Aksi menggugah dari kaum Muslimin Indonesia

Aksi menggugah dari kaum Muslimin Indonesia

Salah Seorang Relawan Membagikan Makan Kepada Peserta Reuni 212

Jakarta, WahdahJakarta.com – Pagi ini Ahad (2/12/2018) sama seperti dua tahun sebelumnya kaum Muslimin Indonesia menggelar Reuni Akbar Alumni 212 yang menggugah Ukhuwah Islamiyah bagi seluruh kaum Muslimin di Indonesia.

Bagi peserta Reuni Akbar Alumni 212 yang ada di sekitaran Monumen Nasional (Monas) DKI Jakarta, Ahad (2/12/2018), hari ini, Anda tak perlu khawatir kelaparan, sebab sejumlah relawan telah menyiapkan posko yang khusus menyedikan makanan dan snack gratis.

Posko itu tersebar di dalam dan di luar lokasi acara yang siap meladeni jamaah tanpa membutuhkan persyaratan apapun. Semuanya dilakukan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti Subuh tadi, para relawan bagi-bagi sarapan gratis itu telah bereaksi, menghadang dan menawarkan makanan kepada setiap peserta yang lewat. Nampak beberapa orang ibu-ibu mengenakan topi bertuliskan kalimat relawan logistik membagi-bagikan sarapan  gratis kepada para peserta reuni alumni 212.

Beberapa hari sebelumnya, para peserta telah diimbau untuk mempersiapkan sejumlah keperluan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan saat pelaksanaan reuni berlangsung, di antaranya imbauan untuk membawa satu jas hujan dikarenakan cuaca sering hujan, kemudian kantong plastik untuk menyimpan telepon seluler, dompet dan barang-barang yang lainnya, serta makanan ringan plus sebotol air mineral, dan perlengkapan shalat.

[pilarindonesia.com/wahdahjakarta.com]

Penguatan Ukhuwwah Untuk NKRI yang Berkeadilan, Maju, dan Beradab

Kita yakin bahwa dengan dukungan dan kerja sama semua pihak, ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dapat diwujudkan, sehingga cita-cita kita bersama mewujudkan Republik Indonesia yang berkeadilan, maju, dan beradab akan dapat direalisasikan.

Dewan Pertimbangan MUI KH. Didin Hafidhuddin pada pembukan Rakernas IV MUI di Raja Ampa Papua Barat, Kamis

Penguatan Ukhuwah Untuk NKRI yang Berkeadilan, Maju, dan Beradab

(Disalin dari artikel KH. Didin Hafidhuddin di Republika.co.id)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja selesai melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2018 pada 22 hingga 24 November 2018 kemarin, bertempat di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Tema yang diusung adalah “Memperteguh Ukhuwwah Islamiyyah dan Ukhuwwah Wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.

Sungguh tema ini sangat penting untuk selalu kita bahas dan berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian kita karena hanya dengan ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah akan melahirkan kekuatan untuk membangun bangsa dan negara yang kita cintai ini. Tanpa ukhuwah, tidak mungkin kita bisa membangun bangsa dan negara secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan. Tanpa ukhuwah, yang terjadi adalah kelemahan dan pertentangan antara satu dan yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS al-Anfal (8) ayat 46:

 “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal [8]: 46).

Juga firman-Nya dalam QS Ali Imran (3) ayat 103:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapatkan petunjuk.”

Dalam Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI Oktober 2015/Shafar 1436 H yang dihadiri, di samping para pengurus juga semua pimpinan pusat ormas-ormas Islam se-Indonesia, telah berhasil menyampaikan pesan penguatan ukhuwwah Islamiyyah dalam bentuk ethical code of conduct (kode etik) agar bisa dijadikan pedoman praktis bagi umat Islam secara keseluruhan.

Kita yakin bahwa dengan dukungan dan kerja sama semua pihak, ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dapat diwujudkan, sehingga cita-cita kita bersama mewujudkan Republik Indonesia yang berkeadilan, maju, dan beradab akan dapat direalisasikan.

Apalagi, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki rasa empati, simpati, dan rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi. Bahkan, World Giving Indeks tahun 2018 telah menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia, mengalahkan Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Irlandia. Ini merupakan modal yang sangat besar dalam membangun bangsa dan negara sekarang maupun pada masa mendatang.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan rahmat, karunia, dan pertolongan-Nya kepada kita semuanya dalam melaksanakan tugas kebangsaan sekaligus keumatan yang sangat mulia ini.Wallahua’lam bisshawab. (KH. Didin Hafidhuddin/Republika.co.id).

