DPW DKI Jakarta dan Depok

7 Pilar Keluarga Idaman Menurut UZR

0 37

7 Pilar Keluarga Idaman Menurut Ustadz Zaitun Rasmin (UZR)

Keluarga  merupakan pondasi bangunan bagi masyarakat. Masyarakat yang baik adalah gabungan dari keluarga yang baik. Oleh sebab itu keluarga idaman menjadi harapan setiap orang dan anggota masyarakat.

Menurut Ustadz  Muhammad Zaitun Rasmin, keluarga idaman bukanlah keluarga dan warga  masyarakat biasa,  tapi harus lebih dari itu. Untuk  mencapai kriteria keluarga idaman tersebut, menurut Ustadz Zaitun Rasmin (UZR), keluarga itu harus dibangun dari tujuh pilar, yaitu:

Pertama, Iman

Iman harus menjadi perhatian utama dalam membangun keluarga. Setiap ada masalah, faktor iman harus dicek. Tidak mungkin terjadi keluarga idaman, kalau iman ini diabaikan. Keluarga harus dibangun dari seorang mukmin dan muslimat.

Kedua, Cinta

Keluarga idaman tidak akan terwujud tanpa cinta. Sebagian  orang menghabiskan waktunya di luar rumahnya, karena di dalam keluarganya tidak ada lagi cinta. Biasanya hubungan keluarga tinggal hak dan kewajiban saja. Bahkan, kadang hanya menjaga image saja, agar orang tidak mengetahui persoalan rumah tangga.

Pada dasarnya cinta itu datangnya dari Allah. Sehingga, hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan harus diikat dengan ikatan suci, yang bernama pernikahan.

Olehnya itu, cinta perlu dipelihara dan dipupuk dalam keluarga. Karena berkeluarga adalah ibadah. Berkeluarga untuk perjuangan, yang dibangun dalam sebuah ikatan pernikahaan. Mungkin saja, ada sesuatu yang tidak disukai dari istri atau suami kita, tapi itu tidak menyebabkan ikatan cinta harus memudar. Ingatlah pesan Rasulullah dalam sabdanya, “kalau ada yang tidak kau sukai dari istrimu, mudah-mudahan masih ada yang kau sukai dari yang lain”.

Sabda Rasulullah ini harus benar-benar dimaknai dalam kehidupan berkeluarga, sebab tidak seseorangpun yang sempurna, semuanya pasti memiliki kekurangan. Tapi inipun tidak berarti, setiap kekurangan itu menyebabkan hubungan suami istri menjadi renggang. Sebaliknya, kita harus menutupi berbagai kekurangan itu. Dengan demikian kehidupan keluarga akan semakin harmoni.

Ketiga, Tarbiyah (Pendidikan)

Faktor tarbiyah atau pembinaan sangat penting dalam menciptakan keluarga idaman. Keluarga harus menjadi tempat tarbiyah/pembinaan bagi keluarga terutama untuk anak-anak. Sebab, proses tarbiyah ini yang akan melahirkan generasi Islam, yang paham  Islam, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan.

Keempat, Saling Memahami

Dalam keluarga, saling memahami merupakan salah satu faktor penting dalam membangun keluarga idaman, keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kita harus saling memahami hak dan kewajiban kita. Meskipun, di antara kita kadang muncul sikap egois. Kita selalu mengingat kewajiban orang pada kita. Namun kadang kita lalai memperhatikan kewajiban kita terhadap orang lain.

Kelima, Perhatian

Pasangan suami istri harus punya perhatian terhadap pasangannya.  Suami harus memperhatikan, serta membimbing istri untuk meningkatkan ilmu, akhlak, dan, ibadah. Dalam aktivitas duniawi, seorang suami harus punya perhatian terhadap istrinya. Termasuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, selama dalam batas-batas proporsional. Termasuk perhatian suami terhadap istrinya, yakni; memberikan hadiah pada istri setelah pulang kantor, terutama makanan yang disukai istri. Ini mungkin kecil, tapi dapat semakin menumbuhkan cinta diantara pasangan suami istri.

Begitu juga istri, harus punya perhatian terhadap suaminya, misalnya, menyiapkan sepatu dan baju bola, bagi istri yang punya suami hobi main bola. Seorang pasangan suami istri tidak boleh berkomentar jelek terhadap hobi pasangannya.

Keenam, Komunikasi

Tentu saja, bukan hanya komunikasi langsung (verbal) yang kita maksudkan di sini. Meskipun, ini juga perlu ditingkatkan, sebab hal ini juga menjadi faktor pendukung untuk melahirkan keluarga idaman. Meskipun, menurut penelitian ahli Psikologi seorang laki-laki mengeluarkan kata-kata minimal 3 ribu/hari, sedangkan perempuan minimal 10 ribu/hari. Olehnya itu, umumnya seorang istri menunggu untuk diajak komunikasi oleh suaminya. Makanya, seorang suami harus memulai berkomunikasi dengan istrinya, meskipun sekadar basa-basi, misalnya sekadar bertanya, menjawab pertanyaan istri, atau memuji istri, seperti masakan. Dengan komunikasi non verbal, bisa melalui telepon, atau sms. Apalagi, jika seorang suami berada di luar kota.

Ketujuh,  Ungkapan-ungkapan Mesra

Masalah ungkapan-ungkapan mesra ini, kita belajar dari pribadi Rasulullan terhadap istrinya. Beliau sering memanggil istri-istrinya dengan ungkapan mesra, misalnya  memanggil dengan panggilan humairah.Walaupun, saya tidak menemukan dalilnya, namun panggilan habibati, tapi ini sangat bagus, sebagai ungkapan mesra terhadap pasangan. Jelas, ungkapan mesra ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan suami istri. Misalnya, ungkapan sayang. Mungkin sebagian ini kita anggap berlebihan, kalau kita anggap gombal, tapi tidak ada masalah sebab wanita pada umumnya itu suka digombal. Olehnya, itu, seorang istri tidak mengapa kalau memulai dalam memanggil dengan panggilan mesra terhadap suaminya.

Sumber: Muslimahwahdah.or.id

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: