Ustadz Zaitun: Ada Motif Politik Dibalik Wacana Internasionalisasi Pengelolaan Haji

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat Konferensi Pers Tolak Internasionalisasi Pengelolaan Haji, Jakarta (15/02/2018).

Ustadz Zaitun: Ada Motif Politik Dibalik Wacana Internasionalisasi Pengelolaan Haji
“Sebetulnya isu ini bukan isu baru. Sejak (tahun) 80an sudah digulirkan dengan motif politik untuk menguatkan imperium Iran dan hegemoninya di Timur Tengah,”

(Jakarta)-wahdahjakarta.com– Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ustadz Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA. menganggap munculnya wacana internasionalisasi terhadap dua Kota Suci, yaitu Makkah dan Madinah, serta pengelolaan haji dan umrah bukanlah hal yang baru. Sebab ada motif politik dibalik wacana tersebut.

“Sebetulnya isu ini bukan isu baru. Sejak (tahun) 80an sudah digulirkan dengan motif politik untuk menguatkan imperium Iran dan hegemoninya di Timur Tengah,” ungkap ustadz Zaitun saat konferensi pers pada Kamis (15/02/2018) di gedung AQL, Tebet Jakarta.

Menurutnya, alasan adanya larangan haji bagi Qatar dan Iran yang mendasari munculnya kembali isu tersebut tidak dapat dibenarkan. Bahkan jumlah jamaah haji dari Qatar justru meningkat dengan penambahan quota. Kalaupun ada pelarangan itu dikarenakan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara terkait.

Meski demikian ketua Umum Wahdah Islamiyah ini berharap bahwa semangat ukhuwah dan persatuan yang harus dijaga, bukan perpecahan.
Hal senada diungkap oleh Prof. Musni yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut, menurutnya internasionalisasi tidak dibutuhkan karena sudah ada yang mengurusnya. Kalau ini dilakukan justru akan menimbulkan perpecahan demi perpecahan.

Wacana internasionalisasi pengelolaan haji dan umrah serta urusan tanah suci Makkah dan Madinah tersebut pun ditentang keras oleh Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, Majelis Ormas Islam (MOI) serta Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).[ibw]

Ustadz Zaitun: Cinta NKRI Itu Fitrah

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Gorontalo – Wahdah Islamiyah Gorontalo menelenggarakan tabligh akbar dengan tema Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan. Bertempat di Masjid Kampus Univeritas Negeri Gorontalo Sabilurrasyad pada hari Ahad, 11/02/2018.

Hadir dalam acara ini Ketua MUI gorontalo Ust. Abdurrahman Bahmid, Lc, Alumni Al Azhar yang juga anggota DPD RI ini menyebut tabligh akbar ini sangat penting sebagai penguatan.

“Umat Islam harus kuat, baik secara pribadi, organisasi, maupun dalam skala ummat. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah”, terangnya.

“Mashdarul quwwah (sumber kekuatan) adalah kuatnya aqidah dan hubungan dengan Allah. Setelah itu, persatuan ummat”, imbuhnya.

Selanjutnya Ust. Zaitun Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang juga Wasekjen MUI menjelaskan pentingnya cinta NKRI dan pentingnya persatuan.

“NKRI adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga dan dirawat”, kata beliau.

Menurut Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i Asia Tenggara ini, nasionalisme (cinta negeri) adalah sesuatu yag thabi’i (sesuai dengan sifat bawaan manusia/fitrah). Asalkan tetap dalam batas yang tidak melanggar syari’at.

“Cinta kepada negeri adalah sesuatu yang thabi’i. Sebagaimana dahulu Rasulullah mengungkapkan kecintaan beliau kepada kota Makkah saat berhijrah”, terangnya.

“Umat islam mayoritas di negeri ini harus mengetahui konsep islam tentang nasionalisme. Kalau tidak, akan dimanfaatkan oleh orang lain dari kalangan sekuler menjauhkan ummat islam dari hak-haknya,” lanjut ustad yang juga wakil ketua GNPF ulama ini.

Batasan yang beliau maksudkan adalah kecintaan yang tidak melebihi cinta Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam, serta tidak merendahkan bangsa lain.

“Cinta pada negeri ini disyariatkan asal tidak melebihi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan ajaran Islam itu sendiri. Nasionalisme yang dilarang Islam adalah menjadikan seseorang membenci atau merendahkan bangsa lain”, tegas beliau.

Beliau menambahkan bahwa wujud cinta negeri adalah dengan membela, membangun, merawat, mencintai, dan memajukan NKRI.

Termasuk bentuk merawat NKRI menurut beliau adalah dengan tetap menghidupkan budaya saling menasehati, Amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan identitas-identitas yang ada pada suku atau agama tertentu. Umat Islam siap bersatu dalam perbedaan demi terjaganya NKRI”, pungkas beliau. [ibw]

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

Ustadz Zaitun Tabligh Akbar di Majid Al-Hikmah Pontianak

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

(Pontianak)- wahdahjakarta.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa ukhuwah merupakan modal kuat dalam perjuangan. Hal ini beliau katakan saat menyampaikan ceramah pada Tabligh Akbar “Merajut Persatuan dengan Dakwah dan Tarbiyah” di Masjid Al-Hikmah Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (27/01/2018).

“Ukhuwah adalah salah satu modal kuat dalam perjuangan, nikmat ukhuwah dan ittihad (persatuan) ini harus kita jaga karena perjuangan masih panjang”, ujarnya. “Saling berbantah-bantahan hanya akan saling melemahkan, sebagaimana dalam Al-Anfal”, imbuhnya.

Selanjutnya Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menguraikan tips menjaga ukhuwah dan mencapai tingkatan ukhuwah tertinggi. “Cara mencapai tingkatan ukhuwah yang tertinggi, yang pertama adalah dengan memperkuat iman”, terangnya. “Namun jangan tergesa-gesa menyatakan bahwa muslim yang berselisih itu tidak beriman”, lanjutnya.

Tips yang kedua menurut Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini adalah, jaga akhlaq. “Itulah hikmahnya dalam surat Al Hujurat ayat 10 dan beberapa ayat setelahnya Allah sebutkan berbagai permasalahan akhlaq yang perlu dijaga agar ukhuwah tetap kokoh”, ungkapnya.

Salah satu akhlaq buruk yang dapat merusak ukhuwah menurut Inisiator MIUMI ini adalah memberi label-label tertentu kepada sesama Muslim atau lembaga-lembaga dakwah. “Tetap bersangka baik kepada sesama lembaga dakwah atau aktivis Islam meskipun kita tidak sepakat dengan berbagai cara dakwahnya”, imbaunya. [ibw/sym]

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Pontianak (wahdahjakarta.com)– Para Ulama hendaknya tampil mengarahkan ummat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak Kalimantan Barat, Ahad (28/01) pagi.

“Sejarah perjuangan umat dan ulama di Indonesia menunjukkan bahwa mereka telah korbankan harta dan nyawa untuk memerdekakan negeri ini. Di masa orde lama dan orde baru sebagian ulama terpaksa menjauhi pusat kekuasaan. Namun Di zaman ini umat dan ulama tidak boleh terjebak dalam hal yang sama. Para ulama harus tampil di depan untuk mengarahkan ummat dan menjaga negara ini”, jelasnya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menambahkan bahwa hal itu dapat diwujudkan dengan mengembalikan fungsi dan peran Masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial, dan perjuangan. Menurutnya bahwa memang Masjid tidak selayaknya dijadikan tempat kegiatan politik praktis, tapi penyadaran dan pendidikan politik (siyasah syar’iyyah) kepada ummat.

“Di masjid ada larangan jual beli dan kegiatan politik praktis, namun masjid harus tetap menjadi tempat penyadaran siyasah syar’iyyah (Politik Islam), karena siyasah syar’iyyah adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam”, terangnya.

