Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

Ustadz Zaitun

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memandu Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Bachtira Nasir, dan Ustadz Abdul Shomad

Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

 

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Pada Kamis (05/07/2018) yang merupakan malam puncak acara Pertemuan (Multaqa) Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-5, para peserta menanti suatu momen yang ditunggu-tunggu. Yakni Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia; Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen MIUMI Pusat), Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat.

Para ustadz masyhur yang selama ini memenuhi ruang-ruang di media sosial, pada malam itu duduk di satu meja, bergantian berceramah di hadapan para ulama dan masyayekh dari berbagai negara, dan dengan intensif berbahasa Arab.

Dimoderatori Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, para ustadz yang ketika itu dipanggil dengan gelar “syekh” itu pun satu per satu menyampaikan risalah Islam dengan kekhasannya masing-masing.

“Syekh Bachtiar Nasir, Syekh Abdul Somad, dan Syekh Adi Hidayat,” Ustadz Zaitun Rasmin memanggil satu per satu ketiganya ke atas panggung.

Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) diberi giliran pertama dan berbicara tentang persatuan dan lemahnya kondisi umat Islam saat ini dalam politik, ekonomi, dan bidang strategis lainnya.

Dalam penjelasaannya, UBN mengutip kisah terkenal ulama Mesir Syekh Mutawalli As-Sya’rawi yang menjawab pertanyaan seorang orientalis mengenai kebenaran Al-Quran. Cukup singkat ceramah UBN pada malam itu.

“Saya meyakini persatuan di antara kita, tidak akan pernah terjadi sebelum kita meng-upgrade status dari sekedar Muslimin menjadi Mu’minin,” ujar UBN, melansir Islamic News Agency (INA) kantor berita yang diinisiasi Jurnaslis Islam Bersatu (JITU).

Selanjutnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengawali ceramahnya dengan memperkenalkan diri kepada para masyayekh mengenai latar belakang pendidikan dan asal-usulnya.

Dalam ceramahnya, UAS membawa masalah perbedaan madzhab fikih dengan pembawaan yang ringan. Dia bahkan terkadang menyelipkan humor yang tak jarang membuat para peserta dan para ulama yang lengkap dengan gamis dan kefiyyehnya itu tak mampu menahan tawa.

“PERSIS, NU, Muhammadiyah semuanya adalah saudara kami. Perbedaan-perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’iyah (cabang) bukan ushuliyah (landasan atau dasar-dasar agama),” ucap UAS.

Sementara Ustadz Adi Hidayat (UAH), dengan gaya bahasa yang puitis, yang didukung dengan penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang dikontekstualisasikan dengan sejarah Islam di Nusantara berkali-kali membuat para peserta berdecak kagum.

Seakan dia ingin berpesan, bahwa datangnya rahmat Allah ke Indonesia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran para ulama terdahulu yang telah menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Tanah Air.

UAH, yang memiliki latar belakang Muhammadiyah, secara fasih dapat menyebutkan silsilah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. “Keduanya merupakan dua bersaudara dari kakek buyut yang sama”, tegasnya.

Selain dihadiri ulama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga tak ingin melewatkan momen tersebut. Tidak seperti biasanya, Anies hadir tanpa berbicara di hadapan umum dan mengaku hanya ingin menikmati ceramah para ustadz. [ed:sym].

Wakili Indonesia Terima Penghargaan Bela Palestina, UBN dan UZR Dipertemukan dengan Erdogan

Wakili Indonesia Terima Penghargaan Bela Palestina, UBN dan UZR Dipertemukan dengan Erdogan

(Istanbul)- wahdahjakarta.com– Dalam konferensi Al-Quds Amanati, para aktivis Palestina Internasional mengundang tamu utama, dua tokoh khusus untuk mewakili dua negara pembela Baitul Maqdis. Pertama ustad Bachtiar Nasir mewakili rakyat Indonesia, dan kedua Dr. Nuruddin Nabati, anggota parlemen Turki.

