؕ اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: Ayat 21)
Dari ayat tersebut dapat kita tangkap sebuah makna bahwa kehadiran istri dapat memberikan rasa tenteram serta perasaan cinta dan kasih sayang bagi suaminya. Pertanyaannya, apakah semua istri dapat memainkan peran tersebut? Tentunya, pemeran terbaik adalah istri yang paham akan kedudukannya di mata suami dan memaknai hakikat pernikahan yang dijalaninya semata untuk meraih ridha Allah.
Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya masa awal pernikahan semua terasa begitu manis. Istri begitu mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suami. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia pernikahan, kekuatan cinta pun teruji oleh berbagai situasi dan kondisi. Ada yang menguat, tak sedikit pula yang kian memudar. Ada istri yang mengeluhkan suaminya menjadi begitu kaku dan cuek setelah masa yang panjang dari pernikahannya, tanpa dia sendiri menengok ke dalam diri bahwa bisa jadi dialah penyebab perubahan itu.
Seorang istri semestinya punya kepekaan tinggi terhadap fluktuasi ruhiyah rumah tangganya. Karena bagaimana pun, dia memegang peran strategis yang menentukan nasib bahtera rumah tangganya, menuju kepada kebahagiaan atau justru kehancuran. Istri yang pandai memainkan peran dan paham terhadap hak dan kewajibannya, akan punya energi lebih untuk mengayuh bahtera rumah tangganya menuju maghligai kebahagiaan yang hakiki.
Ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh seorang istri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Peran-peran tersebut dapat menjadi pupuk cinta dan keharmonisan rumah tangga. Kemampuan istri mengolah peran dan memberikan suguhan rasa yang berbeda sangat dibutuhkan oleh seorang suami,suguhan dengan menu yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan suami. Istri yang cerdas akan mampu menempatkan diri dan memainkan peran sesuai dengan situasi dan keadaan.
Peran Istri sebagai Kekasih
Peran ini punya arti sangat vital bagi kehidupan rumah tangga. Betapa banyak orang yang menikah tapi tidak saling menjadi kekasih. Pernikahan hanya menjadi simbol sosial dan masing-masing disibukkan oleh rutinitas yang makin lama kian menjemukan. Hingga datang masanya titik kulminasi kebosanan dalam rutinitas pernikahan yang menyebabkan pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian.
Karenanya, penting bagi seorang istri untuk bisa menyuguhkan rasa seorang kekasih bagi sang suami. Dengan begitu rumah tangga yang dijalani memiliki ruh kemesraan, ada ikatan batin kuat yang mengokohkan bahtera rumah tangga. Ada cinta yang tersemai dan terjaga dengan baik. Ada pelangi bahagia yang membuat satu sama lain merasa saling membutuhkan dan enggan terpisahkan.
Jadilah kekasih bagi suami Anda. Kekasih yang mau memahami dan menerima kekurangannya serta lebih terfokus pada kelebihan yang dia miliki. Jadilah seorang kekasih yang selalu mensyukuri kehadirannya sebagai anugerah indah yang Allah berikan. Jadilah kekasih yang makna kehadiran Anda di dekat suami lebih dari sekedar “berada bersamanya”.
Seorang istri adalah kekasih hati bagi suaminya. Dia selalu ada saat suami membutuhkan. Selalu ada cara baginya untuk menggoda dan memikat hati suami. Dia mampu menjadi tempat berbagi kemesraan dan kasih sayang.
Sebagai kekasih, istri yang cerdas memahami kebutuhan biologis suaminya, mampu menangkap sinyal-sinyal yang terkadang tidak terungkapkan. Dia tidak lelah mencurahkan belaian cinta dan kasih sayang untuk belahan jiwanya. Ketika sang suami menginginkan dirinya, maka ia bersegera dengan sepenuh hati dan kesungguhan memenuhi hasrat suaminya. Ia menyadari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya sehingga dia (suami) tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga subuh.” (HR Bukhari No. 5194 dan Muslim No. 1436)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak ajakannya melainkan Rabb yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim No. 1436)
Seorang istri tentu tidak rela dirinya dilaknat oleh penduduk langit dan Rabb yang menciptakannya. Baginya, membahagiakan suami adalah kebahagiaan juga untuknya. Ia menyadari bahwa keinginan suami yang tertunda dapat menjadi celah yang menggerogoti keharmonisan rumah tangga. Betapa mereka yang tidak memperhatikan kebutuhan primer suami yang satu ini akan menemukan rumah tangganya berada dalam titik rawan. Ketika seorang istri seringkali mengabaikan kebutuhan ranjang suaminya, hal ini bisa memicu terjadinya perselingkuhan bahkan perceraian.
[bersambung …]