“Negeri ini adalah karunia Allah Ta’ala yang harus kita jaga dan pertahankan. Karena itu kita harus sungguh-sungguh, jangan sampai negeri ini hancur”, ungkapnya. “Kita buktikan bahwa umat Islam adalah yang paling tinggi nasionalismenya”, pungkasnya. [ibw/sym].

Ustadz Zaitun: Persatuan Ummat Demi Kemaslahatan Semua Komponen Bangsa

Ustadz Zaitun: Persatuan Ummat Demi Kemaslahatan Semua Komponen Bangsa

Manokwari – (wahdahjakarta.com) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat menggelar tabligh akbar bertajuk “Sinergitas Ulama, Umara, dan Ummat”. Bertempat di Masjid Ridwanul Bahri komplek Angkatan Laut Manokwari, Ahad (21/01/2018).

Ketua MUI Provinsi Papua Barat KH Achmad Nusrau dalam sambutannya mengajak agar seluruh umat Islam terlibat aktif dalam amar ma’ruf nahi munkar. Menurut beliau, amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya tanggung jawab ustadz, tapi seluruh kaum muslimin. Termasuk para umara (pemegang kekuasaan) yang bisa mengubah kemungkaran dengan “tangan”. Beliau menambahkan, amar ma’ruf nahi munkar merupakan faktor yang bisa menjadikan umat Islam sebagai “khairu ummah” (umat terbaik).

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pemateri utama menyampaikan bahwa persatuan umat Islam adalah kebaikan untuk semua komponen bangsa. Termasuk umat non muslim. “Dan ini sudah terbukti”, ucapnya. “Ketika Ummat Islam bersatu kita (bangsa Indonesia) merdeka”, imbuhnya.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan bahwa persatuan lebih umum dari persaudaraan. Umat dituntut untuk mempererat persaudaraan sesama muslim, sembari memperkokoh persatuan dengan sesama komponen bangsa.

Untuk memperkuat ukhuwah (persaudaraan), beliau menyebutkan beberapa resep sesuai tuntunan dalam Islam. Pertama, “As Salam” yang artinya menebarkan salam. Kedua, Al Ibtisam atau senyuman. Ketiga, “Al Kalam” atau komunikasi. Dan yang keempat adalah “Tahaadu” atau saling memberi hadiah.

Kuatnya persatuan dan persaudaraan akan membuahkan sinergitas. Termasuk sinergitas dalam hal dakwah, antar lembaga dakwah. Berikutnya adalah sinergitas bersama umara’ (pemegang kekuasaan).

Sinergitas inilah yang menurut beliau, akan mewujudkan masyarakat dan bangsa yang “baldatun thayyibah”, negeri yang penuh kebaikan dan keberkahan. [ibw]

Wahdah Jakarta Akan Kedatangan Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur'an

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur’an

Jakarta – Satu keistimewaan tersendiri pada tahun 2018 ini bagi Wahdah Jakarta, atau lebih lengkapnya, DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta. Dimana pertengahan Januari akan kedatangan seorang Ulama Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia.

Beliau adalah Prof. DR. Muhammad Shalih Albarrak hafizhahullah, yang juga merupakan salah satu murid senior dari Ulama Besar Abad ini yaitu Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Rencananya Syaikh Albarrak akan mengisi Tabligh Akbar Pemuda di Masjid Istiqlal, Jakarta pada tanggal 17 Januari 2018 pkl 18.00-20.30 WIB dengan tema “From Zero To Hero With Alqur’an“.

Acara yang disponsori oleh LAZIS Wahdah ini juga akan menghadirkan Ustadz Zaitun Rasmin (Wakil Sekjen MUI) dan Insya Allah akan hadir Bapak Sandiaga Salahuddin Uno, M.B.A., yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kegiatan Tabligh Akbar Syaikh Albarrak diselenggarakan atas kerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda seperti : Rohis DKI, JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia), ARMI (Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal) dan LDK Albashirah.

Syaikh Albarrak yang baru berkunjung dua kali ke Indonesia ini, rencananya akan melakukan melanjutkan safari dakwah ke Bandung pada 20 Januari 2018 dan ke Pangandaran pada 22 Januari 2018.

“Syeikh Prof. DR Muh. Sholeh Al Barrak hafizhahullah adalah ulama tafsir yang masyaAllah sangat mutamakkin, beliau pernah mengajar kami dan beberapa asatidzah di kelas di Jamiah Islamiyah. Kalo Syeikh Utsaimin ke Medinah atau ke kampus maka beliau yang mendampinginya karena beliau termasuk murid Syeikh Utsaimin yang tersenior”, kata Ustadz Yusran Ansar, seorang alumni Universitas Islam Madinah.

“Ikhwah di Jakarta dan sekitarnya jangan sia-siakan istifadah dgn mengikuti acara tersebut”, lanjut Ust M Yusran Anshar, PhD., yang juga merupakan Rektor Sekolah Tinggi Bahasa Arab Wahdah Islamiyah.

Karena itu, diharapkan kepada setiap Kaum Muslimin agar bersegera bisa menghadiri acara Tabligh Akbar di atas dan dapat mengajak keluarga yang lain.

Bagi anda yang tidak sempat menghadiri dan ingin mendukung acara tersebut dan dakwah Alqur’an dapat menyalurkan donasinya melalui Bank Syariah Mandiri (451) 497 900 900 9 an LAZIS Wahdah Sedekah. Kode transfer 300. Contoh Rp 100.300,-. Informasi dan komfirmasi 08119787900 (call/wa/sms).(ayd).

Imam Masjidil Aqsha

Imam Masjidil Aqsha Apresiasi Kiprah Wahdah Islamiyah

(Jakarta-wahdahjalarta.com) Imam Masjidil Aqsha Syaikh Ali Omar Ya’qub ‘Abbasi mengapresiasi Ormas Islam Wahdah Islamiyah (WI) sebagai lembaga dakwah yang terorganisir dengan rapi.

Hal ini beliau sampaikan pasca Tabligh Akbar Pemuda Islam Untuk Palestina di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (31/12/2017).

“Alhamdulillah, Allah hari ini memuliakan saya dengan dimudahkannya bertemu dengan pendiri sekaligus Ketua Umum Ormas Wahdah Islamiyah. Informasi yang saya dapatkan tentang Wahdah Islamiyah, dia adalah sebuah lembaga dakwah yang sangat terorganisir maasyaa Allah. Dan para kadernya saat ini punya cita-cita yang sangat tinggi, yaitu terbentuknya 400 DPD Wahdah Islamiyah di seluruh Indonesia”, ujar Syekh Abbassi.

Beliau juga berharap Wahdah mampu menghadirkan kader-kader yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan bangsa.

“Kami turut bangga dan turut mendo’akan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menolong agama-Nya lewat mereka dan menjadi lembaga yang bermanfaat untuk hamba-hamba Allah dan juga negara serta bermanfaat bagi kemanusiaan secara umum. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan perjuangan mereka”, harapnya.

Imam Masjidil Aqsha Syaikh Ali Omar Ya’qub ‘Abbasi hadir di Masjid Istiqlal dalam Tabligh Akbar bertajuk “Pemuda Islam untuk Palestina” (31/12) yang digelar

Selain beliau hadir pula sebagai pembicara Wakil Ketua MPR RI DR. Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz. Muhammad Zaitun Rasmin. Hadir pula idola para pemuda artis Tommy Kurniawan dan Dude Herlino yang turut menyemangati para peserta yang kebanyakan adalah generasi muda. [ibw]

Gelar Mukernas X, Wahdah Islamiyah Konkritkan Peran Politik Hisbah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada Pembukaan Mukernas X Wahdah Islamiyah

Wahdah Islamiyah akan mengkapitalisasi peran ini, hisbah dan amar ma’ruf nahi munkar dilembagakan pada kader-kader wahdah”. (Ustadz Zaitun).

(Makassar-wahdahjakarta.com)- Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) menggelar Musyawarah Kerja Nasioinal ke.10 (Mukernas X) di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Mukernas X ini diagendakan berlangsung selama tiga hari, 22-24 Desember 2017.

Mukernas X DPP WI dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Wahdah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Dalam arahannya Ustadz Zaitun menekankan empat poin penting berkenan dengan peran dakwah Wahdah Islamiyah. Diantaranya Institusionalisasi peran politik Hisbah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

“Pada mukernas ini kita ingin mengkongkritkan peran politik hisbah amar ma’ruf nahyi munkar Wahdah Islamiyah”, ucapnya di hadapan seribuan peserta Mukernas X. “Wahdah Islamiyah akan mengkapitalisasi peran ini, hisbah dan amar ma’ruf nahi munkar dilembagakan pada kader-kader wahdah”, jelasnya.

Menurut ustadz Zaitun hal ini merupakan bagian dari peran Wahdah Islamiyah dalam melakukan perbaikan di negeri ini serta mewadahi potensi para kader dalam bidang ini. “Kita punya cita-cita besar melalukan islah, perbaikan di seantero masyarakat kita”, terangnya.

“Para kader kita diharapkan lebih berperan, karena setiap Muslim punya kewajiban merubah keadaan yang buruk”, tandasnya. “Mungkin selama ini banyak kader kita yang tidak tersalurkan potensinya dalam amar ma’ruf nahi munkar”, imbuhnya.

Menurut beliau ini merupakan bagian dari makna optimalisasi peran kader yang menjadi inti tema mukernas X kali ini. “Dalam mukernas ini makna itu ditegaskan, ini makna optimalisasi kader”, lanjutnya lagi.
Meskipun demikian Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini menekan, hisbah amar ma’ruf nahi munkar dilakukan secara santun. “Semangat harus tinggi, perjuangan tak kenal lelah, tapi tetap jaga kesantunan”, pungkasnya.

Guna mengoptimalkan peran kader dalam amar ma’ruf nahi munkar, Wahdah Islamiyah telah membentuk lembaga otonom yang menangahi bidang ini, yang bernama Garda Ummat dan Bangsa (Garuda). Garuda dibentuk dan berkedudukan di Makassar. Pengurusnya telah dikukuhkan oleh Ustadz Zaitun pada hari Ahad, 30 Shafar 1439 H (19/11/2017) lalu. [sym].

Ustadz Zaitun Dorong Kader Wahdah Maksimalkan Peran dalam Dakwah Medsos

Ustadz Zaitun Pembukaan-Mukernas-X-Wahdah-Islamiyah

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada Pembukaan-Mukernas-X-Wahdah-Islamiyah

Peran media sosial luar biasa, saat ini menjadi wasilah dakwah yang sangat efektif. Harus ada pemikiran yang serius kearah sana dan maksimalkan peran kader dalam medsos (media sosial).”

(Makassar-wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mendorong kader Wahdah Islamiyah untuk memaksimalkan peran dalam dakwah medsos (media sosial). Arahan ini beliau sampaikan dalam pembukaan Musyawarah Kerja Nasioinal (Mukernas) ke-10 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jum’at (22/12/2017).

Arahan terkait media sosial ini dianggap penting dan sejalan dengan tema yang sedang diusung dalam mukernas kali ini, yaitu “Optimalisasi Peran Kader dalam Pengembangan Organisasi Menuju Visi Misi 2030”.

Ustadz Zaitun menjelaskan bukti-bukti efektifitas media sosial. Diantara contohnya adalah yang terjadi pada Aksi-aksi Bela Islam dan aksi keumatan lainnya. “Aksi-aksi tersebut minim pemberitaan di televisi maupun media mainstream lainnya, namun berkat media sosial aksi tersebut mampu menghadirkan ratusan ribu bahkan jutaan peserta menurut banyak sumber”, terangnya.

