MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Zaitun saat Konferensi Pers Bedah RUU KUHP Terkai Masalah Keumatan

MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

(Jakarta) Wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menyelenggarakan diskusi “Bedah RUU KUHP Terkait Masalah Keumatan”, Selasa, (13/2/17) di Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center Jakarta.

Narasumber yang dihadirkan adalah Arsul Sani dari Komisi III DPR yang membidangi hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan keamanan, Prof. Euis Sunarti, dan Pakar Hukum Universitas Indonesia (UI) Dr. Neng Djubaedah, S.H, M.H, Ph.D.

Diskusi yang dihadiri anggota MIUMI pusat dan daerah serta perwakilan berbagai ormas Islam ini menghasilkan lima point rekomendasi berikut:

1. Mendesak Presiden dan DPR untuk menolak intervensi asing berkaitan dengan RKUHP demi harga diri bangsa Indonesia dan kedaulatan hukum nasional.

2. Mendukung perluasan makna beberapa pasal dalam RKUHP terkait perzinaan, perkosaan, dan perbuatan cabul sesama jenis.

3. Mendorong koordinasi dan konsolidasi antar wakil rakyat di DPR demi menjaga ideologi bangsa Indonesia (Pancasila).

4. Menghimbau umat Islam dan seluruh umat beragama untuk siap siaga menyambut seruan Ulama dan pemuka agama masing masing untuk membela hak-hak, nilai-nilai dan kedaulatan bangsa Indonesia.

5. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut mengawal proses perjuangan Iegislasi Nasional demi terwujudnya KUHP yang sesuai dengan PancasiIa dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Diskusi ini dipandu oleh Adnin Armas dan ditutup dengan konferensi pers yang dipimpin oleh Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir.

Dalam sesi konferensi pers Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin berharap rancangan undang-undang ini segera diselesaikan dan disahkan untuk meminimalkan madharat yang muncul. [ibw/sym].

Tabligh Akbar Pemuda Indonesia bersama Ulama dan Umara

Tabligh Akbar Pemuda bersama Ulama dan Umara. Gambar: Istimewa

Tabligh Akbar Pemuda Indonesia bersama Ulama dan Umara

From Zero To Hero With Alqur’an
Apa dan Bagaimana Menjadi Pahlawan dengan Alqur’an?

Bersama:

1. Syeikh Prof. DR. Muhammad Sholih Al Barrok Hafizhahullah (Guru Besar Tafsir Alqur’an dan Salah satu Murid Syaikh M Sholeh Al Utsaimin di Saudi Arabia).

2. KH. DR. Muhammad  Zaitun Rasmin, Lc., MA. (Wakil Sekjen MUI, Ketua Ikatan Ulama dan Da’i  Asia Tenggara).

3. Sandiaga Salahuddin Uno, MBA* (Wakil Gubernur DKI Jakarta)

4. Ustadz Adin Mahendra (Ketua ARMI Istiqlal)

5. Ustadz Fakhrizal Idris, Lc., MA. (Penerjemah)

6. Tommy Kurniawan (MC)

Tempat            : Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Hari/Tanggal : 17 Januari 2018

Waktu              :(Ba’da Maghrib s/d Pkl 20.30 WIB)

Informasi (call/wa/sms):

0812 9160 7278 (Ust Faza) – 0852 1602 9668 (Ust Rahmat)

Penyelenggara :
ROHIS DKI – ARMI (Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal) – JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia)

Bekerja sama dengan:
Wahdah Islamiyah JakartaLAZIS Wahdah – LDK Albashirah

Sponsored by :

Takmir Masjid Istiqlal – DIROSA (Pendidikan Alqur’an untuk Orang Dewasa) – Wahdah Peduli – Akademi Alqur’an dan Dakwah (AQD)Alhijaz Alkhairiyah

Argumen Ustad Zaitun Rasmin (Ketua Umum Wahdah Islamiyah) Tentang LGBT

Argumen Ustad Zaitun Rasmin (Ketua Umum Wahdah Islamiyah) Tentang LGBT

Argumen Ustad Zaitun Rasmin حفظه الله (Ketua Umum Wahdah Islamiyah) Tentang LGBT

1.) Dari Sisi Hukum

Tidak mungkin kaum muslimin ini di pisahkan dalam hukum yang berlaku di masyarakat dengan apa yang ada di dalam agama mereka Walupun kita telah menerima sejak di coretnya tujuh kata di 18 Agustus 1945. Kita terima sebuah proses bahwa kaum muslimin untuk pidana, kita sudah terima bahwa harus bersabar, Tidak bisa menjalankan syariat islam (secara kaffah) bagi pemeluknya. tapi tidak berarti semuanya lepas (dari syariat/hukum islam).

2.) Dari sisi HAM

Kita sepakat dengan teman-teman ini masalah HAM & kita orang beragama ini paling mengerti HAM In Syaa allah, Sebab Agama ini tentu sejalan dengan HAM.

