Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.

Nasehat KH Didin Hafidudin Kepada Ustadz Abdul Somad

Nasehat Kyai Didin Hafidhuddin Kepada Ustadz Abdul Somad

(Bogor-Wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Badan Koordinasi Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pernah dimintai nasihat oleh Ustaz Abdul Somad yang saat ini sedang fenomenal dan digandrungi banyak jamaah.

Kyai Didin bercerita, nasihat tersebut diminta ketika Ustaz Somad meneleponnya saat hendak berceramah di Masjid Az Zikra Sentul, Bogor.

“Saya pernah ditelepon Ustaz Abdul Somad, beliau mengatakan, Kyai apa nasihat untuk saya? saya katakan, Ustaz terus istiqomah dalam berdakwah untuk mempersatukan umat,” cerita Kyai Didin saat berceramah dalam Tabligh Akbar di Masjid Al Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Sabtu (30/12).

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad adalah sosok yang tepat sebagai tokoh pemersatu umat. “Karena sekarang ini, figur untuk mempersatukan umat itu figur yang jarang,” kata Kyai Didin sebagaimana dilansir dari Suaraislamonline.com.

Oleh karena itu, kata Kyai yang juga Dekan Fakultas Pasca Sarjana UIKA ini , kehadiran Ustaz Somad perlu kita sambut untuk persatuan umat Islam. “Karena untuk membangun NKRI itu modalnya persatuan umat Islam,” jelasnya.

Dalam menjaga persatuan, ia berpesan untuk tidak mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti soal khilafiyah. Menurutnya, semua kelompok maupun organisasi harus bersatu-padu membangun negeri.

“Apapun organisasinya, itu aset umat. Ada NU, ada Muhammadiyah, ada Persis, PUI, Wahdah, FPI yang luar biasa amar makruf nahi mungkarnya, LDK dan lainnya, semua harus bersatu,” tandas Kyai Didin. [ed:sym]

Tim Kebersihan Reuni Akbar 212

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Reuni Akbar 212, yang Tersisa Hanya Bersih!

Jakarta – Reuni 212 Sabtu (02/12) telah usai gegap gempita dihadiri sekitar 1 Jutaan orang. Alhamdulillah, atas izin Allah Monumen Nasional (Monas) kembali telah bersih bebas dari sampah.

” Bagus kalau setiap acara besar yang diselenggarakan di Monas harusnya bersih seperti ini”. ujar salah seorang peserta reuni.

Dikabarkan bahwa sampah bekas acara Reunian 212 ini memang sudah di koordinir dengan pihak dinas kebersihan Kota Jakarta bekerjasama dengan relawan dari penyelenggara. Para relawan tidak sedikit yang kemudian disebar di berbagai titik lapangan, disamping juga atas kesadaran dari para peserta sendiri untuk mengumpulkan sampah yang berserakan, sehingga sampah dapat terlokalisir tidak berserakan.(RH).

Relawan Transmitter Suara

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Gawean besar Reuni 212 di Monas ini perlu jasa tim relawan khusus yg berpengalaman mengurus tata suara sound system.
Hal ini dibutuhkan agar seluruh rangkaian acara dan pesan-pesan dari para ulama di panggung dapat diterima dg jelas dan baik oleh seluruh massa yang membludak dari segala penjuru.

Adalah Yusuf 44 tahun seorang pedagang alat-alat listrik yg tinggal di jl Kenari menjadi salah satu Tim Relawan Sound Reunian 212.

Menurut ayah dari 2 orang anak ini, pkerjaan sound ini menggunakan tenaga genset berbahan bakar bensin yg butuh 4 liter untuk durasi 3-4jam. Ada 16 titik sound yg kekuatannya mampu menjangkau 6 km dari panggung utama.

Tim relawan ini menggunakn 8 mobil pick up transmitter yg disebar di titik terjauh dan sisanya menggunakan scaffolding di sekitar area yg lbh dekat dengan panggung. Sumber dana diperoleh dari masyarakat perorangan bukan dari lembaga.

Harapan Yusuf terlibat menjadi relawan agar masyarakat yang antusias hadir namun tidak mampu menjangkau panggung utama tetap dapat mengikuti acara dg baik dan dapat mendengarkan pesan dan tausiyah dari para ulama. Sehingga semangat persatuan dan kebangkitan umat terus bergelora dan membekas di hati mereka.

Semoga jerih payah Pa Yusuf dan Tim menjadi ladang amal jariah di akhirat, sehingga gelora 212 terus menyala. Mari bahu membahu berkontribusi untuk umat dengan apa yg kita bisa.(RR).