Rakernas IV MUI di Raja Ampat Perteguh Penguatan Ukhuwah

Wakil Dewan Pertimbangan MUI KH. Didin Hafidhuddin pada pembukan Rakernas IV MUI di Raja Ampa Papua Barat, Kamis (22/11/2018) 

(Raja Ampat) wahdahjakarta.com— Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkomitmen serius untuk menguatkan prinsip ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam) dan persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah) menjelang Pemilihan Umum  (Pemilu) 2019.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV MUI di Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (22/11) malam.

Kiai Ma’ruf mengingatkan, jangan sampai Pemilu 2019 justru dijadikan ajang bermusuhan dan menghalalkan semua cara. Perbedaan pilihan dalam pemilu ke depan jangan sampai membuat sesama anak bangsa saling bertikai. “Jadi kita harus hormati dan toleransi perbedaan dalam pilihan pileg atau pilpres,” tutur dia.

Sebagai upaya konkret, kata dia, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak terkait untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga ukhuwah. Bagaimanapun Indonesia mempunya modal yang kuat yaitu keutuhan bangsa. “Jangan sampai urusan pemilu yang lima tahunan itu rusak keutuhan bangsa,” kata dia.

Kiai Ma’ruf juga mengingatkan, rusaknya persatuan bangsa yang berujung konflik hanya akan merugikan diri sendiri. Risiko yang dipertaruhkan sungguh besar. Jika konflik sudah meletus, sulit sekalil menghentikan seperti yang terjadi di Timur Tengah dan Afghanistan.

Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf mengatakan, persoalan di atas termasuk sekian tugas dan kewajiban MUI terhadap umat. Melindungi (himayat) umat adalah menjaga dan melindungi umat dari paham yang sesat dan menimbulkan perpecahan, dan terus berupaya menyatukan umat (tauhidul ummah).

Selain itu, kata dia, MUI juga melakukan berbagai hal lain untuk melindungi umat dari muamalah yang tidak sesuai dengan syariah, makanan yang meragukan kehalalannya.  “Saat ini ekonomi syariah diyakini mampu menjadi pilar penting penyangga pembangunan nasional, “

Dia menjelaskan, MUI juga sudah melakukan inisiasi dalam menggelindingkan pendekatan baru dalam ekonomi nasional. Pendekatan pembangunan ekonomi nasional yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi lemah yang dimitrakan dengan pemilik modal besar.

Pendekatan baru, lanjut Kiai Ma`ruf, itu disebut Era Baru Ekonomi Nasional. Ke depan, era baru ekonomi nasional tersebut diharapkan dapat terus digalakkan, sehingga dapat menciptakan pemerataan ekonomi yang lebih berkeadilan.

“Diharapkan disparitas ekonomi yang saat ini dirasakan, perlahan bisa dikikis, “ kata Kiai Ma`ruf.

Wakil Dewan Pertimbangan MUI, Prof Didin Hafidhuddin, juga sangat mendukung tema  Peneguhan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah. “Tema ini perlu untuk diimplementasikan dalam keseharian dalam berorganisasi di MUI,“ kata Didin.

Kedua ukhuwah ini, menurut Didin, memiliki potensi besar dan kekuatan dahsyat untuk membangun bangsa dan negara ini.

Rakernas IV MUI di Raja Ampat resmi dibuka oleh Dominggus Mandacan, Gubernur Papua Barat dan dihadiri Wakil Gubernur Papua Barat, Bupati dan Wakil Bupati Raja Ampat, Kapolda Papua Barat, Danrem 171, dan Kodam Cendrawasih. (mui.or.id)

Aksi Simpatik Wahdah Islamiyah Depok Untuk Korban Gempa Palu – Donggala

Wahdah Islamiyah Depok Galang Dana Untuk Korban Gempa Palu
(Depok) wahdahjakarta.com- Sebagai wujud kepedulian kepada korban gempa Palu dan Dongala, Sulawesi Tengah, LAZIS Wahdah bersinergi dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Depok dan Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Depok menggalang donasi melalui “Aksi Simpatik”, Ahad (30/09/2018).
Menurut tim media Lazis Wahdah Jakarta, aksi simpatik penggalangan donasi #peduligempasulteng ini merupakan bentuk layanan kemudahan kepada masyarakat pengguna jalan raya untuk berdonasi ke Palu – Donggala.
Aksi yang berlangsung pada pukul 14.15 s/d 17.15 WIB ini berlokasi di Jl. Raya Bogor – Jakarta, Cimanggis, Depok (Simpangan Pasar Pal). Bertindak sebagai komando lapangan (korlap), Ustadz Arofah Syarifuddin selaku Ketua DPD WI Depok. Turut hadir dalam aksi ini Ustadz Jayadi Hsan (Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah DKI Jakarta – Depok) dan Ustadz Anas Syukur, Lc (Ketua DPD WI Jaksel) .


