Wartawan Kagum Daya Tangkap Jurnalistik Santri Cibinong

(BOGOR) Wahdahjakarta.com — Para Pemateri dari wartawan nasional mengungkapkan kekagumannya terhadap daya tangkap santri tahfidz Ponpes Wahdah Islamiyah cibinong dalam latihan Ekstrakurikuler (Ekskul) Jurnalistik pada Ahad(27/10/2019).

Pasalnya, kelas jurnalistik tersebut pertama kali diadakan disana dengan mengikutsertakan santri sebagai peserta.

Para santri pun ikut dengan antusias mendengarkan pemaparan materi dari para wartawan professional selama lebih kurang 6 jam.

Santri cibinong saat sesi latihan wawancara bersama Faroeq Iskandar, wartawan luwuk.today

Setelah pemaparan materi, seperti workshop biasa, santri diminta untuk mempraktekkan materi yang telah disampaikan dengan menulis beberapa berita yang bebas sesuai keinginan masing-masing. Alhasil, pengerjaan berita tidak lebih dari 30 menit kemudian para pemateri menyatakan hasilnya yang bagus setelah mengecek berita masing-masing santri.

Ustadz Anwar Aras, sebagai ketua pelaksana workshop mengatakan bahwa kelas ini adalah bentuk usaha untuk mengembangkan bakat santri dalam bidang jurnalistik dan mengenal lebih dekat dunia kewartaan.

“Kita berharap ini adalah langkah awal untuk mengenalkan santri lebih dekat dengan dunia literasi dan penulisan, agar bisa memunculkan jurnalis-jurnalis baru yang siap adil dalam membela umat dengan tulisan-tulisan mereka.” tanggap Anwar.

Fadel, salah satu wartawan dari (wahdahjakarta.com) juga melihat bahwa event ini juga merupakan salah satu kegiatan dakwah yang memang harus ditanamkan dalam diri santri.

“Ini peluang dakwah, dimana kita menanamkan dalam diri santri untum kritis dalam menyaring berbagai informasi yang diterima dari berita hoax” ujarnya.

Salah satu pemateri dari harian luwuk.today, Faroeq Iskandar mengungkapkan kekagumannya mengenai daya tangkap santri saat kelas berlangsung yang relatif cepat dan sudah menghasilkan beberapa berita yang cukup relevan untuk ditampilkan dalam portal berita.

“Saya kagum dengan daya tangkap santri, walaupun workshop hanya berjalan sehari, tapi hasil beritanya sudah cukup bagus, bahkan sudah memiliki kapasitas untuk ditampilkan dalam portal.” ungkap Faroeq

“Dulu tahun 2011, masih ada temen-temen jurnalis yang baru belajar yang bikin bingung editor ngolah beritanya, tapi mereka bahkan sudah hampir bisa dipakai beritanya untuk posting di portal” terangnya.

Wartawan Indonesiainside.com, Zuhdi juga mengatakan hal demikian. Menurutnya selain daya tangkap santri yang kuat, keinginan untuk terus belajar juga ada.

“Selain daya tangkap santri yang kuat, keinginan untuk terus belajar juga ada. Ini sangat bagus.” ungkapnya

“Yang terpenting adalah metodologi pembelajaran yang dapat disederhanakan dan diterima secara operasional oleh para santri. Sehingga dapat diterapkan secara mudah dan praktis.” jelasnya

Zuhdi menyebut, kunci belajar menulis adalah memahami kerangka penulisan. Menurutnya, teori tidak akan dapat berjalan baik apabila tidak ada teknik dasar.

“Kuncinya adalah mengetahui kerangka penulisan. Ini penting sebagai teknik mendasar. Karena sebagus apapun teori jika tidak dapat ditangkap dengan baik dan sederhana juga akan sulit.” tandasnya.

(fry)

Posted in Artikel and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.