DPW DKI Jakarta dan Depok

48 Jam Pascagempa, Palu Masih Mencekam, Logistik Lumpuh

Suaana kota Palu pada malam hari, Photo.ACNTNews
0 179
Suaana kota Palu pada malam hari, Photo.ACTNews
48 Jam pascagempa, Palu masih mencekam, logistik lumpuh sepenuhnya sementara bantuan logistik belum merata

(PALU) wahdahjakarta.com – Hari kembali gelap, sudah lewat lebih dari 48 jam pascagempa tsunami menerjang Kota Palu dan Donggala. Tapi listrik belum menyala hingga Ahad (30/9). Artinya, ketika matahari mulai turun, saat itu pula Kota Palu benar-benar gelap. Hanya cahaya lampu dari kendaraan yang remang di antara runtuhan. Puing rumah akibat gempa dan tsunami masih berserak, Kota Palu sebagai pusat dari pemerintahan Sulawesi Tengah masih lumpuh total.

Lebih dari dua hari dua malam pascagempa dan tsunami, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berada di Kota Palu melaporkan kekacauan yang sebenar-benarnya sedang terjadi di antara ribuan jiwa pengungsi. Kekacauan terjadi ketika kebutuhan dasar seperti air minum, pangan, dan bahan bakar minyak (BBM) sangat sulit sekali didapat.

“Logistik lumpuh sepenuhnya. Sementara bantuan logistik belum merata. Bensin tidak ada, bahkan sekadar air minum kami tak menemukan sejak pagi. Kami Tim ACT yang bertugas di Palu baru sempat minum sedikit sekali sejak pagi hari. Kondisi pengungsi jauh lebih berduka lagi. Masih sangat banyak warga yang tidak menemukan makanan sejak dua hari lalu,” ujar Nimas Afridha, Reporter ACTNews mengabarkan dari tengah Kota Palu, Ahad malam (30/9).

Sementara itu, di waktu bersamaan angka korban meninggal akibat tertimbun runtuhan dan terhempas gempa terus bertambah. Sampai Ahad (30/9) siang, jumlah korban meninggal dunia telah diperbarui kembali menjadi 832 jiwa.

“Kami petang tadi menyisir sisi sebelah Timur Teluk, di sekitar Universitas Tadulako. Runtuhan rumah karena tsunami masih luarbiasa berserakan. Di dalam runtuhan-runtuhan itu diduga masih banyak jenazah tertimbun,” jelas Lukman Solehuddin, Koordinator Tim Emergency Response ACT di Palu.

Jenazah korban tsunami yang masih terdampar di pesisir sekitar Teluk Palu ini pun menjadi dilema baru. Pasalnya, jenazah terkena air laut akan mempercepat pembusukan dan menjadi ancaman kesehatan bagi pengungsi di sekitarnya.

“Tubuh meninggal dunia ada proses pembusukan, Kalau tenggelam di air laut dikhawatirkan bakteri pembusukan akan mencemari sumber air. Kalau terbuka baunya menyengat, lama-lama juga berbahaya untuk kesehatan pengungsi yang masih hidup di sekitarnya,” papar dr. Muhammad Riedha, Koordinator Tim Medis ACT.

Sumber: ACTNews

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: