Ustadz Zaitun: Umat Islam Guru dan Pelopor Toleransi

Ustadz Zaitun Islam Sudah Lengkap dengan Nilai Kebangsaan

Ustadz Zaitun menyampaikan ceramah pada tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”, yang digelar di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, Sabtu (1/12/2018). Photo: Fadel

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan, penegakkan nilai-nilai Islam dalam konteks kebangsaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu telah dimulai oleh para pejuang yang memerdekaan negeri ini dari penjajahan.

“Perjuangan keumatan dan kebangsaan atau lebih lebih spesifik penegakan nilai-nilai Islam syariat Islam dalam konteks kebangsaan ini telah dimulai oleh para pejuang kita sejak perjuangan kemerdekaan mengusir penjajah”, ujarnya saat berbicara pada Tabligh Akbar MIUMI.

Tabligh Akbar MIUMI digelar di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan tema, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsan”, pada Sabtu (1/12/2018).

Menurut Ustadz Zaitun yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), tidak ada pertentangan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Karena sejak negeri ini merdeka para tokoh pendiri negeri ini yang terdiri dari para ulama telah berupaya mengintegrasikan keduanya.

“Dan para Ulama kita bekerja keras untuk mewujudkan dengan satu kalimat bagaimana kejayaan untuk Islam  dan sekaligus untuk Indonesia”, ungkapnya.

“Sebetulnya ajaran Islam itu sendiri sudah lengkap termasuk masalah kebangsaan, tetapi di Indonesia menjadi begitu menarik dan spesifik karena sebagian besar Muslim tapi ada sebagian kecil yang non muslim sejak sebelum kemerdekaan”, jelasnya.

Akan tetapi sambung Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini, umat Islam di negeri ini tidak mau menafikan non muslim sejak zaman itu. Karena hal itu merupakan bagian dari toleransi yang diajarkan Islam.

Oleh karena itu menurutnya umat Islam tidak perlu diajari tentang toleransi.

“Karena itu tidak usah mengajari kita tentang toleransi”, ucapnya yang disambut pekikan takbir ribuan jama’ah Tabligh Akbar yang memadati Masjid Al-Azhar.

Andaikan umat Islam tidak tahu toleransi, lanjut UZR sapaannya tidak maungkin mau hidup berdampingan dengan non muslim.

“Kalau kita tidak tahu  toleransi apa kita mau bersama-sama non muslim di Negeri ini?” tanyanya penuh retoris.  “Pasti tidak.” Tegasnya.

“Tapi karena kita adalah guru, pelopor toleransi sejak pagi turunnya Islam, bahkan yang lebih hebat lagi kita boleh berbuat baik kepada non muslim”, terangnya.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menambahkan tentang pentingnya mewujudkan kembali cita-cita para pendiri negeri ini.

“Kita semua ingin kembali bertekad mewujudkan cita-cita para pendiri negeri”, katanya.

“Cita-cita mereka mereka adalah Indonesia Jaya dengan syariat Islam dapat ditegakkan dengan sepenuhnya”, jelasnya.

Mantan Wakil Ketua GMPF Ulama ini menandaskan, mewujudkan Indonesia jaya dengan syariat Islam tidak bertentangan dengan pancasila dan kebhinekaan. “Justru itu adalah Pancasila yang asli”, pungkasnya. (sym).

Integrasi Keislaman dan Kebangsaan, UZR: Islam Sudah Lengkap dengan Nilai Kebangsaan

Ustadz Zaitun Islam Sudah Lengkap dengan Nilai Kebangsaan

Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin di acara Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan” di Masjid Al-Azhar

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan” di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (1/12/2018) malam.
Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan, ajaran Islam lengkap dan sarat dengan nilai-nilai kebangsaan.
“Sebetulnya ajaran Islam itu sendiri sudah lengkap termasuk pesan kebangsaan.” Terangnya UZR, sapaan akrabnya yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah.
UZR menjelaskan, walaupun umat Islam adalah mayoritas di Indonesia, namun muslim Indonesia tetap menjaga persatuan dengan komponen bangsa lainnya.
“Walaupun sebagian besar kita adalah muslim dan sebagian lain adalah non muslim, sejak sebelum kemerdekaan umat islam ini tidak menafikan keberadaan non Muslim sejak dahulu,” ujar Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara tersebut.
“Karena itu, tidak usah mengajari kita tentang toleransi.” Tegasnya.
Ia mengatakan, jika umat Islam tidak tahu toleransi, maka umat islam tidak akan mau tinggal bersama non muslim.
“Kalau kita tidak tahu toleransi apakah kita mau sama-sama dengan non muslim? Tentu tidak.” Ungkap Wasekjen MUI Pusat ini.
Tetapi Kita adalah guru, pelopor toleransi sejak pagi turunnya Islam. Bahkan lebih hebat lagi, kita berbuat baik kepada non muslim, apalagi bertetangga.” pungkasnya. [fry/sym]

