Disertasi UIN SUKA Halalkan Sex di Luar Nikah, Ustadz Zaitun: Innalillah, Ini Musibah

Abdul Aziz dan disertasinya yang bolehkan hubungan sex di luar nikah. Photo;Mediasuara.com

Wahdahjakarta.com -, Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memandang lulusnya disertasi Abdul Aziz di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta yang menghalalkan hubungan sex di luar nikah sebagai musibah.

“Kita di MUI dan ormas Islam pertama menyikapi disertasi ini dengan ucapan innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, ujarnya mengawali perbincangan tentang disertasi tersebut di Talkshow Indonesia Pagi TvOne, Ahad (01/09/2019).

Anehnya Abdul Aziz  justru merasa disertasinya bisa menjadi solusi mengatasi problem diskriminasi dan pelanggaran HAM. Ia berdalih, hubungan sex yang dihalalkan dalam Al-Qur’an ada dua. Hubungan sex dengan pasangan yang sah dan diikatboleh pernikahan dan hubungan sex dengan milk al-yamin, yang oleh Aziz diistikahkan dengan sex non marital.

Disertasi Abdul Aziz berjudul Milk Al Yamin: Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital. Dia menggunakan konsep Milk Al-Yamin dari intelektual liberal asalSuriah,  Muhammad Syahrur, yang menyatakan seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat Islam.

Aziz  menyebut bahwa sering terjadi kriminalisasi terhadap hubungan seksual nonmarital. Aziz pun tak luput memberi beberapa contoh kasus dalam pelaksanaan hukum yang  kemudian berujung kepada hukuman mati terhadap pelaku.

“Contoh kasus yang mengerikan itu tadi, hukuman mati karena dituduh zina seperti kasus di Aceh tahun 1999 dan di Ambon tahun 2001. Semua itu karena mereka memakai hukum Islam tapi menganggap hubungan seksual nonmarital itu masuk kelompok hubungan zina yang bisa dirajam.” papar Aziz.

“Memang di Al Qur’an ada ayat yang menjelaskan mengenai zina, tetapi definisi zina kan tidak ada itu.” ungkapnya.

Wasekjen MUI ini menanggapi hal tersebut dengan menyayangkan pendapat Aziz. Menurut beliau, pembahasan definisi zina itu di kalangan para ulama sudah selesai dan masyarakat awam pun sudah tahu secara lumrah makna sebenarnya dari zina.

“Kalau definisi zina gak ada, saya tidak tahu kalau seorang doktor bicara begitu, pembahasan zina di kalangan para ulama itu sudah selesai. Bahkan orang-orang baru belajar Islam pun sudah tahu.” ujar UZR.

UZR menyebut bahwa persoalan tersebut terlalu sering disamarkan dengan istilah-istilah asing yang membuatnya kurang dipahami oleh masyarakat awam.

“Persoalan ini yang sebetulnya agak disamar-samarkan dan tidak diterjemahkan, kenapa tidak dijelaskan makna sebenarnya mengenai seks bebas di luar pernikahan? inilah yang kami sayangkan di zaman kita ini.” tanggap Ustadz Zaitun.

“Milkul Yamin itu artinya perbudakan, bukan komitmen seperti yang disebutkan oleh pak Abdul Aziz dan Syahrur juga. Milkul Yamin itu datang sebelum adanya Islam, dimana budak dianggap sebagai hak milik dan dilegalkan untuk melakukan perzinahan dengan budak tersebut. Namun setelah Islam datang, maka hal itu dihapuskan dengan menyempitkan persepsi itu dan membebaskan para budak.” jelas UZR.

“Ini yang tidak diterjemahkan, tiba-tiba Milkul Yamin itu dibawa kepada istilah hubungan seksual yang dilakukan secara komitmen suka sama suka diluar pernikahan. komitmen apa itu?” tangkas UZR lagi. “Kalau itu bilang saja sex bebas”, tegasnya.

Menurut UZR, penyamaran istilah seperti itu adalah sebuah musibah besar apalagi untuk masyarakat awam, karena perzinahan adalah persoalan yang langsung ditentang dalam ayat dalam Al Qur’an.

“Orang berzina saja itu sudah musibah, apalagi berzina dan merasa itu boleh, itu adalah musibah yang adzhom, dan para ulama dan tokoh harus berbicara, ini tidak boleh berlanjut sampai kemudian diamalkan.” tegas UZR.

Kemudian UZR berpesan mengenai penghalalaan hubungan seksual pra-nikah bahwa masyarakat harus takut akan kedatangan musibah sebagai dampaknya.

“Takutlah kita akan kedatangan musibah. Kalau alasan, semua orang bisa cari pembenaran. Ini adalah perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam.” pesan UZR.(fry)

Kyai Cholil Nafis  Pertanyakan Alasan Logis  Kampus Islam Yang Larang Mahasiswi Kenakan Cadar

KH. Cholil Nafis, Photo: Youtube

Kyai Cholil Nafis  Pertanyakan Alasan Logis  Kampus Islam Yang Larang Mahasiswi Kenakan Cadar

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Cholil Nafis mempertanyakan alasan logis kampus Islam Negeri yang menetapkan aturan larangan mengenakan cadar bagi mahasiswinya.

Menurutnya cadar merupakan masalah khilafiyah yang masing-masing berhak memilih dan mempedomani pendapat yang dianggap kuat, namun tetap menghargai pendapat lain. Sebaliknya, yang memilih memakai cadar tidak boleh dicela apalagi dilarang.  “Jadi dalam ranah fikih khilafiyah boleh memilih dalil yang dianggap kuat untuk dipedomani. Namun tetap menghormati perbedaan pendapat yang dianggap kuat dan dirasa lebih maslahah oleh orang lain sehingga tidak tepat mencela apalagi melarangnya seperti di UIN jogja”, ujarnya.

Meski secara pribadi Kyai Cholil memilih Fatwa Ulama Al-Azhar yang menyimpulkan bahwa wajah dan telapak tangan bukan aurat yang wajib ditutupi, namun beliau memandang pelarangan cadar sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kebhinekaan.  “Pertanyaannya, mana letak kebhinnekaan kita? mana letak nalar logik kampus Islam negeri Indonesia”,  tanya Kyai Cholil.

Mantan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) ini juga mempertanyakan alasan radikalisme dan kesopanan sebagai dasar pelarangan cadar dalam lingkup UIN SUKA. “Kalau radikalisme menjadi alasan pelarangan niqab/cadar tentu perlu dibuktikan hasil researchnya, kalau karena kesopanan di kampus mana tak sopan dengan yang super ketat dan transparan”, pungkasnya.   [sym].