Wahdah Islamiyah Pertahankan Kearifan Lokal, Ustadz Zaitun: Aslinya Dakwah Islam Seperti Itu

Ustadz Zaitun sedang menyampaikan arahan pada pembukaan Mukernas X Wahdah Islamiyah

“Memperhatikan kearifan lokal merupakan bagian dari usaha untuk dekat dengan apa yang ada di masyarakat sebagai karakter asli dari dakwah Islam. “Ini bukan latah atau ikut-ikutan, aslinya dakwah Islam seperti itu, menyesuaikan. Contohnya Nabi tidak merubah nama-nama para sahabat, kecuali yang mengandung makna buruk”

(Makassar-wahdahjakarta.com)- “Dakwah Islam itu aslinya memperhatikan kearifal lokal”, demikian dikatakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan taujih (arahan) pada pembukaan Musyawarah Kerja Nasional ke.10 (Mukernas X) Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Sudiang Makassar, Jum’at malam (22/12/2017).

Oleh karena itu pada Mukernas X kali ini Wahdah Islamiyah kembali mempertegas salah satu platform dakwahnya sebagai gerakan dakwah universal yang tetap mengakomodir kearifan lokal. “Kita mengusung dakwah universal dengan memperhatikan kearifan lokal”, ujar Ustadz Zaitun di hadapan seribuan peserta Mukernas X.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, bahwa memperhatikan kearifan lokal merupakan bagian dari usaha untuk dekat dengan apa yang ada di masyarakat sebagai karakter asli dari dakwah Islam. “Ini bukan latah atau ikut-ikutan, aslinya dakwah Islam seperti itu, menyesuaikan. Contohnya Nabi tidak merubah nama-nama para sahabat, kecuali yang mengandung makna buruk”, terangnya.

Baca Juga  Lebak Diguncang Gempa 6,4 SR Tidak Berpotensi Tsunami

Dakwah Islam yang diusung Wahdah Islamiyah harus memperhatikan kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan syariat”, jelasnya. “Kita tidak ingin dakwah mengalami benturan-benturan”, imbuhnya. “Budaya lokal selama itu adalah hal yang positif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka harus dipertahankan”, pungkasnya.

Peserta Mukernas X

Mukernas X ini yang merupakan musyawarah tahunan dihadiri seluruh pengurus di tingkat kabupaten/kota, provinsi sampai pusat. Tema yang diusung pada Mukernas kali ini “Optimalisasi Peran Kader dalam Pengembangan Organisasi Menuju Visi Misi 2030”.

Menurut Ustadz Zaitun, diantara bentuk optimalisasi itu adalah dengan menghadirkan kader-kader yang faham kearifan lokal, berkualitas, dan gigih namun tetap santun dalam bermuamalah. “Semangat juang kita harus tinggi, gigih dan pantang mundur, tapi kesantunan harus tetap dikedepankan, sebab kita adalah da’i”, lanjutnya.

Mukernas X ini dihadiri lebih dari 1.000 pengurus inti WI dari berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini Wahdah Islamiyah memiliki 141 Dewan Pimpinan Daerah dan ditargetkan sudah merata di seluruh kabupaten/kota pada tahun 2030 mendatang. [ibw/sym]

Posted in Berita and tagged , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.