#ummisanti

Kesalahan dalam Mendidik Anak (2): Membiasakan Anak Bersikap Ceroboh dan Indisipliner

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

 

Tanggungjawab dalam mendidik anak sangat besar, namun banyak orangtua yang melalaikannya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap enteng amanah tersebut.Mereka tidak memelihara dengan sebaik-baiknya. Mereka menelantarkan anak-anaknya, mengabaikan pendidikannya,tidak memerhatikan dan tidak mengarahkan mereka. Begitu mereka melihat benih-benih penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak mereka, mulailah mereka menghardik dan mengeluhkannya.

Mereka tidak menyadari,penyebab utama dari kenakalan dan penyimpangan itu adalah kelalaian mereka sendiri.
Kelalaian dalam mendidik anak banyak sekali bentuk dan ragamnya.Semua bentuk kelalaian itu akan menjadi penyebab penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak.Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah.

2. Mendidik Anak Bersikap Ceroboh, Ceplas-Ceplos dan Mengganggu Orang Lain, Namun Menganggapnya Sebuah Keberanian
Ini merupakan bentuk kesalahan orang tua dalam mendidik anak ,dan merupakan kebalikan dari sikap yang pertama (http://wahdahjakarta.com/2017/11/02/kesalahan-dalam-mendidik-anak-1-membiasakan-anak-memiliki-sifat-penakut-dan-tidak-percaya-diri/).
Adapun sikap yang tepat bagi orangtua adalah mengarahkan kepada anak untuk bersikap pertengahan dari keduanya. Yakni mendidik anak untuk bersikap berani bersikap tetapi tidak berlebihan.

  1. Mendidik Anak Tidak Berpendirian, Indispliner, Serta Membiasakan Mereka Hidup Mewah dan Berlebihan

Sikap ini akan membawa anak tumbuh dalam kemewahan dan kesenangan .Yang terpikirkan olehnya hanyalah kesenangan pribadi semata. Dia tidak mempunyai kepedulian kepada orang lain. Dia tidak mau bertanya tentang nasib dan keadaan saudara-saudarany sesama Muslim,serta tidak mau berbagi suka dan duka bersama mereka.

Metode pendidikan seperti ini akan merusak fitrah anak sebagai makhluk social,menghilangkan sifat istiqamah yang dimilikinya,serta memupuskan –sikap menjaga-harga diri dan keberaniannya. (bersambung insya Allah ).

Sumber: Sumber: Buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Kesalahan dalam Mendidik Anak (1): Membiasakan Anak Memiliki Sifat Penakut dan Tidak Percaya Diri

Kesalahan Mendidik Anak

Kesalahan dalam Mendidik Anak

Meski begitu besar tanggungjawab dalam mendidik anak, namun banyak orangtua yang melalaikannya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap enteng amanah tersebut. Mereka tidak memelihara dengan sebaik-baiknya. Mereka menelantarkan anak-anaknya, mengabaikan pendidikannya, tidak memperhatikan dan tidak mengarahkan mereka.

Begitu melihat benih-benih penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak mereka, mulailah mereka menghardik dan mengeluhkannya. Mereka tidak menyadari, penyebab utama dari kenakalan dan penyimpangan itu adalah kelalaian mereka sendiri. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir;

Dia telah campakkan anak-anaknya ke telaga dengan terbelenggu Lalu berkata,
”jangan sekali-kali engakau basah dengan air!”

Kelalaian dalam mendidik anak banyak sekali bentuk dan ragamnya.Semua bentuk kelalaian itu akan menjadi penyebab penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak.Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah .

1. Membiasakan Anak Memiliki Sifat Penakut dan Tidak Percaya Diri

Diantara kesalahan yang sering terjadi dalam mendidik anak adalah menakut-nakuti mereka saat menangis agar diam. Seperti menakut-nakuti mereka dengan hantu, orang jahat, jin, suara angin dan lain-lain.

