Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [5]: Hal-Hal yang Dibolehkan Saat I’tikaf

Serial Fiqh I'tikaf bagian ke-5

Serial Fiqh I’tikaf bagian ke-5

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [5]: Hal-Hal yang Dibolehkan Saat I’tikaf

Ada beberapa yang dibolehkan saat i’tikaf, diantaranya;

  1. Keluar untuk suatu keperluan yang tidak dapat dielakkan.

Dalilnya hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata :

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam  di masjid, kadang beliau memasukkan kepalanya maka saya menyisirnya dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena kebutuhan yang manusiawi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Tidaklah seseorang dikatakan beri’tikaf hingga dia meninggalkan hal-hal yang harus dia tinggalkan seperti menjenguk orang sakit, shalat jenazah, dan masuk ke rumah kecuali ada hajat insan”.

Imam Az Zuhri rahimahullah menafsirkan hajat insan (kebutuhan yang manusiawi) sebagai kencing dan buang air besar, dan kedua hal ini merupakan ijma’ tentang bolehnya keluar masjid disebabkan kedua hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir rahimahullah.

  1. Menyisir rambut, mencukurnya, memotong kuku dan membersihkan badan dari berbagai kotoran”. (Lihat :Ma’alim As Sunan 2 : 578)
  2. Membawa kasur dan alat tidur serta perlengkapan lainnya ke masjid.
  3. Menerima tamu dan mengantarkannya hingga ke pintu masjid. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika beliau diziarahi oleh istri beliau Shofiyyah .
  4. Makan dan minum di dalam masjid dengan tetap memelihara dan menjaga kebersihan dan kemuliaan masjid.
Baca Juga  Fiqh Praktis Zakat Fitrah

Khatimah

Seseorang yang berniat untuk beri’tikaf hendaknya mempertimbangkan maslahat dan mudharat. Jika dia adalah seorang pemuda yang sangat dibutuhkan oleh orang tuanya maka hendaknya dia mendahulukan hak orang tuanya karena hal tersebut wajib, namun jika dia diizinkan untuk beri’tikaf maka itulah yang utama. Demikian pula dengan orang yang bekerja di bidang jasa dan kepentingan masyarakat umum hendaknya mendahulukan kepentingan umum dari kepentingan pribadi dan sungguh Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang diniatkan oleh hamba-hamba-Nya.

Adapun bagi mereka yang Allah Ta’al  muliakan dengan memberikan kesempatan untuk beri’tikaf di tahun ini hendaknya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, raihlah hikmah dan faidah i’tikaf, perhatikanlah adab-adabnya serta jauhkanlah dari hal-hal yang terlarang dan janganlah menjadi orang yang i’tikafnya tidak ubahnya dari sekedar berpindah tempat tidur saja. Mudah-mudahan dengan i’tikaf ini anda bisa mendapatkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan : “Lailatul Qadar”.

Tahfidz Weekend
Posted in Artikel, Fiqih, Kajian and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.