Aksi simpatik ini mendapat respon yang positif dari pengendara baik roda dua maupun roda empat. Hal ini ditandai dengan banyaknya yang berdonasi untuk berbagi walaupun sedikit dengan warga Palu – Donggala yang saat ini sedang merana; ditinggal oleh keluarga tercinta, rumah mereka hancur.
“Mereka sedang diuji menerima semua ini, kita pun juga diuji. akankah kita rela berkorban harta, jiwa, dan raga untuk mereka”? ( Rudisa Putra/sym)

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Nasehat KH Didin Hafidudin Kepada Ustadz Abdul Somad

Nasehat Kyai Didin Hafidhuddin Kepada Ustadz Abdul Somad

(Bogor-Wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Badan Koordinasi Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pernah dimintai nasihat oleh Ustaz Abdul Somad yang saat ini sedang fenomenal dan digandrungi banyak jamaah.

Kyai Didin bercerita, nasihat tersebut diminta ketika Ustaz Somad meneleponnya saat hendak berceramah di Masjid Az Zikra Sentul, Bogor.

“Saya pernah ditelepon Ustaz Abdul Somad, beliau mengatakan, Kyai apa nasihat untuk saya? saya katakan, Ustaz terus istiqomah dalam berdakwah untuk mempersatukan umat,” cerita Kyai Didin saat berceramah dalam Tabligh Akbar di Masjid Al Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Sabtu (30/12).

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad adalah sosok yang tepat sebagai tokoh pemersatu umat. “Karena sekarang ini, figur untuk mempersatukan umat itu figur yang jarang,” kata Kyai Didin sebagaimana dilansir dari Suaraislamonline.com.

Oleh karena itu, kata Kyai yang juga Dekan Fakultas Pasca Sarjana UIKA ini , kehadiran Ustaz Somad perlu kita sambut untuk persatuan umat Islam. “Karena untuk membangun NKRI itu modalnya persatuan umat Islam,” jelasnya.

Dalam menjaga persatuan, ia berpesan untuk tidak mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti soal khilafiyah. Menurutnya, semua kelompok maupun organisasi harus bersatu-padu membangun negeri.

“Apapun organisasinya, itu aset umat. Ada NU, ada Muhammadiyah, ada Persis, PUI, Wahdah, FPI yang luar biasa amar makruf nahi mungkarnya, LDK dan lainnya, semua harus bersatu,” tandas Kyai Didin. [ed:sym]

Tim Kebersihan Reuni Akbar 212

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Jakarta – Reuni 212 Sabtu (02/12) telah usai gegap gempita dihadiri sekitar 1 Jutaan orang. Alhamdulillah, atas izin Allah Monumen Nasional (Monas) kembali telah bersih bebas dari sampah.

” Bagus kalau setiap acara besar yang diselenggarakan di Monas harusnya bersih seperti ini”. ujar salah seorang peserta reuni.

Dikabarkan bahwa sampah bekas acara Reunian 212 ini memang sudah di koordinir dengan pihak dinas kebersihan Kota Jakarta bekerjasama dengan relawan dari penyelenggara. Para relawan tidak sedikit yang kemudian disebar di berbagai titik lapangan, disamping juga atas kesadaran dari para peserta sendiri untuk mengumpulkan sampah yang berserakan, sehingga sampah dapat terlokalisir tidak berserakan.(RH).

Relawan Transmitter Suara

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Gawean besar Reuni 212 di Monas ini perlu jasa tim relawan khusus yg berpengalaman mengurus tata suara sound system.
Hal ini dibutuhkan agar seluruh rangkaian acara dan pesan-pesan dari para ulama di panggung dapat diterima dg jelas dan baik oleh seluruh massa yang membludak dari segala penjuru.

Adalah Yusuf 44 tahun seorang pedagang alat-alat listrik yg tinggal di jl Kenari menjadi salah satu Tim Relawan Sound Reunian 212.

Menurut ayah dari 2 orang anak ini, pkerjaan sound ini menggunakan tenaga genset berbahan bakar bensin yg butuh 4 liter untuk durasi 3-4jam. Ada 16 titik sound yg kekuatannya mampu menjangkau 6 km dari panggung utama.

Tim relawan ini menggunakn 8 mobil pick up transmitter yg disebar di titik terjauh dan sisanya menggunakan scaffolding di sekitar area yg lbh dekat dengan panggung. Sumber dana diperoleh dari masyarakat perorangan bukan dari lembaga.

