DPW DKI Jakarta dan Depok

KH. Idrus Ramli: Kebijakan Pemimpin Harus Sesuai Kepentingan Rakyat

78
KH. Idrus Ramli (keempat dari kiri ke kanan) pada kajian Spesial MIUMI ‘Arah Politik Ulama”, Selasa malam (20/11/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menggelar Kajian Spesial ‘’Arah Politik Ulama” di Markas AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2018) malam.

Sebagai nara sumber kajian para inisiator dan pengurus MIUMI Pusat; Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Ketua), Ustadz Ahmad Zain An-Najah (Ketua Majelis Fatwa), Ustadz Henri Shalahuddin (Pengurus MIUMI), dan KH. Idrus Ramli (pengurus MIUMI).

Ustadz Muhammad Idrus Ramli menjelaskan tugas seorang pemimpin menurut kaidah fikih Isam.

“Dalam kaidah fikih, tugas seorang pemimpin adalah memiliki kebijakan yang sesuai dengan kepentingan rakyat bukan kepentingan pemimpin. Sehingga pemimpin yang dapat dipilih adalah pemimpin yang memenuhi kebutuhan rakyat.” ungkapnya.

“Utamanya kepentingan umat Islam. Adapun sikap umat Islam menyikapi rezim adalah dengan mendoakan pemimpin agar memimpin dengan adil dan baik yang memihak kepada agama Islam,” imbuhnya.

Dalam prinsip Islam, lanjut Gus Idrus pemimpin adalah cerminan dari masyarakat pada umumnya. Apabila rakyat zalim maka Allah akan mengangkat pemimpin yang zalim.

“Adapun bila kezaliman itu ingin diangkat maka rakyat harus memperbaiki diri sendiri. Jadi saat ini bila Indonesia belum diberikan pemimpin yang baik, wajar. Karena rakyatnya masih banyak yang bermaksiat,” ujarnya.

Ustadz Idrus, yang juga pengurus NU Jember kemudian menjelaskan tentang cara memilih pemimpin berdasarkan prinsip Islam. Di antaranya melalui metode pemilihan oleh sejumlah ahli ataupun melalui wasiat.

“Dalam fikih Islam, adakalanya pemimpin dipilih melalui ahlul halli wal aqdi, atau melalui wasiat penerus kepemimpinan, atau melalui perebutan kekuasaan dengan pertempuran. Adapun demokrasi memang bukan sistem politik yang ideal. Tetapi saat ini memang sistem memilih pemimpin yang dipakai adalah demokrasi,” katanya.

Dia lalu menyampaikan pentingnya ilmu politik, yang maknanya ilmu mengatur manusia. Mengutip perkataan Imam Syafi’i, Ustadz Idrus mengatakan bahwa mengatur manusia itu lebih sulit daripada mengatur hewan. Sebab manusia tidak mudah diarahkan dan memiliki pandangan sendiri-sendiri.

“Saya heran kepada umat ini, ketika umat bertanya ilmu agama mereka bertanya kepada ulama. Akan tetapi ketika membicarakan politik umat ini justru seakan-akan mengarahkan ulama agar memihak salah satu calon. Padahal ulama lebih tahu dalam menentukan arah politik, meskipun yang terbaik dalam arah politik ulama saat ini adalah netral,” tukasnya. (kiblat.net).

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: