Wahdah Peduli Siaga Banjir di Pejaten Timur Jakarta Selatan

Wahdah Peduli Siaga Banjir

Dokumentasi Wahdah Peduli Bantu Banjir di Pejaten Timur Jakarta Selatan

Wahdah Peduli Siaga Banjir di Pejaten Timur Jakarta Selatan

Jakarta – Banjir Jakarta tahun ini (2018) dianggap lebih besar dibanding tahun lalu (2017). Bahkan pada beberapa titik dianggap menyamai banjir tahun 2007 yang hampir menenggelamkan Jakarta, khususnya untuk wilayah di seputaran Ciliwung. Diantara daerah yang dilalui aliran sungai Ciliwung yaitu Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jaksel.

Pada Selasa, 6 Februari 2018 Tim Wahdah Peduli yang disupport penuh oleh LAZIS Wahdah Jakarta alhamdulillah berkesempatan melakukan penyaluran bantuan mendasar berupa sembako (telor 30 kg, mie instan 20 dus, dan beras 50 kg) di RT 005 RW 005 di Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

Bantuan diterima langsung oleh Kesra Kelurahan Pejaten Timur beserta Sekel (Sekertaris Kelurahan). Tim Wahdah Peduli daerah Jakarta Selatan yang dipimpin Ustadz Anas Syukur dan LAZIS Wahdah Jakarta yang diketuai Ustadz Yudi berkesempatan bertemu dengan Bapak dan Ibu Camat untuk menyampaikan rasa bela sungkawa atas musibah yang terjadi dan berdiskusi terkait peta bencana di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Pantauan terakhir kami di lapangan, kebutuhan bantuan berupa pampers, pakaian pantas pakai, peralatan dapur dan tenaga untuk membersihkan lumpur yang belum terpenuhi”, papar Ibu Camat.

Menurut Sekertaris Kelurahan Pejaten Timur, Bapak Akhmad, dikatakan bahwa ada beberapa RW yang terendam Banjir, dan paling parah di RW 7 dan 8. “Data-data masih terus diupdate”, kata beliau.

Jelang sore hari Tim Wahdah Peduli dan LAZIS Wahdah Jakarta melakukan survei ke RT 01 dan RT 16, RW 07 Pejaten Timur. Tim yang sempat bertemu dan berdiskusi dengan Ketua RT 16 dan RT 01 ini kemudian mendapatkan data-data sebagai berikut :

1) Belum adanya bantuan sama sekali ke RT tersebut, baik dari pemerintah maupun lembaga sosial
2) Belum ada dapur umum
3) Sekitar 500 rumah warga terendam banjir, bahkan puluhan rumah lainnya hampir tenggelam dan rusak berat.
4) Kebutuhan mendasar :
– Sembako
– Pakaian pantas pakai
– Perkakas dapur dan rumah
– Tenaga bantuan untuk membersihkan lumpur
– Perbaikan puluhan rumah yang rusak berat.

Pertemuan yang juga didampingi Pegawai Bagian Kesra Kelurahan Pejaten Timur ini berakhir menjelang maghrib, dengan kesepakatan akan membuat dapur umum. Insya Allah.

Bagi anda yang ingin berdonasi meringankan beban warga Jakarta dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening Bank Syariah Mandiri (451) 499 900 900 5 an LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Kode transfer 700. Contoh Rp 50.700,-. Informasi dan Konfirmasi Bantuan 08119787900 (call/wa/sms). (rd/yd).

Wahdah Imbau Sholat Gerhana Bulan 31 Januari 2018

Wahdah Islamiyah Imbau Sholat Gerhana Bulan Januari 2018

Wahdah Islamiyah Imbau Sholat Gerhana Bulan Januari 2018

🌗 Imbauan Tentang Pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan 🌗
IMBAUAN
Nomor : K.013/IL/DSA-WI/V/1439
Tentang: Pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, berdasarkan:
🌸 1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala di dalam QS. Fushshilat: 37
وَمِنْ آياتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepda matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepadanya.”

🌸 2. Hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Mas’ud Al Anshari -radhiyallahu ‘anhu-:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan dua diantara tanda-tanda (kebesaran) Allah, Allah mempertakuti para hamba-Nya dengan dua tanda tersebut, matahari dan bulan mengalami gerhana bukan karena ada seseorang yang meninggal dunia maka jika engkau melihat kejadian gerhana shalatlah dan berdoalah kepada Allah hingga gerhana sirna dari kalian”

🌸 3. Surat Kementrian Agama R.I. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarat Islam tertanggal 29 Rabiul Akhir 1439 H/ 17 Januari 2018 M perihal seruan pelaksanaan shalat Gerhana Bulan (shalat Khusuf).

🌸 4. Hasil musyawarah Pengurus Harian Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Indonesia pada hari Rabu, 29 Rabiul Akhir1439 H/ 18 Januari 2018 M, terkait informasi akan terjadinya Gerhana Bulan Total di hampir seluruh kawasan Indonesia pada hari Rabu 14 Jumadal Ula 1439 H/31 Januari 2018 M.

Maka atas pertimbangan keempat point di atas Dewan Syariah Wahdah Islamiyah mengimbau kepada seluruh anggota Wahdah Islamiyah di seluruh wilayah dan daerah serta kaum muslimin secara umum untuk memperhatikan hal-hal berikut:
🍃 1. Shalat Gerhana hukumnya sunnah muakkadah menurut kebanyakan ulama.

🍃 2. Shalat Gerhana hanya dilaksanakan jika gerhana terlihat di wilayah masing-masing.

🍃 3. Menghidupkan beberapa ibadah yang dianjurkan ketika terjadinya gerhana, seperti shalat, memperbanyak zikir, doa, istighfar, sedekah dan amal saleh lainnya.

🍃 4. Shalat Gerhana dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan mengeraskan bacaan surah dalam shalat, dan setiap rakaat dua kali ruku’ dan dua kali sujud.

🍃 5. Waktu pelaksanaan shalat Gerhana sejak terjadi gerhana hingga berakhir

🍃 6. Disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah dan boleh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, akan tetapi lebih utama dilaksanakan secara berjamaah.

🍃 7. Dianjurkan untuk dilaksanakan shalat Gerhana di masjid.

🍃 8. Disunnahkan untuk diserukan kalimat “asshalatu jaami’ah” pada saat hendak dilaksanakan shalat gerhana dan tidak disyariatkan pelaksanaan adzan dan iqamah.

🍃 9. Tata Cara Shalat Gerhana:
Imam berdiri bertakbir lalu membaca surah al-Fatihah dengan menjaharkannya lalu membaca surah yang panjang semisal surah al-Baqarah, lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama meskipun lebih pendek dari ketika berdiri membaca surah, lalu bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri dengan berdiri yang lama dengan membaca surah al-Fatihah dan surah lainnya semisal surah Ali Imran meskipun lebih pendek dari berdiri yang pertama. Lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama meskipun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, lalu sujud dengan sujud yang lama, kemudian duduk di antara dua sujud, kemudian sujud dengan sujud yang lama. Kemudian melanjutkan shalat di rakaat kedua seperti pada rakaat yang pertama dengan dua kali ruku’ yang panjang dan dua kali sujud yang panjang seperti yang dilakukan pada rakaat pertama kemudian tasyahhud lalu salam.

🍃 10. Setelah melaksanakan shalat Gerhana disunnahkan berkotbah kepada para jamaah dengan memberikan peringatan kepada mereka agar tidak lalai dan hanya takut kepada Allah, serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.

🍃 11. Jika telah selesai shalat sebelum berakhirnya gerhana, maka dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah dan berdoa hingga berakhirnya gerhana dan tidak perlu mengulang shalat. Dan jika gerhana telah berakhir pada saat shalat, maka shalat tetap dilanjutkan hingga selesai meskipun tidak memperpanjang shalatnya.

🍃 12. Tidak dianjurkan meng-qadha shalat Gerhana jika gerhana telah berakhir sebelum shalat.
وفقنا الله جميعا لما يحب ويرضى، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين

Makassar, 5 Jumadal Ula 1439 H
23 Januari 2018 M

DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH
✍🏼 Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. – Ketua
✍🏼Harman Tajang, Lc., M.H.I. – Sekretaris

Sumber 👉🏼 http://wahdah.or.id/imbauan-tentang-pelaksanaan-shalat-ger…/

➡ Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan jgn dihapus 🙏🏼
💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini
📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap – daerah – wi
Contoh:
Irhamullah – Yogyakarta – WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281383787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram s.id/InstagramWahdah
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

Ketua MPR: Ulama dan Umat Islam Penjaga NKRI

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam Dialog Kebangsaan di sela-sela Mukernas X DPP Wahdah Islamiyah. Foto: Istimewa

“Umat Islam dan ulama adalah penjaga  NKRI,” (Zulkifli Hasan).