UBN Mengisi Reuni Akbar 212

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ketua GNPF Ulama Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) memberikan tausiyah pada acara Reuni Akbar 212, konsolidasi akbar yang didukung berbagai komponen umat Islam. Reuni dilaksanakan di Monas, Jakarta pada hari Sabtu (2/12/2017).

Ketua GNPF Ulama yang kerap disapa UBN ini menyimpulkan penyebab perpecahan yang selama ini terjadi, berakar pada 2 hal, yaitu : jauhnya umat dari Al Qur’an dan adanya pengelompokan-pengelompokan terhadap umat Islam.

Untuk kasus yang pertama, beliau menyindir masih banyak yang tidak sholat subuh berjama’ah dan mendahulukan membaca Whatsapp dibanding Al Qur’an.

Yang kedua adalah masih adanya gesekan dalan internal umat Islam dikarenakan beberapa perbedaan, seperti organisasi, madzhab, dll.

“Demi Allah, tidak pernah ada di hati saya bahwa NU, Anshor dan Banser melarang saya ceramah. Yang ada adalah karena saya yang jarang silaturahim kepada mereka,” tegasnya.

Berikutnya beliau mengajak agar umat Islam tidak membuka kembali luka sejarah. “Pernah ada luka sejarah di masa lalu. Masyumi pernah kecewa dengan NU, dan NU kecewa dengan Masyumi. Itu adalah ijtihad para pendahulu kita,” kata beliau.

“Kini kita umat Islam perlu membuat ijtihad baru, yaitu bersatunya semua kekuatan Islam baik yang tradisional maupun modernis di Indonesia. Hilangkan syak wasangka, lupakan luka sejarah. Kita menatap masa depan Islam yang baru di Indonesia”, lanjutnya.

Persatuan perlu terus diupayakan karena ada pihak-pihak yang ingin agar umat terus berseteru.

“Mereka, musuh agama dan negara, tidak peduli kamu ini bajunya putih atau hijau, tidak perduli kamu NU atau Muhammadiyah, mereka tidak peduli bangsa negara ini hancur. Yang mereka mau adalah kita umat berpecah belah, bawa lari kekayaan Indonesia yg luar biasa ini,” pungkasnya. [ibw]

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

 

Denpasar (Wahdahjakarta.com)- Wahdah Islamiyah (WI) Bali menggelar tabligh akbar bertajuk “Menjalin Persatuan dalam Perbedaan” hari Ahad (26/11/2017). Acara bertempat di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, Bali dengan menghadirkan ketua Umum WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pembicara.

Ustadz Zaitun menyampaikan bahwa salah satu cara menjaga iman adalah dengan memelihara persaudaraan dan persatuan. Sebab, persaudaraan dan persatuan adalah bagian dari iman.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan banyak alasan mengapa kita mesti bersatu. Salah satunya, karena kita akan lemah jika sendirian dan sebaliknya, akan menjadi kuat jika bersatu. Begitulah sifat iman menurut beliau.

Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan bersatu. Kita adalah umat yang telah Allah tetapkan sebagai saudara, sepanjang kita beragama Islam. Meskipun berbeda mazhab, organisasi, suku, warna kulit, bahasa, dll.

Menurut beliau, iman akan melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan akan menghasilkan kekuatan jika sesama muslim saling menolong. “Dengan iman yang ada pada setiap mukmin, akan mendorong satu sama lain saling menasihati dan saling menolong”, ungkap beliau.

Dalam hal menolong orang lain, tidak hanya menolong ketika ada yang terzhalimi, tapi juga harus menolong orang yang menzhalimi. Caranya dengan menasihatinya agar berhenti dari kezhaliman tersebut.

Dalam hal menjaga keharmonisan persaudaraan ini, kita memerlukan ketegasan agar kezhaliman tidak berlanjut. Sekali lagi, menurut beliau, tujuan utamanya adalah untuk menghentikan kezhaliman. Bukan untuk menyakiti sesama saudara.

Kajian berlangsung khidmat hingga akhir dengan jamaah yang membludak. Masjid Baitul Makmur ini terkenal dengan jamaah shalat subuhnya, lebih dari 1000 orang jamaah setiap hari. []

 

 

Hak-hak Ukhuwah (Persaudaraan)

UZR ayat-ayat Ukhuwah

UZR ayat-ayat Ukhuwah

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ust. Muhammad Zaitun Rasmin
Surat Al Hujurat banyak mengajarkan kepada kita tentang persaudaraan. Allah ta’ala mengajarkan secara rinci bagaimana seharusnya kita ber-ukhuwwah. Surat ini adalah “Surat Ukhuwwah”.
Pada ayat 9 dan 10 (http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/ & http://wahdahjakarta.com/2017/11/20/berukhuwwah-bukan-berarti-tanpa-gesekan/ Allah menjelaskan tentang hakikat ukhuwah dan persaudaraan, lalu pada ayat berikutnya Allah memberikan panduan cara merawat ukhuwah, yakni dengan menunaikan hak-hak ukhuwah atau persaudaraan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُون
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS Al-Hujurat: 11)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)