Tapi semua orang mengerti bahwa HAM ini Pasti ada batasnya. Tidak mungkin HAM itu menjadi bebas, HAM Liberal yang tanpa nilai-nilai yang mengikatnya.

Kalau selalu begerak dengan landasan seperti itu, sangat berbahaya. Karena kalau kita biarkan seseorang itu sesukanya atau karena tidak mengganggu orang lain maka silahkan, kalau begitu UU Narkoba Harus di Cabut. Orang kemudian kalau mengonsumsi sendiri, itu bisa tidak terkena hukum karena hanya merusak dirinya sendiri. Padahal sekarang pelaku sabu-sabu, narkoba, ada hukumnya. Begitu Juga dengan perbuatan-perbuatan yang lain. Ini merupakan pelanggaran bagi kemanusiaan itu sendiri, (yakni) membiarkan ada manusia merusak dirinya sendiri.

Sebab manusia ini walaupun ada akal & nurani dalam dirinya, tapi jangan lupa manusia ini di penuhi oleh nafsu juga. Dalam Alquran di katakan “Jiwa manusia ada 2 Potensi”. bisa menjadi baik (taqwa rasional) atau kemudian jadi fujur (mengikuti hawa nafsu) dan hawa nafsu itu seperti binatang. Apa kita mau manusia ini menjadi seperti BINATANG..??

Katakanlah kehidupan seksual, maukah kita membiarkan ada saudara kita yang kehidupan seksual nya seperti Binatang? Lantas Manusia apa kita ini? Bangsa apa? Negara apa? Hanya karena alasan ini kan kebutuhan sendiri, tidak menggangu orang lain. Tidak bisa seperti itu.

Mungkin saja, orang-orang bicara seperti ini pas belum kena keluarganya. Tapi kalau kena anaknya, keluarganya, dia akan merasakan.

3.) Dari Sisi Keadilan

Jangan selalu di fahami, ketika ada orang yang memperjuangkan ini (penolakan terhadap LGBT), Lantas motivasi nya itu Diskriminasi, atau tidak berbuat adil. Justru ini keadilan; bahkan kami semua ini dengan penuh kasih sayang tidak ada benci sedikitpun. Ketika kami mengupayakan agar ini ada hukum yang mengaturnya, itu (karena) sayang kepada mereka, dan sayang pada seluruh bangsa ini.

Saya sendiri sebetulnya kalau masalah ini, kalau berkembang yang namanya LGBT dan lain sbgnya yang kita tidak suka secara agama, kami tidak menyalahkan pertama hukum yang lemah. Tapi yang pertama bahwa pencerahan tidak jalan, dakwah tidak jalan dan yang kedua bahwa penyadaran tentang kesehatan belum jalan, kemudian yang ketiga masalah hukum, sebab masalah hukum ini untuk mengatur ketertiban masyarakat. Bagaimana bisa mencegah & mengobati penyakit masyarakat, kalau tidak ada hukum-hukum yang kuat.

4.) Diri Sisi Kaidah Fiqih

Dalam Alquran & Kitab Suci Lainnya (Perjanjian Lama, Perjanjian baru) di ceritakan bagaimana nasib kaum-kaum yang telah terjatuh pada hal seperti ini; harus nya cukup jadi pelajaran. Kata pepatah arab “orang bahagia itu, yang mengambil pelajaran dari orang lain”.

Kemudian, ayat-ayat tentang ini (Homoseks) semuanya membawa kata “Fahisyah”.

Nabi Luth sendiri menawarkan pada mereka, “ini anak-anak perempuan saya kalau memang kalian ingin melampiaskan nafsu, ini anak perempuan saya (maksudnya nikahilah),” karena nabi mana yang mau anak nya di perkosa? Tentu tidak. Artinya, “inilah silahkan (nikahi) walaupun kalian saya tau buruk akhlak kalian, tapi perbuatan kalian suka sesama jenis itu, itu mungkar banget, fahisyah. Maka saya ingin obati kalian”.

Ini sebuah hukum dalam islam (kaidah fiqih) di sebut dengan ارتكاب أخف الضررين artinya “mengambil kemudharatan yang lebih kecil dari dua kemudharatan” yakni ketika Nabi Luth memilih untuk menikahkan anak-anak perempuan nya (atau ummatnya yg perempuan) kepada kaum yang buruk akhlak nya, dari pada mereka terjatuh pada kemungkaran yang besar yakni Homoseksual.

Karena itu, kalau kemudian suatu ketika DPR mudah-mudahan dapat memutuskan ini, jangan di artikan kita membenci mereka, meng kriminalisasi mereka. (Justru) ini menyelamatkan dari sesuatu yang lebih besar akibatnya.


Syahrial Paputungan

@ILC-ZinaLGBT
19/12/2017. Tonton Videonya di SINI