(Makassar-wahdahjakarta.com)- Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mengatakan bahwa penjaga Negara Republik Indonesia (NKRI) yang sesungguhnya adalah para ulama dan umat Islam. Hal ini beliau katakan pada dialog Kebangsaan yang digelar di sela-sela Mukernas X DPP Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (23/12).

“Umat Islam dan ulama adalah penjaga NKRI,” ujar  Zulkifli Hasan di hadapan seribuan peserta Mukernas X Wahdah yang mengikuti Dialog Kebangsaan dan Sosialisasi empat pilar. “kemerdekaan Indonesia bisa tercapai juga atas peran penting ulama dan umat Islam, bahkan bisa dikatakan kemerdekaan tak akan tercapai tanpa peran ulama dan umat Islam”, jelasnya.

Oleh karena itu Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengharapkan peran umat Islam dalam menjaga keutuhan NKRI bersama komponen dan elemen Bangsa Indonesia lainnya. “Peran penting itu harus dijaga dan ditingkatkan. Jangan justru mengecil karena ulama dan umat Islam tidak sadar, ” tandasnya.

Zulkifli juga menyoroti upaya mempertentangkan antara agama Islam dan kebangsaan. “Orang yang taat beragama dianggap tidak nasionalis, tunduk pada ajaran agama dianggap menolak paham kebangsaan. ini salah paham atau paham yang salah”, terangnya.

Menurutnya berislam dan berindonesia tidak dapat dipisahkan. “Oleh karena itu, paham agama dan paham kebangsaan tidak bisa dipecah. Saling menopang, saling mengisi”, imbuhnya. “Menjadi pemeluk agama yang taat adalah jalan untuk menjadi warga negara yang baik,’’lanjutnya. “Orang yang mengatakan beragama dengan benar dikatakan anti pancasila mesti belajar lagi tentang pancasila,” pungkasnya. [sym].

peserta Mukernas X DPP Wahdah Islamiyah menyimak dialog kebangsaan Sosialiasi empat pilar oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan

Ulama Palestina: 5-10 tahun Lagi insya Allah Al-Aqsha Merdeka

“Kami Yakin dengan banyak persiapan dan pengalaman kami selama ini, insya Allah Al-Aqsha merdeka antara 5-10 tahun lagi”, tegas Ulama yang juga pakar manajemen ini.

(Makassar-wahdahjakarta.com) Anggota Perhimpunan Ulama Palestina Syaikh Mahmud Abu Bakr Al-Filastini hafidhahullah optimis bahwa insya Allah lima atau sepuluh tahun lagi Al-Aqsha akan merdeka. Hal itu beliau katakan saat berbicara pada Daurah Maqsidiyyah yang diselenggarakan panitia Mukernas X Wahdah Islamiyah di Masjid Quba Asrama Haji Sudiang Makassar, Jumat (22/12/2017).

“Kami Yakin dengan banyak persiapan dan pengalaman kami selama ini, insya Allah Al-Aqsha merdeka antara 5-10 tahun lagi”, tegas Ulama yang juga pakar manajemen ini.

Menyingung peran kaum Muslimin dalam pembebasan Al-Aqsha, Syekh menyebutkan tiga hal penting yaitu, pertama, bangsa Palestina sendiri telah menyiapkan diri untuk berhadapan langsung dengan Yahudi. “Kami sebagai bangsa yang ditaqdirkan harus berhadapan langsung dengan Yahudi telah menyiapkan para mujahid yang telah dididik dengan Alqur’an sebagai langkah awal penguatan kepribadian”, jelasnya.

Kedua, “Hendaknya setiap Kaum Muslimin dimanapun, agar menyiapkan dukungan dalam bentuk materi untuk mensupport proyek jihad Kaum Muslimin di Palestina”, imbuhnya. Ketiga, “Menguasai media sosial, dalam rangka menyuarakan kebenaran yang sesungguhnya, karena hampir semua media mainstream tidak berpihak pada Rakyat Palestina”, tandasnya.

Ustadz Ikhwan Jalil saat menerjemahkan daurah maqdisiyah

Daurah diterjemahkan dan dipandu oleh Ust Ikhwan Jalil, Lc., MA ini diikuti oleh 500 orang lebih para dai dari seluruh Indonesia. Ustadz Ikhwan juga menekankan pentingnya pemanfaatan medsos untuk kampanye masalah Palestina. “Tiada hari tanpa posting di Medsos, Selain tentang Palestina. Doa, Sumbang, Jihad!, bagi yang belum punya anak, niatkan agar bercita-cita mempunyai anak yang akan disumbangkan untuk Al-Aqsha”, tutup ustadz yang juga Ketua Dewan Syuro DPP Wahdah Islamiyah.

Bagi anda yang akan turut berkontribusi untuk pembebasan Alaqsha, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening Bank Syariah Mandiri (451) 799 900 900 4 an LAZIS Wahdah Care. Kode transfer 940. Contoh Rp 2.000.940,-. Konfirmasi ke nomer 082387900900 (call/wa/sms).(ayd/sym).

Ustadz Zaitun: Jihad Kita Hari Ini Adalah Jihad Dakwah dan Tarbiyah

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada Pembukaan Mukernas X DPP WI

“Jihad kita hari ini adalah dengan dakwah, tarbiyah dan pembinaan intensif.  Jika kita memahami bahwa jihad kita hari ini adalah dakwah, maka sudah menjadi kelaziman bagi siapa saja yang memiliki semangat juang untuk melakukan pembinaan secara intensif melalui halaqah tarbiyah”. (Ustadz Zaitun).

(Makassar-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI)Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa jihad kita hari ini adalah jihad dakwah dan tarbiyah. Hal ini beliau katakan saat menyampaikan sambutan dan arahan pada pembukaan Musyawarah Kerja Nasional ke.10 (Mukernas X) DPP WI  pada Jum’at malam (22/12/2017), di Asrama Haji Sudiang Makassar. “Jihad kita hari ini adalah dengan dakwah, tarbiyah dan pembinaan intensif”, ujarnya.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Asia Tenggara ini mewujudkan dakwah sebagai jihad harus ditopang oleh program kaderisasi dan pembinaan intensif yang sungguh-sungguh.  “Jika kita memahami bahwa jihad kita hari ini adalah dakwah, maka sudah menjadi kelaziman bagi siapa saja yang memiliki semangat juang untuk melakukan pembinaan secara intensif melalui halaqah tarbiyah”, terangnya. “Harus ada kerinduan membina halaqah”, tegasnya.

Disini beliau menekankan pentingnya proses pembinaan dengan penanaman ilmu dan nilai-nilai semangat juang. Proses pembinaan intensif melalui “tarbiyah” ini diharapkan akan terus mencetak kader-kader yang tangguh  dan militan di medan dakwah.

Kader militan dalam kamus Wahdah Islamiyah adalah mereka yang siap hidup dengan Islam, mengisi hati dengan iman, akal dengan ilmu syari serta punya semangat juang yang tinggi, tidak mengenal waktu dan tempat,” tegasnya.  “Kader militan adalah kader yang siap ditempatkan dimanapun di seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya.

Dengan kualifikasi kader seperti itu beliau berharap semakin banyak da’i-da’i militan yang siap ditempatkan di seluruh wilayah di Indonesia. Ini karena rasio antara jumlah penduduk dan jumlah da’i masih dianggap jauh dari memadai.

Mukernas X Wahdah Islamiyah mengusung tema “Optimalisasi Peran Kader dalam Pengembangan Organisasi Menuju Visi Misi 2030”. Agenda tahunan ini diikuti 1075 an pengurus WI dari seluruh Indonesia. Direncanakan akan berlangsung selama tiga hari, 22-24 Desember 2017. [ibw/sym]

 

Wahdah Islamiyah Pertahankan Kearifan Lokal, Ustadz Zaitun: Aslinya Dakwah Islam Seperti Itu

Ustadz Zaitun sedang menyampaikan arahan pada pembukaan Mukernas X Wahdah Islamiyah

“Memperhatikan kearifan lokal merupakan bagian dari usaha untuk dekat dengan apa yang ada di masyarakat sebagai karakter asli dari dakwah Islam. “Ini bukan latah atau ikut-ikutan, aslinya dakwah Islam seperti itu, menyesuaikan. Contohnya Nabi tidak merubah nama-nama para sahabat, kecuali yang mengandung makna buruk”

(Makassar-wahdahjakarta.com)- “Dakwah Islam itu aslinya memperhatikan kearifal lokal”, demikian dikatakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan taujih (arahan) pada pembukaan Musyawarah Kerja Nasional ke.10 (Mukernas X) Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Sudiang Makassar, Jum’at malam (22/12/2017).

Oleh karena itu pada Mukernas X kali ini Wahdah Islamiyah kembali mempertegas salah satu platform dakwahnya sebagai gerakan dakwah universal yang tetap mengakomodir kearifan lokal. “Kita mengusung dakwah universal dengan memperhatikan kearifan lokal”, ujar Ustadz Zaitun di hadapan seribuan peserta Mukernas X.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, bahwa memperhatikan kearifan lokal merupakan bagian dari usaha untuk dekat dengan apa yang ada di masyarakat sebagai karakter asli dari dakwah Islam. “Ini bukan latah atau ikut-ikutan, aslinya dakwah Islam seperti itu, menyesuaikan. Contohnya Nabi tidak merubah nama-nama para sahabat, kecuali yang mengandung makna buruk”, terangnya.

Dakwah Islam yang diusung Wahdah Islamiyah harus memperhatikan kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan syariat”, jelasnya. “Kita tidak ingin dakwah mengalami benturan-benturan”, imbuhnya. “Budaya lokal selama itu adalah hal yang positif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka harus dipertahankan”, pungkasnya.

Peserta Mukernas X

Mukernas X ini yang merupakan musyawarah tahunan dihadiri seluruh pengurus di tingkat kabupaten/kota, provinsi sampai pusat. Tema yang diusung pada Mukernas kali ini “Optimalisasi Peran Kader dalam Pengembangan Organisasi Menuju Visi Misi 2030”.

Menurut Ustadz Zaitun, diantara bentuk optimalisasi itu adalah dengan menghadirkan kader-kader yang faham kearifan lokal, berkualitas, dan gigih namun tetap santun dalam bermuamalah. “Semangat juang kita harus tinggi, gigih dan pantang mundur, tapi kesantunan harus tetap dikedepankan, sebab kita adalah da’i”, lanjutnya.

Mukernas X ini dihadiri lebih dari 1.000 pengurus inti WI dari berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini Wahdah Islamiyah memiliki 141 Dewan Pimpinan Daerah dan ditargetkan sudah merata di seluruh kabupaten/kota pada tahun 2030 mendatang. [ibw/sym]

Konferensi Pers AIMMA 3

Wahdah Islamiyah Tergabung di AIMMA (Aliansi Indonesia Membela Masjid Al Aqsa)

Wahdah Islamiyah Tergabung di AIMMA (Aliansi Indonesia Membela Masjid Al Aqsa)

Jakarta – Paska Aksi Bela Palestina 1712 di Monas, muncul inisiasi agar dibentuk program aksi nyata untuk mendukung perjuangan yang lebih spesifik membebaskan Alaqsha.

Wahdah Islamiyah termasuk yang menghadiri pertemuan lembaga-lembaga sosial yang selama ini turut berkontribusi untuk perjuangan Palestina.

Pertemuan dan konferensi press yang diadakan pada Hari Rabu (20/12/2017) di AQL ini membentuk aliansi yang dinamakan AIMMA (Aliansi Indonesia Membebaskan Masjid Al Aqsha). Acara ini juga dihadiri oleh wartawan dan banyak NGO Nasional termasuk LAZIS Wahdah dan Wahdah Peduli yang mewakili Wahdah Islamiyah.

Ustadz Bachtiar Nasir, selaku pembina AIMMA mengatakan, langkah tersebut sebagai bukti nyata perjuangan bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

“Ini sebagai aksi nyata kita dalam menindaklanjuti Aksi Bela Palestina kemarin,” ujarnya dalam konferensi pers yang bertema “Langkah Konkret Pasca Aksi Bela Palestina”, sebagaimana dikutip laziswahdah(dot)com.

Bagi anda yang ingin terlibat di dalam mendukung perjuangan pembebasan Masjid Al Aqsha dan Kota Alquds, dapat menghubungi kontak 082387900900 (wa/call/sms).(ayd).

Konferensi Pers AIMMA 1

Perwakilan Lazis Wahdah Bersama Ustadz Bachtiar Nasir

Konferensi Pers AIMMA 2

Konferensi Pers AIMMA

DPP Wahdah Islamiyah Akan Gelar Mukernas Ke10

DPP Wahdah Islamiyah Akan Gelar Mukernas Ke10

(Makassar-wahdahjakarta.com)- Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah akan menggelar Musyawarah Kerja Nasional X (Mukernas ke10). Rencananya, Mukernas akan dilaksanakan pada 22 Desember sampai 24 Desember 2017 di asrama Haji Sudiang, Makassar.

Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Dr. H. Rahmat Abdurrahman, Lc, MA. menyebut Mukernas ini digelar untuk peningkatan kapasitas organisasi di tahun 2018. Sejumlah hal akan ditetapkan di Mukernas X ini, salah satunya pengelolaan kader.

“Kami melaksanakan Mukernas ini antara lain untuk optimalisasi peran kader dalam pengembangan organisasi menuju visi misi 2030” kata Ustadz Rahmat di Kantor DPP Wahdah Islamiyah, jl. Antang Raya No 48 Makassar, Senin (11/12).
Mukernas X Wahdah Islamiyah Akan dihadiri kurang lebih 1.500 peserta dari seluruh Pimpinan DPW dan DPD seluruh Indonesia. Mukernas ini juga akan menghadirkan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan sekaligus membuka acara. Beberapa tokoh nasional juga akan hadir salah satunya Anggota DPD asal Sulsel AM. Ikbal Parewangi.

Ketua Harian DPP WI Ustadz Rahmat Abdurrahman

“Kami berharap Mukernas kedua ini menjadi momentum bagi Wahdah Islamiyah untuk berbenah dan bangkit nantinya mampu mencapai Visi dan Misi WI di 2030. Kami mohon doa dan dukungan agar Mukernas berjalan lancar sesuai harapan kita semua,” kata Ustadz Rahmat.

Ustadz Rahmat melanjutkan, Mukernas X ini adalah permusyawaratan untuk Peningkatan kapasitas organisasi di tahun 2018 dengan tiga poin penting yaitu: Pengelolaan Kader, Sosialisasi atau Marketing Organisasi dan SDM secara Nasional dan Internasional, Melanjutkan Ekspansi Wilayah Dakwah secara nasional dan internasional.[ed:sym]

Muslimah Wahdah Siapkan

Muslimah Wahdah Donasikan Ribuan Paket Makanan di Aksi Bela Palestina 1712

Muslimah Wahdah Donasikan Ribuan Paket Makanan di Aksi Bela Palestina 1712

(Jakarta, wahdahjakarta.com) Keberadaan muslimah yang terkadang mempunyai keterbatasan, tidak menghalangi perannya di dalam mendukung Aksi Bela Palestina 1712.

Diantara peran yang mencoba diambil oleh Muslimah Wahdah yang merupakan sayap perjuangan Ormas Wahdah Islamiyah untuk kaum hawa ini, adalah berdonasi dengan makanan berupa nasi, snack, dan air minum untuk para relawan.

Paket makanan yang disalurkan melalui Posko Wahdah Peduli ini, sangat bermanfaat bagi para pejuang aksi yang telah hadir di lokasi sejak semalam menginap di lapangan monas. Bahkan paket ini juga kemudian menjadi menu pembuka bagi Tim Pengawal VIP Aksi Bela Palestina 1712.(ayd).

Ustad Ilham Jaya: Persoalan Palestina PR besar ummat Islam

Ustad Ilham Jaya

(Depok)-wahdahjakarta.com– Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah (WI) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Ustaz Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan bahwa persoalan Palestina merupakan PR (Pekerjaan Rumah) besar ummat Islam.

“Persoalan Palestina merupakan PR besar ummat Islam, persolan ummat Islam”, terangnya di hadapan jama’ah pengajian Jum’at malam Wahdah Islamiyah Jabodetabek di Depok, pada Jum’at (15/12).

Oleh karena itu hendaknya setiap Muslim mempersembahkan potensi terbaik yang dimilikinya untuk Palestina. “Kalau kita sadar akan itu hendaknya masing-masing kita mengalokasikan potensi yang dimiliki untuk Palestina berupa waktu, pikiran, matri, apa saja yang kita miliki yang kita persmbhkan khusus untuk Palestina”, jelasnya.

“Dalam keluarga misalnya, masing-masing kita di rumah ada kencleng khusus Palestina. Sehingga kita sadar bahwa kita ikut arus besar ummat Islam yang memperhatikan prsoalan besar ini”, tandasnya. “Alokasikan sebagian dari potensi yang dimiliki untuk perjuangan Palestina”, tegas mantan Ketua Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Sebab persoalan Palestina merupakan masalah seluruh ummat Islam. “Masalah ini tidak mungkin diselesaikan oleh orang Palestina saja, OKI saja, satu yayasan saja, tapi oleh seluruh elemen ummat Islam”, ujarnya. “Masalah Palestina harus diselesaikan oleh seluruh ummat Islam”, imbuhnya. “Jangan sampai tidak punya cita-cita untuk memperjuangkan palestina”, pungkasnya. [sym].