Efek negatif dari kesalahan metode ini,yakni menakuti-nakuti mereka dengan guru, sekolah,a tau dokter, maka mereka akan tumbuh dalam bayang-bayang perasaan takut, gemetar dan gelisah jika disebutkan nama-nama tersebut. Ini adalah bentuk ketakutan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Disamping itu, ada hal yang sangat berpengaruh dalam menanamkan sifat pada diri anak, yaitu sikap panik dan gugup orang tua atas sesuatu yang menimpa si anak.

Sebagai contoh, ketika si anak terjatuh dari lantai hingga terluka dan keluar darah pada bagian wajah, tangan atau lututnya. Sang ibu bukannya berusaha menenangkan rasa akut pada anaknya dengan memberikan penegrtian bahwa kecelakaan (jatuh) yang terjadi padanya adalah hal yang biasa dan tidak berbahaya. Tetapi, sang ibu justru telihat gugup dan takut, menampar wajahnya sendiri, atau memukul-mukul dadanya, dan berteriak meminta pertolongan kepada seluruh penghuni rumah.

Sikap seperti ini akan membuat sikap si anak yang mestinya biasa saja atas kejadian tersebut,justru menjadikannya seolah-olah menghadapi masalah yang besar, hingga sang anak semakin keras menangis karena ketakutan ,bukan rasa sakit yang dialami. Dan akhirnya, anak akan terbiasa ketakutan apabila melihat darah atau merasakan sakit. [sym]. Bersambung.
Sumber: Buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Tips Memilih Pasangan Yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Pernikahan mempertemukan sepasang insan dalam ikatan suci. Menjatuhkan pilihan pada calon pasangan merupakan keputusan besar bagi seseorang yang hendak menikah. Bagaimana tidak? Pernikahan merupakan satu langkah awal yang mengubah hidupnya. Kehidupan yang semula dijalani serba sendiri, kemudian hadir sosok lain dalam siang dan malamnya, dengan karakter dan kepribadian yang tentu tidak sama dengan dirinya. Karenanya, sebelum menempuh jenjang ini, seseorang tentu telah melalui tahapan memilih pasangan dan proses ta’aruf (perkenalan) dengan segala liku-likunya.

Kehidupan rumah tangga dapat berjalan harmonis dimulai dari tahap ini, pemilihan calon pasangan yang tepat. Tidak hanya kriteria dunia saja yang masuk dalam poin seleksi, justru keshalihan calon pasangan menjadi syarat utama untuk terwujudnya rumah tangga bahagia.

Terkait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: harta, nasab, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah karena agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari No. 5090)

Landasan agama merupakan prioritas utama dalam pemilihan pasangan jika menginginkan rumah tangga yang bahagia. Karena orang shalih, orang yang paham agama, maka dia akan berusaha menjaga hak-hak Allah dalam pernikahannya. Dan itu artinya, dia akan selalu berusaha menjaga hak dan kewajibannya dalam pernikahan.

Yang seringkali terjadi, seseorang menjatuhkan pilihannya lebih mengutamakan rasa cintanya, kecantikan atau kegantengan, daripada agama pasangannya. Padahal, rasa cinta yang sejati tumbuh setelah memasuki gerbang pernikahan. Cinta yang hadir dari penerjemahan ketertarikan satu sama lain karena interaksi yang begitu intens dalam kehidupan rumah tangga. Cinta yang hadir dari rasa saling mengerti, peduli, dan berbagi. Cinta yang tumbuh untuk mengokohkan ikrar suci pernikahan. Bukan cinta semu, yang dibangun karena nafsu semata.

Itulah mengapa, kita melihat fenomena banyaknya keretakan rumah tangga. Kasus perceraian seperti hal yang wajar-wajar saja, menjamur. Sungguh ironi! Dalam kondisi perkembangan keilmuan dan kehidupan masyarakat yang dibilang moderen ini, kasus kerumahtanggaan justru mencuat tinggi karena salah dalam memilih pasangan. Meningkatnya kasus perceraian menjadi masalah yang cukup memprihatinkan. Padahal Allah dan Rasul-Nya membenci perceraian sekalipun itu hal yang tidak dilarang.

