VIRUS HATI PALING TUA

“Ustadzah, materinya tadi bagus banget..”

“Ukhti, tulisannya luar  biasa, mengena sekali..”

“Um, ana mau tanya terkait materi kajian tadi..”

“…wah, saya seneng kalo yang isi kajian ustadzah, seperti waktu tentang Syi’ah itu lho, jadi lebih jelas..”

“.. maa syaa Allah, bacaannya bagus sekali, Um..”

Satu-persatu kalimat-kalimat pujian terucap. Dari para mad’u. Dari mereka yang kita seru.

Kemudian.., dari telinga masuklah ke hati. Disana penuh bunga-bunga. Kemudian ruang hatipun menggema. Ada suara disana.

“Alhamdulillah, kajian diterima..”

“Alhamdulillah, kajianku membekas..”

“Alhamdulillah, kajianku.. kajianku.. kajianku..”

Kemudian di sela-sela gema itu, terdengar  bisikan. Lirih namun jelas, “…hati-hati dengan pujian…”

Kucing Ujub Bangga Diri

Meskipun hanya bisikan, tapi sejenak menghentikan gaung dan gema di relung hati. Yah, hanya sejenak. Kemudian gaung itu berubah bunyi,

“…ah, tidak mengapa. Itukan kenikmatan yang disegerakan..”

“…tidak mengapa ada pujian, yang penting kita bisa menjaga keikhlasan..”

Gaung-gaung terus menggema. Bercampur wangi bunga-bunga. Hingga berubahlah warna hati. Mulailah hati mengagumi. Kagum dengan dirinya sendiri.

“..ah aku yang pandai menggugah hati…”

“..aku piawai memilih materi..”

“..aku, kajianku mereka sukai..”

“..aku, yang pandai berintonasi..”

“..aku.. aku.. aku yang hebat ini..”

Itulah gambaran ujub, kagum diri. Sejengkal demi sejengkal akan bergeser menjadi ghurur, tertipu diri sendiri. Kemudian sehasta demi sehasta, menuju takabbur, menyombongkan diri.

Inilah yang mengantar Fir’aun hingga lantang berseru “…akulah Tuhanmu yang paling tinggi…”

Jakarta, 9/1/19

Tri Afrianti

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.