Oleh karena itu beliau mengarahkan para kader Wahdah Islamiyah juga bisa mengoptimalkan medsos di dunia dakwah. “Peran media sosial luar biasa, saat ini menjadi wasilah dakwah yang sangat efektif. Harus ada pemikiran yang serius kearah sana dan maksimalkan peran kader dalam medsos (media sosial),” jelasnya.

Beliau mengingatkan perlunya membangun kesadaran, agar kader bisa mengambil sisi positif media sosial dan bukan justru menjadi korban dampak negatifnya. “Di zaman ini peran medsos luar biasa, hari ini medsos menjadi wasilah yang memperbaiki dan merusak, peran kader kita dalam medsos sangat dibutuhkan. Kita akan membicarakannya di Mukernas ini, agar kader-kader kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya”, jelasnya.

Dakwah dengan media sosial memang memiliki peluang yang sangat besar di Indonesia, mengingat penduduk Indonesia termasuk peringkat atas di dunia dalam mengakses media sosial. [ibw/sym]

Ustadz Zaitun: Jihad Kita Hari Ini Adalah Jihad Dakwah dan Tarbiyah

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada Pembukaan Mukernas X DPP WI

“Jihad kita hari ini adalah dengan dakwah, tarbiyah dan pembinaan intensif.  Jika kita memahami bahwa jihad kita hari ini adalah dakwah, maka sudah menjadi kelaziman bagi siapa saja yang memiliki semangat juang untuk melakukan pembinaan secara intensif melalui halaqah tarbiyah”. (Ustadz Zaitun).

(Makassar-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI)Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa jihad kita hari ini adalah jihad dakwah dan tarbiyah. Hal ini beliau katakan saat menyampaikan sambutan dan arahan pada pembukaan Musyawarah Kerja Nasional ke.10 (Mukernas X) DPP WI  pada Jum’at malam (22/12/2017), di Asrama Haji Sudiang Makassar. “Jihad kita hari ini adalah dengan dakwah, tarbiyah dan pembinaan intensif”, ujarnya.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Asia Tenggara ini mewujudkan dakwah sebagai jihad harus ditopang oleh program kaderisasi dan pembinaan intensif yang sungguh-sungguh.  “Jika kita memahami bahwa jihad kita hari ini adalah dakwah, maka sudah menjadi kelaziman bagi siapa saja yang memiliki semangat juang untuk melakukan pembinaan secara intensif melalui halaqah tarbiyah”, terangnya. “Harus ada kerinduan membina halaqah”, tegasnya.

Disini beliau menekankan pentingnya proses pembinaan dengan penanaman ilmu dan nilai-nilai semangat juang. Proses pembinaan intensif melalui “tarbiyah” ini diharapkan akan terus mencetak kader-kader yang tangguh  dan militan di medan dakwah.

Kader militan dalam kamus Wahdah Islamiyah adalah mereka yang siap hidup dengan Islam, mengisi hati dengan iman, akal dengan ilmu syari serta punya semangat juang yang tinggi, tidak mengenal waktu dan tempat,” tegasnya.  “Kader militan adalah kader yang siap ditempatkan dimanapun di seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya.

Dengan kualifikasi kader seperti itu beliau berharap semakin banyak da’i-da’i militan yang siap ditempatkan di seluruh wilayah di Indonesia. Ini karena rasio antara jumlah penduduk dan jumlah da’i masih dianggap jauh dari memadai.

Mukernas X Wahdah Islamiyah mengusung tema “Optimalisasi Peran Kader dalam Pengembangan Organisasi Menuju Visi Misi 2030”. Agenda tahunan ini diikuti 1075 an pengurus WI dari seluruh Indonesia. Direncanakan akan berlangsung selama tiga hari, 22-24 Desember 2017. [ibw/sym]