Karenanya, penting untuk diperhatikan dalam memilih calon pasangan, bahwa mengedepankan kebaikan agama merupakan modal besar untuk membangun rumah tangga bahagia. Jangan sampai rumah tangga dibangun dengan calon pasangan yang hanya mengedepankan kriteria dunia semata.

Sejenak mari kita menengok sejarah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Julaibib radhiyallahu anhu. Julaibib adalah seorang sahabat dari kalangan anshar dan termasuk pemuda yang tidak memiliki harta. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai Julaibib karena ketakwaannya. Suatu hari terbesitlah keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahkan Julaibib dengan salah seorang putri sahabat anshar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menemui sahabat tersebut dan menyampaikan keinginannya, “Wahai Fulan, aku ingin meminang putrimu.”

Tanpa berpikir panjang, sahabat anshar tersebut langsung menerima lamaran Rasulullah. Siapa yang tidak mau menjalin hubungan kekerabatan dengan Rasulullah,tentu saja lamaran itu merupakan tawaran yang sangat berharga.”Silahkan wahai Rasulullah,dengan senang hati.”

“Tapi aku meminangnya bukan untuk diriku”, lanjut Rasulullah.

Sahabat anshar pun terkejut mendengar perkataan Rasulullah.”Lantas pinangan ini untuk siapa, wahai Rasulullah?”

“Aku meminang putrimu untuk Julaibib.”

Dengan penuh kebingungan sahabat itu menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah! Tetapi aku harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan ibunya.”

Pergilah sahabat ini menemui istrinya dan menceritakan pinangan Rasulullah. “Wahai, istriku. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang putrimu,”

Dengan girang hati istrinya menjawab, “Aku sangat setuju.”

Akan tetapi Rasulullah tidak meminang untuk dirinya, ” jelas sang suami.

Lantas untuk siapa pinangan itu,” istrinya bertanya dengan keheranan.

Rasulullah meminangnya untuk Julaibib.”

Untuk Julaibib? Tidak! Aku tidak setuju. Jangan engkau nikahkan putri kita dengannya!”

Sahabat anshar ini ternyata enggan memiliki menantu seperti Julaibib yang miskin dan tidak rupawan. Inilah kenyataan yang sering kita temui, sebagian orang tua terkadang lebih mengutamakan dunia daripada agama calon menantunya.

Qadarullah, percakapan suami istri tersebut terdengar oleh putrinya. Dan ketika sang ayah hendak beranjak untuk memberikan jawaban penolakan atas pinangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya bertanya, “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”

Sang ibu kemudian menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meminangnya untuk Jualaibib. Apa jawaban putrinya?

“Wahai ayah dan ibuku, apakah kalian menolak perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tidakkah kalian mendengar firman Allah

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. – al-Ahzâb/33 ayat 36- Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib !”

Mendengar penuturan putrinya, sahabat anshar pergilah menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai, Rasulullah! Aku menerima pinanganmu. Nikahkanlah putriku dengan Julaibib.”

Lihatlah bagaimana sikap wanita shalihah ini menanggapi pinangan yang datang kepadanya. Tidaklah dia melihat peminangnya kecuali dengan pandangan agama. Pemahamannya terhadap agama membuatnya menyadari bahwa rumah tangga yang akan dibinanya hanya bisa tegak kokoh jika dibangun di atas landasan agama dan ketakwaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan,pemilihan calon pasangan yang tepat tidak bisa ditempuh dengan jalan pacaran. Apapun ‘casingnya’, tidak ada kamus pacaran sebelum nikah dalam Islam. Islam agama yang mulia dan menjunjung tinggi kehormatan pemeluknya. Pacaran hanya merupakan media syetan untuk menyesatkan para pemuda dan pemudi agar terjerumus dalam kemaksiatan dan mengantar mereka pada maqam yang hina. Bahkan pacaran ini banyak menjadi sebab pemudi telat menikah.