Pasukan Penanganan Gempa NTB Resmi Kembali Ke Satuan Tugas

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia Puan Maharani saat menyalami anggota Pasukan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Gempa Nusa Tenggara Barat (NTB) 2018 saat pelepasan resmi di Bandara Internasional Lombok, Praya, Lombok Tengah pada selasa (21//11).

(Lombok) wahdahjakarta.com,- Pasukan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Gempa NTB 2018 resmi dilepas untuk mengakomodasi seluruh bantuan bagi korban bencana pada selasa (21//11) di Bandara Internasional Lombok, Praya, Lombok Tengah.

Acara ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dan dihadiri oleh Pangkogasgab NTB 2018, Mayjen TNI Madsuni, S.E.; Kapolda NTB, Brigjen Achmat Juri; Sekda Prov NTB, Rosiady Sayuti; Bupati Lombok Tengah, Moh. Suhaili Fadhil Thohir; Anggota DPR RI, serta anggota pasukan Kogasgabpad NTB 2018 dengan para unsur terkait dan turut hadir pula Kepala BNPB Willem Rampangillei.

Setelah terjadinya beberapa gempa besar di NTB pada Juli lalu, Tim Kogasgabpad ini telah ditugaskan untuk mengakomodasi seluruh bantuan bagi korban bencana , baik yang berasal dari pihak TNI, Polri, Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.

Menko PMK, dalam sambutannya, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten/Kota terdampak bencana Lombok yang telah memberikan dukungan dan kerja sama yang baik dalam mengatasi segala permasalahan selama penanganan masa darurat dan pemulihan pasca bencana NTB. Secara khusus Menko PMK memberikan apresiasi kepada seluruh prajurit TNI dan POLRI yang tergabung dalam Kogasgabpad Nusa Tenggara Barat di bawah pimpinan Mayjen TNI Madsuni.

Menurutnya, pengabdian para prajurit TNI dan Polri menjadi bukti nyata hadirnya negara di tengah masyarakat selama masa tanggap darurat bencana di NTB termasuk pada masa-masa sulit.

“Selama bertugas di sini, para prajurit Kogasgabpad telah bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas untuk memberikan pertolongan, pelayanan dan pengabdian bagi masyarakat terdampak bencana di NTB, sehingga perlahan namun pasti, NTB dapat bangkit menata kehidupan yang lebih baik”, ujar Puan.

“Akhirnya saya ucapkan selamat jalan bagi seluruh prajurit Kogasgabpad, selamat menjalankan kembali tugas pengabdian di kesatuannya masing-masing. Sampaikan salam hormat saya kepada keluarga yang selama ini senantiasa setia mendoakan keselamatan dan kelancaran tugas para prajurit demi menjalankan tugas kemanusiaan di daerah ini.” tutupnya. [fry]

Tiga Langkah Utama Merawat NKRI Menurut Ustadz Zaitun 

 

Ustadz Muhammad Zaitun pada Tabligh Akbar merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR) merupakan karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Demikian dinyatakan Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan Tabligh Akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”, yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018) di Masjid Agung Al-Falah Jambi.

Dalam ceramahnya Ustadz Zaitun mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Hal  ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat NKRI yang merupakan anugrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terangnya.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Ia juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.  (Ibawi/sym)

Video lengkapnya dapat ditonton di sini

Ustadz Zaitun: Sebelum Merdeka Saja Siap Mati, Apalagi Setelah Merdeka

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI yang digelar Wahdah Islamiyah jambi, Ahad (11/11/2018)

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah Jambi menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”. Bertempat di Masjid Agung Al-Falah, Ahad (11/2018). Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Ustadz Zaitun Rasmin mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Tidak berlebihan memang, karena hal ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Bahkan dengan jelas bisa dilihat dalam fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan dan dipertahankan dengan kalimat takbir.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Sebagaimana diketahui, pertempuran 10 November di Surabaya terjadi setelah Indonesia merdeka. “Para pendahulu bangsa ini siap mati dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tentu mereka lebih siap mati setelah kemerdekaan itu ada di tangan,” tegas beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menjelaskan bagaimana besarnya peran umat Islam dalam perjuangan bangsa. Salah satu contohnya adalah ketika para ulama Nahdhatul Ulama mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan para penjajah.

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat anugerah Allah berupa NKRI. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terang beliau.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Beliau juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.

Acara ini didukung berbagai elemen umat seperti FPI Jambi, Komunitas Hijrah Youth Move Up, dll. (Ibawi)

Kader Wahdah Jakarta Menang Kejuaraan Panahan Nasional

Jayadi Hasan (pegang piala) , ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah peraih juara II Kejuaran panahan nasional di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Indonesia Youth and Sport (IYOS) mengadakan turnamen tingkat Nasional, bertempat di Lapangan GOR Popki Cibubur Jakarta Timur pada 1-4 November 2018.

Ada beberapa jenis kelas yang diperlombakan, seperti Horsebow, Barebow, Recurve dan Coumpound yang kemudian diikuti oleh kurang lebih 400 peserta dari berbagai provinsi se-Indonesia.

Tak mau ketinggalan, Jayadi Hasan yang merupakan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta-Depok juga ikut berpartisipasi dalam ajang ini di cabang Horsebow dengan alasan bahwa olahraga ini merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Nabi.

Suasana lomba yang digelar pada 1-4 November di Lapangan GOR Popki Cibubur, Jakarta Timur.

Ternyata keikutsertaan beliau membuahkan hasil. Beliau berhasil meraih peringkat ke 2 dalam kelas ini dengan teknik thumbdraw.

” Alhamdulillah semakin menambah semangat untuk terus berlatih dan menambah pengalaman serta memperluas silaturahim sesama pecinta olahraga sunnah ini” ujar Jayadi saat dihubungi oleh wahdahjakarta.com

Untuk cabang Horsebow sebetulnya termasuk cabang olahraga baru di Indonsia karena sebelumnya cabang ini belum pernah diperlombakan dalam olimpiade nasional di Indonesia, namun karena semakin pesatnya perkembangan maupun pelaksanaan lombanya membuat olahraga ini semakin diakui dan digemari. (AA/ed: Fry)

Begini Cara Ustadz Zaitun Semangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

Begini Ustadz Zaitun Menyemangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

(PALU), wahdahjakarta.com– Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengunjungi pengungsi  korban Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah di Kompleks Pengungsian Bukit Suharto, Kelurahana Petobo, Palu, Kamis (1/11/2018).

Kunjungan ini dalam rangka silaturrahim dan dimulai sejak Kamis pagi  dengan rangkaian kegiatan, antara lain Taushiyah, Pembagian Paket Logistik, Pembagian Paket Ceria, dan Makan Siang Bersama.

Di hadapan ratusan warga yang hadir ia berpesan, sebagai orang beriman, musibah apapun yang terjadi, walaupun membuat kita sedih, namun kita harus mengakui bahwa musibah itu tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala.

“Dalam menghadapi kejadian seperti itu, kita harus semakin memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Taala, bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Kita harus meyakini ketika Allah berkehendak, maka ada kebaikan yang diharapkan untuk kita,” tuturnya.

Untuk semakin menguatkan keyakinan warga, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengangkat kisah tentang keutamaan berprasangka baik terhadap takdir Allah.

“Ada cerita yang menarik, dan kisah ini telah masyhur diangkat oleh para Ulama sebagai peneguh keimanan”, kata Ustadz Zaitun memulai kisahnya.

“Suatu ketika, tersebutlah seorang Sultan yang berkuasa dalam suatu negeri. Hingga terjadi dalam suatu waktu, ibu jari tangan sang Sultan terputus akibat insiden kecil. Maka peristiwa ini tersebar di kalangan petinggi Kesultanan. Seorang Menteri yang terkenal setia dan selalu mendampingi Sultan khususnya ketika berburu, tiba-tiba menasehatkan kepada sang Sultan dengan berkata ‘Fihi Khayr’ yang artinya ‘itu adalah kebaikan’ . Sang Sultan tiba-tiba marah dan memenjarakan si Menteri tersebut akibat perkataannya. Selang beberapa hari kemudian, Sang Sultan keluar istana untuk menekuni hobinya yakni berburu. Hingga sampai pada suatu ketika, sang Raja diculik oleh sebuah Suku Jahiliyah di tengah padang pasir. Salah satu kepercayaan Suku ini adalah jika ada orang pertama yang mereka jumpai dalam pengembaraan maka harus dikorbankan dengan cara disembelih. Namun beruntung, suku tersebut kemudian melepaskan sang Sultan karena menjumpai adanya kecacatan pada dirinya, yakni ibu jari yang telah terputus. Ketika kembali ke Istana, Sultan sangat bergembira dengan kebebasannya dan membebaskan Menteri yang pernah djpenjarakannya. Saat keluar, sang Sultan bertanya kepada sang Menteri perihal perkataannya ‘Fiihi Khayr’ saat dijebloskan ke penjara. Sang Menteri menjawab, jika ia tidak dipenjaran maka ia lah yang akan menemani Sultan berburu, dan ketika tertangkap oleh Suku Jahiliyah, maka Suku itu akan menyembelih sang Menteri karena berbadan sempurna dibanding sang Raja yang cacat, ” kisahnya.