Konferensi yang dihadiri ratusan delegasi Indonesia ini, juga memberikan tanda penghargaan atas usaha-usaha pembelaan terhadap Palestina di dua negara ini. Terkhusus untuk rakyat Indonesia, Konferensi Internasional yang diberada dibawah pengawasan langsung para Ulama Al-Quds ini menghadiahkan salah satu lempengan asli kubah masjid Ash-Shakrah.

Setelah berdampingan di forum dengan Dr. Nuruddin Nabati, anggota Parlemen Turki pembela Al-Quds, Ustad Bachtiar Nasir diundang khusus untuk bertemu Presiden Erdogan yang sedang berada di Istanbul saat itu. Untuk mewakili seluruh umat Islam Indonesia, maka pertemuan itu juga dihadiri oleh Ustad Muhammad Zaitun Rasmin, KH. Ahmad Shabri Lubis, Ustad Jeje Zainuddin dan ustad Ridwan Yahya.

Berikut videonya : https://www.youtube.com

Satu harapan besar dari konferensi internasional aktivis Baitul Maqdis di Istanbul ini agar Indonesia berada di shaf terdepan dalam pembelaannya. Bahkan, seorang tokoh arab yang hadir mengatakan setelah mendengar penampilan bacaan al-Qur’an oleh seorang anak Indonesia bernama Umar Al-Faruq, “Sekarang dalam multaqo ini anak Indonesia Umar Al Faruq membacakan Alquran, semoga kelak yang membebaskan Al Quds adalah Umar Al Faruq dari Indonesia,”.

Amanah besar di pundak, siapkah kita untuk bersama Palestina menjaga Baitul Maqdis?n[SoA/sym/wahdahjakarta.com].

Sekjen MIUMI Peroleh Penghargaan dari Lembaga Al-Quds Amanahku

Sekjen MIUMI Peroleh Penghargaan dari Lembaga Al-Quds Amanahku
(Istanbul) wahdahjakarta.com– Sekretaris Jendral Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjen MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) didapuk memberikan sambutan terakhir dalam Multaqo Al-Quds Amanati di Istanbul, Turki, Sabtu (14/4/2018).

Video orasi UBN saat Aksi Bela Palestina di Jakarta 17-12-17 menuai decak kagum dan standing applause. “Kita tidak akan surut dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kami memang datang dari jauh. Tapi kemenangan itu sangat dekat,” ungkapnya.

Lebih lanjut UBN mengatakan, warga Indonesia serta pemuda Idonesia bersama warga dunia yang lain akan terus membebaskan Palestina.

Pimpinan AQL ini juga mengajak para pemimpin negara Islam untuk bersatu membebaskan Palestina. “Musibah terburuk umat saat ini adalah perpecahan. Kekalahan dahulu cukup sudah menjadi pelajaran, kini saatnya bersatu,” tegas UBN.

Pada acara puncak konferensi Internasional al-Quds Amanahku II tersebut KH. Bachtiar Nasir menerima penghargaan dari Lembaga al-Quds Amanahku atas perjuangan dan usahanya bersama para ulama dan tokoh Indonesia dalam membela serta mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merebut kemerdekaannya, khususnya dalam Aksi Bela Palestina 17 Desember 2017 di Monas Jakarta. Penghargaan tersebut berupa kepingan dari kubah qubbatush shakra di Masjidil Aqsha.

Ini merupakan sebuah kehormatan agar estafet perjuangan pembebasan Al-Quds dipegang oleh muslimin Indonesia. Saat akan menerima penghargaan UBN justru mengatakan, “Saya tidak bisa memimpin jutaan ummat muslim Indonesia dalam aksi 17-12-17 tanpa bantuan sahabat-sahabat saya.”

Lalu UBN memanggil KH Shobri Lubis, Ustadz Zaitun Rasmin (UZR), Ustadz Jeje Zainuddin, Ustadz Tamsil Linrung serta para tokoh Islam Indonesia yang turut hadir pada acara multaqo tersebut. Hal itu sebagai isyarat bahwa penghargaan ini bukanlah untuk individu tertentu, tapi pada hakikatnya ini adalah penghargaan untuk seluruh umat Islam Indonesia yang tetap komit pada janjinya untuk selalu mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. (Forjim).