Beberapa kasus yang penulis temui, tidak sedikit pemudi yang mengeluhkan pacarnya tidak siap ketika diajak menikah. Selalu ada alasan untuk mengulur-ulur waktu. Belum mapanlah, masih ingin melanjutkan studi, kakak ada yang belum nikah, begini dan begitu. Penulis katakan kepada para pemudi itu, “Tinggalkan pacarmu yang pengecut itu.” Yah,bagaimana tidak pengecut? Membuat carut marut hati anak orang dan tidak bertanggung jawab. Dan herannya,kalimat inipun tidak serta merta mematahkan semangat para pemudi untuk tetap setia kepada pacarnya. Kenangan-kenangan manis selalu hadir ketika ingin berpaling, bahkan ketika seorang salih datang melamar pun,mereka masih gamang. Takut tidak bisa mencintai, ragu jangan-jangan pacarnya akhirnya melamar. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Begitulah syetan akan terus memperdaya dan menjerat manusia dalam kesemuan yang jika mereka tidak segera tersadar,mereka akan berhadapan dengan penyesalan yang tiada berakhir.

Karenanya penulis sangat menekankan untuk menghindari pacaran yang jauh lebih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya. Memilih pasangan yang tepat dapat dilakukan dengan perantaraan wasilah atau penghubung yang amanah. Dan tentunya selalu menjaga kelurusan niat serta memohon petunjuk Allah. Dari fenomena yang penulis temui, banyak mereka yang menikah tanpa sebelumnya mengenal pasangannya. Mereka menempuh cara-cara syar’i untuk mendapatkan pasangan, tanpa melalui pacaran, dan alhamdulillah tahun-tahun pernikahan berlalu dengan rumah tangga yang tetap utuh. Di sisi lain, penulis pun menyaksikan mereka yang membangun rumah tangganya dengan pacaran,toh tidak menjamin mereka bebas konflik berat dalam rumah tangga bahkan sampai kepada kasus perselingkuhan. Hanya kepada Allah kita bertawakal.

#ummisanti

Komunikasi Efektif Pasutri

Urgensi Komunikasi Positif Pasutri

Urgensi Komunikasi Positif Pasutri

Kehidupan berumah tangga merupakan tema yang tak akan kunjung habis dikupas dan dibahas. Kehidupan yang dibangun oleh dua insan dengan segala keunikannya ini, mempunyai seni dan rasa yang tidak selalu sama dari setiap keluarga yang ada. Bahkan bisa jadi, setiap rumah tangga mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri.

Kehidupan berumah tangga merupakan satu nikmat yang tidak ternilai dari Allah kepada hamba-Nya. Betapa tidak semua orang dapat merasakan nikmat yang satu ini. Ada saja di antara kita yang barangkali masih harus sabar menunggu seseorang yang bisa diajaknya mengarungi bahtera rumah tangga. Karenanya, pantaslah bagi Anda yang sudah dianugrahi kehidupan berumah tangga untuk melantunkan syukur dalam bait kata dan sikap. Supaya dengan ungkapan syukur itu limpahan nikmat dan keberkahan semakin melingkupi kehidupan rumah tangga yang sedang Anda jalani bersama pasangan.

Setiap kita tentunya mengharapkan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh kemesraan dengan pasangan. Hanya saja adakalanya kita melakukan hal yang tidak sejalan dengan apa yang menjadi keinginan kita. Kita menginginkan rumah tangga yang harminis tapi justru waktu dan pikiran kita banyak tersita untuk orang lain. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi yang ada saat ini seringkali membuat orang terlena dan hubungannya dengan orang terdekat menjadi garing tanpa disadari.

Satu hal yang acapkali luput dari perhatian pasutri adalah pentingnya membangun komunikask positif dengan pasangan. Sebagai terapis, tidak jarang, bahkan bisa dibilang sering, saya bertemu dengan mitra terapi dengan berbagai macam keluhan, yang ujung-ujungnya disebabkan karena hubungan yang kurang baik dengan pasangan. Penyebab utamanya adalah tidak terbangunnya komunikasi sehat di antara pasutri tersebut.

Terkadang kita menginginkan pasangan kita begini dan begitu, jangan ini dan itu. Tetapi, itu hanya terungkap dalam hati. Lalu, bagaimana mungkin pasangan kita bisa mendengar dan memahaminya? Atau juga, ada yang sudah berusaha menyampaikan keluhan dan masukannya tapi dengan bahasa kritikan, menggurui, atau tidak dalam situasi yang pas. Yah, tentu saja cara seperti ini bisa membuat persoalan menjadi makin runyam.