Harapan Yusuf terlibat menjadi relawan agar masyarakat yang antusias hadir namun tidak mampu menjangkau panggung utama tetap dapat mengikuti acara dg baik dan dapat mendengarkan pesan dan tausiyah dari para ulama. Sehingga semangat persatuan dan kebangkitan umat terus bergelora dan membekas di hati mereka.

Semoga jerih payah Pa Yusuf dan Tim menjadi ladang amal jariah di akhirat, sehingga gelora 212 terus menyala. Mari bahu membahu berkontribusi untuk umat dengan apa yg kita bisa.(RR).

UBN Mengisi Reuni Akbar 212

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ketua GNPF Ulama Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) memberikan tausiyah pada acara Reuni Akbar 212, konsolidasi akbar yang didukung berbagai komponen umat Islam. Reuni dilaksanakan di Monas, Jakarta pada hari Sabtu (2/12/2017).

Ketua GNPF Ulama yang kerap disapa UBN ini menyimpulkan penyebab perpecahan yang selama ini terjadi, berakar pada 2 hal, yaitu : jauhnya umat dari Al Qur’an dan adanya pengelompokan-pengelompokan terhadap umat Islam.

Untuk kasus yang pertama, beliau menyindir masih banyak yang tidak sholat subuh berjama’ah dan mendahulukan membaca Whatsapp dibanding Al Qur’an.

Yang kedua adalah masih adanya gesekan dalan internal umat Islam dikarenakan beberapa perbedaan, seperti organisasi, madzhab, dll.

“Demi Allah, tidak pernah ada di hati saya bahwa NU, Anshor dan Banser melarang saya ceramah. Yang ada adalah karena saya yang jarang silaturahim kepada mereka,” tegasnya.

Berikutnya beliau mengajak agar umat Islam tidak membuka kembali luka sejarah. “Pernah ada luka sejarah di masa lalu. Masyumi pernah kecewa dengan NU, dan NU kecewa dengan Masyumi. Itu adalah ijtihad para pendahulu kita,” kata beliau.

“Kini kita umat Islam perlu membuat ijtihad baru, yaitu bersatunya semua kekuatan Islam baik yang tradisional maupun modernis di Indonesia. Hilangkan syak wasangka, lupakan luka sejarah. Kita menatap masa depan Islam yang baru di Indonesia”, lanjutnya.

Persatuan perlu terus diupayakan karena ada pihak-pihak yang ingin agar umat terus berseteru.

“Mereka, musuh agama dan negara, tidak peduli kamu ini bajunya putih atau hijau, tidak perduli kamu NU atau Muhammadiyah, mereka tidak peduli bangsa negara ini hancur. Yang mereka mau adalah kita umat berpecah belah, bawa lari kekayaan Indonesia yg luar biasa ini,” pungkasnya. [ibw]

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

 

Denpasar (Wahdahjakarta.com)- Wahdah Islamiyah (WI) Bali menggelar tabligh akbar bertajuk “Menjalin Persatuan dalam Perbedaan” hari Ahad (26/11/2017). Acara bertempat di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, Bali dengan menghadirkan ketua Umum WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pembicara.

Ustadz Zaitun menyampaikan bahwa salah satu cara menjaga iman adalah dengan memelihara persaudaraan dan persatuan. Sebab, persaudaraan dan persatuan adalah bagian dari iman.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan banyak alasan mengapa kita mesti bersatu. Salah satunya, karena kita akan lemah jika sendirian dan sebaliknya, akan menjadi kuat jika bersatu. Begitulah sifat iman menurut beliau.

Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan bersatu. Kita adalah umat yang telah Allah tetapkan sebagai saudara, sepanjang kita beragama Islam. Meskipun berbeda mazhab, organisasi, suku, warna kulit, bahasa, dll.

Menurut beliau, iman akan melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan akan menghasilkan kekuatan jika sesama muslim saling menolong. “Dengan iman yang ada pada setiap mukmin, akan mendorong satu sama lain saling menasihati dan saling menolong”, ungkap beliau.

Dalam hal menolong orang lain, tidak hanya menolong ketika ada yang terzhalimi, tapi juga harus menolong orang yang menzhalimi. Caranya dengan menasihatinya agar berhenti dari kezhaliman tersebut.

Dalam hal menjaga keharmonisan persaudaraan ini, kita memerlukan ketegasan agar kezhaliman tidak berlanjut. Sekali lagi, menurut beliau, tujuan utamanya adalah untuk menghentikan kezhaliman. Bukan untuk menyakiti sesama saudara.

Kajian berlangsung khidmat hingga akhir dengan jamaah yang membludak. Masjid Baitul Makmur ini terkenal dengan jamaah shalat subuhnya, lebih dari 1000 orang jamaah setiap hari. []