relakan perpisahan ini

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai akhi, Allah mempertemukan kita dalam keadaanku sebagai muslimah yang sedang mencari cahaya kebenaran. Dan kehadiranmu selaksa tetes air di tengah gersangnya padang pasir. Seumpama sinar bulan purnama di pekatnya malam. Hari demi hari pun mulai terisi dengan perjumpaan demi perjumpaan. Sikapmu yang santun dan kata-katamu yang begitu sopan membuatku tertawan. Hampir setiap hari engkau mengirimkan untaian nasehat agar aku menjadi muslimah yang baik. Untaian nasehat yang memotivasiku untuk semangat belajar mengenal dien ini. Nasehat yang memotivasiku untuk ikut andil dalam gerak dakwah.

Jujur akhi, aku suka dengan rangkaian kata yang engkau tuliskan untukku. Bait-bait kata yang tak jarang membius hatiku, melambungkan anganku melintasi awan-awan impian. Tapi akhi …, kurasa cukup sudah semua itu, jangan engkau lanjutkan lagi. Karena aku sadar, hatiku mulai tercabik, mulai ternoda. Noda yang semakin bertambah ketika kubiarkan diriku hanyut dalam kebersamaan ini.

Wahai akhi, sungguh aku mendapat kebaikan dengan mengenalmu. Tapi aku sadar bahwa kedekatan kita bukan sesuatu yang halal. Jadi, demi cintaku padamu, biarkan aku berlalu. Usah lagi kata-kata pujian itu engkau kirimkan padaku. Usah lagi dering teleponmu memecah keheningan sepertiga malamku. Aku takut membuat Allah cemburu. Aku takut justru itu membuat sujud dan rukuk kita tak bemakna apa-apa di mata-Nya.

Duhai akhi, ikhlaskan aku berlalu darimu. Terima kasih atas beragam nasehat yang engkau maksudkan untuk menguatkan pijakanku di jalan keimanan ini. Terima kasih atas buku yang engkau pinjamkan dan hadiahkan padaku, yang telah turut andil mencerahkan hatiku dalam mengenal dien ini. Tapi aku tak menginginkannya lagi, akhi. Biarlah aku mengembara sendiri menyusuri taklim-taklim muslimah, bergabung dengan saudari-saudariku dalam majelis tarbiyah untuk menambah pemahaman keislamanku. Kurasa pilihan ini lebih menentramkan dan menjaga hatiku dari desiran-desiran aneh yang sulit kutepis.

Baca Juga  Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da'iyah Saudi Arabia

Duhai akhi, relakan perpisahan ini terjadi. Usah lagi engkau menghubungiku untuk bertanya kabar ataupun menguatkan semangatku. Usah lagi engkau memintaku untuk membantu dakwahmu. Ajaklah para ikhwan agar engkau dapat membina dan mengkader mereka. Dan biarlah aku berta’awun dengan saudari-saudariku dalam mengusung dakwah ini. Bukankah hal itu lebih menjaga hati kita dari hujaman panah setan yang menyakitkan? Panah yang ketika sudah terlanjur menancap, sakitnya tak terdefinisikan, dan saat dicabut pun sakitnya begitu menyiksa.

Wahai akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi engkau sihir aku dengan kata manismu, bahwa aku begitu berarti bagimu. Jika memang engkau ingin, pinanglah aku, akhi, agar halal rayuanmu untukku. Tapi jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi penjaga hati kita.
Wahai akhi, relakan kepergianku. Jangan berati langkahku yang berusaha menjauh darimu. Justru karena cintaku padamu perpisahan ini kupinta, agar hati kita tetap terjaga untuk selalu dalam ketaatan pada-Nya. Meski terlalu halus setan memoles hubungan yang tak wajar di antara kita, tapi hatiku selalu menjerit dan tersiksa. Meski engkau berkata bahwa semua baik-baik saja, tapi hatiku tak bisa menerima jalinan yang terasa janggal ini. Jalinan yang kurasa seperti membangun istana pada salah satu sisinya, tetapi merobohkan pada sisi lainnya. Biarlah semua ini berakhir akhi, karena begitulah yang seharusnya. Biarlah kutitipkan rasa ini pada-Nya, agar noda-noda di hatiku dapat terkikis. Agar ketenangan hati dapat kurengkuh kembali.

Selamat tinggal akhi. Semoga senantiasa berderap di jalan dakwah dengan kelurusan niat dan kebersihan hati. Semoga tidak ada lagi hati yang ternodai.

[ummisanti/sym]

Posted in Artikel, Muslimah, Tajuk and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.