Kesempurnaan Syariat Islam Tak Boleh Dilecehkan

Kesempurnaan Syariat Islam Tak Boleh Dilecehkan

Islam adalah Agama yang sempurna dan sesuai fitrah manusia. Secara  fitrah manusia juga akan menghormati ajaran agama da menolak pengolok-olokan ajaran agama.

Islam adalah agama yang sempurna. Diturunkan oleh Dzat yang sama, yang menciptakan manusia, Allah subhanahu wata’ala.

Islam adalah agama fitrah. Semua sisi syari’atnya sejalan dengan fitrah manusia. Karena yang menurunkan syari’at ini paling mengetahui apa-apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya, yaitu manusia.

Maka dari itu, secara fitrah manusia juga akan menghormati ajaran agama. Secara fitrah, jiwa manusia akan menolak pengolok-olokan ajaran agama.

Dalam Islam, mengolok-olok agama hukumannya sangatlah berat. Pelecehan terhadap syari’at adalah bentuk kemungkaran berat. Dan kemungkaran jika dibiarkan, akan mengundang kemurkaan Allah ta’ala.

Siapapun pelakunya, harus diberikan sanksi. Siapapun itu. Kenapa? Karena jika dibiarkan semua bisa terkena dampak buruknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah sangat marah ketika ada salah satu wanita bangsawan melakukan kemungkaran, kemudian dimintakan keringanan hukuman.

Wajib bagi umat Islam untuk menyuarakan kebenaran, amar ma’ruf nahi munkar ketika terjadi penodaan atau pelecehan ajaran Islam. [uzr/ibw/wahdahjakarta.com].

 

….

Ta’lim Shubuh di Masjid Baitul Muhsinin, Ponorogo, Jatim, Ahad, 8/4/18.

Ustadz Zaitun: Kejayaan Islam Lahir dari Persatuan Umat

 


BEKASI (wahdahjakarta.com), Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (UZR) mengatakan, kejayaan Islam akan berdampak positif bagi Indonesia, seperti terekam dalam perjalanan sejarah umat Islam di dunia.”Bila Islam jaya bangsa Indonesia juga akan jaya, seluruh anak negeri akan merasakan rahmat Islam,” katanya saat berbicara pada Tabligh Akbar bertema ‘Persatuan Umat untuk Kejayaan Islam’ di Islamic Center, Bekasi, Ahad (11/3/2018).

Oleh karena itu, lanjut Ustadz Zaitun, umat Islam harus gencar berdakwah dan mensosialisasikan tentang perlunya umat memiliki cita-cita kejayaan Islam. Apalagi, menjelang pemilihan umum dan daerah, umat perlu paham arah politik Islam, sebagai salah satu pintu kejayaan Islam. “Saat ini adalah momen penting, karena tahun politik. Politik itu penting, kita Sekian tahun dibodoh-bodohi bahwa politik itu kotor,”ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesian (MIUMI) ini menjelaskan bahwa akibat paradigma kotor, umat Islam banyak menjauh dari kekuasaan, sehingga kekuasaan banyak direbut oleh kalangan sekuler dan di luar Islam. “Politik tidak boleh ditinggalkan oleh umat Islam, agar umat Islam tidak dirampas haknya,” tuturnya.

UZR mengakui politik memang ada yang kotor, sebagaimana ekonomi juga ada yang kotor. Akan tetapi, politik Islam tidak hitam putih. “Kalau saat ini situasi sistemnya buruk, politik Islam itu mencoba mengurangi mudaratnya,” ucap Wakil Sekjen MUI Pusat itu.