Karenanya, cobalah untuk membuka komunikasi positif dengan pasangan. Jangan setiap kekesalan dipendam sendiri, pun jangan diluapkan asal-asalan kepada pasangan. Belajarlah memahami karakter pasangan Anda, dan cari cara supaya Anda dan pasangan bisa bercengkrama serta berbincang asyik tentang banyak hal.

Anda sibuk? Ya, saya memaklumi itu. Akan tetapi, jangan sampai kesibukan itu membuat hambar hubungan Anda dengan pasangan. Jangan sampai kesibukan Anda dan pasangan menjadi alasan untuk membiarkan kondisi rumah tangga berjalan apa adanya tanpa perbaikan hubungan. Jangan sampai kesibukan Anda membuat magnet di hati Anda memudar energinya untuk tarik menarik dengan hati pasangan.

Banyak kesempatan kecil di sela kesibukan yang bisa Anda gunakan untuk menjalin komunikasi dan kemesraan dengan pasangan. Jangan biarkan detik-detik berharga bersama pasangan tenggelam begitu saja dalam kelelahan Anda setelah seharian berjibaku dengan padatnya pekerjaan.

Selepas santan malam, menjelang tidur, di sepertiga malam, bangun tidur, di meja makan, di waktu-waktu senggang, akhir pekan. Banyak kesempatan. Jadikan akhir pekan Anda sebagai sarana untuk bernagi rasa dengan pasangan. Enyahkan sejenak gadget dari tangan Anda. Biarkan tidak ada jarak antara aku dan kamu. Biarkan kebersamaan itu tidak tersemukan oleh aktivitas medsos. Hadirlah sepenuhnya dengan jiwa dan raga Anda. Jangan sampai Anda sedang bersama pasangan tapi justru selalu sibuk menundukkan kepala menekan tuts android Anda.Terasa ada tapi tiada. Bersama tapi hampa. Garing. Hal seperti ini yang seringkali luput dari perhatian pasangan pasutri.

Ajaklah pasangan Anda bicara dari hati ke hati. Bicaralah tentang banyak hal. Tentang aku dan kamu. Tentang hati dan rasa cinta. Beri perhatian kecil kepada pasangan meski terkesan sepele. Jangan menganggap enteng sebuah perhatian kecil karena energinya sungguh luar biasa.

“Pasangan saya bukan tipe romantis.” So what? Lalu apa masalahnya? Justru itu tantangan bagi Anda untuk menaklukkan hatinya. Yang seringkali terjadi, ketika mendapati pasangan tidak merespon keromantisan yang Anda lemparkan, Anda langsung surut mundur ke belakang. Enggan berinovasi untuk membuat pasangan merespon umpan Anda. Anda lebih sering bermain dengan pikiran sendiri. “Malu lah sudah merajuk, sudah berkata-kata mesra responnya datar-datar saja. Gengsi ah.” Anda lama-lama akan menyesal ketika mendapati kehidupan rumah tangga Anda semakin senyap dari canda tawa dan bujuk rayu. Yakinlah, pasangan bisa menjadi romantis dengan Anda terus melempar umpan. Membangun sinyal-sinyal cinta dengan bahasa tubuh dan ungkapan kata. Ini termasuk seni berkomunikasi yang efektif untuk menguatkan bangunan cinta Anda dengan pasangan.

Ketika ada perselisihan, adakalanya pasutri tidak saling membuka diri, menggerutu di belakang, memendam rasa, mencari pelarian. Bukannya mengajak pasangan berdiskusi justru mengeluhkan persoalan ke orang lain. Ini bukan solusi, bahkan bisa jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Kenapa Anda berpikir bahwa pasangan Anda tidak bisa diberi masukan dan saran? Nda perlu sejenak untuk introspeksi. Sudah tepatkah cara yang Anda lakukan? Adakalanya kebaikan itu tertolak bukan karena kebaikannya, tapi cara penyampaian yang kurang tepat. Karenanya, mari lebih dekat dengan pasangan kita. Pahami betul karakternya dan lakukan cara-cara untuk membangun komunikasi dua arah yang hangat, tidak menghakimi, tidak menggurui, penuh cinta dan kemesraan. Dan jangan lupa bangun komunikasi yang kuat dengan pemilik hati pasangan Anda. Agar keberkahan dari langit mewarnai jalinan cinta Anda dan dimudahkan bagi Anda membangun komunikasi dengan pasangan. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam rumah tangga Anda.

#ummisanti