Setelah menerangkan hakikat ukhuwwah di ayat 9 dan 10, berikutnya Allah jelaskan secara detail bagaimana cara merawat ukhuwwah di ayat 11 dam 12.
Berikutnya di ayat ke-13 Allah ingatkan lagi tentang pentingnya persaudaraan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Tidak boleh ada yang menyombongkan diri jika kita ingin membangun ukhuwwah. Yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa dan yang tahu seberapa besar kadar ketaqwaan kita hanyalah Allah.
Orang Islam manapun, tidak boleh ada yang merusak persatuan, apalagi jika sudah ada kepemimpinan umat. Merusak ukhuwwah ini pelakunya disebut ahlul baghyi, jamaknya bughaat atau pemberontak.
Bangunan ukhuwwah adalah unsur penting dalam agama kita. Jangan ada yang sembrono. Jangan ada tindakan perusakan atau pelemahan ukhuwwah ini, besar ataupun kecil.
Diantara upaya penguatan ukhuwwah adalah Allah perintahkan kita agar saling kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Wata’aawanuu alal birri wat taqwa.

Mimbar-mimbar Cahaya
Ukhuwwah ini termasuk amal shalih yang utama. Allah berikan balasan kelak di akhirat kedudukan yang sangat mulia, sampai-sampai banyak yang cemburu dari kalangan para Nabi dan Syuhada’.
Para penjaga ukhuwwah akan Allah tempatkan di atas mimbar-mimbar cahaya.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ
Artinya: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid menginginkannya”. (H.R Tirmidzi, hasan shahih).
Hendaknya kita turut menjaga ukhuwwah dan persatuan umat ini, mudah-mudahan kelak Allah berikan tinggikan kedudukan kita di atas mimbar-mimbar cahaya-Nya. Amin. [ibw/sym]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]

Persaudaraan Sejati

Ayat-Ayat Persaudaraan
Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat

Oleh: Ust. Muhammad Zaitun Rasmin
Surat Al Hujurat banyak mengajarkan kepada kita tentang persaudaraan. Allah Ta’ala mengajarkan secara rinci bagaimana seharusnya kita ber-ukhuwwah. Surat ini adalah “Surat Ukhuwwah”.

Perintah mewujudkan dan menjaga ukhuwwah Allah sebutkan di ayat ke-10:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat:9).

Allah “nash“-kan dalam ayat ini bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Ini sebuah keniscayaan. Rela atau tidak, suka atau tidak, Allah tetapkan setiap Muslim itu bersaudara. Sebagaimana saudara kandung, suka atau tidak, kalau kita dilahirkan dari ayah atau ibu yang sama, otomatis kita bersaudara. Meskipun terkadang ada sifat yang tidak kita sukai dari saudara kita, meskipun ada kekurangan, tetap saja ikatan persaudaraan itu tidak bisa lepas. Ibarat mau dicuci dengan air laut dari tujuh samudra pun, ikatan itu tidak akan hilang.

Sama juga dengan setiap Muslim, Allah sendiri yang menegaskan bahwa kita ini bersaudara. Penegasan ini bukan tanpa makna, ayat ini bukan berita sia-sia. Ma’adzallah, tidak ada yang sia-sia dalam setiap lafazh Al Qur’an. Dalam ayat ini Allah tidak menyebut ashdiqaa‘ (kawan, sahabat), tapi Allah sebut “ikhwah” (saudara). Dan mudah difahami bahwa ikatan pertemanan tidaklah sama dengan ikatan persaudaraan. Dari suku apapun, bangsa apapun, asalkan dia uslim berarti dia saudara kita. Harus kita penuhi hak-hak ukhuwwah kepadanya. Tidak boleh direndahkan dan dirusak kehormatannya.

Ayat ini diawali dengan kata “innama” yang artinya atau kurang lebih terjemahnya kurang lebih “hanyalah”. Dalam bahasa Arab, kata ini berfungsi sebagai “hasr” atau pembatasan. Artinya, yang bisa bersaudara hanyalah orang-orang beriman. Maknanya bahwa persaudaraan yang hakiki hanyalah persaudaraan yang diikat oleh Iman dan Islam.