Maka dari itu, lanjut UZR, persatuan umat menjadi sangat krusial dalam konteks Politik Islam. Perpecahan harus dihindari sedini mungkin melalui proses musyawarah, termasuk saat menentukan calon pemimpin.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini menyarankan agar di setiap daerah yang mengadakan pilkada menggelar musyawarah, supaya bisa menentukan calon yang didukung saat calon yang ada membingungkan umat.  “Di sinilah peran ulama sangat diperlukan untuk menentukan mana yang paling baik dari yang baik-baik, dan mana yang paling kecil buruknya dari yang buruk-buruk, ” pungkasnya.

Ustadz Zaitun kembali menegaskan bahwa kunci dari musyawarah adalah persatuan, ia mengimbau agar persatuan harus selalu dirawat. Salah satu kelemahan umat, kurang merawat persatuan yang telah diberikan Allah dalam Aksi Bela Islam 212.
“Saat ini belum jelas, apakah semakin kuat atau semakin lemah (Persatuan 212,red),”ujarnya.

Menurutnya salah satu yang kelemahan umat dalam mengelola persatuan adalah lemahnya komunikasi. Sementara, Al Quran mengungkapkan tentang pentingnya komunikasi. “InsyaAllah komunikasi yang kuat akan melahirkan persatuan,”tandasnya. [sym].

Soal Orang Gila, Ustadz Zaitun: Tahan Diri, Jangan Langsung Menyimpulkan

Ustadz Zaitun Mengisi Tabligh Akbar di Masjid Habiburrahman Kota Dumai

Ustadz Zaitun Mengisi Tabligh Akbar di Masjid Habiburrahman Kota Dumai

Kota Dumai – Dalam ceramahnya di Masjid Habiburrahman Kota Dumai, (4/3/2018) Ustadz Zaitun mengajak jama’ah untuk tadabbur Surat Yusuf terkait maraknya isu aktivis Islam dan Kiyai dibunuh oleh orang gila.

Ustadz Zaitun mengatakan bahwa  Allah menyebutkan di surat ini “Laqad kaana fi qashashihim ‘ibratun li ulil albab”. Yang artinya, “Sungguh dalam kisah mereka (Nabi Yusuf dan keluarganya) ada pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal”. Ini adalah ayat terakhir (111) dari surat Yusuf.

Menurut alumni Universitas Islam Madinah yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini, umat Islam perlu belajar dari Nabi Ya’qub. “Nabi Ya’qub tidak mudah percaya, tidak langsung memvonis anak-anaknya. Meskipun terlihat jelas ada yang janggal dalam cerita rekaan mereka soal Nabi Yusuf dimakan serigala. Mana ada serigala memakan manusia kemudian menyisakan bajunya?” ungkap beliau.

Beliau mengajak umat Islam agar tidak mudah berprasangka bahwa isu soal orang gila ini adalah rekayasa. Jangan sampai umat terlalu dini menyimpulkan, apalagi menaruh kecurigaan kepada aparat. Hal ini perlu diwaspadai karena bisa jadi ada pihak-pihak yang mencoba menjebak dan mengadu domba umat Islam.

“Karena itu, kita harus hati-hati, jika ada informasi dicek baik-baik. Mempercayai saja tidak boleh langsung, apa lagi menyebarkan. Kalau semua info langsung disebar, itu tidak sesuai petunjuk Al Quran. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut orang yang menyebar semua informasi yang didapatnya sebagai pendusta”, tegas beliau.

“Yang paling penting sekarang adalah, pertama bersabar, kedua sandarkan semuanya kepada Allah, dan yang ketiga kita tetap lakukan penyelidikan”, tiga hal ini yang beliau simpulkan dari Surat Yusuf.

Tentang bersabar menghadapi berita-berita yang belum jelas kepastiannya beliau katakan, “Sebagaimana ungkapan Nabi Ya’qub yang mengatakan wallahul mustaan. Semuanya disandarkan kepada Allah Yang Maha Tahu. Sebab kadang sesuatu yang buruk terjadi, tapi tidak selamanya buruk. Boleh jadi itu adalah suatu ujian yang kelak berbuah kebaikan. Serahkan kepada Allah hasilnya”.

Meskipun begitu, beliau menekankan bahwa pengusutan harus tetap dilakukan. Upaya manusiawi ini yang juga tetap ditempuh oleh Nabi Ya’qub dengan memerintahkan anak-anaknya untuk terus mencari Nabi Yusuf. [ibw/aha]

Marak Penyerangan Ulama, Ini Arahan Ustadz Zaitun

 

Keta Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Marak Penyerangan Ulama, Ini Arahan Ustadz Zaitun

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini  kemudian menasehatkan agar kaum muslimin tetap waspada, jaga diri, lingkungan jaga ustadz dan ulama. Tapi jangan juga over akting dan tetap harus proporsional.

(Makassar)-Wahjakarta.com – Menyikapi maraknya penyerangan terhadap ulama dan dai yang dilakukan oleh orang yang terindikasi gila, ustadz Zaitun menasehatkan agar kaum muslimin tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Menurut ketua Umum Wahdah Islamiah tersebut kita harus berhati-hati menghadapi suatu misteri.

“Jangan mudah memvonis, menuduh apalagi ambil tindakan, kita harus bergerak, bersikap berdasarkan ilmu pengetahuan, hujjah, keyakinan, bukan sekedar dugaan. Walaupun kita jadi korban, kita tidak boleh serampangan membalas” Ungkap ustadz Zaitun saat menyampaikan ceramah tabligh akbar di masjid al-Markaz al-islami Makassar, pada Ahad (25/02/2018).

Ustadz Zaitun menceritakan bagaimana nabi Yakub ‘alaihissalam dalam menghadapi konspirasi anak-anaknya terhadap anak yang paling disayanginya nabi Yusuf ‘alaihi salam.  Meski nabi Ya’kub dengan firasat kenabiannya tahu bahwa anak-anaknya berbohong dengan laporan bahwa nabi Yusuf kecil dimakan serigala, namun beliau hanya bisa bersabar dengan “sabrun jamil” kesabaran yang baik. Karena ia memang tidak memiliki bukti saat itu. Namun bukan berarti Ya’kub pasrah, ia tetap berinisiatif untuk mengetahui kebenaran keyakinannya bahwa nabi Yusuf masih hidup.

Ustaz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI Pusat  berharap ke depan persoalan ini (penyerangan dai dan ulama oleh orang gila) terang seterang-terangnya agar tidak timbul dampak yang lebih besar.

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini  kemudian menasehatkan agar kaum muslimin tetap waspada, jaga diri, lingkungan jaga ustadz dan ulama. Tapi jangan juga over akting dan tetap harus proporsional.

“Di sisi lain, umat Islam harus waspada. Tapi jangan berlebihan setiap ada orang yang nampak gila langsung ditangkap, apalagi dianiaya,” tandasnya.[ZL/sym]

Ustadz Zaitun: Cinta NKRI Itu Fitrah

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Ustadz Zaitun Cinta NKRI

Gorontalo – Wahdah Islamiyah Gorontalo menelenggarakan tabligh akbar dengan tema Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan. Bertempat di Masjid Kampus Univeritas Negeri Gorontalo Sabilurrasyad pada hari Ahad, 11/02/2018.

Hadir dalam acara ini Ketua MUI gorontalo Ust. Abdurrahman Bahmid, Lc, Alumni Al Azhar yang juga anggota DPD RI ini menyebut tabligh akbar ini sangat penting sebagai penguatan.

“Umat Islam harus kuat, baik secara pribadi, organisasi, maupun dalam skala ummat. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah”, terangnya.

“Mashdarul quwwah (sumber kekuatan) adalah kuatnya aqidah dan hubungan dengan Allah. Setelah itu, persatuan ummat”, imbuhnya.

Selanjutnya Ust. Zaitun Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang juga Wasekjen MUI menjelaskan pentingnya cinta NKRI dan pentingnya persatuan.

“NKRI adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga dan dirawat”, kata beliau.

Menurut Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i Asia Tenggara ini, nasionalisme (cinta negeri) adalah sesuatu yag thabi’i (sesuai dengan sifat bawaan manusia/fitrah). Asalkan tetap dalam batas yang tidak melanggar syari’at.

“Cinta kepada negeri adalah sesuatu yang thabi’i. Sebagaimana dahulu Rasulullah mengungkapkan kecintaan beliau kepada kota Makkah saat berhijrah”, terangnya.

“Umat islam mayoritas di negeri ini harus mengetahui konsep islam tentang nasionalisme. Kalau tidak, akan dimanfaatkan oleh orang lain dari kalangan sekuler menjauhkan ummat islam dari hak-haknya,” lanjut ustad yang juga wakil ketua GNPF ulama ini.

Batasan yang beliau maksudkan adalah kecintaan yang tidak melebihi cinta Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam, serta tidak merendahkan bangsa lain.

“Cinta pada negeri ini disyariatkan asal tidak melebihi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan ajaran Islam itu sendiri. Nasionalisme yang dilarang Islam adalah menjadikan seseorang membenci atau merendahkan bangsa lain”, tegas beliau.

Beliau menambahkan bahwa wujud cinta negeri adalah dengan membela, membangun, merawat, mencintai, dan memajukan NKRI.

Termasuk bentuk merawat NKRI menurut beliau adalah dengan tetap menghidupkan budaya saling menasehati, Amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan identitas-identitas yang ada pada suku atau agama tertentu. Umat Islam siap bersatu dalam perbedaan demi terjaganya NKRI”, pungkas beliau. [ibw]

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Pontianak (wahdahjakarta.com)– Para Ulama hendaknya tampil mengarahkan ummat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak Kalimantan Barat, Ahad (28/01) pagi.

“Sejarah perjuangan umat dan ulama di Indonesia menunjukkan bahwa mereka telah korbankan harta dan nyawa untuk memerdekakan negeri ini. Di masa orde lama dan orde baru sebagian ulama terpaksa menjauhi pusat kekuasaan. Namun Di zaman ini umat dan ulama tidak boleh terjebak dalam hal yang sama. Para ulama harus tampil di depan untuk mengarahkan ummat dan menjaga negara ini”, jelasnya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menambahkan bahwa hal itu dapat diwujudkan dengan mengembalikan fungsi dan peran Masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial, dan perjuangan. Menurutnya bahwa memang Masjid tidak selayaknya dijadikan tempat kegiatan politik praktis, tapi penyadaran dan pendidikan politik (siyasah syar’iyyah) kepada ummat.

“Di masjid ada larangan jual beli dan kegiatan politik praktis, namun masjid harus tetap menjadi tempat penyadaran siyasah syar’iyyah (Politik Islam), karena siyasah syar’iyyah adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam”, terangnya.

“Negeri ini adalah karunia Allah Ta’ala yang harus kita jaga dan pertahankan. Karena itu kita harus sungguh-sungguh, jangan sampai negeri ini hancur”, ungkapnya. “Kita buktikan bahwa umat Islam adalah yang paling tinggi nasionalismenya”, pungkasnya. [ibw/sym].

ustadz-zaitun-di-kantor-MUI

Ustaz Zaitun Ajak Masyarakat Hadir Pada Aksi Bela Palestina

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Jakarta-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengajak masyarakat memprioritaskan untuk hadir pada acara Indonesia Bela Palestina, Ahad (17/12) besok.

“Harap dijadikan prioritas”, imbaunya saat Press Conference jelang Aksi Indonesia Bersatu Bela Palestina di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Jakarta Selatan, pada Sabtu (16/12). “Korbankan acara yang lain untuk Palestina”, tandasnya. ” Karena kita datang untuk membela Palestina”, pungkasnya.

Aksi Indonesia Bela Palestina yang dipimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) ini diperkirakan akan akan dihadiri 3 juta massa. 70 Ormas Islam akan menurunkan massa masing-masing untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina yang dijajah oleh Zionis Israel. [ed:sym].