Perkataan sang Menteri ‘Fiih Khayra’ menurut Ustad Zaitun, adalah perkataan yang terlontar karena keimanan, karena meyakini bahwa segala sesuatu adalah kebaikan.

“Maka kisah ini memberikan pelajaran besar bagi kita untuk berprasangka baik kepada segala sesuatu yang terjadi pada kita. Insya Allah rumah kita yang hancur akibat Gempa akan diganti oleh Allah dengan rumah yang lebih baik. Keluarga kita yang hilang akan diganti dengan kebaikan, dan keadaan lainnya, ” pungkas Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ini.

Ustadz Zaitun: Palu, Sigi, dan Donggala Akan Bangkit

Ustadz Zaitun: Palu, Sigi, dan Donggala Akan Bangkit

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyampaikan taushiyah kepada pengungsi korban gempa Sulteng di bukit Suharto, Petobo, Palu Sulawesi Tengah, Kamis (1/21/11/2018). Photo: Rustam 

(PALU) wahdahjakarta.com– Wahdah Islamiyah (WI) menggelar Silaturahim Akbar bersama korban Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah di Kompleks Pengungsian Bukit Suharto, Kelurahana Petobo, Palu, Kamis (1/11/2018).

Tausiyah Agama disampaikan  oleh Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah (WI) , Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Di hadapan ratusan warga yang hadir dia berpesan, sebagai orang beriman, musibah apapun yang terjadi, walaupun membuat kita sedih, namun kita harus mengakui bahwa musibah itu tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala.

“Dalam menghadapi kejadian seperti itu, kita harus semakin memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Taala, bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Kita harus meyakini ketika Allah berkehendak, maka ada kebaikan yang diharapkan untuk kita,” tuturnya.

“Walaupun kita kehilangan, namun kita masih beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk hidup menghirup udaraNya”, imbuhnya.

“Kita adalah manusia-manusia pilihan yang mendapat karunia kehidupan, dan berbagai karunia lainnya. Terutama adalah apa yang terpancar dari wajah bapak dan Ibu yakni wajah-wajah yang penuh keimanan,” sambungnya.

Di akhir tausiyah, ustadz Zaitun berpesan agar seluruh warga yang hadir mempertebal keimanan, dengan tidak mudah dirayu dengan bantuan sembako atau yang lainnya, agar meninggalkan Islam.

“Ujian apapun, kita harus selalu siap mempertahankan keimanan, siap?, ” sapa ustad Zaitun yang disambut dengan teriakan ‘Siap’ oleh ratusan warga dan relawan yang hadir.

Wasekjen MUI Pusat ini juga menyatakan dengan penuh harap dan optimis bahwa Palu, Sigi, dan Doanggala akan bangkit insya Allah.

”Palu Sigi dan Donggala, bahkan Indonesia akan bangkit dan menuju ke arah yang lebih baik,” tutupnya.

Silaturahim Akbar Wahdah Islamiyah ini juga dihadiri oleh Pimpinan AQL  Ustad Bachtiar Nasir yang ikut memberikan tausiyah kepada warga yang hadir.

Di tempat kegiatan ini telah berdiri beberapa tenda hunian sementara Wahdah Islamiyah yang menjadi salah program terbesar Wahdah di SulTeng yakni pembangunan Hunian Sementara (Huntara) untuk korban gempa yang kehilangan rumah.[RH/sym]

Laporan: Rustam Hafid (Relawan Media Wahdah Islamiyah)

PT KAI Rekayasa Pola Operasi KA Untuk Aksi Bela Tauhid Jilid 2

PT KAI Rekayasa Pola Operasi KA Untuk Aksi Bela Tauhid Jilid 2

PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan rekayasa pola operasi guna menghindari kemacetan dan kesulitan akses bagi penumpang yang akan berangkat dari stasiun Gambir. Foto : detik.com

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Aksi bela tauhid rencananya akan kembali digelar di Jakarta pada Jumat (2/11). Kegiatan yang juga disebut Aksi 211 itu diperkirakan akan diikuti ribuan massa yang berpusat di Istana Merdeka dan seputaran Monas.

Tentunya hal tersebut berpotensi menimbulkan kemacetan sehingga para calon penumpang KA yang berangkat akan kesulitan untuk mengakses Stasiun Gambir. Mengantisipasi kemungkinan itu, PT KAI Daop 1 Jakarta akan melakukan rekayasa pola operasi pemberangkatan 17 KA dari Stasiun Gambir.

Rekayasa pola operasi pemberangkatan KA diberlakukan pada 17 KA yang berangkat dari Stasiun Gambir pada hari ini yakni dengan Berhenti Luar Biasa (BLB) atau memberhentikan KA di Stasiun Jatinegara untuk proses naik penumpang.

“Biasanya KA yang berangkat dari Stasiun Gambir tidak berhenti di stasiun Jatinegara, namun khusus hari ini akan diberhentikan juga di Stasiun Jatinegara untuk proses naik penumpang. Hal ini untuk memudahkan calon penumpang KA yang kesulitan menuju Stasiun Gambir, mereka bisa punya alternatif dengan naik dari Stasiun Jatinegara,” ucap Edy Kuswoyo, Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta.

Operasi rekayasa pemberangkatan KA ini berlaku mulai dari keberangkatan KA 32 (Argo Parahyangan) keberangkatan pukul 11.30 WIB sampai dengan KA 30 (Argo Parahyangan Tambahan) keberangkatan pukul 20.00 WIB.

“Dengan adanya rekayasa pola operasi pemberangkaran KA dengan BLB ini, PT KAI juga telah menyiagakan petugas untuk membantu pelayanan penumpang disana,” tambah Edy.

Rekayasa pola operasi ini tidak akan berjalan dengan baik bila tanpa kerja sama dengan calon penumpang. Maka, PT KAI pun menghimbau agar calon penumpang dapat mengantisipasi dengan memperkirakan waktu keberangkatan KA-nya, sehingga tidak tertinggal. Selain itu, diingatkan kembali agar calon penumpang memastikan nama yang tertera pada tiket/kode booking sesuai dengan nama yang tertera pada kartu identitas. [fry]

Kunjungi Pengungsi Gempa Palu, Ini Pesan Ustadz Zaitun

Ketua Umum Wahdah islamiyah

Ustadz Muhammad Zaitun rasmin sedang menyampaikan taushiyah kepada para pengungsi korban gempa palu dan sekitarnya, Kamis (01/11/2018)

(Palu) wahdahjakarta.com – Ketua Umum  Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin bertolak dari Jakarta menuju kota Palu Sulawesi Tengah untuk mengunjungi korban gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah.

Sebelum menggelar Silaturahim Akbar, Ustadz Zaitun meresmikan pembangunan shelter  Hunian Sementara (Huntara) yang berlokasi di Kelurahan Baiya Kecamatan Tawaeli.

Pantauan Kiblat.net di lapangan sejak pukul 08.30 Wita, ratusan pengungsi baik ibu-ibu dan anak-anak yang berasal dari tempat-tempat pengungsian yang berada di sekitar kompleks pengungsian Wahdah Islamiyah Bukit Suharto Kelurahan Petobo (Ngatabaru) mendatangi tempat silaturahim tersebut.

Ustadz Zaitun menyampaikan bahwa orang yang beriman harus tetap meyakini bencana yang terjadi tidak terlepas dari ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Dengan adanya bencana yang terjadi di Sulawesi Tengah, seharusnya dalam menghadapi musibah bisa semakin membuat manusia bertambah beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ungkapnya di tengah-tengah pengungsi Petobo pada Kamis (01/11/2018).

Wasekjen MUI Pusat itu pun berpesan kepada masyarakat yang menjadi korban untuk tetap bersabar atas musibah yang terjadi dan bersyukur atas kebaikan-kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta menjaga akidah keluarga dan kerabatnya.

“Saya berpesan kepada pengungsi dan korban gempa, tsunami dan likuefaksi agar tetap menjaga dirinya, keluarga serta kerabatnya dari paham-paham yang menyesatkan serta tetap bersabar atas musibah dan bersyukur dengan kebaikan atas kebaikan-kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pesannya.

Di sela-sela Silaturahmi Akbar tersebut hadir pula Ustadz Bachtiar Nasir yang turut berkunjung ke Kota Palu untuk menyerahkan langsung bantuan Huntara yang dibangun oleh AQL Islamic Center kepada masyarakat di Kabupaten Sigi.

Sumber:kiblat.net