Kata iman disini juga berarti Islam. “Al mu’minun” artinya disini juga orang Islam (Al Muslimun). Karena kata Iman dan Islam itu saling mewakili jika hanya disebut salah satu. Dalam bahasa Arab disebut “Idza jtama’a iftaraqaa wa idzaftaraqaa ijtama’a“. Kalau disebut salah satu, berarti mewakili yang lain, dan jika disebut bersama-sama masing-masing memiliki arti yang berdiri sendiri.
Jadi, bukan berarti kalau sekedar muslim tidak ada ikatan ukhuwah jika belum mu’min. Karena kata mu’min (orang beriman) di ayat ini berarti juga muslim.

Dalam hadits juga ditegaskan, “Al muslimu akhul muslim“. Setiap muslim adalah saudara muslim yang lain. Sehingga jangan ada dikotomi antara ukhuwwah imaniyyah dan ukhuwwah islamiyyah karena ayat ini.Meskipun memang iman adalah faktor terbesar dalam ukhuwwah. Kenyataan saat ini, melemahnya ukhuwwah di antara kaum muslimin karena faktor lemahnya iman. Namun bukan berarti kita tidak berukhuwwah, kita tetap bersaudara dengan saudara kita sesama muslim. [ibw/sym].

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Ustadz Zaitun : Ukhuwah Kunci Kejayaan Umat dan Bangsa

Wahdah Islamiyah – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar acara Tabligh Akbar di kompleks Masjid Baitul Izzah Islamic Center, Tarakan, Kalimantan Utara, Ahad (12/11/2017). Tabligh Akbar kali ini mengangkat tema “Membangun Ukhuwah Islamiyah di Atas Cahaya Al Qur’an” dengan Ust. Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pemateri.

Hadir dalam acara ini Sekretaris Provinsi Kaltara Drs. H. Badrun, MSI memberikan sambutan sekaligus membuka acara mewakili Pemerintah Provinsi Kaltara. Beliau mendukung dan mengatakan dalam sambutannya bahwa tabligh akbar adalah salah satu upaya menguatkan ukhuwah, menebarkan syi’ar Islam, mencerdaskan umat, serta meningkatkan keshalihan sosial.

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ust. Zaitun Rasmin menyebut bahwa di beberapa tempat di Indonesia, ukhuwah umat Islam sedang berada di titik kritis. Salah satu sebabnya adalah karena dinamika politik, namun jika ditengok lebih jauh, bisa disimpulkan bahwa akarnya adalah kurangnya kesadaran tentang pentingnya ukhuwah.

Pada hakikatnya, menurut beliau, setiap muslim adalah saudara. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an maupun hadits. Oleh karena itu, ukhuwah islamiyah adalah suatu keniscayaan, selama seseorang masih muslim.

Selain itu, ukhuwah adalah bagian dari perintah Allah dan Rasul-Nya yang harus kita upayakan agar terwujud. Dan, masih menurut beliau, sebagai perintah tentunya ukhuwah ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Wakil Sekjen MUI Pusat ini juga mengingatkan bahwa ukhuwah adalah sebab kejayaan sebuah bangsa. “Bagi kita yang ingin agar umat dan bangsa ini kembali berjaya, mari jaga ukhuwah,” kata beliau.

Beliau bacakan ayat,

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Dan jika kalian tidak melakukannya (bersatu dalam ukhuwah), maka akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi.” (QS Al Anfal: 73)

Wujud ukhuwah, lanjut beliau, adalah adanya solidaritas dan kecintaan. Yang pada puncaknya adalah kesiapan berkorban dan mendahulukan saudaranya, yang disebut dengan “itsar”. Sebagaimana yang dipraktekkan generasi terbaik umat ini.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS al Hasyr: 9)

Adapun tingkat terendah dalam ukhuwah menurut beliau, adalah adanya kelapangan dada ketika melihat kekurangan saudaranya, bersihnya hati seseorang dari hasad. Termasuk dalam kancah perpolitikan di Indonesia.

Cara mewujudkan ukhuwah adalah dengan menguatkan iman, serta terus berupaya menunaikan hak-hak ukhuwah kepada saudara kita. Yang paling sederhana bisa kita mulai dengan menebar senyum, sapa (komunikasi), salam, dan saling memberi hadiah.

Dari ukhuwah dengan sesama muslim ini, bisa menjadi titik tolak persatuan dengan berbagai komponen bangsa, termasuk umat non muslim. Sebagaimana dahulu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membangun persatuan dan menjaga stabilitas di Madinah yang di dalamnya ada orang-orang Yahudi.

Tabligh akbar ini juga dimeriahkan berbagai pentas nasyid dan hafalan Qur’an para santri Wahdah Islamiyah Tarakan dan dihadiri ribuan peserta dari Tarakan dan sekitarnya. [ibw]